Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
    859 research outputs found

    MAGNETIC PHASE TRANSITIONS OF T-PHASE Gd2CuO4 SINGLE CRYSTAL

    No full text
    MAGNETIC PHASE TRANSITIONS OF T-PHASE Gd2CuO4 SINGLE CRYSTAL. The magnetic properties of T‘-phase Gd2CuO4 Single crystal grown by the Traveling Solvent Floating Zone (TSFZ) method have been investigated by means of ac-magnetic susceptibility and dc-magnetization measurements. The result of these studies revealed an anomaly in the temperature dependent magnetization at temperature of T = 6.5, 290 and 20 K, associated respectively with the long-range antiferromagnetic ordering of the Gd and Cu ions and Cu- spin reorientation transitions. The complex magnetic structure of this compound shown by the weak ferromagnetic behavior below the copper ordering temperature (TN(Cu) = 290 K) is induced by an effective field due to exchange interactions between the ordered copper moments and the rare-earth ions. These results, together with the previous neutron diffraction measurement, establishes the existence of ferromagnetic Gd layers in the ab-plane which are stacked antiferromagnetically along c-direction, indicating a quasi—two dimensional antiferromagnetic nature of Gd2CuO4

    CURRENT STATUS OF NANO CHARACTERIZATION PRODUCT PT. JJ EXECUTIVE INTERNATIONAL

    Get PDF
    CURRENT STATUS OF NANO CHARACTERIZATION PRODUCT PT. JJ EXECUTIVE INTERNATIONAL. Material analysis Instrumentation and characterization equipment are rapidly develop in this recent decade. Many new techniques and new instrumentation are introduced for researcher to overcome the limitation and conventional technique as in last decad

    STUDI TEORITIK EFEK INTERAKSI ANTAR BUTIR UKURAN BERVARIASI TERHADAP SIFAT KEMAGNETAN MAGNET PERMANEN.

    No full text
    STUDI TEORITIK EFEK INTERAKSI ANTAR BUTIR UKURAN BERVARIASI TERHADAP SIFAT KEMAGNETAN MAGNET PERMANEN. Teori Stoner-Wohlfarth, SW menunjukkan deviasi yang sekitar 30-40% dibandingkan dengan hasil pengukuran bahan magnet permanen dengan butir berukuran nanometer. Hal ini disebabkan Akarena teori ini mengabaikan faktor interaksi antar butir. Dalam penelitian ini dilakukan modifikasi teori SW dengan memperhitungkan efek interaksi antar butir. Modifikasi dilakukan dengan mengasumsikan bahwa energi interaksi yang dimiliki sebuah butir berdomain tunggal berbentuk ellipsoidal terfokus di tepi butir. Sedangkan butir SW dalam model perhitungan ini hanyalah sebuah balok didalam butir dengan semua titik sudut balok berada di kulit butir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efek interaksi menyebabkan polarisasi remanen meningkat drastis diiringi dengan penurunan medan koersifmulai saat butir berukuran kurang dari 0,2 kali ukuran awal butir sudah berdomain tunggal. Untuk material dengan fasa Nd2Fe14B nilai optimal medan koersif dan polarisasi remanen yang memberikan produk energi maksimum,(BH)max tertinggi terjadi pada material dengan ukuran butir sekitar 5nm. Secara kualitatif terdapat kesesuaian antar hasil perhitungan dan pengukuran

    TEXTURE MEASUREMENT BY NEUTRON DIFFRACTION FOR A1 NON STANDARD STEEL BARS

    Get PDF
    TEXTURE MEASUREMENT BY NEUTRON DIFFRACTION FOR A1 NON STANDARD STEEL BARS. Texture measurements are used to determine the orientation distribution of crystalline grains in a polycrystalline sample. A material is termed textured if the grains are aligned in a preferred orientation along certain lattice planes. The texture is usually introduced in the fabrication process (e.g. rolling of thin sheet metal, deposition, etc.) and affects the material properties by introducing structural anisotropy. The pole figure is the starting point of neutron texture analysis. Texture properties in an non-standard austenite Fe-Ni low carbon alloy were measured by the neutron diffraction method with the PD/Residual Stress Diffractometer DN3 apparatus in BATAN. In this paper, effects of hot rolling on the texture are studied using ODF plots generated by MAUD application code developed by Lutteroti. It was found that The ODF plots for the A1 as cast and 1200 °C hot rolled specimens show typical patterns for recrystallized and rolled cubic structure. The pole figures for this plate are consistent with Face Centered Cubic (FCC) rolling textures

    PERHITUNGAN REFLEKTANSI DAN TRANSMITANSI GELOMBANG ELEKTROMAGNET HARMONIK KEDUA TERPOLARISASI-S PADA BAHAN ANTIFEROMAGNET FeF2 DALAM KONFIGURASI FARADAY

    No full text
    PERHITUNGAN REFLEKTANSI DAN TRANSMITANSI GELOMBANG ELEKTROMAGNET HARMONIK KEDUA TERPOLARISASI-S PADA BAHAN ANTIFEROMAGNET FeF2 DALAM KONFIGURASI FARADAY. Telah dilakukan perhitungan reflektansi dan transmitansi gelombang elektromagnet harmonik kedua terpolarisasi-s pada bahan antiferomagnet FeF2 dalam konfigurasi Faraday. Gelombang elektromagnet harmonik kedua (SHEM) yang terpantul dan terbias ini sangat dipengaruhi oleh gelombang elektromagnet harmonik pertama yang terpantul dan terbias yang dibangkitkan oleh gelombang datang. Prosentase dari pemantulan dan pembiasan gelombang SHEM ini lebih kecil daripada gelombang harmonik pertama. Dari perhitungan ini didapatkan informasi bahwa perbandingan antara R(2)/T1(2) dan T2(2)/T1(2) dengan R(2),T1(2) dan T2(2) berturut-turut adalah reflektansi gelombang SHEM, transmitansi gelombang SHEM yang terbias pertama dan transmitansi gelombang SHEM yang terbias kedua, memiliki sifat resiprokal terhadap perubahan tanda φ(sudut tiba gelombang datang terhadap garis normal) dan Hφ (medan magnet konstan terpasang dari luar)

    PENGARUH SINTERING TERHADAP SIFAT MAGNETIK BAHAN KOMPOSIT Co-AlxOy

    Get PDF
    PENGARUH SINTERING TERHADAP SIFAT MAGNETIK BAHAN KOMPOSIT Co-AlxOy. Penelitian dilakukan dengan menghaluskan campuran serbuk kobal (Co) dan aluminium (Al)menggunakan High Energy Milling (HEM) dengan perbandingan Co73Al27 wt%, kemudian dipres dan dilanjutkan dengan proses sintering.Waktu milling divariasikan antara 4,5 jam, 12 jam dan 20 jam sedangkan proses sintering pada suhu 384 ºC dan 484 ºC. Setelah proses sinter ditemukan beberapa puncak-puncak baru yang diidentifikasi sebagai Co-Al2O4. Hasil pengukuran VSM menunjukkan proses milling dan sinter mengakibatkan nilai saturasi Ms menurun pada semua sampel. Sedang nilai koersivitas Hc untuk sampel hasil milling nilai tertinggi 367 Oe dicapai pada sampel 4,5 jammilling, sedang untuk 12 jam dan 20 jam adalah 275 Oe dan 317 Oe. Untuk sampel yang disinter nilai koersivitas cenderung naik yaitu pada sampel 12 jam milling dan sinter 384 ºC dan 484 ºC adalah 275 Oe, 285 Oe dan 305 Oe, dan untuk 20 jam milling 317 Oe, 345 Oe dan 345 Oe

    KARAKTERISASI LARUTAN ELEKTRODEPOSISI NiMo DENGAN METODA ELEKTROKIMIA

    Get PDF
    KARAKTERISASI LARUTAN ELEKTRODEPOSISI NiMo DENGAN METODA ELEKTROKIMIA. Larutan yang mengandung nikel sulfat dan natrium molybdate dibedakan menjadi tiga. Ketiga larutan tersebut adalah larutan elektrodeposisi, larutan elektrodeposisi tanpa ion molybdate dan larutan elektrodeposisi tanpa ion nikel – untuk mendapatkan elektrodeposit nikel molybdenum, nikel dan hidrogen. Peralatan yang digunakan adalah electrochemical interface (ECI) yang dihubungkan dengan personal komputer. Pengamatan dilakukan pada ketiga larutan diatas pada temperatur 30 oC, 50 oC dan 70 oC. Keasaman larutan divariasi mulai dari 8 sampai dengan 10 dengan cara menambahkan amonium hidroksida. Hasil pengamatan yang diperoleh menunjukkan bahwa molybdenum dapat dielektrodeposisi dengan adanya ion nikel didalam larutan dan elektrodeposisi nikel molybdenum lebih mudah terjadi dibandingkan dengan elektrodeposisi nikel pada temperatur 50 oC dan pH = 10

    SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS BESI (II) DENGAN LIGAN 3,6-DI-2-PIRIDIL-1,2,4,5-TETRAZIN (DPTZ)

    Get PDF
    SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS BESI (II) DENGAN LIGAN 3,6-DI-2-PIRIDIL-1,2,4,5-TETRAZIN (DPTZ). Senyawa kompleks dari garam Besi(II) dengan ligan 3,6-di-2-piridil-1,2,4,5-tetrazin (DPTz) telah disintesis. Rumus molekul senyawa kompleks ditentukan dengan analisis kadar ion logam, pengukuran hantaran, analisis termal gravimetri, dan analisis komposisi unsur C, H, dan N. Atas dasar hasil analisis tersebut, senyawa kompleks yang diperoleh merupakan kompleks berinti tunggal dengan rumus molekul [Fe(DPTz)2(H2O)2](X)2 dengan X = BF4 -(1) dan ClO4 -(2). Kedua senyawa yang dihasilkan berwarna biru tua dengan rendemen masing-masing 51% dan 62%. Senyawa kompleks tersebut menunjukkan sifat magnet yang unik, dengan nilai momen magnet yang diperoleh sekitar 2,5 BM. Setelah dilakukan pemanasan sampai dengan 60oC ternyata kedua senyawa kompleks tersebut menunjukkan sifat paramagnetik, dengan nilai momen magnet sekitar 5 BM. Keunikan sifat magnet ini, menunjukkan adanya indikasi yang baik untuk dapat mengamati kemampuan transisi spin dari senyawa kompleks tersebut melalui penelitian yang lebih lanjut

    PERANCANGAN SISTEMALAT PENAMPIL KURVA HISTERESIS TERKOMPUTERISASI DENGAN BANTUAN ZELSCOPE 1.0

    Get PDF
    PERANCANGAN SISTEMALAT PENAMPIL KURVA HISTERESIS TERKOMPUTERISASI DENGAN BANTUAN ZELSCOPE 1.0. Telah dibuat sistem perangkat keras dan perangkat lunak untuk memvisualisasi kurva histeresis pelat besi secara terkomputerisasi. Sistem terbagi atas dua sistem utama yaitu sistem perangkat keras dan sistem perangkat lunak. Sistem perangkat keras dibagi menjadi empat bagian, yaitu: solenoida sebagai sensor induksi untuk bahan uji, rangkaian penguat tegangan keluaran dan pengondisi sinyal dari sensor induksi, Sound Generator sebagai sumber frekuensi yang diambil dari panel volume PC sound card, dan Personal Computer (PC) sebagai tempat program kontrol kendali, penampil bentuk kurva, dan penyimpan data. Untuk sistem perangkat lunak digunakan program aplikasi Zelscope versi 1.0 sebagai program kendali osiloskop PC, Sound Gen sebagai program kendali frekuensi dari PC Soundcard dan Microsoft Excel sebagai program analisis data hasil pencuplikan dari zelscope. Sebagai bahan uji digunakan lempeng besi setebal 0,98 mm; panjang 9,6 cm; kedalaman bahan yangmasuk koil 2,0 cm. Dari pengujian bahan diperoleh nisbah VBr sebelum dan sesudah dimasukkan bahan uji sebesar 0,14 sedangkan untuk VHc diperoleh nisbah 0,08. Dengan unjuk kerja seperti ini maka alat telah dapat digunakan sebagai pengkarakterisasi sifat magnet bahan

    PENUMBUHAN FILM CdO DENGAN METODE CHEMICAL BATH DEPOSITION (CBD)

    Get PDF
    PENUMBUHAN FILM CdO DENGAN METODE CHEMICAL BATH DEPOSITION (CBD). Film CdO ditumbuhkan pada supstrat kaca dalam dua tahap, yaitu deposisi dengan metode Chemical Bath Deposition (CBD) dan dilanjutkan dengan pemanasan pada 250 oC dan 400 oC. Morfologi film CdO memperlihatkan bentuk bongkahan berukuran sekitar 1 μm, sedangkan ketebalan filmsekitar 1 μm berdasarkan hasil SEM. Hasil analisis XRD memperlihatkan bahwa fasa kristal mengalami transformasi akibat pemanasan. Film yang dipanaskan pada 250 oC didominasi oleh fasa CdCO3 dan pemanasan lanjutan pada 400 oC berubah fasa CdCO3 menjadi fasa CdO. Fasa kristal CdO memiliki struktur FCC dengan nilai parameter kisi yang diperoleh sebesar 4,70 Å. Nilai celah pita energi (Eg) ditentukan berdasarkan spektrum transmisi film CdO,diperoleh nilai Eg sebesar 2,1 eV untuk kedua film

    726

    full texts

    859

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇