BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi
Not a member yet
    182 research outputs found

    ISOLASI DAN KARAKTERISASI MORFOLOGIS BAKTERI ASAL TANAH SEKITAR KANDANG AYAM DI MUARO JAMBI

    No full text
    Tanah menjadi salah satu habitat mikroorganisme yang berperan penting dalam dekomposisi bahan organik, termasuk selulosa. Lingkungan tanah di sekitar kandang ayam mengandung bahan organik tinggi dan berpotensi sebagai sumber bakteri pendegradasi selulosa. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik bakteri tanah di Muaro Jambi sebagai kontribusi dalam kajian mikrobiologi tanah. Metode penelitian meliputi pengambilan sampel tanah, pengenceran bertingkat, teknik kultur dengan metode spread plate, serta pewarnaan Gram untuk membedakan bakteri Gram positif dan Gram negatif berdasarkan morfologi dan sifat dinding selnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri gram negatif mendominasi hingga 80% dibandingkan bakteri gram negatif. Bakteri gram negatif yang ditandai dengan warna merah pada pewarnaan Gram, sementara bakteri Gram positif memiliki warna ungu. Morfologi bakteri yang teramati meliputi bentuk coccus dan bacil, menunjukkan adaptasi yang beragam terhadap lingkungan tanah. Temuan ini mengindikasikan keberadaan mikroorganisme yang berpotensi menghasilkan senyawa pendegradasi bahan organik yang sulit dipecah seperti selulosa dan berkontribusi terhadap proses dekomposisi di lingkungan tanah sekitar kandang ayam. Penelitian ini memberikan dasar awal untuk studi lebih lanjut mengenai potensi aktivitas enzimatik bakteri tanah dalam konteks mikrobiologi lingkungan

    DAMPAK PROGRAM REVOLUSI HIJAU TERHADAP PENGELOLAAN MINA-PADI: STUDI KASUS DI DESA LAMPEGAN, KABUPATEN BANDUNG

    No full text
    Petani dalam pengolahan mina padi berlandaskan pada Traditional Ecological Knowledge (TEK) secara lekat budaya. Pengelolaan sistem mina padi dengan menggunakan pengetahuan ekologi tradisional tersebut, perlahan-lahan mengalami perubahan seiring dengan diintroduksikannya program revolusi hijau. Program revolusi hijau tersebut telah mempengaruhi praktik sistem mina padi di Desa Lampegan. Pengelolaan sistem mina padi mengalami pergeseran dari ras ikan yang dibudidayakan, ketersediaan air dan waktu pemeliharaan ikan. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji perubahan produksi sistem mina padi sebelum dan sesudah program revolusi hijau, perbandingan produksi pengelolaan ikan di sawah dengan ikan di kolam, perbandingan produksi sistem mina padi dan sistem non-mina padi serta pengelolaan ikan berdasarkan jenis ikan yang dibudidayakan . Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran yaitu kombinasi metode kualitatif dan metode kuantitatif dengan pendekatan etnoekologi meliputi pengelolaan mina padi sebelum dan sesudah revolusi hijau. Pengumpulan data lapangan dilakukan dengan observasi, wawancara semi-struktur dan wawancara berstruktur terhadap 50 responden. Hasil penelitian menunjukkan sistem mina padi di Desa Lampegan Kabupaten Bandung mengalami perubahan pada pengelolaan mina padi sebelum dan sesudah revolusi hijau dalam besar input pada produksi pengelolaan mina padi. Pengelolaan setelah revolusi hijau (2018-2023) menggunakan input luar (pabrik) secara keseluruhan yang menambah biaya produksi lebih tinggi dibandingkan pada produksi sebelum revolusi hijau (1960-1970) yang masih memanfaatkan ketersediaan input dari alam dan lingkungan. Pengelolaan mina padi juga diketahui memiliki keuntungan yang lebih banyak dibandingkan pengelolaan non-mina padi, pengelolaan ikan di sawah lebih menguntungkan dari segi pemeliharaan dan hasil yang didapatkan, serta keuntungan dari setiap jenis ikan yang ditanam memiliki keuntungan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan konsumen (untuk dikonsumsi atau tidak dikonsumsi), ikan untuk dikonsumsi memiliki keuntungan yang lebih besar karena penjualan yang lebih tinggi

    KEANEKARAGAMAN HERPETOFAUNA DI EKOSISTEM SUNGAI TAMAN BURU MASIGIT KAREUMBI

    No full text
    Kawasan Taman Buru Masigit Kareumbi merupakan salah satu kawasan konservasi Jawa Barat yang memiliki berbagai sumber air yang berpotensi sebagai habitat herpetofauna. Keberadaan sungai di kawasan ini masih sering digunakan dalam aktivitas manusia yang dapat berdampak negatif terhadap keberadaan herpetofauna, mengingat peran herpetofauna sebagai bioindikator lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai keanekaragaman jenis herpetofauna pada ekosistem sungai Taman Buru Masigit Kareumbi. Metode pengumpulan data menggunakan Visual Encounter Survey (VES) yang dimodifikasi menggunakan line transect sepanjang 250 meter. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’), Kemerataan Jenis Evenness (E), Dominansi Simpson (D), Kekayaan Jenis Margalef (Dmg). Hasil pengamatan menunjukkan adanya 117 individu dari 12 jenis herpetofauna yang terdiri dari dari 8 jenis amfibi (famili Megophryidae: 1 jenis, Ranidae: 3 jenis, Dicroglossidae: 3 jenis, Rhacophoridae: 1 jenis) dan 4 jenis reptil (famili Agamidae: 2 jenis, Gekkonidae: 1 jenis, Colubridae: 1 jenis). Hasil dari Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’ = 1,054), Kemerataan Jenis Evenness (E = 0,424) dan Dominansi Simpson (D = 0,578) menunjukkan tingkat keanekaragaman sedang) di ekosistem sungai Taman Buru Masigit Kareumbi, sementara Indeks Kekayaan Jenis Margalef (Dmg = 2,310) tergolong rendahrendah

    Identifikasi Bakteri Asam Laktat menggunakan Gen Penanda 16S rRNA dari Teh Hitam Fermentasi

    No full text
    Teh Hitam merupakan salah satu jenis minuman fermentasi yang berasal dari tanaman Camellia sinensis. Proses fermentasi pada teh hitam terjadi akibat bantuan mikrobiota bakteri asam laktat. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri asam laktat dari isolat teh hitam. Bakteri asam laktat dari larutan teh hitam diisolasi pada medium MRS dalam kondisi anaerob. Gen 16S rRNA diamplifikasi menggunakan universal primer khusus untuk bakteri asam laktat. Purifikasi dan ekstraksi dilakukan menggunakan Fast GeneTM Gel/PCR Extraction kit. Sekuens DNA digabungkan menggunakan metode ClustalW-allignment pada aplikasi Biodit. Sekuens konsensus kemudian dilakukan penjajaran menggunakan BLAST dan dilakukan pembuatan pohon filogenetik pada aplikasi Mega 11 untuk mengetahui hubungan kekerabatan berdasarkan sekuens sampel dan referensi. Hasil analisis filogenetik menunjukkan bahwa sampel bakteri pada isolat teh hitam merupakan Leuconostoc lactis, Lactoplantibacillus plantarum, dan Lactobacillus pentosus

    KARAKTERISTIK LARVA Culex sp. DARI PERKEBUNAN KARET DI WILAYAH BANJARBARU KALIMANTAN SELATAN

    No full text
    Perkebunan karet di wilayah Banjarbaru menjadi habitat berbagai spesies nyamuk. Tahapan pradewasa dijumpai di wadah getah karet. Beberapa jenis larva nyamuk dapat hidup bersama dalam satu wadah getah yang salah satu larva dari genus Culex. Larva Culex dicirikan mempunyai sifon lebih panjang dari segmen ke 10 dan duri-duri pekten tidak sampai ujung sifon. Penelitian ini mengidentifikasi salah satu spesies dari genus Culex di perkebunan karet dengan menggunakan kunci identifikasi. Pengambilan sampel dengan metode jelajah mengikuti keberadaan wadah getah yang berisi air. Larva yang diambil adalah larva yang mempunyai sifon dengan perbandingan panjang: lebar adalah 11:1. Pengamatan karakteristik morfologi larva dilakukan pada bagian antenna, dorsomentum, pekten, sifon, dan segmen abdomen ke-10. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa bagian ujung antenna spesimen berbentuk tumpul dan terdapat 3 setae, sebanyk 18 gigi dorsomentum, barisan pekten tidak sampai ujung sifon dengan panjang. Segmen abdomen ke-10 tidak sampai tertutup saddle. Karakteristik spesimen ini mempunyai kesamaan dengan karakteristik larva Cx. phangngae endemik Thailand

    STUDI ETNOBIOLOGI SERANGGA DAN PERANANNYA BAGI MASYARAKAT LOKAL DESA SANTANAMEKAR TASIKMALAYA

    No full text
    Serangga merupakan organisme dengan keanekaragaman dan kelimpahan yang paling tinggi di permukaan bumi.  Peran serangga berdasarkan perspektif masyarakat lokal menarik untuk diteliti, kajiannya pun masih terbilang cukup sedikit. Studi etnobiologi yang dilakukan di Desa Santanamekar, Tasikmalaya ini bertujuan untuk mengkaji pengetahuan masyarakat lokal mengenai berbagai macam spesies serangga beserta peranannya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Parameter yang diteliti adalah data emik dan etik mengenai peranan serangga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat lokal. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur bersama informan yang dipilih secara purposive dan analisis data dilakukan menggunakan teknik cross-checking, summarizing, synthesizing, dan pembuatan narasi secara deskriptif analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Santanamekar mengetahui 20 jenis serangga, di antaranya kukupu (kupu-kupu), papatong (capung), laleur (lalat), nyiruan (lebah), engang (tawon), reungit (nyamuk), kumbang (kumbang), wereng (wereng), walang sangit (walang sangit), kutu kebul (kutu kebul), simeut (belalang), jangkrik (jangkrik), tonggeret (tonggeret), siraru (laron), cucunguk (kecoak), sireum (semut), hileud (ulat), kutu (kutu), undur-undur (undur-undur), dan rinyuh (rayap). Adapun peran serangga yang diketahui masyarakat di antaranya sebagai hama tanaman, polinator, bahan pangan, obat-obatan, permainan rakyat, dan pertanda cuaca. Pengetahuan masyarakat tersebut berasal dari informasi orang tua, pengalaman pribadi, informasi dari orang yang berpengalaman mengenal objek, informasi dari internet, dan buku

    INTERAKSI KEANEKARAGAMAN NGENGAT (LEPIDOPTERA) DENGAN FAKTOR LINGKUNGAN DI EKOSISTEM KAMPUS UNIVERSITAS PADJADJARAN

    No full text
    Ngengat merupakan kelompok paling dominan dalam ordo Lepidoptera, dengan proporsi mencapai 85% dari total spesies yang telah teridentifikasi. Namun, kajian ilmiah mengenai perannya dalam dinamika ekosistem masih terbatas dibandingkan dengan kupu-kupu, terutama di kawasan kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor. Keanekaragaman ngengat yang tinggi mencerminkan kemampuan adaptasinya yang optimal terhadap berbagai faktor lingkungan. Penelitian ini merupakan studi awal untuk mengidentifikasi keanekaragaman ngengat dan keterkaitannya dengan faktor lingkungan. Pengamatan dilakukan pada malam hari menggunakan metode perangkap cahaya di 4 titik pengamatan di ruang terbuka hijau Ciparanje, Kampus Unpad Jatinangor. Sebanyak 13 spesies dari 8 famili berhasil diidentifikasi dari 22 spesimen. Indeks keanekaragaman berada pada kategori sedang (H' = 2,437). Keberadaan ngengat menunjukkan korelasi negatif sangat kuat terhadap jumlah sumber cahaya buatan (-0,95784) dan suhu udara (-0,97154), korelasi positif cukup kuat terhadap kelembapan udara (0,49897), serta korelasi negatif sedang terhadap kecepatan angin (-0,49897). Temuan ini menunjukkan pengaruh nyata faktor lingkungan terhadap distribusi ngengat dan memperkuat potensinya sebagai indikator ekologis di ekosistem kampus Unpad Jatinangor

    KARAKTERISTIK SARANG ORANGUTAN (Pongo pygmaeus, Linnaeus 1760) DI RESORT MENTATAI TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA

    No full text
    Resort Mentatai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya merupakan kawasan alami yang mempunyai fungsi penting sebagai tempat rehabilitasi dan pelepasliaran orangutan yang merupakan spesies yang statusnya terancam punah.Salah satu faktor yang menjadi penyebab menurunnya jumlah populasi orangutan yaitu rusaknya tempat bersarang orangutan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji karakteristik sarang orangutan. Penelitian menggunakan metode survei dengan berjalan menelusuri jalur monitoring orangutan yang telah ditetapkan oleh International Animal Rescue (IAR). Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa ditemukan sebanyak 65 sarang orangutan, dengan karakteristik sarang berdasarkan kelas sarang yaitu kelas A (semua daun masih berwarna hijau) sebanyak 2 sarang, kelas B (warna daun sudah mulai berwarna coklat) sebanyak 36 sarang dan kelas C (daun sudah coklat semua dan terdapat lubang di sarang) sebanyak 27 sarang. Berdasarkan posisi sarang, teridentifikasi sebanyak 19 sarang pada posisi 1 (sarang di pangkal percabangan utama), 40 sarang pada posisi 2 (sarang di tengah atau ujung cabang pohon), 4 sarang pada posisi 3 (sarang di pucuk pohon utama), dan 2 sarang pada posisi 4 (sarang diantara dua pohon atau lebih). Jenis pohon yang paling banyak dijadikan sebagai sarang adalah Syzigium dan Knema dengan famili yang terbanyak dijadikan sarang yaitu Dipterocarpaceae

    KONSERVASI KUPU KUPU DI WILAYAH TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG- BULUSARAUNG MELALUI APLIKASI SELULER

    No full text
    Kupu kupu memiliki manfaat dalam ekosistem yaitu sebagai serangga penyerbuk yang merupakan bagian penting rantai makanandan indikator kesehatan lingkungan. Penelitian bertujuan memantau kehadiran kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul) melalui penggunaan aplikasi seluler. Kegiatan dilakukan pada bulan Juli sampai dengan September 2024,bertempat di Kabupaten Maros ( Bantimurung, Pattunuang) dan Amarae Balocci, Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Penelitianmenggunakan pendekatan campuran antara survei lapangan dan tekhnologi aplikasi seluler. Data dianalisis menggunakan metodeeksploratif deskriptif. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kehadiran kupu-kupu di area di Bantimurung (48 spesies) lebihbanyak dibandingkan dengan di Pattunuang (41 spesies), dan Amarae Balocci (38 spesies). Aplikasi seluler diberi nama The Kingdom of Butterfly. Dirancang untuk diserahkan kepada TN Babul bagian Sanctuary sebagai pengelola selanjutnya. Fiturplatform berupa daftar spesies kupu-kupu, gambar kupu-kupu, tanaman pakan, status konservasi dan distribusi. Aplikasi mampumembuat, menghapus dan mengedit checklist secara online dan offline. Respon pengguna aplikasi melaporkan bahwa antar mukaaplikasi intuitif dan mudah dipahami (85%). Sebanyak 70% responden memahami pentingnya peran kupu-kupu dalam ekosistemsetelah menggunakan aplikasi dan 65% lebih sering memperhatikan kupu-kupu di sekitarnya. Terdapat 75% respondenberkontribusi dalam menjaga lingkungan dan melindungi spesies kupu-kupu dengan melaporkan temuan mereka melalui aplikasi,dan 30% mengeluhkan sulitnya menggunakan aplikasi karena akses internet terbatas

    KEANEKARAGAMAN JENIS SERANGGA POLINATOR (LEPIDOPTERA) DAN SUMBER FOOD PLANT DI TAMAN HUTAN RAYA IR. H. DJUANDA KOTA BANDUNG

    No full text
    Serangga merupakan hewan dominan di permukaan bumi. Peran penting serangga di alam diantaranya sebagai polinator (penyerbuk) untuk mempertahankan keseimbangan ekosistem, termasuk di kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda (Tahura) Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan jenis-jenis serangga yang paling banyak dijumpai sebagai polinator, serta jenis sumber makanan serangga polinator (food plant) di kawasan Tahura. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan pollard walk di sepanjang garis transek pengamatan. Analisis data dilakukan dengan pendekatan kuantitatif untuk menentukan indeks keanekaragaman, frekuensi relatif, dan indeks dominansi. Hasil penelitian di kawasan Tahura teridentifikasi 22 spesies serangga polinator ordo Lepidoptera yang tergolong dalam 20 genera dan 6 famili, dengan indeks keanekaragaman sedang (H’ = 2,833). Jenis polinator yang paling sering dijumpai adalah Prosotas dubiosa (Lycaenidae) (FR=14,29 %). Famili Nymphalidae adalah yang paling dominan dengan jumlah 84 individu; indeks dominansi (C =0,032) tertinggi di tiap famili serangga polinator. Jenis food plant yang teridentifikasi terdiri dari 11 spesies dari 5 famili (Asteraceae, Iridaceae, Acanthaceae, Petiveriaceae, dan Balsaminaceae). Familia Asteracea adalah food plant yang paling sering dikunjungi polinator khususnya dari Famili Nymphalidae (FR=52,32%). Dengan demikian keanekaragaman polinator dan food plant-nya sangat penting untuk terus dipertahankan dalam rangka kelestarian Ekosistem Tahura kota Bandung

    0

    full texts

    182

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇