Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
PENENTUAN Cu, Cd ,Pb DAN Zn DALAM BAHAN BIOLOGI DENGAN METODE VOLTAMETRI
PENENTUAN Cu, Cd, Pb DAN Zn DALAM BAHAN BIOLOGI DENGAN METODE VOLTAMETRI. Telah dilakukan analisis Cu, Cd, Pb dan Zn dalam bahan biologi dengan metode voltametri. Dipelajari digesti (digestion) bahan biologi dengan campuran asam nitrat pekat dan perklorat, campuran asam nitrat pekat dan perklorat dan H2O2 serta digesti menggunakan gelombang mikro. Digunakan teknik Square Wave Anodic Striping Voltammetry dengan perangkat peralatan polarografi EG & G PAR M 384 B yang dilengkapi dengan SMDE EG & G PAR M 303 A. Untuk pengujian metode digunakan bahan biologi standar apple leave SRM-I 515, copepot SRM-MA-A-I TM dan bovin liver SRM l5 77b. Metode ini diaplikasikan pada analisis bahan sayuran. Terlihat bahwa digesti dengan campuran asam nitrat pekat dan perklorat pekat memberikan hasil lebih rendah dari harga sertifikat dengan recovery (38,00-87,52) %, digesti dengan penambahan H2O2 memberikan hasil lebih baik dengan recovery (84,42-104,48)% demikian pula digesti dengan gelombang mikro dengan recovery (98,4-107,2)%. Berdasarkan uji t dari data analisis dapat dinyatakan bahwa degesti dengan campuran asam nitrat dan perklorat serta H2O2 dan digesti dengan menggunakan gelombang mikro tidak berbeda nyata. Semua jenis sayuran yang diamati mengandung Cd (2,1-5,79) μg/g, Pb (1,57-4,99) μg/g, Cu (16,81-55,0) μg/g dan Zn (53,3-179,0) μg/g
TUNABLE SURFACE PLASMON RESONANCES OF Au@TiO2 CORE-SHELL NANOPARTICLES ON THE DSSC (DYE SENSITIZED SOLAR CELLS) PERFORMANCE
Plasmonic core-shell nanoparticles, i.e. gold can improve the efficiency of Dye-sensitized Solar Cell by increase the light harvesting due to the strong near-field effect LSPR (Localized Surface Plasmon Resonance). To achieve maximum enhancement, the morphology of core-shell need to be optimized with coated either by insulator such as semiconductor, i.e. TiO2. In this paper, morphology of Au@TiO2 core-shell precisely control by various TiO2 volume and systematically study its influence on the plasmonic enhancement effect. A gold solution was prepared using Turkevich method. The crystal structure of the powders was determined by powder X-ray diffraction (XRD). The optical properties were measured by UV-Vis absorption spectroscopy using UV-Vis Lambda 750. The photocurrent action spectra or IPCE in visible light spectrum was obtained by adjusting wavelength of incident light, i.e. series connection of halogen lamp and monochromator. UV-Vis absorption spectra of core–shell showed the position of the surface plasmon Au band in the range of 500–550 nm. According to UV-Vis characterization, all samples studied show weak surface plasmon resonance response (~520 to 550 nm) as indicative of the thick TiO2 shells for individual core-shell [email protected] Surface Plasmon Resonances of Au@TiO2 Core-shell Nanoparticles on the DSSC (Dye Sensitized Solar Cells) Performanc
ANALISIS REGANGAN DANTEGANGANSISADENGAN METODE RIETVELDPADA YBa2Cu3O7-x HASIL PELELEHAN
ANALISIS REGANGAN DANTEGANGANSISADENGAN METODE RIETVELDPADA YBa2Cu3O7-x HASIL PELELEHAN. Regangan dan tegangan sisa pada YBa2Cu3O7-x hasil pelelehan telah dianalisis dengan metode Rietveld berdasarkan data difraksi sinar-X. Fungsi Sasa–Uda dan March-Dollase digunakan sebagai faktor koreksi orientasi preferred untuk mendapatkan kualitas fitting terbaik. Hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi pergeseran posisi puncak dan juga pelebaran puncak difraksi sinar-X pada YBa2Cu3O7-x hasil pelelehan. Ini berarti pada YBa2Cu3O7-x hasil pelelehan terbentuk medan regangan yang tidak homogen. Penambahan Y2BaCuO5 hingga sebesar W < 10 % berat mengakibatkan penyusutan regangan dan tegangan, sedangkan penambahan Y2BaCuO5 lebih lanjut, yakni W 10% berat, membuat regangan dan tegangan rata-rata cenderung kembali seperti pada YBa2Cu3O7-x tanpa penambahan bahan aditif Y2BaCuO5. Jadi ada sejumlah tertentu fasa aditif yang menyebabkan terjadinya pelepasan regangan dan tegangan sisa
GIANT MAGNETORESISTANCE PADA PADUAN CaMnO3
GIANT MAGNETORESISTANCE PADA PADUAN CaMnO3. Telah dilakukan sintesis dan karakterisasi GiantMagnetoresistance (GMR) paduan CaMnO3. Sintesis bahan CaMnO3 menggunakan metode Mechanical Alloying. Bahan ini dimilling selama 12 jam dan dilakukan proses pemanasan pada suhu 1000 oC selama 9 jam. Hasil pengukuran dengan difraksi sinar-x (XRD) menunjukkan bahwa paduan CaMnO3 memiliki kualitas yang cukup baik. Hasil foto dengan Scanning Eectron Microscope (SEM) menunjukkan bahwa butir-butir kristal berbentuk bulat-bulat hampir homogen di seluruh permukaan paduan dengan ukuran butiran sekitar 200 nm hingga 300 nm walaupun masih tampak adanya porositas. Paduan CaMnO3 ini memiliki rasio magnetoresistance Δρ/ρ cukup besar sebesar 28%. Disimpulkan bahwa telah diperoleh paduan giant magnetoresistance CaMnO3 yang memiliki sifat magnetoresistance sangat baik. Rasio GMR pada penelitian ini 2 kali hingga 10 kali lebih besar dibandingkan dengan penelitian sebelumnya
STUDI RSE PADA ANISOTROPI INTERAKSI SPIN DALAM NH4CuCl3
STUDI RSE PADA ANISOTROPI INTERAKSI SPIN DALAM NH4CuCl3. Telah diamati sifat-sifat magnetik dari senyawa NH4CuCl3. NH4CuCl3 memiliki struktur kristal yang sama dengan KCuCl3 dan termasuk dalam model kristal monoklinik dengan space group P2I/c. Struktur utama dari kristal ini berupa rantai ganda yang memiliki susunan oktahedral CuCl6 pada bagian tepi sepanjang sumbu-a. Rantai ganda tersebut berada pada sudut dan pusat dari sel satuan dalam bidang bc dan dibatasi oleh ion-ion NH4+. Senyawa NH4CuCl3 memiliki tiga jenis interaksi antar tetangga terdekat J1, J2, dan J3. Sehingga pada temperatur ruang NH4CuCl3 dapat dimodelkan dalam sistem spin satu dimensi. Telah diukur pula harga Faktor Lande (g ) dalam senyawa rantai ganda NH4CuCl3. Nilai g telah diukur menggunakan spektrometer RSE pada temperatur ruang dengan pengaruh medan magnet hingga 1 T. Dalam pengukuran ini ditemukan indikasi fenomena anisotropi nilai g untuk pemutaran sumbu-a dan sumbu-b kristal. Secara teoritis anisotropi ini diprediksikan berasal dari interaksi pertukaran antisimetri pada model satu dimensi senyawa NH4CuCl3
KARAKTERISTIK STRUKTUR MIKROSKOPIK LAPISAN TIPIS BAHAN FERROMAGNETIK Ni YANG DIDEPOSISI DENGAN TEKNIK MAGNETOELEKTROLITIK
KARAKTERISTIK STRUKTUR MIKROSKOPIK LAPISAN TIPIS BAHAN FERROMAGNETIK Ni YANG DIDEPOSISI DENGAN TEKNIK MAGNETOELEKTROLITIK. Telah dilakukan deposisi lapisan tipis bahan feromagnetik Ni dengan sistem magnetoelektrolitik di atas substrat PCB (berlapis Cu) dalam larutan NiSO4. Modifikasi alat deposisi dengan penambahan sistem penganil magnetik serta variasi parameter kuat medan magnet dalam interval (0,00-7,79) mT menunjukkan bahwa semua lapisan tipis yang diperoleh kualitas penampilannya baik. Berdasarkan difraktogram, dapat dilihat bahwa interferensi konstruktif terjadi pada sudut rerata (2θ) masing-masing 44,493°; 51,860° dan 76,417°. Dari hasil analisis XRD dapat diketahui bahwa keseluruhan sampel merupakan polikristal berstruktur dasar FCC yang memiliki orientasi bidang hkl [111], [200] dan [220] dengan orientasi yang paling dominan (preferential orientation) terbentuk dengan mantap adalah [200]. Ukuran butir (grain size) bagi krital [200] dengan orientasi tersebut berkisar (175-295)Å. Hasil deposisi dengan sistem magnetoelektrolitik (magnetoelektrodeposisi) memberikan hasil struktur mikroskopik yang lebih baik dibanding sistem elektrodeposisi biasa
STUDI KEKRISTALAN PbZrxTi1-xO3 YANG DISIAPKAN DENGAN PELAPISAN PUTAR (SPIN COATING)
STUDI KEKRISTALAN PbZrxTi1-xO3 YANG DISIAPKAN DENGAN PELAPISAN PUTAR (SPIN COATING). Telah dibuat lapisan tipis PZT dengan metode pelapisan putar (spin coating), dengan berbagai variasi kecepatan putar, konsentrasi pelarut dan dua macam substrat, Hasil eksperimen menunjukkan peningkatan kecepatan putar (rpm) pada spin coating mengakibatkan degradasi kualitas kristal pada pembentukan lapisan tipis khususnya untuk substrat Pt(200)/Si(100); sedangkan pengenceran larutan tidak berpengaruh pada substrat Si(100) namun meningkatkan orientasi dominan (200) pada substrat Pt(200)/Si(100), Semua lapisan tipis yang terbentuk memiliki sistem kristal tetragonal dengan space group 14mm
KARAKTERISASI FILM PADUAN POLIPROPILEN-KO-ETILEN/ POLIBUTILEN SUKSINAT IRADIASI
KARAKTERISASI FILM PADUAN POLIPROPILEN-KO-ETILEN/ POLIBUTILEN SUKSINAT IRADIASI. Telah dilakukan penelitian tentang karakterisasi film paduan polipropilen-ko-etilen (KPP)/polibutilen suksinat (PBS) dan polipropilen ditempel dengan maleik anhidrat (PP-g-MAH) yang diiradiasi sinar gama. Telah diketahui bahwa kebanyakan polimer paduan yang ada, tidak mudah didegradasi dibawah kondisi lingkungan alam. Untuk mengatasi masalah ini maka perlu dicari jalan keluarnya diantaranya dengan menyiapkan bahan polimer yang mudah didegradasi yaitu memadukan polimer yang tidak mudah didegradasi dan mudah didegradasi. Komposisi paduan KPP/PBS divariasi sebagai berikut; 100/0, 75/25, 50/50, 25/75 dan 0/100 dengan konsentrasi PP-g-MAH 20 % berat, diiradiasi menggunakan sinar gama Co-60 dengan aktivitas 500 kCi pada dosis 0 kGy, 50 kGy, 100 kGy, 150 kGy dan 200 kGy, pada laju dosis 8,2 kGy/jam serta suhu 90 oC. Karakterisasi film iradiasi telah dievaluasi dengan mengukur perpanjangan putus, tegangan putus, degradasi secara enzimatik, penguburan dalam tanah, fraksi gel dan ketahanan terhadap panas. Hasilnya menunjukkan bahwa perpanjangan putus dan tegangan putus film paduan KPP/PBS = 50/50 yang diiradiasi pada dosis 200 kGy masing-masing sekitar 150 % dan 15 MPa. Kehilangan berat film yang sama akibat degradasi dengan enzim lipase selama 8 hari sekitar 2,5 % dan penguburan dalam tanah selama 4 bulan 1,5 mg. Fraksi gel sekitar 42 % dan ketahanan film terhadap panas pada suhu 140 oC adalah 21 jam
SIFAT MAGNETIK MULTILAYER TbFe DAN PENGARUH LAPISAN PROTEKSI SiN
SIFAT MAGNETIK MULTILAYER TbFe DAN PENGARUH LAPISAN PROTEKSI SiN. Telah dilakukan penelitian sifat magnetik dari Multilayer TbFe yang membentuk lapisan ganda dan pengaruh lapisan SiN yang dideposisikan sebagai buffer dan sebagai proteksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan kontribusi pada aplikasi bahan magnet untuk medium penyimpanan data dengan sistem MO (Magneto optik) menggunakan paduan logam tanah jarang RE (Rare Earth) dan logam peralihan TM (Transitions metal). Preparasi dikerjakan dengan metode Sputtering DC melalui teknik face to face pada tekanan awal vakum dalam orde 10-6 mbar, dilanjutkan dengan mengalirkan gas sputter (Argon) hingga mencapai tekanan 3 x 10-2 mbar. Pengukuran Kerr Hysterisis pada Tb21Fe79 menunjukkan bahwa lapisan ini memiliki sifat anisotropi tegak lururs bidang dengan titik kompensasi sekitar 35 oC, dimana resultan momen magnetik pada logam tanah jarang Tb dan logam peralihan Fe berlawana arahnya dan saling terkompensasi, menghasilkan megnetisasi terukur = 0. Bahwa lapisan tipis Tb dengan tebal 1,25 nm dan lapisan tipis Fe (1nm) yang membentuk multilayer sebanyak 110 lapisan, terjadi coupling antiparalel, ditunjukkan oleh pengamatan menggunakan VSM. Deposisi lapisan SiN dengan ketebalan 100 nm bertujuan untuk proteksi RE/TM terhadap reaksi (oksidasi) dengan udara, dan juga untuk memperbesar (enhance) efek Kerr θk melalui interferensi Lapisan buffer ini ternyata memberikan efek samping karena diffusi N sampai pada batas Tb-SiN, sehingga terjadi reaksi N-Tb. Dengan lapisan SiN, diperoleh efek pemutaran bidang polarisasi yang signifikan, sebesar 20 menit (= 0,3 o), untuk arah polar, mengindikasikan dapat diaplikasikannya sebagai lapisan pembacaan (reading layer) pada medium penyimpan data dengan teknikMO