Jurnal Teknik ITS
Not a member yet
3833 research outputs found
Sort by
Analisis Persebaran Keanekaragaman Hayati pada Pohon dan Potensinya Dalam Penyerapan Emisi Karbon di Wilayah Perkotaan Menggunakan Data Foto Udara dan Lidar (Studi Kasus: Kelurahan Darmo, Kota Surabaya)
Fenomena urbanisasi yang cepat di zaman modern ini menimbulkan banyak masalah di berbagai aspek, salah satunya aspek lingkungan, khususnya di wilayah perkotaan seperti Kota Surabaya. Kota ini merupakan salah satu wilayah metropolitan yang menjadi pusat perekonomian dengan pertumbuhan yang cepat. Seiring dengan pertambahan populasi dan percepatan pembangunan, optimalisasi fungsi ruang terbuka hijau (RTH) sebagai penyerap emisi karbon menjadi hal penting untuk diperhatikan. Oleh sebab itu, penelitian ini ditujukan untuk mengetahui persebaran keanekaragaman hayati pada pohon dan potensinya dalam penyerapan emisi karbon di salah satu wilayah padat, yaitu Kelurahan Darmo, Kota Surabaya. Pengamatan spesies pohon dilakukan menggunakan data orthophoto dan light detection and ranging (lidar). Untuk mengetahui jumlah pohon berdasarkan tutupan kanopinya, penelitian ini menggunakan algoritma local maxima, serta metode klasifikasi berbasis objek untuk menentukan spesiesnya. Dengan memanfaatkan kedua data melalui metode tersebut, dihasilkan tingkat kesesuaian klasifikasi dengan akurasi kappa sebesar 0,64. Sejumlah 5.429 dari 6.778 pohon yang ada di Kelurahan Darmo teridentifikasi sebagai individu pohon yang diketahui spesiesnya, terdiri dari: Albizia julibrissin, Cerbera manghas, Ficus benjamina, Plumeria rubra, Polyalthia longifolia, Pterocarpus indicus, Roystonea regia, Tamarindus indica, dan Terminalia catappa. Albizia julibrissin merupakan spesies pohon yang mendominasi di kelurahan ini dengan indeks nilai penting (INP) sebesar 0,42 berdasarkan hasil analisis dominansi vegetasi. Melalui perhitungan average nearest neighbor, diketahui bahwa 80,0% kondisi setiap spesies pohon di kelurahan ini memiliki kecenderungan pola persebaran yang menggerombol. Berdasarkan jumlah dan spesies pohon yang diketahui, maka diduga Kelurahan Darmo memiliki cadangan karbon sejumlah 574,8 ton C. Pterocarpus indicus merupakan spesies pohon yang paling berpengaruh terhadap penyimpanan cadangan karbon di kelurahan tersebut dengan jumlah 96,7 ton C atau 16,8% dari keseluruhan cadangan karbon di kelurahan tersebut. Jumlah cadangan karbon di Kelurahan Darmo jika dikonversi menjadi kemampuan pohon dalam penyerapan emisi karbon dioksida setara dengan 2.107,7 ton CO2
Estimasi Jumlah Penduduk Menggunakan Data LiDAR dan Foto Udara (Studi Kasus : Kelurahan Menanggal, Surabaya)
Data Kependudukan memiliki peran penting yang menunjang berbagai aspek, seperti perencanaan tata kota dan mitigasi bencana. Data kependudukan yang dinilai memiliki akurasi paling tinggi adalah data sensus penduduk yang dilakukan setiap 10 tahun. Selain rentang waktu yang lama, data sensus penduduk yang dapat diakases publik masih dalam lingkup kelurahan atau desa. Munculnya teknologi penginderaan jauh dan SIG dapat dimanfaatkan untuk melakukan estimasi penduduk. Ditambah lagi, dengan tersedianya data citra resolusi tinggi, foto udara, maupun LiDAR yang dapat meninjau tempat tinggal penduduk dengan lebih detail. Dalam penelitian ini dilakukan estimasi populasi dengan menggunakan metode klasifikasi berbasis objek (OBIA) rule-based untuk mendapatkan luasan area pemukiman. Klasifikasi OBIA akan memanfaatkan data foto udara dan DSM & DTM LiDAR. Kemudian dilakukan estimasi dengan metode perhitungan matematis demografi serta regresi linear. Berdasarkan hasil OBIA, didapatkan ketelitian yang tinggi dari uji akurasi dengan menggunakan matriks konfusi sebesar 0,929 pada koefisien kappa dan 95,24% pada overall accuracy. Sedangkan pada hasil estimasi populasi penduduk, metode regresi linear memiliki kesalahan yang lebih kecil dibandingkan metode matematis demogrfi. Selain nilai error yang kecil, nilai MAE, MAPE, RMSE, dan RRMSE menunjukkan bahwa estimasi yang dihasilkan model regrsi linear lebih optimal. Nilai-nilai MAE, MAPE, RMSE, dan RRMSE metode regresi linear pada Wisma Menanggal yaitu 40, 21%, 45, dan 0,25 sedangkan Gayungsari Timur yaitu 23, 18%, 34, dan 0,27
Tipologi Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) di Kota Surabaya
Setiap Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) memiliki karakteristik yang berbeda-beda baik dari segi penentuan lokasi, profil penghuni, penentuan tarif sewa, dan berbagai faktor lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipologi Rusunawa di Kota Surabaya berdasarkan karakteristik spasial dan pengelolaannya. Metode analisis tumpang susun (overlay) dan vector buffering dipilih untuk mengidentifikasi karakteristik spasial Rusunawa dan metode klaster hierarki untuk menentukan tipologi Rusunawa berdasarkan karakteristik pengelolaannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara spasial, mayoritas lokasi Rusunawa berada di area yang diarahkan oleh rencana tata ruang sebagai kawasan dengan fungsi campuran. Lokasi Rusunawa juga menyebar di area pusat dan pinggiran kota di mana pola persebaran ini dipengaruhi oleh faktor tujuan penyediaan dan target sasaran penghuninya. Sedangkan dari sisi pengelolaan, Rusunawa di Kota Surabaya terbagi menjadi dua tipologi yaitu Klaster Rusunawa Provinsi dan Klaster Rusunawa Kota. Kedua klaster memiliki perbedaan dari sisi status pengelola dan kebijakan tarif sewa
Kelimpahan dan Karakteristik Mikroplastik pada IPAM Karangpilang III Kota Surabaya
PDAM Surya Sembada Surabaya memiliki enam Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM), salah satunya IPAM Karangpilang III. IPAM Karangpilang III menggunakan Kali Surabaya sebagai sumber air baku. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kelimpahan dan karakteristik mikroplastik (MP) pada air baku dan air produksi di IPAM Karangpilang III dan menentukan efisiensi penyisihan mikroplastik pada setiap unit di IPAM Karangpilang III Kota Surabaya. Adapun variabel penelitian yang digunakan adalah unit-unit operasi yang terdapat pada IPAM. Unit-unit di IPAM Karangpilang III terdiri atas intake, aerator, prasedimentasi, flashmix, clearator, filtrasi, dan desinfeksi. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode grab sampling sebanyak satu kali pada pukul 06.00 – 09.00 WIB, pada tanggal 22 Februari 2020. Prosedur ekstraksi MP pada sampel air dilakukan dengan Wet Peroxide Oxidation. Kemudian dilanjutkan dengan penyaringan menggunakan vacuum filter dan membran PTFE (ukuran pori: 0,2 μm). Selanjutnya partikel MP dipisahkan secara manual dari membran filter menggunakan pinset di bawah dissecting microscope (Sunshine SZM45T-B1 dan Dino Capture 2.0) dengan pembesaran 40× – 60×. Kelimpahan MP selama proses pengolahan air minum menurun dari 54,4 partikel/L di air baku menjadi 13 partikel/L di air produksi (efisiensi penyisihan 76,1%). Bentuk MP didominasi oleh serat 94,1% di air baku dan 81,5% di air produksi. MP didominasi oleh partikel berukuran 351 – 1000 μm 42,3% di air baku dan 35,4% di air produksi). Partikel MP didominasi oleh warna hitam (53,7 % di air baku) dan biru (33,8% di air produksi). Kelimpahan MP berbeda pada setiap unit operasi. Tingkat penurunan kelimpahan MP adalah 62,17% di unit aerator, 33,33% di unit prasedimentasi, dan 75,1% di unit desinfeksi
Kajian Persepsi Masyarakat Dalam Pengembangan Kawasan Eks Lokalisasi Dolly Surabaya
Kebijakan penutupan Kawasan Eks Lokalisasi Dolly di Kota Surabaya selain menimbulkan pro dan kontra juga menimbulkan dampak terhadap aspek sosial dan ekonomi masyarakatnya. Penurunan pendapatan masyarakat dan munculnya pengangguran baru akibat hilangnya mata pencaharian mereka yang bergantung pada aktivitas lokalisasi merupakan dampak yang paling dirasakan masyarakat. Pemerintah telah berupaya mengoptimalkan kawasan eks lokalisasi Dolly menjadi kawasan perekonomian baru dengan berbagai upaya dan program yang telah diberikan hingga saat ini. Dalam hal ini upaya pengembangan kawasan sangat diperlukan untuk menunjang terciptanya masyarakat dan kawasan Dolly yang lebih mandiri dan berdaya saing. Namun upaya pemerintah tersebut belum mempertimbangkan persepsi masyarakat sebagai landasan partisipasinya dalam pengembangan Kawasan Eks Lokalisasi Dolly. Oleh karena itu mengidentifikasi persepsi masyarakat menjadi sangat penting dilakukan, karena melalui persepsi masyarakat akan memberikan gambaran yang jelas terkait pandangan yang jelas terhadap perencanaan yang meletakkan masyarakat sebagai subyek dalam pengembangan Kawasan Eks Lokalisasi Dolly. Sehingga tujuan dari penulisan artikel ini yaitu untuk mengkaji bagaimana persepsi masyarakat dalam pengembangan kawasan eks lokalisasi Dolly. Pada artikel ini teknik analisa yang digunakan adalah skala likert dan statistik deskriptif untuk mengkaji persepsi masyarakat dalam pengembangan kawasan eks lokalisasi Dolly. Berdasarkan hasil analisis didapatkan hasil bahwa masyarakat Dolly memiliki persepsi dengan interpretasi cukup terhadap permasalahan sosial yang muncul pasca penutupan Dolly serta masyarakat memiliki persepsi dengan interpretasi tinggi terhadap kebijakan penutupan dolly, dampak ekonomi yang ditimbulkan pasca penutupan Dolly, dan dukungan masyarakat terhadap pengembangan kawasan pasca penutupan Dolly
Strategi Penanganan Pemukiman Kumuh di Area Pendukung Industri Kelurahan Krian, Kabupaten Sidoarjo
Kebutuhan akan tempat tinggal berkembang seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, hal tersebut menjadi permasalah apabila masyarakat tidak dapat memenuhinya sehingga terpaksa tinggal di kawasan kurang layak dan menimbulkan kawasan kumuh, seperti yang terjadi di Kelurahan Krian, Kabupaten Sidoarjo. Kelurahan Krian termasuk Prioritas I dalam penanganan kumuh. Letak Kelurahan Krian yang berada dekat dengan Kawasan Industri SIBORIAN menjadikan permukiman di Kelurahan Krian menjadi pendukung dari Kawasan Industri dan membuat daya tarik bagi pekerja untuk bertempat tinggal di Kelurahan Krian. Oleh karena itu, diperlukan perhatian mengenai adanya permukiman yang ada, sehingga dapat mendukung kawasan industry dan tidak mejadikannya kawasan kumuh. Penelitian ini terdiri dari 3 tahapan, tahap pertama yaitu melakukan deleniasi area pendukung industri mengguunakan mapping analysis serta mengetahui karakteristik wilayah berdasakan data-data sekunder. Tahap kedua membahas mengenai arahan kebijakan terkait permukiman kumuh Kelurahan Krian menggunakan analisa konten pada dokumen kebijakan. Kemudian, pada tahap ketiga dilakukan metode triangulasi untuk mendapatkan strategi penanganan pemukiman kumuh di area pendukung industry di Kelurahan Krian. Hasil didapatkan tiga kawasan pendukung di Kelurahan Krian yaitu Kawasann Gersikan, Kawasan Krajan Pasar, dan Kawasan Krajan Stasiun. Kawasan Gersikan difokuskan pada penataan bangunan di sepadan sungai, penambahan transportasi umum, sarana jalan dan RTH, serta pembuatan IPAL. Kawasan Krajan Pasar difokuskan pada penambahan RTH, trasportasi umum, dan sarana jalan, peningkatan pada proteksi bencana pada kawasan pasar, serta dengan pembuatan IPAL baru, dan Kawasan Krajan Stasiun difokuskan paa penataan bangunan disepanjang rel kereta api, revitalisasi drainase, serta pembuatan IPAL baru
Desain Sistem Pompa Untuk Mengurangi Sedimentasi Pada Terminal Domestik PT TPS
Padatnya lalu lintas kapal dan layout dermaga yang tegak lurus terhadap arah datang arus dianggap kurang menguntungkan bagi dermaga aktif seperti dermaga domestik PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) karena sedimen selalu tertinggal area tersebut. Sedimentasi yang cukup tinggi yaitu 100.217,08 m3/tahun menyebabkan terganggunya kapal yang akan berlabuh di dermaga domestik PT TPS. Sistem pompa menggunakan tipe submersible slurry pump dengan menerapkan konsep sand bypassing mobile system dirancang untuk mengurangi sedimentasi pada terminal domestik PT TPS. Pembuangan sedimen menggunakan floating pipe dengan lokasi dumping terletak di darat. Dari ke-enam pilihan sistem pompa, didapatkan sistem yang paling efektif sesuai aspek teknis dan biaya adalah slurry pump 4 (DPF-75BH) dengan kapasitas 192 m3/jam. Sistem ini dapat menyelesaikan pengerukan selama 10 minggu sesuai opsi desain keruk 1 yaitu kedalaman -5 meter pada kade 45-120 meter, kedalaman -6 meter pada kade 120-250 meter, kedalaman –8 meter pada kade 250-450 meter, dengan slope 1:10. Biaya untuk pengerukan ini sebesar Rp. 5.381.240.235,00
Kajian Kelayakan Pemilihan Teknologi Reliquefaction Plant atau MSO Compressor Sebagai Alternatif Pemanfaatan Boil Off Gas (BOG) Pada FSRU 170.000 m³
Boil Off Gas (BOG) merupakan gas yang terbentuk karena adanya panas yang masuk (heat leak) kedalam tangki Liquefied Natural Gas (LNG). Evaporasi yang terjadi secara terus menerus dapat meningkatkan tekanan pada tangki, menyebabkan tekanan berlebih yang berbahaya. BOG tersebut harus dimanfaatkan atau dibuang melalui proses pembakaran untuk menjaga tekanan tangki muatan. BOG yang dibuang merupakan sebuah kerugian bagi perusahaan. Pada FSRU ini memiliki nilai rata – rata BOG perharinya sebesar 92.714,936 m³n Gas dan boil off rate 0,237%. Pemanfaatan BOG pada FSRU digunakan untuk bahan bakar generator DFDE dan boiler dengan nilai rata – rata perharinya 837,363 MMBTU, sehingga memiliki nilai BOG berlebih rata – rata perharinya 2.823,184 MMBTU. Metode pemanfaatan BOG berlebih dengan melakukan reliquefaction, atau langsung menyalurkannya ke linepack offshore pipeline menggunakan MSO compressor. Dalam pemilihannya, menggunakan reliquefaction plant Wartsila HGS Mark III, menggunakan siklus kerja inverse brayton, berkapasitas 7.000 kg/h. Sedangkan untuk MSO compressor menggunakan BOG kompresor Burckhard Laby GI Compressor LP250 4 stages, kapasitas 10.000 kg/h. Berdasarkan aspek ekonomis penggunaan MSO compressor memiliki nilai CAPEX dan OPEX lebih rendah, tetapi secara nilai NPV, IRR dan PP penggunaan reliquefaction plant memiliki nilai lebih baik. Sedangkan berdasarkan kondisi operasional FSRU, reliquefaction plant lebih cocok secara teknis untuk digunakan
Arahan Pengembangan Green Infrastructure Pendukung Kuantitas Air Tanah di Kelurahan Sarangan Magetan berdasarkan Persepsi Stakeholder
Kelurahan Sarangan yang terletak di Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur terpapar bahaya dan risiko kekeringan. Penduduk di Kecamatan Sarangan memiliki terpapar kekeringan hingga 100%, dengan bahaya kekeringan pada tingkat sedang hingga tinggi, kerentanan kekeringan pada tingkat rendah hingga tinggi, dan risiko kekeringan pada tingkat rendah hingga tinggi. Untuk menghindari potensi risiko yang semakin besar, maka perlu dirumuskan langkah-langkah pencegahan. Infrastruktur hijau dipilih sebagai alternatif karena memiliki dampak positif terhadap peningkatan kuantitas dan kualitas air tanah. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan pengembangan infrastruktur hijau untuk peningkatan kuantitas air tanah pada Kelurahan Sarangan, Magetan, berdasarkan persepsi stakeholder. Langkah pertama adalah mengidentifikasi ketersediaan dan kondisi infrastruktur hijau yang dapat meningkatkan kuantitas sumber daya air tanah. Langkah kedua adalah mengidentifikasi komponen prioritas infrastruktur hijau menggunakan Importance-Performance Analysis (IPA). Langkah terakhir adalah merumuskan arahan pengembangan infrastruktur hijau untuk peningkatan kuantitas air tanah menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rainwater harvesting termasuk dalam kuadran 'prioritas utama', di mana strategi pengembangan infrastruktur hijau harus mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk jenis infrastruktur hijau ini. Sedangkan empat jenis infrastruktur hijau lainnya, yaitu permeable pavements, green streets, urban tree canopy, dan retention pond termasuk dalam kuadran 'pertahankan kinerja', di mana strategi pengembangan infrastruktur hijau harus tetap menjaga keempat jenis infrastruktur hijau tersebut untuk memastikan bahwa kinerja infrastruktur-infrastruktur tersebut tidak menurun
Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Kecamatan Kota, Kota Kediri
Kecamatan Kota Kediri termasuk dalam kategori kepadatan penduduk paling tinggi di Kota Kediri. Kelurahan yang menjadi wilayah perencanaan berdasarkan zona prioritas dalam penanganan masalah air limbah. Oleh karena itu, diperlukan perancangan SPAL (Sistem Penyaluran Air Limbah) dan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) di kelurahan tersebut. Metode perencanaan untuk SPAL dan IPAL Kecamatan Kota Kediri dimulai dengan studi literatur terkait pengelolaan air limbah domestik, pengumpulan data primer dan sekunder, pengolahan data, pembahasan, dan penarikan kesimpulan. Perencanaan ini dilakukan pendekatan pada aspek teknis dan finansial. Pada aspek teknis, menentukan SPAL dan menentukan unit pengolahan untuk IPAL. Selain merencanakan aspek teknis, juga akan dihitung rencana anggaran biaya (RAB) yang dibutuhkan untuk merealisasikan rencana tersebut. Sistem penyaluran menggunakan sistem konvensional dengan cakupan pelayanan 60%. Pipa yang dipakai adalah PVC berdiameter 140 mm hingga 318 mm. unit pengolahan pada ipal adalah sumur pengumpul, bak ekualisasi, bak pengendap awal, aerobik biofilter, wetland, dan desinfeksi. Total Rencana Anggaran Belanja (RAB) untuk pembangunan SPAL dan IPAL sebesar Rp11.357.533.907