Jurnal Teknik ITS
Not a member yet
3833 research outputs found
Sort by
Analisis Pengaruh Pergerakan Barge terhadap Pergerakan Struktur Riser Support Jacket pada Proses Lifting Tahap Instalasi
Proses instalasi merupakan tahap terakhir dari serangkaian tahapan fabrikasi struktur Jacket. Pada penelitian ini, struktur Jacket akan diinstalasi dengan metode lifting. Keamanan pada proses lifting perlu diperhitungkan secara tepat agar selama proses tidak terjadi kegagalan. Salah satunya adalah bagaimana pengaruh pergerakan barge terhadap pergerakan struktur saat dilakukan proses lifting. Barge yang digunakan pada penelitian terlebih dahulu dimodelkan menggunakan Software MOSES untuk mengetahui bagaimana pergerakannya ketika proses lifting dilakukan. Struktur riser support dimodelkan menggunakan Software SACS untuk mengetahui titik beratnya, selanjutnya dilakukan perhitungan panjang sling. Model lifting kemudian diinput pada Software OrcaFlex untuk menganalisa pengaruh pergerakan barge terhadap pergerakan struktur. Analisa dilakukan pada lima arah pembebanan yaitu 0°, 45°, 90°, 135°, dan 180°. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pergerakan barge yang memiliki dampak paling besar terhadap pergerakan struktur terjadi saat arah pembebanan 90° dengan nilai maksimum offset pergerakan barge adalah 1,93 m dan maksimum offset pergerakan struktur sebesar 0,96 m terhadap clearance crane boom. Pada kondisi lainnya, arah pembebanan 0° simpangan maksimum yang terjadi pada barge adalah 0,52 m dan simpangan maksimum pergerakan struktur adalah 0,67 m. Pada arah pembebanan 45°, simpangan maksimum pada barge adalah 0,24 m dengan simpangan maksimum pergerakan struktur adalah 0,86 m. Arah pembebanan 135° simpangan maksimum barge adalah 0,89 m dan simpangan maksimum struktur adalah 0,30 m. Sedangkan pada arah pembebanan 180°, simpangan maksimum barge 0,12 m adalah 0,27 m
Optimasi Cantilever Kapal Sesuai Peraturan Biro Klasifikasi Indonesia Menggunakan Bahasa Pemrograman C#
Cantilever merupakan konstruksi pada kapal yang dapat menggantikan fungsi pillar. Dalam peraturan BKI tidak terdapat rumus perhitungan cantilever secara langsung sehingga dibutuhkan pendekatan untuk menghitung modulus cantilever yang memenuhi persyaratan tegangan ijin serta ukuran cantilever yang optimum dari modulus tersebut. Penelitian ini merancang sebuah program komputer mengenai optimasi cantilever kapal menggunakan bahasa pemrograman C#. User perlu memasukkan nilai data kapal seperti ukuran utama dan kondisi persyaratan lain agar program dapat menghitung secara urut mulai dari beban dinamis, beban geladak cuaca, beban geladak muatan, tebal pelat geladak, lebar pelat efektif, modulus minimum, modulus desain, hingga bracket. Modulus minimum yang diperlukan untuk memenuhi tegangan ijin dihitung menggunakan konsep reaksi tumpuan pada 11 titik kelipatan 0,1 x/L. Iterasi dilakukan pada tinggi web cantilever. Validasi hasil perhitungan dilakukan dengan membandingkan hasil perhitungan secara manual dengan menggunakan program. Pengujian program dilakukan menggunakan variasi rasio ujung cantilever 1:1, 1:2, dan 1:3, serta variasi tebal cantilever 6mm, 8mm, 10mm, 12mm, 14mm, dan 16mm. Selisih modulus desain yang didapatkan dari hasil pengujian bervariasi antara 0-5% dengan selisih modulus desain rata-rata sebesar 0.984%. Hasil Pengujian tersebut menunjukkan bahwa semakin besar tebal pelat yang digunakan maka tinggi web yang dihasilkan menjadi lebih kecil dan berat cantilever yang dihasilkan semakin besar
Analisa Teknis dan Ekonomis Pengembangan Fasilitas Bengkel Reparasi untuk Mendukung Peningkatan Kapasitas Floating Dock
Dana PMN yang diterima oleh PT. Dok & Perkapalan Kodja Bahari mencapai nilai 900 miliar rupiah dengan 230 miliar rupiah digunakan pada PT. Dok & Perkapalan Kodja Bahari Galangan Unit Satu untuk mendatangkan floating dock baru yaitu floating dock Kalpataru berukuran 9.000 TLC untuk menggantikan beberapa floating dock yang sebelumnya tidak dapat beroperasi. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan fasilitas bengkel reparasi kapal yang akan digunakan untuk mendukung peningkatan kapasitas floating dock menjadi 9.000 TLC. Pertama, dilakukan observasi dan pendataan terhadap fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh bengkel yang digunakan dalam proses reparasi kapal. Kedua, dilakukan analisa terhadap kondisi eksisting berdasarkan data yang telah didapatkan. Ketiga, dilakukan analisa terhadap pengembangan fasilitas bengkel yang akan dilakukan sesuai dengan repair list yang telah didapatkan. Keempat, dilakukan analisa terhadap kelayakan investasi dari pengembangan fasilitas bengkel tersebut. Hasil penelitian ini adalah diperlukan biaya sekitar 13.8 miliar rupiah untuk pengembangan fasilitas bengkel reparasi kapal sebanyak 53 unit mesin untuk mendukung peningkatan kapasitas floating dock Kalpataru 9.000 TLC dengan perkiraan payback period pada tahun ke-3 bulan ke-3 dengan nilai benefit & cost ratio sebesar 1.32 yang dimana nilai tersebut lebih besar dari 1 sehingga investasi untuk pengembangan fasilitas bengkel reparasi kapal layak untuk dilakukan
Perencanaan Reklamasi & Shore Protection pada Proyek Perpanjangan Runway Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai
Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai terus dikembangkan dari tahun ke tahun. Hal tersebut dilakukan demi mendukung kenaikan jumlah pesawat yang sejalan dengan jumlah kenaikan penumpang yang keluar masuk Bandara Ngurah Rai setiap tahunnya. Oleh karena itu, pihak pengelola Bandara Ngurah Rai langsung mengambil langkah konkret dengan melakukan pengembangan air side Bandara. Rencana pengembangan yang akan dilakukan adaalah perpanjangan runway yang semula memeliki dimensi 3000x45 m akan diperpanjang 400 m sehingga menjadi 3400x45 m. Namun, keterbatasan lahan pada area bandara memaksa pengembangan harus dilakukan mengarah ke sisi pantai sebelah barat Bandara Ngurah Rai. Pengembangan dilakukan dengan membuat daratan baru dari dasar laut atau yang lebih dikenal reklamasi. Dalam penelitian ini dilakukan perencanaan reklamasi tersebut. Perencanaan reklamasi akan dilakukan dengan memperhatikan likuifaksi karena tanah di daerah reklamasi didominasi oleh tanah pasir ditambah lagi Pulau Bali pernah dilanda gempa dengan kekuatan 7,5 M. Selain itu, untuk menjaga tanah dibelakangnya agar tidak terbawa oleh arus dan gelombang ke laut lepas maka perlu direncanakan shore protectionnya juga. Saat ini telah direncanakan perbaikan tanah untuk mengantisipasi likuifaksi dengan metode dynamic compaction dan stone column. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa ada area yang berpotensi mengalami likuifaksi pada tanah lapisan 0-5 m zona D. Maka dari itu direncanakan perbaikan tanah alternatif untuk mengantisipasi likuifaksi tersebut berupa soil mixing dan compaction grouting. Semua variasi alternatif perbaikan tersebut dibandingkan dengan hasil perencanaan eksisting, ternyata metode perbaikan yang paling efektif untuk mengantisipasi likuifaksi pada Proyek Perpanjangan Runway Bandar Udara Ngurah Rai adalah dynamic compaction. Selanjutnya untuk shore protection dalam penelitian ini direncanakan menggunakan tetrapod dan revetment batu pecah. Hasil perbandingan dari kedua perencanaan shore protection tersebut menunjukan bahwa revetment batu pecah merupakan shore protection yang paling efektif
Kriteria Livability pada Permukiman yang Dikembangkan oleh Informal Land Subdividers
Aktivitas pengembangan permukiman yang dilakukan oleh informal land subdividers dilakukan tanpa mengikuti kerangka peraturan yang ada sehingga mengarah pada permukiman yang tidak layak huni. Sementara pada kondisi idealnya, permukiman seharusnya menyediakan ruang yang nyaman dimana livability merupakan bentuk pencapaiannya. Untuk itu, diperlukan adanya kebijakan yang dapat mengakomodasi peningkatan livability pada permukiman yang dikembangkan oleh informal land subdividers. Sebagai masukan terhadap terhadap penyusunan kebijakan tersebut, pada penelitian ini dilakukan perumusan kriteria livability permukiman yang dikembangkan oleh informal land subdividers. Metode pengumpulan data dalam perumusan kriteria tersebut dilakukan dengan studi pustaka yang selanjutnya dikonfirmasi dengan in-depth interview kepada para ahli untuk mengumpulkan pendapat para ahli terkait variabel yang tepat dalam menilai livability pada permukiman yang dikembangkan oleh informal land subdividers. Hasil in-depth interview tersebut kemudian dianalisis dengan metode quantitative content analysis. Dari hasil analisis tersebut, didapatkan rumusan kriteria livability permukiman yang dikembangkan informal land subdividers sejumlah 28 kriteria yang terbagi dalam 8 aspek diantaranya: jangkauan fasilitas umum; kondisi prasarana; kualitas utilitas; keselamatan dan keamanan; kondisi fisik bangunan; kondisi lingkungan; kondisi perekonomian masyarakat penghuni; dan aksesibilitas transportasi umum dan supermarket
Evaluasi Kinerja Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng Rute Semarang – Kendal
Trans Jateng adalah suatu sistem bus rapid transit (BRT) yang difungsikan sebagai angkutan aglomerasi perkotaan di Provinsi Jawa Tengah. Salah satu rute yang dioperasikan Trans Jateng adalah rute Semarang – Kendal. Pelaksanaan operasional dan fasilitas di lapangan masih memiliki kondisi yang kurang memadai, sehingga diperlukan pendalaman dan evaluasi terhadap kinerja BRT Trans Jateng rute Semarang – Kendal. Studi yang dilakukan di dalam tugas akhir ini ialah melakukan perhitungan kinerja operasi berdasarkan aspek-aspek kinerja operasi yang tertera dalam Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor SK.687/AJ.206/DRJD/2002. Lalu, perhitungan kinerja kenyamanan kendaraan menggunakan perumusan menurut Vuchic (2007). Kinerja yang telah didapatkan dari perhitungan kinerja, survei lapangan, dan instansi terkait dilakukan penilaian dengan standar kinerja. Standar kinerja yang digunakan ialah Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 27 Tahun 2015 dan The BRT Standard 2016. Hasil perhitungan dan penilaian kinerja dibandingkan dengan kepuasan dan harapan penumpang terhadap kinerja tersebut yang dianalisis dengan metode importance-performance analysis (IPA). Dari hasil studi diperoleh kinerja operasi BRT Trans Jateng rute Semarang – Kendal berupa faktor muat, waktu tempuh, kecepatan perjalanan, waktu antara, frekuensi, dan waktu tunggu penumpang berdasarkan jam puncak pagi, non puncak, dan jam puncak sore. Tingkat kenyamanan yang belum memenuhi standar kenyamanan ialah tingkat kenyamanan tempat duduk dan tingkat kenyamanan tempat berdiri berdasarkan kapasitas aktual. Nilai kinerja berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 27 Tahun 2015 adalah sebesar 73 dan berdasarkan The BRT Standard 2016 sebesar 11. Kinerja yang perlu dijadikan prioritas peningkatan berdasarkan tingkat kepuasan dan harapan penumpang adalah kenyamanan halte, jarak antar halte, ketersediaan media informasi pelayanan di halte, kemudahan penyandang disabilitas, lanjut usia, dan wanita hamil dalam mengakses halte, kelayakan jam operasional, dan integrasi dengan transportasi umum lain
Perencanaan Lay-Out Gedung Parkir Berdasarkan Analisis Kebutuhan Ruang Parkir di Stasiun Wonokromo Surabaya
Stasiun Wonokromo merupakan salah satu stasiun kelas besar tipe C yang berada di Provinsi Jawa Timur dengan tingkat pertumbuhan penumpang yang semakin bertambah tiap tahun. Sejalan dengan tingkat pertumbuhan penumpang, penggunaan kendaraan pribadi ataupun yang masuk wilayah stasiun semakin bertambah. Hal ini mengakibatkan perlu adanya penanganan terhadap fasilitas parkir untuk memberikan kenyamanan dan keamanan yang layak kepada para penumpang. Bersumber pada kondisi yang ada, perlu dilakukan analisis fasilitas parkir guna mengetahui gambaran kapasitas parkir serta kebutuhan ruang parkir yang ada. Untuk memperoleh alternatif tersebut, analisis yang dilakukan sesuai dengan prosedur yang sudah diberikan pada pedoman perencanaan parkir. Pedoman yang akan digunakan “Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir Direktorat Bina Sistem Lalu Lintas Angkutan Kota 1998”, serta beberapa referensi lain yang berkaitan dengan analisa parkir. Data-data yang dibutuhkan dalam analisa parkir pada Tugas Akhir ini adalah data primer yang terdiri dari data survei waktu masuk dan keluar kendaraan bermotor di lokasi lahan parkir Stasiun Wonokromo. Untuk data sekunder terdiri dari jadwal keberangkatan kereta api di Stasiun Wonokromo, jumlah data penumpang di Stasiun Wonokromo dan jumlah data karyawan yang bekerja di Stasiun Wonokromo. Dari hasil pengolahan data tersebut menggunakan bantuan program aplikasi Microsoft Excel didapatkan jumlah demand calon pengguna fasilitas lahan parkir mobil pribadi sebesar 78 kendaraan, sedangkan untuk sepeda motor sebesar 2.058 kendaraan dengan rencana penerapan double-track. Dari jumlah demand tersebut direncanakan gedung parkir yang dapat menampung 83 mobil dan 2.264 sepeda motor dengan jumlah 1 lantai dasar dan 5 lantai parkir
Analisis Konektivitas Transportasi Udara Antar Ibukota Provinsi di Indonesia Akibat Pandemi Covid-19
Perkuatan konektivitas transportasi dibutuhkan untuk meningkatkan akses masyarakat seluruh Indonesia yang merupakan negara kepulauan, sehingga produktivitas dan daya saing dapat meningkat serta merata. Sejak Maret 2020, penerbangan menjadi salah satu sektor yang terdampak Covid-19 yang mendorong diterapkannya berbagai kebijakan untuk mengurangi penyebaran virus. Penurunan penerbangan dapat berdampak pada perusahaan pengelola bandara dan maskapai penerbangan, seperti berkurangnya pendapatan yang dapat berpengaruh pada dana pemeliharaan. Tujuan penulisan ini adalah untuk menganalisis tingkat indeks konektivitas transportasi udara antar ibukota provinsi di Indonesia saat terdampak pandemi Covid-19. Analisis tingkat konektivitas dilakukan dengan Graph Theory, menggunakan data sekunder berupa daftar bandara dan pergerakannya serta data pembanding. Data pergerakan direpresentasikan dalam grafik model jaringan dan matriks konektivitas. Kemudian dihitung indeks konektivitas yang ditunjukkan oleh indeks alfa, indeks beta, dan indeks gama. Dilakukan juga analisis perubahan pendapatan bandara saat Covid-19. Dari hasil pembuatan matriks konektivitas yang meninjau penerbangan langsung, didapatkan mayoritas perubahan tingkat konektivitas saat Covid-19 merupakan penurunan dan penurunan terbesar adalah 78% pada Bandar Udara Sultan Thaha. Sementara itu, berdasarkan Graph Theory yang meninjau penerbangan langsung dan tidak langsung, didapatkan indeks konektivitas terbesar pada Bandar Udara Internasional Juanda yaitu indeks alfa 0,857, indeks beta 2,559, dan indeks gama 0,906. Mayoritas perubahan saat Covid-19 merupakan penurunan dan penurunan terbesar terjadi pada Bandar Udara Rendani yaitu indeks alfa 119,4%, indeks beta 57,8%, dan indeks gama 57,8%. Hasil analisis perubahan pendapatan bandara adalah penurunan pendapatan, dengan penurunan terbesar pada Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara yaitu 77%
Analisis Preferensi Pengguna terhadap Penggunaan Bus City Tour Jakarta Pasca Pandemi Covid-19 Dengan Metode IPA
Bus tingkat wisata City Tour Jakarta merupakan salah satu strategi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mendukung sektor pariwisata. Bus tersebut tidak hanya menjadi moda angkutan umum khusus wisata, tetapi juga menjadi atraksi wisata melalui pelayanan tur berkeliling kota Jakarta. Namun dalam beberapa tahun terakhir, pengoperasian Bus City Tour Jakarta terlihat sepi peminat. Kurang optimalnya kinerja beberapa atribut pelayanan Bus City Tour Jakarta dan masa adaptasi baru masa pandemi Covid-19 merupakan faktor penyebab terjadinya penurunan jumlah pengguna Bus City Tour Jakarta dari tahun 2019. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji preferensi pengguna bus terhadap penggunaan Bus City Tour Jakarta pada masa pasca pandemi Covid-19. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Metode analisis yang digunakan dalam studi penelitian ini adalah Importance Performance Analysis (IPA) untuk membandingkan preferensi pengguna bus terhadap tingkat kinerja dan kepentingan atribut pelayanan Bus City Tour Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 11 atribut pelayanan Bus City Tour Jakarta yang memiliki tingkat kinerja yang rendah namun memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Prioritas atribut yang berkaitan dengan aspek kesehatan untuk merespon pandemi Covid-19 adalah ketersediaan hand sanitizer, pengguna bus saling menjaga jarak aman, peran petugas dalam menghimbau penumpang untuk menjaga jarak dan penggunaan disinfektan pada bus secara berkala
Implementasi Sistem Kontrol Kadar Ozon Menggunakan Logika Fuzzy dan Monitoring Performa pada Sterilisator
Subsistem kadar ozon pada alat sterilisator belum memiliki fitur untuk kontrol kadar ozon. Karena ozon dengan konsentrasi lebih dari 1 ppm memiliki efek buruk pada kesehatan, oleh karena itu perlu dikendalikan kadar ppmnya agar tidak menimbulkan efek buruk pada kesehatan. Serta belum ada fitur monitoring performa pada sterilisator untuk memantau kinerja alat selama proses sterilisasi berlangsung. Pada subsistem kontrol kadar ozon menggunakan metode fuzzy untuk mengendalikan kadar ozon yang akan masuk ke box sterilisator dengan input error dan delta error kadar ozon serta aktuator berupa motor servo yang dikople dengan valve untuk mengatur derajat buka tutup valve agar dapat mengendalikan jumlah ozon yang akan masuk ke dalam box sterilisator. Hasil penelitian yang telah dilakukan adalah respon peralihan sistem pada konfigurasi close loop dengan FLC jauh lebih lambat dibandingkan dengan open loop. Yang mana pada pengujian open loop untuk mencapai kadar ozon sebesar 3 ppm dibutuhkan delay time (Td) sebesar 6,5 detik, rise time (Tr) sebesar 6,34 detik, peak time (Tp) sebesar 20 detik dan settling time (Ts) sebesar 10,45 detik sedangkan pada pengujian close loop membutuhkan delay time (Td) sebesar 8,05 detik, rise time (Tr) sebesar 10,1 detik, peak time (Tp) sebesar 40,21 detik dan settling time (Ts) sebesar 15,15 detik. Serta fitur monitoring pada sterilisator dapat digunakan untuk memantau kinerja alat, yang mana data ditampilkan berupa nilai angka dan grafik secara realtime dengan delay sekurang-kurangnya membutuhkan waktu 4,35 detik