Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
PENGARUH SUHU DAN WAKTU SINTER TERHADAP PENUMBUHAN FASA SUPERKONDUKTOR GdBa2Cu3O7-x
PENGARUH SUHU DAN WAKTU SINTER TERHADAP PENUMBUHAN FASA SUPERKONDUKTOR GdBa2Cu3O7-x. Superkonduktor merupakan bahan yang mempunyai nilai resistansi nol pada suhu kritis dan dapat disintesis melalui berbagai metode. Bahan ini digunakan untuk berbagai device piranti elektronik. Pada penelitian ini GdBa2Cu3O7-x disintesis dari garam nitrat Gd, Ba dan Cu di dalamgaram cair urea. Campuran tersebut dipanaskan dan diaduk pada suhu 120 oC selama 16 jam, kemudian dipanaskan hingga kering.Hasil ini digerus dan disinter dengan suhu bervariasi 800 oC hingga -950 oC dan masing-masing divariasi selama 1 jamhingga 20 jam.Hasil dianalisis dengan SEM, EDS, difraktometer sinar-X dan uji efekMeissner.Analisis menunjukkan bahwa fasa GdBa2Cu3O7-x terbentuk semakin sempurna mulai sinter pada suhu 925 oC selama 20 jam. Kondisi optimum sinter 950 oC 5 jam
STUDI PENYERAPAN Cs-137 OLEH NANOKOMPOSIT OKSIDA BESI BENTONIT
STUDI PENYERAPAN Cs-137 OLEH NANOKOMPOSIT OKSIDA BESI BENTONIT. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sifat penyerapan berbagai variasi nanokomposit oksida besi dengan bentonit terhadap kontaminan radionuklida Cs-137 dalam larutan. Komposisi nanokomposit oksida besi bentonit divariasikan berdasarkan perbandingan berat (w/w): 1:0 ; 3:1 ; 2:1 ; 3:2 ; 1:1 ; 1:2 dan 0:1. Penyerapan dilakukan dengan sistem bath , dimana 50 mg dari masing-masing nanokomposit dimasukkan ke dalam 10 mL aquadest sehingga membentuk suspensi. Pada setiap komposisi suspensi ditambahkan larutan Cs-137 dengan variasi volum sehingga diperoleh larutan dengan aktifitas kontaminan masing-masing 160 Bq/mL, 140 Bq/mL, 120 Bq/mL, 100 Bq/mL, 80 Bq/mL dan 40 Bq/mL. Setelah dikocok selama 24 jam, partikel nanokomposit dipisahkan dari larutannya dengan lempengan magnet permanen. Cacah sinar- dari larutan sebelumdan sesudah penyerapan dihitung dengan LSC (Liquid Scintillation Counter). Hasil analisis dari data ini memberikan penyerapan terbaik (87,69 hingga 93,07) % dicapai oleh nanokomposit 3:1 dan diikuti oleh nanokomposit 1:0 (71,78 hingga 82,00) %. Sedangkan untuk nanokomposit yang lain 2:1 (37,99 hingga 47,90)%; 3:2 (36,40 hingga 38,96) %; 1:2 (19,93 hingga 22,91)%; 1:1 (19,61 hingga 20,83)%dan 0:1 (05,22 hingga 11,05) %. Dapat disimpulkan bahwa baik oksida besi maupun bentonit dapat menyerap Cs-137 sedang untuk nanokomposit oksida besi bentonit dapat meningkatkan kemampuan penyerapan tersebut yang terdapat dalam larutan kontaminan
ANALISIS KROMATOGRAFI PERMEASI GEL DARI KOPOLIMER CANGKOK RADIASI METILMETAKRILAT PADA KARET ALAM
ANALISIS KROMATOGRAFI PERMEASI GEL DARI KOPOLIMER CANGKOK RADIASI METILMETAKRILAT PADA KARET ALAM. Pencangkokan monomer metil metakrilat (MMA) pada karet alam dilakukan dengan cara iradiasi dengan menggunakan sinar-γ 60Co pada total dosis 5 KGy, dengan laju dosis l KGy/jam. Kromatotagrafi penneasi gel (GPC) digunakan untuk menganalisis proses pencangkokan monomer metil metakrilat ( MMA) pada karet alam. Kromatogram, data bobot molekul (BM) dan distribusi bobot molekul (DBM) GPC mengarah pada fakta bahwa reaksi homopolimerisasi MMA serta pencangkokan MMA pada karet alam merupakan reaksi yang dominan. Data tersebut juga menunjukkan bahwa adanya makroradikal karet alam dengan radikal pada ujung rantai berpengaruh pada homopolimer PMMA yang terjadi
SINTESIS NANOPARTIKEL MAGNETIT,MAGHEMIT DAN HEMATIT DARI BAHAN LOKAL
SINTESIS NANOPARTIKEL MAGNETIT,MAGHEMIT DAN HEMATIT DARI BAHAN LOKAL. Mineral oksida besi ditemukan pada beberapa bahan lokal, di antaranya mill scale sebagai produk sisa pembuatan baja serta bahan alam pasir besi. Kedua bahan tersebut keberadaannya sangat melimpah dan hingga kini belum termanfaatkan secara optimal. Dalam penelitian ini dikaji sintesis nano partikel bahan oksida besi berupa magnetit (Fe3O4), maghemit (γ-Fe2O3) dan hematit (α-Fe2O3). Proses sintesis dilakukan dengan metode presipitasi basa. Untuk pembuatan precursor digunakan asam klorida (HCl), sedangkan untuk presipitasi digunakan larutan amoniak (NH4OH). Serbuk endapan hasil presipitasi diidentifikasi dengan metode XRD dan ukurannya dikarakterisasimelalui pengukuran magnetik. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa endapan tersebut teridentifikasi sebagai magnetit dengan bulir-bulir magnetik berdomain tunggal (berukuran orde nano). Maghemit diperoleh melalui oksidasi serbuk endapan tersebut pada suhu 300 °C dan hematit diperoleh melalui oksidasi pada suhu 800 °C
ANALISIS STRUKTURMIKRO, POROSITAS DAN KEKERASAN DARI PADUAN AlSi HASIL COR PERAH
ANALISIS STRUKTURMIKRO, POROSITAS DAN KEKERASAN DARI PADUAN AlSi HASIL COR PERAH. Telah dilakukan penelitian dan analisis sifat fisis dan mekanik dari paduanAlSi yang dibuat dengan metoda cor perah. Kegagalan dari produk yang sekarang digunakan yang dibuat dengan cetakan pasir, adalah keausan (wear) yang terjadi di bagian lubang tempat penyangga poros baling-baling, di ujung dari flens. Untuk mendapatkan karakteristik yang sesuai dengan bentuk aslinya, maka dibuat spesimen yang bentuknya menyerupai ujung dari flens tersebut dengan cara cor perah. Spesimen dibuat dengan parameter sebagai berikut suhu die 450oC, 500oC, 550oC, dengan tekanan 70 MPa, 100 MPa dan 130 MPa untuk masing-masing suhu die. Karakterisasi yang dilakukan meliputi uji komposisi, uji keras , analisis strukturmikro dan densitas. Kekerasan sampel uji yang merupakan produk cetakan pasir (CP) = 76,51 Kg/mm2, dan kekerasan spesimen produk cor cara perah (SQ) = 88,270. Porositas CP = 6,53 %, porositas SQ = 0,79%. Dari hasil foto strukturmikro didapat bahwa sampel produk cor perah mempunyai denrit yang lebih halus. Kesimpulan dari penelitian ini adalah cara cor perah dapat menaikkan kekerasan, menurunkan porositas, dan memperbaiki strukturmikro
INFLUENCE OF PARTICLE SIZE ON REDUCTION KINETICS OF NATURAL LATERITIC IRON ORES
INFLUENCE OF PARTICLE SIZE ON REDUCTION KINETICS OFNATURAL LATERITIC IRON ORES. This work is to report a laboratory investigation on the influence of particle sizes on reduction behavior of natural lateritic iron ore with anthracite coal under isothermal condition. The main minerals content of investigated ore were goethite = 62.8%, hematite = 18.3% and magnetite (Fe3O) = 6.2% and other oxide minerals like alumina = 6.6%, silica = 4.5%, chromate = 3.3% and others. The ore and anthracite coal of -100, -200 and -500 μm size with mol ratio between iron oxide and carbon in the anthracite of 1 : 1.88 were mixed, pressed into a composite of 12 mm diameter and 20 mm long and heated isothermally at four different temperatures for various reduction times. The metallization is determined by the reduction temperature and time. Mostly, effective reduction temperatures were found to be 1100 o 4 C resulted in the highest value of metallization of almost 96 %. The particle size seems has no significant influence on the metallization value at this reduction temperature. However, particle sizes influenced significantly the metallization for reduction temperatures of less than 1100 C from which values of metallization increased with decreasing in particle sizes
PERUBAHAN SIFAT MAGNETIK BAHAN KOMPOSIT Fe-C OLEH RADIASI SINAR GAMMA
PERUBAHAN SIFAT MAGNETIK BAHAN KOMPOSIT Fe-C OLEH RADIASI SINAR GAMMA. Telah dilakukan penelitian terhadap perubahan sifat magnetik bahan komposit Fe-C oleh radiasi sinar gamma. Fe-C dibuat dari campuran serbuk Fe dan serbuk karbon, dengan rasio komposisi berat kandungan Fe dan karbon 50 % dan 50 %. Dalam penelitian ini, diamati perubahan sifat magnetik bahan komposit Fe-C setelah diiradiasi dengan sinar gamma pada dosis 250 kGy. Identifikasi struktur bahan komposit Fe-C yang telah diiradiasi dilakukan dengan metode XRD (X-Ray Diffractometer ) dan karakterisasi sifat magnetik dilakukan dengan menggunakan VSM (Vibrating Sample Magnetometer). Hasil identifikasi dengan metode XRD menunjukkan adanya penurunan intensitas difraksi setelah iradiasi sinar gamma. Hasil pengukuran kurva histeresis M-H dengan VSM, menunjukkan bahwa bahan komposit Fe-C setelah diiradiasi memiliki Hc (medan koersiv), Ms (magnetisasi saturasi) serta Mr (magnetisasi remanen) lebih rendah dibanding dengan kondisi sebelum diiradiasi dengan sinar gamma pada dosis 250 kGy. Penurunan ini terjadi karena adanya cacat struktur di dalam bahan komposit Fe-C akibat interaksi radiasi sinar gamma dengan bahan komposit Fe-C
PEMBUATAN MAGNET BARIUM HEKSAFERIT ANISOTROP
PEMBUATAN MAGNET BARIUM HEKSAFERIT ANISOTROP. Barium Heksaferit (BaFe12O19) merupakan bahan keramik dan material magnet yang biasanya digunakan untuk pembuatan magnet permanen. Pada penelitian dilakukan pembuatan magnet Barium Heksaferit yang Anisotrop, dan dapat diaplikasikan untuk loudspeaker, motor-motor listrik, dinamo dan KWH meter. Magnet ini sangat banyak digunakan karena mempunyai lnduksi Remanen (Br) dan koersifitas (Hc) yang tinggi. Selain itu teknologi proses yang digunakan lebih sederhana dan mudah, bahan baku murah dan mudah didapat, sehingga komponen magnet yang dihasilkan jauh lebih murah. Teknologi proses yang digunakan adalah Metalurgi Serbuk, yaitu mereaksikan semua bahan dalam bentuk serbuk (oksida) dengan distribusi ukuran tertentu, dan melalui tahapan preparasi yang cukup ketat. Tahap selanjutnya adalah pencampuran bahan baku berupa ferit dan barium karbonat dalam bentuk oksida, yang kemudian dikalsinasi, kompaksi sambil diarahkan (anisotrop), sintering dan karakterisaSi. Tujuan Anisotrop adalah untuk mensejajarkan arah partikel, sehingga magnet yang dihasilkan akan memiliki nilai lnduksi Remanen (Br) dan koersifitas (Hc) yang tinggi. Semua tahapan proses ini akan sangat menentukan karakteristik fisik maupun kimianya. Karakteristik magnet terbaik yang dihasilkan dari penelitian ini adalah : nilai lnduksi Remanen (Br) = 4,27 kG koersivitas (He) = 1,745 kOe dan BHmaks = 2,3l MGOe
ANALISIS KONDUKTIVITAS Ba0,95Sr0,05TiO3 DIDOP Y3+ PADA 300 oC - 650 oC: PERAN TEKANAN PARSIAL OKSIGEN.
ANALISIS KONDUKTIVITAS Ba0,95Sr0,05TiO3 DIDOP Y3+ PADA 300 oC - 650 oC: PERAN TEKANAN PARSIAL OKSIGEN. Bahan dielektrik Ba0,95Sr0,05TiO3 didoping dengan Y2O3 dengan kadar % mol : 0; 0,2; 0,4 dan 0,6 dianalisis konduktivitasnya untuk mengeksplorasi defect. Karakterisasi listrik dilakukan pada suhu 300 oC sampai dengan 650 oC dengan variasi tekanan parsial oksigen 0%, 20%, 40%, 60%, 80% dan 100%. Kajian difusi oksigen menunjukkan saturasi dicapai setelah 30 menit, terutama pada suhu diatas 400 oC. Disamping itu Cole-Cole plot menunjukkan adanya respon granular dan intergranular yang dipengaruhi oleh suhu. Diketahui bahwa bahan tanpa doping merupakan semikonduktor tipe p dan yang didoping 0,4 % merupakan semikonduktor tipe n. Pada suhu diatas 400 oC penambahan tekanan oksigen pada bahan tanpa doping menyebabkan kenaikan konduktivitas karena adanya hole dan untuk bahan yang diberi doping Y2O3 terjadi penurunan konduktivitas yang disebabkan adanya elektron bebas dalam sampel. Besarnya energi aktivasi kurang sensitif terhadap tekanan parsial oksigen tapi dipengaruhi oleh adanya doping dalam bahan