Jurnal Teknik ITS
Not a member yet
3833 research outputs found
Sort by
Pengiriman Data Berbasis Internet of Things untuk Monitoring Sistem Hemodialisis Secara Jarak Jauh
Hemodialisis merupakan alat yang sangat penting, karena alat ini membantu manusia yang mengalami gangguan pada fungsi ginjalnya. Sehingga Hemodialisis, merupakan alat sebagai pengganti fungsi ginjal pada manusia. Pada penelitian ini dilakukan pengembangan pada Hemodialisis sehingga lebih meningkatkan pelayanan rumah sakit yang diberikan kepada pasien dan memudahkan petugas rumah sakit dalam melakukan penjagaan. Penelitian ini dapat mengirimkan data Hemodialisis supaya pasien dan petugas rumah sakit dapat melihat data pada hemodialisis, selain itu pada penlitian ini menambahkan fitur untuk memantau pasien dari jarak jauh (Monitoring System) dengan memanfaatkan konsep Internet of Things menggunakan WiFi dan MQTT dengan Arduino ESP32 dan mengimplementasikan penelitian ini dalam Platform IoT. Sistem yang dikembangkan telah berhasil untuk mengirimkan data dengan menggunakan protokol MQTT yang dibuat sesuai dengan rancangan. Pada penelitian ini yang digunakan sebagai publisher adalah mikrokontroler yang berfungsi untuk menerima data nlai sensor yaitu ESP32 (master) dan ESP32 (slave) yang dihubungkan secara serial, lalu broker yang digunakan adalah lokal MQTT broker pada ThingsBoard dan subscriber pada ThingsBoard saat log-in menjadi admin atau customers. Lalu web server ThingsBoard sudah berjalan dengan baik dengan dibuktikan, pesan dapat terpublish dan ThingsBoard dapat menampilkan nilai tekanan darah, aliran darah, temperatur dialisat, dan konduktivitas cairan dialisat
Penentuan Skema Kerjasama Pemerintah - Badan Usaha Terbaik Pada Infrastruktur Konservasi Energi (Studi Kasus: Revitalisasi PJU Di Kabupaten Sidoarjo)
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo khususnya Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) tengah mengalami permasalahan mengenai tingginya biaya listrik yang dibebankan untuk Penerangan Jalan Umum (PJU). Tagihan biaya listrik mengambil bagian lebih dari 60% dari total anggaran yang tersedia untuk pengelolaan PJU. Biaya tagihan listrik yang semakin tinggi membuat DLHK Kabupaten Sidoarjo berfokus melakukan revitalisasi PJU dari konvensional menuju modern dengan mempertimbangkan dua alternatif pilihan, yaitu penggantian seluruh lampu halogen menjadi LED atau beralih ke smart system PJU dengan menerapkan lampu LED diseluruh titik yang dapat dikontrol pencahayaannya dari jarak jauh dengan skema smart lighting. Revitalisasi PJU ini merupakan salah satu bentuk penyediaan infrastruktur dibidang konservasi energi. Seperti halnya pembangunan, revitalisasi PJU memakan anggaran yang cukup besar sehingga Kerja Sama Antara Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) menjadi salah satu opsi pembiayaan revitalisasi PJU. Skema KPBU yang dapat diterapkan pada infrastruktur konservasi energi adalah skema Energy Savings Performance Contract (ESPC) dan skema Availability Payment (AP). Dalam menentapkan skema yang sesuai, dilakukan penilaian proyek dengan menggunakan parameter penilaian keuangan yang meliputi Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP) sebagai dasar penilaian bagi badan usaha, dan parameter penilaian Benefit Cost Ratio (BCR) sebagai dasar penilaian bagi pemrintah DLHK Sidoarjo. Hasilnya skema ESPC dan AP dianggap layak dari perspektif pemerintah DLHK Sidoarjo dengan menghasilkan nilai BCR masig-masih 1,3166 dan 1,6019. Pemilihan skema yang paling tepat dilakukan dengan menggunakan analisis sensitivitas untuk menemukan kondisi standar dan kondisi dengan mempertimbangkan margin 2% bagi badan usaha sesuai ketentuan UU No. 2 Tahun 2017 yang memastikan proyek KPBU layak dari penilaian keuangan dan penilaian BCR. Dari kedua kondisi tersebut, skema ESPC menghasilkan nilai BCR yang lebih tinggi dibandingkan dengan skema AP sehingga skema ESPC paling tepat untuk diimplementasikan pada proyek revitalisasi PJU
Pengaruh Variasi Setting Temperatur Menggunakan Sistem Kontrol pada Zona Oksidasi Parsial Terhadap Kandungan Tar, Ash, dan Carbon Reaction Rate
Indonesia termasuk kedalam salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk yang tinggi dan kemungkinan akan terus meningkat. Peningkatan jumlah penduduk ini juga disertai dengan konsumsi energi yang tiap tahun akan terus meningkat. Perkembangan teknologi memungkinkan untuk mengolah limbah kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan. Limbah kelapa sawit dapat digunakan sebagai sumber biomassa sebagai penghasil energi. Gasifikasi adalah salah satu proses yang digunakan dalam proses mengkonversi limbah kelapa sawit menjadi energi. Gasifier downdraft yang dilengkapi dengan sistem pengendali suhu bertujuan untuk menjaga agar proses gasifikasi dapat berlangsung lebih lama dan lebih bersifat kontinyu. Suhu adalah salah satu parameter penting selama berlangsungnya proses gasifikasi karena jumlah dan komposisi dari gas serta kandungan ash dan tar yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh suhu. Oleh karena itu settingan suhu yang diberikan dengan tambahan pengendali suhu sangat penting untuk melihat pengaruh reaksi yang terjadi, performa gasifikasi, serta kandungan dari hasil proses gasifikasi. Variasi settingan suhu yang dilakukan dengan mengatur pada suhu berapa penelitian akan dilakukan kemudian sistem pengendali suhu akan dipasang pada reaktor. Variasi settingan yang dilakukan pada temperatur 600ºC, 700ºC, 800ºC, 900ºC, dan 1000ºC. Eksperimen ini dilakukan dengan penambahan tiga tingkat masukan udara ke zona pirolisis, oksidasi, dan reduksi disertai dengan penambahan sistem kontrol yang berfungsi untuk mengatur agar temperatur pada tiap-tiap zona yang ada dapat dikendalikan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Biomassa yang digunakan pada penelitian kali ini adalah pelepah kelapa sawit yang dibentuk menjadi pelet. kandungan tar tertinggi pada set point 600ºC sebesar 259.59 Nm3 dan kandungan tar terendah pada set point 1000ºC sebesar 60.95 Nm3. Nilai karbon pelet yang dikonversikan ke dalam syngas terendah pada set point 600ºC sebesar 59.66% dan nilai karbon pelet yang dikonversikan ke dalam syngas tertinggi pada set point 1000ºC sebesar 76.89%. Nilai massa abu tertinggi pada set point 600ºC sebesar 145.03 gr dan nilai massa abu terendah pada set point 1000ºC sebesar 71.39gr
Evaluasi Sistem Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat di Kecamatan Krembung, Kabupaten Sidoarjo
Berdasarkan RPJMN tahun 2015 – 2019, diharapkan akses air minum dapat mencapai 100%. Namun terhitung sejak Mei 2019, PDAM Delta Tirta Sidoarjo hanya mampu melayani kebutuhan air minum sebesar 37%. Memperhatikan hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mencanangkan program Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) salah satunya di Kecamatan Krembung. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi penerapan sistem penyediaan air minum ditinjau dari aspek teknis dan non teknis. Dalam penerapannya, terdapat kendala tingkat pelayanan akibat rendahnya kemauan masyarakat untuk menjadi pelanggan. Hal ini disebabkan oleh buruknya kualitas air, keterbatasan jaringan distribusi yang tersedia, dan sistem tata kelola PAMSIMAS yang kurang optimal. Hasil dari analisis kualitas air menunjukkan bahwa parameter kekeruhan, warna, besi, mangan, dan total koliform tidak memenuhi baku mutu. Persentase kemauan masyarakat untuk menjadi pelanggan adalah sebesar 47%. Sedangkan kemampuan untuk membayar tarif sebesar 68%. Solusi dan rekomendasi yang dapat diterapkan adalah membangun unit pengolahan air minum. Selain itu dapat dilakukan dengan mengembangkan jaringan dan sistem baru, menambah jumlah pengelola termasuk meningkatkan kinerja melalui pelatihan dan penempatan sesuai bidang, serta melakukan sosialisasi
Pengelolaan Limbah Elektronik di Asrama Mahasiswa di Kota Surabaya
Asrama Mahasiswa (AM) menghasilkan limbah elektronik yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) seperti timbal, merkuri, kadmium, dan lainnya. Limbah elektronik dapat mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis dan jumlah limbah elektronik, mengkaji kesesuaian kondisi eksisting sistem pengelolaan limbah elektronik dengan peraturan yang berlaku, serta membandingkan sistem pengelolaan limbah elektronik di AM ITS, AM UNAIR, dan AM UPN dengan di negara lain. Data jenis, dimensi, jumlah, dan berat limbah didapatkan dari observasi dan pengumpulan limbah elektronik secara langsung menggunakan drop-box selama dua minggu. Kondisi eksisting didapatkan dari observasi secara langsung dan wawancara dengan pengurus asrama. Pengelolaan limbah elektronik di AM LN didapatkan dari literatur atau artikel ilmiah. AM ITS menghasilkan limbah elektronik yaitu AC, microwave, lampu sorot, lampu PJU, headphone, kabel USB, mouse, handphone, headset, lampu, baterai AA, dan baterai AAA. AM UNAIR menghasilkan limbah elektronik facsimile, rice cooker, water kettle electric, setrika, monitor, UPS, laminator, CPU, mouse, router, keyboard, lampu, headset, adaptor, kabel olor, kabel aux, kabel USB, obat nyamuk elektrik, dan baterai laptop. Limbah elektronik yang dihasilkan oleh AM UPN yakni mesin cuci, kipas angin, televisi, lemari es, lampu, berbagai jenis kabel, saklar lampu, adaptor, headset, baterai AAA, lampu, dan obat nyamuk elektrik. Limbah elektronik di ketiga AM telah dikelola sebagai barang/aset negara namun belum dikelola sesuai dengan peraturan mengenai limbah B3 dan sampah spesifik. Persamaan pengelolaan limbah elektronik dengan di LN, yakni limbah elektronik disimpan dalam ruang penyimpanan di asrama. Perbedaan terletak pada sistem pemilahan dari sumber serta daur ulang limbah elektronik. AM luar negeri telah menerapkan hal tersebut, sedangkan AM di Kota Surabaya belu
Desain Multi-Purpose Research Vessel (MPRV) dengan Penggerak Tambahan Flettner Rotor Sail untuk Perairan Indonesia
Indonesia merupakan negara yang memiliki wilayah laut yang sangat luas. Dengan luasnya laut Indonesia, dibutuhkan usaha untuk mengelolanya agar dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh laut Indonesia, yang salah satunya adalah riset kelautan. Mulai tahun 2020, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan memulai sebuah program bernama Foresight Riset Kelautan yang akan menjadi ujung tombang pemerintah dalam melakukan riset-riset kelautan di laut Indonesia yang selama ini terbengkalai. Akan tetapi, saat ini LIPI hanya memiliki dua kapal riset kelautan, yang bahkan dalam kondisi yang memprihatinkan. Untuk memecahkan masalah tersebut, pembuatan kapal riset dengan teknologi terbaru sarana yang efektif dalam meningkatkan kualitas penelitian di bidang kelautan. Hasil dari desain MPRV ini mendapatkan ukuran utama LOA : 96.47 m, LWL :93.6 m, LPP : 90 m, B : 17.5 m, H : 9 m, T : 5.2 m. MPRV diproyeksikan untuk beroperasi di Laut Sulawesi, dengan mempertimbangkan kecepatan angin dan tinggi ombak yang ada. Kapasitas orang didalam kapal adalah 54 orang dengan 24 awak, 24 peneliti, dan 6 technical support. Kapal ini menggunakan dua mesin motor penggerak dengan daya sebesar 1342 kW sebanyak dua buah dan Flettner Rotor Sail dengan dimensi R : 3 m dan H : 18 + 2 m (fondasi) dengan daya mesin sebesar 55kW, putaran maksimum 250 RPM, dan Thrust Flettner Rotor Sail maksimum sebesar 100 kN. Biaya yang dibutuhkan untuk membangun MPRV adalah Rp 75,753,395,934
Studi Aliran Daya pada Container Crane dengan Suplai Energi Terbarukan Berbasis Simulasi
Pelabuhan petikemas tak lepas dari proses bongkar muat barangnya. Proses tersebut menggunakan alat berat berbahan bakar kurang ramah lingkungan. Saat ini pelabuhan petikemas di dunia tengah menerapkan konsep pelabuhan hijau ramah lingkungan (green port). Pengoperasian segala alat industri maupun produksi diusahakan dapat mengurangi jumlah polusi. Maka muncul konsep bahan bakar yang dapat diperbarui, seperti matahari, angin, dan sumber daya alam lain yang dapat menunjang terciptanya konsep pelabuhan ramah lingkungan. Container crane di pelabuhan menjadi alat berat utama dalam proses bongkar muat. Crane umumnya disuplai listrik dari PLN dan generator diesel, namun pada penelitian ini dicoba dengan suplai sumber daya energi terbarukan, seperti panel surya, dengan memodelkan one-line diagram container crane menuju pemodelan berbasis aplikasi simulasi ETAP. Kondisi panel surya yang berkarakteristik tegangan, frekuensi output yang berbeda dengan energi listrik dari PLN dan generator diesel, perbandingannya dicoba untuk dianalisa. Penelitian kali ini hanya fokus pada aliran daya yang terdapat dalam sistem kelistrikan container crane. Baik itu efisiensi tiap motor, rugi daya, hingga tegangan jatuh yang terjadi. Setelah pemodelan dan simulasi, didapatkan hasil bahwa suplai panel surya (PV) cukup bisa digunakan sebagai sumber daya untuk suplai sistem kelistrikan container crane. Pada suplai PV kali ini menggunakan output tegangan inverter sebesar 0,38 kV. Simulasi suplai PV menghasilkan efisiensi daya yang lebih rendah dari suplai PLN dan generator, serta tegangan jatuh yang lebih tinggi dari suplai PLN dan generator. Namun, pada tiap skenario suplai PV, efisiensi daya dan tegangan jatuhnya masih dalam batas standar IEC dan IEEE. Contohnya saat skenario motor gantry, efisiensi daya sebesar 94,44%, dan tegangan jatuh 0,274%. Lalu pada skenario motor boom, efisiensi daya 94,43% dan tegangan jatuh 0,457%. Pada skenario motor trolley, efisiensi daya 94,44% dan tegangan jatuh 0,374%. Pada skenario motor hoist, efisiensi daya 94,76% dan tegangan jatuh 0,269%
Alternatif Perencanaan Pondasi Dangkal pada Runway dan Gedung Terminal dengan Memperhatikan Pengaruh Likuifaksi (Studi Kasus: Bandara Internasional Yogayakarta)
Bandara Internasional Yogyakarta berlokasi di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Kabupaten Kulon Progo memiliki Peak Ground Acceleration (PGA) hingga sebesar 0,4 g. Di samping itu, lokasi bandara tersebut memiliki kondisi tanah yang didominasi tanah pasir. Mengingat kondisi tanah yang didominasi oleh tanah pasir dan nilai PGA yang cukup tinggi, lokasi tersebut memungkinkan memiliki potensi terjadinya likuifaksi. Akibat potensi likuifaksi tersebut, dalam pembangunan bandara telah dilakukan pemadatan tanah. Saat ini, gedung terminal bandara setinggi 3 lantai dan 1 basement telah dibangun menggunakan pondasi bored pile sepanjang 26 meter serta runway telah dibangun dengan panjang 3250 meter dan lebar 45 meter. Makalah ini membahas perhitungan lapisan tanah yang berpotensi likuifaksi pada data tanah sebelum dan sesudah perbaikan tanah, evaluasi pondasi eksisting pada gedung terminal, dan perencanaan alternatif pondasi cakar ayam pada area runway serta perencanaan pondasi cakar ayam dan pondasi sarang laba-laba (KSLL) di gedung terminal. Berdasarkan hasil analisis, diketahui lapisan tanah yang berpotensi likuifaksi dengan data tanah sebelum pemadatan pada area runway sedalam 2 meter dan pada area gedung terminal sedalam 4 meter. Namun, hasil kedalaman lapisan tanah yang berpotensi likuifaksi berdasarkan data tanah sesudah pemadatan pada area runway sedalam 1 meter dan tidak ditemukan potensi likuifaksi pada area gedung terminal. Berdasarkan hasil analisis evaluasi pondasi eksisting gedung terminal, diketahui tidak semua pondasi memiliki hasil evaluasi yang memuaskan dari segi beban aksial dan lateral. Perencanaan pondasi cakar ayam pada area runway memiliki dimensi panjang 3250 meter, lebar 45 meter dengan tebal 0,30 meter serta panjang pipa diketahui sebesar 10 meter dengan diameter 1,2 meter. Perencanaan alternatif pondasi dangkal, baik pondasi cakar ayam dan KSLL, pada gedung terminal tidak dapat dilaksanakan karena SF bearing capacity kurang dari satu (1) dan settlement yang terjadi melampaui settlement maksimum yang disyaratkan
Pengaruh Setelan Ketinggian Jet Needle Pada Karburator Sepeda Motor Terhadap Performa Engine
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh setelan ketinggian jet needle pada karburator terhadap torsi dan daya sepeda motor 100 cc. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan pendekatan kentitatif dengan metode eksperimen pre-experimental design one shoot case study. Data pokok yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis menggunakan persamaan nilai torsi dan persamaan nilai daya, lalu disajikan ke dalam bentuk tabel, grafik, dan diagram untuk kemudian dideskripsikan. Motor bensin yang digunakan dalam penelitian ini adalah Honda Grand 100 cc yang diuji pada rentang kecepatan putaran mesin 4000, 5000, 6000, 7000 dan 8000 rpm menggunakan alat dinamometer. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi setelan ketinggian jet needle karburator, maka torsi dan daya yang dihasilkan cenderung meningkat, dan semakin tinggi putaran mesin maka torsi yang dihasilkan akan cenderung menurun. Sedangkan daya yang dihasilkan meningkat hingga putaran 5000 rpm dan kemudian turun setelahnya hingga putaran 8000 rp
Studi Analisis Kinerja Sistem Rem Regeneratif pada Sepeda Motor Hybrid dengan Konfigurasi Seri
Hybrid electric vehicles (HEVs) atau kendaraan listrik hybrid adalah kendaraan yang menggunakan dua atau lebih sumber tenaga yang berbeda untuk bergerak. Teknologi sistem penggerak hybrid saat ini sudah diaplikasikan pada kendaraan bermotor roda empat. Sementara untuk aplikasi pada kendaraan bermotor roda dua seperti sepeda motor, teknologi hybrid ini belum banyak. Pada kendaraan hybrid, energi kinetik yang dikeluarkan dapat ditangkap dan disimpan dengan menggunakan sistem rem regeneratif, dimana motor listrik berubah menjadi generator kemudian energi tersebut disimpan ke dalam baterai. Pada penelitian terdapat dua tahapan utama, yang pertama adalah tahap perhitungan dan yang kedua adalah tahap analisis terhadap besar gaya dan porsi, kontribusi dan efisisensi sistem rem regeneratif. Untuk tahap perhitungan yang dilakukan adalah melakukan perhitungan gaya hambat yang bekerja pada kendaraan saat bergerak, perhitungan power dan besar energi pengereman yang bisa ditangkap berdasarkan driving cycle WMTC kelas 1 dan WMTC kelas 2. Selanjutnya untuk tahap analisis akan dilakukan analisis terhadap hasil yang didapatkan pada tahap perhitungan sebelumnya. Dari penelitian ini didapatkan besar gaya dari sistem rem mekanis dan sistem rem regeneratif pada roda depan dengan nilai j/g sebesar 0,3 adalah 139,09 N dan 266,31 N . Besar porsi pengereman mekanis dan regeneratif pada roda depan yang didapatkan dengan nilai j/g sebesar 0,3 adalah 0,060 dan 0,114. Besar kontribusi sistem rem regeneratif terhadap kebutuhan daya kendaraan pada driving cycle WMTC kelas 1 adalah 33,194% dan pada driving cycle WMTC kelas 2 adalah 29,504%. Besar efisiensi sistem rem regeneratif pada sepeda motor hybrid dengan driving cycle WMTC kelas 1 adalah 23,535% dan dengan driving cycle WMTC kelas 2 adalah 31,98%