Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
KARAKTERISASI MICROSPHERE POLILAKTAT MENGANDUNG HOLMIUM-165
KARAKTERISASI MICROSPHERE POLILAKTAT MENGANDUNG HOLMIUM-165. Karakterisasi microsphere berbasis polimer biodegrable polilaktat (PLA) mengandung holmium-165 (Ho-165) untuk bahan radiofarmaka telah dilakukan. Karakterisasi difokuskan pada ukuran microsphere menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM), dan penentuan keberadaan Ho-165 dalam micropshere menggunakan Neutron Activation Analysis (NAA) dan Energy Dispersion Spectrometry (EDS). Microsphere berbasis PLA mengandung Ho-165 telah dibuat dengan ukuran rata-rata 30 m. Keberadaan Ho-165 dalam microsphere dapat dipastikan berdasarkan kemunculan puncak energi gamma sekitar 80 KeV. Hasil analisis dengan NAA menunjukkan adanya keselarasan antara kandungan Ho-165 hasil perhitungan berdasarkan komposisi dan pengukuran. Dari data EDS diketahui bahwa hanya sebagian kecil Ho-165 di permukaan microsphere, dengan kata lain mayoritas Ho-165 terkungkung di bagian dalam microsphere
EFEK KONDISI PEMBASAHAN DALAM PEMBENTUKAN NANOSFER BERBASIS OKSIDA BESI DAN PLA
EFEK KONDISI PEMBASAHAN DALAM PEMBENTUKAN NANOSFER BERBASIS OKSIDA BESI DAN PLA. Nanosfer berbasis oksida Fe dan PLA telah dibuat dengan memvariasikan parameter kondisi pembasahan (wetting process parameter). Parameter yang divariasikan meliputi kecepatan proses pengadukan dan kekentalan larutan pembasah. Hasil karakterisasi SEM menunjukkan adanya kecenderungan ukuran partikel yang makin kecil dengan naiknya kecepatan adukan dan makin homogen dengan menurunnya kekentalan larutan. Identifikasi fasa pada pola difraksi sinar-X menunjukkan tetap terbentuknya fasa kristalin Fe3O4/γ-Fe2O3 dan PLA sampai batas parameter proses yang digunakan. Namun demikian, hasil pengukuran sifat magnetik dengan VSM menunjukkan belum optimalnya pengisian serbuk magnetik dalam sistem nanosfer sehingga nilai magnetisasinya masih rendah. Dari rangkaian proses yang telah dilakukan nanosfer yang dapat dibuat mempunyai ukuran terkecil pada kisaran 500 nm dan nilai magnetisasi tertinggi 7,27 emu/gram
ISOLASI DAN KARAKTERISASI MONTMORILLONITE DARI BENTONIT SUKABUMI (INDONESIA)
ISOLASI DAN KARAKTERISASI MONTMORILLONITE DARI BENTONIT SUKABUMI(INDONESIA). Isolasi montmorillonite dari bentonit lokal tanpa menggunakan bahan kimia telah dilakukan. Proses isolasi meliputi; pelarutan dalam air, pemberian gelombang ultrasonik dan proses sedimentasi secara alami. Endapan yang terbentuk selama selang waktu tertentu dalamproses sedimentasi dikarakterisasi dengan XRD, XRF dan BET. Endapan: 0menit hingga 15 menit (fraksi 1) dan endapan 15 menit - 3 hari (fraksi 2) adalah fraksi kasar yang banyak mengandung mineral impuritas, seperti: clinoptilolite, quartz, illite, analcime dan dolomite. Sedangkan endapan 3 hari hingga 7 hari (fraksi 3) dan endapan >7 hari (fraksi 4) adalah fraksi halus yang mempunyai ukuran partikel 2,17 μm dan 0,75 μm, luas permukaan 77,26 m2/g dan 86,08 m2/g, ukuran pori 15.25 Å dan 15,01 Å dan volume pori 0,05891 mL/g dan 0,06460 mL/g. Disimpulkan bahwa fraksi 3 dan fraksi 4 adalah montmorillonite murni yang telah dapat diisolasi dari bentonit lokal
ANALYSIS OF MICROSTRUCTURE AND HARDNESS OF WELDED JOINTS OF DISSIMILAR STEEL OF AISI 1018 - AISI 304
This research studies the microstructure and hardness property of shield metal arc welding (SMAW) from dissimilar metals between austenitic stainless steel (SS) AISI 304 and low carbon steel (LCS) AISI 1018 using E308 filler metal. The procedure used was LCS-to-LCS welding carried out without post weld heat treatment (PWHT) and SS-to-SS welding followed by PWHT at a temperature of 1000ÚC and holding time for 12 minutes. Then, it was followed by shock cooling in aqueous media. The difference in PWHT stages in the two procedures is expected to affect the microstructure and hardness of the welding results. This was conducted to find out more precise procedures in the SMAW technique for welding dissimilar metals like AISI 304 with AISI 1018 so that the risk of chromium carbide precipitate formation and the low hardness of welded joints can be reduced. The results showed there were chromium carbide precipitates in the heat-affected zone (HAZ) of AISI 304, grain enlargement in the HAZ area of both steels, as well as the formation of the ferrite delta phase in the welding area by LCS-to-LCS welding. While the value of hardness in the HAZ area of AISI 304 has decreased, increases occur in the HAZ area of AISI 1018 in all welding conditions. In addition, PWHT treatment can increase the hardness on the AISI 1018 side due to the formation of the martensite phase, decrease in the hardness value on the AISI 304 side, and the reduced ferrite delta phase and the number of chromium carbide precipitates
EFEK GMR (GIANT MAGNETORESISTANCE) PADA LAPISAN TIPIS MAGNETIK FeSiAl YANG DIHASILKAN DENGAN TEKNIK SPUTTERING
EFEK GMR (GIANT MAGNETORESISTANCE) PADA LAPISAN TIPIS MAGNETIK FeSiAl YANG DIHASILKAN DENGAN TEKNIK SPUTTERING. Telah dilakukan pembuatan lapisan tipis FeSiAl dengan, metodapin hole menggunakan teknik RF sputtering. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat lapisan tipis magnetik yang terdiri dari bahan magnetik, nonmagnetik dan semikonduktor yang mempunyai sifat GMR. Senyawa FeSiAl diperoleh dengan menggunakan metoda pin hole, dimana metoda ini lebih sederhana dibandingkan dengan metoda multi layer maupun target paduan. Target pin hole Si, Al dan dan target utama Fe, ditembaki dengan ion argon berasal dari gas argon yang telah terionisasi oleh tegangan RF. Penelitian efek GMR dilakukan dengan mengukur tahanan lapisan tipis magnetik dengan ohm meter menggunakan metoda probe empat titik, sebagai fungsi medan magnet luar. Analisis unsur dilakukan dengan menggunakan metoda Analisa Reaksi Inti. Dari hasil pengukuran yang dilakukan didapatkan hasil efek GMR yang paling baik dengan nisbah GMR 34 %. Perubahan tahanan lapisan tipis paling besar dari 7,551 ohm menjadi 2,567 ohm terjadi pada kuat medan magnet 0 gauss sampai dengan 60 gauss Parameter yang menghasilkan efek GMR paling baik timbul pada perbandingan komposisi unsur Fe 83:%, Si 6%, Al 7%, daya RF 185 watt, tekanan 9x10-2/sup torr dan waktu deposisi 3O menit
PENENTUAN STRUKTUR MAGNETIK CaMnO3 DENGAN DIFRAKSI NEUTRON
PENENTUAN STRUKTUR MAGNETIK CaMnO3 DENGAN DIFRAKSI NEUTRON. Informasi mengenai struktur magnetik tidak dapat diperoleh melalui difraksi sinar-X (XRD). Oleh karena itu dibutuhkan data yang berasal dari difraksi neutron. Struktur magnetik CaMnO3 dalam penelitian ini dijelaskan melalui difraksi neutron metode serbuk. Preparasi sampel CaMnO3 mula-mula mencampur bahan dasar melalui perhitungan kimia, setelah itu dilanjutkan melalui proses milling dengan variasi waktu dan variasi pemanasan. Dari hasil karakterisasi melalui difraksi sinar-X diperoleh bahwa, fasa baru CaMnO3 terbentuk pada milling selama 12 jam dan pemanasan 1000 ºC selama 9 jam. Sistem kristal berada pada sistem simetri orthorhombik dengan group ruang (Pnma -D162h) dan parameter kisi (di suhu 12 K), a = 5,2801 Å, b = 7,4432 Å, c = 5,2588 Å. CaMnO3 memiliki suhu Neel di 131 K[3], artinya bahan ini berubah sifat menjadi antiferomagnetik jika berada di bawah suhu Neel. Hasil difraksi neutron CaMnO3, sifat magnetik muncul pada atom Mn di suhu 12 K sudut 2θ=24,486 bidang pantulan hkl (011) dengan struktur magnetik pada atom Mn di posisi simetri 4b(0,0,½) adalah nonkolinear antiferromagnetik dan momen magnetiknya m(Mn) = 1,73 μB
DEPOSISI LAPISAN TIPIS ZnO SEBAGAI LAPISAN TIPIS TIPE N DAN JENDELA SEL SURYA CuInSe2
DEPOSISI LAPISAN TIPIS ZnO SEBAGAI LAPISAN TIPIS TIPE N DAN JENDELA SEL SURYA CuInSe2. Telah dilakukan deposisi lapisan tipis ZnO pada substrat kaca sebagai lapisan tipis tipe N dan jendela sel surya CuInSe2 menggunakan teknik RF sputtering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh parameter sputtering terhadap resistansi, tipe konduksi, transmitansi dan struktur kristal, sehingga dapat digunakan untuk sel surya CuInSe2 (CIS). Pembuatan lapisan tipis ZnO menggunakan teknik RF sputtering pada frekuensi 13,56 MHz dengan target ZnO. Bahan target ditumbuki dengan ion Ar, sehingga atom ZnO terpecik pada substrat membentuk lapisan tipis ZnO pada substrat kaca. Pengukuran resistansi dan tipe konduksi menggunakan probe empat titik, transmitansi menggunakan UV Vis, struktur kristal menggunakan XRD. Dari hasil pengamatan diperoleh resistansi terendah 19 k dengan tipe konduksi N, transmitansi tertinggi 99,3 %, struktur kristal lapisan tipis adalah kristal ZnO dengan bidang (100), (002), (101). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahan lapisan tipis yang dibuat dapat digunakan sebagai jendela sel surya CIS
PENGUKURAN ANISOTROPI MAGNETIK SUSCEPTIBILITY BATUAN VULKANIK GUNUNG MERAPI DI JAWA TENGAH
PENGUKURAN ANISOTROPI MAGNETIK SUSCEPTIBILITY BATUAN VULKANIK GUNUNG MERAPI DI JAWA TENGAH. Anisotropy Magnetic Susceptibility (AMS) adalah gambaran perbedaan harga susceptibility magnetik pada suatu sampel yang bergantung pada arah atau orientasi medan yang mempengaruhinya. Dua puluh dua sampel dari empat daerah gunung merapi, di Jawa Tengah telah diukur anisotropi susceptibility magnetiknya dengan menggunakan MSZ Bartington. Kedua puluh dua sampel tersebut menunujukkan susceptibility yang tinggi sampai dengan 8037,5 x 10-5 (SI unit). Sebelas sampel sangat anisotropik (dengan derajat anisotropi mencapai 16%). Sampel lainnya memiliki derajat anisotropi kurang dari 6% (dari daerah pasar bubar, Kali Kuning, Kali Gendong, Kali Gendol Utara), hal ini menunjukkan bahwa sebagian sampel dapat digunakan dalam paleomagnetik
STUDI PRODUKSI PEREKAT UNTUK SEPATU KANVAS DARI POLIMER LATEKS KARET ALAM - METIL METAKRILAT (NRL-g-PMMA)
STUDI PRODUKSI PEREKAT UNTUK SEPATU KANVAS DARI POLIMER LATEKS KARET ALAM - METIL METAKRILAT (NRL-g-PMMA). Optimasi proses kopolimerisasi radiasi metil metakrilat (MMA) ke dalam lateks kebun pada dosis 5; 7,5 dan 10 kGy dengan kadar MMA: 25, 50, 75, dan 100 psk serta optimasi proses perekatan pada pembuatan sepatu kanvas telah dikerjakan. Sifat NRL-g-MMA dan film karetnya antara lain: kadar, kandungan padatan, kekentalan, pH, modulus, tegangan putus, kekerasan, perpanjangan putus, dan daya rekat pada pembuatan sepatu kanvas telah dievaluasi. Hasilnya menunjukkan bahwa NRL-g-MMA berkadar 75 psk MMA, dan berdosis radiasi 5 kGy merupakan perekat sepatu kanvas yang stabil dalam penyimpanan. Daya rekat NRL-g-MMA tersebut adalah 16-8 N/6mm, melebihi persyaratan standar SNI 12-0172-1987 yang nilainya 10 N/6mm. Di samping itu ada kecenderungan, bahwa daya rekat yang dihasilkan pada proses perekatan suhu rendah (30-50 0C) lebih kuat dari pada suhu tinggi (100 0C)
KARAKTERISASI TERMAL KOMPOSIT HEKSAFERIT (BaM) DENGAN MATRIKS POLIMER
KARAKTERISASI TERMAL KOMPOSIT HEKSAFERIT (BaM) DENGAN MATRIKS POLIMER. Penggunaan bahan magnet komposit heksaferit banyak dijumpai pada peralatan listrik dan elektronika seperti switching thermistors dan switch break, yang penggunaannya dengan arus tinggi dapat menimbulkan efek panas sehingga perlu dipelajari sifat termal dari matriks polimer komposit tersebut. Karakterisasi dilakukan dengan cara setiap sampel dicuplik dengan berat ± 25 mg dimasukkan ke dalam krusibel alumina kemudian dipanaskan hingga 500 oC dengan kecepatan pemanasan 20 oC per menit menggunakan alat Simultaneous Thermal Analysis (STA). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa matriks vinilester dan epoksi mempunyai sifat termal yang hampir sama, jika dilihat dari suhu awal dekomposisinya epoksi dan vinil ester memiliki ketahanan termal lebih baik dari polietilen yaitu sekitar 396,3 oC dan puncak dekomposisi epoksi 480,5 oC