Jurnal Teknik ITS
Not a member yet
3833 research outputs found
Sort by
Analisis Perubahan Kualitas Layanan Penumpang dengan Adanya Transformasi Digital pada Area Check-in di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali
Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali merupakan satu-satunya bandar udara internasional di Pulau Bali dan menjadi pintu masuk utama bagi para wisatawan. PT. Angkasa Pura I selaku pengelola Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali mencatat jumlah penumpang domestik pada tahun 2021 sebanyak 3.770.944 penumpang, angka ini meningkat 3% dari tahun 2020 yakni sebanyak 3.657.298 penumpang. Dalam menghadapi kemungkinan lonjakan jumlah penumpang di terminal domestik Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, tentu dibutuhkan fasilitas terminal penumpang yang memadai untuk mengurangi waktu check-in dan panjang antrean. Dengan pesatnya perkembangan teknologi terkait dengan fasilitas terminal bandar udara, beberapa fasilitas terminal khususnya pada proses check-in telah menerapkan beberapa metode check-in, diantaranya Self Check-in dan Self Baggage Drop (SBD) yang mendukung tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) 9 yaitu industry, innovation, and infrastructure. Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan, diperoleh pola distribusi penumpang tiap maskapai domestik dengan peak hour sebanyak 212 penumpang/jam pada pukul 16.00, peramalan total jumlah keberangkatan penumpang 7 tahun kedepan dengan metode regresi linear sebanyak 43.230.706 penumpang. Setelah dilakukan simulasi antrean diperoleh jumlah antrean penumpang maksimum di check-in counter adalah 39 penumpang/counter, self check-in 17 penumpang/counter, dan SBD sebanyak 4 penumpang/counter dengan waktu pelayanan maksimum 5,20 menit dengan grade LoS A. perkiraan kebutuhan penerapan Self Baggage Drop (SBD) diperoleh sebanyak 46 unit sehingga luas antrean penumpang di check-in counter konvensional dan mesin kiosk self check-in pada layout area check-in rencana menjadi berkurang. Luas total antrean eksisting di check-in counter konvensional 1.221 m2 berkurang menjadi 819 m2 dan mesin kiosk self check-in 910 m2 berkurang menjadi 680 m2 dengan rencana transformasi digital berupa penerapan Self Baggage Drop (SBD)
Efisiensi Penambahan Bahan Bakar Wood Pellet di Rotary Kiln pada Pabrik Semen
Industri semen merupakan salah satu industri yang berkembang sangat pesat seiring dengan pertumbuhan pembangunan di Indonesia. Meningkatnya permintaan semen terhadap pembangunan mempengaruhi meningkatkan permintaaan kapasitas produksi yang dihasilkan industri semen. Penambahan kapasitas produsksi berdampak terhadap pada ketersediaan bahan baku semen diantaranya batu kapur (limestone), tanah liat (clay), pasir besi (iron sand), dan pasir silika (silika sand). Dalam hal ini, Wonogiri memiliki sumber ketersediaan batu kapur yang tinggi terutama pada daerah Baturetno. Kapasitas produksi pabrik Semen yang akan didirikan yaitu 2.200.000 ton/tahun akan beroperasi secara kontinyu selama 24 jam/hari dan 300 hari/tahun. Proses pembuatan semen yang dipilih adalah proses kering. Proses kering meliputi proses persiapan bahan baku batu kapur dan tanah liat di crusher lalu dipecah oleh hammer dan melewati clay cutter sehingga terjadi size reduction. Selanjutnya tahap penggilingan awal yaitu bahan baku digiling dan dikeringkan dengan raw mill lalu lanjut ke tahap pembakaran dengan raw meal dialirkan ke preheater untuk melakukan kalsinasi, lalu diumpan ke proses pembakaran di kiln sehingga menghasilkan senyawa clinker yang kemudian didinginkan didalam clinker cooler. Tahap terakhir yaitu pengiilingan akhir diumpan kedalam ball mill dengan bahan tambahan gypsum dan fly ash menjadi semen yang berukuran 325 mesh. Efisiensi yang dilakukan yaitu bahan bakar batubara disubtitusikan dengan bahan bakar biomassa wood pellet pada proses pembakaran di rotary kiln sehingga dapat membandingkan 2 kasus penurunan emisi CO2 dan penurunan dampak pemanasan global: (1) penggunaan bahan bakar 100% batubara dan (2) penggunaan bahan bakar 60% batubara dan 40% wood pellet, serta untuk mengetahui perbandingan cost yang dibutuhkan untuk bahan bakar. Hasil analisa dampak penurunan emisi CO2 dan pemanasan global pada kasus (2) mengalami penurunan sebesar 0,2290 ton CO2-eq dan 0,0449 ton CO2/TJ per hari. sedangkan hasil analisa cost bahan bakar yang dibutuhkan pada kasus (1) dan (2) terjadi penghematan sebesar Rp. 636.241.487 per hari
Eksperimen Wall Insulation pada Dinding Komposit Prototipe Reefer Container 1/2 Ton Menggunakan Campuran Serat Kapas dan Polyurethane
Untuk mengatasi peningkatan konsumsi energi, penggunaan energi secara efektif dan pengembangan sumber energi terbarukan menjadi fokus utama. Insulasi adalah salah satu cara untuk menghemat energi yang sudah diterapkan pada reefer container. Penelitian ini berfokus pada pengembangan sistem insulasi pada prototipe reefer container dengan menggunakan bahan serat kapas dan polyurethane. Metodologi penelitian ini dilakukan dengan membuat perancangan desain struktur dinding komposit dengan bahan campuran serat kapas dan polyurethane, melaksanakan modifikasi desain struktur dinding prototipe dengan komposisi campuran serat kapas dan polyurethane 50%:50% dan melakukan pengujian kinerja untuk menganalisa kinerja termal terhadap suhu dan waktu pada prototipe. Pengujian termal dilakukan dengan beban produk seberat 20% dari total massa kargo dan tanpa beban produk pada prototipe reefer container ½ ton berdinding komposit polyurethane murni dan berdinding komposit campuran serat kapas dan polyurethane. Berdasarkan pengujian dan analisa data, didapatkan ketebalan dinding komposit campuran yang mana ketebalan serat kapas sebesar 0,696 cm dan ketebalan polyurethane foam sebesar 3,5cm. Dari percobaan yang dilakukan diketahui bahwa dalam insulasi pada dinding komposit polyurethane murni suhu udara dalam mengalami kenaikan suhu udara sekitar 2 jam tiap derajatnya ketika berisi muatan, dan saat tanpa muatan. Pada dinding komposit bahan campuran suhu udara dalam mengalami kenaikan suhu udara sekitar 54 menit tiap derajatna ketika berisi muatan dan saat tanpa muatan mengalami kenaikan suhu udara sekitar 46 menit tiap derajatnya. Hal ini menunjukkan bahwa sistem dinding insulasi komposit polyurethane murni memiliki kinerja lebih baik dalam mempertahankan suhu udara dingin dibanding dinding insulasi komposit campuran 50% serat kapas dan 50% polyurethane
Analisis Potensi Pengembangan Dry Port Untuk Menunjang Ekspor - Impor Di Sulawesi Selatan
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memiliki rencana pembangunan dry port yang lebih dekat dengan industri untuk menekan biaya pengiriman barang yang ditanggung oleh eksportir ke Makassar New Port. Rencana pembangunan dry port ini memiliki dua lokasi yang berbeda yaitu pada Kabupaten Sidrap dan Kabupaten Janeponto. Pada penelitian ini akan dilakukan identifikasi kondisi ekspor – impor di Sulawesi Selatan. Setelah dilakukan analisis proyeksi pada komoditas ekspor – impor dengan menggunakan metode regresi linear berganda serta analisis perbandingan biaya trasnportasi darat dan laut, akan didapatkan potensi pengembangan dry port di Sulawesi Selatan. Setelah didapatkan potensi pengembangan pada masing – masing dry port, akan dilakukan perencanaan desain layout dry port. Berdasarkan analisis kondisi saat ini didaptkan jumlah industri dari 12 kabupaten yaitu Bulukumba, Takalar, Gowa, Maros, Pangkep, Bone, Wajo, Pinrang, Luwu Timur, Makassar, Parepare, dan Palopo. Berdasarkan analisis perbandingan biaya transportasi, pembangunan Dry Port Sidrap dapat diupayakan dengan melihat potensi pengembangan ekspor yaitu Kabupaten Wajo memiliki biaya lebih murah sebesar Rp 0.42 Juta/Teus, Kabupaten Pinrang lebih murah sebesar Rp 0.09 Juta/Teus, Kabupaten Luwu Timur lebih murah sebesar Rp 0.4 Juta/Teus, Kota Parepare lebih murah sebesar Rp 0.28 Juta/Teus, dan Kota Palopo lebih murah sebesar Rp 0.31 Juta/Teus. Berdasarkan hasil analisis perbandingan biaya, dilakukan perencanaan layout pada Dry Port Sidrap dengan proyeksi muatan pada tahun 2031
Sistem Keamanan pada Peternakan Sapi Menggunakan Kamera Termal dan Metode Algoritma YOLO
Beberapa sapi dari peternakan sapi hilang acapkali dicuri manusia. Dengan terbatasnya penjagaan di waktu malam, diperlukan sistem keamanan pada peternakan sapi. Sistem menggunakan Kamera termal yang dapat digunakan di segala kondisi bahkan pada keadaan gelap gulita. Data gambar oleh kamera termal yang berukuran 160x120 dijadikan dataset yang kemudian dimasukkan ke metode YOLOv7 yang akan membedakan klasifikasi gambar menjadi manusia atau sapi. Model pada pelatihan ini memiliki nilai rata-rata presisi sebesar 80%. Sistem keamanan menggunakan speaker dan sistem komunikasi IoT kepada aplikasi android pengguna, sehingga ketika terdeteksi adanya penyusup, maka akan dilakukan pemrosesan gambar dan deteksi pada model dilatih menggunakan Jetson Nano. Kemudian gambar dan log persentase deteksi akan di-upload untuk dikirimkan ke smartphone pengguna serta alarm dinyalakan. Sistem diuji pada saat siang hari, sore hari, malam hari dengan cahaya serta tanpa cahaya yang memiliki hasil keseluruhan deteksi pada sapi dengan presisi 0.98, recall 0.67, F1-Score 0.79, akurasi 0.79, dan nilai keseluruhan pada deteksi manusia dengan presisi 0.72, recall 0.46, F1-Score 0.57, akurasi 0.75. Sistem bekerja dengan jangkauan operasi sistem sebesar 1-8 meter dan ketika adanya penyusup dan alarm menyala hampir pada seluruh pengujian kecuali pada malam hari tanpa cahaya pada jarak dekat yang terjadi false positive pada alarm
Desain dan Evaluasi Antarmuka Pengguna Aplikasi Web Responsif myITS HumanCapital Modul Portofolio dan Modul Qinerja Menggunakan Metode User-Centered Design
Human capital terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan orang-orang yang dipekerjakan dalam suatu organisasi, instansi, ataupun perusahaan. Hal itu memainkan peran penting dalam membantu organisasi meningkatkan produktivitas dan kebahagiaan secara keseluruhan dari pegawai yang ada. Di era digital ini mayoritas instansi telah memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan produktivitas, efektivitas, dan efisiensi dari sistem tersebut. Tidak terkecuali Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, yang juga telah memiliki sistem manajemen dosen dan tenaga kependidikan yang bernama Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian (SIMPEG) ITS. Seiring berjalannya waktu, keorganisasian ITS semakin berkembang ke arah yang kompleks dengan banyaknya data dan informasi pegawai yang ada. SIMPEG ITS menjadi kurang relevan karena informasi yang disajikan berlebihan, sehingga berdampak pada tampilan antarmuka pengguna yang sulit dipahami oleh penggunanya. Oleh karena itu, untuk menambah produktivitas pegawai (dosen dan tenaga kependidikan ITS), serta meningkatkan efektivitas dan efisiensi sistem kepegawaian yang telah ada, penulis ingin mengembangkan antarmuka pengguna web myITS HumanCapital Modul Portofolio dan Modul Qinerja. User-Centered Design menjadi metode pilihan penulis dalam pengembangan antarmuka pengguna dari aplikasi web myITS HCM Modul Portofolio dan Modul Qinerja. Metode UCD merupakan metode dengan pendekatan untuk memecahkan masalah yang berfokus pada pemahaman dan kebutuhan pengguna. Hasil dari Tugas Akhir ini diharap mampu menghasilkan tampilan antarmuka pengguna yang mudah dipahami oleh pengguna, sehingga intensi dari pengembangan aplikasi dapat terpenuhi serta dapat meningkatkan produktivitas pegawai ITS
Pengurangan Risiko Kegagalan Kualitas Produksi Air Minum PDAM Tirta Dhaha Kota Kediri Menggunakan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) merupakan perusahaan yang menyediakan dan mendistribusikan air minum untuk kebutuhan masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, kandungan zat organik dalam air produksi PDAM Kota Kediri melebihi baku mutu. Analisis kualitas air produksi terkait kandugan zat organik dapat dilakukan dengan metode Failure Modes and Effect Analysis (FMEA). FMEA adalah metode yang digunakan untuk mengidentifikasi kegagalan yang terjadi sehingga menyebabkan penurunan kualitas air produksi. Risiko terbesar yang menyebabkan kegagalan dinyatakan dalam Risk Priority Number (RPN). RPN digunakan untuk membantu menemukan bagian yang mengalami kegagalan sehingga dapat dilakukan perbaikan untuk mengatasi penurunan kualitas air produksi. FMEA dilakukan untuk mencari bagian yang mengalami tingkat kegagalan terbesar dari unit yang tidak optimal. Akar permasalahan kemudian dinilai risikonya (RPN). Nilai RPN didapatkan dari perkalian antara severity (S), occurance (O), dan detection (D). Parameter yang digunakan dalam penelitian ini adalah parameter fisik (kekeruhan), parameter kimia (sisa klor dan zat organik) dan parameter biologi (total koliform). Aspek yang digunakan dalam penelitian ini adalah aspek teknis dan aspek lingkungan (dampak). Kualitas air baku PDAM Tirta Dhaha Kediri jika dinilai dari total zat terlarut, tingkat kekeruhan, dan tingkat pH pada semua pompa sudah memenuhi baku mutu kualitas air minum yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No 492 Tahun 2010. Hasil kepentingan bobot resiko berdasarkan penilaian severity, occurance, dan detection Usulan perbaikan berdasarkan penentuan nilai RPN adalah pengelola harus lebih meninjau kembali parameter yang tidak memenuhi baku mutu, yaitu kandungan coliform, meskipun sudah relatif kecil
Pengurangan Energi Insiden Busur Api dengan Menggunakan Metode Zone Selective Interlocking pada PT. Pupuk Kujang
PT. Pupuk Kujang yang berlokasi di Cikampek, Jawa Barat, mempunyai dua buah pabrik yaitu pabrik K-1A dan pabrik K-1B. Keduanya memiliki total beban sebesar 14,175 MW. PT. Pupuk kujang sekarang disuplai dari satu pembangkit dengan kapasitas 18,35 MW serta Utilitas dari PLN. Untuk keandalan pabrik serta keamanan operator, koordinasi proteksi yang baik sangat diperlukan agar gangguan yang terjadi dapat diminimalisir. Salah satu gangguan kelistrikan yang dapat mengancam keberlangsungan sistem dan keselamatan pekerja adalah bahaya busur api (Arc Flash). Busur api merupakan peristiwa pelepasan energi yang disebabkan oleh adanya aliran arus yang mengalir pada saluran yang tidak seharusnya. Busur api ini dapat mengakibatkan terjadinya panas menyengat, bahan kimia beracun, hingga ledakan besar. Semakin besar energi insiden dari busur api maka bahaya yang ditimbulkan juga semakin besar. Besar energi insiden dihitung menggunakan standar IEEE 1584-2002. Hasil dari perhitungan besar energi insiden ini dapat digunakan untuk menentukan alat pelindung diri berdasarkan standard National Fire Protection Association (NFPA) 70E. Demi keselamatan para pekerja, alat pelindung diri ini wajib digunakan pada saat berada pada area bahaya busur api. Energi insiden yang terlalu besar juga mengancam keberlangsungan sistem, sehingga dibutuhkan suatu metode untuk mengurangi besarnya energi insiden. Besarnya energi insiden yang terjadi dapat dikurangi dengan cara menghilangkan gangguan secara cepat, maka dari itu Metode Zone Selective Interlocking merupakan metode yang efisien untuk mengurangi besarnya nilai insiden energi. Pada PT Pupuk Kujang, Metode ZSI ini dapat mengurangi besarnya nilai energi insiden yang terjadi hingga 74,99% pada Bus GI Kujang. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya FCT pada bus tersebut dari yang awalnya 0,8 detik menjadi 0,2 detik
Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi terhadap Laju Timbulan dan Komposisi Sampah Rumah Tangga di Kecamatan Jombang
Kecamatan Jombang dengan kepadatan penduduk tertinggi di Kabupaten Jombang masih memiliki permasalahan dalam sistem pengumpulan sampah rumah tangga. Hal ini salah satunya karena peningkatan timbulan sampah seiring meningkatnya jumlah dan aktivitas penduduk. Belum terdapat data mengenai angka laju timbulan, komposisi dan densitas sampah rumah tangga. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan pengaruh faktor sosial ekonomi terhadap laju timbulan dan komposisi sampah rumah tangga di Kecamatan Jombang. Pengukuran laju timbulan dan densitas sampah di gerobak dilakukan di dua TPS menggunakan metode load-count analysis. Komposisi sampah dianalisis menggunakan metode pada SNI 19-3964-1994. Laju timbulan sampah rumah tangga kawasan perumahan, perkampungan, dan pesantren masing-masing sebesar 0,64 kg/orang.hari; 0,45 kg/orang.hari; dan 0,24 kg/orang.hari. Pada ketiga jenis kawasan permukiman, komposisi sampah paling banyak adalah sampah dapat dikomposkan. Komposisi selanjutnya didominasi oleh sampah plastik dan sampah kertas. Densitas sampah di gerobak didapatkan nilai sebesar 178,31 kg/m3. Hasil analisis didapatkan laju timbulan dan komposisi sampah dipengaruhi oleh tingkat pendapatan dan perbedaan karakteristik permukiman
Penentuan Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Pengembangan Kawasan Agrowisata Perkebunan Teh Gunung Gambir di Kabupaten Jember
Kawasan Agrowisata Perkebunan Teh Gunung Gambir memiliki daya tarik wisata berupa lahan kebun teh dan keindahan alam sekitar, objek wisata pendukung seperti spot foto, jogging track, tea walk, lapangan tenis, dan kolam renang, didukung fasilitas seperti pujasera dan villa, dan dapat menarik wisatawan lokal. Namun, kawasan agrowisata memiliki permasalahan meliputi pengelolaan potensi wisata belum dikemas secara optimal, kurang didukung sarana prasarana wisata seperti moda transportasi umum menuju lokasi wisata, aksesibilitas kurang memadai seperti kondisi jalan makadam, minimnya program pemberdayaan masyarakat, minimnya keberadaan pusat infomasi wisata, minimnya investasi di sektor pariwisata, lemahnya daya saing produk usaha wisata, rendahnya pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap potensi pariwisata, kurangnya informasi potensi wisata kepada wisatawan nusantara dan mancanegara, keterbatasan profesionalisme SDM di bidang pariwisata, dan keterbatasan pendidikan kepariwisataan terhadap sumber daya manusia. Sehubungan dengan potensi dan permasalahan di atas, maka disusun penelitian ini yang bertujuan untuk menentukan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan Kawasan Agrowisata Perkebunan Teh Gunung Gambir di Kabupaten Jember sebagai input dalam penyusunan arahan pengembangan Kawasan Agrowisata Perkebunan Teh Gunung Gambir di Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan metode analisis delphi untuk menentukan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan Kawasan Agrowisata Perkebunan Teh Gunung Gambir. Selanjutnya untuk mengetahui kondisi eksisting, potensi, dan masalah faktor-faktor pengembangan tersebut digunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Faktor-Faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan Kawasan Agrowisata Perkebunan Teh Gunung Gambir adalah hamparan kebun/ lahan perkebunan, keindahan alam, budaya petani, produk agrowisata, kesediaan objek wisata lain, sarana umum, penginapan, tempat makan, sistem pengairan, jaringan komunikasi, fasilitas kesehatan, terminal pengangkutan, sumber listrik dan energi, sistem pembuangan kotoran/ air, jalan raya, sistem keamanan, jaringan air bersih, transportasi umum, sistem keamanan penumpang, sistem informasi perjalanan, tenaga kerja, kepastian tarif, peta objek wisata, aksesibilitas, keramahan masyarakat, keramahan petani, kesiapan sumber daya manusia, promosi dan pemasaran, modal, kesesuaian pola ruang, kerjasama, dan konsep tapak dan zonasi