Antropologi Indonesia
Not a member yet
    571 research outputs found

    A New Archipelago Concept for the Era Reformasi?

    No full text
    Sejak awal berdirinya, Indonesia telah dibentuk berdasarkan gagasan bahwa 'kebudayaan nasional' dan 'identitas nasional' harus lebih diutamakan daripada identitas kesukubangsaan. Pemerintah Orde baru berusaha menciptakan 'kesatuan dalam keragaman' ini tidak hanya melalui Pancasila, tetapi juga melalui 'konsep kepulauan' (wawasan nusantara) dan 'azas kekeluargaan'. Dengan berakhirnya Orde baru, adakah cara untuk mengubah konsep-konsep ini, sehingga warga Indonesia dapat berpikir tentang diri mereka sebagai anggota suatu masyarakat nasional yang bersifat transethnic dan transreligious? Dalam tulisan ini, penulisnya berargumentasi bahwa jawaban untuk pertanyaan ini adalah 'ya'. Dengan mengilustrasikan kenyataan identitas gay dan lesbian berdasarkan penelitiandi Makassar, Surabaya dan Bali, penulisnya menunjukkan bahwa berbeda dari identitas seksual yang bersifat 'lokal' seperti bissu atau warok-gemblak, kaum gay dan lesbi Indonesia berpikir tentang diri mereka sebagai anggota dari suatu masyarakat yang tersebar luas keseluruh negeri 'gaya nusantara', termasuk laki-laki dan wanita dari berbagai latar belakang etnis dan agama. Contoh-contoh etnografis dari kehidupan sehari-hari kaum laki-laki gay dan wanita lesbian memperlihatkan bahwa walaupun perilaku para individu ini seringkali dikatakan bertentangan dengan kebudayaan Indonesia, dalam kenyataannya, perspektif dan perilaku mereka merupakan contoh dari 'kebudayaan Indonesia'. Mereka memiliki perspektif 'wawasan nusantara' sesuai dengan konsep pemerintah dan menggunakannya dengan cara-cara yang sebenarnya tidak diharapkan oleh pemerintah. Konsep nasionalisme Indonesia telah ditransformasikan dengan cara-cara yang tidak direncanakan sejak masa Orde Baru, dan akan terus berlanjut pada era reformasi. Dalam tulisan ini diketengahkan juga cara kaum gay dan lesbi memodifikasi 'prinsip kekeluargaan' ciptaan Orde Baru yang memungkinkan mereka diterima sebagai anggota masyarakat nasional yang baru

    Meninjau Kembali Universalitas Nilai-Nilai Dunia

    No full text
    "Dalam beberapa tahun terakhir, istilah multikulturalisme terasa semakin populer di Indonesia. Diskusi dan seminar tentang multikulturalisme muncul di beberapa kota besar di Jawa diantara kalangan yang berbeda-beda. Walau demikian, hal itu ternyata tidak selalu dibarengi dengan pemahaman yang jelas tentang apa multikulturalisme itu sendiri. Multikulturalisme ternyata masih sering disamakan dengan pluralisme. Untunglah, kini telah terbit dua jilid buku berjudul Etika Terapan: Sebuah Pendekatan Multikultural. Meskipun fokus dua buku itu pada masalah etika, namun karena pendekatan yang digunakan adalah multikultural, maka uraian teoretis tentang konsep multikultural lantas menjadi sebuah keharusan, dan buku ini telah menampilkannya dengan baik. Buku yang merupakan kumpulan tulisan berbagai ahli ini dibuka dengan sebuah tulisan filosofis mengenai persoalan-persoalan di seputar etika, terutama perbenturan atau tarik-menarik antara etika sosial dan etika individual, sebagaimana tercermin dalam wacana tentang etika di Barat. Perdebatan mengenai hal ini bertambah hangat ketika dunia Barat mulai mengenal dunia yang lain, dunia 'the Other' (entah itu yang bernama Islam, Timur, negara ketiga, Negara berkembang, atau yang lain), dan menyadari bahwa Barat harus hidup berdampingan dengan 'Yang Lain' tersebut. Kenyataan ini akhirnya memaksa Barat untuk berusaha mengenal 'Yang Lain' di luar dirinya. Bukankah mengenal yang lain juga bagian dari proses mengenal diri sendiri?

    Revitalisasi Lembaga Adat dalam Menyelesaikan Konflik Etnis Menghadapi Otonomi Daerah: Studi Kasus Pulau Bangka

    No full text
    "Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji dampak otonomi daerah terhadap identitas lokal. Sebagaimana terlihat dari kasus Sampit di Kalimantan Tengah, otonomi daerah terkait dengan munculnya identitas putra daerah. Kasus yang dibahas dalam tulisan ini berkaitan dengan pembentukan Provinsi Bangka-Belitung (Babel) yang mengakibatkan munculnya identitas putra daerah di kalangan orang Melayu di Bangka-Belitung. Dalam tulisan ini, saya menganalisis sejauhmana lembaga hukum adat dapat menyajikan solusi untuk mengatasi konflik etnis yang sedang terjadi di Bangka Belitung.

    Connectionism: Alternatif dalam Memahami Dinamika Pengetahuan Lokal dalam Globalisasi

    No full text
    The fate of indigenous knowledge systems has become the concern of many in an era of globalization. These knowledge systems are said to be under the threat of extinction, to be replaced by 'Western', 'scientific', or 'global' knowledge. The author contends that these concerns are more rooted in an overly essentialist attitude that pits the 'local' against the 'global'. He argues that the dynamics of knowledge systems must be better understood using a model of knowledge best suited for this purpose. He further argues that the most promising model is the one based on connectionism and developed by cognitive anthropologists. Drawing examples from the experience of farmers in Lampung, he shows how individuals combine stimuli from various sources to form schemas, thus showing the irrelevance of making hard distinctions between the 'local' and the 'global'

    Alif Lam Mim: Kearifan Masyarakat Sasak

    No full text
    "Alif Lam Mim: Kearifan Masyarakat Sasak, demikian judul yang digunakan dalam versi bahasa Indonesia. Buku ini merupakan terjemahan dari tesis John Ryan Bartholomew yang diajukan sebagai bagian dari persyaratan untuk mendapatkan gelar Doctor of Philosophy pada Department of Anthropology, Harvard University. Judul asli buku ini adalah Alif Lam Mim:Reconciling Islam, Modernity and Tradition in an Indonesian Kampung...[...] Anak judul 'Kearifan masyarakat Sasak' seakan-akan membawa kita pada kondisi masyarakat Sasak yang arif dan 'harmonis'. Padahal yang digambarkan dalam buku ini adalah hubungan yang saling bertentangan antara tema Islam, modernitas, dan tradisi yang dibingkai dengan kebijakan politik pemerintah Orde Baru.

    Menjadi Perempuan di dalam Sinetron: Kekinian Femininitas

    No full text
    The article depicts the representation of contemporary women in Indonesia using sinetron or soap opera. Representation of women has been in intrigue issue since in the New Order, women have been one of several important issues. Since the tumbling down of the New Order, market has been an important mechanism of dissemination of culture, and the representation of Indonesian women is one of the icon of the media. The most obvious visualization if women not only as victim of violence but also the doer of violence itself. Women is powerful, such representation is shown by widower, grown women toward powerless little girl. As such the sinetron is not a typical soap opera visualization that tends to visualizing romantic and sensual women. In general such representation is disadvantaging the position of women, as market becomes the powerful mechanism to disseminate such image. Women be cautious Keywords: Femininity, subordinate, culture, market.&nbsp

    Upaya Pencegahan Perceraian Berbasis Keluarga Luas dan Institusi Lokal dalam Masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat

    No full text
    Advisory Board Disputes Divorce dan Marriage (BP4) established government as part of effortsto reduce the divorce rate. But divorce continues from time to time and quantitatively increasingevery year, with a variety of result / impact there of. Prevention and mitigation of the problem of divorce can not be left to government officials just because the problem is multidimensional; social, cultural and moral. To overcome this problem must involve all the elements and social institutions in the local community.Keywords: Divorce, extended family, local institution

    Legal Pluralism in the Netherlands, the Case of Moluccan Pela Law

    No full text
    Pela adalah salah satu hukum adat di Indonesia, tepatnya hukum adat yang ada di Kepulauan Maluku yang berlaku pada orang-orang Maluku. Ada dua peneliti yang telah mengadakan penyelidikan secara mendalam tentang pela ini, yaitu C. Cooley dan D. Bartels. Cooley mengemukakan bahwa pela adalah suatu ikatan yang dilembagakan mengenai persahabatan atau persaudaraan antara semua penduduk pribumi dari dua desa atau lebih, yang dibentuk oleh nenek moyang menurut keadaan tertentu dan membawa kewajiban-kewajiban tertentu untuk semua pihak yang terkait didalamnya. Kewajiban ini penting dalam definisi ini mengenai eksogami desa. Bartel meninjau pola ini dari sisi sosialnya.[...] Aplikasi dari hukum adat pela dalam masalah perkawinan (intermarriage taboo) menimbulkan persoalan di antara para generasi muda Maluku di Negeri Belanda. Hal ini selanjutnya mengakibatkan konflik antara generasi tua dengan generasi muda. Di Negeri Belanda sendiri terdapat pluralisme hukum, ialah hukum yang resmi dan hukum yang kurang resmi yang berlaku diantara berbagai subgolongan yang ada. Salah satu subgolongan yang menerapkan hukum demikian adalah golongan pendatang Maluku di Negeri Belanda yang menerapkan adat pela dalam kelompok masyarakat mereka sendiri

    Menghuni Lumbung: Beberapa Pertimbangan Mengenai Asal-Usul Konstruksi Rumah Panggung di Kepulauan Pasifik

    No full text
    The architecture of stilt house - as the form of traditional house - in pacific region shows some basic similarities. House constructions that consist of bottom structure-primary structure - top structure are in accordance with cosmic classification, i.e. lower world - human world - upper world. In this comparative study, the author tries to show that stilt-house basically is the development of granary architecture. In many societies granary is a sacred place where occasional rituals are undertaken. The couch underneath the granary is often used for activities even for living places. The author argues that formerly people lived in granary and then changed to be stilt-house. Using some examples from various ethnic groups in the Philippines, Japan, New Zealand and Indonesia he explains that the attic id a place for gods and sacred things

    Masyarakat Minahasa pada Abad ke–XIX: Sketsa Perubahan dan Transformasi

    No full text
    This article is concerned with social change and cultural transformation in Minahasa in the 19th century. These changes happened because of the introduction of new cultural traits from outside Minahasa by the Dutch, Moslem traders, Christian evangelist, etc. the author claims that agricultural transformation is the main modality of the changes. The domestication of plants, i.e. rice and coffee, introduces by the Dutch East Indies Company (VOC)became important commodities that were made in order to secure sufficient rice supply for their soldiers in the Moluccas. In the 1850s coffee became the main cash crop for Dutch trading through Culture System, which forced the Minahasans to expand their lands and planted it with coffee. The second part of 19th century marked the institutionalization of Christianity, the fusion of districts which formerly were the traditional political units, the bureaucratization of (traditional) local government with the appointment of civil servants, and the introduction of formal education.&nbsp

    0

    full texts

    571

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Antropologi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇