Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
    337 research outputs found

    RANCANG BANGUN BEAMFORMING SENSOR PADA SISTEM AKUSTIK BAWAH AIR

    Get PDF
    Beamforming adalah sebuah metode yang digunakan untuk membuat pola radiasi dari antena array dengan cara menambahkan konstruksi dari fasa sebuah sinyal pada arah target yang menginginkan bergerak, dan nulling pola dari target yang interfering target. Teknik pemrosesan sinyal yang digunakan adalah teknologi sensor terangkai (array sensors) untuk menciptakan transmisi atau resepsi sinyal yang terarah. Teknik beamforming dalam akustik bawah air (underwater acoustics) telah dikembangkan sejak lama untuk keperluan sonar, seismologi, komunikasi bawah air serta identifikasi sumber suara atau bising kapal selam. Melalui teknik beamforming maka kuat sinyal yang ditransmisikan atau dipersepsi pada arah tertentu akan jauh lebih besar dibandingkan dengan metode omni drectional atau spherical sensors. Penguasaan teknologi bawah air bersifat strategis, apapun jenisnya baik yang sederhana maupun yang kompleks seperti sonar atau torpedo maupun kapal selam. Hanya negara-negara yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dasar bawah air akan memiliki keunggulan dalam peperangan bawah permukaan. Sistem senjata bawah air memiliki sifat kerahasiaan dan pendadakan yang sangat menguntungkan. Berlatarbelakang dari permasalahan tersebut di atas, penelitian rancang bangun sensor beamforming dilakukan dengan harapan putra-putri bangsa Indonesia dapat membangun kekuatan alutsita pertahanan dengan kekuatan bangsa sendiri.Beamforming is the method used to create the radiation pattern of the antenna array by adding constructively the phases of the signals in the direction of the targets, and nulling the pattern of the interfing targets. Signal processing technique used is array sensors technology to create the transmission or reception of directional signal. Beamforming technique in underwater acoustics has been developed for a long time for the purposes of sonar, seismology, underwater communication, and identification of sound sources or submarines noise. If beamforming technique is used, so the signal strength, which is transmitted or percepted in a particular direction, will be much greater than the omnidirectional method or spherical sensors. Mastering the underwater technology is strategic, both simple technology and complex one, such as sonar or torpedo and the submarine. Countries mastering underwater technology will have the predominance in submarine warfare. Having a confidential nature and shocking system is a benefit of underwater weapon. Regarding to the mentioned problems, the study of beamforming sensor design was conducted with the expectations that the next generation of Indonesia can build the main instrument of defense system strength based on the strength of their own nation

    PEMANFAATAN LIMBAH KRUSTASEA DALAM PEMBUATAN GLUKOSAMIN HIDROKLORIDA DENGAN METODE AUTOKLAF

    Get PDF
    Limbah industri pengolahan udang dan rajungan yang mencapai lebih dari 50% berat awalnya, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kitosan. Kitosan sebagai polimer alami yang banyak manfaatnya diberbagai bidang, juga dapat diderivatisasi menjadi glukosamin. GlcN HCl merupakan salah satu suplemen alami yang banyak dikonsumsi masyarakat dunia saat ini terutama dalam fungsinya mengatasi gejala penyakit osteoarthritis. Rendahnya produksi glukosamin dalam negeri menuntut adanya suatu teknologi produksi glukosamin yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh teknik produksi glukosamin hidroklorida yang optimum. Metode penelitian yang digunakan adalah metode hidrolisis kimiawi dengan variabel bebas yakni perlakuan hidrolisis bertekanan (autoclaving), waktu pemanasan (jam), dan konsentrasi asam (% v/v). Karakteristik glukosamin hidroklorida terbaik dilihat dari parameter kelarutan, penampakan, rendemen, nilai loss on drying (LoD), titik leleh, dan serapan gugus fungsi FTIR. Standar mutu glukosamin hidrolisis mengacu pada standar United State Pharmacopeia. Teknik hidrolisis glukosamin terbaik diperoleh pada penggunaan HCl (8%) (v/v) dengan tekanan maksimum 1 atm selama 1 jam. Glukosamin hidroklorida hasil hidrolisis memiliki karakteristik yakni larut sempurna dalam air, berbentuk serbuk berwarna putih kekuningan, memiliki LoD (0,92%), titik leleh 190-193 OC, dan rendemen (69.80%). Spektrum FTIR menunjukkan pola pita serapan OH pada bilangan gelombang 3000-3263 cm-1 dan pita serapan amida pada bilangan gelombang 1566 cm-1 yang sesuai dengan GlcN HCl dengan standar.Utilization of crustacean shell waste to produce chitosan can continue by derivatisation to produced glucosamine. GlcN HCl is one of the nutraceuticals product widely consumed for reducing osteoarthritis symptoms. The minimum local production of glucosamine itself encourages a proper glucosamine production technology. The purpose of this study was to obtain optimum production technique of glucosamine hydrochloride. Production of glucosamine hydrochloride used presured hydrolysis method by pressured treatment (autoclaving), heating time (hours), and acid (% v/v). Characteristic of glucosamine hydrochloride was determined for solubility parameters, appearance, yields, value loss on drying (LOD), the melting point temperature and FTIR absorption. The quality standard of hydrolyzed glucosamine refers to the standard of United State Pharmacopeia. The results showed that the optimum techniques of glucosamine hydrochloride production were using HCl (8%) (v/v) and 1 atm pressure for 1 hour. Hydrolyzedglucosamine hydrochloride was completely dissolved in water, yellowish-white powder appearance with (69.80%) of yield, LOD value was 0.92%, and the melting point temperature was 190-193 °C. FTIR spectrum showed functional group of OH at 300-3263 cm-1 and amida group at 1566 cm-1, wassimilar absorption band patterns with hydrolyzed glucosamine hydrochloride of standard

    INTENSITAS KERJA AKTIVITAS NELAYAN PADA PENGOPERASIAN SOMA PAJEKO (MINI PURSE SEINE) DI BITUNG

    Get PDF
    Faktor-faktor kecelakaan di laut dalam kegiatan penangkapan ikan sebanyak 80% disebabkan oleh kesalahan manusia (FAO 2009). Jumlah kecelakaan kapal penangkap ikan dalam kurun waktu 7 tahun (Januari 2007-November 2013) di PPS Bitung terjadi 40 kali dan cenderung meningkat. Terdapat kecelakaan dari 6 jenis kapal penangkap ikan yang tidak tercatat tahun 2010-2013 di Bitung dengan mayoritas kapal soma pajeko (mini purse seine). Penting untuk mempelajari keselamatan nelayan pada operasi penangkapan ikan soma pajeko, karena jumlah nelayan yang terlibat cukup banyak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi aktivitas dan menentukan intensitas kerja dari aktivitas nelayan dalam operasi soma pajeko yang berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja di laut. Metode penelitian ini adalah deskriptif numerik. Data dianalisis dengan mengidentifikasi aktivitas dengan Hierarchical Task Analysis (HTA). Hasil penelitian menunjukan bahwa tahapan kegiatan soma pajeko di PPS Bitung diurutkan menjadi 8 (delapan) tahap dengan jumlah 58 aktivitas. Jumlah awak kapal penangkap ikan soma pajeko sebanyak 28 orang dengan porsi tanggung jawab terbesar adalah kapten. Jumlah intensitas kerja untuk melakukan semua kegiatan (awal sampai akhir) pada pengoperasian soma pajeko memerlukan keterlibatan awak kapal dengan Intensitas Kerja Total (IKT) sebesar 563 OA (Orang Aktivitas). Tahap 5 (bauling) memiliki intensitas kerja terbesar yang menunjukkan tingkat aktivitas tertinggi dengan indeks Intensitas Kerja Primer (IKP) sebesar 0.29. Keterlibatan awak saat bauling merupakan intensitas kerja tertinggi (139 OA) sehingga berpotensi menimbulkan peluang resiko kecelakaan kerja yang disebabkan oleh kesalahan manusia lebih tinggi dibandingkan tahap kegiatan pengoperasian soma pajeko lainnya.There are factors of accident at sea in fishing activities which 80% caused by human errors (FAO 2009). The number of fishing vessel accidents within 7 years (January 2007-November 2013) in PPS Bitung occurred 40 times and tends to increase. There were accidents of six types of fishing vessels which majority soma pajeko (mini purse seine) that not recorded within 2010-2013 in Bitung. It is necessary to study fishermen safety on soma pajeko fishing operations because the number of fishermen is quite a lot. The research objectives are to identify and determine the work intensity of fishermen activity in soma pajeko operation which potentially cause work accident at sea. This research method is a numerical descriptive. Data were analyzed by identifying activities with Hierarchical Task Analysis (HTA). Study result shows that stages of soma pajeko activities at PPS Bitung sorted into 8 phases with total 58 activities. Number of crew on soma pajeko fishing vessel examined as 28 persons with the greatest portion of responsibility burdens is Captain. Total work intensity to perform all activities (beginning to end) on soma pajeko operation requires crew involvement/ power forces equivalent to 563 OA (men activity). The greatest primary work intensity is on the 5th stage (bauling) which showed the biggest activity level with primary work intensity index of 0.29. Involvement crew on bauling was the biggest intensity (139 OA) which potentially occurs the risk possibility of work accidents caused by human error that bigger than other activities

    PERBEDAAN LAJU PERTUMBUHAN KARANG Porites lutea DI PULAU TUNDA

    Get PDF
    Kerangka karang pada jenis karang Porites lutea yang telah terdeposit dapat memberikan informasi dalam menentukan laju pertumbuhan karang yang terlihat pada lingkar tahunan (annual band). Pengambilan sampel dilakukan dengan cara pemboran dengan menggunakan mata bor pneumatic yang selanjutnya dianalisis menggunakan sinar-x untuk mendapatkan arah, umur dan laju pertumbuhan. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan karang Porites lutea yang berada pada stasiun utara (windward) berkisar antara 0.60-2.50 cm/tahun dengan laju pertumbuhan rata-rata 1.43 cm/ tahun, dan stasiun selatan (leeward) berkisar antara 0.50-2.20 cm/tahun dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 1.21 cm/tahun. Laju pertumbuhan karang Porites lutea baik yang berada stasiun utara (winward) maupun stasiun selatan (leeward) menunjukkan tidak berbeda nyata.The skeleton of deposited coral species Porites lutea can provide information to determine the life growth rate of the coral that can be seen on its annual bands. The coral sampling was carried out by using pneumatic drill and then it was analyzed to determine the direction, age, and growth rates of the coral, using X-ray. Result of the research showed that the growth rate of Porites lutea coral in northern station (windward) was in ranged of 0.60 – 2.50 cm/year while the average growth rate was 1.44 cm/year, and in the southern station (leeward) was in ranged of 0.50 – 2.20 cm/year while its average growth rate was 1.21 cm/year. The growth rate of Porites lutea both located north station (winward) and the south station (leeward) showed no significant difference

    STRATEGI SISTEM PENANGANAN IKAN TUNA SEGAR YANG BAIK DI KAPAL NELAYAN HAND LINE PPI DONGGALA

    Get PDF
    Mempertahankan kesegaran ikan tuna hasil tangkapan sangat penting demi mendapatkan mutu ikan tuna yang baik sehingga memiliki nilai jual yang tinggi. Kesegaran ikan tuna dapat dipertahankan jika terbentuk suatu strategi sistem penanganan ikan tuna segar yang baik di atas kapal. Tujuan penelitian ini adalah merumuskan suatu strategi untuk membantu meningkatkan mutu ikan tuna hasil tangkapan nelayan hand line karena melihat permasalahan mutu ikan tuna yang dihadapi oleh nelayan hand line PPI Donggala maka diperlukan suatu tindakan untuk mengubah sistem penangaan ikan tuna segar ke arah yang lebih baik. Metode yang digunakan dalam pengambilan data yaitu observasi dan wawancara dengan nelayan, pengumpul serta instansi terkait. Analisis data untuk menyusunan strategi pada sistem penanganan ikan tuna segar skala nelayan hand line dilakukan melalui pendekatan analisis SWOT dengan mengidentifikasi berbagai faktor lingkungan internal dan eksternal secara sistematik dan dilanjutkan dengan merumuskannya. Kemudian dengan membandingkan antara faktor internal yaitu kekuatan (Strengths), dan kelemahan (Weakness) dengan faktor eksternal yaitu peluang (Opportunities) dan ancaman (Threats). Berdasarkan hasil analisis didapatkan beberapa strategi untuk menangani masalah yang dihadapi nelayan hand line yaitu Strategi SO yang meliputi pengaturan sistem operasi penangkapan nelayan hand line dan perbaikan sistem rantai pemasaran ikan tuna segar, strategi ST yang meliputi penerapan sistem manajemen mutu terpadu dan pembuatan SOP penanganan ikan tuna segar diatas kapal hand line, strategi WO yang meliputi penerapan sertifikasi tentang cara penanganan ikan yang baik di atas kapal hand line dan pendampingan oleh teknisi dari instansi terkait kepada nelayan hand line tentang cara penangkapan dan penanganan ikan tuna segar yang baik serta strategi WT yang meliputi penambahan dan perbaikan alat bantu penanganan ikan tuna segar yang lebih baik.There is increasing demand for high quality products at a competitive price. Tuna is a prime commodity with strict quality standards. The research question addressed is whether the tuna handling system used by hand line fishermen operating out of Donggala fishing port (PPI Donggala) is still poor, affecting quality and thus lowering the market value of the fish they catch. The goal of this research was to contribute towards improvements in tuna handling by hand line fishermen from the Donggala fishing port. Thus the main benefit should be an improvement in the quality of the fish landed. The research was carried out during April-May 2014 at the Donggala fishing port in Central Sulawesi. Data were collected through observation and interviews. Data were collected from representative individuals through purposive sampling. Both primary and secondary data were collected. Analysis of data was undertaken with the approach strengths weaknesses opportunities threats (SWOT) analysis it of a training strategies the handling of the good fish on board. Based on of the analysis (SWOT) produced four strategies. The strategy was SO, ST, WO and the strategy WT. The fourth strategy is good to be applied, but see the position of the system is in a quadrant five (v), then the most appropriate strategy is WO and ST. The combination strategy WO are increased knowledge about the quality and skill handler’s tuna fish. Another thing that needs to be done that is the addition of the tools like ring tuna dan killing spike. Ring the functioning to hold the movement of the process of hauling and killing spike to deadly fish tuna. Combination strategy that is making ST it self standard operating prosedure (SOP) handling of good; as well as improving work competence

    ANALISIS HASIL TANGKAPAN SET NET JENIS OTHOSIAMI DI TELUK MALASSORO, SULAWESI SELATAN

    Get PDF
    Set net is a fishing gear to set permanently in the fishing ground. Set net othosiami was developed by Center for Fisheries Development Department of Marine and Fisheries (BPPI) Semarang; it had been operated in 2010 at the Gulf Mallasoro, Jeneponto. The data information was collected regarding productivity, compositioning and catching diversity was taken from the catching data in 2011-2013. The study aims were to analyze catching trend, catching composition types and catching diversity. This study was conducted on January and February 2014 at the Gulf Mallasoro, Jeneponto. The method was used descriptive method. Based on the data from 2011-2013 on September-October showed a decline catching trend while the amount of cacthing trend consisted to 91 species. The pelagic fish has been identified for 31 species and 26 species belongs to demersal fish out of 57 species were found. The most dominant fish was Peperek (Leiognathus splendens) with 27% of catched fishes. The diversity index (H’) catching fish period 2011-2013 ranged from 2.61 – 2.74 which regard to moderate category diversity. Furthermore, the value of evenness index (E) was more evenly 0.63 - 0.70 categorical. The dominance index value (D) showed within 0.12 to 0.15 there was no dominant species.Set net adalah alat tangkap yang dipasang secara menetap di daerah penangkapan (fishing ground). Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) Semarang mengembangkan alat tangkap set net yang jenis othosiami dan mengoperasikannya pada tahun 2010 di perairan Teluk Mallasoro, Kabupaten Jeneponto. Data informasi mengenai produktivitas, komposisi dan tingkat keanekaragaman hasil tangkapan diambil dari data hasil tangkapan 2011-2013. Penelitian ini bertujuan menganalisis trend tangkapan, komposisi jenis tangkapan dan tingkat keanekargaman hasil tangkapan set net. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2014 di perairan Teluk Mallasoro, Kabupaten Jeneponto. Metode yang digunakan adalah metode secara deskriptif. Berdasarkan data tahun 2011-2013 pada bulan September–Oktober menunjukkan adanya penurunan trend tangkapan. Total jumlah jenis tangkapan sebesar 91 spesies. Ikan yang telah teridentifikasi sebanyak 57 jenis spesies yang terdiri dari 31 jenis ikan pelagis dan 26 jenis ikan demersal, jenis ikan yang paling dominan sebesar 27% adalah peperek (Leiognathus splendens). Indeks keragaman (H’) hasil tangkapan periode 2011-2013 berkisar antara 2.61-2.74 yang berada pada kategori keanekaragaman sedang. Nilai indeks kemerataan (E) berada pada kategori lebih merata 0.63–0.70. Nilai indeks dominansi (D) berkisar antara 0.12– 0.15 tidak terdapat spesies yang mendominasi

    ESTIMASI DAYA DUKUNG LINGKUNGAN KERAMBA JARING APUNG, DI PERAIRAN PULAU SEMAK DAUN KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA

    Get PDF
    Penelitian ini menguraikan estimasi daya dukung lingkungan perairan terhadap kegiatan budidaya. Analisis yang digunakan yaitu estimasi limbah organik dan pendugaan daya dukung perairan. Jenis ikan yang dibudidayakan yaitu ikan kerapu. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa beban limbah dari kegiatan budidaya sebesar 1.04 kg N/hari/ unit. Estimasi beban limbah antropogenik yaitu 20.56 kg N/hari. Berdasarkan pendekatan beban limbah N, daya dukung lingkungan perairan Pulau Semak Daun terhadap kegiatan budidaya adalah 114 unit keramba jaring apung. Diasumsikan satu unit keramba jaring apung menghasilkan 300 kg ikan, maka diperoleh 28.2 ton produksi ikan yang dapat ditampung.This research describing about the estimation of carrying capacity of water environment against cultivation activities, whereas the type of fish that has been cultivated was grouper fish. Organic waste estimation and carrying capacity of water environment prediction were used to analyze this research. This research resulting that waste loads from cultivation activities were equal to 1.04 kg N/ day/ unit and the estimation of anthropogenic waste loads were 20.56 kg N/ day. Based on approach of waste loads N, carrying capacity of water environment of Semak Daun Island against cultivation activities is 114 units of floating net cages. Assumed a unit of floating net produce of 300 kg of fish, it acquired 28.20 tonnes of fish production can was accommodated

    KONSTRUKSI DAN PRODUKTIVITAS RUMPON PORTABLE DI PERAIRAN PALABUHANRATU, JAWA BARAT

    Get PDF
    Rumpon yang biasa digunakan oleh nelayan dan pengusaha di seluruh Indonesia adalah rumpon yang dipasang menetap di suatu perairan, sehingga tidak dapat dipindah-pindah ke perairan lain. Sejauh ini di Indonesia belum pernah dilakukan penelitian tentang efektivitas dan efisiensi rumpon yang dapat dibawa kemana-mana dan mudah dipindahkan (portable) untuk menangkap ikan tuna dan cakalang. Penelitian ini dibagi dalam 2 tahap : pembuatan desain instrumen rumpon portable, uji coba rumpon portable dan Electric Fish Attractor (EFA) di perairan Palabuhanratu dengan menggunakan pancing gajrut dan tonda. Tujuan dari penelitian ini adalah: merancang dan membuat prototipe desain dan konstruksi rumpon portable yang dapat mengumpulkan ikan, uji coba electric fish attractor dengan frekuensi suara yang berbeda, serta membandingkan efektivitas hasil tangkapan dengan menggunakan alat tangkap pancing tonda dan pancing gajrut. Hasil penelitian ini adalah prototipe rumpon portable memiliki ukuran panjang dan lebar sebesar 1 meter, bahan yang digunakan kayu manglid, atraktor yang digunakan tali rafia, tali atraktor dan tali pemberat adalah tali PE berdiameter 4 mm serta pemberat timah, EFA dengan frekuensi 10-1000 Hz mendapatkan ikan kuwe (Caranx fasciatus) dan ikan layur hitam (Trichiurus sp.), sedangkan EFA dengan frekuensi 1000-20.000 Hz mendapatkan ikan tuna sirip kuning, Thunnus albacares sebanyak 2 ekor dengan ukuran panjang 30 cm dengan berat 40 kg, Hasil tangkapan dengan pancing gajrut memiliki komposisi hasil tangkapan ikan Trichiurus sp. 63%, Nemiptarus sp. 10%, Caesio cuning 7%, Euthynnus spp. and semar 4%, Lutjanus spp. and Thunnus albacares 2% sedangkan dengan pancing tonda komposisinya ikan kembung, ekor kuning, selar kuning dan selar hijau masing-masing 1%.Fish Aggregating Device (FAD) usually used by small and large scale fishermen in Indonesia are FAD shallow and deep sea water which fix in the water. Effectiveness and efficiency research activity about portable FAD in the water to catch Thunnus spp. and skipjack have never been done in Indonesia. This research divided into two stages : portable FAD design, fishing trial with portable FAD used handline and troll line in Palabuhanratu waters. The purpose of this research was to make portable FAD design, fishing trial used Electric Fish Attractor (EFA) with different frequency and to compared effectiveness of catch composition with handline and troll line. The result of this study were design FAD portable with length and width 1 m, the material is manglid wood, the attractors are raffia line and attractor and sinker line used PE with diameter 4 mm and tin sinker, EFA with frequency 10-1.000 Hz catch Caranx fasciatus and Trichiurus sp., whereas EFA with frequency 1.000-20.000 Hz catch 2 fish of Thunnus albacares with length 30 cm and weight 40 kg, catch composition used handline was Trichiurus sp. 63%, Nemiptarus sp. 10%, Caesio cuning 7%, Euthynnus spp. and semar 4%, Lutjanus spp. and Thunnus albacares 2%, whereas catch composition with troll line was Rastrelliger spp, Caesio cuning, and Selaroides spp. 1%

    EFEKTIVITAS PENANGKAPAN LAYUR (Trichiurus sp.) MENGGUNAKAN UMPAN BUATAN

    Get PDF
    Penangkapan layur (Trichiurus sp.) di Palabuhanratu dengan pancing ulur sangat tergantung pada umpan. Jenis umpan yang biasanya digunakan nelayan adalah umpan alami berupa potongan ikan rucah. Penelitian ini mencoba mencari alternatif penggunaan umpan sebagai pengganti umpan alami untuk menangkap layur. Tiga jenis umpan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu umpan alami sebagai kontrol, umpan buatan dan campuran antara umpan alami dan buatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa umpan buatan dapat digunakan untuk membantu meningkatkan jumlah hasil tangkapan dan menentukan waktu efektif operasi penangkapan pancing ulur. Ketiga jenis umpan dioperasikan secara bersamaan di atas satu unit perahu pancing ulur selama 22 hari. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif komparatif dan analisis statistik rancangan acak lengkap (RAL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa umpan campuran dapat menangkap layur sebanyak 453 ekor atau 52% dari jumlah total hasil tangkapan lebih banyak dibandingkan dengan umpan buatan yang menangkap 223 ekor atau 25% dan umpan alami 203 ekor atau 23%. Waktu penangkapan terbaik adalah antara pukul 05:00-07:00 WIB yang menghasilkan layur sebanyak 379 ekor atau 43% dari total hasil tangkapan, kemudian pukul 07:00-09:00 WIB dan 09:00-11:00 WIB, masing-masing berjumlah 298 ekor atau 34%, dan 202 ekor atau 23%.Hairtail fishing (Trichiurus sp) in Palabuhanratu using handline is highly dependent on fishing bait. The bait which is usually used by fishermen is natural bait which is a piece of trash fish. The purpose of this research is to find bait alternative as a replacement of natural bait for hairtail fishing. Three type of baits used in this research were natural bait as a control, artificial bait and combination between natural and artificial bait. The aims of this research are to prove that artificial baits can increas the catch and to determine the effective time for handline fishing operations. Three kinds of baits were operated at the same time on a single unit of handline fishing boats for 22 days.The research using comparative descriptive analysis and statistical analysis completely randomized design (RAL). The results showed that combination bait can capture 453 hairtails or 52% of the total catch which is more than artificial bait that catch 223 hairtails 25% and natural bait that catch 203 hairtails 23%. The best time of the capture is between 05:00 am to 07:00 am that catch 379 hairtail or 43% of the total catch, and then at 07.00 am to 09:00 am and 09:00 am to 11:00 am, each captured 298 fish 34%, and 202 fish 23%

    MUSIM DAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN CAKALANG DI LAUT BANDA DAN SEKITARNYA PROVINSI MALUKU

    Get PDF
    Suhu permukaan laut (SPL) dan klorofil-a (CHL) merupakan parameter oseanografi yang penting dan sering digunakan untuk memprediksi daerah penangkapan potensial menggunakan remote sensing. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan memetakan daerah penangkapan ikan cakalang di Laut Banda dan sekitanya Provinsi Maluku berdasarkan perubahan musim. Data SPL dan CHL diambil dari analisis data citra satelit, hasil observasi sensor Aqua MODIS level 3 dengan resolusi spasial 4 km dan resolusi temporal bulan dan musiman. Data citra dianalisis dengan program SEADAS 5.2. Hasil analisis menunjukkan suhu permukaan laut (SPL) dan konsentrasi klorofil-a di Laut Banda dan sekitarnya mengalami fluktuasi dari bulan ke bulan. Kondisi ini mempengaruhi fluktuasi SPL dan CHL musiman. Rata-rata suhu tertinggi berada pada musim barat dan pancaroba pertama sedangkan suhu terendah di musim timur. Berbeda dengan konsentrasi klorofil-a, tertinggi pada musim timur dan terendah pada musim pancaroba pertama. Ada korelasi antara peningkatan suhu dan penurunan konsentrasi klorofil-a. Suhu permukaan laut juga memiliki korelasi negatif dengan CPUE dan mempengaruhi pembentukan daerah penangkapan ikan. Daerah penangkapan cakalang di Laut Banda dengan CPUE tertinggi pada semua musim ada di sebelah barat Pulau Seram sekitar Pulau Buano, Kelang dan Manipa atau pada posisi 126,7º-128º BT dan 2.6º-3.4º LS, di sekitar Laut Banda pada posisi 127º-130,3º BT dan 3.2º-4º LS.Sea surface temperature (SST) and a-chlorophyll (CHL) were important and they were often used to predict potential fishing ground by using remote sensing. The objectives of the present study were analysis and mapped fishing ground of skipjack in the Banda Sea and its surrounding Moluccas Province according to monsoon. SST and CHL data were taken from satellite citra data analysis, observed by sensor Aqua MODIS level 3 with spatial resolution 4 km and temporal resolution month and monsoon. Citra data were analyzed by using SEADAS 5.2. software. The analysis showed that sea surface temperature (SST) and a-chlorophyll concentration in the Banda Sea and its surrounding fluctuated from month by month. This condition affected seasonal fluctuation of SST and CHL. The average of highest temperature was in West monsoon and first transitional monsoon whereas the lowest was in East monsoon. Otherwise, a-chlorophyll concentration was highest in East monsoon and lowest was in first transitional monsoon. There was a correlation between temperature increasing and a-chlorophyll concentration decreasing. Sea surface temperature has also a negative correlation to CPUE and influenced fishing ground forming. Fishing ground in Banda Sea with highest CPUE during all monsoon was located on Western part of Seram Island: Buano, Kelang and Manipa Islands or situated on 126.70-1280 E and 2.60-3.40 S. The position surrounding Banda Sea lied on 127º-130.3º E and 3.2º-4º S

    329

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇