Antropologi Indonesia
Not a member yet
    571 research outputs found

    Manusia dan Kebudayaan Kaili di Sulawesi Tengah

    No full text
    In this article, the author describes the ethnography of the To-Kaili, the largest ethnics group in Central Sulawesi. To-Kaili had an important historical role in the period of Dutch colonization. At least four kingdoms tried to rebel against Dutch rule namely Moutong, Banawa, Sigi, and Kulawi. The author goes on to discuss the "modal personality" of Kaili people which covers social and religious life, ethos, language, art and literature.  In the last section, he tries to predict how those people will face changes in the near future

    To-Kaili (Orang Kaili)

    No full text
    "...[...] Orang Kaili mengidentifikasi diri sebagai To-Kaili karena adanya persamaan dalam bahasa dan adat istiadat leluhur yang satu dipandang menjadi sumber asal mereka, bahasa Kaili dalam arti lingua-franca dalam kalangan semua To-Kaili, digunakan secara umum. Di samping itu terdapat banyak dialek bahasa Kaili yang juga menjadi identifikasi (seringkali tajam) dari subkultur atau subetnik To-Kaili yang berdiam pada wilayah-wilayah yang seringkali masih sangat terisolasi.

    Sumbangan Pendekatan Antropologi Hukum terhadap Pengkajian Wanita (Suatu Pengalaman Penelitian mengenai Peranan Wanita Batak Toba dalam Upaya Menyelenggarakan Kesejahteraan Sosial)

    No full text
    This article had the aim to show in what way legal anthropological approach can contribute to the development of a field now know as women's studies. What will be explained is the potentiality of yielding rich and valuable data regarding women's issues when the methods developed in anthropological fieldwork are being used in research. The writer illustrate her points by describing her study, conducted in three villages in vicinity of Tarutung, North Sumatera

    Anthropology, Development and the Post -Modern Challenge

    No full text
    "... [...] Sesuai dengan judul buku, tidak hanya refleksi terhadap pembangunan itu sendiri yang menjadi fokus kajian, tetapi juga apa yang telah dilakukan oleh para ilmuwan antropologi dalam hubungannya dengan domain pembangunan tersebut. Inilah buku pertama sejak karya Lucy Mair (1984), Anthropology and Development, yang secara khusus dan komprehensif menyajikan dan mengulas sejarah perkembangan dari pelbagai pendapat, debat, tindakan dan permasalahan selama terjalinnya hubungan antara pelaku-pelaku pembangunan dan ilmuwan-ilmuwan antropologi sejak awal mula hingga masa kini. Termasuk di dalamnya kurun waktu selama dasa warsa terakhir, yakni suatu periode berlangsungnya refleksi diri yang intensif dikalangan ilmuwan antropologi dan ilmu-ilmu sosial yang lain. Inilah saat-saat berlangsungnya debat sekitar masalah pasca-modernisme (post-modernism) yang muncul pertama kali pada akhir tahun 1980an dan awal 1990an.

    Social Security in Comparative Perspective: Moslem Moluccans in the Netherlands and on Ambon - a Research Note

    No full text
    Keamanan sosial merupakan satu bidang yang kini banyak menjadi perhatian ahli antropologi hukum. Dalam artikel ini, penulis menyajikan hasil penelitiannya tentang studi perbandingan pada sistem-sistem keamanan nasional dari penduduk Maluku Tengah yang memiliki latar belakang kebudayaan dan agama yang sama, tetapi yang bermukim di dua Negara yang berbeda: Indonesia dan Belanda. Keamanan sosial mengacu pada mekanisme yang menjamin diperolehnya kesempatan untuk hidup yang layak, baik bagi orang-orang dewasa yang sehat dalam satu komuniti maupun bagi mereka yang tidak dapat menyajikan hal itu untuk dirinya sendiri. Dalam artikel ini penulis menunjukkan bagaimana bentuk-bentuk keamanan sosial dalam komuniti yang berbeda terwujud karena pengaruh kondisi sosial dan ekonomi yang berbeda pula. &nbsp

    Modal Personality Orang Kaili

    No full text
    "...[...] Modal personality (perasaan kepribadian) To-Kaili sangat kuat terbentuk oleh ajaran Islam, yang memberikan warna kepada sektor-sektor kehidupan lainnya, yang berkembang dalam masyarakat, sampai pada zaman mutakhir. Perasaan kepribadian yang demikian itu dirasakan merusak kedalam lembaga-lembaga kemasyarakatan; ekspresi kesenian dan kebudayaan pada umumnya. Wawasan kebangsaan yang bertemu ke nusantara pun mendapatkan kekuatan dari perasaan kepribadian yang demikian itu adanya.

    Dinamika dan Perubahan Sosial (Kasus Orang Melayu di Sumatera Timur)

    No full text
    Both ecological and population changes are important factors to encourage social and cultural changes in a society. Such changes might not be absorbed and accepted if it against community cultural values and it might raises and inner obsession. Hence, it leads missing cultural ethos and identity in society. This article elaborates those problems - from historical perspective - with a case of Malay people In East Sumatera. The ecological and population changes have happened since 19th century when Dutch founded wide plantations. With coming of various ethnic groups to East Sumatera, it insisted Malays to be minority in terms of occupation, political government, business and number of population especially in urban areas. It occurred necession and indifferent attitude (apathy) of Malay towards the fast changes.&nbsp

    The Social Relationship between Different Races in a Colonial City: Through the Eyes of a Chinese Woman

    No full text
    Artikel ini membahas hubungan-hubungan sosial antar berbagai kelompok ras di Medan pada zaman penjajahan Belanda di awal abad ini. Pembahasan ini berdasarkan pandangan seorang wanita Cina dari golongan elit yang bernama Queeny Chang melalui bukunya "Memories of a Nyonya". Untuk golongan elit, hubungan antar ras di medan pada waktu itu cukup banyak frekuensi interaksinya (Belanda, Cina, Melayu). Golongan Belanda yang paling berkuasa adalah kelompok acuan (reference group) bagi golongan-golongan ras lainnya, dan mereka berusaha keras untuk meniru gaya hidup golongan tersebut. Akan tetapi interaksi sosial antarberbagai kelompok ras di kalangan elit ini sangat berbeda dengan kelas-kelas sosial lainnya, yang justru hidup dalam keadaan segregasi

    Kesukubangsaan dan Primordialitas: Program Ayam di Desa Mwapi, Timika, Irian Jaya

    No full text
    In this article, Suparlan uses both concepts of ethnicity and primordialism in explaining the failure of Poultry Farming Assistance Program carried out by the local office of the general of Animal Housebandry in Mwapi Villlage, Irian Jaya. Among the Komoro's who live in this village are divided into two clans: Muare and Pigapu. Their culture is called Ndaitita which mainly based on egalitarianism. They do not have a formal social stratification. Each person perceived as atomistic individual. Concepts of state and larger societies do not exist in Komoro's culture. Their social relations base on family and clan. When the head of Mwapi villages had task to coordinate the chicken program, he only recruited the persons from his clan: Muare. According to Suparlan, the heads start his ethnicities in forming make this group. But the programs started to ruin when the group had to work together. Komoro' peoples are very individualistic. So, the programs had failure. To cover up these problems, Chief starts his primordialism as the core beliefs

    Kepercayaan Orang Bali terhadap Leyak sebagai Penyebab Penyakit dan Penanggulangannya

    No full text
    The Balinese believe that Leyak or ghost is an etiology of illness. To become a Leyak or to ngleyak, one must perform black magic or pangleyakan. The method of obtaining the pangleyakan is by studying under a dukun pangleyakan or dukun pangiwa, a special indigenous medical practitioner who masters the pangleyakan. A person can also obtain the pangleyakan from his/her parent. Moreover, he or she can request the pangleyakan to Goddess Durga, the goddess of black magic. When pangleyakan is used by somebody, he/she becomes a Leyak, and will have the ability to take the shape of a certain animal, a ghostly light, a body without a head - the varieties are endless. This can only be performed at night. A Leyak disturbs other people until they are sick or even die. Nevertheless, they believe that they can cope with the Leyak through the use of amulet or by performing the magical religious ritual

    0

    full texts

    571

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Antropologi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇