Antropologi Indonesia
Not a member yet
571 research outputs found
Sort by
Multiple Codes and Multiple Identities in a Multicultural Society
Kajian alih kode dalam peristiwa tutur digunakan penulis untuk mengungkapkan hubungan yang kompleks antara penutur dengan pendengarnya. Alih kode memperlihatkan penggunaan footing, dan ia juga bersinggungan dengan aspek-aspek identitas, seperti sukubangsa, kelas sosial, jender, dll. Kajian dilakukan baik pada tataran mikro maupun makro. Pada tingkat mikro diperlihatkan bagaimana alih kode yang merupakan bagian dari penutur (merupakan strategi komunikasinya), yang diterima oleh pendengar. Pada kajian tingkat makro, penulis mengungkapkan perilaku linguistik dan paralinguistik penutur yang dalam interaksi dapat mengungkapkan identitas
The Structural Analysis of the Hindi and South-East Asian Versions of the Indian Epic, the Ramayana: With Particular Reference to Hindi, Javanese, and Thai Versions
Penulis membahas tiga versi Ramayana; dari India, Jawa dan Thailand. Ketiganya dikaji dengan pendekatan strukturalisme Levi-Strauss yang melihat hubungan intrinsik dalam setiap versi narasi tersebut. Kemudian dilihat hubungan struktur di antara ke tiganya. Bertolak dari kajian itu, penulis menyimpulkan ada implikasi sosial-budaya di Asia Tenggara, yaitu 1) Ramayana dapat berperan sebagai mediator yang menghubungkan teks dengan konteksnya, 2) Ramayana juga berperan sebagai stimulasi untuk menguatkan sistem nilai dan menyatukan secara intrinsik sistem-sistem nilai yang ada dalam berbagai kebudayaan di Asia Tenggara
Siri’, Gender, and Sexuality among the Bugis in South Sulawesi
Tulisan ini mengkaji mengenai seks, gender, dan siri' dalam budaya Bugis. Tulisan memerikan bagaimana gender dan seksualitas dipengaruhi oleh norma-norma adat yang berasal daritradisi tulisan, pepatah dan nasihat, serta menunjukkan beberapa studi kasus hasil penelitian etnografi di Sulawesi Selatan. Siri' (kehormatan/rasa malu) merupakan sebuah konsep mendasar dalam kehidupan masyarakat Bugis. Bagi orang Bugis, perempuan dipandang sebagai simbol dari siri' keluarga dan berkaitan dengan konsep laki-laki yaitu ' bi' (perilaku yang tepat). Akibatnya, perempuan harus dipantau secara ketat dan perilaku mereka tidak hanya diawasi oleh orangtua, tetapi juga oleh anggota keluarga dekat dan jauh atau bahkan oleh anggota-anggota masyarakat sekitar, yang lebih tepat disebut sebagai tomasiri' (orang yang bertanggung jawab menjaga siri' keluarga). Kenyataan ini didukung oleh adat Bugis yaitu seorang perempuan harus selalu di bawah perlindungan seseorang. Jika ia lajang,berapa pun usianya, ia berada dalam pengasuhan dan perlindungan orangtuanya, saudara laki-laki (bila ada), dan/atau kerabat laki-laki lainnya; ketika ia menikah, ia berada dibawah perlindungan suaminya. Kekuasaan parental ditransformasikan menjadi kekuasaan konjugal dan dialihkan kepada suaminya. Tulisan ini menggali bagaimana siri' berinteraksi dengan dan memperkuat identitas-identitas gender dan hubungan kekuasaan yang membentuk seksualitas perempuan dan laki-laki Bugis. Key words: Siri'; gender; sexuality; the Buginese culture; social control
Struktural-Fungsionalisme
This article deals with the concepts of function and social structure, developed by two leading figures in British Social Anthropology, Radcliffe -Brown and Malinowski, before the Second World War. In this article, the author distinguishes Malinowski's concept of function from Radcliffe -Brown's, delineates Radcliffe-Brown's concept of social-structure and Evans-Pritchard's review of this concept. This article particularly intends to help the Indonesia students to study anthropological theory in their own language. Key words: organic analogy; social structure; institution; ideographic method
Antropologi Feminis: Etnografi, Relasi Gender dan Relativisme Budaya di Indonesia
"Antropologi feminis dewasa ini merupakan perkembangan dari antropologi wanita di tahun 1970-an. Jika antropologi wanita subyeknya adalah perempuan, maka antropologi feminis subyeknya bukan saja perempuan, tapi juga laki-laki. Ini karena pokok pembicaraan dalam bidang ilmu ini tidak saja 'untuk perempuan' (for women), tetapi juga berbicara secara ekstensif 'tentang perempuan' (about women). Para antropolog feminis kontemporer menunjukkan, bahwa gender merupakan konsep analitik yang penting (McGee dan Warms 1996:392). Istilah ini popular digunakan pada tahun 1980an, dan banyak ditemukan dalam tulisan-tulisan antropolog sosial dan budaya, yang digunakan untuk merujuk pada hubungan perempuan dan laki-laki, serta bagaimana konstruksi dari kategori ini (Pine 1996:253).
Memories of Migration: Butonese Migrants returning to Buton after the Maluku Conflicts 1999–2002
People from Buton, Southeast Sulawesi, have for centuries migrated to Ambon for work, there forming one of the most prominent communities of 'pendatang' along with the Bugis. Since the beginning of the recent conflicts in Maluku, official figures indicate that over 160,000people have returned to Buton (previous population 450,000) as refugees. This paper discusses the identity of these refugees and how the term 'refugee' may be misleading. Some of the 'refugees', who often ask to be referred to as 'returned migrants', had retained strong connections with their villages in Buton while they were living in Ambon. Their integration back into Butonese society after their flight from the conflict in Ambon poses, however, a number of serious challenges, especially for those born in Ambon. Having always been called 'Butonese' in Ambon, the returned migrants are often referred to as 'Ambonese' after their return to Buton and they often find it hard to adjust to life in Buton. This paper is based on fieldwork currently being undertaken in the village of Boneoge, Buton. I will discuss some aspects of the lives of the returned migrants in Buton, including their interactions with other Butonese people, as well as some of their perspectives on their own experiences. In Buton; perspectives on their identity are thus being expressed and contested through issues such as use of local languages, dance parties, and contested land rights. Their memories of life in Ambon, and of the conflict, also play a role in their constructions of identity, and in how they respond to challenges intheir lives in Buton now. Here memory is seen as a constructive process, which is culturally influenced, structured by narratives, and adapted to a context
Kekuasaan yang Bekerja Melalui Perlawanan: Kasus Penguasaan Hutan oleh Masyarakat dan Perusahaan
This article analyze model of resistance between the local community and private company withinspired to perspective of power relation. Analysis based on the research about forest tenure by the local community and private company in Praha Village, Jambi. The research inspired qualitative approach with methods of indepth interview and participatory observation. The local community and private company constitute stakeholders that have interest on the forest resources. Complexity of the stakeholders’s interest were expressed through models of the social relation that were conflict, collaboration, and resistance. Dynamics of the social relation are reality of the power relation. Resistance are strategy of power relation with special features that each other stakeholders focus on the strategy to realize the each other goals and indirectly to fail the strategy of others.Key words: Power, resistance, strategy of power, forest tenure, local community, private compan
The Islamization of Others’ Everyday Life: A Case from Yogyakarta
Tulisan ini mengkaji sikap penduduk desa -yang tinggal di suatu kampung di Yogyakarta-terhadap dakwah, dan bagaimana aktivitas-aktivitas penyebaran agama dimanifestasikan dalam kehidupan di desa. Penduduk desa ternyata enggan untuk menggunakan cara-cara langsung dalam melaksanakan dakwah, seperti mengunjungi penduduk desa yang tidak aktif guna mempengaruhinya untuk berpartisipasi dalam aktivitas keagamaan, dan menyarankan mereka untuk tidak melaksanakan perbuatan terlarang. Sebaliknya, merekacenderung untuk memberikan contoh melalui tingkah laku. Metode-metode dakwah yang toleran dan tidak bersifat langsung yang dikembangkan oleh Muhammadiyah, tidak adanya tokoh-tokoh agama yang otoriter, serta adanya norma-norma yang secara dominan melarang keterlibatan mereka dalam kehidupan orang lain, telah menunjang pembentukan sikap tersebut. Sikap ini memungkinkan dipertahankannya keharmonisan beragama, dan tidakmenyebabkan timbulnya tekanan dan perpecahan sosial sebagai akibat dari perbedaan agama. Tetapi, dengan kurangnya kesempatan untuk memperkecil perbedaan agama, perbedaan-perbedaan di antara orang-orang Islam dalam hal pandangan agamanya terasa lebih menonjol dalam kehidupan sosial, lebih dari masa-masa sebelumnya
Akar Kerusuhan Etnis di Indonesia : Suatu Kajian Awal Konflik dan Disintegrasi Nasional di Era Reformasi
This article explores the roots of riots that have occurred in several cities and places in Indonesia, the author assumes that the accumulative and chronic social - economic gap shrouded by the ethnic and religious factors, underlined the occurrence of riots in the early Indonesian reformation era (May 1995). The differences in gaining access to economic resources, as well as the discriminative policies of the New Order Regime, created a social-economic gap between the ethnic groups in Indonesia. While some groups had privileges and easy access to economic resources, other did not. As a consequence, some groups were subject to oppression and marginalized. The potential for conflict increased structurally as marginal groups used ethnicity and religious attributes in framing the social-economic gap between them and the advantage groups. From the functionalist viewpoints, ethnicity can be seen as an easy way to heighten solidarity among people. The riots could be legitimated by using cared religious symbols. The author argues that the conflict among ethnic groups increased as a 'cultural protest' to the government's discriminative policy. The conflict does not represent the people's desire to return to their 'tribal' culture. 
Pelayanan Kesehatan Pimer : Suatu Penilaian Sosial dari Sudut Pandang Antropologi Kesehatan
The failure of many social development programs, such as health improvement programs, is a common reality in developing countries. The author argues that the main source of the problems lies on government organizations as the agent for development. Through an examination of a number of models on the introduction of health care, the author shows that the ethnocentrism of health professionals with regard to the communication of innovations remains a problem. What is needed is a communication strategy that is culturally aware, that will allow for the adoption of new ideas and practices through a learning process that is in accord with the principles of the culture participations. That any adoption will be adopted and integrated with the cultural elements of the participants should be taken as a matter of course