Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
SINTESIS NANO PARTIKEL OKSIDA BESI DENGAN METODE EMULSI MENGGUNAKAN SURFAKTAN CETYL TRIMETHYL AMMONIUM BROMIDE (CTAB)
SINTESIS NANO PARTIKEL OKSIDA BESI DENGAN METODE EMULSI MENGGUNAKAN SURFAKTAN CETYL TRIMETHYL AMMONIUM BROMIDE (CTAB). Telah dilakukan penelitian sintesis nano partikel oksida besi dengan metode emulsi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan menguasai metode pembuatan nano partikel khususnya dengan metode emulsi dan pengaruh CTAB dalam pembentukan nano partikel. Pembuatan dilakukan menggunakan bahan dasar campuran garam FeCl3× 6H20 + FeCl2× 4H20 dan pereaksi larutan basa campuran NaOH + NH4OH, sebagai surfaktan CTAB (Cetyl Trimethyl Ammonium Bromide) dan co-surfactan n-butanol. Penambahan jumlah surfaktan CTAB divariasikan dari 10 mg sampai dengan 30 mg CTAB per 100 mL fasa air, dan dilihat pengaruhnya terhadap sifat partikel maupun ukurannya. Partikel hasil percobaan dikarakterisasi dengan menggunakan alat XRD (X-Ray Powder Diffraction) untuk mengetahui kinetika pembentukan fasa dan ukuran kristal yang terbentuk, SEM (Scanning Electron Microscope) untuk mengetahui penyebaran partikel dan Spektrometer FT-IR (Fourier Transform Infra Red) untuk mengetahui ikatan kimia yang terjadi. Dari hasil karakterisasi diketahui partikel nano Fe3O4 dengan ukuran kristal sekitar 5 nm dengan sifat cenderung tidak menggumpal dan mudah terdipersi. Dari percobaan ini dapat diperlihatkan fungsi surfaktan selain sebagai penstabil emulsi pada pembentukan nano partikel juga dapat memodifikasi permukaan partikel sehingga partikel yang terbentuk tidak menggumpal
LUMINESCENCE NANOPARTIKELEMISI CAHAYATAMPAK SEBAGAI TINTAPENGAMAN
LUMINESCENCE NANOPARTIKELEMISI CAHAYATAMPAK SEBAGAI TINTAPENGAMAN. Nanopartikel ZnO disintesis dengan metode sol-gel dengan menggunakan LiOH sebagai agen hidrolisisnya. Hasil sintesis dikarakterisasi dengan difraksi sinar X (XRD) untuk mengkaji kristalinitas dan UV Vis untuk menentukan lebar celah pita energi. Koloid nanopartikel yang dihasilkan memiliki ukuran sekitar 3 nm yang menghasilkan celah pita energi sekitar 3,53 eV. Kristalinitas nanopartikel dipengaruhi oleh konsentrasi LiOH yang digunakan. ZnO berukuran 3 nm dapat menghasilkan luminescence cahaya biru jika disinari ultraviolet. Pembesaran ukuran partikel menyebabkan pergeseran luminescence ke arah merah. Luminescence cahaya tampak pada koloid dimanfaatkan sebagai tinta pengaman. Pada penelitian ini juga dilaporkan uji tinta menggunakan nanopartikel dengan memvariasikan sejumlah parameter seperti jenis kertas, warna kertas dan komposisi tinta
ANALISIS STRUKTUR KRISTAL PADA PADUAN La0,1Ca0,9Mn1-xCuxO3
ANALISIS STRUKTUR KRISTAL PADA PADUAN La0,1Ca0,9Mn1-xCuxO3. Telah dilakukan sintesis dan karakterisasi paduan La0,1Ca0,9Mn1-xCuxO3 (0 ≤ x ≤ 0,20). Sintesis bahan menggunakan metode reaksi padatan (solid state method) dari oksida-oksida penyusun La2O3, CaCO3, MnO2, dan CuO. Campuran ini dimilling selama 10 jam dan dilakukan proses pemanasan pada suhu 1350 oC selama 6 jam. Bahan ini kemudian dimilling kembali selama 10 jam dan dilakukan proses pemanasan ulang pada suhu 1100 oC selama 24 jam. Hasil pengukuran dengan difraksi sinar-X (XRD) menunjukkan bahwa sintesis bahan La0,1Ca0,9Mn1-xCuxO3 memiliki fasa tunggal (single phase) dengan struktur kristal orthorombik, space group Pnma (I-62) dan parameter kisi berturut-turut untuk komposisi x = 0; 0,1; 0,15; dan 0,2 sebagai berikut : a = 5,298(1) Å, b = 7,496(2) Å dan c = 5,316(1) Å, a = 5,309(1) Å, b = 7,505(1) Å dan c = 5,306(2) Å, a = 5,327(8) Å, b = 7,534(8) Å, dan c = 5,326(4) Å, a = 5,334(1) Å, b = 7,535(1) Å dan c = 5,343(2) Å. Penambahan dopan Cu ke dalam atom Mn memberikan dampak peningkatan panjang ikatan antar atom Mn-Mn dan Mn-O
FENOMENA SERANGAN KOROSI GALVANIK PENYEBAB PATAH NOSE LANDING GEAR PESAWAT TERBANG
FENOMENA SERANGAN KOROSI GALVANIK PENYEBAB PATAH NOSE LANDING GEAR PESAWAT TERBANG. Saat pesawat terbang lepas landas dan mendaratkan, variasi jenis beban dan/atau tegangan yang akan bekerja pada area kritis seperti tumpuan perangkat pendarat, sayap dan mesin. Ketika tumpuan perangkat pendarat mengalami kegagalan, maka potensi kerugian sistim ekonomi akan sangat tinggi. Oleh karena itu, pengkajian terhadap penyebab utama patahan sangat penting dilakukan untuk menghindari patahan yang serupa di masa datang. Tulisan ini membahas tentang fenomena patahan pada tumpuan perangkat pendarat setelah siklus penerbangan 2567. Pembahasan berdasarkan pada hasil pemeriksaan komposisi kimia, visual dan makrografi, metalografi dan fraktografi dengan SEM. Semua bukti menunjukkan bahwa karakteristik patahan tumpuan perangkat pendarat disebabkan oleh beban yang dipromosikan oleh adanya korosi pada tabung-bantalan yang bertindak sebagai konsentrasi tegangan. Korosi terbentuk karena kehadiran uap air atau air yang terperangkap di antara material tabung-bantalan dan tumpuan perangkat pendarat roda pesawat. Kenyataannya, perbedaan material antara tabung-bantalan dan tumpuan perangkat pendarat roda pesawat sangat menunjang untuk terjadinya serangan korosi galvanik karena perbedaan potensial korosi antara aluminum dan tembaga
INVESTIGASI ANALITIS DAN EKSPERIMENTAL KEKUATAN PROFIL BAJA RINGAN TERHADAP INTERAKSI LOCAL DAN GLOBAL BUCKLING
INVESTIGASI ANALITIS DAN EKSPERIMENTAL KEKUATAN PROFIL BAJA RINGAN TERHADAP INTERAKSI LOCAL DAN GLOBAL BUCKLING. Makalah ini membahas metode pendekatan analitis dan eksperimental untuk mengevaluasi kekuatan profil baja ringan yang banyak dijumpai sebagai bahan konstruksi kolom terhadap pengaruh interaksi local dan global buckling. Pendekatan analitis dilaksanakan dengan mempertimbangkan pengaruh local buckling terhadap keefektifan penampang profil dalam mendukung beban kerja, dimana dimensi efektif penampang profil selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk estimasi besarnya tegangan kritis sampai profil mengalami global buckling. Ketelitian metode pendekatan analitis juga diverifikasi dengan membandingkan hasilnya terhadap tegangan kritis buckling aktual yang diukur melalui pengujian tekan aksial sejumlah profil baja ringan berpenampang persegi empat sampai mengalami column buckling. Verifikasi metode analitis yang digunakan menunjukkan bahwa sebagian besar data analitis cenderung konservatif terhadap data eksperimental pada kisaran 8,5%. Hal ini terlihat jelas dari hasil evaluasi statistik populasi deviasi data analitis, dimana data statistik menunjukkan bahwa nilai rata-rata deviasi data analitis adalah 1.085 dengan standar deviasi sebesar 0,047
ANALISIS CUPLIKAN LINGKUNGAN DAN BAHAN GEOLOGI DENGAN INDUCTIVELY COUPLED PLASMA-MASS SPECTROMETRY.
ANALISIS CUPLIKAN LINGKUNGAN DAN BAHAN GEOLOGI DENGAN INDUCTIVELY COUPLED PLASMA-MASS SPECTROMETRY. Inductively coupled plasma-mass spectrometry (ICP-MS) adalah teknik analisis multi unsur untuk menentukan unsur dan isotop yang terkandung di dalam berbagai jenis sampel. Lebih dari 90% unsur-unsur yang tercantum dalam tabel periodik dapat ditentukan dengan menggunakan ICP-MS, termasuk logam alkali, logam transisi, dan unsur tanah jarang. Informasi tentang kelimpahan isotop dan perbandingan isotop dapat diperoleh dengan teknik ini. Sejak 1990, di Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tenaga Nuklir, BATAN Serpong telah diinstal seperangkat sistem ICP-MS SCIEX ELAN Model 250. Alat ini telah digunakan untuk: Penentuan unsur kelumit dari cuplikan lingkungan, penentuan unsur-unsur yang terkandung dalam partikulat udara, penentuan unsur-unsur tanah jarang dalam cuplikan geologi, serta penentuan nisbah isotop (isotope ratio) Pb dan Sr dalam bahan acuan standar (SRM = standard reference materials) dan yang terkandung dalam bahan geologi. Semua cuplikan dilarutkan dengan campuran asam (HNO3, HClO4 dan HF) menggunakan microwave dan larutan akhir dalam media HNO3 1%. Larutan cuplikan dimasukkan ke dalam plasma, pengumpulan data dari masing-masing cuplikan dalam kurun waktu hampir seperempat jam. Simpangan baku relatif (RSD = relative standard deviation) pengukuran ICP-MS terhadap cuplikan lingkungan adalah dalam kisaran 0,7 % sampai dengan 4,1 %. Hasil penentuan konsentrasi unsur tanah jarang dalam bahan standar geologi (Canadian Certified Reference Standard Rock) adalah dalam kisaran konsentrasi harga sertifikat. Simpangan baku relatif penentuan nisbah isotop Pb dan Sr dalam dalam bahan geologi berkisar antara 0,3 % sampai dengan 4,4 %. Pada umumnya, simpangan baku relatif penentuan nisbah isotop adalah kurang dari 5 %
STRUKTUR DAN SIFAT TUNNELINGMAGNETORESISTANCE SISTEM NANO KOMPOSIT Co-Al2O3 HASIL PROSES HEM
STRUKTUR DAN SIFAT TUNNELINGMAGNETORESISTANCE SISTEM NANO KOMPOSIT Co-Al2O3 HASIL PROSES HEM. Telah dilakukan penelitian pada sistem komposit Co-Al2O3 yang disiapkan dengan High Energy Milling (HEM) SPEX 8000 selama 1,5 jam, 4,5 jam, 1,5 jam, 4,5 jam, 12 jam dan 20 jam. Dihipotesakan bahwa sifat magnetoresistance dari bahan tergantung pada fraksi fasa Co-HCPdan fasa Co-FCC dari material tersebut. Pengamatan dengan difraksi sinar-X diketahui terjadi perubahan keberadaan fasa Co-HCP menjadi Co-FCC akibat akumulasi stacking fault selama proses milling. Dari pengukuran VSM harga saturasi magnetik bahan menunjukkan penurunan dari 116 emu/gram menjadi 107, 46,2 dan 36,1 emu/gram. Hal ini menunjukkan bahwa proses milling membuat keberadaan fasa Co-HCP menurun dan fasa Co-FCC meningkat masing-masing untuk cuplikan pasca milling 1,5jam, 4,5jam, 12 jam dan 20 jam. Sifat Magnetoresistance diamati dengan menggunakan peralatan four point probe, diketahui terjadi peningkatan harga nisbah Magnetoresistance (MR) dari 0,5% , 4% , 5% dan 9% masing-masing untuk cuplikan pelet Co-Al2O3 pasca milling 1,5jam, 4,5jam, 12jam dan 20jam. Hasil-hasil di atas terlihat konsisten dengan hasil penelitian pada sistem Co-Al2O3 film tipis. Dari hasil SEM/EDX untuk komposit Co-Al2O3 diketahui masing-masing perbandingan Wt% dari cobalt dan Al2O3 adalah 23,06 : 78,18 pasca milling 12 jam serta 22,27 : 77,73 untuk pasca milling 20 jam
PREPARASI NANOPARTIKEL Fe3O4 DARI PASIR BESI DAN PELAPISANNYA PADA LOGAM NON MAGNETIK
PREPARASI NANOPARTIKEL Fe3O4 DARI PASIR BESI DAN PELAPISANNYA PADA LOGAM NON MAGNETIK. Telah berhasil disintesis partikel Fe3O4 dengan metode ko-presipitasi dengan dan tanpa penggunakan poli-etilen-glikon (PEG)-400 sebagai template dalam pelarut HCl dan pengendap NH4OH. Hasil sintesis tanpa templatemenunjukkan ukuran kristal dari partikel Fe3O4 10 nm. Proses pelapisan partikel dilakukan dengan cara spin-coating pada permukaan aluminium setelah sebelumnya partikel dilarutkan di dalam surfaktan tetra-metil-amonium-hidroksida (TMAH). Dipelajari hasil pelapisan dengan menggunakan foto SEM dan AFM/MFM, yang mencakup aspek-aspek homogenitas penyebaran partikel dan morfologinya serta faktor korosi oleh surfaktan TMAH
PELAPISAN PERMUKAAN KERAMIK DENGAN POLIMER EPOKSI AKRILAT MENGGUNAKAN IRADIASI UV
PELAPISAN PERMUKAAN KERAMIK DENGAN POLIMER EPOKSI AKRILAT MENGGUNAKAN IRADIASI UV. Penelitian pelapisan permukaan polimer epoksi akrilat pada keramik telah dilakukan dengan pengeringan menggunakan radiasi ultra-violet (UV). Bahan pelapis radiasi adalah resin epoksi akrilat dengan nama komersial Laromer EA 81 (oligomer epoksi akrilat dalam 20 %berat monomer heksandiol diakrilat) setelah dicampur dengan monomer tripropilen glikol diakrilat (TPGDA) dan fotoinisiator 2,2 dimetil-2-hidroksil asetofenon (Darocur 1173). Konsentrasi TPGDA dalam campuran divariasi menjadi 0 %berat; 5 %berat; 10 %berat; 15 %berat dan 20 %berat, sedangkan konsentrasi fotoinisiator 1 %berat campuran resin epoksi akrilat dan TPGDA. Iradiasi dilakukan menggunakan sumber radiasi UV dengan intensitas 80 watt/cm pada kecepatan konveyor 2 m/menit; 4 m/menit dan 5 m/menit. Parameter yang diamati meliputi kekerasan, adesi, ketahanan kikis, dan ketahanan terhadap bahan kimia, pelarut dan noda. Hasil pengukuran sifat-sifat lapisan menunjukkan bahwa lapisan hasil iradiasi mempunyai kekerasan pensil yang sama yaitu, 2H, kekerasan pendulum 193 detik hingga 206 detik, dan ketahanan kikis 10,5 % hingga 26,3 %. Pada umumnya pengukuran adesi menggunakan uji tarikmemberikan informasi bahwa adesi antara lapisan dan permukaan keramik lebih kuat dibanding kohesi bahan keramik sendiri, dan nilai tegangan tarik adalah 6,8 kg/cm2 sampai dengan 35,1 kg/cm2. Semua lapisan mempunyai ketahanan yang baik terhadap bahan kimia, pelarut dan noda kecuali terhadap natrium karbonat 1 %
PENGEMBANGAN KUNINGAN TAHAN DEZINSIFIKASI/ KOROSI DARI SKRAPLOKAL
PENGEMBANGAN KUNINGAN TAHAN DEZINSIFIKASI/ KOROSI DARI SKRAPLOKAL. Kuningan memiliki sifat mampu bentuk yang baik dan harganya relatif murah, sehingga banyak digunakan untuk peralatan pensuplai air. Namun demikian, karena penggunaan air panas, dan meningkatnya penggunaan ion khlor dalam air untuk membunuh kuman, menyebabkan permasalahan serius pada dezinsifikasi (korosi hanya unsur Zn) yang dapat menyebabkan kecelakaan fatal. Untuk meningkatkan daya tahan dezinsifikasi pada peralatan pensuplai air yang terbuat dari skrap kuningan lokal, dilakukan rekayasa dengan penambahan unsur Sn pada kuningan. Skrap kuningan dicairkan dengan menggunakan tungku arang. Kemudian ditambahkan Sn dalam variasi kadar yang berbeda ke dalam kuningan cair sebelum dituangkan ke dalam cetakan yang terbuat dari baja. Sampel dikarakterisasi dengan mikroskop optik, EPMA (Electron Probe Micro Analysis) dan tes dezinsifikasi dengan menggunakan standar Australia No. AS 2345-1980. Dezinsifikasi/korosi dapat diturunkan secara signifikan dengan penambahan Sn sampai pada konsentrasi 0,1% massa. Sementara itu, penambahan berikutnya akan meningkatkan kembali dezinsifikasi/korosi