Jurnal Teknik ITS
Not a member yet
    3833 research outputs found

    Operational Risk Identification and Mitigation of the Chemical Production Process of PT. X Using Failure-Mode and Effect Analysis (FMEA) and Chemical Health Risk Assessment (CHRA) Methods

    No full text
    PT. X is a German-based multinational chemical company that produces surfactant as one of its products. As a chemical processing company, the operational activities of the production process in PT. X poses risks that could happen at any time. This research is conducted to identify, analyze, and propose mitigation plan for the risks in one of the plants operated by PT. X. Interviews are conducted to identify the risks using Fishbone diagram as the framework and the Ishikawa method to categorize the causes. There are 86 risks that are identified consisting of 51 operational risks and 35 risks of chemical exposure. To be more thorough, the identified operational risks are assessed using the Failure-Mode and Effect Analysis (FMEA) and the chemical exposure risks are assessed using the Chemical Health Risk Assessment (CHRA). From the 206 risk causes, 31% are caused by Man, 28% are caused by Machine, 22% are caused by Material, 15% are caused by Method, and 5% are caused by the Environment. The FMEA produces Risk Priority Number (RPN) which led to risk prioritizing using the Pareto diagram and risk mapping, resulting in 24 risks being prioritized that consists of 15 medium-level risks and 9 low-level risks with no high-level risk present. The CHRA produces Risk Rating (RR) and Level of Risk that resulted in 77 low-level and 19 moderate-level risks for risk for inhalation exposure, and 9 moderate-level risks and 86 high-level risks for the exposure through dermal contact. It produces the decision of 17 inadequate control measures for chemical exposures. These assessments are further processed to devise the appropriate contingency plan, mitigation plan, and action plan

    Evaluasi Desain Kapal Pengawas Perikanan Berbasis Radar Cross Section untuk Mengurangi Deteksi Radar di Wilayah Laut Natuna Utara

    Get PDF
    Sebagai negara kepulauan, Indonesia bersengketa dengan negara lain terkait klaim hak berdaulat di Laut Natuna Utara. Maka dari itu, diperlukan strategi pengawasan yang tepat untuk dapat mencegah dan memerangi illegal fishing di Laut Natuna Utara agar sumber daya ikan Indonesia dapat dilindungi dan berkelanjutan, serta tegaknya kedaulatan Indonesia. Sejak penemuannya, radar telah sangat memengaruhi semua domain peperangan militer, termasuk peperangan laut. Radar banyak digunakan di platform militer sebagai alat untuk mendeteksi, pelacakan, dan klasifikasi musuh. Radar cross section (RCS) adalah ukuran kekuatan reflektif suatu objek, untuk menentukan seberapa dini target dapat dideteksi. Reduksi RCS dari suatu kapal dapat menghambat deteksi radar kapal musuh. Pada desain awal Kapal Pengawas Perikanan tipe C, didapatkan nilai radar cross section sebesar 31 dBsm menggunakan metode numerik. Dilakukan evaluasi terhadap bentuk deckhouse untuk mengurangi luasan pantulan radar. Pada tahap evaluasi ini, didapatkan nilai radar cross section sebesar 30.6 dBsm. Kemudian dilakukan evaluasi terhadap bentuk lambung, bentuk lambung yang digunakan sebelumnya diubah menjadi bentuk inverted bow untuk mengurangi pantulan radar di daerah bow. Pada evaluasi lambung, didapatkan nilai radar cross section sebesar 30.4 dBsm. Kemudian dilakukan evaluasi terhadap pelapisan Radar Absorbing Material (RAM) pada deckhouse. Material yang digunakan adalah material komposit bernama BAM/PET. Pada evaluasi pelapisan RAM pada deckhouse didapatkan nilai radar cross section sebesar 1.9 dBsm. Dilakukan pelapisan RAM pada kapal awal sebelum dilakukan evaluasi deckhouse dan lambung, hasil pelapisan RAM pada kapal awal menunjukkan nilai radar cross section sebesar 3.7 dBsm. Nilai tersebut sudah memenuhi kriteria radar cross section kapal. Sehingga tidak perlu dilakukan evaluasi terhadap bentuk deckhouse dan lambung, cukup melakukan pelapisan RAM pada kapal untuk mengurangi nilai radar cross section pada kapal. Hasil evaluasi tersebut kemudian digunakan untuk mendesain Lines Plan, General Arrangement, dan 3D Model

    Analisis Sensitivitas Investasi Proyek Rebranding Hotel Grand Mangku Putra di Kota Cilegon

    Get PDF
    PT. Grand Mangku Putra yang menggandeng PT. Riyadh Group memanfaatkannya dengan melakukan proyek rebranding Hotel Grand Mangku Putra menjadi condotel. Rebranding dilakukan dalam rangka perbaikan citra maupun kualitas brand dari sebelumnya. Kegiatan rebranding yang dilakukan merupakan kegiatan rebranding yang menyeluruh meliputi fisik serta management. Metode yang digunakan dalam analisa investasi ini adalah metode Analisis Sensitivitas. Metode ini dilaksanakan dengan beberapa tahap, Tahap yang pertama adalah menghitung biaya investasi serta NOI (Net Operating Income) pada perhitungan Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), serta Payback Period (PP). Pada Analisis Sensitivitas, pada variabel biaya operasional, harga penyewa unit condotel, dan tingkat keterisian unit condotel. Analisa investasi ini dihitung dengan modal sebesar Rp. 35.587.829.043,03 yang bersumber dari PT. Grand Mangku Putra selaku pemilik properti. Investasi ini dilakukan dengan masa investasi 5 tahun dengan nilai MARR sebesar 6,925% serta bunga pinjaman bank sebesar 8,39%. Hasil yang didapat setelah melaksanakan perhitungan adalah nilai NPV sebesar Rp. 47.809.917.835,31 yang mana nilai tersebut lebih besar dari nol. Untuk nilai IRR sebesar 66,210906017% yang lebih besar dari nilai MARR yang ditetapkan. Pada perhitungan PP, masa pengembalian investasi didapatkan selama 1 tahun 10 bulan. Dari hasil tersebut dapat dikatakan investasi dapat dilakukan, karena nilai NPV diatas nol, nilai IRR lebih besar dari nilai MARR serta masa pengembalian kurang dari masa investasi yang ditetapkan. Selanjutnya dilakukan analisis sensitivitas demi mendapatkan batas-batas investasi, didapatkan bahwa untuk merubah nilai NPV menjadi kurang dari nol adalah dengan menurunkan okupansi lebih dari 24,764%, terjadi penurunan harga sewa lebih dari 41,610%, serta terjadi peningkatan biaya operasional lebih dari operasional lebih dari 124,62%

    Desain dan Implementasi Simulator Kernel Exploitation Pada Rasberry Pi Menggunakan Docker  dan Qemu

    Get PDF
    Jumlah penggunaan dan pengembangan piranti IoT semakin meningkat. Implementasi Raspberry Pi dalam IoT juga menunjukan efek yang positif dengan beberapa keuntungan misalnya harga yang murah, kekuatan komputasi yang mumpuni, dan kustomisasi. Beberapa developer juga mengembangkan kernel module pada Raspberry Pi untuk menyelesaikan permasalahan komputasi, hal ini nyatanya memperluas attack surface bagi keamanan IoT itu sendiri. Namun keamanan menjadi aspek yang sering tertinggal maupun ditinggalkan, sebagai contohnya praktisi keamanan siber masih begitu awam dengan pengembagan eksploitasi kernel pada arsitektur yang ARM yang digunakan pada Raspberry Pi. Salah satu cara untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan mengembangkan pelatihan yang mampu memberikan pengalaman hands-on eksploitasi seperti di keadaan nyata dan edukasi yang interaktif. Edukasi di bidang keamanan siber sudah dikembangkan dengan memertimbangkan aspek gamifikasi dan hands-on, salah satu produknya adalah CTFd. Namun praktik hands-on dalam edukasi keamanan siber cukup rumit. Misalnya pada eksploitasi kernel, jika peserta salah berinteraksi dengan kernel dan mengakibatkan sistem crash, maka perlu melakukan reboot secara berulang. Sehingga dalam penelitian ini, penulis mengembangkan simulator eksploitasi kernel pada Raspberry Pi menggunakan Docker dan QEMU, pada sistem sudah memilik kernel modul yang didesain memilik celah keamanan yang bisa digunakan untuk mendapatkan hak akses root

    Modifikasi Struktur Jembatan Kereta Api Elevated Simpang Joglo dengan Sistem Cabled-Stayed Double Plane Bridge

    Get PDF
    Jembatan adalah suatu konstruksi yang meneruskan jalan melalui suatu rintangan yang permukaannya lebih rendah. Jembatan cable-stayed adalah salah satu jenis jembatan bentang panjang dengan sistem cable suported dengan bentang lebih dari 150 m. Jenis jembatan ini sudah banyak dibangun di berbagai belahan dunia karena terbukti efektif dan efisien untuk bentang jembatan lebih 150 m. Struktur jembatan cable-stayed terdiri atas gelagar utama sebagai dek lantai kendaraan, kabel yang berfungi menyalurkan beban dari gelagar utama menuju pilon, dan pilon sebagai penahan kabel. Perencanaan ini membahas “Modifikasi Struktur Jembatan Kereta Api Elevated Simpang Joglo dengan Sistem Cable-stayed Double Plane Bridge” yang melintasi simpang tujuh Joglo di Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta. Jembatan ini memiliki bentang 271,4 m terbagi dalam 2 bentang dengan lebar 9 m dan jumlah pylon berjumlah 2 buah. Konfigurasi kabel jembatan arah memanjang menggunakan tipe semi harp pattern dan arah melintang menggunakan sistem double plane. Gelagar utama direncanakan menggunakan twin rectangular box girder. Metode pelaksanaan pembangunan jembatan menggunakan metode balanced cantilever yang dianalisis dengan backward analysis. Perencanaan modifikasi dimulai dari studi literatur dan pengumpulan data, preliminary design, perhitungan pembebanan, desain struktur lantai kendaraan , desain struktur utama (box girder, pylon dan kabel), kontrol statis dan dinamis, kontrol perilaku aerodinamis, analisis staging, desain angker dan sambungan, perencanaan perletakan, hingga pembuatan gambar rencana. Hasil dari perencanaan ini didapatkan dimensi lantai kendaraan, dimensi box girder, dimensi kabel, dimensi pylon, dimensi angkur dan sambungan, dan dimensi perletakan jembatan. Perencanaan modifikasi dibantu dengan software MidasCivil, SAP2000 dan Autocad. Peraturan yang digunakan adalah PM. 60 Tahun 2012, SNI 2833:2016, SNI 1729 : 2020 dan SNI 2847:2019

    Modifikasi Jembatan Kanor–Rengel dengan Menggunakan Cable-Stayed Asymmetrical Single Plane System

    Get PDF
    Jembatan sebagai penghubung antara dua lokasi harus direncanakan dengan memperhatikan aspek-aspek meliputi kekuatan, stabilitas struktur, ekonomis, estetika, hingga dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan. Jembatan Kanor–Rengel sebagai penghubung Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro dan Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban yang memiliki panjang total hingga 310 meter dan lebar 9 meter dibangun dengan tipe konstruksi berupa slab on piles, gelagar, dan rangka baja serta struktur penopang berupa dua abutmen dan empat pilar. Penggunaan rangka baja tidaklah efisien untuk bentang tersebut karena dapat menyebabkan bertambahnya berat struktur jembatan dan penggunaan pilar pada jembatan. Penggunaan dua pilar juga akan mengurangi effective linear waterway sungai yang menyebabkan terjadinya gerusan lokal. Selain itu, rangka baja juga tidak memiliki nilai estetika. Melihat kondisi tersebut, muncul ide untuk memodifikasi jembatan menjadi jembatan cable-stayed asymmetrical single plane system. Perencanaan modifikasi ini dilakukan secara bertahap mulai dari studi literatur dan pengumpulan data, preliminary design, desain struktur sekunder, pemodelan dan analisis struktur, desain struktur utama, kontrol stabilitas aerodinamis, analisis staging, desain angkur dan perletakan, hingga penyusunan gambar kerja. Hasil dari perencanaan ini meliputi dimensi kabel, dek jembatan, pylon dan angkur. Beberapa peraturan yang digunakan sebagai acuan dalam melakukan perencanaan modifikasi ini meliputi Surat Edaran Menteri 08-SE-M-2015, SNI 1725-2016, SNI 2833-2016, dan AASHTO LRFD Bridge Design Spesification 9th Edition 2020. Berdasarkan hasil perencanaan, digunakan gelagar baja dengan lantai orthotropic berupa single trapezoidal box girder setinggi 2,5 m dan selebar 19,5 m; 14 buah kabel dengan diameter terbesar adalah 178,41 mm; pylon setinggi 56 m dengan penampang berongga dan tak-berongga berukuran 3 m × 6 m yang memiliki kemiringan 70° terhadap horizontal; angkur yang terdiri dari unit 6-73, 6-109, 6-151, dan 6-187; pot bearing berupa guided bearing dan free bearing; serta expansion joint pada jembatan. Seluruh elemen telah memenuhi kontrol terhadap persyaratan baik terhadap beban statik dan dinamik yang terjadi, maupun terhadap stabilitas aerodinamis

    Evaluasi Kestabilan Transien dan Penyempurnaan Sistem Pelepasan Beban pada PT. Kaltim Daya Mandiri Akibat Pengembangan Sistem Kelistrikan pada Tursina

    Get PDF
    Kontinuitas dan keandalan operasi dalam suatu sistem tenaga listrik adalah hal yang harus dijamin kestabilannya. Sebuah sistem mampu dikatakan stabil ketika memenuhi syarat keseimbangan antara daya mekanik dari prime mover atau penggerak utama generator dengan daya output listrik. Apabila penggerak utama tidak dapat menyesuaikan putarannya dengan besar beban listrik maka akan menyebabkan kondisi sistem menjadi tidak stabil. Gangguan stabilitas transien memiliki kaitan dengan kendala besar yang terjadi secara tiba – tiba dan dalam kurun waktu yang pendek (short-term) seperti gangguan hubung singkat (short circuit), putusnya saluran secara tiba – tiba oleh perlatan CB (Circuit Breaker), serta pemindahan beban secara tiba – tiba. Kaltim Daya Mandiri (KDM) merupakan salah satu perusahaan utilitas dan energi yang didirikan dengan tujuan untuk menyediakan kebutuhan utilitas pada fasilitas produksi dan perumahan serta perusahaan – perusahaan lain yang berada di lingkungan Kaltim Industrial Estate. PT. Kaltim Daya Mandiri mengalami perkembangan pada sistem kelistrikannya pada wilayah Tursina dengan total jumlah penambahan beban sebesar 13.8 MW. Dari seluruh skenario yang telah dijalankan, dapat dikatakan bahwa sistem kelistrikan PT. Kaltim Daya Mandiri akan kembali berjalan pada kondisi continuous operation setelah adanya gangguan dengan diikuti adanya skema pelepasan beban dengan metode status dan frekuensi 6 langkah. Dari hasil simulasi tersebut didapatkan rekomendasi bahwa metode status dapat digunakan sebagai metode utama diikuti dengan metode frekuensi 6 langkah sebagai back up apabila terjadi kegagalan

    Pra Desain Pabrik Natrium Lignosulfonat (NLS) dari Lindi Hitam dengan Metode Precipitation Acid H2SO4

    Get PDF
    Limbah dari pabrik kelapa sawit terdiri atas tiga macam, yaitu limbah cair, padat, dan gas. Salah satu limbah padat yang dihasilkan dari industri kelapa sawit adalah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). TKKS yang dihasilkan dari jumlah panen tandan buah sawit sebesar 22-23%. Salah satu yang menjadi penyusun tandan kosong kelapa sawit adalah lignoselusa. Lignoselulosa merupakan komponen polisakarida yang jumlahnya melimpah terutama sebagai limbah pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Lignoselulosa tersusun dari tiga polimer, yaitu selulosa (35-50%), hemiselulosa (20-35%), dan lignin (10-25%). Kandungan selulosa ini dapat diolah lebih lanjut menjadi Microcrystalline Cellulose. Microcrystalline Cellulose banyak dimanfaatkan pada industri farmasi, kosmetik, dan makanan. Pra desain Pabrik Surfaktan NLS dari Lindi Hitam dengan Metode Presipitasi Asam ini direncanakan mulai beroperasi pada tahun 2027 dengan kapasitas produksi sebesat 5000 ton/tahun. Lokasi pendirian pabrik direncanakan di Kabupaten Pelalawan,Riau. Pada proses pembuatan pabrik ini, terdapat tiga tahap, yaitu tahap isolasi lignin dengan H2SO4, tahap reaksi dengan sulfonasi, dan tahap pengeringan. Pra Desain Pabrik Natrium Lignosulfonate dari Lindi Hitam dengan Metode Presipitasi Asam ini dirancang sebagai perusahaan berbadan hukum Perseroan terbatas (PT) dengan sistem organisasi garis dan staff. Untuk dapat mendirikan pabrik dengan kapasitas produksi 5000 ton/tahun, maka diperlukan modal investasi sebesar 54.971.315,86dantotalbiayaproduksisebesar54.971.315,86 dan total biaya produksi sebesar 17.420.614,77. Dengan estimasi penjualan sebesar $27.500.000,00. Estimasi umur pabrik adalah 25 tahun dengan Internal rate of Return (IRR) sebsar 10.6%, Waktu pengembalian (POT) selama 9 tahun, dan Break Event Point (BEP) sebesar 40.5%

    Perbandingan Kemampuan Poly Aluminum Chloride (PAC) dan Biokoagulan dari Tepung Jagung pada Instalasi Pengolahan Air Bersih di PT. Semen Indonesia

    Get PDF
    Air merupakan kebutuhan mendasar bagi seluruh makhluk hidup sebagai sumber kehidupan utama. Sehingga perlu dilakukan pengamanan kualitas air bersih yang layak dan aman digunakan, serta memenuhi standar yang berlaku. PT. Semen Indonesia telah melaksanakan kegiatan pengolahan air untuk memenuhi kebutuhan air untuk operasional pabrik dan perkantoran. Pada PT. Semen Indonesia, pengelolaan air yang efektif dan efisien menjadi salah satu pilar sebagai upaya perlindungan terhadap lingkungan. Hal tersebut menjadi strategi, target, dan inisiatif dari perusahaan untuk mencapai tujuan keberlanjutan. Proses koagulasi dan flokulasi merupakan proses penting sebagai kunci dalam pengolahan air. Poly Aluminum Chloride (PAC) telah banyak digunakan sebagai koagulan dalam proses pengolahan air. Sisi lain, tepung jagung telah teruji mampu digunakan sebagai koagulan karena merupakan senyawa polimer polieletrolit bersifat negatif, dengan gugus karboksil, hidroksil, dan amida, yang berperan sebagai koagulan. Biokoagulan dari tepung jagung diperoleh dari ekstraksi tepung jagung dengan NaCl 1 M. Efektifitas dan efisiensi dari koagulan diuji dengan menggunakan metode jar test. Aspek yang diuji yakni pH, kekeruhan, dan warna, dengan variabel berupa jenis koagulan dan dosis koagulan. Penelitian ini membandingkan kemampuan PAC dan biokoagulan tepung jagung sebagai koagulan pada proses pengolahan air di PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung jagung mampu bersifat sebagai bahan koagulan. Namun, biokoagulan tersebut tidak lebih efektif ataupun efisien jika dibandingkan dengan PAC

    Studi Pengaruh Rasio Co-firing Bahan Bakar Batubara dan Biomassa Tertorefaksi Terhadap Performa Boiler

    Get PDF
    Co-firing merupakan salah satu cara untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil (batubara) diganti dengan biomassa. Akan tetapi co-firing dapat menyebabkan penurunan performa pada pembangkit. Salah satu cara untuk menanggulangi permasalahan ini adalah dengan menggunakan biomassa yang telah diolah terlebih dahulu lewat proses heat-treatment yaitu biomassa tertorefaksi. Pada penelitian ini analisa pengaruh biomassa tertorefaksi terhadap performa pembangkit dengan menggunakan Cycle Tempo. Variasi yang dilakukan adalah rasio batubara low rank coal dengan biomassa. Biomassa yang digunakan ada empat; dua merupakan biomassa non-torefaksi (sawdust dan coconut shell) dan biomassa tertorefaksi (torrefied sawdust dan coconut charcoal). Penelitian ini dilakukan dengan variasi biomassa berupa 1%, 3%, 5%, 7%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, penggunaan biomassa tertorefaksi menghasilkan peningkatan performa pada pembangkit. Performa terbaik ditunjukkan pada biomassa tertorefaksi yaitu coconut charcoal pada rasio co-firing 7%. Dengan performa pembangkit sebagai berikut, peningkatan efisiensi boiler yang semula bernilai 85.03% menjadi 85.51% dan penurunan NPHR yang semula bernilai 2171,66 menjadi 2159,6. Peningkatan performa pembangkit yang diakibatkan oleh penggunaan biomassa tertorefaksi memungkinkan untuk implementasi co-firing pada rasio yang lebih tinggi

    3,519

    full texts

    3,833

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknik ITS
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇