Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra
Not a member yet
311 research outputs found
Sort by
Transposisi Verba-Predikat Menjadi Nomina-Subjek dalam Kalimat Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda
Penelitian ini merupakan kajian bidang sintaksis yang memfokuskan pada transposisi verba predikat menjadi nomina subjek. Pengkajian transposisi konstituen verba predikat menjadi nomina subjek dalam kalimat bahasa Indonesia dan bahasa Sunda dibatasai pada perubahan konstruksi, struktur, dan tataran gramatikal. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan konstruksi konstituen subjek, perubahan fungsi lain, perubahan kategori, perubahan tataran gramatikal, dan unsur yang berperan. Trasposisi verba predikat menjadi nomina subjek merupakan kajian yang penting dan menarik karena dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda gejala kebahasaan ini banyak ditemukan, tetapi belum dikaidahkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan penyajian data deskriptif yang menggunakan metode dan teknik distribusional pada tahap analisis data. Hasil pengkajian menunjukkan hal-hal sebagai berikut. (a) Dalam transposisi konstituen verba predikat menjadi nomina subjek terjadi pengedepanan konstituen verba predikat. (b) Transposisi konstituen verba predikat menjadi nomina subjek melibatkan morfem, baik morfem afiks maupun morfem kata. (c) Transposisi konstituen verba predikat menjadi nomina subjek menunjukkan terjadinya penominaan (nominalisasi) konstituen. (d) Transposisi konstituen verba predikat menjadi nomina subjek menghilangkan fungsi sintaksis pendamping verba predikat asal dan cenderung terjadi perubahan struktur pada nomina subjek. (e) Transposisi konstituen verba predikat menjadi nomina subjek cenderung mengubah tata tingkat (tataran) gramatikal, yakni kata polimorfemis menjadi monomorfemis atau sebaliknya, frase menjadi kata, dan klausa atau kalimat menjadi frase. Seluruh proses transposisi verba predikat menjadi nomina subjek tersebut dipicu oleh adanya pengutamaan topik-komen yang dinyatakan oleh penutur ujaran tersebut
Metafora Kata Buah dalam Bahasa Melayu Dialek Mempura Kabupaten Siak: Kajian Semantik Kognitif
AbstractMetaphor becomes a marker of language in Malay society. Metaphors are usually used to praise, insinuate, ask for, and express something. Therefore, it is necessary to conduct an analysis study of the metaphor of the word fruit in Mempura Malay language as physical parts and space of human body to reveal the meanings. The purpose of this research is to find out the metaphorical forms and meanings of the word fruit as the physical parts and space of human body in Mempura Malay language. This qualitative and descriptive research was conducted through a cognitive semantic perspective. The data of this research were collected from the utterances of the Mempura Malay community which mostly used metaphorical expressions. The techniques of data collection were by means of interviewing, evoking, listening and conversation, and recording. The data were analyzed by means of descriptive method. The result of the study shows that there are several metaphors for the word fruit as the physical parts and space of human body in Mempura Malay language to express something such as ‘buah hati’, ‘buah jakun’, ‘buah betis’, ‘buah dada’, and ‘buah cinta’. AbstrakMetafora menjadi penanda bahasa dalam masyarakat Melayu. Metafora biasanya digunakan untuk memuji, menyindir, meminta, dan menyatakan sesuatu. Hal ini mendorong dilakukan analisis metafora kata buah bagian fisik dan ruang manusia untuk mengetahui makna ungkapan yang terdapat dalam bahasa Melayu Mempura. Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan bentuk dan makna metafora kata buah bagian fisik dan ruang manusia dalam bahasa Melayu Mempura. Metode yang digunakan ialah metode penelitian deskriptif kualitatif melalui perspektif semantik kognitif. Data penelitian ini diambil dari tuturan masyarakat Melayu Mempura yang banyak menggunakan ungkapan metafora. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah teknik wawancara yang dibantu dengan teknik pancing, dan simak cakap yang disertai dengan teknik rekam. Teknik analisis data dilakukan menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat metafora kata buah bagian fisik dan ruang manusia dalam bahasa Melayu Mempura untuk menyatakan sesuatu, misalnya, buah hati, buah jakun, buah betis, buah dada, buah cinta, dan lain sebagainya
Makian Referen Keadaan dalam Bahasa Melayu Jambi di Muara Bungo: Kajian Sosiolinguistik
AbstractJambi is a province in Indonesia which is divided into eleven regencies and and municipalities. One of the regencies is Bungo whose capital is Muara Bungo. Muara Bungo community uses Jambi Malay language to interact one other. This study discusses about the situational referents of swear words in Jambi Malay language. The background of the research was the habits of Muara Bungo community in using swear words to express anger, disappointment, resentment, hatred, etc. The purpose of this study is to identify, describe, and explain the situational referents of the swear words in Jambi Malay language. The data were collected by means of listening, interview, recording and note taking techniques. They were analyzed by means of distributional and identity methods. The results of the analysis of this qualitative research were presented in an informal descriptive form. They show that the situational referents of the swear words in Jambi Malay language are different from other regional languages in terms of form, naming, and function of swear words. AbstrakJambi merupakan salah satu provinsi yang ada di Indonesia. Jambi memiliki 11 kabupaten, salah satunya adalah Muara Bungo. Masyarakat Muara Bungo menggunakan bahasa Melayu Jambi untuk berinterakasi satu sama lain. Penelitian ini dilatarbelakangi kebiasaan masyarakat Muara Bungo menggunakan makian pada saat mengekspresikan rasa marah, kesal, kecewa, benci, dan lain-lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi, menggambarkan, dan menjelaskan makian yang mengandung referen keadaan dalam bahasa Melayu Jambi. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik simak dan teknik wawancara. Penelitian ini juga menggunakan teknik rekam dan catat. Teknik analisis data menggunakan metode padan dan agih. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil analisis disajikan dalam bentuk deskriptif informal. Penemuan hasil penelitian menunjukkan bahwa makian referen keadaan dalam bahasa Melayu Jambi memiliki perbedaan dengan bahasa lainnya, yaitu dari segi bentuk, penamaan, fungsi makian
Nilai-Nilai Moral dalam Naskah “Kitab Pengajaranâ€
AbstractThe purpose of this research is to reveal the existing moral values in the Kitab Pengajaran. The data source of this descriptive qualitative research is the manuscript of Kitab Pengajaran stored in the British Library, England whose inventory code number is MSS Malay B metadata 13. The result of the study shows that there are some moral teachings in this text, namely: thinking before speaking, covering the disgrace of others, being disciplined and on time, and being able to control anger and lust. These teachings rightly need to be preserved, disseminated, and implemented in social life today and in the future. Thus, the expectation of producing superior human resources among the Indonesian people whose characters are strong and intelligent will be immediately met. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan nilai-nilai moral yang ada dalam Kitab Pengajaran. Adapun bentuk penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitaif dengan menggunakan sumber data berupa naskah Kitab Pengajaranyang tersimpan di Perpustakaan British, Inggris, dengan nomor kode inventarisasi metadata MSS Malay B13. Berdasarkan hasil kajian, dapat diketahui bahwa tterdapat beberapa ajaran moral dalam naskah ini, yaitu: ajaran untuk berpikir sebelum berucap, ajaran menutupi aib orang lain, ajaran disiplin dan tepat waktu, serta mampu mengendalikan amarah dan hawa nafsu. Ajaran-ajaran tersebut sudah sepatutnya perlu dilestarikan, disosialisasikan, dan diimplementasikan lagi dalam kehidupan bermasyarakat, baik di masa sekarang maupun di masa-masa yang akan datang. Dengan demikian, harapan bangsa Indonesia agar segera menghadirkan sumber daya manusia unggul yang memiliki karakter kuat dan cerdas dapat menjadi sebuah kenyataan.Â
Perspektif Gender dalam Koba Malin Deman
Koba Malin Deman (KMD) merupakan cerita rakyat yang disampaikan dengan cara dinyanyikan. Cerita KMD menceritakan perkawinan antara manusia dengan bidadari. Yang menarik dari Koba Malin Deman versi Melayu Riau ini adalah bersatunya antara manusia dan bidadari hingga akhir cerita. Metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan feminisme dengan teori feminisme eksistensialis. Metode deskriptif dipergunakan untuk mendeskripsikanbentuk-bentuk ketertindasan perempuan terhadap hegemoni patriarkat di ranah domestik, sedangkan teori feminisme eksistensialis dipergunakan untuk menganalisis perjuangan perempuan menjadi subjek.Hasil analisis menunjukkan bahwa teks KMD memperlihatkan bias gender. Perempuan dalam cerita ini menjadi objek sekaligus subjek. Ketertindasan perempuan dikarenakan adanya pelabelan stereotip negatif dan perempuan sebagai objek penilain dan pengamatan laki-laki. Subjektivitas perempuan ditunjukkan dengan cara menjadi perempuan intelektual sehingga bisa membebaskan diri sendiri dan membebaskan diri dari lingkungan ideologi patriarki. Dalam pandangan kaum feminis, perjuangan perempuan untuk menjadi subjek belum bisa dikatakan sebagai subjek yang absolut. Posisinya dalam masyarakat hanyalah sebatas mendukung peran gender tradisional, yaitu istri mendukung kesuksesan suami. Â
Hubungan Kekerabatan Bahasa Melayu Patani dengan Bahasa Minangkabau
Penelitian ini adalah penelitian bahasa Melayu Patani dan bahasa Minangkabau dengan tujuan untuk mengetahui hubungan kekerabatan serta waktu pisah kedua bahasa tersebut. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan menerapkan teknik leksikostatistik. Instrumen penelitian ini merupakan 200 kata dasar Morris Swadesh. Berdasarkan analisis data 200 kata ditemukan 4 kata yang tidak diperhitungkan sehingga kosakata yang diperhitungkan total sebanyak 196 kata. Dari 196 kata tersebut terdapat 128 kata yang berkerabat dan 68 kata yang tidak berkerabat. Adapun tingkat persentase kekerabatan kedua bahasa ini adalah sebesar 65%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kedua bahasa ini mulai berpisah antara 0.994–0.888 tahun yang lalu atau sekitar tahun 1025–1135 M dihitung dari waktu sekarang (2019). Berdasarkan hasil analisis ini, dapat disimpulkan bahwa kedua bahasa ini memiliki hubungan kekerabatan dalam klasifikasi keluarga (family) serta memiliki waktu pisah antara 5–25 abad yang lalu
Bentuk Negasi dalam Bahasa Mandailing
AbstractNegation is a denial form in language which function to deny a statement of an interlocutor. This study aims to analyze words for negation in the Panyabungan Mandailingnese . The research used qualitative method and descriptive analysis. The data were collected from native speakers by means of interviewing, listening and note taking techniques. The Data were analyzed to find out the connotative meanings so as their negation functions were explained . The results of the study show that there are several words for negation in mandailingnese namely ‘inda’, ‘unang’, ‘nangkon’, ‘biai’, ‘anggo na’, and ‘nanggo’. There are also words for negation in Panyabungan Mandailingnese bound to auxiliary words such as a combination between ‘anggo’ and ‘na’ results in a form of negation. AbstrakPenegasian adalah bentuk pengingkaran yang sering digunakan dalam berbahasa dengan tujuan mengingkari suatu pernyataan oleh lawan bicara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kata negasi dalam bahasa Mandailing Panyabungan. Adapun metode yang dilakukan ialah metode kualitatif melalui analisis deskriptif pada data yang dikumpulkan dari narasumber atau penutur asli melalui teknik wawancara, simak, dan catat. Data diambil dan dianalisis hingga mendapatkan makna konotasi yang menjelaskan fungsi negasi tersebut. Dari analisis yang dilakukan ada banyak kalimat dalam BMP menggunakan metafora atau konotasi dalam penegasian. Keunikan yag terdapat pada negasi Mandailing dari beberapa klausa ialah kata negasi yang selalu berada pada awal kalimat, misalnya inda, anggo, nangkon, biai. Penegasian dalam BMP juga memiliki kata yang terikat dengan kata bantu seperti anggo dengan na yang apabila dihubungkan maka akan muncul bentuk negasi
Analisis Semantik Idiom Jepang yang Mengandung Unsur Leksem Hati (Kokoro)
Dalam komunikasi, idiom adalah bagian dari ekspresi bahasa yang tidak dapat dipisahkan. Pemaknaan idiom yang berkaitan dengan kebudayaan dan kebiasaan masyarakat penuturnya, menjadikan para pembelajar bahasa asing harus memahami perluasan makna idiom tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan makna leksikal dan makna figuratif pada idiom Jepang yang menggunakan bagian hati tubuh serta untuk mengetahui perubahan makna pada idiom dengan unsur kokoro (心) ‘hati.’ Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Teori yang digunakan adalah teori semantik perluasan makna. Data yang digunakan bersifat jitsurei dan sakurei. Kesimpulan dari analisis semantik idiom Jepang yang menggunakan unsur kokoro yaitu terdapat keterkaitan antara makna leksikal idiom bahasa Jepang yang menggunakan nama bagian tubuh, yaitu hati dengan makna kiasannya. Makna leksikal dalam idiom menjadi dasar pemikiran dari tiap makna idiomatikal yang dibentuk, terjadi perubahan makna bagian tubuh yang digunakan dalam pembentukan idiom bahasa Jepang, kemudian situasi dan keadaan yang diungkapkan idiom bahasa Jepang yang menggunakan leksem kokoro (hati) antara lain adalah perasaan bahagia, senang, tidak suka, khawatir dan takut