172 research outputs found
Sort by
STRATEGI PENCEGAHAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DALAM SITUASI BENCANA (STUDI KASUS PENERAPAN STRATEGI PENCEGAHAN DP3AKB JABAR)
Kekerasan terhadap perempuan sebagai kelompok rentan dalam situasi bencana adalah isu yang kurang mendapat perhatian dalam proses penanggulangan bencana. Padahal isu ini sering kali terjadi, mulai dari tindak kekerasan yang ringan seperti diskriminasi, subordinasi, marginalisasi, beban ganda. Hingga tindak kekerasan yang serius seperti kekerasan secara fisik, psikis hingga ekonomi. Jawa Barat sebagai salah satu provinsi yang rawan terjadi bencana, baik bencana alam, non – alam, ataupun bencana sosial memerlukan pedoman untuk pencegahan kekerasan terhadap perempuan dalam situasi bencana. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dalam situasi bencana dengan menggunakan analasis manajemen stratefi David (2011). Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptf dengan menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi non pastipatif dan studi dokumentasi. Dalam penelitian ini informan yang terlibat berjumlah 11 orang. Hasil penelitian ini menggambarkan upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dalam situasi bencana yang telah di lakukan oleh lembaga DP3AKB Jabar. Di dalamnya membahas tiga tahap manajemen strategi yaitu tahap perumusan strategi, tahap implementasi strategi dan tahap evaluasi strategi. Namun, hasil pelaksanaan strategi masih belum dapat mencapai tujuan. Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis merekomendasikan sebuah plan of treatment berupa kegiatan Penguatan Partisipasi Masyarakat Dalam Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Situasi Bencana dengan tujuan untuk meningkatkan dan menguatkan peran masyarakat dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan dalam segala situasi termasuk dalam situasi bencana
KECENDERUNGAN MENYALAHKAN KORBAN (VICTIM-BLAMING) DALAM KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP PEREMPUAN SEBAGAI DAMPAK KEKELIRUAN ATRIBUSI
Korban dari kekerasan seksual terhadap perempuan sering kali merasa tidak aman untuk melaporkan tindakan kejahatan yang terjadi pada mereka, malahan mereka cenderung disalahkan oleh berbagai macam pihak, termasuk yang memiliki otoritas – polisi, pengacara, hakim, dan tenaga medis. Penelitian ini bertujuan mengkaji keterkaitan mitos pemerkosaan dengan kepercayaan pada dunia yang adil pada kasus kekerasan seksual terhadap perempuan, diikuti analisis menggunakan pendekatan teori atribusi. Metode yang digunakan adalah studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi kekeliruan dalam pengatribusian kesalahan berdasarkan mitos pemerkosaan dan kepercayaan pada dunia yang adil. Ditemukan pula perbedaan respon antara pemerkosaan oleh orang asing dan oleh orang yang dikenal korban, bahwa korban dari pemerkosaan oleh orang asing disebut-sebut sebagai “korban sesungguhnya”. Sejumlah implikasi praktis sebagai usaha meminimalisir perilaku menyalahkan korban disertakan pada tulisan ini
PSIKOEDUKASI KELUARGA DALAM MENDUKUNG PENYEMBUHAN ORANG DENGAN SKIZOPRENIA
Salah satu gangguan mental yang serius dan sangat berdampak pada hampir semua aspek kehidupan penyandangnya adalah skizoprenia. Gangguan skizoprenia dicirikan dengan adanya halusinasi dan delusi, kekacauan pada afek, serta perilaku sosial yang kacau. Intervensi berupa psikoedukasi kepada keluarga penyandang skizoprenia penting dilakukan sebagai bagian dai proses rehabilitasi. Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan pentingnya psikoedukasi keluarga dalam proses penyembuhan penyandang skizoprenia yang seringkali kurang menjadi fokus perhatian. Metode kajian ini menggunakan literature review dari sumber-sumber yang relevan yang mengkaji tentang psikoedukasi kepada keluarga penyandang skizoprenia. Sumber kajian terdiri dari buku, artikel, dan jurnal terpublikasi. Hasil kajian menunjukkan keluarga sebagai lingkungan terdekat penyandang skizoprenia, menjadi salah satu faktor yang banyak berpengaruh baik pada perkembangan penyebab munculnya skizoprenia, proses penyembuhan sampai pasca penyembuhan, serta masalah kekambuhan. Terjadi hubungan saling mempengaruhi antara keadaan penyandang skizoprenia dan keluarganya. Pola relasi negatif dapat muncul dari hubungan timbal balik tersebut yang berkontribusi pada terhambatnya proses penyembuhan dan pemulihan atau beresiko terjadi kekambuhan. Diperlukan edukasi kepada keluarga yang memiliki penyandang disabilitas ini terkait dengan bagaimana pola komunikasi, cara berelasi atau perlakuan yang sejalan dengan proses penyembuhan, mengurangi resiko kekambuhan, meningkatkan keterampilan sosial, mengurangi expressed emotion (EE) dan menciptakan lingkungan terdekat yang mendukung
MITIGASI BENCANA BERBASIS SENSITIVE GENDER
Dampak yang ditimbulkan oleh bencana berbeda berdaskarkan kepada perbedaan kebutuhan dan kondisi gender. Upaya untuk mengurangi dampak dari bencana tersebut dilakukan melalui serangkain kegiatan yang terstruktur dan terintegrasi melalui mitigasi. Artikel ini bertujuan untuk menkonseptualisasikan mitigasi bencana yang memperhatikan kebutuhan gender melalui pendekatan sensitive gender. Metode penelitian ini yaitu studi literatur dengan menggunakan kajian-kajian empiris dan teoritis terkait dengan mitigasi bencana dan sensitive gender. Hasil penelitian membagi mitigasi bencana yang sensitive gender menjadi dua yaitu berdasarkan kepada kebutuhan strategis dan kebutuhan praktis. Kebutuhan strategis meliputi peningkatan kekuatan perempuan dalam pengambilan keputusan, peningkatan keberhakan terhadap posisi kepemimpinan, akses yang setara ke pekerjaan hak-hak hukum yang setara, serta perlindungan dari kekerasan, hak-hak reproduksi, peningkatan mobilitas. Sedangkan kebutuhan praktis yaitu Gathering gender-sensitive data, Legal infrastructure, Physical infrastructure, Human development, Insurance, Knowledge dissemination, Early Warning, Shelter, Aid Distribution dan Aid Compositio
IMPLEMENTASI PROGRAM BANTUAN PANGAN NON TUNAI (STUDI KASUS DI KOTA CIMAHI)
Bantuan Pangan Non Tunai adalah bantuan sosial pangan yang disalurkan dalam bentuk non tunai dari pemerintah kepada KPM (keluarga penerima manfaat) setiap bulannya melalui mekanisme uang elektronik yang digunakan hanya untuk membeli bahan pangan di pedagang bahan pangan atau disebut E-warong yang bekerjasama dengan Bank Penyalur. Kekuatan bantuan sosial pangan non tunai ini adalah penerima manfaat secara efisien dan efektif mampu mengoptimalkan bantuan yang diberikan berdasarkan tingkat kebutuhannya sehingga secara tidak langsung dapat menggairahkan kehidupan ekonomi yang bersangkutan, terjadinya proses internalisasi keuangan inklusif kepada fakir miskin melalui revitalisasi peran lembaga perbangkan, terhindarnya sejumlah kasus inefisien dan inektivitas sebagaimana penyaluran bantuan sosial pangan sebelumnya dan memerlukan manajemen yang baru. Pelaksanaan program BPNT (mencakup : registrasi, penggantian data, kontak informasi dan pengaduan) yang terdiri dari Kordinator Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKS) Kabupaten/ Kota, Kordinator Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten/ Kota, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), Pendamping PKH dan Asisten pendamping PKH untuk daerah sulit. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan Weinbach (1994) dalam Kettner (2002), mengatakan bahwa, manajemen dapat dianggap sebagai fungsi spesifik yang dilakukan oleh orang-orang dalam lingkungan kerja yang dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas dan pencapaian tujuan organisasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan menggambarkan tentang implementasi program Bantuan Pangan Non Tunai (studi kasus di Kota Cimahi). Informan ditentukan berdasarkan purposive sampling (Informan ditentukan berdasarkan pertimbangan tertentu peneliti), teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara mendalam (indeph interview, observasi partisipatif dan studi dokumentasi. Artikel ini menunjukkan Penyaluran bantuan sosial non tunai dengan menggunakan sistem perbankan dapat mendukung perilaku produktif penerima bantuan serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas program bagi kemudahan mengontrol, memantau dan mengurangi penyimpangan. Inilah yang menjadi sistem manajemen baru
Model Pengembangan Ekowisata Mangrove di Pesisir Timur Lampung (Studi di Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur)
Artikel ini bertujuan untuk mengetahui potensi yang dapat dikembangkan untuk kegiatan ekowisata dari mulai potensi alam, potensi budaya, potensi SDM hingga ketersediaan energi di Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Kembalinya hutan mangrove di Desa Margasari yang berada di wilayah pesisir sebelah Timur Lampung mendorong usaha pembelajaran tentang fungsi-fungsinya, baik secara ekologis, ekonomis maupun social yang ditandai dengan pulihnya keanekaragaman hayati ekosistem mangrove. Hal ini berdampak baik karena memunculkan peningkatankeragaman tanaman mangrove, jenis ikan, invertebrata bahkan jenis burung yang menjadikannya memiliki daya tariknya sebagai tujuan ekowisata. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan alternatif strategi bagi pengembangan ekowisata di wilayah Desa Margasari.Metodologi yang digunakan yakni metode deskriptif, namun bersifat aplikatif, sehingga secara aktual dapat digunakan oleh para perencana dan pengambil keputusan pembangunan di wilayah ini.. Melalui observasi, survey dengan menyebarkan kuesioner, seta wawancara pada stakeholder pengelola hingga penduduk setempat hingga pengunjung, didapatkan data mengenai pengembangan ekowisata mangrove yang telah dilakukan oleh pengelola (pemerintah desa dan pokdarwis) dan perkembangannya sejak awal dibangunnya lokasi wisata setahun yang lalu. Model yang paling tepat digunakan untuk pengembangan ekowisata mangrove Desa Margasari adalah community based on tourism yang mengangkat potensi ekowisata melalui masyarakat setempat
TINGKAT STRESS PENYALAHGUNA NAPZA SAAT MENJALANI REHABILITASI DI INABAH XV PONDOK PESANTREN SURYALAYA
Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat stress yang dialami santri binaan yang sedang menjalani proses rehabilitasi penyalahgunaan Napza di Inabah Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi karakteristik penyalahguna NAPZA, mengukur tingkat stress penyalahguna NAPZA pada aspek fisiologis, emosional, dan perilaku. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kuantitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu sensus dengan jumlah 37 orang responden. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner baku yang dimodifikasi untuk mengukur tingkat stress. Katagori tingkat stress yaitu, ringan, sedang dan berat. Validitas alat ukur menggunakan validitas muka dan teknik analisis data dengan statistik deskriptif dan tabulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korban penyalahguna NAPZA mengalami stress pada tingkat sedang saat menjalani rehabilitasi. Hal ini dilihat berdasarkan skor pada ketiga aspek stress yaitu fisiologis, emosional dan perilaku. Dari ketiga aspek tersebut stress pada aspek emosional menunjukkan skor tertinggi
Transendensi Diri Pekerja Sosial (Studi kasus tentang transendensi diri pekerja sosial di Unit Pelaksana Tugas Pusat Kesejahteraan Sosial Dinas Sosial Kota Bandung)
Demi terlaksananya tujuan praktik pekerja sosial berdasarkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2019, perlu adanya upaya meningkatkan usaha tenaga pekerja sosial untuk menjadi manusia yang berdaya sehingga mampu memberdayakan manusia lain. Dalam konteks ini kita akan melihat pekerja sosial mampu memanajemen diri, mampu meningkatkan keberfungsian, kepedulian, ketahanan, dan terampil dalam menghadapi masalah sosial. Upaya yang dapat dilakukan untuk mendorong peningkatan usaha calon tenaga pekerja sosial menjadi manusia yang berdaya adalah dengan meningkatkan target kebutuhan. Pekerja sosial tidak hanya fokus memenuhi kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization) dengan memiliki pengetahuan dan penghargaan, tetapi meningkat ke tahap transendensi diri (self-transcendence). Penelitian ini bertujuan untuk mengenai tingkat transendensi diri pekerja sosial di Unit Pelaksana Tugas Pusat Kesejahteraan Sosial (UPT PUSKESOS) Dinas Sosial Kota Bandung dengan menggunakan metode survey deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan pengambilan data menggunakan Self-Transendence Scale. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik sampling jenuh, di mana terdapat 23 orang pekerja sosial yang diteliti. Penelitian menemukan bahwa hampir seluruh pekerja sosial berada pada tingkat kebutuhan transendensi diri yang terdiri dari aspek interpersonal dan intrapersonal. Hal tersebut menunjukan bahwa pengembangan SDM yang ada perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan
PEKERJAAN SOSIAL UNTUK PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
Pengembangan sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu bidang kerja dari pekerjaan sosial okupasi atau disebut juga dengan pekerjaan sosial industri.Pengetahuan dan keterampilan terkait pengembangan SDM relevan dengan kompetensi pekerjaan sosial yang dipelajari di pendidikan pekerjaan sosial-yang di Indonesia disebut dengan studi kesejahteraan sosial-. Pengembangan SDM sejalan dengan perspektif kekuatan (strength based) yang digunakan dalam pekerjaan sosial yang memberi perhatian khusus pada sisi kekuatan dari manusia sehingga profesi ini dalam praktiknya terlibat dalam upaya mengubah dan mengembangkan perilaku manusia untuk mencapai kualitas hidup yang diharapan baik secara personal maupun sosial. Pekerjaan sosial okupasi memaksimalkan potensi manusia dan memelihara adaptasi optimal antara individu dan lingkungan kerjanya. Pekerja sosial melaksanakan tugasnya agar orang-orang di lingkungan kerja memiliki kualitas hidup yang baik sehingga kepuasan konsumen, keuntungan perusahaan, produktivitas dan kepuasan karyawan dapat tercapai. Diantara tugas pekerja sosial okupasi dalam bidang pengembangan SDM yaitu terlibat dalam manajemen personalia, melaksanakan kegiatan edukasi yang tekait dengan mengubah mindset dan pembiasaan perilaku baru, penanganan karyawan bermasalah dan konseling, mediasi, networking, dan modifikasi lingkungan yang kondusif untuk bekerja.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN EKOWISATA HUTAN MANGROVE DI KAMPUNG RAWA MEKAR JAYA
Penelitian tentang pengelolaan mangrove berbasis partisipasi masyarakat di kampung Rawa Mekar Jaya. Tujuan untuk: (1) mendeskripsikan jenis partisipasi masyarakat di kampung Rawa Mekar Jaya. (2) mendeskripsikan faktor penghambat partisipasi masyrakat dalam pengelolaan mangrove di kampung Rawa Mekar Jaya. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, masyarakat kampung Rawa Mekar Jaya awalnya tidak memiliki inisiatif untuk memulai program pembangunan dan pengembangan mangrove. Tetapi ada seorang agent of change tokoh pemuda yang mengajak masyarakat untuk peduli akan mangrove baik untuk menjaga, merawat, membersihkan dan melakukan pembibitan mangrove serta meyakinkan masyarakat bahwa dengan dijadikan mangrove ini sebagai tempat ekowisata akan memberikan perubahan bagi kampung mereka. Masyarakat kampung Rawa Mekar Jaya dalam pelaksanaan pembangunan ekowisata hanya sebagian saja yang ikut bergotong royong melakukan pembersihan di area mangrove dan pembersihan jalan menuju mangrove. Masyarakat Kampung Mekar jaya sebagian ada yang membantu pekerjaan pembangunan mangrove dengan membantu membangun tempat duduk dibeberapa titik tertentu disepanjang area mangrove. Dalam pengelolaan dan pengembangan mangrove Kampung Rawa Mekar Jaya masih terdapat kendala sehingga belum dapat memberikan manfaat yang optimal. Hambatan yang di hadapi oleh masyarakat yakni, keterbatasan pengetahuan masyarakat kampung Rawa Mekar Jaya dalam memanfaatkan potensi ekowisata magrove yang telah ada