Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
    859 research outputs found

    SIMULASI ELIMINASI PENGOTOR PADAPROSES PELEBURAN BESI/BAJA DARI BAHAN BAKU SKRAP DAN PASIR BESI DENGAN METODA COMPOUND SEPARATION

    Get PDF
    SIMULASI ELIMINASI PENGOTOR PADAPROSES PELEBURAN BESI/BAJA DARI BAHAN BAKU SKRAP DAN PASIR BESI DENGAN METODA COMPOUND SEPARATION. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku besi/baja cor industri pengecoran di Indonesia, dikembangkan peleburan besi/baja dari skrap dan pasir besi lokal. Namun demikian di dalam skrap besi/baja terdapat pengotor seperti Ni, Cu, Pb, Sn, Al, Ti, dan V yang dalam jumlah relatif banyak dapat menimbulkan masalah pada produk akhir. Sementara itu. pasir besi lokal banyak mengandung unsur Ti dan V yang juga dapat menggumpal pada dasar tungku saat proses peleburan dengan menggunakan kupola. Untuk meningkatkan efisiensi eliminasi pengotor, seperti: Ti, V dan Al, dalam paper ini akan disimulasikan metode compound separation dengan mengikat/ mereaksikan unsur pengotor dengan unsur lain sehingga terjadi perbedaan berat jenis yang menyebabkan terjadinya pemisahan pengotor dari besi lebur. Simulasi dilakukan dengan perhitungan perubahan (delta) energi standar bebas Gibbs dari reaksi-reaksi antara unsur pengikat, besi, dan pengotor (Ti, V dan Al) dengan menggunakan software HSC Chemistry 5.0. Hasil perhitungan menunjukkan perbandingan kualitatif reaksi antara masing-masing paduan yang terbentuk. Dengan perhitungan berat jenis, fasa, dan kecepatan reaksi dari paduan yang terbentuk, dapat ditentukan unsur yang paling tepat untuk pembersihan (eliminasi) pengotor-pengotor tersebut. Hasil simulasi menunjukkan bahwa Ti, V dan Al dapat dieliminasi dengan bubbling dan penambahan CaF2. Simulasi ini diharapkan dapat diterapkan dalam teknologi compound separation sehingga dapat dipakai untuk mengontrol komposisi besi/baja sesuai dengan standar yang diinginkan dan dapat ditransfer teknologinya pada industri pengecoran di Indonesia

    MAGNETIK NANOKRISTALIN BARIUM HEKSAFERIT (BaO 6Fe2O3) HASIL PROSES HIGH ENERGY MILLING

    Get PDF
    MAGNETIK NANOKRISTALIN BARIUM HEKSAFERIT (BaO 6Fe2O3) HASIL PROSES HIGH ENERGY MILLING. Telah dilakukan penelitian mengenai sifat magnetik bahan serbuk barium heksaferit melalui proses milling yang disertai proses annealing dari suhu ruang hingga suhu 400 oC, 600 oC, 800 oC dan 1000 oC ditahan selama 3 jam. Hasil pengukuran pola difraksi sinar-X, sebelum dan setelah proses milling secara intensif hingga 30 jam, menunjukkan adanya deformasi struktur kristal yang ditandai dengan tinggi puncak difraksi yang semakin menurun dan semakin melebar serta sifat kemagnetan yang semakin menurun. Dari pengukuran sifat kemagnetan sebelum dan sesudah proses milling selama 30 jam, masing-masing nilai koersivitas intrinsiknya adalah 1,68 kOe dan 1,13 kOe, sedangkan nilai magnetisasi remanennya 42,5 emu/gram dan 8,16 emu/gram. Proses annealing pada suhu 1000 oC selama 3 jam terhadap cuplikan yang telah di milling, dapat memperbaiki sifat magnetik. Hal itu ditunjukkan naiknya nilai koersivitas intrinsik hingga mencapai 4,39 kOe, dan nilai magnetisasi remanen yang cenderung kembali seperti sebelum di milling sekitar 40,8 emu/gram

    PEMBUATAN KERAMIK FILM TEBAL Fe2O3-NiO DENGAN PEMANFAATAN Fe LOKAL UNTUK SENSOR GAS ASETON

    No full text
    PEMBUATAN KERAMIK FILM TEBAL Fe2O3-NiO DENGAN PEMANFAATAN Fe LOKAL UNTUK SENSOR GAS ASETON. Dalam rangka swasembada sensor gas khususnya gas aseton dengan pemanfaatan bahan lokal, telah dilakukan pembuatan keramik film tebal Fe2O3-NiO dengan memakai Fe2O3 lokal sebagai bahan dasar. Serbuk Fe2O3 diolah dari mineral dengan pelarutan dan pengendapan. Serbuk yang diperoleh dicampur dengan serbuk NiO dengan komposisi 50 %mol Fe2O3 dan 50 %mol NiO secara homogen. Serbuk campuran kemudian dicampur dengan Organic Vehicle (OV) terbuat dari campuran terpineol dan etil selulose dengan komposisi 75 %berat serbuk campuran dan 25 %berat OV dan diaduk membentuk pasta. Pasta dilapiskan di atas substrat alumina dengan metode screen printing lalu dibakar pada suhu 1000 3 C selama 90 menit hingga membentuk keramik film tebal. Film tebal dianalisis dengan X-Ray Diffraction (XRD). Filmtebal juga dianalisis dengan Scanning Electron Microscope (SEM). Resistansi listrik keramik filmtebal diukur pada berbagai suhu di udara dan di dalam gas aseton. Analisis XRD memperlihatkan bahwa keramik yang dibuat memiliki fasa NiFe2O4 . Data SEM memperlihatkan bahwa keramik ini memiliki ukuran butir yang kecil dan porositas yang tinggi. Data listrik memperlihatkan bahwa keramik ini sensitif terhadap gas aseton.PEMBUATAN KERAMIK FILM TEBAL Fe2O3-NiO DENGAN PEMANFAATAN Fe LOKAL UNTUK SENSOR GAS ASETON. Dalam rangka swasembada sensor gas khususnya gas aseton dengan pemanfaatan bahan lokal, telah dilakukan pembuatan keramik film tebal Fe2O3-NiO dengan memakai Fe2O3 lokal sebagai bahan dasar. Serbuk Fe2O3 diolah dari mineral dengan pelarutan dan pengendapan. Serbuk yang diperoleh dicampur dengan serbuk NiO dengan komposisi 50 %mol Fe2O3 dan 50 %mol NiO secara homogen. Serbuk campuran kemudian dicampur dengan Organic Vehicle (OV) terbuat dari campuran terpineol dan etil selulose dengan komposisi 75 %berat serbuk campuran dan 25 %berat OV dan diaduk membentuk pasta. Pasta dilapiskan di atas substrat alumina dengan metode screen printing lalu dibakar pada suhu 1000 3 C selama 90 menit hingga membentuk keramik film tebal. Filmtebal dianalisis dengan X-Ray Diffraction (XRD). Filmtebal juga dianalisis dengan Scanning Electron Microscope (SEM). Resistansi listrik keramik filmtebal diukur pada berbagai suhu di udara dan di dalam gas aseton. Analisis XRD memperlihatkan bahwa keramik yang dibuat memiliki fasa NiFe2O4 . Data SEM memperlihatkan bahwa keramik ini memiliki ukuran butir yang kecil dan porositas yang tinggi. Data listrik memperlihatkan bahwa keramik ini sensitif terhadap gas aseton

    SYNTHESIS AND CHARACTERIZATION OF Li4Ti5O12 WITH SOL GEL METHOD AS A LITHIUM ION-BATTERY ANODE MATERIAL

    Get PDF
    SYNTHESIS AND CHARACTERIZATION OF Li4Ti5O12 WITH SOL GEL METHOD AS A LITHIUM ION-BATTERY ANODE MATERIAL. Synthesis of anode Li4Ti5O12 material has been carried out using the sol gel method. The synthesis is carried out with variations in sintering temperatures at 500 oC, 600 oC, 700 oC dan 800 oC. Characterization carried out includes testing thermal analysis to determine the optimum temperature for sintering, XRD (X-ray Diffraction) to find out the phase formation of Li4Ti5O12, Scanning electron microscope (SEM) to analyse the morphology formed, testing Cyclic voltammetry, charge-discharge and Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS) is carried out to find out the elec- trochemical performance. From the results of characterization of thermal and XRD analyses, the optimum temperature for synthesis is 800oC with small impurity content. The results of SEM characterization show that the morphology of the sample is not homogeneous, and the particles are agglomerated. The resulting electrochemical performance increases along with the increase in temperature for sintering, including voltammogram graphs, diffusion coefficient values, electrical conductivity and charge-discharge capacity. Of all the samples, the LTO sintered at 800oC shows good electrochemical performance with a sharp and good voltammogram graph, diffusion coefficient value of lithium ion is 1.58 × 10-9 cm2s-1, electrical conductivity of 0.6282 S/cm and the discharge capacity given is 78,07 mAh/g

    IDENTIFIKASI SENYAWA MINERAL DAN EKSTRAKSI TITANIUM DIOKSIDA DARI PASIR MINERAL

    No full text
    IDENTIFIKASI SENYAWA MINERAL DAN EKSTRAKSI TITANIUM DIOKSIDA DARI PASIR MINERAL. Telah dilakukan investigasi terhadap pasir mineral atau pasir besi untuk menentukan kandungan mineral dan hasil ekstrasinya. ldentifikasi unsur di dalam pasir mineral menggunakan X-rayfluorescence, diperoleh bahwa unsur utama sebagai unsur majoritas adalah Fe dan Ti dengan fraksi berat masing-masing unsur sebesar 69,15% dan 13,58%, sedangkan sisanya terdiri dari unsur-unsur lain bersifat minor. Separasi magnetik terhadap pasir berhasil memisahkan antara bagian yang bersifat magnetik dan non-magnetik ditandai dengan meningkatnya fraksi berat unsur Fe menjadi 80,10% sedangkan Ti menjadi 11,06% di dalam pasir magnetik. Analisis difraksl sinar-x terhadap pasir magnetik memberikan informasi bahwa unsur-unsur major dalam pasir berupa senyawa magnetite, Fe3O4 dan ilmenit, FeTiO3 dengan fraksi berat untuk senyawa FeTiO3 dan Fe3O4 masing-masing adalah 15,67% dan 84,33%. Ekstraksi TiO2 dari pasir besi konsentrat telah berhasil dilakukan dengan cara pelarutan menggunakan H2SO4 dengan konsentrasi 7,5 M dan diperoleh hasil berupa endapan TiO2, dengan tingkat kemurnian mencapai ~85%. Proses ekstraksi TiO2 dengan cara ini menghasilkan tingkat efisiensi sebesar 35,75%

    KARAKTERISASI LAPISAN TIPIS SnO2- SPUTTERING DC SEBAGAI ELEMEN SENSOR GAS CO

    Get PDF
    KARAKTERISASI LAPISAN TIPIS SnO2- SPUTTERING DC SEBAGAI ELEMEN SENSOR GAS CO. Lapisan tipis SnO2 dapat berfungi sebagai sensor gas CO, namun masih kurang stabil terhadap waktu, serta selektivitas dan sensitivitas terhadap gas masih kurang. Untuk memperoleh hasil yang lebih baik dalam penelitian ini metode Sputtering DC digunakan dalam deposisi lapisan tipis SnO2 dengan memvariasi waktu deposisi sputtering, waktu pendinginan pasca sputtering dan suhu operasi sensor (dalam karakterisasi). Diperoleh hasil terbaik untuk sampel dengan waktu deposisi 2 jam dan waktu pendinginan 3 jam, pada suhu operasi 250 oC. Dari penelitian ini dihasilkan sensor dengan kestabilan terhadap waktu yang relatif konstan pada nilai 38,85±4 kΩ. Selektivitas terhadap gas CO juga lebih baik dan sensitivitas memiliki gradian 4,1863(%ΔR)/ppm gas C

    PENGARUH ATMOSFER DAN SUHU SINTERING TERHADAP KOMPOSISI PELET HIDROKSIAPATITYANG DIBUAT DARI SINTESAKIMIA DENGAN MEDIAAIR DAN SYNTETHIC BODY FLUID (SBF)

    Get PDF
    PENGARUH ATMOSFER DAN SUHU SINTERING TERHADAP KOMPOSISI PELET HIDROKSIAPATITYANG DIBUAT DARI SINTESAKIMIA DENGAN MEDIAAIR DAN SYNTETHIC BODY FLUID (SBF). Penggunaan hidroksiapatit(HAp) sebagai bahan implantasi tulang sintetis telah banyak digunakan. Salah satu penerapannya adalah sebagai bahan pelapis logam yang akan diimplantasikan ke dalam tubuh sebagai pengganti tulang. Masalah yang timbul pada saat pelapisan adalah pada suhu yang tinggi, HAp dapat terdekomposisi menjadi β-TCP, α-TCP, CaO ataupun senyawa lain yang tidak diinginkan. Pada penelitian ini digunakan variasi jenis pelarut pada saat pembuatan HAp yakni pelarut air dan pelarut SBF (Syntethic Body Fluid). Pelarut SBF menyumbangkan gugus karbonat dan ion-ion lain pada HAp yang menyebabkannya stabil. Sintering dilakukan untuk mendapatkan HAp dengan densitas tinggi yang stabil. Variasi suhu sintering yang digunakan adalah 900 oC, 1000 oC, 1100 oC dan 1150 oC. Variasi atmosfer yang digunakan adalah gas Ar dan gas CO2. Dari hasil karakterisasi dengan XRD (X-Ray Diffraction) diperoleh hasil bahwa secara umum HAp yang disinter dengan gas Ar maupun CO2 tidak mengalami dekomposisi sampai suhu 1150 oC. Pengamatan terhadap foto SEM (Scanning Electron Microscope) HAp menunjukkan perbedaan bentuk morfologi HAp dengan pelarut air memiliki bentuk butir yang bulat dan berdempetan satu sama lain sedangkan morfologi HAp dengan pelarut SBF menunjukkan bentuk seperti jaring yang lebar. Pengukuran volume dan massa tiap sampel menunjukkan perubahan densitas, yakni semakin tinggi suhu sinter maka densitas pelet HAp semakin besar

    SIFAT MAGNETISASI DISEKITAR TITIK KOMPENSASI DARI SISTEM LAPISAN TIPIS GdFeCo/GdFe

    No full text
    SIFAT MAGNETISASI DISEKITAR TITIK KOMPENSASI DARI SISTEM LAPISAN TIPIS GdFeCo/GdFe. Telah dilakukan penelitian sifat magnetisasi dari sistem lapisan tipis GdFeCo/GdFe yang merupakan gabungan logam tanah jarang dan logam peralihan. Lapisan tipis magnetik tersebut dihasilkan dengan metode Sputtering pada frekuensi radio 13,56 MHz, sebagai Sputtergas adalah gas mulia Argon. Sifat-sifat magnetik diteliti dengan pengukuran pemutaran bidang polarisasi menggunakan Kerr-Magnetometer, pengukuran magnetisasi dengan Vibrating Sample Magnetometer. Untuk meneliti sifat anisotropi dipergunakan Torque magnetometer. Hasil penelitian menunjukkan terbentuknya dinding yang muncul diantara 2 lapisan tunggalnya. Tenaga yang terkandung di dalam sekat tersebut tergantung dari temperatur serta terkolerasi langsung dengan anisotropi magnetik. Pada temperatur kompensasi, tenaga dinding tidak teramati, diskontinuitas, dan kemudian muncul lagi sebelum dicapai suhu Curie. Switching field HS yang merupakan gaya koersitiv dari lapisan ganda tergeser dari gaya koersitiv Hc sesuai dengan besamya tenaga. Sputtergas berpengaruh langsung terhadap sifat magnetik tersebut, terutama besamya tekanan yang sangat menentukan terjadinya pembalikan arah EA dari lapisan tipis pada suhu tertentu. Bahkan pada tekanan tertentu terjadi perubahan arah easy-axis, dari in—plane ke perpendicular, melalui efek stress/strain. Pemutaran bidang polarisasi menghasilkan efek Kerr yang cukup besar, mencapai 40 menit, yang kemungkinan disebabkan oleh enhance dari lapisan SiNx melalui efek antireflection

    PENGARUH TEBAL LAPISAN SEALANTS TERHADAP LAJU KOROSI ATMOSFERIK LINGKUNGAN ASAM SULFAT PADA PELAT LOGAM BADAN MOBIL

    Get PDF
    PENGARUH TEBAL LAPISAN SEALANTS TERHADAP LAJU KOROSI ATMOSFERIK LINGKUNGAN ASAM SULFAT PADA PELAT LOGAM BADAN MOBIL. Hujan asam merupakan salah satu penyebab korosi yang sangat besar pengaruhnya di kota-kota besar bagi pelat logam badan mobil. Selain itu kandungan garam diatmosfer juga turut mempengaruhi laju korosi disuatu tempat. Pelapisan sealants pada logam merupakan cara termudah dan termurah untuk dapat menurunkan laju korosi yang terjadi pada logam badan mobil. Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh tebal lapisan sealants terhadap laju korosi atmosferik lingkungan asam sulfat pada pelat logam badan mobil. Untuk mempercepat proses pengkorosian dalam penelitian ini digunakan instrumen berupa fog chamber dengan medium pengkorosi asam sulfat. Dari penelitian ini didapatkan bahwa tebal lapisan sealants 7 mils dapat menghambat laju korosi yang terjadi dengan kecepatan terkecil sebesar 1,4878 mm/y pada medium pH 3,00 dan laju korosi mencapai puncaknya pada waktu ekpos 20 jam sampai dengan 45 jam pertama. Semakin tebal lapisan sealants yang digunakan, semakin kecil laju korosi pada pelat logam badan mobil sesuai dengan persamaan secara umum w = 9.8189(s)-1.0898 untuk medium korosi pH 2,75, w = 21.77(s)-2.2964 untuk medium korosi pH 3,00, dan w = 29.159(s)-3.6574 untuk medium korosi pH 3,25. Dan laju korosi dilingkungan asam mempunyai kecenderungan 30 kali lebih cepat dari laju korosi dilingkungan garam

    UTILIZATION OF INDONESIAN LOCAL STANNIC CHLORIDE (SnCl4) PRECURSOR IN THE PROCESS OF MAKING FLUORINE- DOPED TIN OXIDE (FTO) CONDUCTIVE GLASS

    Get PDF
    UTILIZATION OF INDONESIAN LOCAL STANNIC CHLORIDE (SnCl4) PRECURSOR IN THE PROCESS OF MAKING FLUORINE-DOPED TIN OXIDE (FTO) CONDUCTIVE GLASS. Thin layer of fluorine- doped tin oxide (FTO) conductive glass has been deposited on a glass substrate heated at a temperature of 350°C using the ultrasonic spray pyrolysis nebulizer method with variations in fluorine doping and substrate temperatures. This experiment uses the raw material of Indonesian local stannic chloride (SnCl4) (PT Timah Industri) as a precursor with a temperature variation of 250, 300, 350, 400°C. The structure and morphology of the optical and electrical properties of all the thin layers have been examined. XRD results show that all thin layers have a tetragonal crystal structure. In this experiment, there is a significant influence on the role of fluorine doping on resistivity and transmittance values. With the addition of 2% wt doping, the resistivity and transmittance values decrease. The optimum value is obtained by doping 2 wt%, substrate temperature of 350°C with a resistivity value of 9.28.10-5 Ω.cm and transmittance value of 88%

    726

    full texts

    859

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇