Jurnal Teknik ITS
Not a member yet
3833 research outputs found
Sort by
Analisis Kelayakan dan Risiko Finansial untuk Menentukan Keputusan Kerjasama dengan Pihak Mitra (Studi Kasus: Usaha AMDK Perusahaan X)
Perusahaan X merupakan salah satu perusahaan BUMN yang bergerak dalam bidang penyediaan dan penyaluran air. Salah satu bidang usaha yang dikelola Perusahaan X adalah usaha AMDK. Saat ini usaha AMDK Perusahaan X hanya di pasarkan dilingkungan internal perusahaan. Namun dengan adanya peningkatan kapasitas, teknologi baru, dan dokumen perijinan, Perusahaan X ingin memasarkan produk AMDK-nya ke masyarakat luas. Oleh karena itu, Perusahaan X berencana untuk melakukan kerja sama dengan pihak mitra dalam pengelolaannya. Kerja sama yang dilakukan dengan cara Kerjasama Usaha (KSU). Dengan adanya rencana kerja sama diperlukan gambaran yang obyektif terkait dengan kelayakan rencana tersebut sebagai pertimbangan melakukan proyek pengembangan usaha. Dalam menentukan penilaian usaha melalui parameter Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP). Hasil dari analisis kelayakan kerja sama dianggap layak, karena berdasarkan tiga perspektif penilaian kelayakan, yaitu perspektif Usaha AMDK, Perusahaan X, dan Pihak Mitra memenuhi kriteria kelayakan finansial. Dengan menggunakan WACC 9,45%, berdasarkan 3 perspektif didapatkan nilai NPV>0, IRR>WACC, dan PP tidak melebihi horizon perencanaan. Selain itu, untuk menghindari kegagalan atas rencana kerja sama juga diperlukan analisis risiko ketidakpastian dengan metode NPV-at-Risk berbasis simulasi Monte Carlo sebagai gambaran atas potensi faktor-faktor menyebabkan kegagalan sehingga dapat dilihat kelayakan dari usaha. Berdasarkan hasil dari analisis risiko dengan mempertimbangkan ketidakpastian menggunakan simulasi didapatkan hasil bahwa kemungkinan usaha “layak” adalah sangat besar
Perencanaan Sanitary Landfill dan Lapisan Dasar Landfill pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sekoto-Kabupaten Kediri
TPA Sekoto berada di Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, melayani pengangkutan sampah dari 13 Kecamatan. TPA Sekoto yang telah menerapkan sistem controlled landfill, pada kenyataannya masih memberikan dampak negatif pada lingkungan. Hal ini disebabkan oleh rusaknya saluran pembuangan air lindi dan kolam instalasi pengolahan air lindi (IPAL). Kondisi ini juga diperparah dengan landfill yang mengalami overload pada tahun 2020 dan ditemukan air yang berupa air rembesan lindi pada lokasi TPA. Oleh karena itu, TPA baru dibangun disamping lokasi TPA lama. Perencanaan TPA baru harus mempertimbangkan dampak lingkungan yang ditimbulkannya. Dalam Tugas Akhir ini, direncanakan TPA Sekoto Baru dengan sistem sanitary landfill. Perencanaan meliputi perencanaan tanggul, pekuatan tanggul dengan geotekstil, dan perkuatan tanah dasar landfill dengan cerucuk, kombinasi lapisan liner di bawah landfill, tinggi dan kapasitas landfill, struktur kolam IPAL, dan jaringan perpipaan air lindi
Identifikasi Indikator Pengembangan Pariwisata Berdasarkan Konsep Tourism Resilience di Kecamatan Kuta, Bali
Penyebaran pandemi Covid-19 berdampak pada seluruh sendi kehidupan, termasuk pariwisata sebagai sektor yang memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana yang dapat menimbulkan krisis. Kecamatan Kuta merupakan salah satu daerah di Bali yang diarahkan pengembangannya sebagai kawasan pariwisata sangat terdampak dari adanya pandemi Covid-19. Hal ini dapat dilihat dari adanya penurunan kunjungan wisatawan yang signifikan, penutupan fasilitas pariwisata, serta penurunan pendapatan dari sektor pariwisata. Dampak yang dialami Kecamatan Kuta menandakan bahwa sektor pariwisata di wilayah tersebut tidak memiliki resiliensi terhadap adanya bencana yang dapat menimbulkan krisis. Oleh karena itu mengidentifikasi indikator pengembangan pariwisata berdasarkan konsep tourism resilience di Kecamatan Kuta menjadi tujuan penelitian ini. Metode pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner tertutup terhadap para pakar memahami komponen pariwisata di Kecamatan Kuta dengan metode analisis delphi. Hasil dari penelitian ini didapatkan 3 indikator dan 25 variabel tourism resilience yang berpengaruh di Kecamatan Kuta yang dikelompokkan ke dalam komponen pariwisata aksesibilitas, atraksi, ancillary, dan amenitas
Perencanaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Industri Alkohol di Desa Bekonang
Industri alkohol skala rumah tangga yang berada di Desa Bekonang Kabupaten Sukoharjo merupakan industri alkohol yang sudah lama ada dan sudah turun temurun dari generasi ke genarasi. Proses produksi alkohol di Desa Bekonang dilakukan dengan cara distilasi dengan bahan baku utama tetes tebu. Air limbah hasil distilasi ini memiliki warna coklat pekat dan berbau sedikit menyengat. Air limbah ini juga memiliki nilai COD, BOD, TSS dan nutrien yang tinggi sehingga perlu diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan. Oleh karena itu akan direncanakan instalasi pengolahan air limbah untuk mengolah air limbah hasil produksi alkohol di Desa Bekonang. Perencanaan ini dilakukan dengan melakukan pengambilan data primer melalui survey dan uji laboratorium serta data sekunder dengan melakukan tinjauan pustaka. Dari tinjauan pustaka didapat kriteria desain yang kemudian digunakan untuk perhitungan unit pengolahan. Dari hasil perhitungan kemudian dilakukan penggambaran sesuai kaidah gambar teknik. Berdasarkan hasil dari perencanaan, didapat debit air limbah rata-rata sebesar 5,88 m3/hari dan debit air limbah maksimum sebesar 9,408 m3/hari. Air limbah dari masing-masing industri diangkut menuju IPAL dengan menggunakan mobil bak. Teknologi pengolahan yang digunakan adalah saringan, bak ekualisasi, anaerobik baffled reaktor, moving bed bioreactor, dan clarifier. Kualitas air limbah hasil pengolahan didapat sebesar TSS 74 mg/L, COD 193 mg/L, BOD 84 mg/L. Luas lahan yang diperlukan untuk pembangunan IPAL sebesar 246 m2 dengan total biaya investasi sebesar Rp208.103.096,43
Kajian Desalinasi Air Laut Menggunakan Sistem Reverse Osmosis sebagai Pemenuhan Kebutuhan Air Tawar Kampung Wisata Apung, Malahing, Kota Bontang dan SDGs Poin 6
Sustainable Development Goals merupakan agenda pembangunan berkelanjutan dimana salah satu tujuannya berisikan tentang penyediaan akses air bersih dan sanitasi layak untuk semua. Prinsip SDGs adalah “Leave No One Behind” dimana tidak ada satupun orang yang tertinggal keterlibatan maupun manfaat dari diterapkannya tujuan SDGs. Kampung Malahing merupakan salah satu daerah di Indonesia di mana sumber air bersihnya terbatas. Kampung yang berdiri di tengah laut sejauh 3,32 km dari bibir pantai Kota Bontang dan menjadi rumah bagi 50 KK ini masih memenuhi kebutuhan air hariannya dengan membeli air ke daratan atau menampung air hujan. Metode pemenuhan kebutuhan air bersih di kampung ini tidak dapat diandalkan karena sering terjadi kendala seperti kapal rusak, jumlah air terbatas, kurangnya biaya, serta cuaca yang tidak menentu. Salah satu metode penyediaan air bersih bagi Kampung Malahing adalah dengan desalinasi air laut menggunakan teknologi Reverse Osmosis. Reverse Osmosis merupakan teknologi pengolahan air dengan metode osmosis balik dimana air dilewatkan melalui membrane semipermeabel dengan ukuran pori tertentu untuk menyisihkan zat yang tidak diinginkan. Perencanaan pengolahan air dengan teknologi Reverse Osmosis dilakukan dengan menghitung kebutuhan air warga Kampung Malahing, menghitung debit, dan merencanakan instalasi sesuai dengan debit air yang dibutuhkan serta sesuai dengan kondisi lokasi studi. Didapatkan debit air yang dibutuhkan adalah sebesar 23,15m3/hari dengan panjang pipa intake 5,5 m; diameter pipa 22 mm; debit pompa intake 0,0003m3/detik, dan penyimpanan air dengan kapasitas total 32000 liter
Analisis Risiko Kecelakaan Kerja pada Pekerjaan Erection Girder PCI Jembatan Tuntang, Proyek Tol Semarang-Demak Seksi 2 Menggunakan Metode Task Demand Assessment (TDA)
Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan suatu hal yang sangat penting di dunia konstruksi karena bersinggungan langsung dengan pekerja, perhitungan potensi risiko yang salah dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan kerja terutama kepada para pekerja di Indonesia sendiri kecelakaan kerja pada pekerjaan erection girder masih sering terjadi, sekitar 6 insiden terkait kecelakaan kerja pada pekerjaan erection girder terjadi dalam kurun waktu 2017-2021 maka penelitian ini dibuat dengan judul “Analisis Risiko Kecelakaan Kerja Pada Pekerjaan Erection Girder PCI Jembatan Tuntang Proyek Tol Semarang–Demak Seksi 2 Menggunakan Metode Task Demand Assessment (TDA)” untuk meminimalisir kecelakaan kerja dalam pekerjaan erection girder jembatan. Berdasarkan hasil dari penelitian ini didapatkan empat buah risiko yang memiliki potensi tertinggi di antaranya adalah crane collapse saat pengangkatan girder, sling terputus saat pengangkatan girder, girder collapse, dan kegagalan struktur spreader beam yang ditimbulkan oleh faktor risiko penggunaan alat pelindung diri (APD), kecepatan angin, kesehatan pekerja, pergerakan pekerja, setting alat kerja, dan kredibilitas pekerja
Perumusan Faktor-faktor Penyediaan Perumahan Formal di Surabaya dari Aspek Lahan Kebijakan
Dalam mewujudkan permukiman perkotaan berkelanjutan, permasalahan utama yang dihadapi secara umum di Indonesia dan di Kota Surabaya secara khusus adalah ketimpangan antara penyediaan dan permintaan. Telah banyak kebijakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, namun secara fakta masih belum optimal. Pada penelitian ini akan dicari tahu sejauh mana pengaruh faktor penyediaan perumahan guna mengetahui kebijakan dan program perumahan di Kota Surabaya sudah efektif diterapkan atau sebaliknya.Guna mengetahui hal tersebut, identifikasi bentuk kebijakan dan program penyediaan perumahan di Kota Surabaya dianalisis menggunakan analisis konten yang bersumber dari literatur dan wawancara stakeholder. Sedangkan untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor penyediaan perumahan di kota surabaya dilakukan menggunakan metode ekonometri berupa regresi linier berganda yang bersumber dari hasil kuesioner responden, data NPOP (Nilai Perolehan Objek Pajak) Kota Surabaya, dan data NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) PBB Kota Surabaya. Hasil berdasarkan model regresi menunjukkan, kenaikan harga rumah, luas bangunan, pajak properti, dan mengikuti program KPR/Insentif BPHTB 10%/ Insentif PPN DTP 50% mempercepat durasi penyediaan lahan. Sedangkan kenaikan luas tanah, prosentase kenaikan nilai lahan, nilai lahan, dan mengikuti program insentif BPHTB 25% justru memperlambat durasi penyediaan perumahan
Optimasi Desain Balok dan Kolom Gedung Twin Tower Makassar dengan Menggunakan Microsoft Excel VBA terhadap Sisi Kekuatan Lentur, Geser, dan Biaya
Makassar merupakan kota terbesar keempat di Indonesia dan juga merupakan Ibu kota Sulawesi Selatan sehingga mendorong pemerintah untuk menghadirkan fasilitas untuk menunjang kegiatan masyarakat, salah satunya adalah pembangunan infrastruktur. Karena lahan yang semakin sempit, dipilihlah bangunan secara vertikal yang dinilai lebih efektif dan efisien dengan kondisi eksisting yang ada. Twin Tower Makassar merupakan salah satu gedung tinggi dengan 36 lantai dan tinggi 170,95 m yang terletak di Makassar. Gedung ini dibangun di kawasan Center Point of Indonesia dan akan menjadi gedung pemerintahan Sulawesi Selatan. Menara ini akan menyatukan kantor-kantor pemerintahan Sulawesi Selatan dan juga menjadi bentuk sinergitas, solidaritas serta kolaborasi antara perangkat pemerintah sehingga diharapkan dapat membangun Sulawesi Selatan dengan efisien. Twin Tower juga akan dilengkapi dengan pusat bisnis dan jasa, serta fasilitas publik seperti mall, hotel, dan restoran. Pentingnya optimasi elemen struktur utama yaitu balok dan kolom adalah untuk mengurangi biaya pembangunan dan mengoptimalkan penggunaan bahan bangunan. Optimasi dilakukan dengan bantuan program sederhana dari Microsoft Excel yaitu Visual Basic Analysis (VBA). Pelaksanaan proses optimasi dilakukan dengan VBA karena proses optimasi dapat dilakukan secara otomatis hanya dengan memasukan syarat serta rumus-rumus sesuai peraturan saja sehingga dapat memudahkan proses penentuan dimensi sampai ke kebutuhan tulangan dari elemen struktur gedung. Pada tugas akhir ini dilakukan optimasi untuk elemen struktur balok dan kolom gedung Twin Tower Makassar menggunakan Microsoft Excel Visual Basic Analysis (VBA). Dari hasil analisa yang telah dilakukan didapatkan bahwa balok dapat menjadi lebih efisien dari sisi lentur dan gesernya dengan pengurangan harga hingga 31% dan kolom dapat menjadi lebih efisien dari sisi lentur dan gesernya dengan pengurangan harga hingga 57%
Studi Pustaka: Teknologi Pengolahan Air Limbah pada Industri Penyamakan Kulit
Industri penyamakan kulit merupakan salah satu industri di Indonesia yang mengalami peningkatan cukup pesat dan keberadaannya didominasi wilayah Magetan, Garut, dan Yogyakarta. Air limbah penyamakan kulit mengandung polutan organik dan kimia dengan kuantitas besar, serta termasuk limbah berbahaya dan beracun. Sebagian besar air limbah industri kecil penyamakan kulit belum dilakukan pengolahan dan langsung dibuang ke badan air. Adapun industri penyamakan lainnya yang telah memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), namun terdapat kualitas efluen air limbah yang masih tinggi dan melebihi baku mutu. Berdasarkan permasalahan yang ada, diperlukan kajian pustaka mengenai teknologi pengolahan yang tepat dalam mengolah air limbah penyamakan kulit. Dalam mendukung pembahasan mengenai penentuan teknologi pengolahan, diperlukan analisis karakteristik air limbah dari beberapa industri penyamakan kulit berdasarkan klasifikasi skala industri, kemudahan operasional, dan biaya investasi. Karakteristik air limbah penyamakan kulit dikelompokkan dalam tiga skala industri, diantaranya industri skala kecil, besar, dan klaster. Studi kasus yang digunakan dalam studi ini, yaitu industri skala kecil Kamila Leather, skala besar PT. Adi Satria Abadi, dan skala klaster LIK Magetan. Debit yang dihasilkan dari ketiga industri memiliki nilai beragam, diantaranya industri kecil sebesar 3 m3/hari, industri besar sebesar 61,83 m3/hari, dan industri klaster sebesar 594,4 m3/hari. Terdapat sepuluh teknologi pengolahan yang telah digunakan pada industri penyamakan kulit, salah satunya Advanced Oxidation Processes (AOPs) yang paling banyak digunakan. Dari hasil analisis perbandingan teknologi pengolahan, didapatkan rekomendasi teknologi pengolahan yang tepat untuk ketiga skala industri, diantaranya industri kecil menggunakan unit adsorpsi, industri besar menggunakan tambahan unit wetland, dan industri klaster menggunakan tambahan unit adsorpsi
Deteksi Objek Pada Mobil Otonom dengan Kamera Termal Infra Merah
Mobil otonom adalah mobil yang beroperasi dengan aman dan efektif tanpa adanya kendali manusia. Mobil ini terdiri dari sistem yang dapat berinteraksi dengan lingkungan. Mobil otonom dilengkapi sensor untuk dapat mengetahui kondisi sekitar. Saat ini kamera termal telah banyak diterapkan pada mobil otonom karena kemampuan menerima gelombang cahaya inframerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan riset kamera termal agar dapat diaplikasikan dan digunakan pada I-CAR ITS. Metode utama yang digunakan dengan penginderaan dan pemrosesan visual komputer. pengambilan data dilakukan saat siang dan malam hari untuk mendapatkan perbandingan data yang akan dideteksi dengan menggunakan metode MRCNN (Mask-Regional Based Convolutional Neural Network). Arsitektur yang digunakan adalah FPN dan RESNET 101. Penelitian ini dirancang untuk mendeteksi objek terdiri dari mobil, motor, sepeda, dan manusia. Perancangan perangkat keras penelitian ini diantaranya kamera termal Flir one, laptop, smartphone, dan ONT. Pada penelitian ini matahari dapat mempengaruhi kualitas gambar yang diakibatkan radiasi sinar matahari. Dari hasil evaluasi didapatkan nilai mAP 70.8%, presisi 84,8%,rasio ROI dari tiap kelas adalah 33%,dan rata-rata tingkat kepercayaan 90%. Jarak maksimum deteksi siang hari sampai dengan 10 meter dan 5 meter untuk pengujian malam hari. Sistem mendeteksi dengan kecepatan 4,5 fps, dari acuan tersebut mobil otonom(ICAR) direkomendasikan melaju maksimal adalah 16 km/jam