Jurnal Kajian Komunikasi
Not a member yet
    160 research outputs found

    PENGEMBANGAN MODEL KOMUNIKASI KELOMPOK FASILITATOR KELURAHAN BADAN KESWADAYAAN MASYARAKAT DALAM PROGRAM PERBAIKAN RUMAH TIDAK LAYAK HUNI DI KOTA CIMAHI PROPINSI JAWA BARAT

    No full text
    Penduduk Propinsi Jawa Barat berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 2010 berjumlah 43,7 juta jiwa, dengan pertumbuhan 1,49 persen per tahun diproyeksikan pada tahun 2030 jumlah penduduk Jawa Barat akan mencapai 60 juta jiwa, suatu jumlah yang fantastis. Ledakan penduduk seperti itu akan akan menciptakan berbagai persoalan pelik seperti krisis pangan, kemiskinan, keterbatasan lahan tempat tinggal, kerusakan lingkungan, dan tingginya angka kriminalitas. Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, menyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Rumah memiliki fungsi yang sangat besar bagi individu dan keluarga tidak saja mencakup aspek fisik, tetapi juga mental dan sosial. Pemerintah Jawa Barat memiliki komitmen untuk memperbaiki kondisi kesejahteraan masyarakat miskin melalui program perbaikan rumah tidak layak huni. Kebutuhan perbaikan rumah tidak layak huni di wilayah perkotaan Provinsi Jawa Barat (9 Kota) sampai pada tahun 2014 sebanyak 17.511 unit yang tersebar di 378 kelurahan. Penelitian ini berusaha untuk melihat sejauhmana pengembangan model komunikasi kelompok Fasilitator Kelurahan terhadap upaya mensukseskan program Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni di 3 kecamatan di Kota Cimahi Propinsi Jawa Barat. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan model komunikasi kelompok Fasilitator Kelurahan Badan Keswadayaan Masyarakat dalam menjalankan tugasnya menyukseskan Program Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni di Kota Cimahi Propinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Analisis penelitian yang digunakan adalah studi kasus berdasarkan metode, data, dan triangulasi sumber. Dalam penelitian ini akan digali hal-hal yang berkenaan dengan model komunikasi Fasilitator Kelurahan dan perannya dalam meyukseskan program Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni di Kota Cimahi Propinsi Jawa Barat. DOI: 10.24198/jkk.vol4n2.7Penduduk Propinsi Jawa Barat berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 2010 berjumlah 43,7 juta jiwa, dengan pertumbuhan 1,49 persen per tahun diproyeksikan pada tahun 2030 jumlah penduduk Jawa Barat akan mencapai 60 juta jiwa, suatu jumlah yang fantastis. Ledakan penduduk seperti itu akan akan menciptakan berbagai persoalan pelik seperti krisis pangan, kemiskinan, keterbatasan lahan tempat tinggal, kerusakan lingkungan, dan tingginya angka kriminalitas. Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, menyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Rumah memiliki fungsi yang sangat besar bagi individu dan keluarga tidak saja mencakup aspek fisik, tetapi juga mental dan sosial. Pemerintah Jawa Barat memiliki komitmen untuk memperbaiki kondisi kesejahteraan masyarakat miskin melalui program perbaikan rumah tidak layak huni. Kebutuhan perbaikan rumah tidak layak huni di wilayah perkotaan Provinsi Jawa Barat (9 Kota) sampai pada tahun 2014 sebanyak 17.511 unit yang tersebar di 378 kelurahan. Penelitian ini berusaha untuk melihat sejauhmana pengembangan model komunikasi kelompok Fasilitator Kelurahan terhadap upaya mensukseskan program Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni di 3 kecamatan di Kota Cimahi Propinsi Jawa Barat. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan model komunikasi kelompok Fasilitator Kelurahan Badan Keswadayaan Masyarakat dalam menjalankan tugasnya menyukseskan Program Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni di Kota Cimahi Propinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Analisis penelitian yang digunakan adalah studi kasus berdasarkan metode, data, dan triangulasi sumber. Dalam penelitian ini akan digali hal-hal yang berkenaan dengan model komunikasi Fasilitator Kelurahan dan perannya dalam meyukseskan program Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni di Kota Cimahi Propinsi Jawa Barat. DOI: 10.24198/jkk.vol4n2.

    PENGALAMAN KOMUNIKASI PELAKU BISNIS KELUARGA DALAM MENGEMBANGKAN BISNIS KULINER DI KOTA SUKABUMI

    Get PDF
    Keluarga sebagai sistem lebih bersifat emosional, karena disatukan oleh ikatan mendalam yang mempengaruhinya dalam berbisnis. Komunikasi bisnis keluarga memiliki hubungan yang erat dengan pertentangan, perbedaan serta penolakan pendapat atau ide, ketidakpercayaan antara sesama anggota, bahkan memicu konflik. Penelitian ini menggunakan pendekatan jenis penelitian kualitatif dengan metode penelitian fenomenologi. Penentuan sumber data penelitian, menggunakan teknik purposive dengan 5 informan yang mengelola bisnis keluarga dibidang kuliner yang telah berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi motif-motif yang mendorong pelaku melakukan bisnis keluarga, mendeskripsikan makna komunikasi bisnis keluarga serta mendeskripsikan aktivitas komunikasi bisnis yang dilakukan oleh pelaku bisnis keluarga dalam menjalankan bisnis kulinernya. Hasil penelitian ini adalah motif yang mendorong pelaku untuk melakukan bisnis keluarga diantaranya: motif kepatuhan (obedience motive), motif aktualisasi diri (self actualization motive), motif ekonomi (economic motive) dan motif bakat (aptitude motive). Makna komunikasi bisnis keluarga bagi pelaku adalah sebuah tantangan dan kepatuhan. Makna yang dikonstruksi tersebut, dapat dinetralisir dengan melakukan obrolan ringan, pertemuan bisnis keluarga, rapat keluarga yang dapat menghasilkan beberapa point, seperti pengambilan keputusan yang dapat dilakukan secara diskusi dan professional, melakukan pelaporan kegiatan bisnis, dan pemecahan dari perbedaan pendapat bahkan konflik. Aktivitas Komunikasi pelaku bisnis keluarga mencakup promosi, membangun hubungan dengan karyawan, supliyer dan memfasilitasi pelanggan restoran dengan acara karaoke, happy hours, nonton bareng, serta membina hubungan dengan partner bisnis dengan membangun perjanjian kerjasama pembukaan cabang baru. DOI: 10.24198/jkk.vol4n1.3 Keluarga sebagai sistem lebih bersifat emosional, karena disatukan oleh ikatan mendalam yang mempengaruhinya dalam berbisnis. Komunikasi bisnis keluarga memiliki hubungan yang erat dengan pertentangan, perbedaan serta penolakan pendapat atau ide, ketidakpercayaan antara sesama anggota, bahkan memicu konflik. Penelitian ini menggunakan pendekatan jenis penelitian kualitatif dengan metode penelitian fenomenologi. Penentuan sumber data penelitian, menggunakan teknik purposive dengan 5 informan yang mengelola bisnis keluarga dibidang kuliner yang telah berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi motif-motif yang mendorong pelaku melakukan bisnis keluarga, mendeskripsikan makna komunikasi bisnis keluarga serta mendeskripsikan aktivitas komunikasi bisnis yang dilakukan oleh pelaku bisnis keluarga dalam menjalankan bisnis kulinernya. Hasil penelitian ini adalah motif yang mendorong pelaku untuk melakukan bisnis keluarga diantaranya: motif kepatuhan (obedience motive), motif aktualisasi diri (self actualization motive), motif ekonomi (economic motive) dan motif bakat (aptitude motive). Makna komunikasi bisnis keluarga bagi pelaku adalah sebuah tantangan dan kepatuhan. Makna yang dikonstruksi tersebut, dapat dinetralisir dengan melakukan obrolan ringan, pertemuan bisnis keluarga, rapat keluarga yang dapat menghasilkan beberapa point, seperti pengambilan keputusan yang dapat dilakukan secara diskusi dan professional, melakukan pelaporan kegiatan bisnis, dan pemecahan dari perbedaan pendapat bahkan konflik. Aktivitas Komunikasi pelaku bisnis keluarga mencakup promosi, membangun hubungan dengan karyawan, supliyer dan memfasilitasi pelanggan restoran dengan acara karaoke, happy hours, nonton bareng, serta membina hubungan dengan partner bisnis dengan membangun perjanjian kerjasama pembukaan cabang baru. DOI: 10.24198/jkk.vol4n1.3

    KINERJA HUBUNGAN MASYARAKAT PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN DAN KOTA DI JAWA BARAT

    No full text
    Kebutuhan pemerintah Indonesia atas Humas pemerintah tidak lagi dalam tataran wacana atau sekedar konsep secara keIlmuan, keberadaan Humas pemerintah didorong atas kebutuhan pemerintah untuk menjelaskan apa yang dilakukan oleh pemerintah kepada ,asyarakat guna memperoleh dukungan dan untuk menerangkan apa dan bagaimana yang dilakukan pemerintah sehingga lingkungan masyarakat dalam dan masyarakat luar percaya. sudah sejak lama pemerintah di Indonesia termasuk pemerintah daerah memiliki Humas pemerintah, bahkan khusus di lingkungan pemerintah, profesi ini tergabung dalam wadah BakoHumas. Fakta yang ada dan berkembang mengisyaratkan sekaligus mempertanyakan mengenai kinerja Humas Pemerintah selama ini. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsi kinerja Humas pemerintah khususnya Humas Pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Barat. Untuk mencapai tujuan penelitian, metode yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket. Temuan dari penelitian ini memperlihatkan bahwa: pertama, kinerja Humas pemerintah lebih banyak menerimaan teguran dibanding pujian/penghargaan atas hasil kerja; kedua, pegawai di bagian Humas pemerintah sangat sedikit yang berlatar belakang pendidikan formal komunikasi, terlebih lulusan keHumasan selain itu pegawai juga jarang mendapat pendidikan non formal bidang keHumasan; ketiga, aktivitas Humas pemerintah lebih tertumpu pada kegiatan rutin berupa penyediaan informasi bagi media. Konsekuens dari temuan penelitian ini adalah perlunya pengembangan kompetensi pegawai Humas pemerintah melalui linieritas bidang kerja dan pendidikan bagi pegawai baru dan pelatihan bidang keHumasan bagi petugas yang sudah ada.DOI: 10.24198/jkk.vol4n2.2Kebutuhan pemerintah Indonesia atas Humas pemerintah tidak lagi dalam tataran wacana atau sekedar konsep secara keIlmuan, keberadaan Humas pemerintah didorong atas kebutuhan pemerintah untuk menjelaskan apa yang dilakukan oleh pemerintah kepada ,asyarakat guna memperoleh dukungan dan untuk menerangkan apa dan bagaimana yang dilakukan pemerintah sehingga lingkungan masyarakat dalam dan masyarakat luar percaya. sudah sejak lama pemerintah di Indonesia termasuk pemerintah daerah memiliki Humas pemerintah, bahkan khusus di lingkungan pemerintah, profesi ini tergabung dalam wadah BakoHumas. Fakta yang ada dan berkembang mengisyaratkan sekaligus mempertanyakan mengenai kinerja Humas Pemerintah selama ini. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsi kinerja Humas pemerintah khususnya Humas Pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Barat. Untuk mencapai tujuan penelitian, metode yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket. Temuan dari penelitian ini memperlihatkan bahwa: pertama, kinerja Humas pemerintah lebih banyak menerimaan teguran dibanding pujian/penghargaan atas hasil kerja; kedua, pegawai di bagian Humas pemerintah sangat sedikit yang berlatar belakang pendidikan formal komunikasi, terlebih lulusan keHumasan selain itu pegawai juga jarang mendapat pendidikan non formal bidang keHumasan; ketiga, aktivitas Humas pemerintah lebih tertumpu pada kegiatan rutin berupa penyediaan informasi bagi media. Konsekuens dari temuan penelitian ini adalah perlunya pengembangan kompetensi pegawai Humas pemerintah melalui linieritas bidang kerja dan pendidikan bagi pegawai baru dan pelatihan bidang keHumasan bagi petugas yang sudah ada.DOI: 10.24198/jkk.vol4n2.

    KOMUNIKASI NONVERBAL PROKSEMIK DI RUMAH TIDAK LAYAK HUNI

    Get PDF
    Keberadaan ruang dalam sebuah rumah memiliki arti tersendiri bagi para penghuni yang tinggal di dalamnya. Ruang merupakan sebuah pesan nonverbal yang berkontribusi dalam interaksi dan komunikasi. Ruang haruslah memenuhi syarat-syarat tertentu agar dapat memenuhi kebutuhan para penghuninya. Rumah di pemukiman kumuh memiliki ruang-ruang yang berada di bawah standar, salah satunya rumah yang terdapat di Bantaran Sungai Cikapundung Kota Bandung. Rumah yang berdiri hanya pada luas tanah 12m2 ini harus dihuni oleh delapan anggota keluarga yang terdiri dari tiga buah keluarga inti. Penelitian ini berupaya untuk memberikan gambaran yang komprehensif mengenai komunikasi nonverbal proksemik yang terjadi dalam sebuah rumah yang tidak layak huni. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa konsep ruang yang terbentuk dalam sebuah rumah tidak layak huni terbagi menjadi empat kategori yaitu (1) ruang privat untuk setiap penghuni (private space for everyperson), (2) ruang privat untuk keluarga kecil (private space for nuclear family), (3) ruang publik untuk keluarga kecil (public space for nuclear family), dan (4) ruang publik untuk keluarga besar (public space for extended family). Karakteristik ruang di rumah tidak layak huni berkontribusi pada proses komunikasi yang terjadi di antara sesama anggota keluarga. Pesan yang disampaikan dalam proses komunikasi keluarga tersebut hanyalah pesan yang bersifat umum.DOI: 10.24198/jkk.vol4n1.2Keberadaan ruang dalam sebuah rumah memiliki arti tersendiri bagi para penghuni yang tinggal di dalamnya. Ruang merupakan sebuah pesan nonverbal yang berkontribusi dalam interaksi dan komunikasi. Ruang haruslah memenuhi syarat-syarat tertentu agar dapat memenuhi kebutuhan para penghuninya. Rumah di pemukiman kumuh memiliki ruang-ruang yang berada di bawah standar, salah satunya rumah yang terdapat di Bantaran Sungai Cikapundung Kota Bandung. Rumah yang berdiri hanya pada luas tanah 12m2 ini harus dihuni oleh delapan anggota keluarga yang terdiri dari tiga buah keluarga inti. Penelitian ini berupaya untuk memberikan gambaran yang komprehensif mengenai komunikasi nonverbal proksemik yang terjadi dalam sebuah rumah yang tidak layak huni. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa konsep ruang yang terbentuk dalam sebuah rumah tidak layak huni terbagi menjadi empat kategori yaitu (1) ruang privat untuk setiap penghuni (private space for everyperson), (2) ruang privat untuk keluarga kecil (private space for nuclear family), (3) ruang publik untuk keluarga kecil (public space for nuclear family), dan (4) ruang publik untuk keluarga besar (public space for extended family). Karakteristik ruang di rumah tidak layak huni berkontribusi pada proses komunikasi yang terjadi di antara sesama anggota keluarga. Pesan yang disampaikan dalam proses komunikasi keluarga tersebut hanyalah pesan yang bersifat umum.DOI: 10.24198/jkk.vol4n1.

    LITERASI MEDIA SEBAGAI STRATEGI KOMUNIKASI TIM SUKSES RELAWAN PEMENANGAN PEMILIHAN PRESIDEN JOKOWI JK DI BANDUNG

    Get PDF
    Memahami kegiatan literasi media yang terjadi dalam kehidupan berorganisasi akan memberikan gambaran yang jelas tentang kemampuan mengidentifikasi, menentukan, mengorganisir, dan menggunakan media, serta menjadikan informasi sebagai bahan pertimbangan pembuatan keputusan tim sukses relawan pemenangan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla di Bandung. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menemukan kegiatan literasi media sebagai strategi komunikasi tim sukses relawan pemenangan pemilihan presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan triangulasi data sumber. Media sosial menjadi media utama dalam proses penyampaian pesan kepada khalayak di kota Bandung. Terdapat beberapa jenis media sosial yang akan digunakan secara rutin dalam proses tersebut, yaitu Twitter, Facebook, Instagram, dan Youtube. Namun, timses relawan media sosial hanya fokus kepada dua jenis media sosial yang dianggap dapat mempengaruhi pandangan publik. Twiter dan Instagram dianggap mampu menjadi jejaring sosial yang efektif dalam proses penyampaian pesan politik pemilu 2014. Penyampaian informasi oleh timses relawan media sosial kepada masyarakat melalui Twitter dan Instagram dianggap sangat efektif dan tepat. Konten-konten yang disediakan oleh akun Twitter sangat mudah untuk diakses oleh semua kalangan. Penelitian tantang proses literasi media tim sukses relawan pemenangan presiden Jokowi-Jk ini dapat menambah masukan bagi ilmu komunikasi, terutama dalam bidang literasi media, bahwa saat ini keberadaan media dapat menjadi sebuah strategi komunikasi yang cukup efektif. DOI: 10.24198/jkk.vol4n2.3Memahami kegiatan literasi media yang terjadi dalam kehidupan berorganisasi akan memberikan gambaran yang jelas tentang kemampuan mengidentifikasi, menentukan, mengorganisir, dan menggunakan media, serta menjadikan informasi sebagai bahan pertimbangan pembuatan keputusan tim sukses relawan pemenangan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla di Bandung. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menemukan kegiatan literasi media sebagai strategi komunikasi tim sukses relawan pemenangan pemilihan presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan triangulasi data sumber. Media sosial menjadi media utama dalam proses penyampaian pesan kepada khalayak di kota Bandung. Terdapat beberapa jenis media sosial yang akan digunakan secara rutin dalam proses tersebut, yaitu Twitter, Facebook, Instagram, dan Youtube. Namun, timses relawan media sosial hanya fokus kepada dua jenis media sosial yang dianggap dapat mempengaruhi pandangan publik. Twiter dan Instagram dianggap mampu menjadi jejaring sosial yang efektif dalam proses penyampaian pesan politik pemilu 2014. Penyampaian informasi oleh timses relawan media sosial kepada masyarakat melalui Twitter dan Instagram dianggap sangat efektif dan tepat. Konten-konten yang disediakan oleh akun Twitter sangat mudah untuk diakses oleh semua kalangan. Penelitian tantang proses literasi media tim sukses relawan pemenangan presiden Jokowi-Jk ini dapat menambah masukan bagi ilmu komunikasi, terutama dalam bidang literasi media, bahwa saat ini keberadaan media dapat menjadi sebuah strategi komunikasi yang cukup efektif. DOI: 10.24198/jkk.vol4n2.

    MODEL KOMUNIKASI PERKAWINAN JARAK JAUH

    Get PDF
    Komunikasi pasangan suami istri jarak jauh pada penelitian ini dilatarbelakangi karena keunikan dari pasangan suami istri yang seharusnya hidup dalam satu tempat tinggal yang sama tetapi harus terpisah ruang dan waktu. Selain itu tidak semua pasangan suami dan istri mampu menjalani pernikahan jarak jauh dan bisa mempertahankan pernikahannya sampai saat ini.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui latarbelakang melakukan komunikasi pada pasangan suami istri jarak jauh; (2) mengetahui makna keharmonisan bagi pasangan suami istri yang melakukan komunikasi jarak jauh; (3) mengetahui pengalaman komunikasi bermedia pada pasangan suami istri jarak jauh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dari informan didapatkan dari enam pasangan suami istri yang melakukan komunikasi jarak jauh dengan menggunakan teknik pengamatan non partisipan dan wawancara mendalam.Hasil penelitian ini menujukkan bahwa (1) latarbelakang melakukan komunikasi pasangan suami istri jarak jauh tediri dari beberapa aspek: a. Jodoh, b. Tugas belajar, c. Penempatan tugas kerja, d. Tuntutan ekonomi; (2) Makna keharmonisan terdiri dari beberapa aspek: a. Saling percaya, b. Keterbukaan, c. Pengertian, d. Perhatian, e. Berpikir positif, f. Saling komunikasi, g. Menghargai, h. Memecahkan masalah; (3) Pengalaman komunikasi bermedia pasangan suami istri jarak jauh. Pengalaman komunikasi dibagi menjadi tiga bagian, yaitu a. Komunikasi bermedia (telepon, skype, bbm/sms), b. Rutinitas komunikasi (pagi, siang, malam), c. Kendala komunikasi (sinyal, biaya dan waktu). DOI: 10.24198/jkk.vol4n1.10 Komunikasi pasangan suami istri jarak jauh pada penelitian ini dilatarbelakangi karena keunikan dari pasangan suami istri yang seharusnya hidup dalam satu tempat tinggal yang sama tetapi harus terpisah ruang dan waktu. Selain itu tidak semua pasangan suami dan istri mampu menjalani pernikahan jarak jauh dan bisa mempertahankan pernikahannya sampai saat ini.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui latarbelakang melakukan komunikasi pada pasangan suami istri jarak jauh; (2) mengetahui makna keharmonisan bagi pasangan suami istri yang melakukan komunikasi jarak jauh; (3) mengetahui pengalaman komunikasi bermedia pada pasangan suami istri jarak jauh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dari informan didapatkan dari enam pasangan suami istri yang melakukan komunikasi jarak jauh dengan menggunakan teknik pengamatan non partisipan dan wawancara mendalam.Hasil penelitian ini menujukkan bahwa (1) latarbelakang melakukan komunikasi pasangan suami istri jarak jauh tediri dari beberapa aspek: a. Jodoh, b. Tugas belajar, c. Penempatan tugas kerja, d. Tuntutan ekonomi; (2) Makna keharmonisan terdiri dari beberapa aspek: a. Saling percaya, b. Keterbukaan, c. Pengertian, d. Perhatian, e. Berpikir positif, f. Saling komunikasi, g. Menghargai, h. Memecahkan masalah; (3) Pengalaman komunikasi bermedia pasangan suami istri jarak jauh. Pengalaman komunikasi dibagi menjadi tiga bagian, yaitu a. Komunikasi bermedia (telepon, skype, bbm/sms), b. Rutinitas komunikasi (pagi, siang, malam), c. Kendala komunikasi (sinyal, biaya dan waktu). DOI: 10.24198/jkk.vol4n1.10

    STRATEGI MEDIA RELATIONS PT. PELABUHAN TANJUNG PRIOK DALAM MENANGGAPI KRISIS

    Get PDF
    PT. Pelabuhan Indonesia II (Persero) sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara yang bergerak pada bidang kepelabuhanan ini memiliki permasalahan internal perusahaan yaitu Direktur Utama Richard Joost Lino yang terdakwa sebagai tersangka kasus korupsi mobile crane Pelindo II. Krisis mulai menjadi ancaman citra perusahaan maupun anak perusahaannya, PT. Pelabuhan Tanjung Priok, yaitu sejak pemberitaan permasalahan ini tersebar luas di media cetak maupun elektronik pada bulan Agustus 2015 mengenai penggeledahan kantor Direktur Utama Pelindo II oleh Penyidik Bareskrim Polri. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan teknik in-depth interview, observasi langsung penelitian di PT. Pelabuhan Tanjung Priok dan juga didukung oleh data dokumentasi dari perusahaan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana strategi media relations PT. Pelabuhan Tanjung Priok dalam menanggapi krisis yang dihadapi oleh holding company. Berdasarkan hasil pengelolahan data, maka dapat diketahui bahwa kaitan antara kegiatan humas anak peruaahaan dengan holding company yaitu saling mendukung dan membantu segala kegiatan yang dilakukan oleh humas holding company. Namun, pada saat terjadi krisis, humas PT. Pelabuhan Tanjung Priok tidak ikut berkontribusi banyak dalam penanganan krisis melainkan hanya membantu dalam penyebaran informasi yang positif dan benar kepada media cetak maupun elektronik. DOI: 10.24198/jkk.vol4n2.10PT. Pelabuhan Indonesia II (Persero) sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara yang bergerak pada bidang kepelabuhanan ini memiliki permasalahan internal perusahaan yaitu Direktur Utama Richard Joost Lino yang terdakwa sebagai tersangka kasus korupsi mobile crane Pelindo II. Krisis mulai menjadi ancaman citra perusahaan maupun anak perusahaannya, PT. Pelabuhan Tanjung Priok, yaitu sejak pemberitaan permasalahan ini tersebar luas di media cetak maupun elektronik pada bulan Agustus 2015 mengenai penggeledahan kantor Direktur Utama Pelindo II oleh Penyidik Bareskrim Polri. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan teknik in-depth interview, observasi langsung penelitian di PT. Pelabuhan Tanjung Priok dan juga didukung oleh data dokumentasi dari perusahaan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana strategi media relations PT. Pelabuhan Tanjung Priok dalam menanggapi krisis yang dihadapi oleh holding company. Berdasarkan hasil pengelolahan data, maka dapat diketahui bahwa kaitan antara kegiatan humas anak peruaahaan dengan holding company yaitu saling mendukung dan membantu segala kegiatan yang dilakukan oleh humas holding company. Namun, pada saat terjadi krisis, humas PT. Pelabuhan Tanjung Priok tidak ikut berkontribusi banyak dalam penanganan krisis melainkan hanya membantu dalam penyebaran informasi yang positif dan benar kepada media cetak maupun elektronik. DOI: 10.24198/jkk.vol4n2.1

    PEMAKNAAN GENDER PEREMPUAN PEKERJA MEDIA

    Get PDF
    Keterlibatan perempuan di ranah publik sering berhadapan dengan pandangan bias gender yang lebih menempatkan peran perempuan di ranah domestik. Pekerjaan di media pada umumnya dipandang sebagai pekerjaan laki-laki. Perempuan pekerja media berada dalam dunia yang maskulin. Oleh karena itu konflik peran gender pekerja wartawan di rumah dan kantor menarik untuk diteliti. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan fenomenologi untuk mengeksplorasi pemaknaan gender perempuan pekerja media di Jawa Barat. Subjek penelitian adalah perempuan pekerja media di Jawa Barat. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi dan studi literatur. Hasil penelitian dianalisis secara kualitatif dan interpretatif. Hasil penelitian menemukan bahwa perempuan pekerja media memaknai dirinya 1) sebagai perempuan memiliki perbedaan dengan laki-laki akan tetapi tidak dimaknai negatif, 2) sebagai perempuan sama dan setara dengan laki-laki, 3) sebagai perempuan diperlakukan adil dalam keluarga dan sekolah, 4) memaknai dirinya lebih kuat atau memiliki kelebihan dibanding laki-laki disekitarnya, 5)memandang tugas mengurus anak adalah tugas perempuan, dan 6)memilih keluar pekerjaan jika terjadi benturan antara pilihan mengasuh anak dengan bekerja .DOI: 10.24198/jkk.vol4n1.8Keterlibatan perempuan di ranah publik sering berhadapan dengan pandangan bias gender yang lebih menempatkan peran perempuan di ranah domestik. Pekerjaan di media pada umumnya dipandang sebagai pekerjaan laki-laki. Perempuan pekerja media berada dalam dunia yang maskulin. Oleh karena itu konflik peran gender pekerja wartawan di rumah dan kantor menarik untuk diteliti. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan fenomenologi untuk mengeksplorasi pemaknaan gender perempuan pekerja media di Jawa Barat. Subjek penelitian adalah perempuan pekerja media di Jawa Barat. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi dan studi literatur. Hasil penelitian dianalisis secara kualitatif dan interpretatif. Hasil penelitian menemukan bahwa perempuan pekerja media memaknai dirinya 1) sebagai perempuan memiliki perbedaan dengan laki-laki akan tetapi tidak dimaknai negatif, 2) sebagai perempuan sama dan setara dengan laki-laki, 3) sebagai perempuan diperlakukan adil dalam keluarga dan sekolah, 4) memaknai dirinya lebih kuat atau memiliki kelebihan dibanding laki-laki disekitarnya, 5)memandang tugas mengurus anak adalah tugas perempuan, dan 6)memilih keluar pekerjaan jika terjadi benturan antara pilihan mengasuh anak dengan bekerja .DOI: 10.24198/jkk.vol4n1.

    STRATEGI PEMASARAN PUBLIC RELATIONS MD ENTERTAINMENT PADA PEMASARAN FILM HABIBIE & AINUN

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perencanaan, implementasi serta evaluasi dari strategiMarketing Public Relations yang ditetapkan PR MD Entertainment pada film Habibie & Ainun pada tahun2012-2013. Metode yang dilakukan adalah metode deskriptif yang bertujuan melukiskan secara sistematisfakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan cermat. Hasil penelitianmenunjukan PR MD Entertainment telah melakukan tahapan-tahapan atau Teknik PR pada film Habiebie danAinun dengan melakukan perencanaan, implementasi serta evaluasi dari program tersebut dari tahun 2012–2013. Kesimpulan penelitian ini adalah PR MD Entertainment melakukan perencanaan Strategi Marketing PRFilm Habibie & Ainun, telah dilakukan dengan baik dan melalui proses persiapkan yang sangat matang, tahapimplementasi strategi MPR MD Entertainment pada pemasaran Film Habibie & Ainun meliputi apa, siapadan bagaimana proses penyampaian pesan-pesan yang akan disampaikan kepada masyarakat. Penggunaanberbagai taktik MPR baik dalam bentuk Offline, Online dan Ground Activity yang menekankan pada UniqueSelling point dari tokoh yang diangkat, disertai advertising/iklan, publisitas, merchandising dan dibantu olehkekuatan word of mouth yang dilakukan oleh media serta Evaluasi Strategi juga dilakukan oleh PR MDEntertainment, diawali dengan melakukan Media Monitoring, serta mencari apa kekurangan, kelebihan,kendala yang dihadapi timnya dalam melaksanakan tugas.Saran penelitian ini dari semua kegiatan MPRyang dilakukan, maka Merchandising tampaknya kurang begitu menarik perhatian. Hal ini disebabkan olehpenjualan semua merchandise Film Habibie & Ainun yang hanya dijual melalui sosial media dan website MDEntertainment, dan diharapkan setelah ini dilakukan penelitian lain mengenai pentingnya kegiatan PublicRelations dalam mendukung pemasaran Film yang lebih spesifik dan mendalam, terutama dari para pekerjafilm Indonesia untuk semakin menggairahkan kembali perfilman nasional yang berkualitas.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perencanaan, implementasi serta evaluasi dari strategi Marketing Public Relations yang ditetapkan PR MD Entertainment pada film Habibie & Ainun pada tahun 2012-2013. Metode yang dilakukan adalah metode deskriptif yang bertujuan melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan cermat. Hasil penelitian menunjukan PR MD Entertainment telah melakukan tahapan-tahapan atau Teknik PR pada film Habiebie dan Ainun dengan melakukan perencanaan, implementasi serta evaluasi dari program tersebut dari tahun 2012–2013. Kesimpulan penelitian ini adalah PR MD Entertainment melakukan perencanaan Strategi Marketing PR Film Habibie & Ainun, telah dilakukan dengan baik dan melalui proses persiapkan yang sangat matang, tahap implementasi strategi MPR MD Entertainment pada pemasaran Film Habibie & Ainun meliputi apa, siapa dan bagaimana proses penyampaian pesan-pesan yang akan disampaikan kepada masyarakat. Penggunaan berbagai taktik MPR baik dalam bentuk Offline, Online dan Ground Activity yang menekankan pada Unique Selling point dari tokoh yang diangkat, disertai advertising/iklan, publisitas, merchandising dan dibantu oleh kekuatan word of mouth yang dilakukan oleh media serta Evaluasi Strategi juga dilakukan oleh PR MD Entertainment, diawali dengan melakukan Media Monitoring, serta mencari apa kekurangan, kelebihan, kendala yang dihadapi timnya dalam melaksanakan tugas.Saran penelitian ini dari semua kegiatan MPR yang dilakukan, maka Merchandising tampaknya kurang begitu menarik perhatian. Hal ini disebabkan oleh penjualan semua merchandise Film Habibie & Ainun yang hanya dijual melalui sosial media dan website MD Entertainment, dan diharapkan setelah ini dilakukan penelitian lain mengenai pentingnya kegiatan Public Relations dalam mendukung pemasaran Film yang lebih spesifik dan mendalam, terutama dari para pekerja film Indonesia untuk semakin menggairahkan kembali perfilman nasional yang berkualitas

    PEMAHAMAN EMANSIPASI WANITA

    Get PDF
    Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui makna emansipasi wanita yang disampaikan R. A. Kartini padabuku Habis Gelap Terbitlah Terang. Dengan begitu, masyarakat dapat memahami emansipasi wanita yangada dalam pemikiran Kartini dan tidak terjadi kesalahpahaman dalam menginterpretasi makna emansipasiwanita. Pada tulisan ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi hermeneutika JurgenHabermas. Habermas menyampaikan bahwa pemahaman dibagi menjadi tiga kelas ekspresi yakni bahasaatau linguistik, tindakan atau kegiatan dan pengalaman. Data yang dikumpulkan penulis dilakukan denganmengolah dokumentasi, studi pustaka dan menelusuri data online. Sementara untuk analisis data, penulismelakukan kategorisasi dan reduksi data, sajian data dan penarikan simpulan. Penulis menguji keabsahandata dengan menggunakan bahan referensi dan mengadakan member check. Hasil penelitian pada tulisan iniadalah pemahaman emansipasi wanita dalam pemikiran R. A. Kartini yang tercantum pada buku Habis GelapTerbitlah Terang, memiliki dua keinginan. Bagi Kartini keinginannya sebagai perempuan adalah untuk bebasdan mandiri. Lebih jelasnya adalah pertama, sebagai perempuan Kartini ingin diberi kesempatan mengenyampendidikan di bangku sekolah. Keinginan Kartini yang kedua adalah menolak adanya pernikahan poligami.Kartini menulis untuk memperjuangkan emansipasi wanita. Pemikiran serta tindakan Kartini seperti initidak dapat lepas dari latar belakangnya yang merupakan anak selir dan berasal dari golongan bangsawan.Kesimpulan dari tulisan ini adalah perjuangan untuk bebas mengenyam pendidikan bagi perempuan danpenolakan atas pernikahan poligami. Dalam perjuangannya, Kartini menggunakan sastra sebagai alat untukmencapai hal tersebut. Pengalaman dan latar belakang Kartini sebagai anak selir menjadi alasan kuat dalammemperjuangkan emansipasi wanita. Tidak hanya itu, adat Jawa yang terlalu mengekang perempuan punturut memotivasi Kartini untuk berjuang membebaskan diri atas nama perempuan.Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui makna emansipasi wanita yang disampaikan R. A. Kartini pada buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Dengan begitu, masyarakat dapat memahami emansipasi wanita yang ada dalam pemikiran Kartini dan tidak terjadi kesalahpahaman dalam menginterpretasi makna emansipasi wanita. Pada tulisan ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi hermeneutika Jurgen Habermas. Habermas menyampaikan bahwa pemahaman dibagi menjadi tiga kelas ekspresi yakni bahasa atau linguistik, tindakan atau kegiatan dan pengalaman. Data yang dikumpulkan penulis dilakukan dengan mengolah dokumentasi, studi pustaka dan menelusuri data online. Sementara untuk analisis data, penulis melakukan kategorisasi dan reduksi data, sajian data dan penarikan simpulan. Penulis menguji keabsahan data dengan menggunakan bahan referensi dan mengadakan member check. Hasil penelitian pada tulisan ini adalah pemahaman emansipasi wanita dalam pemikiran R. A. Kartini yang tercantum pada buku Habis Gelap Terbitlah Terang, memiliki dua keinginan. Bagi Kartini keinginannya sebagai perempuan adalah untuk bebas dan mandiri. Lebih jelasnya adalah pertama, sebagai perempuan Kartini ingin diberi kesempatan mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Keinginan Kartini yang kedua adalah menolak adanya pernikahan poligami. Kartini menulis untuk memperjuangkan emansipasi wanita. Pemikiran serta tindakan Kartini seperti ini tidak dapat lepas dari latar belakangnya yang merupakan anak selir dan berasal dari golongan bangsawan. Kesimpulan dari tulisan ini adalah perjuangan untuk bebas mengenyam pendidikan bagi perempuan dan penolakan atas pernikahan poligami. Dalam perjuangannya, Kartini menggunakan sastra sebagai alat untuk mencapai hal tersebut. Pengalaman dan latar belakang Kartini sebagai anak selir menjadi alasan kuat dalam memperjuangkan emansipasi wanita. Tidak hanya itu, adat Jawa yang terlalu mengekang perempuan pun turut memotivasi Kartini untuk berjuang membebaskan diri atas nama perempuan

    152

    full texts

    160

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kajian Komunikasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇