Media Kesehatan Masyarakat Indonesia
Not a member yet
442 research outputs found
Sort by
USIA PUBERTAS DAN MENARCHE TERHADAP TINGGI BADAN MAHASISWA KEBIDANAN
Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan adanya peningkatan prevalensi pendek (stunting) pada remaja usia 16-18 tahun. Pertumbuhan tinggi badan akan mengalami kenaikan kecepatan pertumbuhan pada saat pubertas dan berakhir saat terjadinya menarche. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara usia pubertas dan usia menarche dengan tinggi badan mahasiswa bidan Universitas Airlangga. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan rancangan cross sectional study. Subjek penelitian ini adalah seluruh mahasiswa S1 Pendidikan Bidan Universitas Airlangga yang berusia kurang dari atau sama dengan 20 tahun. Penelitian ini menggunakan total sampling dan uji statistik Mann Whitney. Hasil penelitian diperoleh 102 mahasiswa dengan rata-rata usia 18,8 tahun (SD±0,64), tidak ada perbedaan bermakna usia pubertas (p=0,643) dan usia menarche (p=0,198) dengan tinggi badan. Kesimpulan penelitian tidak ada hubungan antara usia pubertas dan usia menarche dengan tinggi badan mahasiswa bidan Universitas Airlangga
HUBUNGAN STATUS GIZI DAN KESEHATAN DENGAN KUALITAS HIDUP LANSIA DI DUA LOKASI BERBEDA
Kualitas hidup lansia dipengaruhi oleh status gizi dan penyakit. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perbedaan karakteristik subjek, status gizi, status kesehatan dan kualitas hidup serta mengkaji hubungan status gizi dan kesehatan dengan kualitas hidup lansia di Desa Ciherang Bogor dan Desa Jambu Bengkulu Tengah, dengan pertimbangan perbedaan etnis dan kebiasaan makan. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan 74 subjek di masing-masing desa. Pengumpulan data karakteristik subjek, status kesehatan, status gizi dan kualitas hidup menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji mann whitney dan korelasi spearman. Terdapat perbedaan signifikan karakteristik subjek dalam hal status perkawinan, pendidikan, pekerjaan dan status tinggal (p<0,05). Status gizi dan kualitas hidup yang baik pada subjek di Desa Ciherang lebih banyak dibandingkan di Desa Jambu. Terdapat perbedaan signifikan status gizi lansia (p<0,05) dan tidak terdapat perbedaan signifikan status kesehatan lansia (p>0,05). Terdapat hubungan positif pada status gizi dengan kualitas hidup domain kesehatan fisik dan lingkungan, terdapat hubungan positif pada status kesehatan dengan kualitas hidup domain kesehatan fisik dan hubungan sosial (p<0,05). Status gizi berhubungan dengan kualitas hidup domain kesehatan fisik dan lingkungan, sedangkan status kesehatan berhubungan dengan kualitas hidup domain kesehatan fisik dan hubungan sosial
EFEKTIVITAS IMPLEMENTASI PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT (PKRS)
Pelaksanaan Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) belum dilakukan seluruh rumah sakit di Indonesia. Penelitian ini bertujuan memahami efektivitas implementasi kegiatan Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) berdasarkan standar WHO di RSUD Tulehu Maluku Tengah tahun 2017. Jenis penelitian adalah terlibat dalam pelaksanaan program promosi kesehatan RSUD Tulehu Maluku Tengah, yaitu Direktur RSUD Tulehu, Kepala Bidang dan Kepala Seksie Promosi Kesehatan, kepala seksi, kepala ruangan, staf bagian upaya promosi kesehatan rumah sakit dan pasien/keluarga pasien rumah sakit. Pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan Focus Group Discussion. Penelitian menyimpulkan bahwa efektivitas pelaksanaan promosi kesehatan di RSUD Tulehu hanya pada bina suasana dan menciptakan tempat kerja sehat. Pelaksanaan yang belum efektif adalah kebijakan yang belum membentuk TIM PKRS, kajian kebutuhan masyarakat yang masih kurang, pemberdayaan masyarakat yang kurang dan tidak ada kemitraan. Penelitian ini menyarankan pihak rumah sakit segera membentuk TIM PKRS, rutin melakukan kajian kebutuhan masyarakat, meningkatkan bina suasana, melengkapi fasilitas PKRS, mencari mitra untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan menjaga lingkungan kerja yang sehat
FAKTOR RISIKO KEJADIAN PRE-EKLAMSIA PADA IBU HAMIL DI KABUPATEN BELU
Pre-eklamsia merupakan suatu keadaan patologi yang ditandai dengan adanya hipertensi, proteinuria dan edema. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko dengan kejadian pre-eklamsia pada ibu hamil di Kabupaten Belu. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian retrospektif dengan desain case control dan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan pada wilayah kerjaPuskesmas di Kabupaten Belu, periode Januari–Maret 2015. Analisis statistik yang digunakan adalah chi-square dan Odd Ratio. Besar sampel kasus 40 ibu dan kontrol 40 ibu yang diambil dengan teknik purposivesampling. Hasil penelitian ini ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara faktor risiko umur (p=0,007;OR=0,286;95%CI=0,133-0,721), paritas (p=0,014;OR-0,323;95%CI=0,130-0,804), riwayat hipertensi(p=0,007;OR=3,462;95% CI=1,379-8,691), riwayat pre-eklamsia (p=0,000;OR=2,379;95% CI=1,803-3,139), antenatal care (p=0,000;OR=0,140;95%CI=0,052-0,378) terhadap kejadian preeklamsia. Variabel yang mempunyai risiko terjadinya pre-eklamsia adalah riwayat hipertensi mempunyai risiko 3 kali, riwayat pre-eklamsiamempunyai risiko 2 kali sedangkan variabel umur, paritas dan pemeriksaan kehamilan (ANC) merupakan faktor protektif
PERBANDINGAN PENGELOLAAN PROGRAM P2TB DI PUSKESMAS DENGAN CDR TINGGI DAN CDR RENDAH
Salah satu permasalahan dalam program penanggulanan tuberculosis (TB) adalah rendahnya cakupan penemuan kasus TB paru di puskesmas, serta bervariasinya angka pencapaian Case Detection Rate (CDR). Penelitian ini bertujuan membandingkan pengelolaan Program P2TB di dua puskesmas kecamatan dengan pencapaian CDR TB tinggi dan rendah di wilayah Jakarta Timur. Metode penelitian adalah kualitatif yang diperkuat data kuantitatif faktor individu dan sosial dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan dalam manajemen yang mana puskesmas dengan CDR TB tinggi mempunyai Kepala Puskesmas dengan kemampuan manajerial Program P2TB yang baik, mekanisme transfer of knowledge yang baik (komponen input); perencanaan target berbasis masalah untuk meningkatkan CDR TB, program penjaringan kasus secara aktif dengan melibatkan kader dan lintas sektor, adanya antisipasi hasil mutu laboratorium serta monitoring dan evaluasi yang baik (komponen proses); dan memenuhi seluruh target indikator penemuan penderita TB (komponen output). Hasil tersebut diperkuat faktor individu (pengetahuan, sikap suspek terhadap bahaya dan cara pencegahan, serta persepsi suspek terhadap pelayanan kesehatan) dan faktor sosial (dukungan kader, KIE oleh petugas) lebih baik pada puskesmas dengan CDR TB tinggi. Dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatan CDR, diperlukan pelatihan TB kepada top manajemen, penjaringan kasus aktif dengan melibatkan kader dan sektor non kesehatan, serta kerjasama lintas sektor
RISIKO GAYA HIDUP TERHADAP KEJADIAN KANKER PAYUDARA PADA WANITA
Kanker payudara merupakan keganasan umum pertama pada wanita di seluruh dunia dan menjadi pembunuh nomor dua dari keseluruhan kanker di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor risikogaya hidup yaitu konsumsi lemak, obesitas, merokok dan stres pada wanita yang menderita kanker payudara di rumah sakit Kota Makassar tahun 2016. Jenis penelitian observasional analitik dengan rancangancase control study, pengumpulan data menggunakan kuesioner, uji statistik bivariat menggunakan odds ratio dengan α=0,05 dan multivariat menggunakan analisis regresi berganda logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan OR, diketahui bahwa faktor risiko yang signifikan terhadap kejadian kanker payudara adalah konsumsi lemak ≥ nilai rata-rata seluruh penderita/responden (≥97) (p=0,005, OR=2,872;CI 95%:1,410-5,849), obesitas (IMT≥25 kg/m²) (p=0,069,OR=1,942,CI 95%:1,006-3,749), merokok (p=0,063,OR=2,002;CI 95%:1,020-3,930), dan stres (p=0,012,OR=2,698;CI 95%:1,294-5,624). Stres merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian kanker payudara (p=0,020,OR=2,657;CI 95%:1,166-6,054). Kesimpulannya adalah faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian kanker payudara pada wanita di Rumah Sakit Kota Makassar adalah konsumsi lemak, obesitas, merokok dan stres. Faktor risiko yang paling perpengaruh terhadap kejadian kanker payudara adalah stres
SUPLEMENTASI KAPSUL TEPUNG DAUN KELOR (Moringa oleifera Lam) TERHADAP SINDROM PRAMENSTRUASI PADA REMAJA
Remaja merupakan kelompok wanita usia subur yang rentan menderita premenstrual syndrome (PMS). Daun kelor (Moringa oleifera Lam) mengandung komponen fitokimia dan bermanfaat sebagai antioksidan, antiinflamasi serta analgesik yang berpotensi menghambat prostaglandin dan aktivitas reseptor pusat nyeri. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pemberian kapsul tepung daun kelor terhadap PMS pada remaja. Penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan rancangan randomized pre-post control study. Sebanyak 446 subyek remaja diskrining kemudian dipilih sampel yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 28 subyek yang kemudian dibagi secara random menjadi dua kelompok, yakni kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji ANOVA dan independent t-test. Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan terhadap karakteristik subyek kontrol dan perlakuan sebelum diberikan intervensi kecuali pada karakteristik usia (p=0,038). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap rerata penurunan skor PMS (p>0,05) sebelum dan setelah intervensi pada kelompok kontrol. Namun, terdapat perbedaan yang signifikan terhadap rerata skor penurunan keluhan PMS pada kelompok perlakuan (p<0,05). Hasil independent t-test menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05) terhadap rerata penurunan skor keluhan PMS antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa kapsul tepung daun kelor dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk menurunkan keluhan PMS
EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN AMPISILIN DANSEFOTAKSIM PADA PASIEN ANAK DEMAM TIFOID
Demam tifoid merupakan penyakit endemik yang angka kejadiannya masih tinggi di Indonesia. Pengobatan demam tifoid dapat dilakukan dengan cara pemberian terapi antibiotik, yaitu ampisilin dan sefotaksim. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan efektivitas biaya penggunaan sefotaksim dan ampisilin pada pasien anak demam tifoid di RST TK II Kartika Husada Kubu Raya Tahun 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan penelitian secara potong lintang (cross sectional) yangbersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif berdasarkan basis data rekam medik pasien demam tifoid yang dirawat inap di RST TK II Kartika Husada Kubu Raya periode Januari sampai dengan Desember 2015. Data efektivitas dan biaya pengobatan demam tifoid dianalisis secara ACER dan ICER. Dari hasil analisis data diperoleh nilai ACER pada penggunaan sefotaksim sebesar Rp.1.571.014,474 per efektivitas, sedangkan pada penggunaan ampisilin sebesar Rp.2.629.026,316 per efektivitas. Nilai ICER diperoleh sebesar Rp.513.002,632 perefektivitas. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sefotaksim lebih cost effective dibandingkan ampisilin
PARITAS DAN PERAN SERTA SUAMI DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN TERHADAP PENGGUNAAN METODE KONTRASEPSI
Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan prevalensi penggunaan KB yang meningkat dari 55,8% pada tahun 2010 menjadi 59,7% pada tahun 2013. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa hanya 8,4% pria menggunakan kontrasepsi atau terlibat secara langsung dalam penggunaan pelayanan keluarga berencana terutama kondom pria. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh paritas dan peran serta suami dalam pengambilan keputusan terhadap penggunaan metode kontrasepsi. Desain penelitian yang digunakan adalah desain cross sectional. Sampel penelitian ini adalah wanita menikah usia 15-45 tahun sebanyak 216 orang. Kriteria inklusi sampel adalah wanita dengan status menikah. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 79,2% responden menggunakan kontrasepsi, 91,7% responden memiliki suami yang mendukung kontrasepsi dan 72,7% responden memiliki jumlah anak 2 sampai 4 orang. Ada pengaruh yang signifikan antara peran serta suami (PR:4,570;95%CI:1,647-12,682) dan paritas (multipara (PR:0,218;95%CI:0,060-0,790), primipara (PR:0,518;95%CI:0,132-2,028)) terhadap penggunaan kontrasepsi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran serta suami merupakan faktor risiko perilaku penggunaan metode kontrasepsi sedangkan paritas merupakan faktor protektif dari perilaku penggunaan metode kontrasepsi. Penelitian ini menunjukkan pentingnya mendorong para ibu rumah tangga untuk mengajak pasangan ikut serta dalam setiap pengambilan keputusan mengenai penggunaan metode kontrasepsi dengan meningkatkan cakupan partisipasi suami secara langsung dalam menggunakan metode kontrasepsi
HUBUNGAN ANTARA FLEKSIBILITAS DAN KEKUATAN OTOT LENGAN DENGAN KECEPATAN RENANG
Kecepatan adalah aset utama atlet renang. Penelitian terbaru menunjukkan variabel fleksibilitas dan kekuatan otot lengan sangat memengaruhi kecepatan renang individu. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara fleksibilitas dan kekuatan otot lengan pada atlet renang gaya bebas di Makassar. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah sampel 20 orang atlet yang berusia 12-18 tahun. Variabel independen yang diukur adalah fleksibilitas dan kekuatan otot lengan. Variabel dependen yang diukur adalah kecepatan renang melalui tes renang gaya bebas 25 meter. Analisis bivariat digunakan untuk menganalisis hubungan fleksibilitas dan kekuatan otot lengan dengan kecepatan pada atlet renang. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif antara fleksibilitas dengan kecepatan (p=0,001; R2=0,512) dan kekuatan otot lengan dengan kecepatan (p=0,001; R2=0,746). Disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai fleksibilitas, semakin tinggi kecepatan renang. Semakin besar nilai kekuatan otot lengan, semakin tinggi kecepatan renang