Jurnal Teknik ITS
Not a member yet
    3833 research outputs found

    Desain Floating Fish Farm And Restaurant di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang, Banten

    Full text link
    Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung merupakan KEK pariwisata sehingga pembangunannya ditujukan untuk meningkatkan ekonomi dan pariwisata nasional. Pembangunan peternakan ikan laut dan restoran menjadi objek yang sangat membantu untuk meningkatkan ekonomi dan pariwisata nasional. Karena peternakan ikan dapat membantu meningkatkan produksi ikan secara nasional dalam kondisi musim panceklik dan restoran menjadi daya tarik wisata kuliner yang bersifat luwes dalam menyuguhkan hiburan bagi wisatawan. KEK Tanjung Lesung telah memiliki masterplan dengan banyak proyek yang akan dibangun, di mana tidak tersedia lahan untuk membangun peternakan ikan laut dan restoran. Maka dari itu, peternakan ikan laut dan restoran akan dibangun secara terapung. Dari kuesioner yang telah disebar kepada masyarakat, maka ditentukan fasilitas floating dan payload luasan pada floating fish farm and restaurant seluas 2075 . Dengan mengambil rata-rata jumlah penumpang berdasarkan kuesioner yang telah dilakukan, maka ditentukan pengunjung floating fish farm and restaurant yaitu sebanyak 60 orang dengan 20 orang kru. Ukuran utama yang memenuhi kriteria untuk floating fish farm and restaurant adalah LoA = 60 m; Lpp = 58,7 m; B = 16 m; H = 4,5 m, T = 3.3 m. Analisis teknis yang dilakukan berupa perhitungan berat, perhitungan trim, perhitungan stabilitas, perhitungan freeboard, dan corotion rate. Kemudian, dilakukan desain Rencana Garis, Rencana Umum, Perencanaan Keselamatan, dan Model 3D. Pada penelitian ini juga dilakukan analisis ekonomis dengan total biaya pembangunan senilai Rp 35.297.159.152, dengan biaya operasional sebesar Rp 5.880.277.876/tahun. Dilakukan perhitungan dan didapatkan nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp 17,365,766,772, Internal Rate of Return (IRR) senilai 19%, dan payback period selama 5 tahun 0 bulan 28 hari

    Identifikasi Kriteria yang Berpengaruh dalam Penyelenggaraan Wisata Walking Tour di Perkampungan Peneleh

    Full text link
    Perkampungan Peneleh sebagai kawasan cagar budaya memiliki aktivitas walking tour yang dikelola oleh komunitas lokal, Begandring Soerabaia sejak tahun 2018. Aktivitas ini bertujuan untuk memperkenalkan identitas kawasan melalui nilai-nilai sejarah dan budaya kampung lama. Namun, dengan beragamnya tantangan yang berasal dari dimensi fisik, aktivitas, dan makna membuat perlu adanya kajian untuk mengidentifikasi kriteria yang berpengaruh dalam penyelenggaraan walking tour di Perkampungan Peneleh. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan stakeholder, yakni tokoh masyarakat, pokdarwis, dan komunitas penyelenggara kegiatan, dan dilakukan analisis menggunakan metode delphi. Hasil menunjukkan bahwa kriteria yang berpengaruh dalam penyelenggaraan walking tour di Perkampungan Peneleh terdiri atas 6 aspek, 14 variabel, dan 30 sub-variabel. Apabila diamati berdasarkan tanggapan responden, diketahui terdapat beberapa kondisi eksisting yang belum optimal diantaranya seperti narasi tentang kehidupan sehari-hari, jumlah wisatawan, bentuk komunikasi, sarana dan prasarana, kenyamanan infrastruktur pedestrian, indra pengecap, dan indra penciuman.  Temuan ini perlu dilakukan perumusan strategi penanganan yang konstruktif untuk mendukung penyelenggaraan wisata walking tour di Perkampungan Peneleh

    Desain Pabrik Biodiesel dari Palm Fatty Acid Distillate (PFAD)

    Full text link
    Biofuels atau Bahan Bakar Nabati (BBN), dianggap sebagai alternatif yang potensial untuk menggantikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Dengan peningkatan produksi bioetanol dan biodiesel, Indonesia menjadi peringkat dua pada negara produsen biofuel terbesar setelah amerika. Pabrik pembuatan biodiesel dari Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) dibangun melalui proses esterifikasi dan transesterifikasi metode Lurgi untuk memenuhi kebutuhan pasar biodiesel yang meningkat setiap tahunnya dengan kapasitas 270.000 ton/tahun. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan pabrik biodiesel adalah PFAD yang merupakan produk samping dari pemurnian Crude Palm Oil (CPO). Pabrik ini direncanakan akan dibangun di Provinsi Sumatera Utara di Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei, hal ini telah dipertimbangkan melalui beberapa aspek diantaranya adalah ketersediaan bahan baku dan wilayah pemasaran. Proses esterifikasi dan transesterifikasi akan dilakukan pada suhu 60 oC pada tekanan 1 atm dengan tingkat konversi 98% dan 99%. Dalam pembuatan biodiesel ini, H2SO4 digunakan sebagai katalis asam dalam proses esterifikasi yang merupakan asam kuat sehingga mampu untuk membantu meningkatkan laju reaksi pada proses esterifikasi. Sedangkan, NaOH digunakan sebagai katalis basa dalam proses transesterifikasi yang merupakan basa kuat untuk mengonversi trigliserida menjadi metil ester. Selain biodiesel, dalam proses ini terdapat produk samping yang dapat dihasilkan yaitu Gliserol yang dihasilkan dari proses transesterifikasi. Dari analisis perhitungan ekonomi, didapatkan modal CAPEX sebesar Rp905.496.880.571, OPEX sebesar Rp41.563.513.988/tahun. NPV yang didapatkan bernilai positif dengan nilai sebesar Rp2.381.564.919.242. Dari perhitungan tersebut, didapatkan IRR sebesar 25,16%, dengan POT selama 7,2 tahun. Sedangkan, BEP (Break Even Point) yang didapatkan adalah sebesar 35,35% Dengan hasil analisis yang dilakukan maka disimpulkan bahwa pabrik biodiesel dengan kapasitas 270.000 ton/tahun secara teknis layak untuk didirikan

    Analisis Highest and Best Use pada Lahan Terbangun di Jalan Braga No.41 Bandung

    Full text link
    Kota Bandung adalah salah satu kota dengan penghasilan PDRB (produk domestik regional bruto) terbesar di Indonesia. Oleh karena itu diperlukan dorongan agar pertumbuhan ekonomi bersama stabilitasnya terjaga di Kota Bandung. Salah satu upayanya dengan pengoptimalan pemanfaatan lahan. Salah satu lahan terbangun yang tidak dimanfaatkan dengan baik adalah lahan yang terletak di Jl. Braga No.41, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung. Saat ini lahan terbangun tersebut disewakan dengan tarif yang rendah sehingga pendapatannya tidak cukup untuk menutup biaya pemeliharaan. Lahan tersebut memiliki luas tanah 783 m2 dan luas bangunan 800 m2. Lahan ini terletak di lokasi yang strategis karena memiliki akses jalan protokol dan termasuk daerah alun-alun Kota Bandung. Lokasi yang strategis tanpa pemanfaatan lahan yang tepat membuat pemilik lahan merugi. Oleh karena itu perlu dilaksanakan analisis Higest and Best Use (HBU) untuk mengetahui penggunaan tertinggi dan terbaik untuk lahan terbangun dengan tujuan pengembangan properti. Aspek yang menjadi dasar dalam analisis HBU adalah aspek legal, fisik, finansial, dan produktivitas maksimum. Analisis aspek legal untuk mengetahui peruntukan apa saja yang memenuhi peraturan yang berlaku, dan mengevaluasi apakah bangunan yang ada memenuhi persyaratan dalam building code. Analisis aspek fisik untuk mendapatkan basic design didasarkan pada kondisi bangunan yang sudah ada. Analisis aspek finansial untuk mendapatkan alternatif yang layak secara finansial, dengan menggunakan parameter Net Present Value (NPV). Analisis produktivitas maksimum untuk mendapatkan alternatif yang memiliki nilai properti tertinggi. Dari hasil penelitian ini ditemukan dua alternatif properti yang ditetapkan untuk pengembangan properti, yaitu hotel dan pujasera. Berdasarkan tahapan analisis dari berbagai aspek, hotel merupakan alternatif yang memberikan nilai properti tertinggi dan terbaik. Pengembangan properti sebagai hotel memberikan kenaikan nilai properti dari Rp30.112.000.000 menjadi Rp33.589.450.990 atau dengan persentase kenaikan sebesar 112%

    Pengembangan Ekonomi Lokal Berbasis Produk Olahan Bandeng Pulau Mengare Kabupaten Gresik

    Full text link
    Komoditas bandeng merupakan salah satu produk unggulan Pulau Mengare, Kabupaten Gresik. Namun, komoditas bandeng di Pulau Mengare masih belum dikembangkan secara maksimal karena kondisi masyarakat yang masih awam dalam hal berinovasi dan pemasaran serta peran kelembagaan yang kurang optimal. Tujuan dari penelitian ini untuk merumuskan arahan pengembangan produk olahan komoditas bandeng dengan pendekatan Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) di Pulau Mengare. Untuk mencapai tujuan tersebut, diawali dengan pencarian variabel/faktor yang berpengaruh terhadap PEL dengan metode analisis Delphi, hasilnya terdapat 21 variabel/faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan ekonomi lokal berbasis produk olahan komoditas bandeng di Pulau Mengare. Kedua, dari variabel-variabel tersebut kemudian dianalisis dengan metode Content Analysis, ditemukan beberapa potensi seperti tenaga kerja yang terampil dalam bidang pengolahan, kualitas dan kuantitas bahan baku olahan yang baik, adanya peluang CSR, terdapat beberapa lembaga permodalan, serta infrastruktur pendukung yang memadai. Namun masih terdapat permasalahan lain seperti turunnya minat kelompok muda dalam bidang pengolahan ikan, kurangnya perhatian pada inovasi serta kompetensi, tidak aktifnya kelompok masyarakat dalam bidang perikanan dan pengolahan, teknologi pengolahan dan sistem pemasaran yang masih tradisional, kemitraan serta branding produk yang belum terlalu kuat, BUMDES yang masih belum bisa memberikan peminjaman modal usaha, adanya persepsi rumit dalam mengurus perizinan legalitas usaha dan persyaratan peminjaman modal, serta akses jalan yang kurang memadai untuk aksesibilitas kegiatan perekonomian. Terakhir, menyusun arahan pengembangan dengan metode triangulasi untuk menyelesaikan permasalahan serta memaksimalkan potensi yang ada di Pulau Mengare terkait pengolahan komoditas bandeng, di antaranya mengadakan pelatihan kewirausahaan, mendorong penggunaan teknologi pengolahan yang ramah tenaga kerja, mengoptimalkan fungsi BUMDES dalam pemberian bantuan modal, membentuk inclusive society terutama peningkatan kerja sama pihak swasta dan litbang, memperluas jaringan pemasaran melalui segmentasi pasar (identifikasi pasar) dan mengoptimalkan strategi pemasaran secara online melalui E-Commerce dan media sosial, dan sebagainya

    Pola Mobilitas Pelajar Kampus dengan Layanan On-Demand Ride-Hailing di Surabaya Timur Berbasis Spatio-Temporal

    Full text link
    Paradigma saat ini transportasi publik di perkotaan belum mampu memenuhi kebutuhan orang terutama pada perjalanan bersekolah. Hal tersebut tercermin pada mobilitas mahasiswa yang belum diakomodasi melalui layanan sistem transportasi publik yang memadai di Surabaya Timur. Layanan ride-hailing dapat menjadi pelengkap yang dapat membantu melayani permintaan transportasi mahasiswa di Surabaya Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola mobilitas perjalanan bersekolah dengan menggunakan layanan on-demand ride-hailing di Surabaya Timur berbasis spatio-temporal. Penelitian ini menggunakan metode analisis statistik deskriptif dan Crosstab Chi-square untuk mengetahui keterkaitan karakteristik pelaku pengguna terhadap penggunaan layanan ride-hailing. Selanjutnya, metode analisis Geographical Weighted Regression (GWR) digunakan untuk menganalisis faktor permintaan ride-hailing pada periode waktu yang berbeda pada perjalanan berangkat dan pulang dari kampus. Hasil menunjukkan bahwa terdapat variabel yang signifikan mempengaruhi perbedaan permintaan ride-hailing perjalanan mahasiswa di Surabaya Timur berdasarkan periode waktu yaitu tingkat kepadatan, jarak tempuh, waktu tempuh, dan biaya perjalanan. Perbedaan permintaan ride-hailing pada setiap periode waktu pada perjalanan bersekolah diantaranya pada pagi hari tersebar tinggi pada 9 kelurahan yaitu di Kelurahan Ploso, Kelurahan Pacarkembang, Kelurahan Kertajaya, Kelurahan Manyar Sabrangan, Kelurahan Gunung Anyar, Kelurahan Kalijudan, Kelurahan Mojo, Kelurahan Gebang Putih, dan Kelurahan Penjaringansari. Pada siang hari tersebar tinggi pada 10 kelurahan di yaitu Kelurahan Mojo, Kelurahan Kertajaya, Kelurahan Manyar Sabrangan, Kelurahan Gebang Putih, Kelurahan Penjaringansari, Kelurahan Gunung Anyar, Kelurahan Airlangga, Kelurahan Dukuh Sutorejo, Kelurahan Ploso, dan Kelurahan Menur Pumpungan. Sedangkan pada sore hari tersebar tinggi pada 6 kelurahan di yaitu Kelurahan Airlangga, Kelurahan Kertajaya, Kelurahan Gebang Putih, Kelurahan Keputih, Kelurahan Medokan Ayu, dan Kelurahan Pacarkembang

    Pra Desain Pabrik Metanol dari Batubara

    Full text link
    Salah satu komoditas yang diprioritaskan dalam petrokimia hulu berdasarkan RIPIN 2025-2035 adalah metanol. Hal ini dikarenakan metanol telah banyak digunakan di berbagai sektor industri kimia sebagai pelarut, sebagai antifreeze, dan gas hydrate inhibitor pada industri migas. Metanol juga merupakan bahan baku yang memiliki banyak produk turunan. Berdasarkan pertimbangan di atas, sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah dan memajukan industri kimia nasional, dilakukan perencanaan pra desain pabrik metanol dengan bahan baku batubara kualitas rendah. Produksi metanol dari batubara melalui beberapa tahapan proses yaitu Preparasi Batubara, Proses Gasifikasi, Proses Purifikasi Syngas, Proses Sintesis Metanol, dan Proses Purifikasi Metanol. Rencana pendirian pabrik ini akan dilakukan selama dua tahun dengan umur pabrik selama 15 tahun. Untuk memproduksi Metanol sebanyak 630.000 ton/tahun, diperlukan Operating Expenditures (OPEX) sebesar 110.382.415denganCapitalExpenditures(CAPEX)sebesar110.382.415 dengan Capital Expenditures (CAPEX) sebesar 205.310.456 total penjualan sebesar 252.000.000.Sumberdanainvestasiberasaldarimodalsendirisebesar40252.000.000. Sumber dana investasi berasal dari modal sendiri sebesar 40% dan modal pinjaman sebesar 60%. Berdasarkan analisa ekonomi, Internal Rate of Return (IRR) pabrik ini sebesar 28.69% dengan bunga sebesar 8% per tahun dan laju inflasi 2,18%. Sedangkan untuk Pay Out Time (POT) selama 6 tahun 6 bulan, Break Even Point (BEP) sebesar 29.62% kapasitas pabrik, dan Net Present Value (NPV) yang bernilai positif yaitu sebesar 327.164.565

    Desain Pabrik Bioetanol dari Batang Sorgum dengan Kapasitas 15.000 kL/Tahun

    Full text link
    Kebutuhan energi terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, sementara sumber daya utama yang sampai saat ini masih digunakan berbahan dasar fossil yang tak terbarukan. Hal tersebut menyebabkan mulai dikembangkannya berbagai alternatif, salah satunya bioetanol yang merupakan bagian dari biofuel. Bahan baku bioetanol banyak dikembangkan, salah satunya yang berasal dari batang sorgum. Penggunaan batang sorgum sebagai bahan baku bioetanol dinilai menguntungkan dari segi ekonomi maupun teknis, sehingga dirancang suatu pabrik bioetanol dari batang sorgum dengan rancangan kapasitas sebesar 15.000.000 L/tahun. Proses utama dari pabrik ini adalah pre-treatment untuk degradasi lignin, fermentasi dengan teknologi SSCF, dan purifikasi menggunakan distilasi serta molecular sieves. Pabrik yang didesain akan mulai beroperasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 2027 dengan asumsi operasi 330 hari dalam satu tahun. Analisis ekonomi dilakukan dan didapatkan data Capital Expenditure (CAPEX) sebesar Rp217.181.210.789; Operational Expenditure (OPEX) sebesar Rp170.197.041.372; Net Present Value (NPV) sebesar Rp84.770.408.771 dengan Internal Rate of Return sebesar 19,50%, Break Even Point (BEP) sebesar 50,55% dan Pay-out Time (POT) selama 6 tahun setelah pabrik beroperasi. Tak hanya itu, pabrik ini juga menekankan konsep green industry yang didasarkan pada peraturan pemerintah dengan adanya unit pengolahan limbah serta memanfaatkan kembali limbah yang meaish memiliki nilai ekonomi. Disimpulkan bahwa pabrik ini layak untuk didirikan

    Penentuan Faktor-Faktor yang Berpengaruh dalam Pengembangan Kawasan Minapolitan Berbasis Perikanan Tangkap di Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep

    Full text link
    Kecamatan Pasongsongan merupakan penghasil perikanan tangkap terbesar ketiga di Kabupaten Sumenep setelah Kecamatan Sapeken dan Raas. Potensi perikanan tersebut mampu memberikan kontribusi terhadap nilai PDRB. Dalam arahan RTRW Kabupaten Sumenep, Kecamatan Pasongsongan ditetapkan sebagai pusat kawasan minapolitan. Namun, sampai saat ini masih belum ada tindak lanjut dari proses pengembangannya. Saat ini ditemui kondisi TPI yang belum optimal dalam kegiatan pemasaran, kegiatan penangkapan serta kapal dan alat tangkap yang masih bersifat tradisional, kurangnya sarana dan prasarana pendukung seperti cold storage dan pabrik es, kurangnya pelayanan SPBN dalam menyediakan bahan bakar nelayan, dan masih adanya sistem ijon dalam kegiatan distribusi ikan hasil tangkapan. Permasalahan tersebut bisa berdampak terhadap menurunnya kesejahteraan nelayan dan pertumbuhan ekonomi wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengembangan kawasan minapolitan berbasis perikanan tangkap di Kecamatan Pasongsongan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis delphi dengan responden sejumlah 8 responden. Terdapat 26 variabel yang digunakan dalam analisis delphi. Didapatkan 26 faktor yang mempengaruhi pengembangan kawasan minapolitan berbasis perikanan tangkap di Kecamatan Pasongsongan, di antaranya adalah sumber daya alam, sumber daya manusia, jaringan listrik, jaringan air bersih, jaringan persampahan, jaringan telekomunikasi, pelabuhan perikanan, TPI, cold storage, pabrik es, SPBU/SPDN, gudang pengepakan, docking/bengkel, mesin dan alat tangkap, lembaga masyarakat dan pemerintah, ketersediaan pasar, kegiatan distribusi, permodalan, ketersediaan dan kondisi jaringan jalan, pengolahan hasil perikanan, kontribusi pembiayaan, kebijakan pemerintah, pembinaan iklim usaha, dan pembinaan sumber daya manusia

    Manajemen Pelaksanaan Konstruksi Pembangunan Tunnel pada Inlet Sudetan Kali Ciliwung Ke Kanal Banjir Timur

    Full text link
    Pembangunan Sudetan Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur (KBT) yang memiliki Panjang 582 m dengan diameter 3.5 m. Metode yang digunakan dalam melaksanakan pembangunan tunnel menggunakan metode Micro Tunneling dan Pipe Jacking. MicroTunneling adalah metode konstruksi pembangunan yang menggunakan mesin bor MTBM (MicroTunnel Boring Machines) yang dikombinasikan dengan teknik Pipe Jacking, yang memiliki fungsi sebagai pembangun terowongan dengan dimensi 4 m, penelitian ini berfokus pada metode pelaksanaan dan Analisis durasi serta biaya pekerjaan microtunneling dan pipe Jacking pada proyek Pembangunan Sudetan Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur. Biaya pelaksanaan dihitung berdasarkan analisis yang sesuai antara literatur yang digunakan maupun peraturan yang berlaku untuk mendapatkan kesesuaian dengan kondisi pelaksanaan lapangan. Sedangkan pada perhitungan waktu pelaksanaan dilakukan analisis mulai dari kapasitas produksi, produk-tivitas, durasi dan penyusunan jadwal setiap pekerjaan di mana hal ini dilakukan dengan menggunakan alat bantu Microsoft Project. Berdasarkan hasil Analisis perhitungan pada proyek Pembangunan Sudetan Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur diketahui bahwa total durasi yang didapatkan selama 286 hari dengan total biaya, yaitu Rp88.599.145.500,00

    3,519

    full texts

    3,833

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknik ITS
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇