Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
KOMPOSIT TAWASARANGAKTIFZEOLIT UNTUK MEMPERBAIKI KUALITAS AIR
KOMPOSIT TAWASARANGAKTIFZEOLIT UNTUK MEMPERBAIKI KUALITAS AIR. Telah dipelajari kemampuan komposit tawas, arang aktif dan zeolit untuk memperbaiki kualitas air. Penelitian ini mencari komposisi optimum komposit, sebagai langkah awal penyediaan teknologi sederhana dalam penyediaan air minum secara catu dengan volume kecil, yang merupakan gabungan dari beberapa prosedur, seperti koagulasi, flokulasi, pengendapan, penukaran ion dan penyerapan, yang terjadi dalam satu proses. Digunakan air sungai Cisadane sebagai sampel. Perbaikan kualitas air dilihat dari penurunan kekeruhan, bilangan permanganat, kandungan ion ion Cu, Cd, Pb dan Al dalam air setelah diproses. Diperoleh kesimpulan bahwa komposit tawas, arang aktif dan zeolit mempunyai kemampuan menurunkan kekeruhan air lebih besar dari pada komponen - komponennya. Penambahan kanji dalam komposit mempercepat proses penjernihan air. Komposit ini menurunkan kekeruhan, bilangan permanganat, dan jumlah bakteri coli dalam air. Komposisi komposit optimum adalah 1000 mg arang aktif, 1000 mg zeolit, 60 mg tawas, 40 mg natrium bikarbonat dan 50 mg kanji dengan ukuran butiran lebih kecil dari 80 mesh
PENGUKURAN STABILITAS NATURAL REMANENT MAGNETIZATION (NRM) BATUAN VULKANIK GUNUNG MERAPI DI JAWA TENGAH
PENGUKURAN STABILITAS NATURAL REMANENT MAGNETIZATION (NRM) BATUAN VULKANIK GUNUNG MERAPI DI JAWA TENGAH. Telah dilakukan kajian kemagnetan batuan pada daerah sekitar puncak Gunung Merapi. Penelitian ini berupa uji kestabilan Natural Remanent Magnetization (NRM) yang menggunakan l6 specimen yang diambil dari Pasar Bubar, Kali Gendol dan Kali Gendong. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran intensitas dan arah NRM,dan proses demagnetisasi dengan menggunakan metoda Alternating Field Demagnetization. Hasil Pengukuran menunjukkan bahwa Pasar Bubar mempunyai intensitas rata-rata 2255,468 mA/meter dengan range deklinasi 32,8° - 6,5° dan inklinasinya -37,4° - 3,9°, Kali Gendol mempunyai intensitas rata-rata 2469,387 mA/meter dengan range deklinasi 356,1°- 11° dan inklinasinya -4,9° - -0,1°, dan Kali Gendong mempunyai intensitas rata-rata 4139,062 mA/meter dengan range deklinasi 62,1° - 125,4° dan inkinasinya -0,8°- 35,2°. Uji kestabilan NRM ini melalui kurva intensitas, Plot stereonet, diagram Zijderveld dan Analisis Komponen Utama (MAD). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sampel Kali Gendol cukup stabil dan memenuhi syarat untuk digunakan dalam studi Paleomagnetik
ANALISIS STRUKTURMIKRO MAGNET PERMANEN SISTEM NdFeB-SmCo
ANALISIS STRUKTURMIKRO MAGNET PERMANEN SISTEM NdFeB-SmCo. Telah dilakukan penelitian magnet hibrida berbasis Sm2Co17 dan Nd2Fe14B dengan komposisi 80% Sm(Co,Fe,Cu,Zr)8.5 dan 20% Nd12Fe82B6 (% berat). Proses preparasi pembentukan struktur komposit yang dimaksud adalah melalui teknik konvensional metalurgi serbuk. Proses ball mill dilakukan pada serbuk dengan variasi waktu milling 2 jam sampai dengan 22 jam. Dari serbukmaterial hibrida hasil proses milling ini dilakukan pembuatan magnet hibrida melewati proses sintering dengan suhu sintering 1100 oC, 1130 oC, dan 1160 oC. Studi identifikasi fasa terhadap sampel magnet dengan XRD menunjukkan bahwa fasa magnet utama yaitu Sm2Co17 dan Nd2Fe14B dapat dipertahankan, meskipun telah menjalani proses perlakuan panas. Namun pada sampel magnet hibrida dengan ukuran serbuk semakin halus yaitu hasil penghalusan dengan waktu relatif lama diidentifikasikan fasa oksida berupa Sm2O3, NdO2, Nd2O3. Ditemukan bahwa suhu 1160 oC merupakan suhu pemadatan optimal untuk menjadikan fasa 2/17 sebagai fasa dominan pada sampel magnet hibrida
EFEK ELEKTROOPTIK NONLINIER PADA FASASMEKTIK-C *
EFEK ELEKTROOPTIK NONLINIER PADA FASASMEKTIK-C *. Telah dilakukan pengukuran elektrooptik untuk mempelajari dinamika molekul kristal cair di sekitar transisi fasa smektik-A-smektik-Cα* kristal cair antiferoelektrik 4-(1-methyl-heptyloxycarbonyl)phenyl 4-octylcarbonyloxybiphenil-4-carboxylate (MHPOCBC). Telah diperlihatkan bahwa dispersi frekuensi dari respon elektrooptik orde kedua sangat tergantung pada sudut antara polarizer dan arah normal lapisan smektik dan anisotropi indeks bias, sedangkan respon linier tidak demikian. Meskipun soft mode pada fasa SmA tidak dapat diamati, pada fasa smektik-Cα* amplitude mode dan ferroelectric mode dapat diamati menggunakan spektroskopi elektrooptik orde kedua. Pada kondisi eksperimen tertentu, kontribusi ferroelectric mode pada spektrum dispersi frekuensi berhasil dikurangi dan amplitude mode dapat diamati dengan jelas. Hasil yang diperoleh didiskusikan dan dianalisis berdasarkan teori fenomenologikal
KAJI KELAYAKAN NILAI FLUIDITAS SEBAGAI INDIKATOR KUALITAS INGOT PADUAN ALUMINIUM DI INDUSTRI
KAJI KELAYAKAN NILAI FLUIDITAS SEBAGAI INDIKATOR KUALITAS INGOT PADUAN ALUMINIUM DI INDUSTRI. Salah satu upaya pengurangan kegagalan (reject) dalam proses produksi pengecoran cetak tekan (die casting) logam aluminium paduan adalah dengan menjaga kualitas bahan baku ingot aluminium dari pengotor. Pengotor logam aluminium paduan yang berupa oksida, karbida, garam atau senyawa lainnya dapat menyebabkan terbentuknya cacat inklusi dan porositas pada produk pengecoran. Pengotor tersebut diyakini mempengaruhi fluiditas (sifat mampu alir) aluminium cair. Dengan kata lain, makin bersih logam aluminium cair fluiditas akan makin tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini ditujukan untuk menjadikan nilai fluiditas logam paduan aluminium silikon 12% (ADC 12) sebagai indikator kualitas bahan baku proses pengecoran cetak tekan. Nilai fluiditas paduan aluminium silikon dari beberapa pemasok diamati dengan menggunakan alat uji vakum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai fluiditas pada suhu pengujian 640 oC sampai dengan 700 oC untuk ingot jenis Al-A = 100-125 mm + 10 mm dan Al-B = 100-175 mm + 51 mm dan Al-C = 100-175 + 24 mm, berturut-turut. Dengan demikian, kualitas ingot Al-C relatif lebih baik dibanding Al-A dan Al-B ditinjau dari sifat mampu alir yang ditunjukkan oleh nilai fluiditas dan konsistensi pemrosesan yang ditunjukkan oleh simpangannya. Pengamatan strukturmikro menunjukkan bahwa populasi porositas Al-C (1,37%) relatif lebih rendah dibanding jenis Al-A(2,35%) dan Al-B (1,82%)
OPTIMALISASI PROSES DESIZING, SCOURING, BLEACHING DAN CAUSTISIZING SECARA SIMULTAN, SISTEM PAD-BATCH PADA KAIN RAYON VISKOSA
OPTIMALISASI PROSES DESIZING, SCOURING, BLEACHING DAN CAUSTISIZING SECARA SIMULTAN, SISTEM PAD-BATCH PADA KAIN RAYON VISKOSA. Di pabrik tekstil proses desizing, scouring, bleaching dan caustisizing pada kain rayon viskosa, secara simultan sistem pad-batch, dimungkinkan untuk dilakukan dengan menggunakan oksidator dalam suasana alkali. Proses ini merupakan proses yang relatif lebih singkat dibandingkan dengan cara konvensional bertahap. Tetapi hasilnya sering kurang memuaskan karena pada proses tersebut, proses penghilangan zat impuritis dan kotoran yang terkandung pada kain kurang sempurna, sehingga kalau diwarnai mengakibatkan belang. Untuk meningkatkan mutu hasil proses desizing, scouring, bleaching dan caustisizing secara simultan, sistem pad-batch telah dilakukan penelitian untuk mencari kondisi optimum proses dengan memvariasikan konsentrasi NaOH : 20 g/L, 30 g/L, 40 g/L, 50 g/L dan konsentrasi H2O2 : 10 mL/L, 20 mL/L, 30 mL/L dengan efek peras 100% dan waktu batching 8 jam. Hasil percobaan diuji terhadap: kandungan kanji, ketuaan warna, kekuatan tarik dan derajat putih. Dari hasil percobaan dan pengujian diperoleh kondisi optimum proses pada konsentrasi NaOH 50 g/L dan H2O2 10 mL/L, waktu batching 8 jam dengan efek peras 100%, dimana pada kondisi tersebut: kandungan kanji dalam bahan dapat hilang dengan baik, hasil pencelupan memberikan warna paling tua dengan nilai K/S tertinggi yaitu 24,01, nilai kekuatan tarik cukup baik dengan penurunan nilai kekuatan tarik : pakan sebesar 11,9% dan lusi 19,8 % , nilai derajat putih baik yaitu 88,24
PREDICTION OF MOULD FILM THICKNESS IN THE BISMUTH BASED ALLOY CONTINUOUS CASTING PROCESS. Continuous casting is an important manufacturing process for producing ingots, slabs and flat products. The lubricant known as the mould flux in the meniscus region of continuous casting process flows through the space between the solidified shell and water cooled mould wall under the influence of the mould oscillation, gravity and the casting speed. The lubrication process in continuous casting upper mould region is characterized as the hydrodynamic lubrication phenomena. The film thickness at this working region zone is considered to be important and it may determine the quality of the surface of the billet/slab during continuous casting. Maintaining an optimal film thickness is very important to prevent the metal-to-metal contact between the surface of the strand and the mould wall. In this work, the changes in diameter of the cast bismuth based alloy billet were monitored during continuous casting in order to estimate the film thickness of the lubricant inside the mould. The result denotes that the thermal induced viscosity play an important role in the film thickness formation of a continuous casting process.
PREDICTION OF MOULD FILM THICKNESS IN THE BISMUTH BASED ALLOY CONTINUOUS CASTING PROCESS. Continuous casting is an important manufacturing process for producing ingots, slabs and flat products. The lubricant known as the mould flux in the meniscus region of continuous casting process flows through the space between the solidified shell and water cooled mould wall under the influence of the mould oscillation, gravity and the casting speed. The lubrication process in continuous casting upper mould region is characterized as the hydrodynamic lubrication phenomena. The film thickness at this working region zone is considered to be important and it may determine the quality of the surface of the billet/slab during continuous casting. Maintaining an optimal film thickness is very important to prevent the metal-to-metal contact between the surface of the strand and the mould wall. In this work, the changes in diameter of the cast bismuth based alloy billet were monitored during continuous casting in order to estimate the film thickness of the lubricant inside the mould. The result denotes that the thermal induced viscosity play an important role in the film thickness formation of a continuous casting process
UNIQUE CONFORMATION OF RH(I) PILLAR COMPLEXES IMMOBILIZED ON TAENIOLITE
UNIQUE CONFORMATION OF RH(I) PILLAR COMPLEXES IMMOBILIZED ON TAENIOLITE. Rhodiumpillar complex with chiral diamine ligands, Rh-Cn-(-)-CHDA, were synthesized and intercalated with various loading amounts in the range of 19 - 26%CEC, Cation Exchange Capacity (CEC) into Lithium Taeniolite (LiTN) These pillared catalysts (Rh-Cn-(-)-CHDA/TN) were characterized by XRD, elementary analysis, and FT-IR. Results of XRD analysis showed that the clearance space of the catalyst interlayer increased proportionally with the alkyl chain length of the ligandwith the slopeof 0.14 nm/CH2
PENGARUH KOMPOSISI, SUHU DAN ALAT MILLING PADA FENOMENA PEMBENTUKAN NANOTUBE SISTEM Bi-Mn-O DENGAN MECHANICAL ALLOYING.
PENGARUH KOMPOSISI, SUHU DAN ALAT MILLING PADA FENOMENA PEMBENTUKAN NANOTUBE SISTEM Bi-Mn-O DENGAN MECHANICAL ALLOYING. Studi tentang pengaruh komposisi, suhu, dan alat milling pada pembentukan nanotube Bismuth Oxide sistem Bi-Mn dengan Mechanical Alloying (MA) telah dilakukan. Bubuk Bi dan Mn dengan komposisi Bi-20 %at Mn dan Bi-50 % at Mn diproses dengan metode Mechanical Alloying menggunakan Planetary Ball Mill dan High Energy Milling (HEM) untuk menghasilkan bubuk paduan Bi-Mn berorde nanometer. Suhu pada proses divariasikan untuk melihat pengaruh suhu pada proses pembentukan paduan dengan variasi suhu kamar (± 25 oC), suhu 0 oC, dan suhu di bawah 0 oC (-50 oC). Bubuk yang telah diproses dikarakterisasi menggunakan X-Ray Diffraction (XRD), Energized Scanning Electron Microscopy (ESEM) dan Energy Dispersive Spectroscopy (EDS). Hasil analisis struktur memperlihatkan penurunan dan pelebaran spektrum difraksi yang menandakan proses penghalusan butiran. Hasil analisis strukturmikro memperlihatkan munculnya fenomena nanotube yang dikonfirmasi sebagai bismuth oxide oleh analisis EDS. Dari hasil analisis strukturmikro, terlihat pengaruh yang kuat dari komposisi campuran bubuk, suhu proses dan alat milling yang digunakan terhadap fenomena pemunculan nanotube