Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra
Not a member yet
311 research outputs found
Sort by
NOVEL NEGERI 5 MENARA: SEBUAH TINJAUAN DIDAKTIS
Negeri 5 Menara is a very inspiring novel. It could motivate youth to fight for success. Ahmad Fuadi’s novel published in Jakarta by Gramedia in 2009 contains some didactic values required by young generation. In order to elaborate them descriptive method and pragmatic theory are used. Among ten didactic values put forward by Ali (1984), there are three of them indentified in the novel by using qualitative approach i.e. the determination covering study hard, work hard, and high spirit; the value of divinity that is sincerity (ikhlas); and the value of skill i.e. the training of leadership and motivation.  Novel Negeri 5 Menara merupakan novel yang sangat inspiratif. Novel ini memberikan motivasi kepada generasi muda untuk berjuang meraih kesuksesannya. Novel karya Ahmad Fuadi yang diterbitakn di Jakarta oleh Gramedia pada 2009 ini mengandung nilai-nilai pendidikan yang dibutuhkan generasi muda. Dengan menggunakan metode deskriptif dan teori pragmatis, nilai-nilai pendidikan yang terangkum dalam novel ini dapat dijabarkan. Dari sepuluh nilai pendidikan yang dikemukakan Ali (1984), tiga di antaranya terlihat dalam novel ini melalui pendekatan kualitatif, yaitu nilai kehendak, mencakupi belajar dengan giat dan tekun, bekerja dengan keras, dan bersemangat yang tinggi; nilai ketuhanan, yakni bersifat ikhlas, dan nilai keterampilan, yakni melatih jiwa kepemimpinan dan memotivasi secara handal.  Â
TOKA-TOKI MELAYU, KUANTAN SINGINGI, RIAU: PENUTUR, WAKTU, BAHASA, DAN FUNGSI
There is inadequate number of research on “toka-toki†of Kuantan Singingi at the present time. In consequence, there is insufficient extensive knowledge about the speakers, the time of usage, the language used, and the function of the “toka-tokiâ€. In this study, those elements become the object of the research analysis. The method used in the analysis is qualitative descriptive method. The data was obtained from the field and also literature. The implementation phase of this study were (1) collecting data, namely by asking about the desired data related to the speaker, time, language, and “toka-toki†function to the informant, (2) the phase of analyzing the data, and (3) the phase of making conclusion. From this study, it was concluded that the speakers of “toka–toki†in the Kuantan Singingi are not limited to the age levels, the social levels, and education levels. Actually there is no specific time of the implementation of this “toka-tokiâ€. However, the game is often found when children play, after “mengaji†(reading Koran), or going to sleep in “surauâ€, drying rice, and looking for lice. The next conclusion, the question words used in implementing “toka-toki†are ‘siapo’; ‘sapo’ 'who' and ‘apo’ 'what' with some variations such as “apo ruâ€, “apo lo ruâ€, “apo tuâ€, “apo jie kilenâ€. In addition to the use of question words, “toka-toki†of Kuantan Singingi can use literal meaning and metaphorical meaning. Meanwhile, the function of the “toka-toki†Kuantan Singingi is to sharpen the mind and to deliver education and entertainment, and to tease others Penelitian mengenai toka-toki Kuantan Singingi belum banyak dilakukan. Hal tersebut menyebabkan pengetahuan mengenai penutur, waktu penggunaan, bahasa yang digunakan, dan fungsi toka-toki yang hidup di dalam masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi juga masih minim. Di dalam penelitian ini, penutur, waktu, bahasa, dan fungsi toka-toki inilah yang dijadikan objek penelitian. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif. Data didapat dari lapangan dan juga kepustakaan. Tahap pelaksanaan penelitian ini adalah (1) pengumpulan data, yaitu dengan bertanya mengenai data yang diinginkan berkaitan dengan penutur, waktu, bahasa, dan fungsi toka-toki kepada informan, (2) tahap penganalisisan data, dan (3) tahap pengambilan simpulan. Dari penelitian ini, disimpulkan bahwa penutur toka-toki di daerah Kuantan Singingi tidak terbatas pada tingkatan usia, tingkatan sosial, dan tingkatan pendidikan tertentu. Sebenarnya tidak ada waktu khusus pelaksanaan tokatoki ini. Akan tetapi, permainan ini sering dijumpai pada saat anak-anak bermain, sesudah mengaji, atau akan tidur di surau, menjemur padi, dan mencari kutu rambut. Simpulan selanjutnya, kata tanya yang dipergunakan di dalam bertoka-toki adalah kata siapo; sapo’siapa’ dan apo ‘apa’ dengan variasi apo ru, apo lo ru, apo tu, apo jie kilen. Selain penggunaan kata tanya, toka-toki Kuantan Singingi dapat menggunakan bahasa yang literal (harfiah) dan metaforis (kiasan). Sementara itu, fungsi dari toka-toki Kuantan Singingi adalah mengasah pikiran dan menyampaikan pendidikan, hiburan, dan menggoda orang lain.Â
A COMPARISON OF ONOMATOPOEIA IN FOREIGN, INDONESIAN, AND LOCAL LANGUAGES
Pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang merupakan representasi kebudayaan memiliki sejumlah kesulitan. Salah satu kesulitan itu berasal dari pengenalan bunyi. Sebuah cara alternatif untuk mengakomodasi masalah tersebut adalah dengan pengenalan bentuk onomatope. Onomatope menyediakan bermacam bunyi tiruan yang berbeda sebagai ikon lintas bahasa dan budaya untuk mengartikulasikan hal yang sama. Onomatope dapat berasal dari berbagai sumber, seperti komik, karikatur, novel, koran dan lain sebagainya. Onomatope dapat memberikan berbagai sudut pandang mengenai identitas kebahasaan dan kebudayaannya, setidaknya dalam bahasa Inggris, Indonesia, dan daerah.  Teaching English as a foreign language that is a representation of culture has some difficulties. One of the them comes from sounds recognition. An alternative way to accomodate the problem is by acknowledging an onomatopoeia. Onomatopoeia provides several different kinds of imitative sound as a cross cultures and language icon to articulate the same thing. Its sources can be taken from comics, caricatures, novels, newspapers, and others. Onomatopoeia could give various perspective of its cultural and language identity in English, Indonesia, and local language.Â
CAHAYA “KUNANG-KUNANG DI LANGIT JAKARTAâ€
Concretization is an expression meaning of the text as a whole. The meaning of the signs presented by the author is not an absolute truth. The generated meaning depends on the reader horizon which formed by the literary competence of readers. Through a semiotic approach, the short story entitled "Kunang-Kunang di Langit Jakarta". Agus Noor's work was made concrete to get the hidden meaning behind the story, so that the work becomes an aesthetic object. By using structural analysis through descriptive analysis method, this study reveals a view of the author about the events that occurred in Indonesia, the May 1998 riots. Konkretisasi merupakan pengungkapan makna teks secara keseluruhan. Pemaknaan terhadap tanda-tanda yang disuguhkan pengarang bukanlah sebuah kebenaran mutlak. Makna yang dihasilkan bergantung pada horizon pembaca yang terbentuk oleh kompetensi kesastraan pembaca. Melalui pendekatan semiotik, cerpen yang berjudul “Kunang-Kunang di Langit Jakarta†karya Agus Noor ini dikonkretkan untuk mendapatkan makna yang terselubung di balik cerita, sehingga menjadi objek yang estetis. Dengan menggunakan analisis struktural melalui metode deskriptif analitis, kajian ini mengungkapkan pandangan pengarang tentang sebuah peristiwa yang pernah terjadi di Indonesia, yaitu kerusuhan Mei 1998
ISOLEK-ISOLEK DI KABUPATEN ACEH TAMIANG PROVINSI ACEH: KAJIAN DIALEKTOLOGI
This article is a research report about dialect of Tamiang Malay (BMT) in Kabupaten Aceh Tamiang of Aceh Province which employs synchronic dialectological analysis. This article aims at describing linguistic features of BMT and to counts the percentage of variations of interisolects. For that purpose, dialectometry method by permutation technic is applied. The data collecting by recording and note-taking techniques. The analysis of data is executed by qualitative anda quantitative methods. The result of this analysis shows that BMT consist of 9 single vowels i.e [i, I, e, |, E , a, O , u, and U], 2 diftongs [aw, and Uy].. and 19 consonants i.e [b, c, d, h , g, j, k, l, m , n, p, R, s, t, y, w, G , n~ , and ? ].Tulisan ini merupakan hasil penelitian tentang dialek Melayu Tamiang (BMT) di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh yang menerapkan analisis dialektologi sinkronis. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan ciri-ciri linguistik BMT dan menghitung persentase variasi antarisolek-isoleknya menggunakan metode dialektometri dengan teknik permutasi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik rekaman dan pencatatan. Analisis data dilakukan menerapkan metod-metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan hasil bahwa BMT memiliki 9 bunyi vokal, yaitu [i, I, e, |, E, a, O, u, and U], 2 diftong, yaitu [aw dan Uy].. dan 19 konsonan, yaitu [b, c, d, h , g, j, k, l, m , n, p, R, s, t, y, w, G, n~, dan ?]. Â
TOKOH DALAM NAMA-NAMA JALUR DI KUANTANSINGINGI
The problem in this research is how the naming system of long boat in Kuantansingingi is. The research, entitled "The Figures in Long Boat Names in Kuantansingingi" aims to describe the naming system in the long boat in Kuantansingingi. The data were collected by inventorying names of each long boat participating in the “Pacu Jalur†festival, Telukkuantan, 2012. The author focuses only on the long boat with the figures name. The data were analyzed by using the descriptive analytical method based on the theory of Dessausure. The research findings show that the names of the figures are used because the owners of long boats hope that their long boats also have superiority such as the figures. The figure’s names used are pendekar, dubalang, raja, pangeran, putra/putri, sutan, panglimo, juragan, and panji. The naming system of long boast in Kuantansingingi is done through a village meeting by considering several things, including the geographical situation of the village such as lakes, rivers, and forests as well as legends or fairy tales, such as the legends about animals, figures, and so on that exist in their villages.  Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana sistem penamaan jalur di Kuantansingingi. Penelitian yang berjudul “Tokoh dalam Nama-nama Jalur di Kuantansingingi†ini bertujuan untuk mendeskripsikan sistem penamaan jalur di Kuantansingingi. Data dikumpulkan dengan menginventarisasi setiap nama jalur yang ikut dalam festival pacu jalur di Telukkuantan tahun 2012. Penulis hanya memfokuskan kepada nama jalur yang memiliki nama tokoh. Penganalisisan data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif analitis yang mengacu pada teori Dessausure. Penelitian ini menunjukkan bahwa nama-nama tokoh digunakan karena para pemilik jalur berharap agar jalur mereka juga memiliki keunggulan-keunggulan seperti tokoh tersebut. Nama-nama tokoh yang digunakan adalah pendekar, dubalang, raja, pangeran, putra/putri, sutan, panglimo, juragan, panji. Sistem penamaan jalur di Kuantansingingi adalah melalui rapat desa dengan mempertimbangkan beberapa hal, di antaranya keadaan geografis desa seperti danau, sungai, dan hutan yang ada di desa mereka serta legenda atau dongeng yang berkembang di desa tersebut, seperti legenda tentang binatang, tokoh, dan sebagainya.Â
POLA BUNYI DALAM MANTRA PROSESI PACU JALUR DI KUANTAN SINGINGI: KAJIAN STILISTIKA
This study aims to describe the sound patterns of magical words of Pacu Jalur procession through stylistics study. By using the descriptive method and interview of the respondents living at Koto Kombu, Kuantan Hulu, Kuantan Singingi, the data, in forms of the magical words, are analyzed through several satages; transcripting, translating, classifying and formulating the research findings. The research findings show that the sound patterns of magical words of Pacu Jalur contain /sipata/, /ma/, /ka/, /rang/, /ja/, /al/ dan /si/, and assonanse consisting the sound pattern of /i/, /a-a-o/, and /a-a/. The rhemes include an initial position rheme with the pattern of a-a and sound pattern of /nan/, /un/, /di/, /ba/, /da/, /lah/, /no/, /ja/, /al/, /nan/, /di/, /ba/, /hai/, /nan/, and sound pattern of /un/, a middle position rheme with the pattern of a-a dan sound pattern of /do/, /pah/, /nan/, /uo/, /ngan/, /li/, /do/, /ang/, dan /au/, a final position rheme with the pattern of a-a-a and sound pattern of /mo/, /to/, /yu/, /to/, dan /au/, a twin rheme of thre pattern of aa-bb and sound pattern of /nan/-/uak/ and /kan/-/kat/, the pattern of (aa-bb) with the sound pattern of /lam/-/yu/, the pattern of (aa-aaa) with the sound pattern of /nan/, the pattern of (aaa-bb) with the sound pattern of /uak/-kan/ and /kat/-/hai/, and cross rheme containing the pattern of ab-ab with the sound pattern of /o/ /h/-/o/ /h/. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola-pola bunyi dalam mantra prosesi pacu jalur melalui kajian stilistika. Dengan menggunakan metode deskriptif dan teknik wawancara dari informan yang tinggal desa Koto Kombu, Kuantan Hulu, Kuantan Singingi data berupa mantra dianalisis dengan langkah-langkah mentranskripsikan, menerjemahkan, mengklasifikasikan, menginterpretasikan data, dan merumuskan hasil penelitian. Hasil yang diperoleh adalah mantra-mantra dalam prosesi pacu jalur terdiri atas MMK, MPK, MMPJ, dan MMJ dengan pola-pola aliterasi yang meliputi bunyi /sipata/, /ma/, /ka/, /rang/, /ja/, /al/ dan /si/, dan asonansi meliputi bunyi /i/, /a-a-o/, dan /a-a/. Rima mencakup pada posisi rima awal dengan pola a-a dan bunyi /nan/, /un/, /di/, /ba/, /da/, /lah/, /no/, /ja/, /al/, /nan/, /di/, /ba/, /hai/, /nan/, dan bunyi /un/, rima tengah dengan pola a-a dan bunyi /do/, /pah/, /nan/, /uo/, /ngan/, /li/, /do/, /ang/, dan /au/, rima akhir memiliki pola a-a-a dan bunyi /mo/, /to/, /yu/, /to/, dan /au/, rima kembar pola (aa-bb) dan bunyi /nan//uak/ dan /kan/-/kat/, pola (aa-bb) dengan bunyi /lam/-/yu/, pola (aa-aaa) dengan bunyi /nan/, pola (aaa-bb) dengan bunyi /uak/-kan/ dan /kat/-/hai/, dan rima silang memiliki pola ab-ab dengan bunyi /o/ /h/-/o/ /h/.Â
BUNYI /O/ DIALEK KAMPAR BERASAL DARI / / DIALEK RIAU KEPULAUAN: BENARKAH?
The object ive of this research is to find out the origin of phone / / in BMDK. In order to reach the goal, this research uses the data in forms of 100 words listed in the Swadesh Form. The Data were obtained by the mapping team of local language of Balai Bahasa Provinsi Riau. The data were analyzed with descriptive method, dialectology theory and linguistic history. The research findings show that phone / / in BDMK does not come from /"/ which is one of the characteristics of BMK, but from /o/ which is one of the characteristics of BM