JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
ANALISIS BIOMASSA MANGROVE DAN INDEKS NILAI PENTING DI DESA RATATOTOK TIMUR KABUPATEN MINAHASA TENGGARA PROVINSI SULAWESI UTARA
Mangrove forest is an ecosystem that lives in coastal areas and has muddy substrates and river mouths influenced by seawater and it is able to live in areas with high salinity ranges. Mangroves absorb CO2 during photosynthesis, then convert it into carbohydrates by storing it in biomass in, roots, and leaves. This study aimed to identify mangrove species, examine the structure of the mangrove community, analyze the importance value index, and determine the value of mangrove biomass in East Ratatotok Village, Southeast Minahasa Regency, North Sulawesi Province. The method used in this study is the quadrant line transect method which examines the importance value index and the amount of biomass in mangroves using a mangrove biomass determination algorithm. Based on the results of this study, four types of mangroves were found, namely Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculate, Ceriops tagal, and Sonneratia alba. The type of R. mucronata dominates the mangrove species in East Ratatotok, Southeast Minahasa Regency. The analysis results of East Ratatotok mangrove biomass values are quite high, ranging from 113.15 to 239.03 tons/ha.Keywords: Mangrove, IVI, Biomass, East RatatotokABSTRAKHutan mangrove merupakan suatu ekosistem yang hidup di daerah pesisir pantai dan memiliki substrat berlumpur, muara sungai yang dipengaruhi oleh air laut serta dapat hidup di daerah dengan rentang salinitas yang tinggi. Mangrove menyerap CO2 pada saat proses fotosintesis, kemudian mengubahnya menjadi karbohidrat dengan menyimpannya dalam bentuk biomassa pada akar, batang, ranting, dan daun Tujuan dari penelitian ini, yaitu untuk mengidentifikasi jenis mangrove, mengkaji struktur komunitas mangrove dan menganalisis indeks nilai penting serta mengetahui nilai biomassa mangrove di Desa Ratatotok Timur, Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode garis transek kuadrat yang meneliti indeks nilai penting dan jumlah biomassa pada mangrove menggunakan algoritma penentuan biomassa mangrove. Berdasarkan hasil penelitian ini, ditemukan 4 jenis mangrove yaitu Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Ceriops tagal, dan Sonneratia alba. Jenis R. mucronata mendominasi jenis-jenis mangrove yang di Ratatotok Timur Kabupaten Minahasa Tenggara. Hasil analisis nilai biomassa mangrove Ratatotok Timur cukup tinggi berkisar antara 113.15 hingga 239.03 ton/ha.Kata kunci: Mangrove, INP, Biomassa, Ratatotok Timu
UJI AKTIVITAS ANTI ULTRAVIOLET EKSTRAK TERIPANG Holothuria atra, Holothuria scabra SERTA Synapta maculata DARI PANTAI TONGKAINA KECAMATAN BUNAKEN KOTA MANADO
Anti-UV compounds are compounds used for making sunscreen or sunscreen/sunblock that can absorb sunlight. Several classes of antioxidant active compounds such as cinnamates, flavonoids, tannins, quinones, and others have been studied to have the ability to protect the skin from UV rays. The purpose of this study was to determine the anti-UV substance of extracts of three types of sea cucumbers H. atra, H. scabra and S. maculata. This test was conducted using spectrophotometric analysis method using UV-Vis spectrophotometer. Spectrophotometer is a tool used to measure energy relatively if the energy is transmitted, reflected or emitted as a function of wavelength. The results of the anti-UV activity test showed that the three sea cucumbers were able to absorb UV A at 320-400 nm. From this study it can be concluded that sea cucumbers have the potential as anti-UV. It is suggested that it can be further researched with the purification stage.
Keywords: Sea cucumber, Holothuria atra, Holothuria scabra, Synapta maculata, anti-UV
ABSTRAK
Senyawa anti UV adalah senyawa yang dipakai untuk bahan pembuatan tabir surya atau sunscreen/sunblock yang memiliki kemampuan untuk menyerap sinar matahari. Adapun beberapa golongan senyawa aktif antioksidan seperti sinamat, flavonoid, tanin, kuinon, dan lain-lain telah diteliti memiliki kemampuan untuk melindungi kulit dari sinar UV.Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan substansi anti UV ekstrak ketiga jenis teripang H. atra, H. scabra dan S. maculata. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis spektrofotometri dengan memakai alat spektrofotometer UV-Vis. Spektrofotometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Hasil penelitian uji aktivitas anti UV menunjukan bahwa ketiga teripang mampu menyerap UV A pada 320-400 nm. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa teripang laut berpotensi sebagai anti-UV. Disarankan agar dapat diteliti lebih lanjut dangan tahap pemurnian.
Kata kunci : Teripang laut, Holothuria atra, Holothuria scabra, Synapta maculata, anti-U
STRUKTUR KOMUNITAS PADANG LAMUN DI PERAIRAN DESA BAJO KECAMATAN SANANA UTARA KABUPATEN KEPULAUAN SULA PROVINSI MALUKU UTARA
The purpose of this study was to determine the types of seagrass found in the waters of BajoVillage.determine the value of diversity, uniformity, dominance and IVI of seagrass in the waters. Thisresearch was conducted in the watersBajo Village, North Sanana District, Sula Islands Regency, NorthMaluku in October 2022. The research method used in this research is the quadratic transect method.This method consists of 2 sampling stations which are about 400 meters apart. The transect line isdrawn perpendicular from the beach to the sea for 100 m and then placed on the right side of thetransect line. The distance between one square and another is 10 m so that the total squares on eachtransect are 11. Data collection was carried out 3 times with a distance of 50 m from the first transectline to another transect line which was carried out in 2 stations. From this method the types of seagrassfound in Bajo Village Waters areT. hemprichii, C. rotundata, E. acoroides, H. pinifolia, H. minor, H.uninervis, and C. serrulata. It is known that the highest seagrass Important Value Index at Station 1 isobtained from seagrass speciesC. rotundataand the lowest in seagrass speciesH. pinifolia, and atstation 2 the highest IVI was found in seagrass speciesE.acoroidsand the lowest on seagrass speciesH.uninervis. The results of measuring the diversity index at station 1 obtained a value of 1.60, and forstation 2 a value of 0.95 was obtained. 2 for 0.17 with, and the dominance value generated at station 1is 0.30 and for station 2 is 0.70 which characterizes the absence of a dominant species.Keywords: Seagrass Community Structure, Bajo Village Waters
ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui jenis jenis lamun yang ditemukan di perairanDesa Bajo. mengetahui nilai keanekaragaman, keseragaman, dominansi dan INP lamun di perairan.Penelitian ini dilakukan di perairan Desa Bajo Kecamatan Sanana Utara Kabupaten Kepulauan SulaMaluku Utara pada bulan Oktober 2022. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalahmetode transek kuadrat, Dalam metode ini terdiri dari 2 stasiun pengambilan sampel yang memilikijarak sekitar 400 meter. Garis transek ditarik tegak lurus dari pantai menuju laut sepanjang 100 mkemudian diletakkan di sisi kanan garis transek. Jarak antar kuadrat satu dengan yang lainnya adalah10 m sehingga total kuadrat pada setiap transek adalah 11. Pengambilan data dilakukan sebanyak 3kali pengulangan dengan jarak 50 m dari garis transek pertama menuju garis transek lainnya yangdilakukan dalam 2 stasiun. Dari metode tersebut jenis lamun yang ditemukan pada Perairan Desa Bajoyaitu T. hemprichii, C. rotundata, E. acoroides, H. pinifolia, H. minor, H. uninervis, dan C. serrulata.Diketahui bahwa Indeks Nilai Penting lamun tertinggi pada Stasiun 1 didapatkan pada jenis lamun C.rotundata dan terendah pada jenis lamun H. pinifolia, dan pada stasiun 2 INP tertinggi di temukapanpada jenis lamun E. acoroides dan terrendah pada jenis lamun H. uninervis. Hasil pengukuran indekskeanekaragaman pada stasiun 1 diperoleh nilai sebesar 1,60, dan untuk stasiun 2 di peroleh nilaisebesar 0,95 indeks keseragaman tergolong pada keseragaman yang stabil dengan di peroleh nilaiindeks keseragaman pada stasiun 1 menggambarkan hasil sebesar 0,14 dan pada sasiun 2 sebesar0.17 dengan, dan nilai dominansi yang dihasilkan pada stasiun 1 sebesar 0,30 dan untuk stasiun 2sebesar 0.70 yang mencirikan tidak adanya jenis yang dominan.Kata kunci : Struktur Komunitas Lamun, Perairan Desa Bajo
 
DAYA TARIK Dugong dugon SEBAGAI POTENSI WISATA DI KAWASAN PERAIRAN DESA ARAKAN KABUPATEN MINAHASA SELATAN
Arakan village has great potential and opportunities in the field of tourism and as a touristattraction, so it is necessary to follow up with the management of the Dugong tourist attraction in thewaters of Arakan village. The problem formulated in this study is how to develop dugong tourismpotential inthe watersof Arakanvillage. This studyuseddescriptivemethod. Dataretrieval carriedoutinthis study was to directly visit the research site in Arakanvillage and in Arakan waters to makeobservations about the attraction of Dugong as tourism potential in Arakan village. Dugong orcommonly known by the locals as duyung is one of 35 species of marine mammals found in Indonesianwaters, especially in seagrass habitats. In this study, it was found that the attraction of Dugong as atourism potential in the waters of the Arakan village, the South Minahasa regency, North Sulawesiprovince, although it is only of particular interest to Dugong lovers. From observations made throughthis study, twodugongs were found in the Kolam Dugong area in the waters of Arakan village in aseagrasshabitat of 176.25 ha.Keywords: Dugong, Arakan Village
ABSTRAKDesa Arakan memiliki potensi dan peluang yang besar dalam bidang pariwisata dan sebagaisalah satudayatarik wisata makaperluditindaklanjutidenganpengelolaan dayatarikwisata Dugong dikawasan perairan desa Arakan dan masalah yang dirumuskan dalam penelitianini adalahbagaimanamengembangkan potensi wisata dugong di kawasan perairandesa Arakan. dengan menggunakanmetode deskriptif. Pengambilan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan mengunjungilangsung tempat penelitian di desa Arakandan di perairan Arakan serta melakukan pengamatantentang daya tarik Dugong sebagai potensi wisata di desa Arakan. Dugong atau biasa dikenal dengannama duyung merupakan satu dari 35 jenis mamalia laut yang dijumpai yang tersebar di perairanindonesia, khususnyadi habitat padang lamun. Pada peneltian ini didapati daya tarik Dugong sebagaipotensi wisata di peraiaran desa Arakan kecamatan Tatapan kabupaten minahasa selatan provinsisulawesi utara, walaupun hanya diminati secara khusus oleh pencinta Dugong. Dari pengamatan yangdilakukan malalui penelitian ini di jumpai 2 hewan Dugong di area kolamDugong perairan desa Arakanpada habitat lamun seluas 176,25 ha.
Kata Kunci: Dugong, Desa Araka
IDENTIFIKASI SAMPAH ANORGANIK DI PESISIR PANTAI BITUNG KARANGRIA KECAMATAN TUMINTING KOTA MANADO
Inorganic waste refers to waste or refuse generated from various processes, which cannot naturally decompose and generally require a very long time for breakdown. The method used for data collection follows the shoreline survey methodology. The research was conducted along a line transect, with a length of 100 meters and a width of 5 meters on each side, and observers walked along the transect line. The study was carried out over a span of 2 months. The observation transect line began perpendicular to the coastline, covering a length of 100 meters and a width of 5 meters on each side, resulting in an area of 100 x 10. This area was meant to represent the research site. Based on the research findings, the total quantity of inorganic waste collected was 305 pieces per 1000 square meters (3,050 pieces per hectare). The most commonly found type of waste was plastic, with 151 pieces per 1000 square meters (1,510 pieces per hectare), accounting for 49.5%. The research results revealed that the heaviest waste category was glass, weighing 2,793 pieces per 1000 square meters (27,930 pieces per hectare), making up 62.5% of the total.Keywords: Inorganic Waste, Coastal, Bitung KarangriaABSTRAKSampah anorganik adalah sampah atau limbah yang dihasilkan dari berbagai macam proses, dimana jenis sampah ini tidak akan bisa terurai oleh bakteri secara alami dan pada umumnya akan membutuhkan waktu yang sangat lama dalam proses penguraiannya. Metode yang digunakan untuk pengambilan data yakni metode shoreline survey methodology. Penelitian dilakukan pada line transect, dengan Panjang 100 meter dan lebar masing-masing 5 meter ke arah kiri dan ke kanan dan pengobservasi berjalan kaki sepanjang transek garis. Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan, Jalur transek pengamatan dimulai dengan arah tegak lurus pesisir pantai sepanjang 100 meter dan lebar 5 meter dengan diameter 100 x 10, dimana jalur transek tersebut harus mewakili wilayah penelitian. Berdasarkan hasil penelitian sampah Anorganik yang didapatkan secara keseluruhan total jumlah sampah adalah 305 pot/1000m2 (3.050 Pot/ Ha). Jenis sampah plastik merupakan jenis yang paling banyak ditemukan sebanyak 151 pot/1000m2 (1.510 Pot/Ha) dengan presentase 49.5%. Hasil Penelitian berat bobot sampah yang pertama adalah sampah kaca dengan berat 2793 pot/1000m2 (27.930 Pot/Ha) dengan persentasi 62.5%.Kata Kunci: Sampah Anorganik, Pesisir Pantai, Bitung Karangri
KESESUAIAN WISATA PANTAI UNTUK REKREASI DI PANTAI LAKBAN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA
The beach is an area that lies between the ocean and the terrestrial, which is strongly influenced by the tides. The beauty of the beach and the unique biota that live on the beach have long been a tourist attraction. Beaches are generally known as attractive tourist destinations, especially for mass tourism and recreation. However, the use of the beach for tourism purposes must pay attention to the sustainability of resource use, ecosystem balance, and environmental sustainability. Tourism activities carried out in nature, including in coastal areas, must be carried out with due regard to environmental conditions so that resources remain sustainable and balanced, and support the sustainable use of these resources for tourism purposes. Therefore, if a coastal area is to be developed as a destination or tourist spot, it is necessary to assess the suitability of coastal resources whether or not they are suitable for use as environmental services in the tourism sector, or whether certain strategies are required so that coastal resources remain sustainable. The purpose of this study is to assess the suitability of beach tourism for recreation at Lakban Beach, Southeast Minahasa Regency based on the calculation of the Tourism Suitability Index. Data was collected through direct measurements and observations in the field of ten parameters, which include beach type, beach width, depth, beach slope, fresh water availability, water base material, current, brightness, land cover, and dangerous biota. Data is analysed using the Tourism Suitability Index. The results showed that the Suitability of Beach Tourism for Recreation at Lakban Beach is in the Very Suitable category. However, it should be noted that there is some dangerous biota that live in the coastal waters.Keywords : Lakban Beach, Eco marine tourism, sutainaibility
ABSTRAKPantai merupakan daerah yang terletak di antara lautan dan daratan yang sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Keindahan pantai dan keunikan biota yang hidup di pantai sudah lama menjadi daya tarik wisatawan. Pantai umumnya dikenal sebagai tujuan wisata yang menarik, terutama untuk pariwisata dan rekreasi massal. Namun pemanfaatan pantai untuk tujuan wisata harus memperhatikan kelestarian pemanfaatan sumber daya, keseimbangan ekosistem, dan kelestarian lingkungan. Kegiatan kepariwisataan yang dilakukan di alam, termasuk di kawasan pesisir, harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi lingkungan agar sumber daya tetap lestari dan seimbang, serta mendukung pemanfaatan sumber daya tersebut secara berkelanjutan untuk tujuan wisata. Oleh karena itu, jika kawasan pesisir akan dikembangkan sebagai destinasi atau tempat wisata, maka perlu dikaji kesesuaian sumber daya pesisir apakah layak atau tidak untuk dimanfaatkan sebagai jasa lingkungan di sektor pariwisata, atau diperlukan strategi tertentu untuk itu. agar sumber daya pesisir tetap lestari. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji kesesuaian wisata pantai untuk rekreasi di Pantai Lakban Kabupaten Minahasa Tenggara berdasarkan perhitungan Indeks Kesesuaian Wisata. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran dan pengamatan langsung di lapangan terhadap sepuluh parameter yang meliputi tipe pantai, lebar pantai, kedalaman, kemiringan pantai, ketersediaan air tawar, material dasar perairan, arus, kecerahan, tutupan lahan, dan biota berbahaya. Data dianalisis menggunakan Indeks Kesesuaian Pariwisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kesesuaian Wisata Pantai Untuk Rekreasi di Pantai Lakban berada pada kategori Sangat Sesuai. Namun perlu diperhatikan bahwa ada beberapa biota berbahaya yang hidup di perairan pesisir.Kata kunci: Pantai Lakban, Kesesuaian Wisata la
PENGARUH TIMBAL ASETAT (Pb (CH3COO)2) TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROALGA LAUT Nannochloropsis oculata
Microalgae are simple unicellular or multicellular microorganisms that are able to bind CO2 andcan absorb solar energy for the process of photosynthesis so that microalgae can convert inorganiccompounds into organic compounds. The organic compounds contained in microalgae arecarbohydrates, proteins, nucleic acids, and fats. The purpose of this study was to determine the growthand density of the microalgae Nannochloropsis oculata from the start of the culture to the exponentialphase and then proceed with the administration of lead acetate with 3 different concentrations. Thedensity of microalgae cells from the beginning of the culture to the exponential phase was on the 11day of observation. In the exponential phase, microalgae gave lead acetate treatment to 3 containerswith concentrations of 30 ppm, 50 ppm, 80 ppm and 1 control container without treatment. The growthof Nannochloropsis oculata cell density with lead acetate administration experienced a decrease ingrowth when compared to the control container (without lead acetate treatment).Keywords: Microalgae, Nannochloropsis oculata, Lead Acetate
ABSTRAKMikroalga merupakan mikroorganisme uniseluler atau multiseluler sederhana yang mampumengikat CO2 dan dapat menyerap energi matahari untuk proses fotosintesis sehingga mikroalga dapatmengubah senyawa anorganik menjadi senyawa organik. Senyawa organik yang terkandung dalammikroalga yaitu karbohidrat, protein, asam nukleat, dan lemak. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui pertumbuhan dan kepadatan mikroalga Nannochloropsis oculata dari awal kultur sampaipada fase eksponensial kemudian dilanjutkan dengan perlakuan pemberian timbal asetat dengan 3konsentrasi yang berbeda. Kepadatan sel mikroalga dari awal kultur sampai pada fase eksponensialyaitu pada hari ke-11 pengamatan. Pada fase eksponensial, mikroalga diberikan perlakuan timbalasetat ke dalam 3 wadah dengan konsentrasi 30 ppm, 50 ppm, 80 ppm serta 1 wadah kontrol tanpaperlakuan. Pertumbuhan kepadatan sel Nannochloropsis oculata dengan pemberian timbal asetatmengalami penurunan pertumbuhan jika dibandingkan dengan wadah kontrol (tanpa perlakuan timbalasetat).
Kata kunci : Mikroalga, Nannochloropsis oculata, Timbal Aseta
STATUS TERUMBU KARANG DI PANTAI MALALAYANG DUA KOTA MANADO SULAWESI UTARA
Coral reefs are a type ecological ecosystem found in the tropical shallow oceans, with rock coral as the main constituent element and a variety of many other biota living alongside it. While corals are invertebrate animals that belong to the Phylum Coelenterata (hollow animals) or Cnidaria a collection of millions of polyp animals that produce lime (CaCO3). The underwater photo transect (UPT) method makes use of recent developments in technology, including digital camera and computer software. Data can be retrieved in the field by capturing underwater images with a camera that has a waterproof and an excellent or high image resolution. In this study showed the percentage value of living corals at Research Site 1 which is 41.90%. Then at the Research Site 2 value the percentage of live coral cover 19.10%. Overall, the percentage of live coral cover on Malalayang Dua Beach in Manado City, North Sulawesi, is 30,50% of the existing coral reef area of ±820 m2, finally putting to place the condition of the coral reefs on the beach in the Medium category.
Keywords: Live Coral Cover, Underwater Photo Transect (UPT), Coral Reef Condition, Malalayang Beach.
ABSTRAK
Terumbu karang adalah suatu eksosistem di laut dangkal tropis, dimana unsur penyusun utamanya karang batu, dengan berbagai biota lainnya yang hidup berasosiasi di dalamnya. Sedangkan Karang adalah hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam Filum Coelenterata (hewan berongga) atau Cnidaria yang merupakan kumpulan dari berjuta-juta hewan polip yang menghasilkan bahan kapur (CaCO3). Metode transek foto bawah air (Underwater Photo Transect=UPT) merupakan metode yang memanfaatkan perkembangan teknologi, baik perkembangan teknologi kamera digital maupun teknologi piranti lunak komputer. Pengambilan data di lapangan berupa foto-foto bawah air yang dilakukan dengan pemotretan menggunakan kamera yang dilengkapi pelindung tahan air (housing) dan memiliki resolusi gambar yang bagus atau besar. Pada penelitian ini menunjukan nilai persentase karang hidup pada Lokasi Penelitian 1 yaitu 41,90%. Kemudian pada Lokasi Penelitian 2 nilaii persentase tutupan karang hidup 19,10%. Secara keseluruhan persentase tutupan karang hidup yang ada di Pantai Malalayang Dua Kota Manado Sulawesi Utara adalah 30,50% dari luasan terumbu karang yang ada ±820 m2, dengan begitu kondisi terumbu karang yang ada di pantai Malalayang Dua berada dalam kategori Sedang.
Kata Kunci: Tutupan Karang Hidup, Underwater Photo Transect (UPT), Kondisi Terumbu Karang, Pantai Malalayang
KAJIAN SIMPANAN KARBON PADA BIOMASSA MANGROVE DI PESISIR DESA TATENGESAN KECAMATAN PUSOMAEN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA PROVINSI SULAWESI UTARA
Mangroves are referred to as coastal forests or brackish forests, coastal forests which mean forests that live in coastal areas (coastal) which are influenced by tidal areas and coastal land. Mangroves have an important role in the absorption and storage of carbon, the amount of carbon contained in a tree is influenced by the ability of the tree to absorb carbon from the environment by the process of photosynthesis or known as the sequestration process. The purpose of this study was to identify the types of mangroves on the coast of Tatengesan and determine the carbon storage in the biomass of mangrove trees on the coast of Tatengesan. Data collection on mangrove tree vegetation was carried out in 3 transects, on the left, right and middle of the mangrove ecosystem on the Tatengesan coast. The transects were drawn perpendicular from the sea to the coast according to the thickness of the mangroves at the site. One transect has three quadrants, with a size of 10 m x 10 m. For how it works, the transect is pulled 100 m from the sea to the beach, then the quadrants are measured 10 m x 10 m using a plastic rope as a marker, and the quadrant positions are placed randomly and for 25 m intervals. The results of this study provide information that there are 3 types of mangroves, namely Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, and Bruguiera gymnorhiza, the value of mangrove biomass content ranges from 69.2 - 118.61 tons/ha, and the value of carbon storage in mangrove biomass. ranged from 32.52 to 55.75 tons/ha. Future research is expected to obtain time series data on the amount of carbon stored in a certain time period.
Keywords: Biomass, carbon, mangrove, Tatengesan
ABSTRAK
Mangrove disebut sebagai hutan pantai atau hutan payau, hutan pantai yang berarti hutan yang hidup di daerah pantai (pesisir) yang dipengaruhi oleh daerah pasang surut air laut dan daratan pesisir. Mangrove memiliki peranan penting dalam hal penyerapan dan penyimpanan karbon, besarnya kandungan karbon yang terdapat dalam satu pohon dipengaruhi oleh kemampuan pohon tersebut untuk menyerap karbon dari lingkungan dengan proses fotosintesis atau yang dikenal dengan proses sequestration. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis-jenis mangrove di pesisir Tatengesan dan mengetahui simpanan karbon pada biomassa pohon mangrove di pesisir Tatengesan. Pengambilan data pada vegetasi pohon mangrove dilakukan sebanyak 3 transek, pada bagian kiri, kanan dan tengah ekosistem man grove di pesisir Tatengesan. Transek ditarik tegak lurus dari arah laut ke pantai sesuai ketebalan mangrove di lokasi. Satu transek terdapat tiga kuadran, dengan ukuran 10 m x 10 m. Untuk cara kerjanya, transek ditarik sejauh 100 m dari laut ke pantai, kemudian kuadran diukur 10 m x 10 m dengan menggunakan tali plastik sebagai penanda, dan untuk posisi kuadran diletakkan acak dan untuk intervalnya 25 m. Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa jenis-jenis mangrove ditemukan sebanyak 3 jenis, yaitu Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, dan Bruguiera gymnorhiza, nilai kandungan biomassa mangrove berkisar antara 69,2 – 118,61 ton/ha, dan nilai simpanan karbon pada biomassa mangrove berkisar antara 32,52 – 55,75 ton/ha. Penelitian selanjutnya diharapkan untuk memperoleh data time series jumlah simpanan karbon dalam suatu periode waktu tertentu.
Kata kunci: Biomassa, karbon, mangrove, Tatengesa
AKTIVITAS ANTI UV, PENENTUAN NILAI SPF DAN UJISTABILITAS EKSTRAK DAUN MANGROVE Avicennia marina DAN Aegiceras floridum
Ultraviolet is one part of a sunbeam that which have beneficial and detrimental effects on humans. Materials that can protect the skin from exposure to ultraviolet (UV) are called sunscreens or Sun Protecting Agents. The value of the Sun Protection Factor or known as SPF is to show how many times a person's skin protection is doubled so that it is safe under the sun without experiencing dermal problems. Mangroves have long been known to have secondary metabolites including alkaloids, phenolics, steroids, and terpenoids. These compounds have pharmacological and ecological effects. in this study, we obtain extracts from Avicennia marina and Aegiceras floridum leaves followed by testing spectrophotometric to determine their anti-UV activity. The result shows that A.marina and A. floridum extracts have anti-UV activity in the area of 230-270 nm with an SPF value ranging from very high to extreme protection.Moreover both extract do not show dermatological problem on human stability test.
Keywords: Mangrove, Avicennia marina, Aegiceras floridum, Extract, Anti-UV, SPF value
ABSTRAK
Sinar ultra violet adalah salah satu bagian dari cahaya matahari yang dapat memberikan efek yang menguntungkan dan merugikan bagi manusia. Bahan yang mampu melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet (UV) disebut tabir surya atau Sun Protecting Agent.Nilai Sun Protectian Factor adalah menunjukkan berapa kali perlindungan kulit seseorang dilipatgandakan sehingga aman dibawah matahari tanpa mengalami eritema. Tumbuhan mangrove mepunyai Metabolit sekunder meliputi senyawa golongan alkaloid, fenolat, steroid, dan terpenoid. Senyawa-senyawa ini memiliki efek toksik, farmakologi, dan ekologi penting.tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan ekstrak dari daun mangrove jenis Avicenia marina dan Aegiceras floridum yang kemudian uji menggunakan metode spektrofotometri untuk mengetahui kelayakan penggunaan sampel sebagai bahan dasar pembuatan tabir surya. Hasil yang didapatkan ekstrak daun mangrove jenis A. marina dan A. floridum memiliki aktivitas Anti-UV pada kisaran panjang gelombang maksimum λ 230-270 nm dan dikategorikan memiliki nilai SPF sangat tinggi dan ekstrim. Selanjutnya kedua ekstrak tidak memperlihatkan adanya masalah dermatologis saat diaplikasikan pada obyek coba manusia saat dilakukan uji stabilitas.
Kata kunci : Mangrove, Avicennia marina, Aegiceras floridum,Ekstrak, Anti UV, Nilai SP