Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
    859 research outputs found

    PROTOTIPE INSTRUMEN PENGUKUR KERUGIAN INTI MATERIAL KOMPONEN INDUKTIP

    No full text
    PROTOTIPE INSTRUMEN PENGUKUR KERUGIAN INTI MATERIAL KOMPONEN INDUKTIP. Telah dilakukan studi mengenai pengukuran kerugian inti lembaran material komponen induktip FeSiC non- oriented menggunakan metoda AC Epstein, melalui proses demagnetisasi sinyal bolak-balik dengan frekuensi 50 Hz. Pengembangan awal suatu metode pengukuran standar juga dilakukan, yaitu dengan mengintegrasikan personal komputer denan rangkaian penguji Epstein. Keadaan saturassi dicapai sekitar 2T, dimana harga kerapatan fluks eksternal yang diberikan sangat kecil, sehingga harga polarisasi magnet hampir sama dengan harga kerapatan fluks total. Pengukuran kerugian inti difokuskan pada kondisi kerapatan fluks diatas 1,5 T hingga mencapai keadaan saturasi. Kerugian inti pada 1,53 T sekitar 6,22 W/kg pada pengukuran manual dan 5,59 W/kg dengan personal komputer. Studi juga membuktikan bahwa material magnet lunak ini mempunyai kerugian inti yang kecil, ditandai dengan hanya sebagian kecil persentase arus eksitasi yang hilang karena kerugian inti

    PENGHALUSAN BUTIR FASAMAGNETIK SmCo5 DENGAN VIBRATION BALLMILL UNTUK PEMBUATAN KRISTAL BERSKALANANOMETER

    Get PDF
    PENGHALUSAN BUTIR FASAMAGNETIK SmCo5 DENGAN VIBRATION BALLMILL UNTUK PEMBUATAN KRISTAL BERSKALANANOMETER. Telah dilakukan proses penghalusan material magnet SmCo5 dengan Vibration Ball Mill menghasilkan serbuk berukuran nanometer. Ukuran serbuk awal yang digunakan adalah 50 m sampai dengan 60 m terdiri dari material fasa tunggal SmCo5 sebagai material dasar untuk magnet permanen. Perbandingan antara massa serbuk dan massa bola adalah 1 : 10 dan proses penghalusan dilaksanakan dalam atmosfir miskin oksigen. Ditemukan bahwa serbuk halus hasil proses sangat reaktip sehingga preparasi material ke dalam bentuk padatan muda (green compact) harus dilakukan dalam ruangan atmosfir argon. Berdasarkan hasil pengukuran kristal dengan analisis pelebaran puncak difraksi sinar-x diperoleh suatu penurunan ukuran kristal yang sangat signifikan dan sistimatik dengan bertambahnya waktu penghalusan. Pada waktu penghalusan selama 20 jam diperoleh ukuran kristal rata-rata ~6,0 nm. Pola difraksi dari sampel magnet menggunakan serbuk sangat halus ini meskipun telah menjalani tahapan perlakuan panas masih tetap memperlihatkan fasa tunggal SmCo5. Dengan demikian proses penghalusan dan preparasi yang telah dilakukan pada penelitian ini dapat digunakan untuk pembuatan magnet permanen Sm-Co dengan ukuran kristal berskala nanometer

    STUDI BANDING SIFAT STATIK MAGNETIK DALAM SISTEM SPIN KUANTUM NH4CuCl3

    No full text
    STUDI BANDING SIFAT STATIK MAGNETIK DALAM SISTEM SPIN KUANTUM NH4CuCl3. Sebuah sistem kuantum NH4CuCl3 memiliki ruang grup monoklinik Pn/c dan terdiri dari rantai ganda pada sisi batas yang ditempati oleh oktahedra CuCl6 sepanjang sumbu-a. Rantai ganda terletak pada sudut-sudut dan pusat dari unit sel dalam bidang bc dan dipisahkan oleh ion-ion NH4+. Gambaran dari interaksi pertukaran dalam rantai ganda diilustrasikan sebagai sebuah spin altemasi Heisenberg terdiri dari interaksi J1 dan J3 dengan interaksi Antar-Tetangga-Terdekat J2. Plateau magnetisasi dari sistem ini dipelajari dengan teknik bosonisasi. Untuk mendapatkan gambaran fisis dan untuk menjelaskan fenomena plateau pada NH4CuCl3, kami menghitung energi keadaan dasar E0 (N,δ) dan eksitasi pertama E1 (N,δ)

    FABRIKASI DAN KARAKTERISASI MAGNET KOMPOSIT BARIUM HEKSAFERIT DENGAN BINDER SEMEN PORTLAND

    Get PDF
    FABRIKASI DAN KARAKTERISASI MAGNET KOMPOSIT BARIUM HEKSAFERIT DENGAN BINDER SEMEN PORTLAND. Pembuatan dan karakterisasi magnet komposit telah dilakukan dengan menggunakan serbuk bahan magnet barium heksaferit (BaO.6Fe2O3) serta bahan pengikat berupa semen portland. Campuran serbuk magnet dan semen portland dibuat dengan porsi serbukmagnet sebesar 86%, 88%, 90%dan 92%. Pencetakan magnet komposit dilakukan dengan teknik cetak dingin (tanpa pemanasan) dengan tambahan bahan perekat berupa larutan Poly Vinyl Alcohol (PVA). Setelah kering dan dihaluskan permukaannya, magnet komposit selanjutnya diuji sifat kemagnetan dan sifat mekaniknya (kuat tekan). Berdasarkan hasil pengukuran dengan permagraph, diketahui bahwa sifat magnetik yang terbaik diperoleh pada komposisi serbuk magnetik sebanyak 90% dengan nilai induksi remanen (Br) sebesar 0,655 kG, medan koersiv (Hc) = 0,553 kOe, dan produk energi maksimum (BH)maks : 95 kGOe. Sementara itu dari hasil uji kuat tekan dengan alat California Bearing Ratio diperoleh sifat mekanik yang terbaik pada komposisi sengan porsi serbuk magnet sebanyak 92 % dengan nilai kuat tekan sebesar 22,152 kg/cm2. Magnet komposit yang dihasilkan dapat menempel pada permukaan logam besi dan dapat digunakan sebagai aksesoris

    STUDI KARAKTERISTIK KURVA HISTERISIS SUPERKONDUKTOR YBa2Cu3O7-x

    No full text
    STUDI KARAKTERISTIK KURVA HISTERISIS SUPERKONDUKTOR YBa2Cu3O7-x. Telah dilakukan pengukuran momen magnetik bahan (m) sebagai fungsi suhu (T) dan medan magnet luar (H) dengan menggunakan superconducting quantum interference device magnetometer (SQUID) pada superkonduktor YBa2Cu3O7-x. Sampel yang diukur terdiri dari pellet hasil sintering dan pelelehan. Kurva m—T digunakan untuk menentukan suhu transisi kritis (Tc), sedangkan kurva m-H digunakan untuk menentukan medan kritis bawah (Hc1), medan kritis atas (Hc2), rapat arus kritis (Jc), dan gaya pinning (Fp). Dari hasil analisis kedua kurva tersebut diperoleh estimasi Tc adalah 90,16 K dan 90,15 K yang berturut-turut untuk sampel hasil sintering dan pelelehan. Hc dan Hc, kedua sampel berturut-turut adalah l kOe dan 20 kOe. Jc (H= 0) adalah 1,88 x 102 A cm-2 ;2,80 x 104 A.m-2 2,02 x 103 A.m-2;dan 5,70 x 105 A cm-2 yang berturut-turut untuk sampel YS-2 (T= 77 K), YS-2 (T= 5 K), YM-2 (T= 77 K) dan YM-2 (T= 5 K) Dan Fp maksimum adalah 5,8 x 105 Nm-3 (H = 17 kOe); 2,1 x 108 Nm-3 (H = 17 kOe); 5,1 x 106 Nm-3 (H = l4 kOe); dan 8,3 x 109 Nm-3 (H = 14 kOe) yang berturut-turut untuk sampel YS-Z (T = 77 K), YS-Z (T = 5 K), YM-2 (T= 77 K), dan YM-2 (T= 5 K)

    PENGARUH HIGH-ENERGYMILLING TERHADAP SIFAT MAGNETIK BAHAN BARIUM HEKSAFERIT (BaO.6Fe2O3)

    Get PDF
    PENGARUH HIGH-ENERGYMILLING TERHADAP SIFAT MAGNETIK BAHAN BARIUM HEKSAFERIT (BaO.6Fe2O3). Telah dilakukan penelitian mengenai sifat magnetik bahan serbuk barium heksaferit dari pengaruh proses high-energy milling yang diikuti perlakuan annealing pada suhu 1000oC selama 3 jam, masing-masing pengukuran dilakukan pada suhu ruang. Hasil pengukuran pola difraksi sinar-x sebelum dan setelah proses milling 5 jam, 10 jam, 15 jam, 20 jam dan 30 jam terlihat telah terjadi deformasi terhadap struktur kristal yang ditunjukkan dengan tinggi puncak yang semakin menurun dan semakin melebar sehingga didapatkan sifat kemagnetan yang semakin menurun. Dari proses milling didapatkan nilai koersivitas intrinsik 1,68 kOe sebelum proses milling dan 1,13 kOe setelah proses milling 30 jam serta nilai magnetisasi remanen 42,5 emu/gram sebelum proses milling dan 8,16 emu/gram setelah proses milling 30 jam. Namun setelah hasil proses milling disertai perlakukan annealing pada suhu 1000oC selama 3 jamterlihat telah terjadi perbaikan dan penumbuhan struktur kristal yang mengalami deformasi akibat proses milling, dengan ditunjukkan semakin meningkatnya nilai koersivitas intrinsik yaitu 2,09 kOe sebelum proses milling dan 4,39 kOe setelah proses milling 30 jam serta nilai magnetisasi remanen setelah proses milling hingga 30 jam cenderung kembali seperti sebelum proses milling yaitu sekitar 43 emu/gram

    PENGARUH SUHU TERHADAP SIFAT MEKANIS BANTALAN LUNCUR KOMPONEN MESIN

    Get PDF
    PENGARUH SUHU TERHADAP SIFAT MEKANIS BANTALAN LUNCUR KOMPONEN MESIN. Tulisan ini membahas pengaruh suhu komponen mesin bantalan luncur menggunakan metode pengujian mekanis tarik dan kekerasan. Pembahasan hasil penelitian meliputi korelasi antara kuat tarik, regangan dan kekerasan. Hasil penelitian menyatakan kekuatan tarik 603,29 N/mm2 menurun sampai 23,94%. Peningkatan suhu akan menurunkan kekerasan dan kekuatan

    ESTIMASI MEDAN KRITIS-ATAS SUPERKONDUKTIVITAS DARI KRISTAL TUNGGAL Bi2Sr2CaCu2O8+δ DENGAN KADAR OKSIGEN BERBEDA

    Get PDF
    ESTIMASI MEDAN KRITIS-ATAS SUPERKONDUKTIVITAS DARI KRISTAL TUNGGAL Bi2Sr2CaCu2O8+δ DENGAN KADAR OKSIGEN BERBEDA. Dilaporkan dalam makalah kajian batas medan kritis-atas superkonduktivitas Bc2 pada sampel kristal tunggal Bi2Sr2CaCu2O8+δ yang dipersiapkan dengan metoda travelling solvent floating zone. Penentuan nilai medan kritis dilakukan berdasarkan data magneto-resistivitas pada bidang-ab kristal, ρab(T,H), dari kristal-kristal dengan kadar oksigen rendah, optimal dan tinggi dengan suhu kritis berurutan Tc = 80,6 K, 93 K dan 76 K. Hasilnya menunjukkan bahwa sampel-sampel yang berturutan memiliki medan kritis-atas pada suhu mutlak 0 K : Bc2(0) = 4,01 T, 49,52 T dan 55,10 T. Hasil ini menyiratkan bahwa bertambahnya kadar oksigen dalam kristal menimbulkan peningkatan kekuatan pinning dan penurunan derajat anisotropi, yang berdampak lebih jauh pada peningkatan nilai medan kritis-atas tersebut

    POLIKONDENSASIAZEOTROPIKASAM LAKTATMENJADI POLIASAM LAKTATSEBAGAI BAHAN BAKU KEMASAN

    Get PDF
    POLIKONDENSASIAZEOTROPIKASAM LAKTATMENJADI POLIASAM LAKTATSEBAGAI BAHAN BAKU KEMASAN. Poli asam laktat (PLA) telah mulai dikenal sebagai bahan pengemas pangan karena memiliki ciri yang baik, seperti ciri mekanik, transparansi, keamanan, dan biodegradabilitas. Polikondensasi azeotropik asam laktat telah dilakukan dalam pelarut xilena dan menghasilkan kristal PLA yang diendapkan dengan pelarut metanol dengan bobot molekul 22.000. Gugus fungsinya dikonfirmasi dengan FT-Inframerah dan spektrofotometer ultraviolet. Analisis termal memperlihatkan suhu transisi kaca (Tg) (40 oC sampai dengan 60 oC). Rendemen optimum (72%) diperoleh dalam waktu reaksi 30 jam menggunakan katalis serbuk timah 0,5%. Kristal PLA dibentuk menjadi film lewat metode pencampuran tak langsung dengan agar-agar sebagai bahan pengisi dan asam oleat serta trietanol amin sebagai pemlastis. Film yang dihasilkan memiliki kuat tarik 11 MPa dan elongation 77%. Tg film adalah 100 oC sampai dengan 140 oC. Sifat-sifat ini menunjukkan bahwa PLA berpotensi digunakan sebagai bahan pengemas

    SISTEM ELEKTRON SPIN RESONANSI (ESR) BERBASISMAGNET PULSA

    Get PDF
    SISTEM ELEKTRON SPIN RESONANSI (ESR) BERBASISMAGNET PULSA. Spektroskopi elektron spin resonansi (ESR) dalam daerah gelombang milimeter sampai submilimeter menggunakan medan magnet tinggi telah membuktikan sebagai peralatan yang potensial untuk penelitian sifat-sifat magnetik dalam bidang fisika material. Pengembangan lebih lanjut dari teknik ini menemui masalah yang perlu untuk dipecahkan. Diantara beberapa masalah yang ada adalah kesulitan menyediakan sistem magnet dalam sistem ESR. Untuk mengatasi ini telah dikembangkan magnet pulsa, yang membangkitkan medan magnet tinggi dengan intensitas 35 T. Pulsa magnet dihasilkan oleh lucutan bank kapasitor dengan tenaga tersimpan 30 kJ ke dalam koil magnet. Pulsa mempunyai bentuk sinusoidal dengan durasi 2,5 ms. Kapabilitas peralatan ESR didemontrasikan dengan pengukuran spektrum ESR dari powder MnO dalam rentang suhu 77 K sampai dengan 300 K. Suhu Neel (TN) MnO ditentukan dari lebar garis spektrum ESR. Nilai TN hasil percobaan bersesuaian dengan TN yang dihasilkan dari penelitian sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa sistem ESR dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut dalam bidang fisika material

    726

    full texts

    859

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇