Antropologi Indonesia
Not a member yet
571 research outputs found
Sort by
A Trust Theory Analysis of Two Ideologies Part 2: Priyayi
Tulisan ini merupakan bagian kedua dari dua seri tulisan yang mengulas ideologi Guanxi pada masyarakat keturunan Cina dan Priyayi pada masyarakat Jawa bertolak dari kajian mengenai teori 'kepercayaan' (trust theory). Dalam seri kedua ini, penulis membahas bagaimana ideologi Priyayi mempengaruhi perilaku ekonomi masyarakat Jawa, serta implikasinya pada hubungan ekonomi berdasarkan kepercayaan di dalam kelompok dan antarkelompok. Sebagai acuan komparatif, akan diulas perbedaan kedua macam ideologi-Guanxi dan Priyayi-dalam kaitannya dengan perilaku ekonomi dari masyarakat keturunan Cina dan Jawa, serta bagaimana keduanya bersaing dalam ekonomi global
Menolak Instrumentasi Negara: Ruang Gerak Pesantren dalam Otonomi Daerah
The implementation of local government policies during the New Order era has weakened Pesantren as local and Islamic education institution. The weakening is due to, firstly, the instructive position of central government to its local subordinates implying that this later apparatus be the instrument of gaining its target. Secondly, the head of local government as solely powerful figure in local structure has been decisive in many local policies. This local political situation has also implied a centralization of Islamic education policies during the era. The discussed cases of two Pesantren in two different districts in this article reveal that regional autonomy will be presumably strengthening this Islamic education institution
Ecotourism and Environmental Conservation in Western Flores: Who Benefits?
Artikel ini membahas tentang perhatian pemerintah pusat dan daerah dalam mempromosikan ekowisata sebagai alat untuk mempertahankan sumberdaya hutan di Taman Wisata Alam Ruteng, Flores bagian Barat. Ada beberapa perbedaan pemikiran tentang 'pengguna' Taman Rekreasi Nasional, yakni: turis domestik, turis asing dan penduduk desa yang tinggal di sekitar hutan. Tulisan ini mengulas pencabutan hak milik tanah nenek moyang penduduk lokal oleh pemerintah dengan menggunakan wacana 'konservasi'. Penduduk lokal dipersepsikan bukannya sebagai pengguna yang produktif atau konservator, melainkan sebagai 'pengrusak' hutan. Sejarah marginalisasi penduduk lokal terhadap tanah mereka yang berkelanjutan mulai dari zaman kolonial sampai Era Orde Baru dan Reformasi akan dibahas agar peran konservasi dan ekowisata ditinjau kembali
Incorporation and Resistance: Border-Crossings and Social Transformation in Southeast Asia (Review Article)
Walau merupakan kajian yang relatif baru, para ahli antropologi semakin menyadari bahwa perbatasan merupakan laboratorium perubahan sosial dan kebudayaan yang penting. Tidak ada kawasan lain tempat berlangsungnya kontradiksi yang tajam dalam hal representasi komuniti lokal. Seperti di kawasan perbatasanlah ditemukan kelompok-kelompok minoritas. Para ahli antropologi yang mempelajari perbatasan, termasuk di Borneo dan Laut Sulu, sangat menaruh perhatian pada proses inkorporasi komuniti-komuniti perbatasan itu kedalam negara-bangsa, dan masyarakat-global. Tulisan ini bermaksud mendiskusikan sebuah konsep yang koheren tentang batas dan daerah perbatasan, serta mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan penelitian dan agenda studi perbatasan di masa depan. Penulis mengemukakan sebuah argumentasi bahwa masa depan dari studi perbatasan bertumpu pada kajian tentang sejarah komuniti-komuniti yang terpinggirkan, misalnya masyarakat Iban, Bugis, dan Orang Laut. Diulas pula cara komuniti-komuniti perbatasan itu memberikan makna dan bentuk pada transformasi ruang di kawasan perbatasan. Dimensi kesejarahan dan sejarah lisan perlu pula memperoleh perhatian dalam studi komuniti-komuniti perbatasan
Teater Mamanda dan Pendefinisian Kembali Identitas Banjar
This article examines notions of identity in the context of Mamanda, a traditional theatre in Banjar, South Kalimantan. The author Mamanda as a cultural symbol and describes the formulation of its identity using a semiotic approach whereby identity is conceived as a part of a binary composition fluctuating between the opposing notions of 'us' and 'other'. This is illustrated in the oppositions between the theatre's community and the state, individuals and the state, and the contradictory oppositions between the community members within Mamanda itself. This article demonstrates that identity is continually reformulated and is linked to political interests such as regional autonomy
Multiculturalism in Island South-East Asian
"As postcolonial nations, the boundaries of countries in island Southeast Asia were determined and delineated by the respective colonial administrations prior to political independence. Consequently, the territorial boundaries approximately correspond with the territorial limits under colonial tutelage. Within these territories are to be found indigenous colonized population and resident immigrant populations encouraged by the economic opportunities provided by colonization. As postcolonial nations, these countries are unavoidably 'multiracial' or 'multiethnic', and thus 'multicultural', by their colonial legacies. Each of these countries has transformed this demographic and geographic reality into part of the national ideology and political practice, in respective ways that are historically over determined. This paper will attempt to place these three cases within a larger theoretical framework of multiculturalism and call for political adjustments in the three polities.
Bhinneka Tunggal Ika: Keanekaragaman Sukubangsa atau Kebudayaan?
In this article, the author presents his thoughts on cultural diversity as the motto of Indonesia nation, on the basis of the ideology of 'Unity in Diversity' (Bhinneka Tunggal Ika). The author has a notion that the meaning of bhinneka tunggal ika was emphasized as ethnics' diversity during New Order (Orde Baru) and Habibies rezim era. It represents the consequence of ethnical politics with plural society model used by the regimes. The fall down of the New Order regime, caused any social conflicts and national disintegration especially in a period of Habibie governance. To rebuild social solidarities and the Indonesian national integration, the author offers model of multiculturalism in comprehending bhinneka tunggal ika which emphasizing equal cultural diversity. The author stresses that the model of multiculturalism only possible exist and expand in societies which uphold principles of democracy, justice supremation of law, and also eradication of corruption and collusion
‘Non-Western’ Studies of Cyberspace Identity Formation
Artikel ini berupaya menyimpulkan implikasi terhadap penelitian-penelitian antropologi terkini tentang identitas di dunia cyberspace, di luar Barat. Penelitian-penelitian ini, sebagian besar di antaranya berfokus pada formasi sosial di luar Indonesia, dikelompokkan berdasarkan pada: yang relatif telah terbentuk, yang lebih marjinal atau dunia 'keempat', dan diaspora. Dinamika yang dilaporkan dalam penelitian-penelitian ini dibandingkan dan dipertentangkan dengan dinamika Barat dalam 'Introduction'. Ketidakhadiran identitas personal dalam penelitian identitas-cyber di dunia Barat juga ditampilkan, dengan beberapa kewaspadaan. Ditempatkan dalam konteks isu yang akhir-akhir ini diberi label 'globalization' dan 'manifesto' antropologi cyberspace dari Arturo Escobar, permasalahan teoritis ini kemudian dihubungkan dengan pemunculan penting open computing pada bangsa-bangsa di luar Barat seperti Indonesia
Recent Information Technology Events in the West: A Memorial for the Economy Formerly Known as ‘New’
Pembahasan informal ini ditujukan pada mereka yang tertarik untuk menerapkan perspektif antropologi ke dalam dunia cyberspace di Indonesia. Termasuk di antaranya adalah permasalahan praktis pembangunan mandiri mengenai hubungan ekonomi jangka panjang. Pembicaraan dilakukan dalam bentuk eulogi atau memorial yang ditujukan pada apa yang disebut 'ekonomi baru', yang sekarang dianggap mistis. Tema yang penting digarisbawahi adalah bahwa perkembangan ekonomi Amerika yang berdasarkan teknologi sesaat ini tampaknya tidak akan dapat memperlihatkan keperkasaannya dalam mencapai kebangkitannya kembali, baik dalam jangka waktu pendek maupun menengah. Pendapat ini kemudian dijabarkan dengan memperlihatkan hubungan antar 4 (empat) gejolak perekonomian baru yang muncul mendadak dalam perusahaan Internet, telekomunikasi, pendidikan online, dan sektor keuangan di perekonomian Amerika. Perhatian lebih ditujukan pada pertarungan antar para pemilik, serta pendekatan terbuka pada komputasi. Hal yang terakhir ini menawarkan basis bagi pendekatan berbeda untuk cyberspace, yang secara kuat menggunakan perspektif antropologi
Keragaman dan Persatuan Masyarakat di Witihama, Adonara
For fourteen months in 2000-2001, I conducted a research in the District of Witihama, eastern Adonara. Witihama is a religiously mixed community, made up of Muslims and Catholics. However, both groups also practice blood sacrifice and carry out ceremonies required by adat. Muslims and Catholics are closely related by ties of marriage and descent. In the recent historical past, as well as in the ancient legendary past, the community has a remembered history of bloody warfare and murder, not linked to questions of modern religious allegiances, which provide incentives to take precautions to maintain community harmony and peace. Mindful of sectarian conflict elsewhere in Indonesia, Catholics and Muslims maintain close ties of cooperation and solidarity. On holidays like Christmas, Easter and Idul Fitri, for example, they hold community meetings to express mutual friendship. Members of the District have suffered from conflict elsewhere in Indonesia, for example during the fighting between Suku Batak and the 'Flores people' in 1999 in Batam, in the Moluccas and in the violence inDili, East Timor. Refugees from these other conflicts came and went while I was there. There have been attempts at sectarian provocation in Witihama by people from elsewhere in the past, leading to their expulsion. There was an unexplained incident in which a hand grenade exploded in Witihama killing one child and injuring two others, causing considerable consternation within the community. Rumors of plans to bomb the Catholic Church were taken seriously. Efforts to place East Timorese refugees in the Kabupaten of Flores Timur were strongly resisted on grounds of safety and local peace. Finally the national move toward regional autonomy led to Witihama becoming a separate Kecamatan and resulted in moves to turn Flores and Lembata into a separate Province