Antropologi Indonesia
Not a member yet
    571 research outputs found

    Orang Asli and Melayu Relations: A Cross-border Perspective

    No full text
    Tulisan ini berupaya untuk mendokumentasikan perubahan-perubahan dalam hubungan sosial di antara suku bangsa Melayu di Semenanjung Malaysia dengan komuniti-komuniti Orang Asli. Dalam merekonstruksi kisah hubungan sosial itu, tulisan ini diawali dengan kajian tentang gerakan-gerakan pada masa prasejarah dan protosejarah dari nenek moyang Orang Asli dan Melayu. Orang Asli berasal dari wilayah tengah dan selatan Thailand. Orang Melayu berasal dari Taiwan dan berpindah menuju Semenanjung Malaysia melalui Philippina. Dikisahkan pula berlangsungnya 'gelombang' pertama, kedua, dan ketiga dari orang Melayu hingga akhirnya mereka memiliki dampak yang permanen di wilayah Semenanjung. Tulisan ini menyajikan peralihan hubungan di antara komuniti Orang Asli dan imigran Melayu dari Sumatera sejalan dengan perubahan nilai yang dimiliki orang Melayu terhadap Orang Asli dalam hal perdagangan internasional. Semula, Orang Asli sangat dibutuhkan dalam memungkinkan orang Melayu membangun pelabuhan yang berhasil di Melaka. Selama hasil-hasil hutan seperti damar, kayu cendana, dan rotan tetap diperlukan secara internasional, Orang Asli dihargai dan diterima oleh orang Melayu. Tetapi, dengan adanya perubahan dalam permintaan dari hasil-hasil hutan ke timah dan lada sejak abad keenambelas, dan beralih ke timah, karet, dan minyak kelapa sawit pada akhir abad kesembilanbelas dan abad keduapuluh, posisi Orang Asli menjadi semakin terpinggirkan. Perubahan itu juga tertuang dalam tradisi-tradisi lisan dan tertulis Orang Asli dan Melayu. Pada masa kini, Orang Asli mulai mengupayakan diperolehnya kembali penghargaan dan kerjasama yang sebelumnya telah menjadi karakteristik dalam hubungan sosialnya dengan orang Melayu. Walaupun prospek keberhasilan itu tidak cerah, kemajuan telah diperoleh dalam mempertahankan ide-ide tentang wilayah hunian dan keaslian mereka di Semenanjung Malaysia

    From Puiq (Silencing) to Politik: Transformations in Political Action and Cultural Exclusion from late-1990’s

    No full text
    Sejak berakhirnya masa kepemimpinan Suharto di Indonesia, pada bulan Mei 1998, media massa dan pemerintah memberikan perlakuan khusus kepada Bali. Di tengah konflik-konflik yang terjadi, Pulau Bali menjadi simbol keamanan dan kerukunan antarumat beragamadi Indonesia. Selama kurun waktu beberapa tahun selanjutnya yang penuh dengan konflik dan konspirasi, kelompok elit dari Ambon, orang-orang Kristen dari Lombok, orang-orang keturunan Cina dari Jakarta, para aktivis Timor Timur, dan puluhan ribu penggangguran dari Jawa mencoba mencari perlindungan di tanah Bali. Campur tangan para partisan partai di tingkat nasional memainkan peran yang penting dan tidak terhindarkan dalam mendefinisi ulang cara orang Bali merekonstruksi identitas budayanya yang amat kuat ditunjang oleh pariwisata dan strategi pembangunan selama Orde Baru. Sayangnya, proses rekonstruksi budaya ini tidak berjalan seperti yang diharapkan. Saat kesempatan untuk reformasi daerah atau partai politik muncul sebagai alternatif yang memungkinkan, eksklusivisme kedaerahan yang justru muncul

    Surviving Legend, Surviving ‘Unity in Diversity’: a Reading of Ken Arok and Ken Dedes Narratives

    No full text
    Tulisan ini mengkaji interpretasi-interpretasi ulang atas cerita Ken Arok dan Ken Dedes dalam drama yang ditulis oleh Muhammad Yamin, Ken Arok dan Ken Dedes (1928) dan Pramoedya Ananta Toer novel Arok Dedes (1999). Kedua teks ditafsirkan dengan berlatar belakang masalah-masalah di Indonesia saat ini, yaitu pelestarian ideologi nasional yang dirumuskan berdasarkan prinsip bhinneka tunggal ika. Pembahasan berkisar seputar alasan-alasan reproduksi narasi tersebut untuk melihat apakah beragam representasi yang terkandung di dalamnya merefleksikan ketegangan dalam sejarah, masyarakat, dan politik Indonesia. Yamin menjadikan kebudayaan Jawa sebagai dasar dari karyanya, sedangkan Pramoedya menggunakan bahan yang sama dengan beberapa pemikiran baru. Sementara fokus drama Yamin adalah pada kesatuan nasional, Arok Dedes karya Pramoedya menekankan pada sikap kritisnya terhadap kondisi politik. Dalam hal ini jelaslah, wacana seringkali mengabaikan kenyataan bahwa ide-ide lokal dibentuk sebagai tanggapan terhadap berbagai bentuk otoritas

    Internet Adoption and Use in the Indonesian Academy: Issues of Social and Institutional Hierarchy

    No full text
    Biasanya teknologi Internet dianggap sebagai alat teknologi informasi namun artikel ini mengemukakan isu-isu sosial dan budaya yang diadopsi oleh para akademisi di Indonesia. Selain isu-isu biaya, bandwidth, dan infrastruktur, perangkat Internet dibentuk, diperlambat, atau dipercepat oleh kebudayaan institusional serta persepsi teknologi itu. Institusi-institusi akademi di Indonesia, adopsi teknologi Internet bertahan dengan isu-isu pembangunan dan distribusi sosial sumber daya yang terbatas sebagai obyek-obyek status, serta hirarki dalam pengambilan keputusan. Lebih jauh, tulisan ini berpendapat bahwa perhatian terhadap isu-isu adopsi dan penggunaan teknologi internet dalam dunia akademik di Indonesia dapat menyadarkan kita akan isu-isu yang lebih luas tentang interaksi antara teknologi internet dan konteks sosial budayanya di masa depan, seperti halnya terjadi di Asia Tenggara dan wilayah lain

    Identitas Minahasa: Sebuah Praktik Kuliner

    No full text
    The geographic area I will focus on is the Minahasa region in North Sulawesi. There, in the eighteenth century the eight 'tribes' inhabiting the area were united into a single 'ethnic group' known as 'Minahasa' until today. Not only the Dutch colonial government but also the Protestant church put great efforts into this unifying and homogenizing process that was supposed to create a common identity for all Minahasan people. The effectiveness of those efforts can hardly be denied. Nevertheless, internal differences have continued to exist and they are based not only on 'traditional' concepts that divided the 'original' Minahasan tribes but also on the local population's experiences with immigrants from other parts of Indonesia and overseas (e.g. the Philippines and China). Although this is not a recent phenomenon, political and socio-economic developments during the last few years have had further impacts on demographic conditions and relations between different ethnic and religious 'groups'. Thus, the Minahasa-like other 'ethnic groups' in Indonesia-are confronted with a double binding of supposed needs and requests for diversity under a unifying umbrella-on the regional as well as national level. The paper will address the 'problem' from the perspective of a rural community in the south-eastern part of the region. Hence, local concepts of identity, their constructions and markers in everyday life, as being manifested in food and clothing for instance, will be given special consideration. It will also be taken into account that the media (esp. television) plays an important role in the formation and representation of ethnic and religious identity. The paper aims at showing how 'unity' and 'diversity' in this context are produced and reproduced on the village level and its relation to the national discourse

    Indonesian Hadhramis and the Hadhramaut: An Old Diaspora and its New Connections

    No full text
    Fase utama dari migrasi Hadrami (pertengahan abad ke-18 hingga ke-20) telah mendapat perhatian ilmuwan-ilmuwan dari berbagai latar belakang disiplin. Berdasarkan atas hasil karya ilmiah inidan mengacu pada teori-teori kontemporer di bidang Antropologi mengenai diaspora masyarakat dan hubungan-hubungan antarbangsa serta penelitian terbaru di Indonesia dalam tiga tahun terakhir, artikel ini memfokuskan pada hubungan-hubungan dikalangan Hadramis dan pandangan-pandangan Hadhramaut. Dengan berkonsentrasi pada topik ini, perbandingan akan dibuat antara fase utama dari pembentukan diaspora dan Indonesia pasca kolonial sekarang ini. Kata kunci: diaspora; pasca kolonial; globalisasi; Hadramaut.&nbsp

    Menumbuhkan (Kembali) Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam di Tapanuli Selatan

    No full text
    Studies on local knowledge are recently important in development program. Such studies remind us to learn from the community before we teach them. This article discusses how local knowledge understood and used to encourage people participation in forest conversation in South Tapanuli, North Sumatera. The author argues that local knowledge in forest management can be revitalized to build participation if only all stakeholders able to make social commitment as part of social capital. Key words: local knowledge; territoriality; tenure; natural resources.&nbsp

    Gay dan Lesbian Indonesia serta Gagasan Nasionalisme

    No full text
    This essay argues for paying attention to the life-worlds of gay and lesbian Indonesians. These Indonesians' lives provide valuable clues to how being 'Indonesian' gets defined and to the workings of nation-states more generally. In particularly, the lives of gay and lesbian Indonesians help to demonstrate how heteronormativity the assumption that heterosexuality is the only normal or proper sexuality plays a fundamental role in forming nation-states as "imagined communities." Restricting the family model to the heterosexual couple has been a key means by which the idea of the Indonesian nation (and other nations) has been promulgated and sustained. Thus, rather than see the exclusion of homosexuality as a latter-day response to an encroaching global gay and lesbian movement, this exclusion is most accurately understood as a point of departure by which the idea of 'Indonesia' comes to exist in the first place. Keywords: Gay, lesbian, homosexuality, Indonesia, nation.&nbsp

    Metode Pemahaman bagi Penelitian Antropologi

    No full text
    Amidst the many changes in the approaches taken by anthropologists today, the author reexamines the works produced in the more humanistic tradition of anthropology. She begins with the question of whether anthropological research can be conducted with an idiographic approach. Through a discussion of Verstehen, experience and hermeneutics, and drawing from her own experiences in the field, the author argues that the methods characteristic of amore humanistic anthropology can be applied to anthropological research and remain scientifically sound. Key words: hermeneutic; experience; "thick description".&nbsp

    Teori dan Praktek dalam Studi Konflik di Indonesia

    No full text
    Conflict studies are a social science field that identifies and analyses violent and nonviolent behaviors as well as the structural mechanisms attending social conflicts. This article seeks to analyze the methodology and conceptual problems in studying conflicts in Indonesia which is greatly influenced by Western social sciences tradition. The development of social sciences in Indonesia in describing conflict is supposed to be part of the root of Indonesian realities. However, Indonesian scholars lack of their own theoretical discourses which should have been developed by Indonesians to analyze conflict problems in the same level of understanding as if they were analyzed by Western perspective. As scientific discourses are socio-historical related, they go beyond than just ethic and emic principle in representing local perspective. The author also discusses conceptual misapprehension within Indonesian scholar regarding Modernist and Post-Modernist approach and research management Key words: Conflict studies, Scientific discourse, Methodology and Conceptual problems&nbsp

    0

    full texts

    571

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Antropologi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇