172 research outputs found
Sort by
UPAYA PENINGKATAN KAPASITAS KELUARGA DALAM PENGASUHAN ANAK (Studi Kasus Pada Proses Perlindungan Anak Terlantar oleh Rumah Perlindungan Sosial Asuhan Anak (RPSAA) Ciumbuleuit Kota Bandung)
ABSTRAKPenelantaran anak merupakan salah satu kasus perlakuan salah terhadap anak yang banyak terjadi di Indonesia, disamping kekerasan dan eksploitasi. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan persentase anak terlantar yang tinggi, yakni sebesar 1,26% atau sebanyak 22.122 anak terlantar. Angka tersebut merupakan angka tertinggi di Pulau Jawa. Masalah penelantaran anak ini perlu diatasi, karena memiliki sejumlah konsekuensi terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak. Guna menangani masalah tersebut, diperlukan upaya perlindungan anak terlantar melalui lembaga pengasuhan alternatif, yakni panti asuhan. Namun, panti asuhan di Indonesia memiliki permasalahan rendahnya kualitas sistem pelayanan, di mana panti asuhan di Indonesia lebih berfungsi sebagai lembaga yang menyediakan pelayanan berupa akses terhadap pendidikan daripada sebagai lembaga yang menyediakan pengasuhan alternatif terakhir bagi anak yang mendukung sistem pengasuhan berbasis keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelayanan bagi keluarga dalam proses perlindungan anak terlantar oleh Rumah Perlindungan Sosial Asuhan Anak (RPSAA) Ciumbuleuit Kota Bandung, sebagai upaya peningkatan kapasitas pengasuhan keluarga. Adapun penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan jenis penelitian deskriptif kualitatif, dengan jumlah informan sebanyak 11 orang, yakni terdiri dari 5 orang pekerja sosial yang bertugas di RPSAA Ciumbuleuit Kota Bandung, dan 1 keluarga yang menerima pelayanan dari RPSAA Ciumbuleuit Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan bagi keluarga oleh RPSAA Ciumbuleuit Kota Bandung belum dilaksanakan secara maksimal, mulai dari tahap pendekatan awal hingga tindak lanjut. Oleh karena itu, lembaga perlu mengatur kembali pelaksanaan tahap asesmen hingga tindak lanjut, serta mengembangkan pelayanan bagi keluarga yang sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan keluarga. ABSTRACTChild neglect is one of the most common cases of child abuse in Indonesia, in addition to violence and exploitation. West Java is one of the provinces in Indonesia with a highest percentage of neglected children in Java, namely 1.26% or 22,122 neglected children. This problem needs to be addressed, because it has a number of consequences on children’s development and growth. In order to deal with this problem, it is necessary to protect neglected children through alternative care institutions, namely orphanages. However, orphanages in Indonesia have low quality service system. They function more as institutions that provide services in the form of access to education rather than as institutions that provide the last alternative care for children that supports a family-based care system. This study aims to describe families’ services in the neglected children protection process by the Children's Social Protection Home (CSPH) Ciumbuleuit Bandung City, as an effort to increase the capacity of family care. This research uses qualitative research methods and qualitative descriptive research types, with the number of informants as many as 11 people, consisting of 5 social workers on duty at CSPH Ciumbuleuit Bandung City, and 1 family receiving services from CSPH Ciumbuleuit Bandung City. The results showed that services for families had not been implemented optimally by CSPH Ciumbuleuit Bandung City, starting from the initial approach stage to follow-up. Therefore, the institution needs to reorganize the implementation of the assessment to follow-up stage, as well as develop services for families that are appropriate with the problems and needs of the family
DISKURSUS CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DALAM MEWUJUDKAN SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs)
Corporate social responsibility (CSR) masih menjadi konsep yang ambigu. Ambiguitas terjadi antara lain karena konsep CSR melintasi beberapa disiplin ilmu, yang secara konseptual tidak diajarkan secara komprehensif di lembaga pendidikan dan secara global telah menantang peran serta tanggung jawab dari karyawan, perusahaan dan juga Negara. Terlepas dari persepsi ambiguitas berdasarkan tinjauan literatur yang luas tersebut, secara konsepsual CSR terkait dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang pada umumnya dianggap berhubungan dengan pengambilan keputusan bisnis yang mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Bahkan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) menjadi isu tersendiri dalam program-program CSR di seluruh dunia, demikian pula Indonesia. Kajian ini dilakukan secara kualitatif dan melalui studi pustaka. Dari ketiga aspek yang berbeda, namun saling berhubungan, studi ini menemukan ada sejumlah besar penelitian yang menilai hubungan antara CSR dengan kinerja bisnis keuangan (ekonomi) dan CSR dengan aspek manusia (sosial), tetapi kurang menilai hubungan CSR dengan aspek lingkungan. Penelitian tentang aspek lingkungan yang sudah dipelajari oleh para pakar masih terbatas, dan berbagi literatur secara signifikan menunjukkan kurangnya integritas atau universalitas. Beberapa hasil penelitian mengklaim bahwa hal tersebut dikarenakan kurangnya kerangka kerja analitis yang sistematis, sehingga kondisi tersebut menantang berbagai pihak untuk mengembangkan berbagai tools untuk mendorong praktik CSR dengan memperhatikan ketiga aspek tersebut, khususnya terkait aspek lingkungan
ANALISIS PROGRAM POSYANDU JIWA BERBASIS COMMUNITY CARE DI PROVINSI JAWA TIMUR
ABSTRAK Penyandang Disabilitas Mental atau yang dikenal sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa/ODGJ sering dihadapkan pada permasalahan yang kompleks yang didasari oleh pengabaian hak-hak yang setara dengan warga negara lainnya, salah satunya adalah hak untuk memperoleh jaminan akan kesehatan yang baik melalui akses layanan atau fasilitas kesehatan. Provinsi Jawa Timur sebagai sala h satu provinsi dengan kasus ODGJ tertinggi terutama pada kasus kesehatan jiwa melalui penelantaran dan pemasungan, berupaya melakukan tindakan yang responsif dengan membentuk Program Posyandu Jiwa yang berbasis community care. Pelaksanaan Program Posyandu Jiwa berbasis community care mendorong keterlibatan peran keluarga dan masyarakat dengan bantuan tenaga kesehatan profesional untuk mencapai tujuan yang optimal. Oleh karena itu, kehadiran program ini sebagai suatu inovasi perlu untuk dianalisis lebih jauh terkait dengan pelaksanaan Program Posyandu Jiwa dan peran yang dijalankan oleh relawan dan tenaga professional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan mengacu pada analisis elemen program yang digagas oleh Chambers dan konsep atau teori tentang community care. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pelaksanaan Program Posyandu Jiwa terdiri dari lima tahapan meja yaitu layanan konsultasi dan cek kesehatan fisik; layanan terapi psikofarma dan non psikofarma; layanan pemberian makanan tambahan (PMT), nutrisi, dan vitamin; layanan pelatihan keterampilan hidup sehari-hari dan produktivitas; dan layanan konsultasi bagi keluarga ODGJ. Adapun peran tenaga profesional terdiri dari peran motivasi dan rehabilitasi, sedangkan peran relawan terdiri dari peran teknis maupun peran pencegahan. Saran dalam proses pelaksanaan Program Posyandu Jiwa adalah perlu melibatkan unsur penerima manfaat pada proses evaluasi dan monitoring mengingat kompleksitas masalah yang dialami oleh ODGJ semakin berkembang dan untuk mewujudkan optimalisasi Program Posyandu Jiwa di Provinsi Jawa Timur. Serta mengadakan peningkatan kapasitas bagi para kader Posyandu Jiwa. ABSTRACTPeople with Mental Disabilities or known as People With Mental Disorders/ODGJ are often faced with complex problems based on the neglect of rights that are equal to other citizens, one of which is the right to obtain guarantees for good health through access to health services or facilities. . East Java Province as one of the provinces with the highest ODGJ cases, especially in mental health cases through neglect and shackles, seeks to take responsive action by establishing a Community Care-based Mental Health Post Program. The implementation of community care-based Posyandu Mental programs encourages the involvement of the role of families and communities with the help of professional health workers to achieve optimal goals. Therefore, the presence of this program as an innovation needs to be analyzed further related to the implementation of the Posyandu Jiwa Program and the role played by volunteers and professionals. The method used in this study is a qualitative method with reference to the analysis of program elements initiated by the Chambers and the concept or theory of community care. The results of the study revealed that the implementation of the Posyandu Jiwa program consisted of five table stages, namely consultation services and physical health checks; psychopharmaceutical and non-psychopharmaceutical therapy services; supplementary feeding (PMT) services, nutrition and vitamins; daily life skills and productivity training services; and consulting services for ODGJ families. The role of professionals consists of the role of motivation and rehabilitation, while the role of volunteers consists of a technical role as well as a prevention role. Suggestions in the process of implementing the Mental Health Posyandu Program is that it is necessary to involve beneficiaries in the evaluation and monitoring process considering the complexity of the problems experienced by ODGJ is growing and to realize the optimization of the Mental Health Posyandu Program in East Java Province. As well as conducting capacity building for Mental Health Posyandu cadres.
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN DAN PEMANFAATANNYA PADA ORGANISASI PELAYANAN KEMANUSIAAN AKSI CEPAT TANGGAP KABUPATEN BANDUNG BARAT
Organisasi pelayanan kemanusiaan dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada penerima manfaat dengan memanfaatkan sistem informasi manajemen. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi mengenai sistem informasi manajemen dan pemanfaatannya oleh Yayasan Aksi Cepat Tanggap Kabupaten Bandung Barat. Deskripsi sistem informasi manajemen diawali dengan pengidentifikasian data melalui tahapan input, throughput, output, dan outcome. Setelah penjabaran mengenai pengidentifikasian data, maka dilanjutkan dengan pendeskripsian proses pengolahan data menjadi informasi serta pemanfaatannya bagi kepentingan organisasi dalam memberikan pelayanan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yayasan Aksi Cepat Tanggap Kabupaten Bandung Barat sebagai organisasi pelayanan kemanusiaan telah menggunakan sistem informasi manajemen untuk kepentingan organisasi, baik secara internal maupun eksternal dalam memberikan pelayanan kepada penerima manfaat. Namun, terdapat kendala yang perlu diatasi berkaitan dengan pengembangan aplikasi atau website sistem informasi manajemen, baik berupa fitur pengelolaan data penerima manfaat maupun pelatihan staf dalam proses pengoperasian. Sehingga, manfaat elemen program pada sistem informasi manajemen dapat dirasakan secara merata baik oleh organisasi, relawan, maupun penerima manfaat
PELIBATAN PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM PENGEMBANGAN WISATA KEBUN KELULUT SANGATTA SELATAN (STUDI KASUS PT PERTAMINA EKSPLORASI DAN PRODUKSI ASSET 5 SANGATTA FIELD
ABSTRAKPelibatan pemangku kepentingan merupakan salah satu indikator yang dapat memberikan dampak positif terhadap keberlanjutan bisnis perusahaan, sebab hal tersebut dapat mengurangi resiko konflik dari masyarakat yang berada di wilayah operasional perusahaan. Keterlibatan pemangku kepentingan juga dapat membantu perusahaan dalam menentukan prioritas masalah guna meningkatkan performa lingkungan, sosial, dan ekonomi melalui program-program tanggung jawab sosial. PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset 5 Sangatta Field sebagai salah satu perusahaan ekstraktif menyadari bahwa pelibatan pemangku kepentingan dapat mendukung keberlangsungan aktivitas bisnisnya. PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset 5 Sangatta Field bersama dengan masyarakat menginisiasi program pengembangan Kebun Wisata Kelulut Sangatta Selatan yang bertujuan meningkatkan performa lingkungan, sosial, dan ekonomi yang ada di wilayah Sangatta Selatan. Artikel ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, sebab pembahasan merupakan penjabaran terkait peran pemangku kepentingan yang berasal dari pemerintah, perusahaan, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan media serta hubungan yang terjalin antara PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset 5 Sangatta Field dengan pemangku kepentingan melalui komunikasi, konsultasi, dialog, dan kemitraan guna mengefektifkan pencapaian tujuan bersama melalui Kebun Wisata Kelulut Sangatta Selatan. Hasil lapangan menunjukkan dampak dari stakeholder engagement memudahkan perusahaan dan pemangku kepentingan dalam menentukan prioritas masalah. Tetapi, dalam implementasinya Kebun Wisata Kelulut Sangatta Selatan masih terdapat hambatan, diantaranya belum terwujudnya aula pelatihan dan penerbitan P-IRT bagi Kelompok Tani Trigona Reborn dan Posyandu Bersemi. ABSTRACTStakeholder engagement is one of the indicators that can have a positive impact on the sustainability of the company's business, because it can reduce the risk of conflict from the community in the company's operational area. Stakeholder engagement can also help companies determine prioritization issues to improve environmental, social, and economic performance through social responsibility programs. PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset 5 Sangatta Field as one of the extractive companies realizes that stakeholder involvement can support the continuity of its business activities. PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset 5 Sangatta Field together with the community initiated the development program of Kebun Wisata Kelulut Sangatta Selatan aimed at improving environmental, social, and economic performance in the South Sangatta region. This article uses qualitative descriptive methods, because the discussion is an explanation of the role of stakeholders from the government, companies, civil society organizations, academics, and the media and the relationship between PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset 5 Sangatta Field with stakeholders through communication, consultation, dialogue, and partnership to effectively achieve common goals through Kebun Wisata Kelulut Sangatta Selatan. Field results show the impact of stakeholder engagement makes it easier for companies and stakeholders to determine problem priorities. However, in its implementation of the Kebun Wisata Kelulut Sangatta Selatan there are still obstacles, including the realization of the training hall and the issuance of P-IRT for Kelompok Tani Trigona Reborn and Posyandu Bersemi
GENERASI SANDWICH: KONFLIK PERAN DALAM MENCAPAI KEBERFUNGSIAN SOSIAL
Konflik peran dimaknai sebagai dua peran atau lebih yang harus dijalankan secara bersamaan, namun di sisi lain individu yang bersangkutan tidak dapat menjalankan kedua peran yang ada secara maksimal. Konflik peran yang terjadi pada individu rawan berdampak negatif pada kehidupan diri dan pencapaian keberfungsian sosial. Setiap individu mengalami konflik peran, terutama pada generasi sandwich. Generasi sandwich menjalankan berbagai peran atau mengalami konflik peran, yang tentunya dapat berimplikasi pada kehidupan mereka, salah satunya dalam mencapai kebefungsian sosial. Penelitian ini membahas mengenai konflik peran yang dihadapi oleh generasi sandwich dalam mencapai keberfungsian sosial, dampak yang ditimbulkan serta mengungkap alternatif solusi bagi generasi sandwich dalam mencapai keberfungsian sosial mereka. Dengan menggunakan metode deskriptif dan pendekatan kualitatif, pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik peran yang dijalankan oleh generasi sandwich menyebabkan tidak dapat terpenuhinya keberfungsian sosial. Diperlukan adanya intervensi untuk memulihkan keberfungsian sosial generasi sandwich melalui pekerja sosial dengan berbagai praktik yang dapat digunakan pada level individu, keluarga, dan lingkungan kerja
TATA KELOLA PROGRAM PENGENTASAN KEMISKINAN (Studi Kasus Pogram BPNT di Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan)
Bentuk komitmen pemerintah dalam upaya perlindungan sosial bagi keluarga miskin adalah diluncurkannya program bantuan pangan. Salah satu skema yang dikembangkan pada prorgam bantuan pangan tersebut adalah Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Penelitian ini dilaksanakan bertujuan untuk menganalisis tata kelola BPNT bagi keluarga miskin di Kabupaten Bone Provinsi Sulawes Selatan. Sumber data dalam penelitian adalah paara pemangku kepentingan dari unsur dinas sosial, perbankan, pengelola program, pendamping, dan penerima bantuan pangan; yang keseluruhan berjumlah 30 orang. Untuk memperoleh data dan informasi, digunakan metode wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, studi dokumentasi, dan observas lapangan. Data dan informasi yang telah dikumpulkan dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa tata kelola bantuan pangan non tunai di Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan belum optimal. Beberapa kondisi yang mempengaruhi, yaitu validitas data lemah, pengendalian kurang efektif, koordinasi masih terbatas, ada konflik kepentngan dan kurangnya kompetensi pendamping. Berdasarkan hasil penelitian, untuk mencapai optimalisasi tata kelola BPNT, maka validitas data perlu diperbaiki, peningkatan pengendalian, mengoptimalkan koordinasi, penegakan sanksi untuk mereduksi konflik terjadinya kepentingan dan pelatihan bagi pendamping.Kata kunci: kemiskinan, bantuan pangan, pendampingan, perlindungan sosial
MAS KLIMIS (MASYARAKAT PEDULI IKLIM YANG HARMONIS) KENDARAAN PT PJB UP GRESIK DALAM MEWUJUDKAN TUJUAN SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs)
Isu lingkungan menjadi persoalan serius di berbagai negara di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Penanganan lingkungan tidak dapat hanya ditangani oleh satu pihak, baik hanya pemerintah saja, atau masyarakat sendiri. Upaya mengatasi isu lingkungan perlu melibatkan berbagai pemangku kepentingan, tidak terkecuali pihak industri atau perusahaan melalui tanggung sosial perusahaan. Beberapa pihak yang dapat dilibatkan menangani persoalan lingkungan adalah pemerintah, perusahaan atau swasta, perguruan tinggi, media, dan masyarakat. Proses penanganan dapat dilakukan melalui membangun kesadaran bersama, melakukan kajian serta aksi bersama, serta melakukan monitoring dan evaluasi bersama. Keikutsertaan dan keterlibatan para pemangku kepentingan dalam proses penanganan isu lingkungan menjadi hal penting. Proses partisipasi tersebut akan membangun karakter berdaya masyarakat sehingga pada akhirnya akan membangun kemandirian dan kesinambungan pengelolaan, dimana hal tersebut akan terwujud melalui manfaat ekonomi, sosial, dan ekologi bagi masyarakat sekitar dan keseluruhan pemangku kepentingan. Pemeliharaan kemandirian merupakan tantangan tersendiri, bahkan merupakan sesuatu yang harus dipertahankan. Environmental issues are a serious problem in various countries in the world, including Indonesia. Environmental management cannot only be handled by one party, either only the government, or the community itself. Efforts to overcome environmental issues need to involve various stakeholders, including the industry or companies through corporate social responsibility (CSR). Several stakeholders who can be involved in dealing with environmental issues are the government, companies or the private sector, academics, the media, and the community. The treatment process can be carried out through building mutual awareness, conducting joint studies and actions, and conducting joint monitoring and evaluation. The participation and involvement of stakeholders in the process of handling environmental issues is important. The participation process will build the empowered character of the community so that in the end it will build independence and sustainable management, where this will be realized through economic, social, and ecological benefits for the surrounding community and all stakeholders. Maintaining independence is a challenge in itself, even something that must be maintained
FAKTOR INDIVIDU DAN LINGKUNGAN SOSIAL SEBAGAI PENYEBAB PERILAKU SEXTING DI KALANGAN REMAJA
Perilaku sexting didefinisikan sebagai kegiatan mengirim atau menerima konten seksual secara eksplisit melalui pesan teks, ponsel pintar, serta media sosial dalam bentuk kata-kata, gambar maupun video. Perilaku ini merupakan jenis permasalahan sosial dengan media baru melalui teknologi internet, yang memberikan dampak negatif pada aspek keberfungsian sosial individu terkait, yakni remaja. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor individu dan lingkungan sosial sebagai penyebab perilaku sexting di kalangan remaja. Pendeskripsian diawali dengan penjabaran mengenai perilaku sexting di kalangan remaja, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai faktor individu dan faktor lingkungan sosial sebagai penyebab perilaku sexting di kalangan remaja. Metode pengkajian ini menggunakan studi literatur dalam kerangka perspektif ekologi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab perilaku sexting dipengaruhi oleh dua faktor utama. Pertama, faktor individu yang berkaitan dengan kondisi biologis, psikologis, dan spiritual remaja. Kedua, faktor lingkungan sosial yang berupa variasi dan pola interaksi keluarga, pola hubungan dengan teman sebaya dan pasangan, serta kondisi masyarakat dimana remaja tersebut tinggal
SISTEM DUKUNGAN SOSIAL BAGI KORBAN EKSPLOITASI SEKSUAL KOMERSIAL ANAK (ESKA)
ABSTRAKFaktor-faktor resiko seperti perlakuan salah, kegagalan di bidang akademik, tidak mendapatkan dukungan dari keluarga, pergaulan teman sebaya, kurangnya kelekatan dengan figure orang tua dan pengalaman hubungan seksual di usia dini merupakan faktor yang membuat seseorang rentan menjadi korban Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA). Trauma yang didapat setelah menjadi korban serta lingkungan yang berisiko bisa berdampak negatif pada perkembangan biopsikososialnya. Artikel ini berfokus pada upaya membangun sistem dukungan sosial sebagai metode intervensi untuk meminimalisasi faktor risiko dan meningkatkan faktor perlindungan. Studi literatur tentang ESKA ini menggunakan model sosial ekologi untuk mengetahui peran keluarga atau pengasuh, komunitas, serta budaya dan masyarakat luas sebagai sistem dukungan sosial bagi korban. Hasil kajian menunjukkan bahwa system penerimaan, system perlindungan, dan system pemberdayaan merupakan kunci dari dukungan sosial bagi korban ESKA. Sinergi yang baik antara ketiga tingkatan sistem dapat memberikan hasil yang maksimal. Pekerja sosial dibutuhkan sebagai supervisi yang bisa meningkatkan kualitas dan keberlanjutan dukungan sosial. ABSTRACT Risk factors such as maltreatment, academic failure, less support from family, friendship, less attachment with parent and sexual relationship experience in early age are factors which make someone vulnerable to be a victim of Commercial Sexual Exploitation of Children (CSEC). Trauma that they got after becoming the victim and risky environment can negatively affect the child’s biopsychosocial development. This article focuses on the attempt to build a social support system as an intervention method to minimzr the risk factors and increase the protective factors. This literature review on CSEC uses the social ecological model to know the roles of family or caregiver, community, and culture and society as a social support system for the victim. The result shows that acceptance, protection, and empowerment are the keys to social support for victims of CSEC. Good synergy between three levels of the system can create a maximal result. Social worker is needed as a supervisor to enhance the quality and sustainability of the social support