JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Not a member yet
    324 research outputs found

    PENYU DAN WARGA PULAU SIAU

    Get PDF
    The study of the perception residents of the Siau island regarding the existence of sea turtles was carried out from June to December 2018. The survey method and direct observation were applied in data collection. The data collected then were analyzed descriptively. The results showed that 88 % of the residents are well acquainted with the life of sea turtles followed by 80 % of the residents knew of the sea turtles’ status as the protected animals through government regulations and international conventions. However, the proportion of residents involved in violating regulations are quite worrying to the survival of sea turtles. For it was found that 29% of the residents were catching sea turtles, 20 % were selling sea turtle meat and eggs, and 82 % were consuming sea turtle meat and eggs. Thefefore, law enforcement and conservation education are absolutely neccesary for the sustainability of sea turtles in North Sulawesi Indonesia. Keywords: Sea turtle, Siau Island, resident’s perception, law enforment. Conservation education  AbstrakTelaah presepsi warga pulau Siau terhadap keberadaan penyu laut telah dilaksanakan pada Juni-Desember 2018.  Metode survey dan observasi langsung diaplikasikan dalam pengumpulan data, dan data dianalisa secara deskripsif. Hasil menunjukkan bahwa warga mengenal dengan baik kehidupan penyu (88%) dan statusnya sebagai satwa yang dilindungi melalui regulasi pemerintah dan konvensi Internasional (80%). Namun proporsi warga yang terlibat dalam pelanggaran terhadap peraturan cukup mengkuartirkan akan keberlangsungan hidup penyu, yakni menangkap penyu (29%), menjual daging dan telur penyu (28%), mengkonsumsi daging dan telur penyu (82%). Penegakkan hukum dan edukasi diperlukan demi kelestarian penyu di Sulawesi Utara dan Indonesia pada umumnya.Kata kunci: Penyu laut, Pulau Siau, persepsi warga, penegakan hokum, pendidikan konservasi Â

    KARAKTERISASI DAN PENAPISAN AKTIVITAS ANTIBAKERI ISOLAT BAKTERI SIMBION Thurudilla lineolata DAN Phyllidiella pustulosa

    Get PDF
    Nudibranch are part of a class og Gastropods that do not have a shell and has a bright and striking colour. Nudibranch has different of bacteria and bioactive compounds contained therein for protect theselves from predators.The aim of this study were to isolate symbiotic bacterial drived from Thurudilla lineolata and Phyllidiella pustulosa, and to observe the antibacterial activity of bacterial isolate against Escherichia coli and Staphylococcus aureus. Isolation and culture of the symbiotic bacterial were made on Nutrient Agar. The antibacterial screening showed that Thrudilla lineolata and Phyllidiella pustulosasymbiotic bacteria were able to inhibit the growth of against Escherichia coli and Staphylococcus aureus Nudibranch merupakan bagian dari kelas Gastropoda yang tidak memiliki cangkang dan memiliki warna cerah dan mencolok. Nudibranch memiliki berbagai jenis bakteri dan senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya untuk melidungi diri dari predator. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendapatkan isolat bakteri yang bersimbion dengan Thrudilla lineolata dan Phyllidiella pustulosa, kemudian mengamati aktivitas antibakteri dari isolat bakteri tersebut terhadap Escherichia coli, dan Staphylococcus aureus. Isolasi dan kultur bakteri yang bersimbion dengan Thrudilla lineolata dan Phyllidiella pustulosa, dibuat pada media Nutrient Agar. Skrining aktivitas antibakteri menunjukkan isolat bakteri yang bersimbion dengan Thrudilla lineolata dan Phyllidiella pustulosa mampu menghambat pertumbuhan organisme uji Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Kata kunci: Nudibranch, Thrudilla lineolata, Phyllidiella pustulosa, bakteri, isolasi, antibakte

    IDENTIFIKASI SAMPAH ANORGANIK PADA EKOSISTEM MANGROVE DESA TALAWAAN BAJO KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA

    Get PDF
    Mangrove ecosystem is a place where all pollutants come from which carry various kinds of pollutants originating from the mainland. The sea is also a direct disposal site by human or industrial activities in an easy way, as we know that there is organic and inorganic waste. The purpose of this research is to identify the type of inorganic waste and calculate the amount of inorganic waste density in the mangrove ecosystem of Talawaan Bajo Village. The method used in this study is the transect line. The results showed that the dominant inorganic waste in the mangrove ecosystem of Talawaan Bajo Village was predominantly plastic waste with a total of 132 pot/900m2 (1.466 Pot/Ha) with a weight of 3131, 55gram/900m2 (34.795 g/ha). The results of this study will be a recommendation for the local government to make an appeal and socialization about the dangers of inorganic waste to the life of the ecosystem in the sea and education about the management of inorganic waste especially plastic types to the public properly. Keywords: Mangrove, Inorganic Waste, Talawaan Bajo  AbstrakEkosistem mangrove merupakan tempat bermuaranya seluruh bahan pencemar yang membawa berbagai macam bahan pencemar yang berasal dari daratan. Laut juga merupakaan tempat pembuangan langsung oleh kegiatan manusia atau industri dengan cara yang mudah, seperti yang kita ketahui bahwa terdapat sampah organik dan anorganik.Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi jenis sampah anorganik dan menghitung jumlah kepadatan sampah anorganik di ekosistem mangrove Desa Talawaan Bajo.Metode yang dipakai pada penelitian ini adalah line transek. Hasil penelitian menunjukan bahwa sampah anorganik yang ada di ekosistem mangrove Desa Talawaan Bajo dominannya adalah sampah jenis plastik dengan total total 132 pot/900m2(1.466 Pot/Ha) dengan berat total 3131,55 gram/900m2 (34.795 Gram/Ha).  Hasil penelitian ini akan menjadi bahan rekomendasi ke pemerintah daerah untuk membuat himbauan dan sosialisasi tentang bahaya sampah anorganik terhadap kehidupan ekositem di laut serta edukasi tentang pengelolaan sampah anorganik khusunya jenis plastik ke masyarakat dengan baik. Kata Kunci : Mangrove, Sampah Anorganik, Talawaan Baj

    STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI DESA LESAH, KECAMATAN TAGULANDANG, KABUPATEN SITARO

    Get PDF
    Mangroves are forests that grow in brackish water and are affected by tides and seawater, and these forests grow specifically in places where there are pavement and accumulation of organic material. The purpose of this research is to identify the types of mangroves and determine the structure of the mangrove community in Lesah Village. This research was conducted from September to October 2019. The method used in this research is the quadrant line transect method. The types of mangroves were identified with identification books. Community structure data taken are density, frequency, dominance and important value index (IVI) and then analyzed with Microsoft Excel program. Based on the results of the research, there are 2 types of mangroves found in the research location, Rhizophora stylosa and Sonneratia alba. The highest density value (0.122 ind / m2), relative density (81.88%), frequency types (1), relative frequency (50%). Closure types (1.83 m2), types of relative closure (50.18%), the highest important value index at the research site was (182.12%). The results of the mangrove ecological index data analysis for the diversity index value (0.51), dominance (0.73). Keywords: Structure Community, Mangrove, Lesah Village. Abstrak Mangrove adalah hutan yang tumbuh di air payau, dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuaran dan akumulasi bahan oraganik. Tujuan dari penelitian adalah mengidentifikasi jenis-jenis mangrove dan mengetahui struktur komunitas mangrove di Desa Lesah. Penelitian dilaksanakan dari September-Oktober 2019. Metode yang digunakan adalah metode line transek kuadran. Jenis-jenis mangrove di identifikasi dengan bantuan buku identifikasi. Data struktur komunitas yang di ambil adalah kerepatan, ferkuensi, dominasi dan indeks nilai penting(INP) dan kemudian di analisa dengan bantuan program computer Microsoft Excel. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 2 jenis mangrove yang terdiri dari, Rhizophora stylosa dan Sonneratia alba. Nilai kerepatan tertinggi (0.122 ind/m2), kerapatan relatif jenis (81.88%), frekuensi jenis (1), frekuensi relatif jenis (50%). Penutupan jenis (1.83 m2), penutupan relatif jenis (50.18%), indeks nilai penting tertinggi dilokasi penelitian adalah (182.12%). Hasil analisis data indeks ekologi mangrove untuk nilai indeks keanekaragaman (0.51), dominasi(0.73). Kata Kunci: Struktur Komunitas, Mangrove, Desa Lesah

    FORAMINIFERA BENTIK PADA TERUMBU KARANG PULAU BUNAKEN

    Get PDF
    Study of benthic foraminifera on the coral reefs of Bunaken Island, North Sulawesi Province, was carried out with the aim of providing information regarding the description, distribution and FoRAM Index values on the coral reef environment of Bunaken Island. Sediment sampling in the field was carried out at 5 stations around the island, each area has been plotted on the map, with 3 repetitions and using a SCUBA tool at a depth of 3-8 meters. From observations of sediment surface samples at 15 points in 5 stations spread over Bunaken Island, 5,770 benthic foraminifera specimens have been identified. 81 species from 26 genera of foraminifera were identified and they were then grouped into functional groups to obtain the FoRAM Index. The Index were ranged from 7.18 to 10.5. This indicates that the environment of the coral reef waters around the island is still in good condition. Keywords : Benthic Foraminifera, Coral Reef Ecosystem, Bunaken Island. ABSTRAK            Studi foraminifera bentik pada terumbu karang Pulau Bunaken Provinsi Sulawesi Utara dilakukan dengan tujuan untuk menyediakan informasi menyangkut deskripsi, peta sebaran dan nilai FoRAM Index pada lingkungan terumbu karang Pulau Bunaken. Kegiatan pengambilan sampel sedimen di lapangan dilakukan pada 5 stasiun di perairan Pulau Bunaken yang masing-masing areanya telah diplot dalam peta, dengan 3 kali pengulangan dan menggunakan alat SCUBA pada kedalaman 3-8 meter. Dari hasil pengamatan terhadap sampel sedimen permukaan dasar perairan pada 15 titik dalam 5 stasiun tersebar di Pulau Bunaken telah teridentifikasi sebanyak 5.770 spesimen foraminifera bentik. Hasil identifikasi foraminifera tersebut diperoleh 81 spesies foraminifera bentik yang termasuk dalam 26 genus. Spesies-spesies ini kemudian dikelompokkan ke dalam kelompok fungsional untuk mendapatkan FoRAM Index, dan diperoleh kisaran 7,18-10,5. Nilai ini mengindikasikan bahwa lingkungan perairan terumbu karang di sekitar pulau tersebut ada dalam keadaan masih baik dan sehat. Kata Kunci : Foraminifera Bentik, Ekosistem Terumbu Karang, Pulau Bunaken

    ANALISIS PIGMEN KLOROFIL PADA ALGA Kappaphycus alvarezii YANG DIBUDIDAYAKAN DI TELUK TOTOK KABUPATEN MINAHASA TENGGARA

    Get PDF
    Macroalgae is a chlorophyll plant and its body is thallus and is able to live in polluted waters. The research was conducted with the intention of knowing the content of chlorophyll pigment and comparing the concentration of chlorophyll on Kappaphycus alvarezii using the formula Jeffrey and Humprey (1975) and Harbone (1987). The results obtained to separate the chlorophyll pigment on Kappaphycus alvarezii using the thin layer chromatography (KLT) method, thus obtained the pigment identified from Kappaphycus alvarezii namely chlorophyll a. Keywords: Kappaphycus alvarezii, thin-layer chromatography. Chlorophyll.AbstrakMakroalga merupakan tumbuhan yang berklorofil dan tubuhnya berupa thallus serta mampu hidup pada perairan tercemar. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kandungan pigmen klorofil dan membandingkan konsentrasi klorofil pada Kappaphycus alvarezii menggunakan rumus Jeffrey dan Humprey (1975) dan Harbone (1987). Hasil yang diperoleh untuk memisahkan pigmen klorofil pada Kappaphycus alvarezii menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT), sehingga diperoleh pigmen yang teridentifikasi dari Kappaphycus alvarezii yaitu klorofil a. Keywords : Kappaphycus alvarezii, Kromatografi Lapis Tipis. Klorofil

    FILOGENI MOLEKULER ISOLAT BAKTERI F0-0-3-1 DARI MEDIA PEMELIHARAAN ROTIFER

    Get PDF
    The aim of this study was to construct molecular phylogeny of bacteria suspected to involve in decomposing the fishery waste as diet for rotifer culture. The bacteria were isolated from culture of rotifer and propagated for molecular analysis. Genomic DNA of the bacteria was extracted using DNeasy Blood and Tissue Kit (Qiagen). The 16S rRNA gene was amplified using primer pairs i.e. 8F (AGAGTTTGATCCTGGCTCAG) and 1492R (GGTTACCCT GTTACGACTT) and sequenced. The sequences were analyzed using Sequence Scanner and MEGA 7, and BLASTed on the NCBI website (www.ncbi.nml.nih.gov). Molecular phylogeny of the isolate was constructed using Neighbor Joining Tree method. Isolate bacteria F0-0-3-1 from culture of rotifer fed with fish waste diet was successfully propagated for molecular analysis. 16S rRNA gene of the isolate bacteria was successfully amplified and showed a DNA band at 1400 bp. Nucleotides sequence quality of the 16S rRNA gene i.,e QV+20 and CRL were 995 and 941 nucletides. BLAST result of the 16S rRNA gene showed 98.87% percent identity of the isolate bacteria F0- 0-3-1 with bacterial species in the genus Bacillus i.e. Bacillus weidmanni, Bacillus cereus dan Bacillus proteolyticus. Molecular phylogeny analysis showed that the three species was in the same clade.Keywords: Phylogeny, molecular, bacteria, rotifer, 16S rRNA gene Penelitian ini bertujuan untuk mengkonstruksi filogeni molekuler bakteri yang diduga terlibat dalam proses penguraian limbah perikanan sebagai pakan untuk kultur rotifer. Isolat bakteri yang diperoleh dari kultur rotifer tersebut, dibiakkan dan DNA genomnya diekstrak menggunakan DNeasy Blood and Tissue Kit (Qiagen). Gen 16S rRNA isolat bakteri tersebut, diamplifikasi menggunakan primer 8F (AGAGTTTGATCCTGGCTCAG) dan 1492R (GGTTACCCT GTTACGACTT) selanjutnya, disekuens dan urutan nukleotida hasil sekuens dianalisis menggunakan program Sequence Scanner dan MEGA 7. Analisis homologi sekuens dilakukan dengan program BLAST nucleotide blast, pada situs NCBI (www.ncbi.nml.nih.gov) dan dilanjutkan dengan konstruksi filogeni molekuler menggunakan metode Neigbor Joining Tree. Isolat bakteri F0-0-3-1 berhasil disolasi dari kultur rotifer yang diberi pakan limbah ikan. Hasil amplifikasi Gen 16S rRNA isolat bakteri F0-0-3-1 terdeteksi dalam bentuk pita DNA pada posisi sekitar 1400 bp. Kualitas nukleotida gen 16S rRNA hasil sekuens menunjukan nilai QV 995 dan CRL 941. Hasil BLAST sekuens gen 16S rRNA isolat bakteri F0-0-3-1 pada database menunjukkan kemiripan 98% dengan spesies Bacillus wiedmanni. Hasil kontruksi filogeni menggunakan metode Neighbor Joining Tree menunjukan posisi isolat bakteri F0-0-3-1 berada pada clade yang sama dengan Bacillus weidmanni, Bacillus cereus dan Bacillus proteolyticus. Kata kunci: Filogeni, molekuler, bakteri, rotifer, Gen 16S rRN

    PENGARUH LOGAM BERAT TIMBAL TERHADAP PERTUMBUHAN ALGA Halimeda opuntia YANG DIKULTUR DALAM WADAH TERKONTROL

    Get PDF
    Heavy metal is a very dangerous pollutant waste for it cannot be destroyed (non-degradable) and over time it will accumulate in the ocean. This study aims to determine the lead content in sediment, water and algal thallus as well as to determine the algae growth that has been treated with lead. The research method used was a completely randomized design (CRD) which consisted of 3 treatments, using different treatments for each sample. The highest metal content obtained in the sediment was 5,124 ppm, in the water was 0.120 ppm, and in the algae thallus was 4,816 ppm respectively. The results showed that Halimeda opuntia algae can grow even in an environment contaminated with lead heavy metal and can become a bioremediation agent by absorbing lead heavy metal. Keywords: Halimeda opuntia, Lead Heavy Metal, Algae Culture, Bioremediation             Logam berat merupakan salah satu limbah pencemar yang sangat berbahaya karena tidak dapat dihancurkan (non degradable) dan dapat terakumulasi di perairan laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan timbal pada sedimen, air dan thallus alga yang dikultur serta mengetahui pertumbuhan alga yang telah diberi perlakuan timbal. Metode penelitian mengunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan, dengan menggunakan perlakuan yang berbeda pada tiap sampel dan kontrol. Kandungan logam tertinggi yang didapatkan pada sedimen yaitu sebesar 5,124 ppm, pada air sebesar 0,120 ppm, dan pada thallus alga sebesar 4,816 ppm. Hasil yang diperoleh yaitu alga Halimeda opuntia dapat bertumbuh walaupun dalam lingkungan yang tercemar logam berat timbal serta mampu menjadi agen bioremediasi dengan menyerap logam berat timbal. Kata kunci: Halimeda opuntia, Logam BeratTimbal, Kultur Alga, Bioremedias

    KARBON PADA PADANG LAMUN DI PERAIRAN PULAU MANADO TUA

    Get PDF
    Peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) antara lain karbondioksida (CO2)  yang terjadi terus menerus mengakibatkan terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim yang berdampak pada  pola cuaca dan mempengaruhi kehidupan di bumi. Ekosistem padang lamun diketahui memiliki kemampun dalam menyerap karbondioksida dan menyimpannya dalam waktu yang lama. Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui keanekaragaman jenis lamun, presentasi tutupan dan kandungan karbon pada padang lamun di perairan Pulau Manado Tua. Untuk mengetahui keanekaragaman jenis dilakukan pengamatan secara langsung pada setiap stasiun penelitian dan untuk mengetahui presentase tutupan lamun menggunakan metode line transek kuadran dengan mengadopsi Seagrass Watch dimana sampel lamun juga diperoleh dari line transek kuadran pada keseluruhan stasiun kemudian dianalisis selanjutnya menggunakan metode Loss on ignition (LOI). Didapatkan hasil penelitian pada keseluruhan stasiun indeks keanekaragaman H’ 1 kategori sedang dengan presentase penutupan dan status kondisi pada stasiun negri 36% kurang kaya/kurang sehat, stasiun pangalingan  69% kaya/sehat, stasiun papindang 51% kurang kaya/kurang sehat : kandungan karbon pada keseluruhan stasiun yang didapat sebesar 222,85gC Kata Kunci :  Keanekaragaman Lamun, Presentase Penutupan, Kandungan Karbon, Line Transek,  Kuadran,  LOI (Loss On Ignition), Pulau Manado Tua

    MOLECULAR STRUCTURE OF GELATIN EXTRACTED FROM PARROT (Scarus sp) FISH SCALES

    Get PDF
    One of the protein molecules of fish scales is water soluble gelatin. Gelatin of fish scales could be best substitute of commercial available gelatin which derived from porcine and bovine. The purpose of this study was to determine the molecular structure of gelatin extracted from marine fish scale using Fourier transform infrared (FTIR) analysis, and to obtain the moisture content, pH and yield of gelatin. Samples were prepared from the wet and dried scales. As for the standard gelatin, the gelatin of the two samples are characterized with several types of amide groups. The two gelatin samples were slight different in absorption of wave length for amide A, B, I, II and III groups indicating the instability of the functional groups which may influence viscosity and gel strength. For the wet scales derived gelatin, the wave number absorption was found to be 3412 cm-1 (amide A), 2421 cm-1 (amide B), 1653 cm-1 (amide I), 1400 cm-1 (amide II), and 1001 cm-1 (amide III), while for the dried scales derived gelatin was 3435 cm-1 (amide A), 2920 cm-1 (amide B), 1635 cm-1 (amide I), 1404 cm-1 (amide II), and 1036 cm-1 (amide III). The wave number absorption of amide III of gelatin is smaller than the one of collagen, because gelatin is in form of single helix, not triple helix. The wet scales derived and dried scales derived gelatin show the moisture content of 15.0% and 13.7%, and yield of 2.33% and 2.43%, .respectively. For both samples, the pH value was 7. Key words : gelatin, fish scales, molecule structure, moisture, yield, pH Abstrak Salah satu dari molekul protein sisik ikan adalah gelatin larut air. Gelatin sisik ikan dapat menjadi pengganti terbaik dari gelatin komersial yang tersedia yang berasal dari babi dan sapi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan struktur molekul gelatin yang diekstrak dari sisik ikan laut menggunakan Analisis FTIR (Fourier Transform Infrared), dan untuk mendapatkan kadar air, pH dan rendemen gelatin. Sampel disiapkan dari sisik basah dan sisik kering. Adapun standar gelatin, gelatin dari kedua sampel ditandai dengan beberapa jenis gugus amida. Kedua sampel gelatin sedikit berbeda dalam penyerapan panjang gelombang untuk amida A, B, I, II dan III yang menunjukkan ketidakstabilan kelompok fungsional yang dapat mempengaruhi viskositas dan kekuatan gel. Untuk gelatin sisik basah, panjang gelombang serapan ditemukan pada 3412 cm-1 (amida A), 2421 cm-1 (amida B), 1653 cm-1 (amida I), 1400 cm-1 (amida II), and 1001 cm-1 (amida III), sedangkan untuk gelatin sisik kering adalah 3435 cm-1 (amida A), 2920 cm-1 (amida B), 1635 cm-1 (amida I), 1404 cm-1 (amida II), and 1036 cm-1 (amida III). Panjang gelombang serapan amida III pada gelatin lebih kecil dibanding kolagen, sehingga gelatin berbentuk single helix, bukan triple helix. Gelatin sisik basah dan sisik kering mengadung kadar air 15,0% dan 13,7%, rendemen 2,33% and 2,43%, secara berturut-turut. Untuk kedua sampel memiliki nilai pH 7. Key words : gelatin, sisik ikan, struktur molekul, kadar air, rendemen, p

    321

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇