Antropologi Indonesia
Not a member yet
571 research outputs found
Sort by
Pembangunan yang Terbayang: Imajinasi Sosio-Teknikal dalam Implementasi Pembangunan Berbasis Komunitas di Indonesia
This paper discusses the involvement of imagination in the implementation of several techniques for societal improvement introduced by intervention programs in Indonesia. Using the perspective of socio-technical imagination, I contend that the implementation of the World Bank’s Community-Driven Development (CDD) in Indonesia does not only revolve around technical matters, but also structured by collective imagination held by various development actors regarding the formation of desired social order. This paper is part of my reflexivity regarding my involvement as a researcher and filmmaker in a research project designed to evaluate the impact of the implementation of CDD program in health and education sector in Indonesia. The research was conducted from the end of 2016 to the mid of 2017. Based on this experience, this paper examines the way in which imaginations invoked in programs implementation influence the process of film making that involved various development actors ranging from the World Bank’s technocrats in Jakarta, program’s implementer in province, district, sub-district, and village level, to target groups of intervention program in the village
Antropologi Biologi di Indonesia: Sebuah Penelusuran dan Kemungkinan Pengembangan
Indonesia has a great diversity of ethnic groups, languages, physical characteristics, and human genetic structures. Various studies of human physical variation and their evolutionary history in the world have received substantial contributions from biological anthropology researches in Indonesia. However, biological anthropology studies in Indonesia are not established or less familiar even among Indonesian anthropology milieu. This condition is reflected in a small numbers of Indonesian biological anthropologists, despite the vision of the founders of Indonesian anthropology that programmed the development of biological anthropology as a part of the anthropology department. This article aims to review the history of biological anthropology studies in Indonesia. Therefore, as a preliminary note, considerable scientific publications in biological anthropology in Indonesia will be discussed briefly to demonstrate the development of Indonesian biological anthropology
Kolaborasi Pembuatan Film sebagai Etnografi
This paper explores the conceptual and methodological thinking of an ethnography of a collaborative film making with traditional Javanese performance groups, adapting their work from the stage to the screen. This paper specifically offers ethnography as practical research involving researchers and research subjects conducting film projects together. This project has indeed practical and research objectives. The practical goal is to collaborate with traditional rural performance groups, to help facilitate the exploration of their new media and express themselves through film. The research objective of this project is to record, understand and analyze the process, while laying the foundation for further collaboration and research in other contexts and with different communities
Dinamika Pisang (Filipina-Sangihe) Di Perbatasan Indonesia-Filipina
Indonesia citizens, who are resident in the southern Philippines is estimated at 8,000 inhabitants. They are commonly known as Pisang, an abbreviation of the Philippines-Sangihe or residents who have “blood ties” with Sangihe (Indonesia) which then had settled in the Philippines. In fact, their Philippine area residence does not become a barrier for the Pisang to remain in a relationship of kinship with the Indonesian Sangihe, through cross-border activity. This reality makes the issue of mobility become important because they do activities on the territory of two nation-states. The Pisang do trade, family visits and political activities even activities that indicated as transnational crime in border area. Ironically, studies that literally uplift the phenomenon of Pisang has not been found. Based on field research, this article describes the dynamics and controversy of Pisang activities in Indonesia sea-border area, the Sangihe Archipelago Regency.Keywords: Indonesia, Philipine, Pisang, Border Area
History and Social Action: A Study of Landscape in the Former Sultanate of Wolio
Artikel ini membahas relasi antara sejarah dan tindakan sosial di wilayah bekas Kesultanan Wolio. Dengan kata lain, penulis berusaha menunjukkan beberapa macam cara yang digunakan masyarakat di wilayah ini dalam mempresentasikan kembali masa lampaunya, dan sekaligus memperlihatkan bagaimana pemahaman mengenai sejarah dapat mereka gunakan sebagai sebuah khasanah berbagai pilihan moral yang mempedomani tindakan sosial mereka. Tempat atau landscape menduduki posisi yang penting dalam memahami bagaimana masyarakat mempresentasikan kembali sejarahnya. Satu masyarakat mengunjungi situs-situs sejarah tertentu bukan hanya untuk hiburan atau kesenangan semata, melainkan karena peristiwa-peristiwa dan pribadi-pribadi di masa lampau yang berkaitan dengan tempat itu dapat terus dijaga keberlangsungan hidupnya di dalam “satu waktu moral” yang sama dengan mereka-mereka yang masa hidup sebagaimana mereka semua (baik yang hidup maupun yang telah tiada) saling berbagi ruangan fisik yang sama.Kata kunci: sejarah, masa lalu, action, landscape, situ
YOUTH PERSONHOOD @CROSSROAD: A Virtual Ethnography of An Asymmetrical Relation Between Digital Natives and Digital Immigrants in Indonesia
Anak muda Indonesia telah menjadi pengguna internet terbesar di negera ini. Perkembangan teknologi mendorong digital natives pada tantangan baru dalam pencapaian identitas (personhood). Adalah umum bagi anak muda untuk mengalami fase “storm and stress” dalam kehidupan yang merupakan bagian dari pencapaian identitas mereka sebagai salah satu tugas utama dan mendasar di keseharian anak muda. Namun demikian, seiring perilaku anak muda dalam menggunakan internet, masalah generasi pun muncul. Pola perilaku yang problematis tersebut antara lain melakukan selfie yang berbahaya, sexting, cyberbullying, dan mempromosikan kegiatan-kegiatan radikal. Melalui penelitian yang dilakukan dengan metode penelusuran online dan etnografi virtual, kami memperlihatkan bahwa fenomena yang mengkhawatirkan ini terjadi karena adanya hubungan asimetris antara anak muda (digital natives) dan pendahulunya (digital immigrants) pada proses pembentukan identitas. Anak muda saat ini berada di antara dua bentuk pengetahuan yang berbeda satu sama lain: di satu sisi, sistem pengetahuan virtual yang tidak terbatas pada waktu dan ruang, dan di sisi lain adalah pengetahuan yang terinkulturasi melalui institusi keluarga yang cenderung lebih eksklusif dan tradisional. Anak muda berada dalam situasi yang kompleks ketika orang tua mereka, atau generasi sebelumnya, menghadapi kesulitan adaptasi dengan kemajuan teknologi. Kondisi tersebut problematis karena interaksi virtual menjadi referensi penting bagi digital natives dalam membentuk kepribadian mereka.Kata Kunci: Anak muda, Personhood, Digital Natives, Internet, Etnografi Virtua
Darek and Rantau: an Identity through Diglossia
Through language, conceptions of self and the cultural knowledge of a society can be understood as interaction takes place. Observations and in-depth interviews were conducted to get descriptive results to explain the emic point of view about the dialects used and the dialects of other groups of people. The data was then analyzed with relevant theory and concepts, to get an understanding of the positions of dialects in communication events. By applying their cultural knowledge, peoples of Darek and Rantau, sub-groups in the larger Minangkabau ethnic group, in several contexts use dialects as indicators of another person’s identity. The difference in their cultural knowledge has given each dialect it’s own usage and view in their respective societies.Keywords : Code-switching, Diglossia, Identity, Lingua Franca, Linguistic Anthropolog
Performing Out of Limbo: Reflections on Doing Anthropology through Music with Oromo Refugees in Indonesia
This article is an anthropological reflection on an on-campus collaborative music project between (Ethiopian) Oromo refugees and local Indonesian university teaching staff, students and professional musicians. It follows the way the project evolved from what was initially seen as a simple academic research opportunity and technical assistance for refugees to record their songs into a mutually transformative experience for those involved. It reflects on the process and the way art—as a collaborative practice and non-programmatic form of human engagement—provided new possibilities for the refugees living in transit in Indonesia to explore their talents and possible career opportunities for the future. From an anthropological point of view, the process challenged the various institutionalized binary modes of self-representation, such as ‘host’ and ‘migrant’, ‘researcher’ and ‘informant’, or ‘academic’ and ‘non-academic’, and opened up new possibilities for negotiating and framing relationships between the participants involved.Keywords: refugees, asylum seekers, self-representation, public anthropology, art, Indonesia, Orom
Bermain-main dengan Kebenaran Sejarah: Kontestasi Kedudukan dan Produksi Sosial Narasi Awal Mula
Dalam pemahaman umum, kebenaran adalah hal yang lekat dengan kemasukakalan. Asumsi ini pun mempengaruhi satu tren pemikiran dalam antropologi sebagaimana terlihat dari adanya kecenderungan di antara beberapa pengkaji untuk menyejajarkan cara kerja mitos dengan ilmu pengetahuan atau memperlakukan subjek kajian sebagai pihak yang rasional dan terobsesi memecahkan kontradiksi. Berkaca dari dua kasus yakni mitos asal-usul orang Buton di Pulau Seram dan diskursus Indonesia peradaban tua, saya ingin mengajukan bahwa pondasi kebenaran sejarah dalam konteks sosial bukanlah semata koherensi atau plausibilitasnya melainkan juga faedahnya untuk mengangkat atau mempertahankan harkat satu kolektivitas di antara kolektivitas-kolektivitas lainnya. Perbandingan saya memperlihatkan hal ini berlaku, menariknya, baik pada komunitas etnisitas maupun komunitas kebangsaan. Kebenaran sejarah mereka, artinya, akan sulit untuk benar-benar dipisahkan dari klaim politis yang disampaikan atau disampaikan ulang di tengah-tengah kontestasi para pelaku kehidupan sosial. Kerangka berpikir bermain yang dicetuskan oleh Johan Huizinga ditemukan pula sangat relevan menggambarkan situasi ini.Kata kunci: Kebenaran sejarah, mitos asal-usul, kontestasi, kemasukakalan, Buton, Indonesia peradaban tu
Identitas Dan Bentuk-Bentuk Budaya Lokal Masyarakat Kabupaten Kepulauan Talaud Di Daerah Perbatasan Indonesia-Filipina
Talaud merupakan kabupaten kepulauan di daerah perbatasan utara Indonesia yang langsung bersisian dengan Republik Filipina. Sebagai sebuah daerah yang terikat secara budaya dengan masyarakat Filipina bagian selatan, maka isu mengenai bagaimana masyarakat perbatasan menjaga identitas sebagai sebuah bangsa Indonesia melalui tradisi dan budaya setempat menjadi sering diperdebatkan dalam berbagai laporan ilmiah dan jurnalistik. Artikel ini menggambarkan praktik kebudayaan masyarakat kabupaten Talaud dalam memperkokoh dan menjaga identitas keindonesian mereka yang dapat dilihat sebagai suatu praktik ketahanan budaya nasional.Kata Kunci: daerah perbatasan, kebudayaan, identita