Jurnal Kajian Komunikasi
Not a member yet
    160 research outputs found

    TRANSFORMASI PT ASKES (PERSERO) MENJADI BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN

    Full text link
    PT ASKES (PERSERO) diterpa berbagai persoalan dalam melayani urusan kesehatan. Tata kelola PT ASKES dinilai buruk dari layanan kesehatan masyarakat. Namun, setelah enam tahun berubah menjadi BPJS, dan terbitnya UU BPJS No 24 tahun 2011, masih ditemui berbagai hal menyimpang dari tujuan pembentukan UU tersebut. Selain diwarnai dengan ketidakjelasan mekanisme pelayanan dan pertanggungjawaban di tingkat dinas, juga lemahnya pengawasan serta buruknya sistem pelayanan di beberapa rumah sakit. Kini, pemegang kartu BPJS masih merasa “warga” kelas dua dalam memperolah layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis alasan yang melatarbelakangi transformasi PT Askes (Persero) menjadi BPJS Kesehatan. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan Studi Kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan PT Askes (Persero) melakukan transformasi karena adanya keinginan dari pemerintah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan jaminan kesehatan yang terjangkau, dan memberikan manfaat serta tidak memberatkan masyarakat terutama dari segi finansial. Untuk pemahaman staf divisi pemasaran mengenai transformasi dari PT Askes (Persero) menjadi BPJS Kesehatan pada umumnya staf divisi pemasaran memahami transformasi sebagai upaya pemerintah dalam memajukan tingkat kesehatan dan taraf hidup masyarakat secara keseluruhan yang menjadi visi dan misi BPJS kesehatan. Sedangkan mengenai tanggapan peserta mengenai BPJS Kesehatan, peserta BPJS Kesehatan masih menganggap BPJS Kesehatan masih kalah bersaing atau kurang efektif jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan asuransi swasta.PT ASKES (PERSERO) diterpa berbagai persoalan dalam melayani urusan kesehatan. Tata kelola PT ASKES dinilai buruk dari layanan kesehatan masyarakat. Namun, setelah enam tahun berubah menjadi BPJS, dan terbitnya UU BPJS No 24 tahun 2011, masih ditemui berbagai hal menyimpang dari tujuan pembentukan UU tersebut. Selain diwarnai dengan ketidakjelasan mekanisme pelayanan dan pertanggungjawaban di tingkat dinas, juga lemahnya pengawasan serta buruknya sistem pelayanan di beberapa rumah sakit. Kini, pemegang kartu BPJS masih merasa “warga” kelas dua dalam memperolah layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis alasan yang melatarbelakangi transformasi PT Askes (Persero) menjadi BPJS Kesehatan. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan Studi Kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan PT Askes (Persero) melakukan transformasi karena adanya keinginan dari pemerintah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan jaminan kesehatan yang terjangkau, dan memberikan manfaat serta tidak memberatkan masyarakat terutama dari segi finansial. Untuk pemahaman staf divisi pemasaran mengenai transformasi dari PT Askes (Persero) menjadi BPJS Kesehatan pada umumnya staf divisi pemasaran memahami transformasi sebagai upaya pemerintah dalam memajukan tingkat kesehatan dan taraf hidup masyarakat secara keseluruhan yang menjadi visi dan misi BPJS kesehatan. Sedangkan mengenai tanggapan peserta mengenai BPJS Kesehatan, peserta BPJS Kesehatan masih menganggap BPJS Kesehatan masih kalah bersaing atau kurang efektif jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan asuransi swasta

    POLA KOMUNIKASI TRADISI MAROSOK ANTARA SESAMA PENJUAL DALAM BUDAYA DAGANG MINANGKABAU

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk untuk memahami pola komunikasi tradisi marosok antara sesama penjual dalam budaya dagang Minangkabau. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan studi etnografi komunikasi. Subjek penelitian adalah para penjual ternak di Balai Cubadak. Subjek dipilih secara purposive sampling (sampel bertujuan) dengan jumlah 6 orang. Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, studi pustaka. Adapun teknis analisis dengan mengumpulkan data, mendeskripsikan, menganalisis, dan melakukan interpretasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa peristiwa komunikasi diantara sesama penjual yaitu (1) menanyakan harga (2) memberikan nasihat (3) berdiskusi mengenai pengalaman bertransaksi. Peristiwa terjadi diparkiran, los, dan warung. Pesan disampaikan bernada santai menggunakan bahasa Minangkabau baik verbal dan non verbal, dilandaskan kepada norma dan nilai luhur yang telah diwariskan dari generasi kegenerasi lainnya, meskipun beberapa tradisi mulai ditinggalkan. Pola komunikasi tradisi marosok antara sesama penjual dalam budaya dagang minangkau dibentuk atas dasar kesadaran untuk menjaga silaturahmi melalui forum diskusi antara sesama penjual, keharusan mewariskan nilai-nilai dan membantu sesama. Oleh karena itu, semua penjual berpartisipasi aktif menuangkan semua pengalaman yang didapatkan selama bertransaksi dan kemudian dibagi ke forum, dan mengambil pelajaran. Pelajaran inilah yang kemudian digunakan sebagai landasan bertindak dalam berdagang di kemudian hari.Penelitian ini bertujuan untuk untuk memahami pola komunikasi tradisi marosok antara sesama penjual dalam budaya dagang Minangkabau. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan studi etnografi komunikasi. Subjek penelitian adalah para penjual ternak di Balai Cubadak. Subjek dipilih secara purposive sampling (sampel bertujuan) dengan jumlah 6 orang. Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, studi pustaka. Adapun teknis analisis dengan mengumpulkan data, mendeskripsikan, menganalisis, dan melakukan interpretasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa peristiwa komunikasi diantara sesama penjual yaitu (1) menanyakan harga (2) memberikan nasihat (3) berdiskusi mengenai pengalaman bertransaksi. Peristiwa terjadi diparkiran, los, dan warung. Pesan disampaikan bernada santai menggunakan bahasa Minangkabau baik verbal dan non verbal, dilandaskan kepada norma dan nilai luhur yang telah diwariskan dari generasi kegenerasi lainnya, meskipun beberapa tradisi mulai ditinggalkan. Pola komunikasi tradisi marosok antara sesama penjual dalam budaya dagang minangkau dibentuk atas dasar kesadaran untuk menjaga silaturahmi melalui forum diskusi antara sesama penjual, keharusan mewariskan nilai-nilai dan membantu sesama. Oleh karena itu, semua penjual berpartisipasi aktif menuangkan semua pengalaman yang didapatkan selama bertransaksi dan kemudian dibagi ke forum, dan mengambil pelajaran. Pelajaran inilah yang kemudian digunakan sebagai landasan bertindak dalam berdagang di kemudian hari

    PERISTIWA KOMUNIKASI DALAM PEMBENTUKAN KONSEP DIRI OTAKU ANIME

    Full text link
    Otaku anime adalah istilah untuk menyebutkan seseorang yang memiliki obsesi terhadap film animasi yang berasal dari negara Jepang. Sebagian besar waktu dan uang yang dimiliki oleh otaku anime dihabiskan hanya untuk menyaksikan film anime secara berkala. Fenomena otaku anime merambah berbagai kelompok masyarakat, dewasa dan juga remaja. Penelitian ini berusaha untuk menggambarkan bagaimana otaku anime membangun identitasnya dalam masyarakat dengan kebudayaan yang establish di atas nilai dan norma agama seperti halnya kebiasaan di Indonesia.Tujuan dalam penulisan ini adalah untuk menguraikan bagaimana mind dan self otaku anime terbentuk serta untuk memahami bagaimana society memaknai otaku anime. Penelitian ini menerapkan teori interaksi simbolik George Herbert Mead dengan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memperlihatkan bagaimana otaku terbentuk melalui pengalaman pertama masa kanak-kanak, dan interaksi pertama dengan orang terdekat sebagai ingatan yang melekat pada diri subjek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman diri tersebut mendorong subjek untuk mencari komunitas yang akan membantunya untuk mengidentifikasi dirinya di tengah masyarakat yang establish, untuk menjamin kebebasannya dalam berimajinasi dan berinteraksi dengan tokoh anime favoritnya. Istilah otaku telah menjadi teks yang dikonsumsi secara bebas dan memberi makna baru bagi penggunanya untuk menemukan identitasnya dalam dunia sosial.Otaku anime adalah istilah untuk menyebutkan seseorang yang memiliki obsesi terhadap film animasi yang berasal dari negara Jepang. Sebagian besar waktu dan uang yang dimiliki oleh otaku anime dihabiskan hanya untuk menyaksikan film anime secara berkala. Fenomena otaku anime merambah berbagai kelompok masyarakat, dewasa dan juga remaja. Penelitian ini berusaha untuk menggambarkan bagaimana otaku anime membangun identitasnya dalam masyarakat dengan kebudayaan yang establish di atas nilai dan norma agama seperti halnya kebiasaan di Indonesia.Tujuan dalam penulisan ini adalah untuk menguraikan bagaimana mind dan self otaku anime terbentuk serta untuk memahami bagaimana society memaknai otaku anime. Penelitian ini menerapkan teori interaksi simbolik George Herbert Mead dengan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memperlihatkan bagaimana otaku terbentuk melalui pengalaman pertama masa kanak-kanak, dan interaksi pertama dengan orang terdekat sebagai ingatan yang melekat pada diri subjek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman diri tersebut mendorong subjek untuk mencari komunitas yang akan membantunya untuk mengidentifikasi dirinya di tengah masyarakat yang establish, untuk menjamin kebebasannya dalam berimajinasi dan berinteraksi dengan tokoh anime favoritnya. Istilah otaku telah menjadi teks yang dikonsumsi secara bebas dan memberi makna baru bagi penggunanya untuk menemukan identitasnya dalam dunia sosial

    DIALETIKA ETNOGRAFI KOMUNIKASI EMIK-ETIK PADA KAIN TENUN

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan mendialetikakan pemaknaan emik-etik simbol warna dan gambar kain tenun (Mollo) desa Tutem. Tahapan pada penelitian ini yaitu interpretasi (Ferdinand De Saussure), reinterpretasi (Roland Barthes), Dialog (Jurgen Habermas), dan dekonstruksi (Jaques Derrida). Hasil interpretasi (emik) dan reinterpretasi (etik), didialetikakan dengan menghasilkan sintesis berupa dialog antara masyarakat Tutem dan peneliti, diakhiri dengan analisis dekonstruksi guna mengantisipasi potensi kemajemukan makna simbol warna dan gambar kain tenun desa Tutem di kemudian hari. Paradigma penelitiannya adalah kualitatif dan bermetode studi etnografi komunikasi. Data diperoleh dengan wawancara mendalam, observasi-partisipatoris, dan dokumentasi visual kain tenun. Hasil penelitian ini adalah: dalam pemaknaan emik masyarakat Tutem, simbol warna kain tenun mengacu pada keberagaman kelompok suku dan simbol gambar kain tenun merujuk kepada realitas historis. Pemaknaan etik peneliti, simbol warna dan gambar kain tenun merujuk kepada kondisi geografis (Sumber Daya Alam), moral dan perilaku sosial (Sumber Daya Manusia), dan sejarah. Melalui prosedur tindakan komunikatif (dialog), kesepakatan intersubjektif yang dicapai, mencakup: 10 jenis simbol warna dan 7 varian gambar kain tenun diterima dan 2 varian gambar kain tenun ditolak. Terdapat 3 jenis simbol warna dan pola gambar ruang kain tenun yang wajib didekonstruksi maknanya oleh peneliti. Proses interpretasi, reinterpretasi, dialog, dan dekonstruksi menjadi tahapan ideal dalam memberdayakan kain tenun sebagai salah satu wujud produk kebudayaan masyarakat Tutem. Pelaksanaan tahapan tersebut melibatkan peran aktif masyarakat Tutem dan peneliti. Akhirnya, masyarakat Tutem dan peneliti sama-sama membangun ‘cerita’ tentang simbol warna dan gambar kain tenun dalam spirit falibilisme.Penelitian ini bertujuan mendialetikakan pemaknaan emik-etik simbol warna dan gambar kain tenun (Mollo) desa Tutem. Tahapan pada penelitian ini yaitu interpretasi (Ferdinand De Saussure), reinterpretasi (Roland Barthes), Dialog (Jurgen Habermas), dan dekonstruksi (Jaques Derrida). Hasil interpretasi (emik) dan reinterpretasi (etik), didialetikakan dengan menghasilkan sintesis berupa dialog antara masyarakat Tutem dan peneliti, diakhiri dengan analisis dekonstruksi guna mengantisipasi potensi kemajemukan makna simbol warna dan gambar kain tenun desa Tutem di kemudian hari. Paradigma penelitiannya adalah kualitatif dan bermetode studi etnografi komunikasi. Data diperoleh dengan wawancara mendalam, observasi-partisipatoris, dan dokumentasi visual kain tenun. Hasil penelitian ini adalah: dalam pemaknaan emik masyarakat Tutem, simbol warna kain tenun mengacu pada keberagaman kelompok suku dan simbol gambar kain tenun merujuk kepada realitas historis. Pemaknaan etik peneliti, simbol warna dan gambar kain tenun merujuk kepada kondisi geografis (Sumber Daya Alam), moral dan perilaku sosial (Sumber Daya Manusia), dan sejarah. Melalui prosedur tindakan komunikatif (dialog), kesepakatan intersubjektif yang dicapai, mencakup: 10 jenis simbol warna dan 7 varian gambar kain tenun diterima dan 2 varian gambar kain tenun ditolak. Terdapat 3 jenis simbol warna dan pola gambar ruang kain tenun yang wajib didekonstruksi maknanya oleh peneliti. Proses interpretasi, reinterpretasi, dialog, dan dekonstruksi menjadi tahapan ideal dalam memberdayakan kain tenun sebagai salah satu wujud produk kebudayaan masyarakat Tutem. Pelaksanaan tahapan tersebut melibatkan peran aktif masyarakat Tutem dan peneliti. Akhirnya, masyarakat Tutem dan peneliti sama-sama membangun ‘cerita’ tentang simbol warna dan gambar kain tenun dalam spirit falibilisme

    PENGARUH KUALITAS PELAYANAN PUSAT BAHASA UNIVERSITAS TELKOM TERHADAP KEPUASAN PENGGUNA LAYANAN

    Full text link
    Pusat Bahasa (LaC) didirikan pada tahun 2013 yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan dalam berbahasa asing. Pusat Bahasa (LaC) berada dibawah Yayasan Pendidikan Telkom (YPT) yang berkembang di bidang teknologi. Pusat Bahasa (LaC) memiliki fungsi sebagai pusat penyedia jasa atau layanan dalam bahasa asing yang bertanggung jawab untuk kepentingan akademik. Layanan yang terdapat di Pusat Bahasa (LaC) yaitu Language Test, Language Course, ESAP (English Self-Access Program), Translation (Indonesian, English, Japanese), dan Proofreading for International Journals. Pelayanan yang diberikan oleh Pusat Bahasa (LaC) kepada pengguna layanan akan selalu di evaluasi setiap tahunnya agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan menjadi lebih baik dan dapat membuat pengguna layanan menjadi puas hingga berubah menjadi loyal yang pada akhirnya dapat membentuk suatu citra yang baik bagi suatu institusi. Perumusan masalah dalam penelitian ini yaitu seberapa besar pengaruh dari kualitas pelayanan terhadap kepuasan pengguna layanan. Teknik analisis data yang digunakan yaitu kuantitatif kausal dengan menggunakan metode regresi linear berganda. Populasi dalam penelitian ini yaitu pengguna layanan yang merupakan mahasiswa Universitas Telkom yang berjumlah 26.820, dengan sampel sebanyak 100 responden. Variabel bebas yaitu tangibles, empathy, reliability, responsiveness, assurance. Variabel terikat adalah kepuasan pengguna layanan. Persentase rata-rata variabel kualitas pelayanan berada di kategori baik dan persentase variabel kepuasan pengguna layanan berada di kategori baik. Hasil yang didapatkan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh secara simultan terhadap kepuasan pengguna layanan dan besarnya pengaruh secara simultan yaitu sebesar 31%, sedangkan sisanya sebesar 69% dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel penelitian.Pusat Bahasa (LaC) didirikan pada tahun 2013 yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan dalam berbahasa asing. Pusat Bahasa (LaC) berada dibawah Yayasan Pendidikan Telkom (YPT) yang berkembang di bidang teknologi. Pusat Bahasa (LaC) memiliki fungsi sebagai pusat penyedia jasa atau layanan dalam bahasa asing yang bertanggung jawab untuk kepentingan akademik. Layanan yang terdapat di Pusat Bahasa (LaC) yaitu Language Test, Language Course, ESAP (English Self-Access Program), Translation (Indonesian, English, Japanese), dan Proofreading for International Journals. Pelayanan yang diberikan oleh Pusat Bahasa (LaC) kepada pengguna layanan akan selalu di evaluasi setiap tahunnya agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan menjadi lebih baik dan dapat membuat pengguna layanan menjadi puas hingga berubah menjadi loyal yang pada akhirnya dapat membentuk suatu citra yang baik bagi suatu institusi. Perumusan masalah dalam penelitian ini yaitu seberapa besar pengaruh dari kualitas pelayanan terhadap kepuasan pengguna layanan. Teknik analisis data yang digunakan yaitu kuantitatif kausal dengan menggunakan metode regresi linear berganda. Populasi dalam penelitian ini yaitu pengguna layanan yang merupakan mahasiswa Universitas Telkom yang berjumlah 26.820, dengan sampel sebanyak 100 responden. Variabel bebas yaitu tangibles, empathy, reliability, responsiveness, assurance. Variabel terikat adalah kepuasan pengguna layanan. Persentase rata-rata variabel kualitas pelayanan berada di kategori baik dan persentase variabel kepuasan pengguna layanan berada di kategori baik. Hasil yang didapatkan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh secara simultan terhadap kepuasan pengguna layanan dan besarnya pengaruh secara simultan yaitu sebesar 31%, sedangkan sisanya sebesar 69% dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel penelitian

    RELASI KUASA DAN SIMBOL EKONOMI-POLITIK GEREJA DALAM KONTESTASI POLITIK LOKAL PROVINSI NTT

    No full text
    Studi ini menyingkap relasi kuasa antara aktor atau rezim politik dengan otoritas gereja dalam kontestasi politik lokal di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bagaimana relasi kuasa tersebut menyembunyikan barter kepentingan ekonomi-politik. Menggunakan empat pisau analisis, yaitu: Dekonstruksi dari Jaques Derida; Modal, Habitus, Kekuasaan simbolik, dan Kekerasan Simbolik dari Pierre Bourdieu; Relasi Kuasa/Pengetahuan dari Michel Foucault; dan Diskursus dari Jurgen Habermas, studi ini menemukan fakta adanya dominasi dan hegemoni terhadap umat dan adanya motif ekonomi-politik di balik relasi kuasa tersebut. Studi tentang barter kepentingan gereja dan rezim politik di NTT belum pernah dilakukan. Praktik politik ini bahkan telah menjadi sebuah budaya politik di NTT yang terus berulang dalam setiap Pemilu. Kesadaran umat di NTT juga telah dimanipulasi. Baik melalui dominasi langsung, yaitu melalui perintah dan aturan gereja. Maupuan hegemoni, yaitu melalui wacana ideologis yang didistribusikan untuk menormalisasi cara pandang umat. Tujuannya adalah untuk mendapat manfaat elektoral dalam setiap pemilu. Umat akhirnya terus mengalami kekerasan simbolik. Tujuan studi ini adalah untuk menginisiasi sebuah gerakan emansipasi lewat wacana-wacana kontra-hegemoni di ruang-ruang publik di NTT dan advokasi terhadap umat. Sasarannya adalah untuk mentransformasi kesadaran umat dan masyarakat NTT pada umumnya, untuk menjadi lebih demokratis dan manusiawi. Studi ini menyingkap relasi kuasa antara aktor atau rezim politik dengan otoritas gereja dalam kontestasi politik lokal di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bagaimana relasi kuasa tersebut menyembunyikan barter kepentingan ekonomi-politik. Menggunakan empat pisau analisis, yaitu: Dekonstruksi dari Jaques Derida; Modal, Habitus, Kekuasaan simbolik, dan Kekerasan Simbolik dari Pierre Bourdieu; Relasi Kuasa/Pengetahuan dari Michel Foucault; dan Diskursus dari Jurgen Habermas, studi ini menemukan fakta adanya dominasi dan hegemoni terhadap umat dan adanya motif ekonomi-politik di balik relasi kuasa tersebut. Studi tentang barter kepentingan gereja dan rezim politik di NTT belum pernah dilakukan. Praktik politik ini bahkan telah menjadi sebuah budaya politik di NTT yang terus berulang dalam setiap Pemilu. Kesadaran umat di NTT juga telah dimanipulasi. Baik melalui dominasi langsung, yaitu melalui perintah dan aturan gereja. Maupuan hegemoni, yaitu melalui wacana ideologis yang didistribusikan untuk menormalisasi cara pandang umat. Tujuannya adalah untuk mendapat manfaat elektoral dalam setiap pemilu. Umat akhirnya terus mengalami kekerasan simbolik. Tujuan studi ini adalah untuk menginisiasi sebuah gerakan emansipasi lewat wacana-wacana kontra-hegemoni di ruang-ruang publik di NTT dan advokasi terhadap umat. Sasarannya adalah untuk mentransformasi kesadaran umat dan masyarakat NTT pada umumnya, untuk menjadi lebih demokratis dan manusiawi.

    KOMUNIKASI POLITIK PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (PKS) DALAM KETERBUKAAN IDEOLOGI

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam keterbukaan ideologi yang dilakukan DPW PKS Jawa Barat. Untuk menjawab permasalahan tersebut,dilakukan analisis terhadap pokok pertanyaan penelitian, yaitu: komunikasi politik DPW PKS Jawa Barat dalam keterbukaan ideologi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan studi etnografi komunikasi. Subjek penelitian adalah DPW PKS Jawa Barat. Dalam penelitian ini narasumber wawancara dibagi menjadi dua yaitu internal dan eksternal, yang dipilih secara purposive sampling (sampel bertujuan) dengan jumlah narasumber internal 5 orang dan narasumber eksternal 4 orang. Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, studi pustaka. Adapun teknis analisis data dengan mereduksi data, mengumpulkan data, menyajikan data, menarik kesimpulan, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, komunikasi politik yang berlangsung dalam keterbukaan ideologi DPW PKS Jawa Barat melibatkan komunikator-komunikator politik dari dalam dan luar PKS. Selain itu, komunikasi juga melibatkan kader, simpatisan, masyarakat Jawa Barat serta tamu undangan sebagai komunikannya. Komunikasi politik yang terjadi dalam keterbukaan ideologi melalui pesan verbal dan nonverbal yang disampaikan dalam beberapa kegiatan DPW PKS Jawa Barat seperti; Muswil, Rakerwil dan Rakorwil. Komunikasi politik dalam keterbukaan ideologi DPW PKS Jawa Barat terjadi melalui pola komunikasi organisasi, dengan penyampaian pesan berupa pidato serta arahan. Dalam komunikasi politik, kegiatan tersebut merupakan bentuk dari retorika, propaganda, public relations, kampanye politik, serta lobi politikPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam keterbukaan ideologi yang dilakukan DPW PKS Jawa Barat. Untuk menjawab permasalahan tersebut,dilakukan analisis terhadap pokok pertanyaan penelitian, yaitu: komunikasi politik DPW PKS Jawa Barat dalam keterbukaan ideologi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan studi etnografi komunikasi. Subjek penelitian adalah DPW PKS Jawa Barat. Dalam penelitian ini narasumber wawancara dibagi menjadi dua yaitu internal dan eksternal, yang dipilih secara purposive sampling (sampel bertujuan) dengan jumlah narasumber internal 5 orang dan narasumber eksternal 4 orang. Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, studi pustaka. Adapun teknis analisis data dengan mereduksi data, mengumpulkan data, menyajikan data, menarik kesimpulan, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, komunikasi politik yang berlangsung dalam keterbukaan ideologi DPW PKS Jawa Barat melibatkan komunikator-komunikator politik dari dalam dan luar PKS. Selain itu, komunikasi juga melibatkan kader, simpatisan, masyarakat Jawa Barat serta tamu undangan sebagai komunikannya. Komunikasi politik yang terjadi dalam keterbukaan ideologi melalui pesan verbal dan nonverbal yang disampaikan dalam beberapa kegiatan DPW PKS Jawa Barat seperti; Muswil, Rakerwil dan Rakorwil. Komunikasi politik dalam keterbukaan ideologi DPW PKS Jawa Barat terjadi melalui pola komunikasi organisasi, dengan penyampaian pesan berupa pidato serta arahan. Dalam komunikasi politik, kegiatan tersebut merupakan bentuk dari retorika, propaganda, public relations, kampanye politik, serta lobi politi

    KOMUNIKASI POLITIK MEDIA SURAT KABAR DALAM STUDI PESAN REALITAS POLITIK PADA MEDIA CETAK RIAU POS DAN TRIBUN PEKANBARU

    Full text link
    Pada era demokrasi, kebebasan informasi masih dalam tataran pemikiran, niat, kekuatan, dan pemodalan media massa. Politik berdampak terhadap tuntutan demokratisasi bernegara yang ”good ideas” melalui pemilihan umum yang berkeadilan, dan kesadaran pemilih akan situasi dan kondisi masyarakatnya. Penelitian ini membahas tentang iklim komunikasi politik dan pemilihan umum kepala negara. Untuk menganalisis data, peneliti menggunakan perangkat analisis framing berdasarkan model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosciki yang pernah dikemukakan oleh Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosciki yang terdiri dari 4 (empat) elemen makna dalam memaknai ideologi, yaitu struktur sintaksis, skrip, struktur tematik, dan retoris. Dengan analisis framing tidak hanya terbatas pada kerangka teori dalam mewacanakan bahasa politik dalam teks berita media massa. Akan tetapi, sekaligus dapat sebagai metode analisis untuk studi media massa (media studies). Temuan penelitian mencakup dinamika komunikasi politik, komunikator, pasangan kandidat, massa pendukung, media massa, dan partisipasi pemilih dalam menggunakan hak pilihnya, dan kualitas legitimasi politik menuju pemilihan umum berwibawa dan bermartabat. Ini merupakan faktor-faktor penting pendukung keberhasilan pelaksanaan pemilihan umum yang berkualitas.Pada era demokrasi, kebebasan informasi masih dalam tataran pemikiran, niat, kekuatan, dan pemodalan media massa. Politik berdampak terhadap tuntutan demokratisasi bernegara yang ”good ideas” melalui pemilihan umum yang berkeadilan, dan kesadaran pemilih akan situasi dan kondisi masyarakatnya. Penelitian ini membahas tentang iklim komunikasi politik dan pemilihan umum kepala negara. Untuk menganalisis data, peneliti menggunakan perangkat analisis framing berdasarkan model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosciki yang pernah dikemukakan oleh Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosciki yang terdiri dari 4 (empat) elemen makna dalam memaknai ideologi, yaitu struktur sintaksis, skrip, struktur tematik, dan retoris. Dengan analisis framing tidak hanya terbatas pada kerangka teori dalam mewacanakan bahasa politik dalam teks berita media massa. Akan tetapi, sekaligus dapat sebagai metode analisis untuk studi media massa (media studies). Temuan penelitian mencakup dinamika komunikasi politik, komunikator, pasangan kandidat, massa pendukung, media massa, dan partisipasi pemilih dalam menggunakan hak pilihnya, dan kualitas legitimasi politik menuju pemilihan umum berwibawa dan bermartabat. Ini merupakan faktor-faktor penting pendukung keberhasilan pelaksanaan pemilihan umum yang berkualitas

    RUANG KESEHARIAN SEBAGAI REPRESENTASI IDENTITAS

    Full text link
    Dalam penelitian ini penulis membedah keseharian ruang personal dengan mengunakan medium fotografi, yaitu objek kamar kos penulis. Tujuannya adalah untuk merepresentasikan identitas dan ruang penulis dari realitas keseharian, lalu menghubungkannya dengan narasi modernitas. Identitas dalam ruang dibentuk oleh struktur dan superstruktur, struktur dipahami sebagai sesuatu hal yang remeh temeh tapi material, yakni benda-benda keseharian yang akrab dengan penulis, sementara super struktur dipahami sebagai wacana yang ideologis dan abstrak, sebagai penggambaran dari ruang ketiga seperti kusen, tembok dan lainnya.  Dalam membedah identitas dan ruang ketiga, serta hubungannya dengan struktur dan super struktur, penulis menggunakan pendekatan foto dokumenter. Pendekatan ini diyakini sebagai cara yang paling tepat, karena dalam foto dokumenter mampu mengurai indeks akan sebuah realita mengenai keseharian dalam kamar kos penulis. Dalam penelitian ini, penulis menunjukan relasi praktik keseharian yang remeh temeh dengan wacana besar modernitas. Atas kondisi tersebut, diharapkan adanya proses nyata yang saling berhubungan antara penulis dengan medium fotografi dan masyarakat.Dalam penelitian ini penulis membedah keseharian ruang personal dengan mengunakan medium fotografi, yaitu objek kamar kos penulis. Tujuannya adalah untuk merepresentasikan identitas dan ruang penulis dari realitas keseharian, lalu menghubungkannya dengan narasi modernitas. Identitas dalam ruang dibentuk oleh struktur dan superstruktur, struktur dipahami sebagai sesuatu hal yang remeh temeh tapi material, yakni benda-benda keseharian yang akrab dengan penulis, sementara super struktur dipahami sebagai wacana yang ideologis dan abstrak, sebagai penggambaran dari ruang ketiga seperti kusen, tembok dan lainnya.  Dalam membedah identitas dan ruang ketiga, serta hubungannya dengan struktur dan super struktur, penulis menggunakan pendekatan foto dokumenter. Pendekatan ini diyakini sebagai cara yang paling tepat, karena dalam foto dokumenter mampu mengurai indeks akan sebuah realita mengenai keseharian dalam kamar kos penulis. Dalam penelitian ini, penulis menunjukan relasi praktik keseharian yang remeh temeh dengan wacana besar modernitas. Atas kondisi tersebut, diharapkan adanya proses nyata yang saling berhubungan antara penulis dengan medium fotografi dan masyarakat

    PENGARUH KREDIBILITAS KONSELOR TERHADAP SIKAP REMAJA MENGENAI HIV/AIDS DI SUKABUMI

    Full text link
    Permasalahan remaja yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi sering kali berawal dari kurangnya informasi, pemahaman dan kesadaran untuk mencapai keadaan sehat secara reproduksi. Banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan hal ini, mulai dari pemahaman mengenai perlunya pemeliharaan kebersihan alat reproduksi, pemahaman mengenai proses-proses reproduksi serta dampak dari perilaku yang tidak bertanggung jawab seperti kehamilan tak diinginkan, aborsi, penularan penyakit menular seksual termasuk HIV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kredibilitas konselor HIV/AIDS di Kabupaten Sukabumi terhadap sikap remaja tentang HIV/AIDS. Variabel penelitian yang dianalisis dalam penelitian ini adalah keahlian, kepercayaan, daya tarik pesan terhadap sikap, dengan populasi remaja 6 Desa yang berada di Kabupaten Sukabumi. Teknik sampel menggunakan strata proposional. Partisipan penelitian atau sampel yang terpilih sebanyak 401 orang remaja. Penelitian ini menggunakan analisis jalur yang merupakan analisis untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terkait, baik bersifat parsial maupun pengaruh bersifat total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keahlian komunikator dalam menyampaikan pesan tentang bahaya HIV/AIDS telah mampu menambah pengetahuan remaja di Kecamatan Sukabumi, juga dapat menimbulkan kepercayaan remaja terhadap Konselor HIV/AIDS serta kesediaan untuk menjauhi perilaku berisiko seperti menggunakan narkoba dan seks bebas dan kesediaan untuk mengiformasikan kepada orang lain tentang bahaya HIV/AIDS. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa agar penderita lebih terbuka dalam menceritakan kronologis tentang penyakit yang diidapnya serta penularannya, yang harus dilakukan adalah mempertinggi kredibilitas komunikator atau konselor HIV/AIDS.Permasalahan remaja yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi sering kali berawal dari kurangnya informasi, pemahaman dan kesadaran untuk mencapai keadaan sehat secara reproduksi. Banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan hal ini, mulai dari pemahaman mengenai perlunya pemeliharaan kebersihan alat reproduksi, pemahaman mengenai proses-proses reproduksi serta dampak dari perilaku yang tidak bertanggung jawab seperti kehamilan tak diinginkan, aborsi, penularan penyakit menular seksual termasuk HIV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kredibilitas konselor HIV/AIDS di Kabupaten Sukabumi terhadap sikap remaja tentang HIV/AIDS. Variabel penelitian yang dianalisis dalam penelitian ini adalah keahlian, kepercayaan, daya tarik pesan terhadap sikap, dengan populasi remaja 6 Desa yang berada di Kabupaten Sukabumi. Teknik sampel menggunakan strata proposional. Partisipan penelitian atau sampel yang terpilih sebanyak 401 orang remaja. Penelitian ini menggunakan analisis jalur yang merupakan analisis untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terkait, baik bersifat parsial maupun pengaruh bersifat total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keahlian komunikator dalam menyampaikan pesan tentang bahaya HIV/AIDS telah mampu menambah pengetahuan remaja di Kecamatan Sukabumi, juga dapat menimbulkan kepercayaan remaja terhadap Konselor HIV/AIDS serta kesediaan untuk menjauhi perilaku berisiko seperti menggunakan narkoba dan seks bebas dan kesediaan untuk mengiformasikan kepada orang lain tentang bahaya HIV/AIDS. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa agar penderita lebih terbuka dalam menceritakan kronologis tentang penyakit yang diidapnya serta penularannya, yang harus dilakukan adalah mempertinggi kredibilitas komunikator atau konselor HIV/AIDS

    152

    full texts

    160

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kajian Komunikasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇