Share : Social Work Journal

Share : Social Work Journal
Not a member yet
    172 research outputs found

    Praktik Pekerja Sosial Dalam Perlindungan Pekerja Anak di Pertanian Tembakau Melalui Program We Protect

    Get PDF
    Pekerja anak termasuk ke dalam kategori anak rawan, khususnya yang bekerja di pertanian tembakau. Sebagai upaya perlindungan, Yayasan Social Transformation and Public Awareness (STAPA) Center memiliki program perlindungan terhadap pekerja anak di pertanian tembakau melalui program We Protect. Salah satu tim dalam menjalankan program tersebut adalah profesi pekerja sosial. Profesi pekerja sosial dalam melakukan intervensi terhadap pekerja anak menggunakan metode intervensi pekerja sosial makro. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan proses praktik pekerja sosial dalam program We Protect dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penggalian data dengan wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis intergratif mulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta kesimpulan. Hasil penelitian yakni praktik pekerjaan sosial dalam perlindungan pekerja anak di pertanian tembakau melalui program We Protect dilakukan melalui kegiatan pemberian pendidikan keterampilan hidup kepada pekerja anak. Tahapan praktik pekerjaan sosial dilakukan melalui proses engangement, intake and contract, assessment, planning, intervention, evaluation dan and termination. Praktik di tahap engagement dan intake, pekerja sosial melakukan diseminasi program. Kemudian melakukan contract sebagai persetujuan pelaksanaan program. Pada assessment, pekerja sosial melakukan pemetaan yang dibantu dengan calon relawan lokal. Pada tahap planning, dilakukan rekrutmen dan pelatihan relawan lokal serta menyusun modul pembelajaran. Pada tahap intervention dilakukan pembelajaran keterampilan hidup melalui Rumah Kreasi yang memberikan layanan kelompok belajar, pojok literasi, taman edukasi, kelas remaja kreatif dan pelatihan vocational. Sedangkan pada evaluation dilakukan rutin minimal 1 bulan sekali. Tahap termination belum dilakukan karena masih dalam proses pelaksanaan program

    KEMISKINAN SOSIAL DI WAPEKO : Analisa Kapital Sosial (Studi Kasus Kampung Wapeko, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke – Papua)

    Get PDF
    Memahami bentuk kapital sosial dalam masyarakat heterogen dapat membantu mendukung pembangunan sosial yang bermuara kepada pengentasan kemiskinan. Konsep kemiskinan sosial dari Lewandowsky digunakan sebagai alat analisis kemiskinan yang dihadapi orang Marind. Penelitian ini berfokus pada masalah kemiskinan dan kapital sosial di Kampung Wapeko, distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua. Tujuan dari penelitian adalah mendeskripsikan dan menganalisis gambaran bentuk kapital sosial masyarakat orang asli Papua (Marind) dan transmigran di kampung Wapeko serta fungsi kapital sosial yang terbentuk dari kedua masyarakat tersebut dalam pengentasan kemiskinan di kampung Wapeko. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Dari hasil penelitian, diketahui profesi orang Marind sebagai subsisten (pemburu, peramu), belum mengolah sumber daya alam karena tidak adanya kemampuan teknis dan jaringan dalam pengelolaannya (bertani, berdagang). Orang Marind hanya mampu memiliki kebutuhan dasar (rumah, listrik, air bersih) serta akses ekonomi yang sangat terbatas. Kapital sosial warga Marind berupa bonding social capital dengan penekanan pada norma pembagian dan pengelolaan lahan, kekerabatan (marga), pemanfaatan hutan serta konservasi tradisional (sasi). Tipologi bonding social capital orang Marind menimbulkan kesulitan untuk dapat menghadapi perubahan kondisi kampung dari bentuk kehidupan tradisional menuju modern karena kapital sosial yang dimiliki tidak mampu menggapai secara maksimal kapital sosial dari kelompok lain yang lebih permisif. Warga transmigran di Wapeko memiliki bridging social capital dengan norma kerjasama (gotong royong) dan etos kerja pantang menyerah yang menimbulkan jaringan yang kuat dalam menjalankan beragam variasi mata pencaharian (bertani, berdagang, pegawai) sehingga kondisi ekonominya meningkat. Pelaksanaan norma warga transmigran menimbulkan kepercayaan dari orang Marind dalam hal pemberian akses pembagian dan pengelolaan lahan serta pemanfaatan hutan. Hal tersebut memicu munculnya bridging social capital diantara dua kelompok tersebut dengan penguatan pada munculnya norma sewa lahan dan perdagangan hasil hutan (pengepul) sehingga menimbulkan pergerakan kesejahteraan ekonomi di kedua pihak. Kesimpulan penelitian adalah kemiskinan yang terjadi pada orang Wapeko disebabkan karena tidak dimilikinya bridging social capital

    RESOLUSI KONFLIK BERBASIS KOMUNITAS MELALUI PENGEMBANGAN MASYARAKAT SEBAGAI UPAYA ALTERNATIF RESOLUSI KONFLIK AGRARIA

    Get PDF
    Konflik agraria merupakan salah satu jenis konflik yang masih terus terjadi di Indonesia. Konflik ini mengalami fluktuasi yang signifikan dari tahun ke tahun. Upaya resolusi konflik agraria melalui pendekatan litigasi dan non litigasi yang selama ini dilakukan masih belum membuahkan hasil yang optimal. Hal ini menunjukan bahwa diperlukan pendekatan lain dalam resolusi konflik agraria ini. Pengembangan masyarakt hadir sebagai upaya alternatif resolusi konflik agraria yang dapat dilakukan. Metode penelitian dalam tulisan ini yaitu metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data studi literatur dan studi penelitian terdahulu. Hasil penelitian menunjukan bahwa konflik agraria menjadi konflik yang paling eksesif di Indonesia. Konflik agraria disebabkan oleh dua masalah utama yaitu masalah administrasi pertanahan dan pemanfaatan tanah. Secara umum upaya resolusi konflik agraria dilakukan dengan menggunakan pendekatan litigasi dan non litigasi. Resolusi konflik agraria berbasis komunitas melalui pengembangan masyarakat dapat menjadi upaya alternatif resolusi konflik agraria yang dapat dilakukan untuk menciptakan hasil berupa win-win sollutions bagi pihak-pihak yang berkonflik. Pengembangan masyarakat sebagai upaya resolusi konflik agraria ini dilakukan melalui empat tahapan utama yaitu tahap community organizing, tahap visioning, tahap planning dan tahap implementation and evaluation

    Jaringan Sosial Dalam Pengelolaan Kawasan Geopark Ciletuh

    Get PDF
    Indonesia merupakan salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang memiliki bentang alam yang beragam. Salah satu lanskap tersebut adalah Geopark. Ada beberapa kawasan seperti ini di Indonesia, salah satunya kawasan Geopark Ciletuh. Potensi kawasan Geopark Ciletuh ini menjadikan Indonesia salah satu negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah. Tentunya kekayaan ini harus dikelola dengan baik. Pengelolaan geopark melibatkan stakeholder atau actor yang terdiri dari aktor individu. Setiap aktor berperan sesuai dengan status masing-masing guna peningkatan pengelolaan kawasan Geopark Ciletuh secara optimal. Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, baik individu maupun kolektif warga, pemerintah dan lembaga non-pemerintah dalam pengelolaan kawasan ini akan efektif jika prosesnya dibangun dalam jaringan. Jejaring sosial ini terdiri dari masing-masing aktor yang saling berinteraksi dan saling berhubungan antara aktor satu dengan yang lainnya. Hubungan yang terjadi di antara para aktor tersebut terbangun dengan motivasi dan minat yang sama yakni bertujuan mengembangkan Kawasan Geopark Ciletuh untuk dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Relasi yang terbangun merupakan sebuah wujud saling dukung dengan ragam dukungan berupa pengadaan fasilitas, tenaga dan ilmu. Model jaringan sosial ini dapat terjadi dengan berbagai cara. Ada hubungan antara satu aktor dan satu aktor saja. Bahkan ada lebih dari dua pelaku sehingga mereka membentuk simpul dengan bentuk tertentu. Hubungan antar aktor tersebut menjadi penanda dan memudahkan dalam memahami hubungan yang terjadi antar aktor. Setiap simpul yang terhubung memiliki arti yang berbeda. Sementara itu PAPSI merupakan aktor yang paling banyak memiliki relasi dengan aktor lain dalam pengelolaan kawasan Geopark Ciletuh. Indonesia is one of the countries in the Southeast Asia region which has a diverse landscape. One such landscape is a Geopark. There are several areas like this in Indonesia, one of which is the Ciletuh Geopark area. The potential of the Ciletuh Geopark area makes Indonesia one of the countries that has abundant natural wealth. Of course, this wealth must be managed properly. Geopark management involves stakeholders or actors consisting of individual actors. Each actor plays a role in accordance with their respective status in order to improve management of the Ciletuh Geopark area optimally. The involvement of various stakeholders, both individual and collective citizens, government and non-government organizations in the management of this area will be effective if the process is built in a network. This social network consists of each actor who interacts and relates to one another. The relationship between these actors is built with the same motivation and interest, which is aimed at developing the Ciletuh Geopark Area so that it can be utilized optimally by the community. The relationship that is built is a form of mutual support with a variety of support in the form of the provision of facilities, personnel and knowledge. This social networking model can occur in many ways. There is a relationship between one actor and one actor only. In fact, there are more than two actors so that they form a knot with a certain shape. The relationship between these actors becomes a marker and makes it easier to understand the relationships that occur between actors. Each connected node has a different meaning. Meanwhile, PAPSI is the actor who has the most relationships with other actors in the management of the Ciletuh Geopark area

    Pengaruh Status Sosial Ekonomi Keluarga Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Pendidikan Anak

    No full text
    Dalam proses tumbuh kembangnya, anak memiliki kebutuhan dasar yang perlu dipenuhi salah satunya yaitu kebutuhan stimulasi atau pendidikan. Pendidikan bagi anak sangat penting dalam mendukung pelaksanaan perannya di masa yang akan datang. Pemenuhan kebutuhan pendidikan anak merupakan tanggung jawab utama keluarga karena keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi anak. Akan tetapi, tidak semua keluarga dapat bertanggungjawab dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan anak. Kondisi sosial dan ekonomi yang masih dibawah rata-rata dan harus memenuhi kebutuhan sehari-hari dirasa berdampak pada sulitnya dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan pada anak. Kondisi tersebut dapat menjadi dilema bagi keluarga, terutama orang tua karena ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Metode yang digunakan dalam kajian penulisan ini adalah metode studi pustaka. Dengan menggunakan metode studi pustaka, penulis dapat mendeskripsikan status sosial ekonomi keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan pada anak melalui teori yang ditemukan dari berbagai literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan pendidikan pada anak tidak selalu dipengaruhi oleh status sosial ekonomi keluarga

    MENANAMKAN NILAI-NILAI KEARSIPAN PADA KELUARGA STUDI KASUS DI LK3 PUSAKA YOGYAKARTA

    Get PDF
           Paper berjudul menanamkan nilai-nilai kearsipan pada keluarga merupakan hasil penelitian di lembaga konsultasi kesejahteraan keluarga (LK3) Pusaka di Kota Yogyakarta.  Penelitian bertujuan menguangkap dampak positif pendokumentasian arsip individu sebagai anggota  keluarga bagi dirinya dan keluarga dalam kepentingan hidup bernegara.       Pendekatan penelitian dengan metode kualitatif melalui study kasus tunggal, bersifat retrospective kearah perkembangan yang positif untuk menemukan kecenderungan dan arah perkembangan suatu kasus. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling, data primer dan sekunder dikumpulan melalui observasi, interview dan studi pusataka. Untuk menjamin reliabilitas data maka peneliti melakukan empat langkah reliabilitas, yaitu uji credibility, transferabilitas, dependability dan conformability.Temuan penelitian nilai kearsipan LK3 Pusaka cukup memadai sehingga penelitian ini dapat berkontribusi dalam memberi criticize, membuat dan mengembangkan  perilaku tertib dan disiplin yang membentuk keluarga arsiparis

    HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG COVID-19 TERHADAP SIKAP STIGMA MASYARAKAT PADA ORANG YANG BERSINGGUNGAN DENGAN COVID-19

    Get PDF
    AbstrakMaraknya informasi yang bergulir mengenai Covid-19 sebagai pembentuk pengetahuan masyarakat, rentan memunculkan stigma negatif terhadap orang-orang yang bersinggungan dengan Covid-19. Penelitian survei ini adalah penelitian cross-sectional kuantitatif melibatkan 101 responden yang bertujuan untuk melihat hubungan antara tingkat pengetahuan tentang Covid-19 dan sikap stigma terhadap orang-orang yang bersinggungan dengan Covid-19. Hasil penelitian yang dilakukan pada masyarakat Yogyakarta yang sempat melakukan blokade pemukiman menunjukkan bahwa 78.2% tingkat pengetahuan tentang Covid-19 berkategori baik dan 21.8% berkategori cukup. Tingkat stigma mendapati hasil 63.4% memiliki sikap stigma cukup tinggi dan 33.7% memiliki sikap stigma tinggi. Adapun hasil analisis terhadap kedua variabel diketahui bahwa 47,5% responden dengan tingkat pengetahuan tentang Covid-19 berkategori baik, memiliki sikap stigma tergolong cukup tinggi. Namun, dari hasil uji Chi-Square diperoleh kesimpulan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan tentang Covid-19 dengan sikap stigma masyarakat Yogyakarta terhadap orang-orang yang bersinggungan dengan Covid-19. Sikap stigma yang muncul adalah faktor dari kesalahpahaman dalam menerima informasi mengenai bahaya dan penularan Covid-19.

    BANDUNG CREATIVE CITY FORUM (BCCF) SEBAGAI PENGGERAK GENERASI MILENIAL DALAM MENCIPTAKAN PERUBAHAN DI KOTA BANDUNG

    Get PDF
    Generasi milenial memiliki peranan yang penting dalam melakukan perubahan terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak dapat dipungkiri, kertelibatan generasi milenial dalam mengisi pembangunan dengan menciptakan peluang dan perubahan positif memiliki dampak yang besar bagi masyarakat. Perubahan yang dicipatakan oleh generasi milenial sangat jelas dirasakan dan tampak dalam bidang ekonomi dan bisnis, di mana perubahan terjadi dengan sangat cepat, sehingga menciptakan ketidakpastian tidak hanya dalam bidang ekonomi dan bisnis saja, melainkan juga di berbagai bidang kehidupan lainnya. BCCF merupakan komunitas mandiri yang fokus mendorong dan menggerakkan generasi milenial dalam menciptakan perubahan melalui upaya pengembangan industri kreatif di Kota Bandung. Ditinjau dengan menggunakan konsep strength prespective, generasi milenial dapat lebih memahami diri mereka, dan mampu menciptakan perubahan dengan memanfaatkan pengetahuan dan kemampuan yang mereka miliki, sehingga melalui BCCF generasi milenial dapat lebih optimal berkontribusi menciptakan perubahan, terlebih generasi milenial memiliki peran penting dalam pengembangan industri kreatif, yang dapat meningkatkan pembangunan ekonomi khususnya di Kota Bandung. Dengan penguasaan keterampilan dalam teknologi digital, keberadaan generasi milenial menjadi sosok yang merepresentasikan dan mendukung terwujudnya masyarakat 5.0 yang memungkinkan manusia untuk memecahkan masalah sosial dengan bantuan teknologi. Dengan begitu, peran generasi milenial dalam mewujudkan masyarakat 5.0 sangatlah besar, khususnya dalam membuat inovasi dan melakukan perubahan di dalam masyarakat berbasis teknologi

    Analisis Indeks Kepuasan Masyarakat Pada Kualitas Pelayanan Program Sentra Industri Bukit Asam (SIBA) Rosella PT Bukit Asam, Tbk. (PTBA)

    Get PDF
    Kehadiran industri yang secara langsung maupun tidak langsung akan membawa perubahan baik fisik maupun non fisik pada kehidupan masyarakat sekitarnya. Perubahan tersebut salah satunya dilakukan perusahaan melalui implementasi program corporate social responsibility (CSR) yang dipandang sebagai salah satu upaya membangun hubungan baik dengan masyarakat sekitar, begitupun dengan PT Bukit Asam (PTBA). Program unggulan CSR PTBA adalah Program SIBA Rosella yang bermaksud memberdayakan masyarakat melalui kegiatan budidaya tanaman rosella dan produksi aneka olahan turunannya. Sebagai salah satu pihak yang melakukan pelayanan publik melalui program SIBA Rosella, tentunya perlu dilakukan evaluasi terhadap pelayanan yang dilakukan terhadap masyarakat penerima program. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis tingkat kepuasan masyarakat terhadap kualitas pelayanan program CSR PTBA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif  deskriptif untuk menjelaskan indeks kepuasan masyarakat (IKM) terhadap program yang dilaksanakan. Hasil keseluruhan IKM berada pada interval 3.54 dan berdasarkan tabel interval dalam Permen PAN RB No. 14 Tahun 2017 mengenai Pedoman Penyusunan Survei Kepuasan Masyarakat, maka mutu program CSR SIBA Rosella dalam kategori A dengan nilai konversi 88.50, ini artinya kinerja program berada pada kategori sangat baik. Capaian nilai pada IKM yang telah didapatkan tersebut menunjukkan pelayanan yang sangat baik karena berbagai indikator penyusunnya dapat dicapai secara keseluruhan mulai dari kepastian waktu pelayanan, akurasi pelayanan, kesopanan dan keramahan, tanggung jawab, kelengkapan, dan kemudahan mendapatkan pelayanan

    MAKNA KERJA SEBAGAI TENAGA KESEJAHTERAAN SOSIAL KECAMATAN (TKSK) DI LINGKUNGAN DINAS SOSIAL SITUBONDO JAWA TIMUR

    Get PDF
    Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) merupakan tenaga  non profesional yang direkrut dari unsur tokoh masyarakat setempat,  dalam rangka menyukseskan penyelenggaraan program kesejahteraan sosial di tingkat kecamatan. Bekerja sebagai TKSK yang memiliki keterbatasan materi dan karier, serta tantangan yang sulit dalam praktiknya merupakan sebuah pekerjaan yang menyimpan makna subjektif yang dialami oleh masing-masing TKSK.  Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna subjektif dari para TKSK di Kabupaten Situbondo dalam menjalani pekerjaannya sebagai pendamping PMKS. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumen. Analisis data bersifat induktif yang dilakukan sejak proses pengumpulan data. Analisis dalam penelitian menunjukkan bahwa, Para TKSK di Dinas Sosial Situbondo menjalankan pekerjaannya berdasarkan: 1.Motif kemanusiaan dan religiusitas, di mana pekerjaannya merupakan pekerjaan yang mulia dan atas dasar panggilan untuk mendampingi para Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial yang merupakan kelompok marginal dan mengalami kondisi pra sejahtera, serta tidak memiliki akses terhadap program-program kesejahteraan sosial, para TKSK juga menganggap pekerjaannya adalah sebagai sarana ibadah. 2. Motif ekonomi, para TKSK menjalani pekerjaan adalah bagian dari memenuhi kebutuhan hidupnya. 3. Motif mengejar karier, para TKSK di Dinas Sosial Situbondo menjalani pekerjaan tidak terlepas dari keinginan mencapai karier yang diinginkan dalam pekerjaannya, para TKSK mengharapkan statusnya untuk disetarakan dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Makna kerja sebagai calling, lebih melekat pada TKSK yang memiliki masa pengabdian 5-10 tahun, sedangkan para TKSK non-aktif lebih dominan memaknai pekrjaannya sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidup dan mengejar karier.                                            Kata kunci: Makna kerja, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan, Pendamping PMK

    156

    full texts

    172

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Share : Social Work Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Share : Social Work Journal? Access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard!