Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra
Not a member yet
    311 research outputs found

    Abstract View

    No full text

    Kritik Terjemah Novel Bercinta di Antara Ruang Sakral dan Profan Karya Taufiq El- Hakim

    Full text link
    This research is a qualitative descriptive study with a source of data being the novel "Usfur min asy-Syarq" with its translation titled "Bercinta di antara Ruang Sakral dan Profan". This research uses a translation critique approach proposed by Newmark. The research method in this study uses the free sima method with a purposive sampling technique. The results of this study show that the translation of this novel has many advantages in terms of readability, as the translator presents the story of the novel with beautiful and easily understood language. The translation technique most often used in this research is discursive creation. However, in terms of accuracy, this translation has many shortcomings, this is due to the translator removing many parts of the source language so that it is not translated, and also because the translator frequently shifts the meaning, this is due to the translator translating words and phrases that are too far from their original meaning in the source language.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan sumber data Novel Usfur min asy-Syarq dengan terjemahannya yang berjudul Bercinta di antara Ruang Sakral dan Profan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kritik terjemah yang digagas oleh Newmark. Metode penelitian ini menggunakan metode sima bebas libat cakap dengan teknik sampling purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terjemahan novel ini memiliki banyak kelebihan dari aspek keterbacaan, karena penerjemah menyajikan cerita novel dengan bahasa yang indah dan mudah dipahami. Tetapi dari segi keakuratan, terjemahan ini memiliki banyak kekurangan, hal tersebut dikarenakan penerjemah menghilangakan banyak bagian dari bahasa sumber sehingga tidak diterjemahkan, juga karena penerjemah banyak melakukan pergeseran makna, hal tersebut dikarenakan penerjemah menerjemahkan kata dan frase yang terlalu jauh dari makna aslinya dalam bahasa sumber

    Abstract View

    No full text

    Leksikon Fauna dalam Pantun Atui: Kajian Ekolinguistik

    Full text link
    This research focuses on compiling the faunal lexicon contained in the Limo Koto pantun. The pantun sample taken was Pantun Atui. Knowledge of this fauna is important in the midst of an ever-changing nature and environment. The main theory used in this research is oral literature theory which is used to collect data and ecolinguistic theory to analyze the data that has been obtained. The data collection method in this research uses interviews, notes and recording methods. To analyze the data, descriptive analytical methods were used. The results of this research found 25 faunal lexicons in Pantun Atui. Based on the culture of the Kampar people as owners of pantun, the 23 fauna lexicons can be categorized into three types of lexicons, namely the Bawuo fauna lexicon, the Daghek fauna lexicon and the Kampau fauna lexicon. Meanwhile, there are 2 fauna lexicons that can be classified into marine fauna, namely swordfish and dolphins. These two marine fauna lexicons indicate that although Kampar is synonymous with rivers or kampau, it has connections with other sea-based areas.Penelitian ini  berfokus pada penghimpunan leksikon fauna yang terkandung dalam pantun Limo Koto. Sampel pantun yang diambil adalah Pantun Atui. Pengetahuan akan fauna ini  penting di tengah alam dan lingkungan yang terus berubah. Teori utama yang dipakai dalam penelitian ini adalah teori sastra lisan yang digunakan untuk penghimpunan data dan teori ekolinguistik untuk menganalisis data yang telah diperoleh. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara, catat dan rekam. Untuk menganalisis data digunakan metode deskriptif analitik. Hasil dari penelitian ini ditemukan 25 leksikon fauna dalam Pantun Atui. Berdasarkan kultur masyarakat Kampar sebagai pemilik pantun, 23 leksikon fauna bisa dikategorisasikan ke dalam tiga jenis leksikon, yaitu leksikon fauna bawuo, leksikon fauna daghek dan leksikon fauna kampau. Sementara itu terdapat 2 leksikon fauna yang bisa digolongkan ke dalam fauna laut yaitu ikan todak dan lumba-lumba. Kedua leksikon fauna laut ini menandakan bahwa Kampar walaupun identik dengan sungai atau kampau tetapi memiliki hubungan dengan daerah lain berbasis laut

    Politeness Strategy Between Presidential Candidates in the First Debate Indonesian Presidential Candidate in 2024

    No full text
    This research discusses three main things, namely the polite language forms of presidential candidates in the first debate, the types of politeness strategies of presidential candidates in debates, and the social phenomenon of the forms and types of politeness used by presidential candidates. The data source is an official video from the general election commission (KPU) entitled First Debate of Presidential Candidates for the 2024 Election on YouTube which is located at https://www.youtube.com/watch?v=yNO0YS846kU. The data is in the form of utterances containing polite acts from the three presidential candidates. This research uses a qualitative study framework with a pragmatic approach, especially politeness theory. The method used is listening, free speech. To make analysis easier, this method is supported by note-taking techniques. Data analysis was carried out through four stages, namely data collection, data reduction, data presentation followed by the conclusion of the research results. The research results show that 1) the form of politeness that dominates the debate is positive politeness. Negative politeness and false politeness have equal dominance. Overt politeness did not appear in the debate; 2) the strategy that often appears is the strategy of greeting with a system of familiarity, promises and thanks; 3) The social phenomenon that emerged from these two meetings was that the contestants paid their respects by acknowledging the existence of the presidential candidates. This recognition is reduced to a greeting strategy to show closeness, deliver political promises, and convey words of thanks to other parties.Penelitian ini membahas tiga hal utama, yaitu bentuk kesantunan berbahasa para calon presiden dalam debat perdana, jenis strategi kesantunan calon presiden dalam debat, dan fenomena sosial dari bentuk dan jenis kesantunan yang digunakan para calon presiden. Sumber data berupa video resmi dari komisi pemilihan umum (KPU) yang berjudul Debat Pertama Calon Presiden Pemilu Tahun 2024 dalam Youtube yang beralamat di https://www.youtube.com/watch?v=yNO0YS846kU. Data berupa tuturan-tuturan yang mengandung tindak kesantunan ketiga capres. Penelitian ini menggunakan kerangka kajian kualitatif dengan pendekatan pragmatik, khususnya teori kesantunan. Metode yang digunakan ialah simak libat bebas cakap. Untuk mempermudah analisis, metode tersebut didukung dengan teknik catat. Analisis data dilakukan melalui empat tahapan, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data yang dilanjutkan dengan kesimpulan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) bentuk kesantunan yang mendominasi debat ialah kesantunan positif. Kesantunan negatif dan kesantunan semu memiliki dominasi yang sama besarnya. Kesantunan terang-terangan tidak muncul dalam debat tersebut.; 2) strategi yang sering muncul ialah strategi menyapa dengan sistem keakraban, berjani, dan berterima kasih.; 3) fenomena sosial yang muncul dari dua temua itu ialah bahwa kontestan memberi penghormatan dengan mengakui keberadaan para capres. Pengakuan itu direduksi dari strategi penyapaan untuk menunjukkan kedekatan, penyampaian janji-janji politik, dan menyampaikan tuturan berterima kasih terhadap pihak lain

    POSISI DAN IDENTITAS PENGARANG DALAM NOVEL DAWUK KISAH KELABU DARI RUMBUK RANDU KARYA MAHFUD IKHWAN KAJIAN NARATOLOGI

    No full text
    Kedudukan narator dalam sebuah karya sastra sangat krusial untuk melihat secara keseluruhan gagasan dalam cerita. Sebuah karya sastra yang bermain-main dengan kedudukan narator akan  menarik untuk dikaji. Salah satu novel yang berhasil mencuri perhatian khazanah sastra Indonesia adalah Dawuk Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu karya Mahfud Ikhwan yang juga menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Novel ini menggunakan identitas narator yang seolah mencerminkan identitas pengarangnya. Fenomena mengenai kedudukan narator tersebut akan dikaji melalui pendekatan naratologi, khususnya fokalisasi yang dikemukakan oleh Gerard Genette dan dengan dukungan teori identitas yang dikemukakan oleh Bamberg. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif untuk mengumpulkan dan menganalisis data yang relevan dengan topik penelitian. Sebagai hasil dari penelitian ini bahwa novel Dawuk menggunakan multiple focalization yang sekaligus tokoh dalam rangkaian peristiwa. Lebih lanjut, kompleksitas narator dalam novel ini membuat samarnya antara yang fakta dan yang fiksi.  Kedudukan narator dalam sebuah karya sastra sangat krusial untuk mengamati bagaimana kedudukan, posisi, identitas, bahkan ideologi pengarangnya. Sebuah karya sastra yang bermain-main dengan kedudukan narator kemudian akan sangat menarik untuk dikaji. Pasalnya, besar kemungkinan pengarang akan menyembunyikan identitasnya di balik salah satu narator yang ditampilkan dalam keseluruhan ceritanya. Salah satu novel yang berhasil mencuri perhatian khazanah sastra Indonesia adalah Dawuk Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu karya Mahfud Ikhwan yang juga menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Fenomena tersebut akan dikaji melalui pendekatan naratologi, khususnya fokalisasi yang dikemukakan oleh Gerard Genette dan dengan dukungan teori identitas yang dikemukakan oleh Bamberg. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif untuk mengumpulkan dan menganalisis data yang relevan dengan topik penelitian. Sebagai hasil dari penelitian ini, tampak bahwa novel Dawuk menggunakan multiple focalization yang sekaligus tokoh dalam rangkaian peristiwa. Selain itu, ditemukan bahwa salah satu narator yang sekaligus tokoh dalam novel ini merupakan representasi dari identitas pengarang, yakni Mahfud Ikhwan

    Bahasa Inggris

    No full text
    The present study aimed to analyze how violations of maxim were used to create jokes. Grice’s notion of violation of maxims was used to analyze typical violation involved in jokes. The data in this study were in the form of texts comprising jokes. The data source was from compilation of jokes in  Thomas Wilson Cathcart and Daniel Martin Klein’s Plato and A Platypus Walk into A Bar... book. The researchers applied a document analysis as a technique to collect the data. Meanwhile, in order to achieve validity of the data, the study used triangulation of data sources by providing varied data sources to achieve the complexity of the research objectives. Finally, to analyze the data, the present study employed Miles and Huberman’s formulation consisting of data reduction, data display, conclusion drawing and verification. The study found twenty-five data of jokes involving the use of violations as techniques to create humor. All data were classified into violations of language and culture and none categorized as cognitive violation. The jokes in this book were presented through three stages, namely premise, setup, and punchline.  The violations here were employed in the punchline to create plot twist and humorous situation. These findings could  serve as a foundation for future studies, particularly regarding jokes resulted from maxim violations in other genres such as a stand-up comedy, podcast, sitcom, or product review.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana ketidakpatuhan terhadap maksim, khususnya infringement, digunakan untuk membuat lelucon. Pendapat Grice tentang ketidakpatuhan terhadap maksim digunakan untuk menganalisis pelanggaran yang biasa terjadi dalam lelucon. Data dalam penelitian ini berupa teks-teks berupa lelucon, sedangkan sumber datanya adalah kumpulan lelucon yang diambil dari karya Plato dan A Platypus Walk to A Bar... Peneliti menggunakan analisis dokumen untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Sedangkan untuk mencapai keabsahan data, penelitian menggunakan triangulasi sumber data dengan menyediakan sumber data yang bervariasi untuk mencapai kompleksitas tujuan penelitian. Terakhir, untuk menganalisis data, penelitian ini menggunakan rumusan Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menemukan dua puluh lima data lelucon yang melibatkan penggunaan pelanggaran sebagai teknik untuk menciptakan humor. Seluruh data diklasifikasikan ke dalam gangguan bahasa dan budaya dan tidak ada yang dikategorikan sebagai gangguan kognitif. Lelucon dalam buku ini disajikan melalui tiga tahapan, yaitu premis, setup, dan punchline. Infringement selalu digunakan dalam tahap punchline untuk menciptakan kejutan dan situasi luc

    Eksplikasi Susunan Naratif oleh Andrea Hirata dalam Novel Buku Besar Peminum Kopi (Analisis Naratologi Perspektif Gérard Genette)

    Full text link
    A novel is a complex narrative structure that functions as an explication of reality of life in which  narratology analysis of Gérard Genette's perspective is an  appropriate literary theory to analyse it because it contains five theoretical components. This research applies descriptive qualitative research, note-taking technique for data collection, and partial-integral analysis to analyse the data. This study aims to describe the narrative structure (storytelling) and its analysis findings in the novel “Buku Besar Peminum Kopi†using the five components of Genette's narratology theory. The study show that the novel  “Buku Besar Peminum Kopi†has a mix of anachronism and achronim plot, three types of narrative duration (pauses, scenes, and ellipsis), three types of frequency (singular, anaphoric, and iterative). The narrator,  in the second level in this novel, acts as an observer, the point of view comes from the characters, and the story time is mixed i.e. past and present.Novel merupakan karya sastra yang mempunyai relasi dengan naratif dan merupakan bentuk eksplikasi (pemaparan) dari peristiwa yang terjadi dalam kehidupan, dan untuk mengkajinya dibutuhkan suatu teori yang tepat yaitu naratologi Gérard Genette yang mengkaji tentang naratif dengan lima komponen. Penelitian ini mengaplikasikan jenis penelitian deskriptif kualitatif, teknik baca catat untuk pengumpulan datanya, dan analisis parsial-integral untuk menganalisis datanya. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan susunan naratif (penceritaan) disertai bukti analisisnya dalam novel Buku Besar Peminum Kopi menggunakan lima komponen teori naratologi Genette. Hasil penelitian yang didapatkan dari penelitian ini adalah bahwa novel Buku Besar Peminum Kopi ini beralur campuran anakroni dan akroni, mempunyai tiga jenis durasi naratif (jeda, adegan, dan elipsis), novel ini juga mempunyai tiga jenis frekuensi (tunggal, anaforis, dan iteratif), narator dalam novel ini hanya sebagai pengamat dan sudut pandang dalam novel ini berasal dari para tokoh, waktu penceritaannya adalah campuran (lampau dan sekarang), serta narator berada di tingkat kedua dalam novel ini

    Hubungan Kekerabatan Bahasa Jawa, Sunda, dan Makassar: Kajian Linguistik Historis Komparatif

    Full text link
    This study aims to explain the kinship of Javanese (JL), Sundanese (SL), and Makassar (ML) languages ​​seen from the percentage of kinship, time of separation, and correspondence of their sounds. Through quantitative and descriptive qualitative methods, this study examines two hundred Swadesh vocabularies obtained from JL, SL, and ML native speakers using lexicostatistics and glottochronology techniques. The results of this study indicate that JL, SL, and ML are related and come from the same protolanguage with a kinship percentage of JL – SL 43%, JL – ML 20%, and SL – ML 16%. The separation times of the three languages ​​are JL – SL between 185 BC – 231 AD, BL – ML between 2131 BC – 1463 BC, and SL – ML between 2737 BC – 1917 BC calculated in 2023. Found 19 pairs of identical words; 9 correspondence phonemes, and 2 phonetic similarities.Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kekerabatan bahasa Jawa (BJ), Sunda (BS), dan Makassar (BM) dilihat dari proporsi kekerabatan, waktu pisah, dan korespondensi bunyinya. Melalui metode kuantitatif dan kualitatif deskriptif, penelitian ini mengkaji dua ratus kosakata Swadesh yang diperoleh dari informan-informan penutur asli BJ, BS, dan BM dengan menggunakan teknik leksikostatistik dan glotokronologi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa BJ, BS, dan BM berkerabat dan berasal dari protobahasa yang sama dengan proporsi kekerabatan BJ – BS 43%, BJ – BM 20%, dan BS – BM 16%. Waktu pisah dari ketiga bahasa tersebut adalah BJ – BS antara 185 SM – 231 M, BJ – BM antara 2131 SM – 1463 SM, dan BS – BM antara 2737 SM – 1917 SM dihitung pada tahun 2023. Ditemukan 19 pasangan kata identik; 9 pasang korespondensi fonem

    Representasi Wajah Kota Yogyakarta dalam Wacana Meme di Media Sosial: Kajian Semiotika

    Full text link
    Memes were produced based on the creator's experience and expectation of Yogyakarta city with particular signs to reconstruct the reality of life in Yogyakarta. So, this research aims to analyze people's perception of Yogyakarta city through memes. This research uses qualitative descriptive methods with semiotics analysis of Barthes. The data was verbal and non-verbal signs from a data source of memes. The data was collected by observing and archiving Twitter memes concerning Yogyakarta city. Data analysis was conducted by grouping the top issues discussed in memes and describing them using Barthes's semiotics analysis. The results found that the memes of Yogyakarta were delivered as satire and humor with a negative tendency. According to the analysis, the portrait of Yogyakarta was laid on social issues rarely discussed and known by outsiders of Yogyakarta. The term 'istimewa' was questionable, knowing people find unpopular opinions regarding Yogyakarta city. Melalui Meme, warganet menciptakan suatu wacana dengan berbagai bentuk tanda-tanda untuk merekonstruksi realitas kehidupan di Yogyakarta. Sehingga masyarakat menyebarluaskan wacana meme berdasarkan pengalaman dan ekspektasi mereka terhadap kota Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat terhadap kota Yogyakarta melalui Meme. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan analisis semiotika Barthes. Data penelitian diambil dari tanda verbal dan nonverbal pada sumber data wacana meme. Pengumpulan data dilakukan dengan mengamati dan mengarsipkan meme tentang kota Yogyakarta di Twitter. Analisis data dilakukan dengan mengelompokkan isu-isu teratas yang dibicarakan dalam meme, kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian menemukan bahwa meme tentang Yogyakarta disampaikan dalam bentuk satir dan balutan humor dengan kesan negatif. Berdasarkan analisis, penggambaran Yogyakarta dikaitkan dengan persoalan-persoalan sosial yang jarang dibicarakan dan diketahui oleh orang luar Yogyakarta. Gelar kota ‘istimewa’ semakin ditanyakan mengingat orang semakin membuka sisi lain dari Yogyakarta

    227

    full texts

    311

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇