Ilmu Pertanian (Agricultural Science)
Not a member yet
    560 research outputs found

    Uji Kebenaran Enam Kultivar Cabai Keriting (Capsicum annuum L.)

    Get PDF
    INTISARICabai adalah salah satu sayuran yang paling penting di Indonesia, terutama pada pemanfaatannya yang luas dan bernilai ekonomi tinggi. Permintaan untuk menanam sayuran asal Amerika Selatan ini selalu tinggi, meningkatkan pelaporan praktek-praktek pelanggaran dalam pasokan benih, dalam bentuk sengaja mengurangi atau mengubah kemurnian kultivar,  yang melanggar praktik bisnis yang baik.  Untuk  menanggulangi praktek  pelanggaran seperti  itu, kontrol rutin pada benih yang dijual di tingkat petani perlu dilakukan. Sayangnya, prosedur standar untuk kontrol tersebut belum  tersedia di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk  memberikan prosedur yang dapat dianggap sebagai awalan dan mungkin menjadi pembahasan pada perkembangan selanjutnya.Enam kultivar cabai dikumpulkan dari pasar terbuka.  'Lado',  yang  merupakan produk  populer  dari  East  West  Seed,  diperoleh  dari  pasar  di  Medan  (A1), Makassar (A2), Tangerang (A3), dan Mataram (A4). 'Princess-06', sebuah produk dari PT Benih Inti Subur Intani, diperoleh dari Lembang (B1), Sleman (B2), dan Mataram (B3). Empat kultivar berikutnya adalah produk dari P T Oriental Seed Indonesia. 'OR Charming' diperoleh dari Serang, dan 'OR Twist 22', 'OR Twist 33', dan  'OR  Twist  42'  diperoleh  dari  Magelang.  Dua  lokasi  yang  dipilih  untuk penelitian ini: Krukut, Depok, Jawa Barat, dari bulan Mei hingga Oktober tahun 2012 (+ 90  m dpl) dan Cikole,  Lembang, Jawa Barat, dari bulan Mei hingga November 2012  (+ 1.250  m dpl).  Keseragaman dalam dan di antara sumber-sumber pasar dalam satu kultivar diuji berdasarkan karakter fenotipik kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan karakter yang sama, kesesuaian pada deskripsi dari masing-masing kultivar juga diuji.Keseragaman dalam dan di antara sumber-sumber pasar dari kultivar yang sama terbukti sah, berdasarkan karakter kualitatif maupun kuantitatif. Hasil ini didasarkan  pada  analisis  varians  untuk  sifat  kuantitatif dan didukung dengan analisa komponen utama. Ambang batas untuk sifat kuantitatif, memperhitungkan penyimpangan maksimum 5% dari jumlah sampel.Uji kebenaran deskripsi berdasarkan pada karakter kualitatif menyimpulkan bahwa hampir semua ciri sesuai dengan deskripsi masing-masing kultivar. Beberapa perbedaan diasumsikan sebagai hasil salah tafsir. Namun, pada karakter kuantitatif menunjukkan performa lebih rendah di kedua lokasi, performa diamati untuk semua sampel pada semua variabel kuantitatif dengan hanya sejumlah kecil outlier (pencilan). Hasilnya menimbulkan dugaan bahwa uji performa untuk pendaftaran kultivar dilakukan di bawah lingkungan yang sangat berbeda dengan lingkungan pada penelitian ini, dan hasil ini menimbulkan isu ketidakstabilan.Kata kunci: uji kebenaran deskripsi, cabai, agromorfologi, uji keseragaman

    Menunda kerusakan buah sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen) dengan berbagai lama penyinaran UV-C dan penyimpanan pada suhu rendah

    Get PDF
    ABSTRACTSapodilla (Manilkara zapota (L.) van Royen) is a perishable fruit that exhibits rapid deterioration after harvesting. Low temperature storage has been extensively used to extend the storage life of many fresh commodities, however it is still rarely used for sapodilla. UV-C radiation has been studied for its capability to inhibit fruit ripening and senescence, and hence prolonging the period of fruit salability. This UV-C radiation might be a pre treatment for sapodilla before storage at low temperature. The objective of this research was to extend the storage life of sapodilla fruits by retarding ripening process through UV-C radiation and low temperature storage. Sapodilla fruits were exposed to four levels of UV-C exposure time i.e. 0 (no radiation), 5, 10, and 15 minutes, then stored at room temperature (27,13–28,11oC) and low temperature (16,70–18,13oC). Observations were taken on fruit respiration and ripening, and other related variables. The results showed that there was no interaction between UV-C radiation and storage temperature. The UV-C radiation did not significantly inhibit fruit ripening, thus did not inhibit the fruit senescence and deterioration. Keeping the fruit at low temperature inhibit fruit ripening and prolong its shelf life 6 days longer than those stored at room temperature. Key words : Sapodilla, UV-C radiation, low temperature storage, ripening, deterioration

    Pengaruh Perbedaan Jenis Lahan dan Terapan Budidaya Terhadap Produksi Jambu Air Merah Delima

    Get PDF
    ABSTRACTMerah Delimais considered as superior native variety of water apple in Demak. The fruitis wellknown as the high quality water apple  in theregions. Suitable environment of climate,topography and soil physic chemical properties in Demak make it possible for the fruit to produce more than twice per year with attractive physical appearance of the fruit as redand shiny color, large, sweet, crispy and high economic value. However, researches of Merah Delima water apple were still limited compared to other fruit superior commodities. Therefore, the survey as assessment method of water apple was conducted to identify and study the differences of cultivation, growth and production of the fruits which were cultivated in dryland and paddy fields as specific conditions of Demak regency. The assessmentseries included pre-survey in October 2011 – January 2012 and plant’s observation in March –June 2012 which was a peak season for the fruits. The site locations were chosen purposively ,i.e. in Wonosalam, Demak and Bonang Sub Districts. Inthatcase, water apple tree’s population differences were being the criteria of sites selection. Inpresurvey, as many as 50 farmers were interviewed as respondents with the proportion of consecutive 28 : 14 : and 8 farmers for each Sub District. The plant’s observation included 54 trees which were chosen purposively. ‘Nested design’ was used (3 subdistrict x 2 land types x 3 plants). Basically the cultivation results were compared to Water Apple Standard Operating Procedures (SOP) issued by Demak Agriculture Services. Parameters observed in the survey involved physical and chemical properties of soil, microclimate, growth, production and quality of water apple. The results showed that water apple cultivation applied statuses in dry and paddy field were only in low and medium, based on Water Apple Standard Operating Procedures (SOP). Infact, there were significant interaction effect between land types and cultivation applied as well as between the land types and cultivation applied in Merah Delima Water Apple production. Water Apple cultivation in surjan system or integrated with fish – farming system were less suitable since most of the time the roots were under anaerobic condition. Water apple cultivationis more suitable in flat land within termittent irrigation system since soil moisture was not relatively high. In Grumosol soi ltype, available soil moisture is considered as one of soil physical properties that has negative significant effect for Merah Delima water apple production, both in dry land and paddy field. In that case, the higher available soil moisture the lower water apple Merah Delima production.Key words: Merah Delima Water apple, cultivation, dry land, paddy field, Demak SubDistric

    Pertumbuhan dan Hasil Tiga Varietas Alfalfa (Medicago sativa L.) dengan Perlakuan Tiga Macam Rhizobium pada Media Tanam Regosol Asal Banguntapan

    Get PDF
    ABSTRACTDifferent alfalfa varieties type of Rhizobium (a side of Rhizobium meliloti) affect to root nodule formation that will have an influence on the growth and yield quality of alfalfa. The rare presence of Rhizobium meliloti so it need to look for other potential rhizobium  expected  to  form  root  nodules  of  alfalfa.  The purpose  of  this research is to study  the interaction of  the three varieties of  alfalfa inoculated with different type of rhizobium on growth and quality of alfalfa yield of the first cut.The experiment was conducted using a completely randomized design with factorial experiment in March to June 2012 in the Green House Laboratory of Forage and Pasture Feed Faculty of Animal Husbandry Gadjah Mada University. Data measurements and observations were done on growth parameters and the quality of the results and were analyzed by analysis of variance with a completely randomized design, and followed by Duncan's multiple range test level 5%. Regression correlation analysis performed to determine the relationship between two variables to determine the effect of growth and quality of alfalfa yield.The results showed that various rhizobium inoculated on Multiking 1, Vernal and Common failed and the unable to form viable root nodules. Several physiological   parameters such as growth and photosynthetic rate, net assimilation rate and relative growth rate, showed significant differences between the combination treatment. Generally indicates that all combinations of treatments have relatively high levels of khlorofil, value between 1 to 3.3. Quality nutrients such as crude protein, crude fat, crude fiber, ash content and energy digestibility Variety Multiking 1, Vernal and Common are not significantly different. Nutritional quality and in vitro digestibility of Multiking1, Vernaland Common are not significantly different.Keywords: alfalfa varieties, type of rhizobium, growth, quality of yield, and in vitro digestibilit

    Ekspresi Daya Hasil dan Beberapa Karakter Agronomi Enam Padi Hibrida Indica di Lahan Sawah Berpengairan Teknis

    Get PDF
    INTISARIPenelitian untuk mengkaji ekspresi daya hasil dan beberapa karakter agronomi enam  padi hibrida indica di  lahan sawah berpengairan teknis yaitu : Bioibrd-1, Bioibrd-2, Bioibrd-3, Bioibrd-4, Bioibrd-5, Bioibrd-6, dan  empat varieties pembanding yaitu : Ciherang, Sintanur, Inpari 6 dan Inpari 14 dilaksanakan di Wirokerten, Banguntapan, Bantul dari bulan November 2012 hingga bulan  Maret 2013.  Percobaan dirancang sesuai dengan rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Bibit berumur 17 hari ditanam dengan satu bibit per lubang tanam pada petak berukuran 4  x 5 m2. Pemupukan pada pesemaian dilakukan tiga kali, sedangkan selama pertumbuhan dilakukan empat kali pemupukan. Data mengindikasikan bahwa Bioibrd-3, Bioibrd-1, dan Bioibrd-4, merupakan tiga padi hibrida terbaik berturut-turut menghasilkan gabah sebesar 8,6; 8,5; dan 8,3 t/ha, memberikan heterosis baku sebesar 14,67; 13,33; dan 10,67  % terhadap. varietas pembanding terbaik Inpari-14 (7,5 t/ha), dengan produktivitas per hari masing-masing sebesar  95,55; 91,89; dan 91,01  kg/ha/hari, dan persen di atas pembanding terbaik masing-masing sebesar 23,58; 18,84; dan 17,71%. Jumlah gabah isi per malai dari Bioibrd-3, Bioibrd-1, dan Bioibrd-4 berturut-turut sebanyak 250,5; 240,7; dan 231,0  butir.  dan secara nyata lebih banyak bila dibandingkan dengan Inpari-14 (189,4 butir). Bioibrd-3, Bioibrd-1, dan Bioibrd-4, dengan bobot 1000-butir masing-masing  29,8; 28,2; dan 28,4 gram secara nyata lebih berat bila dibandingkan dengan secara nyata lebih berat bila dibandingkan dengan Inpari 14 (27,0 gram).Key words : keragaan, karakter agronomi, enam padi hibrida, japonica, genotype, sawah berpengairan tekni

    Studi Ketahanan Melon (Cucumis melo L) Terhadap Layu Fusarium Secara In Vitro dan Kaitannya dengan Asam Salisilat

    Get PDF
    INTISARILayu fusarium adalah penyakit utama melon yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. melonis (Fom). Pemuliaan tanaman secara in-vitro melalui variasi somaklonal telah digunakan selama beberapa dekade untuk  perbaikan karakter ketahanan tanaman.  Asam salisilat diketahui sebagai salah satu senyawa yang berperan penting terhadap ketahanan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi optimal dari asam fusarat yang dapat digunakan untuk tujuan skrining ketahanan layu fusarium secara in-vitro, mendapatkan tanaman tahan melalui seleksi in-vitro dan mengetahui hubungan kandungan asam salisilat dengan ketahanan tanaman melon terhadap layu fusarium. Kalus lima galur melon dipaparkan pada empat konsentrasi asam fusarat yaitu 0 ppm, 15 ppm, 30 ppm, dan 60 ppm. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan kalus melon pada media dengan konsentrasi 0 dan 15 ppm tidak berbeda, penurunan pertumbuhan kalus mulai terlihat pada konsentrasi 30 ppm dan berlanjut pada konsentrasi 60 ppm. Galur paling tahan adalah galur M-21, sedangkan galur yang paling responsif saat regenerasi adalah galur M-13. Pertumbuhan kalus pada media seleksi dipengaruhi oleh genotipe masing-masing. Kalus yang mampu beregenerasi dan menghasilkan plantlet kemudian dinyatakan sebagai plantlet yang tahan pada tingkat in-vitro. Tanaman tahan memiliki kandungan asam salisilat alami (endogenous) lebih tinggi.Kata kunci: Fusarium oxysporum f.sp. melonis, Cucumis melo L., asam  fusarat, skrining  in- vitro, asam salisilat, ketahanan

    Pengaruh Perbedaan Benih Asal Pertanian Organik dan Konvensional Terhadap Sifat Fisiologis dan Hasil Padi Organik Kultivar Lokal dan Unggul

    Get PDF
    ABSTRACTThe farmers involved in Organic farming have many problems, particularly in agriculture, in terms of the provisions dealing with the cultivation of organic food which refers to SNI 6729 in 2010 in which the seed used must come from organic farming itself. In addition to the seed, organic farming requires a suitable varieties for organic conditions, suspected nutrient deficiencies, while special varieties are produced  to organic land  is  not  yet  available.  Research  done “The Effect  of differences seed origin in organic and conventional farming on the physiological and yield organic rice of local cultivars (Mentik Wangi Susu) and superior (IR-64)". The research conducted at greenhouse K.P.   Tridharma Faculty of Agriculture. University of Gadjah Mada, Yogyakarta from March to August 2012. The research aimed (1) to  study the effect of seed to the physiological properties, and yield of organic rice on local varieties and superior (2) to determining a good seed for rice varieties organically grown. Research design by randomized block consist two factors with 5 replications, the first factor is the cultivar i.e. local cultivars (Mentik Wangi Susu (M)) and superior cultivars (IR 64 (I)), the second is the seed used i.e. the seeds of organic farming (O) and seeds of conventional (K).  Data  were  analyzed,  if  there  is  a  significant  difference  continued  with Duncant multiple range test at 5% level. The results showed that there was no differences between organic and  conventional   seeds to the physiological properties and yield of organic rice on local cultivars (Mentik Wangi Susu) and superior (IR 64). Local cultivars (Mentik Wangi Susu) has higher grain yield per hill than superior (IR-64).Key  words   :   organic   rice,   local   cultivar,   superior   cultivar,   physiological properties, yiel

    Induksi Haploid Ganda pada Padi Japonica (Oryza sativa L. spp. Japonica), Indica (Oryza sativa L. ssp. Indica), dan Hibrida Japonica x Indica

    Get PDF
    INTISARIKultur anter digunakan untuk mendapatkan galur homozigot secara cepat dan meningkatkan efisiensi seleksi. Japonica secara umum relatif mudah dikulturanterkan, berkebalikan dengan indica yang bersifat rekalsitran. Penelitian ditujukan untuk mendapatkan  komposisi  media  dan  praperlakuan  yang  sesuai  untuk  kultur  anter japonica  dan  indica,  mengetahui  pengaruh  latar  belakang  kelompok  genetik  padi terhadap induksi haploid, dan mengintroduksi sifat responsif terhadap kultur anter dari japonica melalui persilangan ke dalam indica yang rekalsitran. Penelitian dilakukan mulai bulan Januari 2009 sampai dengan Desember 2012 di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman PT BISI International Tbk, Kediri, Jawa Timur. Sembilan genotipe digunakan sebagai sumber anter pada penelitian yang mewakili japonica, indica dan F1 hasil japonica dengan indica.Praperlakuan malai pada suhu 40C selama 8 hari, menggunakan modifikasi N6 + NAA 2 ppm + kinetin 0,5 ppm + sukrosa 54 g/L + putrescin 0,1644 g/L + Phytagel 2,5 g/L dapat digunakan pada    hibrida hasil persilangan japonica dengan indica. Praperlakuan malai pada suhu 40C selama 9 hari menggunakan media modifikasi N6 + 2,4-D 2,5 ppm + kinetin  0,5 ppm + AgNO3 10 ppm + maltosa 40 g/L + Phytagel 2,5 g/L dan modifikasi N6+ 2,4-D 2,5 ppm + kinetin 0,5 ppm + maltosa 50 g/L + AgNO3 10 ppm + Phytagel  2,5 g/L dapat digunakan untuk meningkatkan pembentukan kalus pada japonica dan beberapa genotipe indica. Lima galur haploid ganda berhasil diperoleh dari hasil persilangan ‘Ciuhao’ dan ‘Basmati’. Persilangan antara japonica dan indica efektif untuk meningkatkan respon hibrida terhadap media kultur anter dan memiliki peluang lebih tinggi untuk mendapatkan tanaman haploid ganda dibandingkan dengan tetua indica-nya.Kata kunci : Oryza sativa L., kultur anter, haploid gand

    Pengaruh Vernalisasi Umbi Terhadap Pertumbuhan, Hasil, dan Pembungaan Bawang Merah (Allium cepa L. Aggregatum group) di Dataran Rendah

    Get PDF
    INTISARIBiji  bawang  merah  sebagai  bahan  tanam  memiliki  posisi   strategis beberapa tahun terakhir. Meskipun demikian, kemampuan berbunga tanaman bawang merah cukup terbatas khususnya pada penanaman di dataran rendah. Di dataran  rendah,  jumlah  tangkai  bunga  yang  dihasilkan  per  individu  tanaman sangat terbatas. Beberapa hasil penelitian sebelumnya memberikan informasi bahwa perlakuan vernalisasi mampu meningkatkan pembentukan bunga pada tanaman bawang merah, khususnya pada penanaman di dataran tinggi. Pada penanaman bawang merah di dataran rendah, informasi mengenai pengaruh perlakuan vernasilasi terhadap kemampuan berbunga hingga saat ini belum ada. Oleh karena itu, penelitian terkait hal tersebut cukup penting untuk dilakukan. Tujuan penelitian adalah 1) mengidentifikasi pengaruh lama vernalisasi terhadap pertumbuhan, pembungaan serta hasil umbi dan biji bawang merah dan 2) menentukan lama vernalisasi yang optimum untuk meningkatkan pertumbuhan, pembungaan serta hasil umbi dan biji bawang merah.  Penelitian dilaksanakan di Kebun Tridharma Fakultas Pertanian UGM, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta dari bulan Oktober 2011 – Januari 2012. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok  lengkap  faktorial  dengan  3  blok  sebagai  ulangan.  Faktor  pertama adalah varietas yaitu: Katumi, Biru, Bima dan Tiron. Faktor kedua adalah lama vernalisasi yaitu tanpa vernalisasi, vernalisasi selama 4 minggu, 5 minggu, dan 6 minggu. Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, jumlah umbi, diameter umbi, berat segar, dan berat kering jemur umbi. Analisis pertumbuhan meliputi indeks luas daun, laju asimilasi bersih, laju pertumbuhan tanaman, dan indeks panen. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa lama vernalisasi yang optimal untuk peningkatan berat segar umbi varietas Bima adalah 12-13 hari, dengan indikasi peningkatan berat segar umbi hingga mencapai 14,47 g. Berat kering umbi terbaik dihasilkan oleh varietas Bima (6,00 g) dengan lama vernalisasi 13-14 hari. Pembungaan tidak terjadi pada semua perlakuan  yang diuji sehingga dapat disimpulkan bahwa perlakuan vernalisasi tidak mampu menginduksi pembungaan pada tanaman bawang merah yang ditanam di dataran rendah yang dikarenakan faktor lingkungan (suhu, angin) rata- rata cukup tinggi dan panjang penyinaran yang rendah pada saat penelitian berlangsung.Kata kunci : bawang merah, varietas, vernalisasi, pembungaan

    Morphogenetic Variation of Shallot (Allium cepa L. Aggregatum Group)

    Get PDF
    ABSTRACTThere are many shallot cultivars cultivated in Java with varying greatly morphological traits and yield. Morphological and yield variation indicate that there are genetic variation and varying in resistance to pest and disease. One of major disease that cause yield losses of shallot is Fusarium Basal Rot (FBR) caused by Fusarium oxysporum f. sp. cepae (Foc). The pathogen could cause yield losses of shallot in field up to 90%.The number of sixteen shallot cultivars were collected and studied for determining polymorphisms of nuclear based on Random Amplified Polymorphism DNA (RAPD) and the morphological traits. Potted research was conducted at greenhouse from December to February 2012, in Department of Agriculture, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Four shallot cultivars were selected for study the response to Foc under biofertilizer application. They were Kuning, Trisula, Tiron, and Crok cultivars. The field experiment was carried out from June to August 2012 at the Agricultural Training, Research and Development Station (ATRD/KP4) in Kalitirto, Sleman, Yogyakarta. The research design was split plot 4 x 4, with three replications. The plots consisted of shallot which cultivated in Foc inoculation, biofertilizer application, combination of Foc inoculation and biofertilizer application, and without any treatments. The subplot consisted of shallot cultivars. All data were statistically analyzed using the variance analysis. Standard error was tested to determine the significant differences among treatment means.Similarity coefficient among shallot cultivars as revealed by UPGMA cluster analysis of RAPD markers generated to molecular dendogram. The similarity of genetic dendogram ranged from 0.85 to 0.66 and separated of cultivars into two groups. Based on morphological analysis, there were variations of all variable that tested. Mophological dendogram made possible to identify four group.Fusarium Basal Rot (FBR) incidence caused by seedborne was 6.94%. Biofertilizer application could not decrease significantly FBR incidence but it could increase number of bulb per plant in Crok and Kuning cultivars. FBR incidence with 43.75% caused by Foc inoculation was significantly decreasing plant height, number of bulbs, diameter of bulbs, and length of bulbs. However, yield of shallot decreased significantly  from  1.05  kg/m2 to  0.63  kg/m2 when  the  shallot  plantation  was inoculated by Foc. The shallot plantation was inoculated by Foc under biofertilizer application did not show significantly decreasing FBR incidence and increasing the yield. FBR incidence and yield of Trisula, Crok and Tiron cultivars did not show difference significantly from Kuning cultivar as susceptible to Foc.Key words: cultivar, shallot, RAPD, Fusarium oxysporum f. sp. Cepae (Foc), biofertilize

    270

    full texts

    560

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Ilmu Pertanian (Agricultural Science)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇