Jurnal Teknik ITS
Not a member yet
3833 research outputs found
Sort by
Penentuan Lokasi Pusat Distribusi Penjualan Sepeda Motor Listrik Menggunakan Integrasi Faktor Objetif dan Subjektif: Kasus Pada PT Gesits Technologies Indo
PT Gesits Technologies Indo merupakan perusahaan nasional Indonesia bergerak pada bidang otomotif sepeda motor listrik, Gesits. Pendistribusian telah dilakukan sejak Desember 2019. Sayangnya, permintaan unit tidak diimbangi pada proses pendistribusian. Untuk melayani daerah tengah dan timur Pulau Jawa, pengiriman unit ke setiap pasar masih dilakukan secara terpusat dari pabrik yang menyebabkan biaya transportasi membengkak. Hal ini disebabkan karena kurangnya fasilitas distribusi, sehingga manajemen berencana membuka pusat distribusi di salah satu kandidat lokasi yaitu Semarang atau Surabaya. Untuk menentukan lokasi, dibutuhkan pertimbangan kompleks dengan mempertimbangkan perhitungan serta kriteria. Penulis menggunakan metode kuantitatif melalui model Brown-Gibson karena dapat mengintegrasikan faktor objektif dan subjektif dengan baik. Input faktor objektif berupa proyeksi tiga tahunan (2021-2022) perusahaan diolah menggunakan model transportasi sehingga didapatkan kota alternatif dengan biaya transportasi terendah. Dari model tersebut juga akan didapatkan alokasi dari pabrik ke pasar. Sedangkan penilaian faktor subjektif dilakukan dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) melalui identifikasi, verifikasi kriteria, dan kuesioner oleh pengambil keputusan di PT Gesits Technologies Indo. Setelah itu dilakukan analisis sensitifitas untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kedua faktor terhadap penentuan lokasi pusat distribusi. Hasil penelitian menunjukkan peringkat LPMi pertama jatuh pada Surabaya dengan nilai 0,539 dilanjutkan dengan Semarang (0,461). Biaya transportasi pada tahun 2021 dibandingkan dengan usulan lokasi awal turun sebesar 29,4%. Hal tersebut membuktikan bahwa dengan pembukaan pusat distribusi, maka biaya transportasi dapat ditekan sejalan dengan pertimbangan kriteria faktor subjektif dalam penentuan lokasi
Evaluasi Kualitas Pelayanan Commuter Line berdasarkan Perspektif Gender
KRL atau Commuter Line merupakan transportasi umum andalan warga Jakarta dimana permintaan terhadap moda transportasi tersebut terus meningkat dilihat dari trend pengguna KRL yang terus bertambah selama lima tahun terakhir. Namun, KRL masih memiliki berbagai masalah dalam pelayanannya yang dapat mengancam keamanan dan kenyamanan penggunanya, khususnya perempuan sebagai kelompok yang cenderung lebih rentan. Evaluasi pelayanan KRL berdasarkan perspektif gender diperlukan untuk mengetahui kondisi real kualitas pelayanan KRL. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prioritas pelayanan yang perlu ditingkatkan PT. KCI sebagai operator KRL dalam upaya memenuhi kebutuhan setiap gender. Penelitian dilakukan dengan survei primer melalui penyebaran kuesioner kepada pengguna KRL yang diolah menggunakan analisis Customer Satisfaction Index (CSI) untuk mengetahui tingkat kepuasan pengguna terhadap kinerja pelayanan KRL Commuter Line dan uji Chi-Square untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan penilaian kualitas berdasarkan gender. Selanjutnya, analisis Importance Performance Analysis (IPA) dilakukan untuk mencari aspek pelayanan prioritas sesuai perspektif gender yang perlu ditingkatkan kinerjanya. Penelitian ini menghasilkan prioritas pelayanan KRL yang perlu ditingkatkan oleh PT. KCI. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diambil kesimpulan bahwa tingkat kepuasan pengguna KRL laki-laki dan perempuan masih berada pada kriteria βcukup puasβ dimana tingkat kepuasan perempuan lebih rendah dari laki-laki. Terdapat perbedaan perspektif yang signifikan berdasarkan gender dalam penilaian kinerja pelayanan KRL dari 4 variabel berikut: penerangan stasiun, petugas berseragam, keberadaan CCTV stasiun, serta informasi umum tentang jalur, tarif, rute, frekuensi, dan jadwal perjalanan. Variabel keberadaan gerbong wanita dinilai berlebihan kinerjanya (kategori overkill) oleh laki-laki maupun perempuan. Adapun prioritas aspek pelayanan utama yang perlu ditingkatkan oleh PT. KCI menurut penilaian kinerja dan kepentingan dari laki-laki dan perempuan adalah manajemen frekuensi kereta dan CCTV pada stasiun
Analisis Kinerja Operasional Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jogja Trayek 8
Penerapan angkutan massal berbasis jalan raya di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami perkembangan yang cukup signifikan pada tahun 2017. Pemerintah provinsi menambah trayek Trans Jogja jika semula hanya 8 trayek kini telah bertambah menjadi 17 trayek. Trayek 8 merupakan salah satu trayek baru yang mulai beroperasi pada tahun 2017 dan merupakan salah satu trayek terpanjang karena menghubungkan penumpang dari Terminal Jombor menuju dalam Kota Yogyakarta dan dilanjutkan menuju jalan Ringroad Selatan. Trayek yang cukup baru tersebut diperlukan evaluasi untuk mengetahui bagaimana kinerja dalam melayani masyarakat umum dan dapat menjadi rujukan bagi Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan PT. Anindya Mitra Internasional (AMI) sebagai salah satu pengelola untuk meningkatkan kinerja operasional Bus Trans Jogja khususnya trayek 8. Kinerja operasinal bus Trans Jogja trayek 8 yang akan ditinjau melalui analisis waktu tempuh, analisis selisih kedatangan antar armada bus, analisis ruang dalam bus yang mencakup kenyamanan tempat duduk penumpang dan ruang berdiri untuk penumpang, analisis Load Factor bus, dan tingkat kepuasan konsumen terhadap pelayanan bus Trans Jogja. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan didapatkan waktu tempuh rata-rata pada hari kerja adalah 1 jam 55 ment dan pada hari libur selama 1 jam 53 menit. Waktu tunggu (headway) pada hari kerja adalah 31 menit dan pada hari libur 31 menit. Angka kenyamanan untuk tempat duduk penumpang 0,27 m2/seats dan tempat berdiri penumpang 0,3 m2/space dengan kapasitas angkut 1 bus sebanyak 40 penumpang. Faktor muat rata-rata pada bus trans jogja trayek 8 pada homor bus 92, 93, 94, 108, 108 secara berurutan sebesar 32%, 27%, 24%, 29%, 34%. Dari hasil pengukuran Kualitas pelayanan terhadap kepuasan penumpang disimpulkan bahwa Bus Trans Jogja Trayek 8 belum memenuhi kriteria sebagai BRT dikarenakan Trans Jogja tidak memiliki jadwal yang pasti dan tidak memiliki jalur khusus
Studi Demand Pengembangan Moda Transportasi Angkutan Umum Berbasis Rel untuk Rute Stasiun Gubeng β Terminal 1 Bandara Juanda Melalui Jalan DR. IR. H. Soekarno Surabaya
Kota Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Kota Jakarta. Salah satu permasalahan transportasi yang terjadi di Surabaya adalah keterbatasan akses penghubung antara Stasiun Gubeng dengan Bandara Juanda yang hanya dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum yang telah ada seperti taksi dan bis damri. Apabila direncana untuk membuat angkutan umum berbasis rel yang menghubungkan antara Stasiun Gubeng-Bandara Juanda maka perlu ada analisis yang bertujuan untuk mengetahui besarnya demand yang memanfaatkan angkutan umum tersebut. Beberapa tahapan untuk mencapai tujuan tersebut. Tahap pertama adalah dengan melakukan kuesioner kepada para pengguna jasa angkutan umum dan kendaraan pribadi di lokasi tinjauan. Tahap kedua adalah menganalisis data yang telah terkumpul dengan menggunakan metode stated preference. Tahap ketiga adalah kompilasi data yang dilakukan terhadap angkutan umum berbasis rel dengan kendaraan pribadi yang kemudian dianalisis dengan menggunakan pendekatan regresi. Kompilasi data untuk pendekatan regresi ini dilakukan dengan menggunakan paket program regresi. Tahap keempat adalah memahami perubahan nilai probabilitas pemilihan angkutan umum berbasis rel seandainya dilakukan perubahan nilai atribut pelayanannya. Tahap terakhir adalah menganalisis jumlah masyarakat yang berpindah dari pengguna kendaraan pribadi menggunakan angkutan umum berbasis rel. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik penumpang, jumlah perpindahan penumpang menggunakan angkutan umum berbasis rel dari pengguna mobil pribadi terhadap perjalanan harian sebesar 1.361 dan perjalanan bandara sebesar 70, kemudian jumlah perpindahan dari pengguna angkutan umum lain menggunakan angkutan umum berbasis rel terhadap perjalanan harian sebesar 560 dan perjalanan bandara sebesar 13 dan dalam sepuluh tahun kedepan penumpang angkutan umum berbasis rel diramalkan sebesar 7.175 terhadap perjalan harian dan 174 terhadap perjalanan bandara
Tinjauan Pengaruh Jenis Partikel Halloysite Nanotubes dan Montmorillonite Nanoclay terhadap Morfologi dan Sifat Mekanik pada Komposit Poliester Tak Jenuh/Partikel Nano untuk Aplikasi Lapisan Gel pada Kapal Laut
Material baru yang kuat dan ringan merupakan fokus utama pada dunia penelitian maupun industri. Komposit merupakan jenis material baru dengan mengandalkan matriks dan penguatnya. Poliester tak jenuh merupakan salah satu jenis matriks yang memiliki sifat ketahanan terhadap air dan kimia yang baik. Namun, poliester tak jenuh memiliki keterbatasan dalam sifat mekaniknya yang kaku. Nanokomposit dengan penguat nanopartikel merupakan salah satu metode untuk meningkatkan sifat mekanik, serta ketahanan termal pada komposit polimer. Nanopartikel dengan berbagai macam jenis telah diteliti pengaruhnya terhadap polimer poliester tak jenuh. Pada tinjauan ini, telah dipelajari pengaruh dari penambahan nanopartikel terhadap morfologi menggunakan SEM, sifat mekanik berupa kekuatan tarik, kekuatan tekan, dan kekuatan lentur dari bentuk dan jenis partikel halloysite nanotubes dan montmorillonite nanoclay terhadap nanokomposit polimer poliester tak jenuh. Didapatkan bahwa pada semua jenis penambahan nanopartikel telah memengaruhi morfologi dari nanokomposit. Kemudian, didapatkan bahwa jenis nanopartikel pada tinjauan ini juga meningkatkan sifat mekanik dengan penambahan pada rasio tertentu
Perencanaan dan Pengendalian Proyek Konstruksi dengan Metode Critical Chain Project Management dan Root Cause Analysis
Dalam proses mencapai tujuan, proyek memiliki karakteristik yang disebut sebagai triple constraint, antara lain target waktu, biaya, dan persyaratan kinerja yang spesifik. Keterlambatan pengerjaan proyek merupakan permasalahan yang sedang dihadapi oleh PT. Hasta Karya Perdana sebagai kontraktor utama proyek pengadaan barang dan jasa konstruksi GI 150 kV Arjasa, secara umum hal ini disebabkan oleh permasalahan yang dialami oleh stakeholder internal dan eksternal proyek. Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner penyebab keterlambatan pengerjaan proyek pada manajemen proyek dan tim proyek GI 150 kV Arjasa PT. Hasta Karya Perdana didapat 3 penyebab utama keterlambatan pengerjaan proyek terdiri dari kategori method, material, dan man. Dari hasil dokumentasi pembelajaran dan pengetahuan proyek didapatkan 7 aspek yang menjadi keberhasilan dalam pengerjaan proyek, digolongkan dalam kelompok kontraktor utama, subkontraktor, dan pemilik proyek. Sedangkan terdapat 14 aspek yang menghambat pengerjaan proyek, dapat digolongkan dalam kelompok kontraktor utama, subkontraktor, pemilik proyek, dan faktor eksternal. Kemudian berdasarkan hasil pengolahan dengan Microsoft Project didapatkan durasi pengerjaan proyek dengan CCPM menjadi 601,05 hari kalender termasuk dengan buffer waktu dan pengurangan biaya tenaga kerja sebesar Rp495.389.930
Perancangan Kebijakan Perawatan Menggunakan Metode RCM II untuk Meningkatkan Nilai Overall Equipment Effectiveness Mesin Filling R-24 A (Studi Kasus PT X)
PT X merupakan salah satu perusahaan yang memproduksi kosmetik lokal. Salah satu mesin yang digunakan dalam proses produksi kosmetik adalah mesin filling R-24 A yang digunakan untuk mengisi cairan ke dalam botol-botol kosmetik pada unit produksi cairan kental berupa milk cleanser. Mesin ini sering mengalami kerusakan pada komponen penyusunnya sehingga produktivitas perusahaan terganggu. Hal ini dibuktikan dari target tahunan yang sering tidak tercapai akibat tingginya downtime. Penelitian ini membahas mengenai penjadwalan maintenance menggunakan metode Reliability Centered Maintenance (RCM) II. Penggunaan RCM II information worksheet dilakukan untuk melakukan failure mode and effect analysis (FMEA) dari setiap kegagalan. Selain itu, penggunaan RCM II Decision worksheet juga digunakan untuk menentukan kegiatan pemeliharaan yang tepat. Kemudian dilakukan perhitungan interval perawatan sebagai dasar pembuatan kalender penjadwalan maintenance. Hasil dari analisis menggunakan RCM II adalah terdapat 5 komponen dengan kegiatan perawatan scheduled on condition, 2 komponen dengan kegiatan perawatan scheduled restoration task, 2 komponen menggunakan perawatan scheduled on discard task dan 1 komponen dengan kegiatan no scheduled maintenance. Estimasi peningkatan nilai Overall Equipment Effectiveness pada mesin filling R-24 A adalah sebesar 7,44% dan efisiensi biaya sebesar 16,63% atau setara dengan Rp. 33.308.442
Pengembangan Sektor Unggulan Komoditas Kopi di Kabupaten Malang dengan Konsep Agribisnis
Tingginya permintaan kopi di Kabupaten Malang baik dari ekspor maupun dalam negeri tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas tanaman kopi, selain itu kemampuan sumber daya manusia yang kurang dan tingkat kesejahteraan petani kopi yang masih rendah merupakan masalah yang sedang dihadapi oleh Kabupaten Malang pada saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan pengembangan sektor unggulan komoditas kopi di Kabupaten Malang dengan menggunakan konsep agribisnis. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dilakukan melalui 4 tahap analisis. Pertama, menentukan daerah unggulan komoditas kopi dengan metode analisis Location Quotient dan Shift Share. Kedua, menentukan variabel yang berpengaruh terhadap pengembangan komoditas Kopi dengan metode analisis Delphi. Ketiga, menetukan variabel prioritas pengembangan komoditas kopi dengan metode Skoring. Keempat, menentukan arahan pengembangan komoditas kopi di Kabupaten Malang dengan menggunakan analisis Triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 6 daerah unggulan komoditas kopi di Kabupaten Malang yaitu Kecamatan Dampit, Sumbermanjing, Tirtoyudo, Ampelgading, Karangploso dan Pujon. Selain itu terdapat 21 variabel agribisnis yang memiliki pengaruh di Kabupaten Malang dan juga 13 variabel prioritas pengembangan. Arahan pengembangan komoditas kopi terdiri dari sub sistem sarana produksi berupa pengembangan bibit dan pemerataan distribusi pupuk. Untuk subsistem usaha tani dengan melakukan penanaman tumpang sari dan pengawasan. untuk sub sistem pengolahan dan pemasaran dengan pengembangan difersifikasi produk, dan peningkatan penggunaan teknologi. Untuk sumber daya manusia dengan melakukan pelatihan dan pendampingan. Untuk infrastruktur dengan pemerataan ketersediaan infrastruktur. Sedangkan untuk kelembagaan dengan meningkatkan kerjasama antara pemerintah, swasta, masyarakat serta pelaku-pelaku agribisnis
Forecasting Timbulan Sampah Kota Surabaya Menggunakan Time Series Analysis
Pengembangan sistem pengelolaan sampah kota yang efektif dan environmentally sustainable selalu menjadi tantangan bagi kota-kota di negara berkembang, termasuk bagi Kota Surabaya. Situasi ini diperburuk oleh tingginya angka sampah yang dihasilkan sebagai hasil meningkatnya angka urbanisasi, pertumbuhan penduduk, dan peningkatan ekonomi. Perencanaan manajemen pengelolaan sampah yang efisien memerlukan peramalan yang akurat, khususnya perkiraan jumlah sampah yang harus dikelola. Forecasting timbulan sampah dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa pendekatan. Penelitian ini akan menggunakan model Seasonal ARIMA dan Decomposition baik untuk Additive dan Multiplicative untuk melakukan forecasting timbulan sampah DKRTH Kota Surabaya. Dari analisis yang dilakukan model Seasonal ARIMA memberikan performa yang terbaik sehingga dapat digunakan untuk melakukan forecasting deployment. Data histori yang digunakan adalah data Tahun 2017-2019 untuk forecasting Tahun 2020
Purwarupa Lengan Robot Penyuap Makanan Berbasis Estimasi Posisi Mulut
Lengan Robot atau Robotic Arm merupakan alat yang sering digunakan di berbagai bidang perindustrian baik untuk produksi maupun pemindahan produk. Beberapa lengan robot juga digunakan dalam pelayanan domestik seperti sebagai pembantu rumah tangga. Lengan Robot memiliki keunggulan dibanding dengan robot mobile seperti pengulangan gerakan yang presisi, efisiensi tinggi, dan kemampuan membawa beban yang besar di daerah sempit. Gerakan lengan Robot tergantung dengan jumlah DOF (Degree Of Freedom). Lengan robot dapat dikendalikan gerakannya menggunakan teknologi visi komputer dimana ujung dari lengan robot diarahkan pada objek yang tertangkap kamera. Pada studi ini, Lengan Robot akan diimplementasikan sebagai alat penyuap makanan untuk membantu orang β orang yang kesulitan melakukan gerakan mekanis memasukan makanan seperti pasien kecelakaan dan orang lansia. Alat ini menggunakan estimasi posisi berbasis visi komputer untuk menentukan posisi mulut manusia dan mengarahkan ujung lengan robot yang berupa sendok menuju depan mulut manusia. Hasil dari penelitian ini adalah lengan robot dapat mengarahkan sendok ke depan mulut dengan menerapkan metode invers kinematik dari titik koordinat posisi mulut yang telah didapat dengan error rate yang kecil sebesar 0.88 β 1.52 cm. Bentuk sendok akan mempengaruhi jenis makanan yang cocok dalam sistem lengan robot. Pada penelitian ini, sendok yang digunakan cocok dengan jenis makanan tidak berkuah seperti nasi dan bua