Jurnal Elektronik Pendidikan Matematika Tadulako
Not a member yet
458 research outputs found
Sort by
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PADA MATERI RUMUS-RUMUS TRIGONOMETRI JUMLAH DAN SELISIH DUA SUDUT SISWA KELAS XI IPA1 SMA NEGERI 9 PALU
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh deskripsi penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) yang dapat meningkatkan hasil belajar pada materi rumus-rumus trigonometri jumlah dan selisih dua sudut siswa kelas XI IPA1 SMA Negeri 9 Palu. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang mengacu pada desain penelitian Kemmis dan Mc. Taggart yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi rumus-rumus trigonometri jumlah dan selisih dua sudut mengikuti fase-fase, yaitu 1) penomoran, 2) mengajukan pertanyaan, 3) berpikir bersama, dan 4) menjawab. Hasil penelitian: 1) ketuntasan belajar klasikal siswa pada tes akhir tindakan siklus I yaitu 54,55%, dan mengalami peningkatan pada siklus II yaitu 80,95%, 2) hasil observasi aktivitas guru pada siklus I mencapai 76% dengan kriteria baik, dan pada siklus II mencapai 90% dengan kriteria sangat baik, dan 3) hasil observasi aktivitas siswa pada siklu I mencapai 72% dengan kriteria baik, dan pada siklus II mencapai 88% dengan kriteria sangat baik.
Kata Kunci: Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT), Hasil Belajar, Rumus-rumus Trigonometri Jumlah dan Selisih Dua Sudut
Abstract: The purpose of this study is to obtain a description of the application of cooperative learning model type Numbered Heads Together (NHT) that can improve learning outcomes on the material trigonometric formula Addition and Subtraction of two angles of students class XI IPA1 SMA Negeri 9 Palu. This research is a classroom action research that refers to Kemmis and Mc's research design. Taggart ie planning, action execution, observation and reflection. This study was conducted in two cycles. The results showed that the application of NHT type cooperative learning model can improve student learning outcomes on the material of trigonometric formulas the Addition and Subtraction of two angles follow the phases, namely 1) numbering, 2) asking questions, 3) thinking together, and 4) answering . Result of research: 1) student's learning completeness at the end test of action cycle I is 54,55%, and experience improvement in cycle II that is 80,95%; 2) result of observation of activity of teacher in cycle I reach 76% with good criterion, and in the second cycle reached 90% with very good criteria, and 3) the observation of student activity on siklu I reached 72% with good criteria, and in cycle II reached 88% with very good criteria.
Keywords: Cooperative Learning Model Numbered Heads Together (NHT), Learning Outcomes, Trigonometric Formulas Addition and Subtraction Two Angle
ANALISIS KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA KELAS VIII SMPN 1 PALU DALAM MEMECAHKAN MASALAH POLA BILANGAN BERDASARKAN TAKSONOMI SOLO
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang kemampuan kognitif siswa dalam memecahkan masalah pola bilangan berdasarkan taksonomi SOLO. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang dilaksanakan di kelas VIII.B SMPN 1 Palu. Peneliti menggunakan metode pemberian tes pemecahan masalah berbentuk tes superitem, dan wawancara. Subjek penelitian diambil 3 siswa dari 34 siswa dengan kriteria satu siswa berkemampuan tinggi, satu siswa berkemampuan sedang, dan satu siswa berkemampuan rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam memecahkan masalah pola bilangan subjek berkemampuan tinggi mencapai 4 indikator taksonomi SOLO yaitu: 1) level unistruktural; subjek dapat menjawab pertanyaan dari soal berdasarkan satu data atau satu informasi yang disediakan oleh soal, 2) level multistruktural; subjek dapat menjawab pertanyaan dari soal berdasarkan dua data atau konsep yang disediakan oleh soal, 3) level relasional; subjek dapat menjawab pertanyaan dari soal berdasarkan data atau konsep serta melihat dan mengadakan hubungan-hubungan antar data atau konsep tersebut, dan 4) level abstrak yang diperluas; subjek dapat menjawab pertanyaan dari soal berdasarkan informasi atau data dari soal dengan menghasilkan prinsip umum yang dapat diterapkan untuk situasi baru. Subjek berkemampuan sedang mencapai 3 indikator taksonomi SOLO yaitu: 1) level unistruktural; subjek dapat menjawab pertanyaan dari soal berdasarkan satu data atau satu informasi yang disediakan oleh soal, 2) level multistruktural; subjek dapat menjawab pertanyaan dari soal berdasarkan dua data atau konsep yang disediakan oleh soal, dan 3) level relasional; subjek dapat menjawab pertanyaan dari soal berdasarkan data atau konsep serta melihat dan mengadakan hubungan-hubungan antar data atau konsep tersebut. Sedangkan, subjek berkemampuan rendah hanya mencapai 1 indikator taksonomi SOLO yaitu: 1) level unistruktural; subjek dapat menjawab pertanyaan dari soal berdasarkan satu data atau satu informasi yang disediakan oleh soal.
Kata Kunci: kemampuan kognitif, pemecahan masalah, pola bilangan, taksonomi solo.
Abstract: This research aims to describe the cognitive abilities of students in solving the problem of pattern number based on SOLO taxonomy. The research approach is a qualitative approach implemented in class VIII.B SMPN 1 Palu. The researcher used the methods of giving test problem-solving in the form of superitem test, and interviews. The subjects of the research were 3 out of 34 students with criteria of one high-ability student, one medium-skilled student, and one low-ability student. The results of this research indicate that the ability of high-ability subject to achieve 4 SOLO taxonomic indicators are: 1) unistructural level; subject can answer questions from questions based on one data or one information provided by the question, 2) multistructural level; subject can answer questions from questions based on two data or concepts provided by the question, 3) relational level; subject can answer questions from questions based on suitable data or concepts and view and establish relationships between data or concepts, and 4) extanded abstract level; subject can answer questions from the problem by generalizing to other situations or applying them to other situations. Subject capable of achieving 3 SOLO taxonomy indicators are: 1) unistructural level; subject can answer questions from questions based on one data or one information provided by the question, 2) multistructural level; subject can answer questions from questions based on two or more data or concepts provided by the problem, and 3) relational level; subject can answer questions from questions based on matching data or concepts and view and establish relationships between data or concepts. Meanwhile, low-ability subject only achieved 1 SOLO taxonomy indicator that is: 1) unistruktural level; subject can answer questions from questions based on one data or one information provided by the question.
Keywords: cognitive ability, problem solving, number patterns, solo taxonomy
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING DAN METODE DRILL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI TEOREMA PYTHAGORAS DI KELAS VIII C SMP NEGERI 3 BALINGGIAbstrak: Masalah utama dalam penelitian ini yaitu rendahnya hasil belajar siswa
Abstrak: Masalah utama dalam penelitian ini yaitu rendahnya hasil belajar siswa pada materi teorema Pythagoras karena kurangnya pemahaman konsep siswa. Tujuan penelitian ini untuk memberi deskripsi/gambaran tentang penerapan model pembelajaran penemuan terbimbing dan metode drill untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi teorema Pythagoras di kelas VIII C SMP Negeri 3 Balinggi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Rancangan penelitian yang dilakukan mengacu pada desain penelitian Kemmis dan Mc. Taggart yang terdiri atas empat komponen, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan (4) refleksi. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data aktivitas guru dalam mengolah pembelajaran, dan aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, data hasil tes awal dan tes akhir tindakan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII C SMP Negeri 3 Balinggi yang berjumlah 32 siswa. Penelitian ini dilakukan II siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui pembelajaran menggunakan model pembelajaran penemuan terbimbing dan metode drill hasil belajar siswa pada materi teorema Pythagoras meningkat sesuai kriteria keberhasilan tindakan, dengan mengikuti langkah-langkah model pembelajaran penemuan terbimbing, yaitu (1) perumusan masalah, (2) pemrosesan data, (3) penyusunan konjektur, (4) pemeriksaan konjektur, (5) verbalisasi konjektur, dan (6) umpan balik dengan memberikan latihan I, latihan II dan latihan III sebagai pekerjaan rumah.
Kata kunci: Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing; Metode Drill; Hasil Belajar; Teorema Pythagoras.
Abstract: The main problem in this study is the low student learning outcome on the material Pythagoras theorem because lack of understanding of students’s concepts. The purpose of this study is to give a description of the application of guided discovery learning model and drill method to improve students learning outcomes on material pythagoras theorem in class VIII C SMP Negeri 3 Balinggi. This research is a classroom action research (CAR). As the research design refers to design of the reserch of Kemmis and Mc. Taggart that is (1) Planning, (2) action, (3) observation and (4) reflection. Data collected in this study is the activity data teacher in managing the learning ans student activity in following learning, data test results early and data test results the end of action. This research subject is class VIII C SMP Negeri 3 Balinggi amounting 32 students. This study wa done II cycles. The result of the study showed that through the implementation of applying the guided descovery model and drill method students learning outcomes on material pythagoras theorem increases in accordance succes criteria action, by following steps learning applying the guided discovery learning model and drill method, (1) formulation of the problem, (2) data procssing, (3) examination conjecture, (4) verbalization conjecture, and (5) feedback with give exercise I, exercise II and exercise III as homework.
Keywords : Guided Discovery Learning Model; Drill Method; Learning Outcome; Pythagoras Theore
PENGARUH KEMAMPUAN PENALARAN TERHADAP KEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATERI HIMPUNAN
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kemampuan penalaran terhadap kemampuan menyelesaikan soal cerita materi himpunan pada siswa kelas VII MTs. Alkhairaat Pakuli. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu kemampuan penalaran berpengaruh terhadap kemampuan menyelesaikan soal cerita materi himpunan pada siswa kelas VII MTs. Alkhairaat Pakuli. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII MTs. Alkhairaat Pakuli yang terdaftar pada tahun ajaran 2017/2018. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan random sampling. Kelas yang menjadi sampel penelitian adalah kelas VII A dan kelas VII B. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes berupa tes kemampuan penalaran dan tes kemampuan menyelesaikan soal cerita. Data penelitian yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan inferensial. Pengujian hipotesis menggunakan uji F dengan taraf signifikan 5%. Hasil pengujian hipotesis penelitian menunjukkan bahwa nilai Fhitung = 34,14 > Ftabel = 4,11, sehingga H1 diterima dan H0 ditolak. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan penalaran berpengaruh terhadap kemampuan menyelesaikan soal cerita materi himpunan.
Kata Kunci: Kemampuan penalaran, Kemampuan menyelesaikan soal cerita
Abstract: The Aim of this research was to determine the influence of reasoning ability on the capability to solve narrative question of set on Students of VII class in MTs. Alkhairaat Pakuli. The research hypothesis was the reasoning ability influences the capability to solve narrative question of set on Students of VII class in MTs. Alkhairaat Pakuli. The population in this research was the students of grade VII MTs. Alkhairaat Pakuli registered in the 2017/2018 academic. The sampling technique has been done by random sampling. The sampling class was VII A class and VII B class. The data collection was carried out by using reasoning ability test and narrative question solving ability test. The collected research data were analyzed by using descriptive and inferential statistical analysis techniques. The testing of hypothesis used the F test with a significant level of 5%. The results of the research hypothesis testing showed that the value of F-count = 34.14 > F-table = 4.11. Therefore, H1 is accepted and H0 is rejected. Based on these results, it can be concluded that reasoning ability influences the narrative question solving ability.
Keywords: reasoning ability, narrative question solving abilit
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI HUBUNGAN ANTAR SUDUT
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi mengenai Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division (STAD) yang dapat Meningkatkan Hasil Belajar pada Materi Hubungan Antar Sudut di Kelas VIIc MTs Alkhairaat Tondo. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Rancangan penelitian yang dilakukan mengacu pada desain penelitian yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc. Taggart yakni: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIIC MTs Alkhairaat Tondo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) dapat Meningkatkan Hasil Belajar siswa pada materi hubungan antar sudut dengan mengikuti fase-fase model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) sebagai berikut: (1) penyampaian tujuan dan memotivasi siswa, peneliti memberikan motivasi belajar serta menyampaikan tujuan dan manfaat mempelajari hubungan antar sudut serta membangkitkan pengetahuan awal siswa, (2) penyajian/penyampaian informasi, menyajikan materi tentang Hubungan Antar Sudut dan mengontrol pemahaman siswa, (3) pengorganisasian siswa kedalam kelompok-kelompok belajar, peneliti mengkordinir siswa agar duduk sesuai dengan kelompoknya, dan menyampaikan tugas dalam kelompoknya, (4) pembimbingan kelompok belajar dan bekerja, peneliti membimbing dan mengarahkan peseerta didik dalam menyelesaikan tugas kelompoknya dan memberi bantuan kepada kelompok yang memerlukan , (5) evaluasi, peneliti memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk mempersentasikan hasil diskusinya (6) pemberian penghargaan, peneliti memberikan penghargaan berupa tepuk tangan, pujian dan hadia sebagai penghargaan atas usaha bersama.
Kata kunci: Model pembelajaran Kooperatif, STAD, Hasil Belajar, Hubungan Antar Sudut
Abstract: This research aimed to obtain a description of the application of cooperative learning model Student Teams Achievement Division (STAD) to improve student learning outcomes in matery of relationship between angles in class VIIC MTs Alkhairaat Tondo. This research is the Classroom Action Research (CAR), which refers to the study design developed by Kemmis and Mc. Taggart, namely planning, action, observation, and reflection. the subjects were students grade class VIIC MTs Alkhairaat Tondo. The result showed that the implementing cooperative learning model Student Teams Achievement Division (STAD) can improve Student Teams Achievement Division outcomes on the material relationship between angles follow the phases of cooperative learning model Student Teams Achievement Division (STAD) as follow: (1) present the objectives and motivate students, researchers provide motivation to learning and convey the relationship between angles and arouse students’ prior knowledge, (2) present/conveying information, presents the material on the relationship between angles and control the students’ understanding, (3) organize the students in learning groups coordinated the student to sit in the accordance with the group an deliver the task in the group, (4) to leadthe group work an learning, researchers to guide and direct the student in completing the task group and give assistance to groups the need, (5) evaluation, researchers provides an apportunity for each group to present the result their discussions, (6) provide award, of researchers award in the form of applause, praise and reward in appreciation of a joint venture
Keyword: Model cooperative learning, STAD, learning outcomes, the relationship between angle
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PERSEORANGAN DAN KELOMPOK KECIL (PPKK) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan model PPKK untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIIB SMP Negeri 20 Palu pada materi hubungan antar sudut. Pada model PPKK ada aktivitas perseorangan dan aktivitas kelompok yang dilaksanakan dalam satu pertemuan. Model PPKK dilaksanakan dalam 5 fase. Penelitian ini dilakukandalam dua siklus, setiap siklusnya melalui empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil observasi aktivitas guru siklus I yaitu memperoleh kriteria taraf keberhasilan baik, dan mengalami peningkatan pada siklus II yaitu memperoleh kriteria taraf keberhasilan sangat baik. Hasil observasi aktivitas siswa siklus I yaitu memperoleh kriteria taraf keberhasilan baik, dan mengalami peningkatan pada siklus II yaitu memperoleh kriteria taraf keberhasilan sangat baik. Persentase ketuntasan belajar klasikal siklus I yaitu 61,90% dan mengalami peningkatan pada siklus II yaitu sebesar 85,71%. Dari hasil penelitian yang diperoleh maka dapat disimpulkan penerapan model PPKK dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIIB SMP Negeri 20 Palu pada materi hubungan antar sudut.
Kata kunci: Model PPKK, Prestasi belajar, hubungan antar sudut.
Abstract: This purpose of this study was to describe the application of the PPKK model to improve student achievement in class VIIB SMP Negeri 20 Palu on the relationship between angles, In the PPKK model there are individual activities and group activities carried out in one meeting. The PPKK model is carried out in 5 phases. This research was conducted in two cycles, each cycle through four stages, namely planning, action, observation and reflection. The results of observations of the activities of teacher in cycle I are obtaining good success criteria, and have increased in cycle II, namely obtaining very good success criteria. The results of observations of the activities of students in cycle I are obtaining good success criteria, and have increased in cycle II, namely obtaining very good success criteria. The percentage of classical learning completeness in cycle I is 61,90% and has increased in cycle II by 85,71%. From the results of the research, it can be concluded that the application of the PPKK model can improve students’ learning achievement in the VIIB class of SMP Negeri 20 Palu on the relationship between angles.
Keywords: PPKK Model, learning achievement, relationship between angles.
 
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DENGAN LANGKAH POLYA PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL (SPLDV)
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh deskripsi tentang penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan langkah Polya dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) di kelas VIII B SMP Negeri 12 Palu. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Desain penelitian ini mengacu pada model Kemmis dan Mc Taggart yang terdiri dari empat tahap, yaitu: 1) perencanaan; 2) pelaksanaan tindakan; 3) observasi dan 4) refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII B SMP Negeri 12 Palu tahun ajaran 2016/2017 yang berjumlah 19 orang. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari hasil wawancara, lembar observasi, catatan lapangan serta hasil tes akhir siklus I dan siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan langkah Polya dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII B SMP Negeri 12 Palu yang ditempuh melalui lima fase, yaitu: 1) orientasi siswa pada masalah; 2) mengorganisasikan siswa untuk belajar; 3) membimbing penyelidikan individual maupun kelompok; 4) mengembangkan dan menyajikan hasil pemecahan masalah dan 5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Pada fase membimbing penyelidikan individual maupun kelompok diterapkan empat langkah penyelesaian Polya, yaitu: 1) memahami masalah; 2) menyusun rencana; 3) melaksanakan rencana dan 4) memeriksa kembali kebenaran jawaban.
Kata kunci: Problem Based Learning, langkah Polya, hasil belajar, sistem persamaan linear dua variabel.
Abstract: This research aim to obtain a description about application of Problem Based Learning (PBL) with Polya step that can improve students learning outcomes on Linear Equation Systems of Two Variable in class VIII B SMP Negeri 12 Palu. The type of this research is classroom action research (CAR). This research design refers to a model by Kemmis and Mc. Taggart which consists of 4 stages: 1) planning; 2) acting; 3) observing and 4) reflecting. This research was conducted in two cycles. The research subject is all students in class VIII B SMP Negeri 12 Palu school year 2016/2017 which are 19 students. In this study, the researcher gathered some data through interview result, observation sheet, fieldwork notes and test results both in cycle I and II. The results of this research indicating that through the application of Problem Based Learning (PBL) with Polya step that can improve students learning outcomes on Linear Equation Systems of Two Variable in class VIII B SMP Negeri 12 Palu, by following five phases, which are: 1) orientation the students at the problem; 2) organize the students to learn; 3) assist in the investigation of individual and group; 4) develop and present problem-solving result and 5) analyze and evaluate problem-solving process. The phase assist in the investigation of individual and group was applied four Polya steps, which are: 1) understand the problem; 2) make plans; 3) implement the plan and 4) check back answers.
Keywords: Problem Based Learning, Polya step, learning outcomes, linear equation systems of two variable
KOLABORASI MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING DAN KOOPERATIF TIPE NHT UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PROGRAM LINEAR
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang penerapan kolaborasi model pembelajaran Quantum Teaching dengan kooperatif tipe Number Head Together (NHT) pada materi program linear untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI MIA 4 SMA Negeri 5 Palu. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang mengacu pada desain penelitian Kemmis dan Mc. Taggart, yakni perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI MIA 4 SMA Negeri 5 Palu yang terdaftar pada tahun ajaran 2018/2019. Jumlah subjek penelitian ini adalah 28 siswa dan dipilih tiga siswa sebagai informan. Pada penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh bahwa hasil belajar siswa kelas XI MIA 4 SMA Negeri 5 Palu pada materi program linear mengalami peningkatan, yaitu hasil observasi aktivitas guru dan siswa siklus I berada pada kategori baik sedangkan pada siklus II hasil observasi aktivitas guru dan siswa berada pada kategori sangat baik. Pada siklus I persentase ketuntasan klasikal adalah 71% sedangkan siklus II persentase ketuntasan klasikal adalah 76%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan kolaborasi model pembelajaran Quantum Teaching dengan kooperatif tipe Number Head Together (NHT)dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi program linear kelas XI MIA 4 SMA Negeri 5 Palu. Langkah-langkah kolaborasi model pembelajaran Quantum Teaching dan kooperatif tipe NHT, yaitu: (1) fase tumbuhkan (Quantum Teaching), (2) kolaborasi fase alami (Quantum Teaching) dengan fase penomoran (NHT) dan fase mengajukan pertanyaan (NHT), (3) kolaborasi fase namai (Quantum Teaching) dengan fase berpikir bersama (NHT), (4) kolaborasi fase demonstrasikan (Quantum Teaching) dengan fase memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban (NHT), (5) fase ulangi (Quantum Teaching ), (6) fase rayakan (Quantum Teaching).
Kata Kunci: Quantum Teaching, Kooperatif Tipe NHT, Hasil Belajar, Program Linear
Abstrack: This study aims to obtain a description of the application of collaborative Quantum Teaching learning models with cooperative type Number Head Together (NHT) on linear program material to improve learning outcomes of XI MIA 4 students in SMA Negeri 5 Palu. This research is Classroom Action Research (CAR) which refers to the research design of Kemmis and Mc. Taggart, namely planning, action, observation, and reflection. This research was conducted in two cycles. The subjects of this study were students of class XI MIA 4 of SMA 5 Palu who were registered in the 2018/2019 school year. The number of subjects in this study were 28 students and three students were selected as informants. In the research that has been carried out, it is obtained that the learning outcomes of class XI MIA 4 students of SMA 5 Palu in the linear program material have increased, namely the results of observations of the activities of teachers and students in the first category in the second cycle. very good category. In the first cycle the percentage of classical completeness was 71% while the second cycle of classical completeness was 76%. Based on these results it can be concluded that the application of collaborative Quantum Teaching learning model cooperatively type Number Head Together (NHT) can improve student learning outcomes in the linear XI MIA 4 class program material at SMA Negeri 5 Palu. The steps for collaborating the Quantum Teaching and cooperative learning model of the NHT type, namely: (1) the growing phase (Quantum Teaching), (2) natural phase collaboration (Quantum Teaching) with the numbering phase (NHT) and the questioning phase (NHT), ( 3) named phase collaboration (Quantum Teaching) with the shared thinking phase (NHT), (4) demonstration phase collaboration (Quantum Teaching) with phases calling member numbers or giving answers (NHT), (5) repeat phase (Quantum Teaching), (6) celebration phase (Quantum Teaching).
Keywords: Quantum Teaching, Cooperative NHT Types, Learning Outcomes, Linear Program
PENERAPAN METODE PENEMUAN TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA KELAS VII A SMP KATOLIK St. PAULUS PALU PADA MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BILANGAN BULAT
Abstrak: Permasalahan utama pada penelitian ini adalah kurangnya pemahaman siswa kelas VII A SMP Katolik St. Paulus Palu pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Hal ini disebabkan karena siswa kurang percaya diri dan kurang terlibat aktif dalam pembelajaran serta pola pikir siswa yang menganggap bahwa penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat sama seperti penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah. Untuk meningkatkan pemahaman siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat, maka peneliti menerapkan metode penemuan terbimbing berbantuan media kartu posinega yang ditempuh melalui beberapa langkah, yaitu (1) perumusan masalah, (2) pemprosesan data dan penyusunan konjektur, (3) pemeriksaan dan verbalisasi konjektur, dan (4) umpan balik. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana penerapan metode penemuan terbimbing untuk meningkatkan pemahaman siswa kelas VII A SMP Katolik St. Paulus Palu pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat? Untuk menjawab permasalahan tersebut, maka peneliti melakukan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Rancangan penelitian ini mengacu pada model Kemmis dan MC.Taggart yang terdiri dari empat komponen, yaitu (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan tindakan, (3) Observasi, dan (4) Refleksi. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini melalui lembar observasi, wawancara, catatan lapangan dan data hasil belajar siswa.Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk paparan naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penerapan metode penemuan terbimbing berbantuan media kartu posinega, pemahaman siswa dapat meningkat sesuai dengan indikator keberhasilan tindakan.
Kata Kunci: Metode Penemuan Terbimbing, Pemahaman, Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat, Kartu Posinega.
Abstract: The main problem in this research is student’s less understanding in class VII A SMP Katolik St. Paulus Palu on addition and substraction on integer. This is because student’s lack confidence and are less actively involved in learning and the mindset of student’s who assume that integer addition and subtraction are the same as addition and subtraction of enumeration numbers. To improve student’s understanding of the addition and subtraction of integer material, the researchers applied the guided discovery method assisted by posinega card media which was taken through several steps: (1) formulation of the problem, (2) processing and constructing conjecturs, (3) examinations and verbalization of conjectures, and (4) feedbacks. The formulation of the problem in this study is how the application of the guided discovery method to improve the understanding of class VII A SMP Katolik St. Paulus Palu on integer addition and subtraction material? To answer this problem, researcher did the classroom action research which refers to Kemmis’ and Mc. Taggart’s research design, (1) planning, (2) implementation of action, (3) observation and (4) reflection. Data collected in this study through observation sheets, interviews, field notes and student learning outcomes. The data obtained is presented in the form of narrative exposure. The results of the study show that through the application of quided discovery methods assisted by posinega card media, student’s understanding can increase according to the indicators of the success of the action.
Keywoards: Guided Discovery Method, Understanding, Addition and Reduction of Round Numbers and Posinega Card
ANALISIS KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 SAUSU PADA KONSEP SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL BERDASARKAN KEMAMPUAN MATEMATIKA
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh dan memahami makna tentang kemampuan koneksi matematis siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sausu pada konsep sistem persamaan linear dua variabel berdasarkan kemampuan matematika. Jenis penelitian ini adalah studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian dipilih berdasarkan purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Kemampuan koneksi matematis siswa pada konsep sistem persamaan linear dua variabel yang berkemampuan tinggi (Subjek TG) meliputi: siswa mengetahui tentang informasi yang ada pada soal dengan lengkap dan tepat karena mampu mengaitkan soal dengan konsep-konsep yang dipelajari sebelumnya, siswa mengaitkan soal melalui representasi dalam bentuk gambar persegi panjang dan melalui representasi simbolik terhadap konsep keliling persegi panjang dan selisih antara panjang dan lebarnya, siswa memahami konsep-konsep yang ada dan mengaitkan konsep-konsep tersebut melalui prosedur yang tepat dalam menyelesaikan soal SPLDV. 2) Kemampuan koneksi matematis siswa pada konsep sistem persamaan linear dua variabel yang berkemampuan sedang (Subjek SD) meliputi: siswa mengetahui tentang informasi yang ada pada soal dengan lengkap dan tepat karena mampu mengaitkan soal dengan konsep-konsep yang dipelajari sebelumnya, siswa mengaitkan soal melalui representasi simbolik terhadap konsep keliling persegi panjang dan selisih antara panjang dan lebarnya, siswa tidak paham dengan baik konsep-konsep yang ada dalam menyelesaikan soal SPLDV dan melakukan kesalahan prosedural terhadap konsep yang dikaitkan dalam menyelesaikan soal SPLDV. 3) Kemampuan koneksi matematis siswa pada konsep sistem persamaan linear dua variabel yang berkemampuan rendah (Subjek RN) meliputi: siswa tidak mengetahui semua informasi yang ada pada soal secara benar, siswa melakukan kesalahan dalam mengaitkan soal melalui representasi simbolik, siswa tidak paham konsep-konsep yang ada dalam menyelesaikan soal SPLDV dan melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal SPLDV karena konsep dan prosedur yang dikaitkan salah.
Kata kunci: Analisis, Koneksi Matematis, Kemampuan Matematika, SPLD