Jurnal Teknik ITS
Not a member yet
    3833 research outputs found

    Identifikasi Permasalahan dalam Pengembangan Sentra Industri Batik Tulis Toket di Desa Toket Kabupaten Pamekasan

    Get PDF
    Desa Toket merupakan salah satu desa di Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan yang memiliki potensi motif khas toket yang diwariskan secara turun menurun dan diproduksi sendiri oleh masyarakat Desa Toket. Meskipun potensi tersebut dapat menjadi pendorong perekonomian Kabupaten Pamekasan namun pengembangan sentra industri batik toket masih belum optimal. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi permasalahan dalam pengembangan sentra industri batik toket. Metode analisis yang digunakan adalah Analisis Delphi dan Analisis Root Cause. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat permasalahan pada faktor infrastruktur dan sarana, faktor pemasaran, dan faktor kelembagaan. Pada faktor infrastruktur dan sarana terdapat permasalahan yaitu aksesibilitas jalan yang buruk, tidak adanya alat pengelolaan limbah, serta minimnya fasilitas pendukung. Lalu pada faktor pemasaran terdapat permasalahan yaitu kurangnya strategi promosi dan luas pasar yang dicapai masih kurang jauh. Sedangkan pada faktor kelembagaan terdapat permasalahan dampak kebijakan pemerintah tidak dirasakan pengrajin, pengadaan pelatihan tidak dilakukan secara rutin, belum adanya pelatihan pengembangan diri atau manajemen bisnis, kurang baiknya kerja sama stakeholder, serta terdapat kelompok usaha yang masih belum memiliki proses produksi hingga akhir

    Perencanaan Pengelolaan limbah Industri Makanan Ringan Skala Rumah Tangga Berbasis Reduce, Reuse, Recycle (3R) di Desa Watubonang Kabupaten Ponorogo

    Get PDF
    Salah satu industri pangan berskala rumah tangga yang memproduksi makanan ringan berbahan ikan di Ponorogo belum memiliki belum memiliki pengelolaan limbah yang baik, sehingga semua limbah hasil produksi langsung dibuang ke saluran irigasi dan lahan kosong. Limbah yang dihasilkan oleh industri tersebut memiliki kandungan senyawa organik yang tinggi sehingga mengakibatkan timbulnya beberapa permasalahan, antara lain bau busuk, kematian ikan dan biota lainnya pada badan perairan penerima limbah, serta eutrofikasi karena kelebihan nitrogen dan fosfor. Dalam upaya untuk mencegah pencemaran lingkungan, mengurangi peredaran limbah, dan mewujudkan proses produksi yang lebih baik dapat dilakukan pengelolaan limbah cair dan padat dengan konsep 3R, yaitu Reduce, Reuse, Recycle. Data yang dikumpulkan berupa data primer dengan cara survey lapangan, wawancara, sampling dan analisis laboratorium dan penelitian lapangan, serta data sekunder didapat melalui studi literatur. Perencanaan mencakup pengelolaan berbasis 3R untuk limbah cair dan padat, serta engineering design unit untuk kegiatan pengelolaan limbah beserta BOQ dan RAB. Berdasarkan hasil analisis reduce dilakukan pada limbah cair, limbah padat compostable dan non-recycable. Reuse dilakukan pada limbah cair dan limbah padat recyclable. Recycle dilakukan pada limbah padat compostable dan recyclable. Berdasarkan perhitungan Engineering Design (ED) pengolahan limbah cair dilakukan dengan unit grease trap berukuran panjang 0,5 m; lebar 0,25 m; kedalaman 0,45m, bak ekualisasi yaitu panjang 0,65 m; lebar 0,8 m; kedalaman 0,8 m, anaerobic baffled reactor yaitu panjang 0,65 m; lebar 0,7 m; kedalaman 1,3 m, dan constructed wetland yaitu panjang 5 m; lebar 0,8 m; kedalaman 1 m. Pewadahan limbah padat menggunakan bak plastik HDPE tertutup dengan ukuran, untuk limbah compostable 120 L, limbah recycable dan non-recycable 240 L. Pengomposan dilakukan pada limbah padat compostable secara aerob di dalam bak plastik HDPE ukuran 280 L sebanyak 8 buah

    Analisis Dinamis dan Kekuatan pada Fase Instalasi Struktur Well Jumper

    Get PDF
    Untuk menyalurkan gas alam dari sumur bawah laut menuju processing platform diperlukan pipa penyalur antara x-mas tree dan PLEM, yaitu pipa well jumper. Proses instalasi Well jumper sangat berisiko, karena bentuknya yang panjang dan sangat langsing sehingga cukup lentur. Penanganan yang tidak tepat bahkan bisa menyebabkan kegagalan pada pipanya. Penelitian ini menganalisis secara dinamis kekuatan struktur saat fase penurunan well jumper dengan simulasi numerik menggunakan software. Selama proses instalasi analisis dilakukan pada tiga kondisi: saat di udara (in air), fase di splash zone, hingga tenggelam (submerged). Pada tiap fase diidentifikasi tension dan lokasi kritis tegangan pada struktur untuk beberapa arah (heading) pembebanan. Hasil analisis menunjukkan tension terbesar pada sling terjadi pada saat kondisi in air dan akan berkurang saat memasuki splash zone, dan semakin berkurang ketika sudah tenggelam 100%. Hal ini akibat efek gaya apung dari struktur tersebut. Meskipun tension sling terbesar terjadi pada kondisi in air, tegangan terbesar pada struktur justru terjadi pada saat di splash zone. UC (unity check) terbesar terjadi pada lifting point (LS 3) pada saat kondisi sebesar 0,25 dan meningkat menjadi 0,286 pada saat di splash zone. Bearing stress dan shear stress yang terjadi pada padeye (LS 3) masih dalam kondisi aman, dengan stress ratio sebesar 0,1 dan 0,15

    Identifikasi Faktor Penentu Kesuksesan dan Hambatan pada Program Inkubasi Nirlaba untuk Early-Stage Startup Digital di Indonesia

    Get PDF
    Seiring dengan perkembangan teknologi, startup digital yang berada pada tahap Early-Stage memerlukan pembekalan dan pembinaan untuk memperkuat pondasi bisnis mereka. Salah satu lembaga yang dapat memberi wadah bagi Early-Stage startup digital untuk berkembang adalah inkubator nirlaba. Paper ini mengulas studi literatur terhadap 86 referensi untuk memetakan faktor penentu keberhasilan dan hambatan yang dialami oleh inkubator nirlaba dalam pembinaan startup digital. Terdapat 12 faktor penentu keberhasilan dan 10 faktor penghambat inkubator nirlaba yang perlu dinilai relevansinya dalam konteks di Indonesia. Berdasarkan penilaian expert inkubator nirlaba di Indonesia, maka 3 (tiga) faktor prioritas penentu keberhasilan adalah komposisi dan ukuran tim startup (relevansi 100,00%, ranking 1), kebijakan dan regulasi SAINTEK (relevansi 93,33%, ranking 2), dan profil dan rekam jejak startup (relevansi 86,67%, ranking 3). Sedangkan, pada variabel faktor penghambat utama, terdiri dari kondisi tren pasar yang tidak menentu (relevansi 86,67%), kompetensi manajemen rendah (relevansi 86,67%), dan rendahnya pengalaman founders startup (relevansi 86,67%). Dengan mengetahui adanya faktor penentu keberhasilan dan penghambat, maka inkubator nirlaba di Indonesia dapat fokus mempertimbangkan faktor-faktor tersebut agar program inkubasi dapat berjalan efektif

    Perancangan Tata Kelola Teknologi Informasi Berbasis COBIT 2019: Studi Kasus di Divisi Information Technology PT Telkom Indonesia Kota Bandung

    Get PDF
    PT Telkom Indonesia, biasa disebut Telkom, merupakan BUMN yang bergerak di bidang jasa layanan TIK dan jaringan telekomunikasi di Indonesia. Dalam rangka menunjang tujuan utama bisnis perusahaan, Telkom telah menerapkan teknologi informasi (TI) yang secara struktural dikelola dan dijalankan oleh Divisi Information Technology (DIT). Namun, penerapan TI di Telkom saat ini masih berbasis COBIT 4. Sedangkan, perubahan di bidang TIK dan pemanfaatannya berkembang sangat cepat. Oleh karena itu, perlu adanya perubahan terhadap tata cara pengelolaan TI agar mampu mengikuti perkembangan pada bidang TIK melalui penggunaan COBIT 2019. Metodologi dalam penelitian ini berdasarkan kerangka kerja COBIT 2019. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa tingkat kapabilitas proses TI terpilih dalam penelitian ini yaitu keseluruhan proses dalam domain BAI dan domain DSS sebagian besar berada pada level 4, artinya perusahaan telah menetapkan tujuan kuantitatif untuk mengukur kinerja dan kualitas proses. Sedangkan, target level yang diharapkan oleh perusahaan sebagian besar berada pada level 3, artinya perusahaan telah melakukan standarisasi proses dalam lingkup organisasi. Keluaran dari penelitian ini berupa rekomendasi perbaikan yang bertujuan untuk mencapai tingkat kapabilitas yang diharapkan dan rancangan tata kelola TI sebagai acuan bagi DIT Telkom dalam mengelola proses TI yang lebih baik lagi

    Implementasi Metode Analytical Hierarchy Process pada Pemilihan Sensor Alat Deteksi Busur Api yang Terintegrasi SCADA

    No full text
    Pemantauan kondisi Fuse Cut Out (FCO) pada gardu distribusi masih dilakukan secara manual dengan pemeliharaan preventif periodik oleh petugas. FCO yang putus akibat arus berlebih menyebabkan jaringan listrik padam dan menimbulkan busur api yang timbul dalam waktu sekejap. Sehingga jika FCO putus tidak dapat dipantau secara realtime untuk dilakukan penggantian FCO segera. Pada proyek akhir ini dibuat sebuah sistem untuk pemantauan kondisi FCO berdasar busur api yang timbul saat FCO putus dan terintegrasi SCADA. Sensor api yang digunakan, dipilih menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk mengetahui sensor yang paling tepat digunakan pada sistem. Penggunaan metode AHP dalam pemilihan sensor karena penyusunan prioritas yang logis dan terstruktur secara hirarki sampai dapat menentukan hingga subalternatif terdalam. Penentuan pemilihan sensor dengan metode AHP ditinjau dari sensitivtas dan jarak jangkauan serta alternatif pilihan sensor yaitu sensor UVTron dan sensor IR flame. Hasil yang didapat pada yaitu nilai bobot kriteria sensitivitas sensor UVTron sebesar 0,80 dan sensor IR Flame sebesar 0,20. Hasil nilai bobot kriteria jarak ideal sensor UVTron sebesar 0,19 dan sensor IR Flame sebesar 0,83. Hasil akhir penelitian yang didapat yaitu sensor UVTron menempati peringkat pertama pilihan sensor yang dapat digunakan pada sistem dengan nilai akhir AHP sebesar 0,7188 dan sensor IR flame menempati peringkat kedua pilihan sensor yang dapat digunakan pada sistem dengan nilai akhir AHP sebesar 0,2736

    Prediksi Perubahan Penggunaan Lahan Terbangun Berbasi Cellular Automata di Perkotaan Ngawi

    No full text
    Perubahan lahan merupakan dampak dari pertambahan kegiatan penduduk yang membuat permintaan akan lahan terbangun meningkat. Perubahan lahan di Perkotaan Ngawi terjadi seringkali terjadi pada lahan pertanian terutama pada lahan sawah yang berubah menjadi lahan terbangun. Hal ini terjadi karena adanya pebangunan infrastruktur, industri dan adanya pertambahan penduduk. Perkotaan Ngawi telah ditetapkan pusat kegiatan lingkungakn (PKL) dengan arahan pengembangan dibidang pertanian, peternakan, industri dan perhubungan. Perkotaan Ngawi juga ditetapkan sebagai pengembangan kawasan strategis kabupaten bidang ekonomi dengan pengembangan kawasan peruntukan industri. Oleh karenanya, analisis untuk memantau tingkat perubahan penggunaan lahan menjadi hal penting bagi para perencana dan penyusun kebijakan agar pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan rencan yang ada. Karena perubahan lahan seringkali terjadi pada lahan sawah baik yang telah ditetapkan dapat berubah maupun tidak dapat berubah. Dalam penelitian ini akan memprediksikan perkembangan penggunaan lahan di Perkotaan Ngawi menggunakan metode cellular automata dengan bantuan landusesim sebagai software permodelan spasial. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan prediksi perubahan penggunaan lahan terbangun di Perkotaan Ngawi dengan melalui 3 tahapan. Pertama, mengidentifikasi perubahan lahan di Perkotaan Ngawi dengan metode updating peta dan ground check untuk validasi lapangan untuk mengetahui tren perubahan lahan yang terjadi. Kedua, mengidentifikasi faktor-faktor mempengaruhi perubahan lahan dan penentuan nilai bobot dengan ahp (analytical hierarchy process) Ketiga, memprediksikan perubahan penggunaan lahan menggunakan metode cellular automata dengan bantuan software landusesim. Hasil simulasi penggunaan lahan yang telah dilakukan terdapat dua penggunaan lahan yang terkonversi menjadi lahan terbangun yaitu sawah sebesar 167,56 ha dan ladang sebesar 9,28 ha. Selain itu terdapat potensi lahan sawah pada rencana pola ruang terkonversi menjadi lahan terbangun sebesar 69,79 ha

    Analisis Pengaruh Peningkatan Tarif Parkir terhadap Pergeseran Moda di Kawasan Pakuwon Trade Center dan Royal Plaza

    Get PDF
    Tingginya pergerakan menuju ke Daerah Pusat Kegiatan (DPK) dengan kendaraan pribadi menjadi penyebab utama kemacetan di Kota Surabaya. Beberapa pusat perdagangan seperti Pakuwon Trade Center (PTC) dan Royal Plaza berpotensi menjadi tarikan yang menimbulkan kemacetan dengan dampak negatif. Diperlukan strategi untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi melalui konsep Manajemen Kebutuhan Transportasi (MKT) yang bersifat Push melalui manajemen parkir dengan metode parking pricing berupa peningkatan tarif parkir. Pada penelitian ini akan berfokus pada bagaimana pengaruh peningkatan tarif parkir terhadap keputusan pergeseran moda menuju ke transportasi umum pada kawasan PTC dan Royal Plaza. Penelitian akan dilakukan dengan mengidentifikasi karak-teristik pengguna kendaraan pribadi. Kemudian akan diiden-tifikasi pengaruh karakteristik parkir terhadap kesediaan pengunjung untuk membayar peningkatan tarif parkir dengan analisis regresi logistik biner. Terakhir, untuk mengetahui ba-gaimana pengaruh peningkatan tarif parkir terhadap kepu-tusan pergeseran moda juga dimodelkan melalui analisis regresi logistik biner. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa ketika keamanan parkir ditingkatkan maka peluang pening-katan tarif parkir (sebesar 300%) yang bersedia dibayarkan pengunjung PTC naik menjadi 35,93%, sedangkan untuk Royal Plaza peluang ini naik menjadi 20,66% ketika kemu-dahan mencari parkir meningkat. Kemudian untuk peluang peralihan moda pada Mall PTC ketika akses angkutan umum ditingkatkan maka peluang naik menjadi 90,09%, dan untuk Mall Royal Plaza peluang naik menjadi 64,11% ketika lama perjalanan angkutan umum berkurang. Sedangkan ketika tarif parkir mengalami peningkatan 300% dan pengunjung dianggap tidak bersedia membayar peningkatan tarif parkir, maka peluang peralihan moda naik menjadi 85,20% untuk PTC dan 54,94% untuk Royal Plaza. Sehingga konsep MKT yang bersifat push ini mampu untuk mendorong pergeseran moda

    Simulasi CFD Sistem Pompa Pemadam Kebakaran di Terminal LPG Semarang Dalam Memenuhi Standard NFPA 14

    Get PDF
    Terminal LPG Semarang merupakan salah satu tempat distribusi LPG di Jawa Tengah yang bergerak di bidang P3 yaitu Penerimaan, Penimbunan dan Penyaluran LPG. Dalam pengoperasiannya, terminal LPG Semarang sangat berpotensi menimbulkan bahaya yang bisa ditimbulkan, seperti kebakaran. Untuk menanggulanginya, Terminal LPG Semarang terdapat instalasi jalur pemadam kebakaran. Instalasi tersebut menggunakan empat pompa dengan kapasitas masing-masing yaitu 3.000 GPM. Dalam menjalankan hal tersebut, belum adanya perhitungan nilai kapasitas aliran air yang keluar pada setiap nozzle telah sesuai standar atau tidak. Pada National Fire Protetion Association (NFPA) 14 diatur megenai Standard for the Installation of Standpipe and Hose Systems. Regulasi tersebut mengatur nilai minimum kapasitas aliran pada setiap pipa tegak yang terhubung dengan nozzle. Oleh karena itu, untuk mengetahui telah memenuhi standard tersebut perlu menganalisis desain sistem instalasi perpipaan dan kebutuhan setiap nozzle dengan menggunakan simulasi Computational Fluid Dinamic (CFD). Simulasi CFD yang digunakan yaitu Software Pipe Flow Expert dan Ansys. Hasil simulasi menunjukkan bahwa desain telah memenuhi standard NFPA 14 dimana nilai kapasitas aliran terkecil terdapat pada pipa SP1 120 yaitu sebesar 500,87 GPM dengan head setiap pompa yaitu 73,14 m. Karakteristik aliran pada salah satu nozzle yaitu fixed water canon didapatkan kecepatan rata-rata yaitu sebesar 23,04 m/s dan kecepatan maksimum bisa mencapai 32,6 m/s dengan sifat aliran turbulen. Tekanan outlet sebesar 6,9 bar, hal ini telah sesuai dengan kebutuhan pemadam kebakaran untuk mencapai tinggi tangki timbun yaitu sebesar 16,84 meter

    Perilisan Produk Baru dan Pemilihan Strategi e-channel Untuk Produsen Produk Fesyen

    Get PDF
    Penelitian ini mempelajari koordinasi antara produsen dan retailer produsen fesyen untuk perencanaan strategi penggantian produk (rollover strategy) saat produk baru siap untuk dirilis. Produsen dapat memilih untuk menarik produk lama satat produk baru dirilis (single rollover strategy) atau menjual produk lama dan produk baru secara bersamaan (dual rollover strategy). Seperti pada kondisi saat ini, retailer memiliki dua saluran penjualan yang digunakan secara bersamaan, yaitu saluran penjualan offline dan online. Untuk menghindari konflik antar saluran penjualan, digunakan konsep ekslusifitas untuk masing – masing saluran penjualan, dimana saluran offline digunakan untuk menjual produk yang baru dirilis sementara saluran online digunakan untuk menjual produk yang sudah berada pada fase decline. Penelitian ini menunjukkan bahwa produsen akan selalu lebih memilih dual rollover strategy dibanding single rollover strategy, sementara retailer hanya akan condong ke dual rollover strategy saat tingkat penerimaan konsumen terhadap produk lama cukup tinggi.  Penelitian ini juga mendemonstrasikan benefit dari dynamic revenue sharing allocation untuk memitigasi konflik pada rollover strategy saat konsumen sangat sensitif terhadap perubahan trend fesyen

    3,519

    full texts

    3,833

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknik ITS
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇