BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi
Not a member yet
182 research outputs found
Sort by
UKURAN DAN KOMPOSISI TUBUH MAHASISWA BIOLOGI TAHUN PERTAMA UNIVERSITAS PADJADJARAN
Masa transisi dewasa awal dari Sekolah Menengah Atas (SMA) ke universitas dapat menimbulkan berbagai tantangan bagi mahasiswa tahun pertama. Mahasiswa akan mengalami pola aktivitas yang cenderung berbeda, sehingga diperlukan kondisi fisik yang baik agar pengetahuan, kemampuan serta keterampilan menjadi berkembang secara optimal serta dapat berprestasi. Oleh karena itu, perlu melakukan pengukuran antropometri Mahasiswa Biologi tahun pertama Universitas Padjadjaran untuk mendeskripsikan kondisi fisik baik berupa ukuran dan komposisi tubuh hingga status gizi sebagai upaya preventif. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui ukuran dan komposisi tubuh serta status gizi Mahasiswa Biologi tahun pertama Universitas Padjadjaran. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan melakukan pengukuran antropometri berupa tinggi badan, berat badan, komposisi lemak tubuh dan otot skeletal. Selain itu, Indeks Massa Tubuh (IMT) digunakan sebagai indikator status gizi. Subjek merupakan Mahasiswa Biologi tahun pertama Universitas Padjadjaran, terdiri dari 74 perempuan dan 14 laki-laki (rentang usia 17-20 tahun). Hasil pengukuran menunjukkan tinggi dan berat badan Mahasiswa Biologi tahun pertama Universitas Padjadjaran melebihi standar Indonesia. Perempuan memiliki tinggi dan berat badan sebesar 155,5 ± 5,3 cm dan 53,4 ± 10 kg, sedangkan laki-laki sebesar 167,5 ± 6,5 cm dan 60 ± 11,6 kg. Lemak visceral cenderung normal pada perempuan (96%) maupun laki-laki (93%). Perempuan memiliki komposisi tubuh cenderung berlemak, sedangkan laki-laki cenderung berotot. Distribusi lemak subkutan dominan (normal hingga lebih) perempuan terdapat pada lengan dan kaki, sedangkan laki-laki cenderung bervariatif (rendah hingga normal) pada berbagai bagian tubuh. Distribusi otot skeletal laki-laki sangat tinggi pada lengan dan kaki, sedangkan perempuan hanya pada kaki. Berdasarkan nilai IMT, mayoritas status gizi mahasiswa yaitu kategori normal (perempuan 65% dan laki-laki 71%). Kondisi ini menunjukkan lebih dari setengah populasi Mahasiswa Biologi tahun pertama memiliki kondisi fisik yang baik dikedua jenis kelamin
KERAGAMAN HERPETOFAUNA DI WILAYAH OPERASIONAL PLTP KAMOJANG, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT
Fasilitas pembangkit listrik diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Adanya kegiatan pembangkit listrik tidak terlepas dari perubahan lahan yang berdampak pada keanekaragaman hayati disekitarnya, seperti herpetofauna. Herpetofauna memiliki berbagai peran penting di ekosistem, salah satunya sebagai pengendali populasi satwa mangsa dan menjaga keseimbangan ekosistem. Tujuan studi ini adalah untuk memantau keragaman herpetofauna di kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pengumpulan data dilakukan melalui Visual Encounter Survey yang dikombinasikan dengan Auditory Encounter Survey. Keragaman herpetofauna dijumpai sebanyak 20 spesies yang terdistribusi di sekitar kawasan PLTP Kamojang, dimana 13 spesies termasuk Kelas Amfibi dan Ordo Anura, serta tujuh spesies termasuk Kelas Reptil dan Ordo Squamata. Huia masonii Boulenger, 1884 dijumpai sebagai spesies yang terancam punah dengan status Vulnerable (VU). Microhyla achatina Tschudi, 1838, Limnonectes kuhlii Tschudi, 1838, Huia masonii Boulenger, 1884, dan Rhacophorus reinwardtii Schlegel, 1840 diketahui merupakan spesies endemik Pulau Jawa dan sekitarnya. Perkebunan hortikultur dijumpai terbanyak dibandingkan tutupan lahan lainnya sejumlah 15 spesies
Pemanfaatan dan Pengetahuan Fitokimia Tradisional Tumbuhan Obat Masyarakat Kampung Cigumentong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat
Kampung Cigumentong memiliki potensi yang besar dalam keragaman tumbuhannya, salah satunya tumbuhan obat karena bentang alam yang luas serta berada di tengah hutan kawasan konservasi. Tumbuhan obat di Kampung Cigumentong masih sering dijumpai di sekitar pekarangan, kebun, hutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan masyarakat mengenai jenis, pemanfaatan, pengolahan dan bagian yang dimanfaatkan untuk tumbuhan obat oleh masyarakat di Desa Cijambu sebagai bentuk pengobatan tradisional melalui pengetahuan fitokimia tradisional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung, wawancara semi-terstruktur, eksplorasi, dan dokumentasi. Teknik yang dilakukan dalam pemilihan informan dalam wawancara semi-terstruktur adalah teknik snowball sampling dan purposive sampling dilakukan terhadap 5 KK. Analisis data kualitatif dilakukan dengan deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 68 jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Kampung Cigumentong yang terbagi ke dalam 39 suku dan didominasi oleh suku Zingiberaceae dan Asteraceae. Bentuk pemanfaatan yang sering dilakukan oleh masyarakat Desa Cijambu adalah wedangan yang diolah dengan cara direbus dan bagian yang sering dimanfaatkan adalah daun. Fitokimia tradisional diketahui melalui cita rasa di lidah, aroma yang khas dan sensasi yang dirasakan pada tubuh
INDUKSI KALUS DARI EKSPLAN NODUS Stelecocharpus burahol (Blume) Hook. f & Thomson SEBAGAI UPAYA KONSERVASI IN VITRO
Tanaman Kepel (Stelechocarpus burahol (Blume) Hook. f. & Thomson) merupakan salah satu jenis tanaman asli Indonesia yang mengandung metabolit sekunder dan potensial sebagai antioksidan, antibakteri, antifungi, anti inflamasi, dan anti implantasi. Namun, saat ini tanaman kepel berstatus conservation dependent, sehingga diperlukan perbanyakan tanaman kepel melalui kultur in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan metode perbanyakan tanaman kepel secara in vitro melalui tahap induksi kalus dengan mengoptimasi kombinasi dan konsentrasi BAP (Benzylaminopurin) dan IAA (Indole-3-acetic acid). Penelitian ini menggunakan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan kombinasi konsentrasi BAP dan IAA (0,1,2,5, dan 5 mgL-1 ) sebanyak 16 perlakuan masing-masing 3 ulangan. Eskplan nodus yang ditanam dalam medium MS dengan penambahan BAP dan IAA dikultur pada suhu 25 ± 2 0C, kondisi terang 24 jam dengan intensitas cahaya 3000 flux selama 30 hari. Pengamatan waktu induksi kalus, persentase pertumbuhan kalus dan intensitas kalus dilakukan setiap minggu selama 28 hari masa tanam. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA dan tidak dilanjutkan uji Duncan karena hasil yang diperoleh tidak berbeda signifikan (p ≥0,05). Hasil menunjukkan bahwa penambahan 1 mgL-1 BAP dan 5 mgL-1 IAAmenghasilkan waktu induksi tercepat yaitu 4,67 ± 1,15 hari, sedangkan medium MS dengan penambahan 5 mgL-1 BAP dan 2,5 mgL-1 IAAmerupakan kombinasi konsentrasi terbaik dalam pembentukan kalus (100%) dan intensitas kalus sebesar 0,57 ± 0,34 dengan tekstur remah berwarna kehijauan. Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi penting dalam upaya konservasi tanaman kepel secara in vitro
KOMPARASI OOSIT DAN HISTOLOGI OVARIUM MENCIT DENGAN SUPEROVULASI HORMONAL DAN KOMBINASI INDUKSI OVULASI
Koleksi oosit merupakan langkah penting dalam produksi dan rekayasa embrio in vitro. Proses ini dimulai dengan superovulasi untuk memaksimalkan jumlah oosit. Superovulasi yang paling umum dilakukan yaitu dengan induksi hormonal menggunakan kombinasi pregnant mare serum gonadotropin (PMSG) dan human chorionic gonadothropin (hCG). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil superovulasi mencit dengan induksi hormonal dan kombinasi stimulus kawin. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan hewan coba mencit yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok A yaitu kelompok mencit yang disuperovulasi dengan induksi hormonal injeksi PMSG dilanjutkan dengan hCG sedangkan kelompok B diinjeksi dengan PMSG dilanjutkan dengan stimulus kawin menggunakan mencit jantan yang telah divasektomi. Parameter yang dianalisis dalam penelitian ini yaitu jumlah dan morfologi oosit serta histologi ovarium dari kedua kelompok. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara total oosit dari perlakuan A dan perlakuan B. Persentase oosit matang dari kelompok B lebih tinggi dibandingkan kelompok A. Histologi ovarium kelompok A menunjukkan perkembangan folikel yang bervariasi sedangkan kelompok B didominasi oleh korpus luteum. Berdasarkan hasil perbandingan oosit dan histologi ovarium dapat disimpulkan bahwa metode superovulasi dengan kombinasi stimulus kawin dapat digunakan sebagai alternatif metode untuk mengantisipasi keterbatasan jumlah preparat hormon pada proses produksi dan rekayasa embrio in vitro
OPTIMASI AKTIVITAS ENZIM SELULASE OLEH KONSORSIUM BAKTERI SELULOLITIK DARI SALURAN PENCERNAAN RAYAP Cryptotermes sp. UNTUK PEMANFAATAN JERAMI PADI
Enzim selulase merupakan enzim komersial yang berperan penting sebagai biokatalis dalam berbagai proses industri, seperti industri tekstil, kertas, makanan, medis, detergen, dan lainnya. Produksi enzim selulase dapat dilakukan dengan pemanfaatan limbah selulosa, salah satunya jerami padi. Di Indonesia, jerami padi merupakan limbah pertanian terbesar namun pemanfaatannya belum optimal, biasanya digunakan untuk makanan ternak, media tumbuh jamur atau dibakar di lahan pertanian. Substrat selulosa dapat dihidrolisis oleh mikroorganisme selulolitik, salah satunya bakteri yang berasal dari saluran pencernaan rayap. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pH dan suhu yang optimal untuk produksi selulase bakteri yang diisolasi dari saluran pencernaan rayap Cryptotermes sp. Seleksi bakteri selulolitik dilakukan pada media Carboxymethylcellulose (CMC) dengan indikator adanya zona bening yang dihasilkan di sekitar koloni bakteri selulolitik. Pre-treatment secara mekanik dan kimiawi dilakukan terlebih dahulu pada substrat jerami padi. Media SmF digunakan sebagai media produksi enzim selulase. Penentuan suhu dan pH optimal yaitu dengan variasi suhu 36,5 oC dan 37,5oC, sedangkan variasi pH medium 7 dan 8. Aktivitas enzim selulase diukur dengan penghitungan gula pereduksi menggunakan reagen 3,5-dinitrosalicylic acid. Dari hasil penelitian diketahui bahwa konsorsium bakteri selulolitik R3-1, R4-3, dan R7-3 berturut-turut merupakan genus bakteri Achromobacter sp., dan Pseudomonas sp. Konsorsium bakteri ini dapat menghasilkan enzim selulase tertinggi sebesar 8,93 U/mL pada waktu inkubasi 24 jam dengan pH medium 7 dan suhu inkubasi 36,5oC
KEANEKARAGAMAN SPESIES BURUNG SEBAGAI ALAT UKUR KESTABILAN EKOSISTEM SAWAH
Dewasa ini, ekosistem sawah cukup mengalami kerusakan karena adanya alih fungsi lahan oleh manusia. Dibutuhkan pengukuran terhadap kestabilan ekosistem sawah dan masih jarang keanekaragaman burung dijadikan sebagai alat ukur kestabilan suatu ekosistem tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati keanekaragaman spesies burung di ekosistem untuk menilai kestabilan suatu ekosistem sawah. Penelitian dilakukan dengan metode jelajah bebas di sekitar area titik pengamatan. Pengambilan data dilakukan pada dua ekosistem sawah yang berbeda yakni Desa Perampuan, Lombok Barat, dan dusun Pagesangan Mataram pada waktu yang berbeda yakni pagi (07.30-10.00 WITA) dan sore (16.00-18.00 WITA). Data dianalisis dengan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener, indeks kekayaan Margalef dan indeks kemerataan Alatalo. Sebanyak 9 spesies burung, dengan total keseluruhan 127 individu teridentifikasi dari dua lokasi sawah yang berbeda. Lokasi II menunjukkan indeks keragaman sebesar 1,55, sedangkan lokasi I menunjukkan indeks keanekaragaman sebesar 1,32. Hal ini menunjukkan bahwa lokasi II memiliki ekosistem yang lebih stabil dibandingkan lokasi I
KAJIAN PERILAKU HARIAN BERUANG MADU (Helarctos malayanus) DI LEMBAGA KONSERVASI PT. LEMBAH HIJAU, LAMPUNG
Indonesia memiliki dua spesies beruang madu yaitu beruang madu sumatera (Helarctos malayanus malayanus) dan beruang madu kalimantan (Helarctos malayanus euryspilus). Lembaga Konservasi PT. Lembah Hijau, Lampung merupakan tempat berlangsungnya upaya perlindungan terhadap beruang madu. Penelitian dilakukan untuk mengetahui perilaku harian beruang madu di Lembaga Konservasi PT. Lembah Hijau, Lampung pada bulan Januari–Maret 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah scan sampling, yang dilakukan dalam tiga tahapan meliputi survei pendahuluan, habituasi, dan observasi langsung. Pengamatan dimulai pada pukul 08.20–16.10 WIB pada hari kerja (Senin–Jumat), pukul 08.00–17.00 WIB hari libur (Sabtu–Minggu) dan pada hari libur nasional yang ditetapkan pemerintah di luar hari Sabtu–Minggu dengan interval waktu 10 menit dari area kunjungan pada kandang tampilan beruang madu. Perilaku tertinggi ke rendah secara berurutan meliputi perilaku sosial (15,22%), perilaku berjalan/jelajah (15,14%), perilaku tidur/istirahat (13,42%), perilaku bermain (8,3%), perilaku makan (6.61%), perilaku menelisik (4,45%), perilaku minum (1,49%), perilaku urinasi (0,92%), perilaku bersuara (0,77%), dan perilaku defekasi (0,35%). Beruang madu yang sedang dalam masa kawin menjadi faktor tingginya perilaku sosial dan berjalan. Defekasi dan urinasi dengan posisi yang berbeda pada masing-masing individu menjadi penanda masih adanya sifat soliter pada beruang madu
PERBANDINGAN ANATOMI INSANG IKAN BERDASARKAN HABITAT YANG BERBEDA
Ikan telah mengembangkan beragam adaptasi anatomi insang agar dapat berfungsi secara efisien dalam habitatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan anatomi insang ikan yang meliputi morfologi dan morfometrik organ insang dari tiga jenis ikan yang hidup di habitat yang berbeda. Sampel ikan yang digunakan adalah Ikan Nila (Oreochromis niloticus), Ikan Lele (Clarias batrachus) dan Ikan Kembung (Rastrelliger sp.) masing-masing sebanyak lima ekor dengan bobot badan 100 sampai 300 g dan panjang tubuh 20 sampai 40 cm yang diperoleh dari pasar tradisional. Bagian insang yang diamati adalah membran branchiostegal, arcus branchialis, filamen branchialis, dan branchiospinalis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ikan Kembung memiliki berat relatif insang lebih besar dibandingkan Ikan Nila dan Ikan Lele yaitu masing-masing 4,85 + 0,38%; 3,43 + 0,23%; dan 2,46 + 0,31%. Terdapat perbedaan morfologi insang dari ketiga spesies ikan yang diamati yaitu pada warna insang, bentuk membran branchiostegal, arcus branchialis, dan branchiospinalis. Pada morfometrik terdapat perbedaan berat relatif insang, rasio panjang arcus branchialis, rasio panjang filamen branchialis, jumlah filamen branchialis, kerapatan filamen branchialis, dan kerapatan branchiospinalis. Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan anatomi insang antara Ikan Nila (O. niloticus), Ikan Lele (C. batrachus) dan Ikan Kembung (Rastrelliger sp.) yang hidup pada habitat yang berbeda.
IDENTIFIKASI KERUSAKAN POHON DI KAMPUS KENTINGAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Universitas Sebelas Maret (UNS) sebagai kampus yang dijuluki sebagai kampus hijau (Green Campus) dengan berbagai jenis pohon di dalamnya tentunya memiliki fungsi ekologis yang tinggi. Keberadaan tegakan perlu dievaluasi untuk mengetahui kondisi kesehatan tegakan yang berada di kawasan Green Campus UNS. Evaluasi tersebut dilakukan sebagai upaya mitigasi untuk meminimalisasi terjadinya pohon tumbang. Pemantauan kesehatan hutan atau Forest Health Monitoring (FHM) adalah metode untuk menentukan status, perubahan dan kecenderungan yang terjadi mengenai kondisi suatu ekosistem hutan pada suatu waktu dan dinilai berdasarkan tujuan dan fungsi suatu hutan dan kawasan hutan. Pada metode FHM, identifikasi kerusakan pohon dilakukan dengan memberikan kode yang menggambarkan lokasi kerusakan pohon (bagian pohon yang mengalami kerusakan), tipe kerusakan pohon, dan tingkat keparahan/kerusakan pada pohon. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 3978 individu dari 116 jenis tumbuhan di Kampus Kentingan UNS. Terdapat 10 jenis yang dapat ditemukan pada seluruh area kampus, yaitu Pterocarpus indicus, Ficus sp., Delonix regia, Polyathia longifolia, Tectona grandis, Filicium decipiens, Terminaila catappa, Swietenia macrophylla, Mangifera indica, dan Mimusops elengi. Berdasarkan klasifikasi kesehatan pohon, sebanyak 90,98% (n = 33619) tegakan termasuk kelas sehat, 8,27% (n = 329) tegakan termasuk kelas kerusakan ringan, dan 0,75% (n = 30) tegakan termasuk kelas kerusakan sedang. Bagian tumbuhan yang banyak mengalami kerusakan adalah cabang, batang bagian bawah, dan daun. Tipe kerusakan yang banyak ditemukan adalah cabang patah dan mati, luka terbuka, kanker, mati pucuk, dan klorosis