Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
    859 research outputs found

    SINTESIS NANOPARTIKEL HEKSAFERIT MFe12O19 (M=Ba,Sr) DENGAN METODE KO-PRESIPITASI

    Get PDF
    SINTESIS NANOPARTIKEL HEKSAFERIT MFe12O19 (M=Ba,Sr) DENGAN METODE KO-PRESIPITASI. Sintesis nanopartikel MFe12O19 (M=Ba,Sr) heksaferit melalui metode ko-presipitasi telah dilakukan. Bahan dasar yang digunakan memiliki kemurnian tinggi sesuai dengan katalog Merck dari serbuk Ba(NO3)2.6H2O, Sr(NO3).6H2O dan Fe(NO3)3.9H2O. Dalam metode ko-presipitasi prekursor hidroksida Ba(II), Sr(II) dan Fe(II) diendapkan selama proses reaksi berlangsung antara larutan nitrat logam dan larutan natrium hidroksida 1 M, yang perperan sebagai precipitating reagent. Proses pengendapan dilakukan pada suhu 45 oC dan dengan masing-masing nilai pH sekitar 12,5. Proses sintering prekursor dilakukan dengan variasi temperatur 900 oC dan 1000 oC selama masing-masing 5 jam. Identifikasi fasa diukur dengan teknik difraksi sinar-X. Perubahan sifat kemagnetan sebelumdan setelah melalui proses sintering diukur menggunakan Vibrating Sample Magnetometer. Strukturmikro sampel diamati dengan Scanning Electron Microscope. Berdasarkan urutan pola difraksi sinar-X dapat diungkapkan bahwa kedua sampel telah membentuk sistem kristal heksaferit BaFe12O19 dan SrFe12O19 yang dicirikan oleh adanya puncak intensitas yang tajam. Dampak proses sintering terhadap sistem fasa BaFe12O19 dan SrFe12O19 terlihat jelas pada perubahan sifat kemagnetan yaitu koersivitas magnet intrinsik dan remanensi magnet yang meningkat tajam setelah mengalami proses sintering. Peningkatan kedua parameter tersebut mengindikasikan bahwa prekursor telah mengalami proses kristalisasi menjadi sistem fasa hekasaferit BaFe12O19 dan SrFe12O19. Keorsivitas intrinsik dan remanen magnet BaFe12O19 diperoleh berturut-turut sekitar 4,7 kOe dan 30,3 emu/g yang lebih tinggi dibandingkan dengan koersivitas magnet intrinsik SrFe12O19 yang hanya 3,5 kOe dan 22,9 emu/g. Peningkatan nilai koersivitas magnet intrinsik ini terkait erat dengan ukuran kristalit BaFe12O19 yang lebih halus

    EFEK 57Fe DAN 119Sn MOSSBAUER PADA SENYAWA RFe6Sn6 (R=Y, Gd - Lu)

    No full text
    EFEK 57Fe DAN 119Sn MOSSBAUER PADA SENYAWA RFe6Sn6 (R=Y, Gd - Lu). Telah digunakan efek 57Fe dan 119Sn Mossbauer untuk mempelajari sifat - sifat magnetik senyawa Rl7e6Sn6 (R=Y, Gd-Lu). Semua senyawa memiliki medan magnetik superhalus pada inti 57Fe sebesar ~19,5 T pada suhu 295K dan kuadrupol spliting positif. Hasil eksperimen 119Sn Mossbauer menunjukkan bahwa hanya 1/3 posisi Sn yang menstransfer momen magnetik dari Fe tetangga terdekat, sedangkan 2/3 posisi Sn memiliki tetangga terdekat atom - atom Fe yang arah momen magnetiknya antiparalel sehingga tidak menstransfer medan magnetik superhalus

    ANALISIS TEORI MEDAN MOLEKULAR PADA PADUAN UNSUR TANAH JARANG-LOGAM TRANSISI REnTMm

    No full text
    ANALISIS TEORI MEDAN MOLEKULAR PADA PADUAN UNSUR TANAH JARANG-LOGAM TRANSISI REnTMm. Mekanisme interaksi internal antara momen magnetik spin sehingga spin-spin cenderung untuk berorientasi teratur pada arah tertentu seperti ditemui dalam bahan yang bersifat feromagnet ataupun ferimagnet secara teoritis dibahas melalui konsep medan yang disebut sebagai medan pertukaran (echange field), medan molekular (molecular field) ataupun Weiss-field. Berdasarkan teori ini, telah disusun suatu algoritma untuk menentukan koefisien medan molekular dengan pendekatan metoda sub-kisi. Verifikasi dari algoritma yang telah disusun dilakukan dengan menggunakan data pengukuran magnetisasi versus temperatur untuk paduan unsur tanah jarang-logam transisi REnTMm yang telah dipublikasikan. Hasil perhitungan dari algoritma yang disusun kemudian dibandingkan dengan hasil pengukuran dari perhitungan referensi dan diperoleh kesesuaian yang sangat baik satu sama lain. Perhitungan dilakukan pada komputer Macintosh dengan algoritma disusun berdasarkan paket program MATHEMATICA, A system for doing mathematics by computer

    KEBIJAKAN DITJEN DIKTI DALAM BIDANG PENELITIAN

    Get PDF
    KEBIJAKAN DITJEN DIKTI DALAM BIDANG PENELITIA

    PENGARUH PENAMBAHAN BENTONIT PADA SUPERABSORBEN POLIMER KOMPOSIT HIDROGEL BERBASIS SELULOSA

    Get PDF
    PENGARUH PENAMBAHAN BENTONIT PADA SUPERABSORBEN POLIMER KOMPOSIT HIDROGEL BERBASIS SELULOSA. Telah dilakukan sintesa hidrogel Superabsorbent Polymer Composit (SAPC) melalui reaksi kopolimerisai cangkok (graft coplymerization) antara Carboxymethyl Cellulose (CMC), asam akrilat (AA), potasium persulfat (KPS) sebagai inisiator dan N,N -Methylene (Bis) Acrylamide (MBA) sebagai crosslinker. Proses pembuatan komposit dilakukan setelah proses polimerisasi selesai dengan menambahkan serbuk bentonit. Konsentrasi bentonit divariasikan dalam rentang 0 %w/w hingga 15 %w/w . Sebagai variabel tetap adalah asam akrilat 100 %, CMC 10 %, MBA 3,75 %w/w dan KPS 2,5 %w/w pada suhu 60 oC selama 5 jam. Pengaruh dari bentonit terhadap kemampuan penyerapan air hidrogel dipelajari, dimana hasil daya serap air tertinggi ditunjukkan oleh angka swelling ratio 54,38 g H2O/g hidrogel jika jumlah bentonit yang ditambahkan 10 %w/w. Mekanisme reaksi kopolimerisasi cangkok, dan morfologi dari komposit juga dilakukan menggunakan Fourier Transform-Infra Red (FT-IR) dan Scanning Electron Microscope (SEM)

    PENUMBUHAN LAPISAN TIPIS OKSIDA TIMAH DENGAN TEKNIK CVD-PENGKABUT ULTRASONIK

    Get PDF
    PENUMBUHAN LAPISAN TIPIS OKSIDA TIMAH DENGAN TEKNIK CVD-PENGKABUT ULTRASONIK. Lapisan tipis konduktif – anti reflektif Oksida Timah/SnO2 dengan ketebalan sekitar 100 nm telah ditumbuhkan pada substrat silikon orientasi kristal (100) menggunakan teknik CVD/Chemical Vapour Deposition-pengkabut ultrasonik. Pada sistem pelapisan menggunakan pengkabut ultrasonik ini, suatu transduser piezoelektrik dicelupkan ke dalam tabung berisi cairan pembentuk lapisan/precursor untuk menggetarkan dan memecah partikel cairan sehingga menjadi kabut/fog yang kemudian dialirkan ke suatu ruang terisolasi dengan sistem pemanas tempat cuplikan substrat diletakkan; melalui suatu nozzle atau bisa juga suatu reduced tube. Proses pelapisan dilakukan pada rentang suhu 300 oC sampai dengan 397 oC. dengan Nitrogen sebagai gas pembawa. Proses karakterisasi dilakukan dengan mengamati sifat listrik dan optis dengan four point probe dan spektrometer optik; memeriksa struktur kristal dengan difraksi sinar-X serta mengamati morfologi permukaan lapisan dengan SEM. Hasil karakterisasi menghasilkan harga resistivitas dalam orde 10-2 ohm-cm, penurunan refleksi dari 26% ke 2% setelah pelapisan serta terbentuknya struktur polikristalin oksida timah diatas substrat silikon

    PEMANTULAN DAN PEMBIASAN GELOMBANG ELEKTROMAGNET HARMONIK PERTAMA (FHEM) TERPOLARISASI-S DI BIDANG BATAS BAWAH BAHAN ANTIFEROMAGNETIK FeF2 PADA KONFIGURASI VOIGT

    No full text
    PEMANTULAN DAN PEMBIASAN GELOMBANG ELEKTROMAGNET HARMONIK PERTAMA (FHEM) TERPOLARISASI-S DI BIDANG BATAS BAWAH BAHAN ANTIFEROMAGNETIK FeF2 PADA KONFIGURASI VOIGT. Telah dilakukan analisis teoretis mengenai pemantulan dan pembiasan gelombang elektromagnet harmonik pertama (FHEM) terpolarisasi-s di bidang batas bawah bahan antiferomagnetik FeF2 pada konfigurasi Voigt. Dari penelitian ini didapatkan informasi bahwa reflektansi (R) dan transmitansi (T) gelombang elektromagnet harmonik pertama di bidang batas bawah memiliki sifat tak resiprokal terhadap perubahan tanda HO (medan magnet konstan terpasang dari luar) maupun terhadap perubahan tanda sudut Φ(sudut tiba gelombang datang), sama seperti sifat-sifat yang diperoleh di bidang batas atas. Selain itu diperoleh juga relasi V1(Ho) = V2(-Ho) dan V1(Φ) = V2(-Φ) dengan V1 dan V2 berturut-turut adalah R dan T di bidang batas atas dan bidang bawah

    PRODUKSI HEMATIT (α-Fe2O3) DARI PASIR BESI: PEMANFAATAN POTENSI ALAM SEBAGAI BAHAN INDUSTRI BERBASIS SIFAT KEMAGNETAN

    No full text
    PRODUKSI HEMATIT (α-Fe2O3) DARI PASIR BESI: PEMANFAATAN POTENSI ALAM SEBAGAI BAHAN INDUSTRI BERBASIS SIFAT KEMAGNETAN. Dalam rangka meningkatkan nilai ekonomis pasir besi, kami telah melakukan pengolahan mineral magnetit (Fe3O4) yang diambil dari pasir besi menjadi mineral hematit (α-Fe2O3) melalui proses oksidasi. Mineral magnetit dipisahkan dari pasir besi yang diambil dari suatu lokasi di pesisir utara Jawa Tengah melalui proses ekstraksi, penghalusan dan pemisahan sehingga diperoleh dengan kemurnian yang tinggi. Magnetit yang dimurnikan tersebut kemudian dioksidasi pada suhu 500°C, 600°C dan 700°C, masing-masing selama 15 jam. Hasil oksidasi mempunyai penampakan fisika yang berbeda dan nilai susceptibility magnetik yang lebih kecil dibanding mineral magnetit asalnya. Semakin tinggi suhu oksidasi semakin mirip warnanya dengan diperoleh dengan mineral hematit yang dihasilkan oleh industri. Nilai susceptibility magnetik juga menurun dengan semakin tingginya suhu oksidasi. Analisis fotomineralogi menunjukkan bahwa kandungan hematit meningkat dari ll% pada suhu oksidasi 500°C, menjadi sekitar 99% pada 700°C. Analisis dengan metode difraksi sinar-X memperlihatkan bahwa puncak-puncak intensitas magnetit yang semula mendominasi pada bahan awal secara bertahap diganti dengan puncak-puncak hematit pada sampel-sampel hasil oksidas

    PENUMBUHAN LAPISAN TIPIS a-SiGe-H DENGAN METODE PECVD DAN HWC-PECVD: PENGARUH LAJU ALIRAN GAS GeH4 TERHADAP SIFAT OPTOELEKTRONIK

    Get PDF
    PENUMBUHAN LAPISAN TIPIS a-SiGe-H DENGAN METODE PECVD DAN HWC-PECVD: PENGARUH LAJU ALIRAN GAS GeH4 TERHADAP SIFAT OPTOELEKTRONIK. Lapisan tipis a-SiGe-H telah berhasil ditumbuhkan dengan metode PECVD dan HWC-PECVD pada laju aliran gas GeH4 yang berbeda. Lapisan ditumbuhkan di atas substrat gelas corning 7059 dengan menggunakan campuran gas SiH4 dan GeH4, masing-masing dengan konsentrasi 10% dalam gas H2. Laju aliran gas GeH4 divariasikan dari 1 sccm hingga 3,5 sccm, sedangkan laju aliran gas SiH4 70 sccm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lapisan tipis a-SiGe-H yang ditumbuhkan dengan metode HWC-PECVD memiliki koefisien absorpsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan yang ditumbuhkan dengan metode PECVD. Celah pita optik lapisan tipis a-SiGe-H, baik yang ditumbuhkan dengan PECVD maupun HWC-PECVD menyempit akibat meningkatnya kandungan Ge dalam lapisan seiring dengan meningkatnya laju aliran gas GeH4 dari 1 sccm hingga 3,5 sccm. Sensitivitas penyinaran lapisan tipis a-SiGe:H yang ditumbuhkan dengan metode PECVD menurun, sebaliknya sensitivitas penyinaran lapisan yang ditumbuhkan dengan metode HWC-PECVD pada suhu filamen 800 0C mengalami peningkatan yang cukup berarti dengan meningkatnya laju aliran gas GeH4 dari 1 sccm hingga 2,5 sccm

    STRUCTURAL AND MAGNETIC PROPERTIES OF FE/SI MULTILAYER GROWN BY HELICON PLASMA SPUTTERING

    No full text
    STRUCTURAL AND MAGNETIC PROPERTIES OF FE/SI MULTILAYER GROWN BY HELICON PLASMA SPUTTERING. Helicon plasma sputtering method has been used to grown the Fe/Si multilayer (MLs) with various thickness of Silicon spacer around 0.5 ~ 2nm for Fe thickness fixed at 2nm in order to investigated the antiferromagnetic coupling behaviour. Also we grown the MLs with various Fe thickness around 2-5nm for Silicon spacer fixed at tSi =l nm and l.5nm. Present study found that in case of Silicon spacer thickness tSi= l nm multilayer film exhibit antiferromagnetically ordering, beside this thickness the MLs are ferromagnetic. The maximum magnetoresistance ratio is 0.22%, it appears at the Fe thickness tFe=3nm and Si thickness tSi=l nm

    726

    full texts

    859

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇