Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
PENGARUH PROSES NITRIDISASI TERHADAP SIFAT MEKANIS PERMUKAAN BAJA PADUAN RENDAH AISI 4340
PENGARUH PROSES NITRIDISASI TERHADAP SIFAT MEKANIS PERMUKAAN BAJA PADUAN RENDAH AISI 4340. Baja paduan rendah AISI 4340 banyak digunakan sebagai bahan komponen mesin dan bahan komponen pengatur katup aliran gas pada pembangkit listrik yang pada pemakaiannya banyak mengalami gesekan atau aus. Untuk meningkatkan sifat mekanis bahan khususnya ketahanan aus, pada penelitian ini dilakukan proses pengerasan permukaan baja AISI 4340 dengan metode nitridisasi. Proses nitridisasi dilakukan dengan menggunakan tungku pemanas yang dialiri gas amonia (NH3) murni pada suhu 525 oC dan 550 oC selama 6 jam. Pengujian yang dilakukan adalah uji ketahanan aus, uji kekerasan, pengamatan strukturmikro dan penentuan fasa. Pada kedua suhu, sampel yang telah dinitridisasi mengalami peningkatan ketahanan aus sebesar dua kali sama seperti peningkatan kekerasan dua kali lebih besar dari kekerasan substrat. Strukturmikro sampel setelah di nitridisasi, pada permukaannya terjadi lapisan putih dengan ketebalan 10 µm dan dibawahnya lapisan difusi setebal 40 µm dan 50 µm masing-masing untuk suhu 525 oC dan 550 oC. Dari analisis X-Ray difraksi, fasa-fasa yang terbentuk pada permukaan sampel adalah fasa nitrida Fe3N, CrN dan terdapat juga oksida besi Fe2O3
PENELITIAN BAHAN NANO (NANOMATERIAL) DI BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
PENELITIAN BAHAN NANO (NANOMATERIAL) DI BADAN TENAGA NUKLIR NASIONA
MAGNETIC MATERIALS FOR DATA STORAGE
Required properties and design idea for magnetic data storage medium to attain high density recording are studied, followed by the descriptions of experimentally obtained properties of thin films of Ba-ferrite,’ NdFeB, FePt, SmCo prospected for high density storage
MENENTUKAN NILAI SUSCEPTIBILITY BATUAN BEKU PULAU JAWA
MENENTUKAN NILAI SUSCEPTIBILITY BATUAN BEKU PULAU JAWA. Telah dilakukan sebuah penelitian tentang kerentanan magnetik yang lebih dikenal degan susceptibility pada beberapa material alam khusus pada batuan beku lava dan intrusi yang bertujuan untuk mengetahui kandungan mineral magnetiknya. Metoda yang digunakan adalah separasi magnetik sederhana yaitu memisahkan material yang mengandung magnetik tinggi dengan magnetik rendah. Disamping itu dilakukan pengukuran susceptibility, intensitas magnetik dan difraksi sinar-x. Hasil penelitian menunjukkan tiap material mempunyai mineral magnetik walaupun kadarnya berbeda- beda. Batuan lava lebih banyak mengandung mineral magnetik dibandingkan dengan batuan intrusi
PREPARATION, CHARACTERIZATION AND USED OF POLYSULFONE MEMBRANES FOR THE TREATMENT OF WATER SOLUTIONS CONTAINING HUMIC ACIDS
PREPARATION, CHARACTERIZATION AND USED OF POLYSULFONE MEMBRANES FOR THE TREATMENT OF WATER SOLUTIONS CONTAINING HUMIC ACIDS. Polysulfone (PSf) membranes were cast by phase inversion method using PSf as matrix, N,N-Dimethylacetamide (DMAc) as solvent and distilled water as coagulant. The microporous membrane has studied using Scanning Electron Microscope (SEM) and filtration techniques. The filtration experiments were performed on a flat sheet membrane using pure water and humic acids (HA) solution as feeds. The results show, the Pure Water Flux (PWF) and Product Flux (PF) values decrease with increasing thickness of the membranes. They are consistent with the SEM images that thicker membranes have smaller pore size and less in numbers. The Rejection coefficient (R) values showthat the membranes are able to filter HA in the form of solution, with the performance dependent on the characteristics: thickness and microporous structure. They were increased with increase in the thickness of the membranes and with increase in the wavelength from 250-665 nm. It suggests that, the PSf membranes can be used to minimize the amount of Humic Acids from water process to improve the quality of treated to an acceptable quality level
EVOLUSI SIFAT MAGNETORESISTANCE PADA CUPLIKAN KOMPOSIT Fe-C (GRAPHITE) HASIL SINTESIS DENGAN METODE MECHANICAL ALLOYING
EVOLUSI SIFAT MAGNETORESISTANCE PADA CUPLIKAN KOMPOSIT Fe-C (GRAPHITE) HASIL SINTESIS DENGAN METODE MECHANICAL ALLOYING. Metode Mechanical Alloying dengan menggunakan Milling Energi Tinggi atau High Energy Milling telah dimanfaatkan untuk mensintesis cuplikan komposit Fe-C(graphite) dengan komposisi Fe 20% berat dan C(graphite) 80% berat. Perbandingan berat bola dan cuplikan adalah 1,5 : 1, dengan berat cuplikan 20 gram. Waktu milling dilakukan bervariasi dari 4,5 jam, 9 jam, 13,5 jam dan 18 jam. Pada setiap tahapan waktu milling, cuplikan diambil sebanyak 5 gram. Kemudian pada cuplikan di setiap tahapan dilakukan pengukuran fasa yang terbentuk dengan difraksi sinar-X, morfologi dari serbuk dengan Scanning Electron Microscope (SEM) dan sifat magnetoresistance dari pelet dengan metode four point probe. Diketahui bahwa efek waktu milling menyebabkan rusaknya struktur graphene pada graphite dengan ditandai menurunnya puncak [002] namun tidak dijumpai fasa pengotor selain Fe dan C (graphite) serta mengecilnya ukuran butiran dan partikel diperlihatkan oleh citra SEM yang diperoleh. Sifat magnetoresistance bahan diketahui mengalami evolusi dari negatif magnetoresistance sebesar -4% untuk cuplikan 4,5 jam menjadi positif 0,2% pada cuplikan pasca milling 18 jam. Dugaan sementara evolusi magnetoresistance ini disebabkan oleh masuknya partikel Fe ke dalam matriks graphite akibat proses milling
DEPOSISI Al DAN NITRIDASI BAHAN COR-TEN UNTUK MENINGKATKAN KEKERASAN DAN KETAHANAN KOROSI PADA SUHU TINGGI
DEPOSISI Al DAN NITRIDASI BAHAN COR-TEN UNTUK MENINGKATKAN KEKERASAN DAN KETAHANAN KOROSI PADA SUHU TINGGI. Telah dilakukan deposisi lapisan tipis aluminium dan nitridasi terhadap bahan Cor-Ten Steel yang dilanjutkan dengan uji korosi suhu tinggi (oksidasi). Nitridasi dilakukan dengan menggunakan tungku yang dialiri gas N2 dan NH3 cair pada suhu 550 °C, selama 3 jam, 5 jam, 7 jam dan 20 jam, kemudian uji korosi dengan menggunakan alat Thermal Gravimetry Analysis/Magnetic Suspension Balance (TGA/MSB) selama 50 jam pada suhu 650 °C. Setelah dioksidasi sampel dikarakterisasi struktur kristalnya menggunakan alat X-Ray Diffractometer (XRD), strukturmikro menggunakan alat Scanning Electron Microscope (SEM) dan kekerasannya menggunakan alat Micro Hardness Tester. Hasil uji korosi suhu tinggi menunjukkan bahwa, sampel yang laju oksidasinya paling kecil atau ketahanan korosinya tinggi adalah yang dinitridasi selama 5 jam, dengan lapisan tipis aluminium menunjukkan lapisan pelindung berupa Al2O3. Sedang hasil uji kekerasan bahan Cor-Ten menunjukkan peningkatan, kekerasan sesudah dinitridasi menjadi dua kali lipat yaitu dari 137 VHN menjadi 340 VHN. Kekerasan setelah dideposisi Al dan nitridasi selama 5 jam meningkat tajam lebih dari empat kali lipat yaitu sebesar 744 VHN, hal ini disebabkan karena terbentuknya aluminium nitrida (AlN) yang keras
STUDI FOTODIODE FILMTIPIS SEMIKONDUKTOR Ba0,6Sr0,4TiO3DIDADAHTANTALUM
STUDI FOTODIODE FILMTIPIS SEMIKONDUKTOR Ba0,6Sr0,4TiO3 DIDADAH TANTALUM. Telah dilakukan penumbuhan film tipis Ba0,6Sr0,4TiO3 (BST) murni dan yang didadah tantalum pentoksida 5% (BSTT) di atas substrat silikon (100) tipe-p dan di atas substrat Transparant Conductive Oxyde (TCO) tipe-7056 menggunakan metode Chemical Solution Deposition (CSD) dan spin coating pada kecepatan putar 3000 rpm selama 30 detik. Film tipis di atas substrat silikon dipanaskan pada suhu 850 oC, 900 oC dan 950 oC,sedangkan film tipis di atas substrat TCO tipe-7059 dipanaskan pada suhu 400 oC, 450 oC dan 500 oC. Darihasil karaktrisasi ketebalan menunjukkan ketebalan meningkat dengan naiknya suhu pemanasan dari 400 oCsampai 500 oC sedangkan pada suhu pemanasan 850 oC sampai 950 oC ketebalan turun. Energy gap film tipis naik dengan naiknya suhu pemanasan dari 400 oC sampai 500 oC, tetapi dengan penambahan doping dapatmenurunkan energy gap film tipis. Nilai koduktivitas listrik film tipis BST dan BSTT berada pada rentang material semikonduktor. Konduktivitas listrik film tipis secara umum turun dengan naiknya suhu pemanasan.Doping tantalum yang diberikan, secara umum dapat menaikkan konduktivitas listrik film tipis. Nilai konduktivitas ini berubah terhadap perubahan intensitas cahaya yang jatuh pada film tipis. Dengan demikian film tipis ini bersifat fotokonduktiv. Konstanta dielektrik film tipis turun jika suhu pemanasan dinaikkan,namun doping tantalumdapat menaikkan konstanta dielektrik filmtipis. Dari hasil karakterisasi arus-tegangan didapatkan film tipis BSTT bersifat fotodiode
ANALISIS STRUKTUR KOMPOSIT (AgI)x(AgPO3)1-x DENGAN METODE RIETVELD
ANALISIS STRUKTUR KOMPOSIT (AgI)x(AgPO3)1-x DENGAN METODE RIETVELD. Analisis struktur kristal fasa γ-AgI bahan baru gelas komposit superionik (AgI)x(AgPO3)1-x, pada x = 0,7 dan x = 0,6 telah dilakukan dengan metode Rietveld, Regangan mikro dan ukuran partikel diperoleh dari persamaan Hall’s. Pengukuran struktur bahan komposit dilakukan menggunakan Difraktometer Sinar-X di Departemen Fisika Universitas Ibaraki, Japan. Profil pola difraksi Sinar-x bahan tersebut memperlihatkan beberapa puncak Bragg yang menunjukkan kesesuaian dengan kristalin fasa -AgI. Analisis struktur kristal dengan metode Rietveld fasa γ-AgI telah dilakukan. Hasil refinement masing-masing fasa menunjukkan bahwa struktur kristal presipitat tersebut teridentifikasi dari fasa γ-AgI, simetri grup ruang F -4 3 m No. 216, FCC dengan parameter kisi masing-masing adalah 6.506(1), 6.503(2) and 6.500(2) untuk x =1,0 (AgI murni), x = 0,7 dan 0,6. Regangan mikro (η) masing-masing adalah 4,665 x 10-3, 6,95 x 10-3. dan 7,45 x 10-3, serta ukuran patikel (D) masing-masing adalah 1075 Å, 493 Å dan 461 Å. Menurunnya harga D dan parameter kisi (a) serta naiknya harga η pada x = 0,7 dan 0,6, akan meningkatkan mobilitas ion yang diikuti dengan meningkat konduktivitas ioniknya. Disimpulkan bahwa proses solidifikasi AgI cair ke dalam matriks gelas AgPO3 menurunkan parameter kisi dan ukuran partikel yang mengakibatkan naiknya regangan mikro dan konduktivitas ionik