DIDAKTIKA BIOLOGI: Jurnal Penelitian Pendidikan Biologi
Not a member yet
    100 research outputs found

    PEMBERDAYAAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS VIII MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PREDICT OBSERVE AND EXPLAIN (POE)

    Get PDF
    Pembelajaran IPA di kelas VIII SMP Negeri 13 Palembang belum melibatkan siswa sepenuhnya karena pembelajaran masih bersifat konvensional, sehingga siswa kurang aktif dan kurang memaksimalkan kemampuan berpikir kritis siswa. Diperlukan pembelajaran yang menerapkan model pembelajaran yang bersifat faktual sehingga siswa mampu menggali pengetahuan yang didapat dan mampu berpikir dengan kritis, seperti model POE (Predict Observe and Explain). Tujuan penelitian adalah memberdayakan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Palembang menggunakan model pembelajaran POE. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode penelitian quasi experiment dengan kelas kontrol dan kelas eksperimen. Pembelajaran dengan model POE dilakukan sebanyak dua pertemuan pada pembelajaran IPA materi sistem pernapasan. Instrumen untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa adalah soal pilihan ganda, mengacu pada kriteria berpikir kritis Facione (2013): interpretasi, analisis, evaluasi, kesimpulan, penjelasan, dan pengaturan diri. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif menggunakan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pemberdayaan berpikir kritis melalui model POE dalam pembelajaran IPA materi sistem pernapasan di SMP Negeri 13 Palembang. Secara keseluruhan (dari 6 indikator berpikir kritis) kemampuan berpikir kritis siswa dengan menggunakan model pembelajaran POE termasuk kritis, sedangkan kemampuan kemampuan berpikir kritis siswa dengan pembelajaran tanpa model POE berada pada kategori tidak kritis. Natural science learning in class VIII of State Junior High School (SMP Negeri) 13 Palembang has not fully involved students because learning was still conventional, so students were less active and did not maximize students' critical thinking ability. Learning model that applies a factual learning was needed so that students were able to explore the knowledge gained and to think critically, such as POE (Predict Observe and Explain) model. The research purpose was to empower students’ critical thinking ability of class VIII SMP Negeri 13 Palembang using the POE learning model. The method used in this research was a quasi experiment research with the control class and the experimental class. Learning by the POE model was done by two meetings on the natural science learning of respiratory system material. The instrument to determine students' critical thinking ability was the multiple choice test, referring to Facione's critical thinking criteria (2013): interpretation, analysis, evaluation, conclusions, explanations, and self-regulation. Data were analyzed descriptively quantitatively using percentages. The results showed that the existence of empowerment of critical thinking through POE model on the natural science learning of respiratory system material in SMP Negeri 13 Palembang. Overall (out of the 6 indicators of critical thinking) students' critical thinking ability using POE learning model were critical, while students' critical thinking ability without POE model learning were in the uncritical category

    ANALISIS KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH SISWA KELAS X IPA PADA MATERI PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

    Get PDF
    Kemampuan memecahkan masalah secara kompleks merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa pada tingkat SMA/MA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan memecahkan masalah siswa pada materi perubahan lingkungan dan mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan memecahkan masalah. Penelitian ini dilakukan di MAN 9 Jakarta pada bulan Mei 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dalam persentase. Populasi penelitian ini berjumlah 105 orang siswa dengan sampel sebanyak 35 siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Instrumen penelitian ini adalah tes berupa pilihan ganda yang digunakan untuk mengukur kemampuan memecahkan masalah siswa, dan non tes berupa kuesioner untuk menggali faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan memecahkan masalah, lembar observasi dan daftar wawancara untuk menguatkan hasil kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan memecahkan masalah siswa kelas X IPA di MAN 9 Jakarta tergolong cukup dengan persentase 69,56%. Faktor yang menunjang kemampuan siswa memecahkan masalah adalah model/metode, media dan lingkungan belajar yang diciptakan oleh guru. Sedangkan faktor yang menjadi penghambat adalah pemberian motivasi dari guru, minat siswa dan kemampuan kognitif siswa yang rendah. The problem solving ability complexly is one of the competencies that students must have it at senior high school (SMA/MA) level. This study aimed to determine students’ problem solving ability on environmental change material and to describe the factors that affect the problem solving ability. This study was conducted at MAN 9 Jakarta on May 2017. The used study method was descriptive quantitative as a percentage. The population of this study was 105 students with a sample of 35 students. The used sampling technique used was cluster random sampling. The study instruments were a multiple-choice test that was used to measure students' problem solving ability, and non-tests in the form of a questionnaire to explore the factors that affect the the problem solving ability, observation sheet and interview list to strengthen the questionnaire results. The results showed students’ problem solving ability of class X IPA at MAN 9 Jakarta was sufficient with a percentage of 69.56%. The factors that support students' problem solving ability were learning model/method, learning media, and learning environment created by teacher. While the inhibiting factor were low motivation of teacher, student interest and cognitive abilities of students

    HIGH SCHOOL BIOLOGY TOPICS THAT PERCEIVED DIFFICULT BY UNDERGRADUATE STUDENTS

    Get PDF
    Biology is a science subject which on the one hand becomes a favorite subject for many students, but on the other hand has many topics that are considered difficult by many students. The aims of this study was to map the difficult topics of biology in senior high school based on the opinion of undergraduate students. This present study used survey research design. The participant of this study was the undergraduate student of class of 2017 majoring in Biology in one of the state universities in Malang. The instrument used in this study was a questionnaire of difficulty topics on high school biology subject and descriptive analysis was used as data analysis techniques. The result of this study was Genetics, Metabolism, and Cell Division were the first, second, and third most difficult topics in XII grade. The Immune System, the Coordination System, and the Plant Tissue were the first, second, and third most difficult topic in XI grade. Protista, Monera, and Virus were the first, second, and third most difficult topics in X grade. Genetics, Immune System, and Metabolism also selected into three topics of all grades that were considered most difficult by undergraduate students majoring in Biology. Biologi merupakan mata pelajaran sains yang di satu sisi menjadi mata pelajaran favorit bagi banyak siswa, namun di sisi lain memiliki banyak topik yang dianggap sulit oleh banyak siswa. Tujuan dari studi ini adalah untuk memetakan topik-topik biologi di Sekolah Menengah Atas (SMA) yang dianggap sulit berdasarkan pendapat mahasiswa-mahasiswa S1. Studi ini menggunakan desain penelitian survai. Partisipan pada studi ini adalah mahasiswa S1 angkatan 2017 Jurusan Biologi di salah satu universitas negeri di Malang. Instrumen yang digunakan pada studi ini adalah angket topik-topik sulit pada mata pelajaran Biologi SMA dan analisis deskriptif digunakan sebagai teknik analisis data. Hasil penelitian ini adalah Genetika, Metabolisme, dan Pembelahan Sel merupakan topik tersulit pertama, kedua, dan ketiga di kelas XII. Sistem Imun, Sistem Koordinasi, dan Jaringan Tumbuhan merupakan topik tersulit pertama, kedua dan ketiga dikelas XI. Protista, Monera, dan Virus merupakan topik tersulit pertama, kedua, dan ketiga di kelas X. Genetika, Sistem Imun, dan Metabolisme juga terpilih sebagai tiga topik dari seluruh kelas yang dianggap tersulit bagi mahasiswa Jurusan Biologi

    PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN SEARCH, SOLVE, CREATE, AND SHARE (SSCS) BERBASIS ETNOSAINS

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh model pembelajaran Search, Solve, Create, and Share (SSCS) berbasis etnosains sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada konsep pencemaran lingkungan. Sampel penelitian terdiri dari dua kelas dengan menggunakan teknik pusposive sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain penelitian nonequivalent control group design. Hasil penelitian menunjukkan nilai rerata N-gain kelas eksperimen sebesar 0,71 lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol sebesar 0,27. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan Whitung = 0,06 < Wtabel = 95,36 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Simpulan dari penelitian ini bahwa model pembelajaran SSCS berbasis etnosains dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada konsep pencemaran lingkungan. Selain itu peserta didik juga memberikan tanggapan positif terhadap penggunaan model pembelajaran SSCS berbasis etnosains. This study aimed to examine the influence of Search, Solve, Create, and Share (SSCS) learning model based on ethnosciences in order to improve students’ critical thinking skill on the environmental pollution concept. The samples of study consisted of two classes using purposive sampling technique. The method used was quasi experiment with nonequivalent control group design. The results showed that the average value of N-gain of the experimental class was 0.71. It was higher than the control class (0.27). The result of Wilcoxon test showed that Wcalc = 0.06 < Wtable = 95.36, then H0 was rejected and H1 was accepted. The conclusion of this study was that the SSCS learning model based on ethnosciences could improve the students' critical thinking skill on the environmental pollution concept. In addition, students responded positively to the use of SSCS model based on ethnosciences

    HASIL BELAJAR SISWA DENGAN STRATEGI PEMBERDAYAAN BERPIKIR MELALUI PERTANYAAN (PBMP) DI SMA NEGERI 5 MEDAN

    Get PDF
    Kemampuan siswa dalam mengajukan atau menjawab pertanyaan dari guru pada umumnya kurang didasari penalaran. Oleh karena itu diperlukan suatu cara yang membantu pengembangan penalaran siswa yang dikenal dengan istilah Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP), sehingga siswa tidak hanya menjadi pendengar dan penerima keinginan guru tanpa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran biologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa dengan Strategi Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) di SMA Negeri 5 Medan. Jenis penelitian ini adalah quasi experiment. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 5 Medan (7 kelas dengan 372 orang siswa) dengan sampel diambil secara acak, yaitu XI IPA 6 (53 orang siswa) sebagai kelas eksperimen (diajarkan dengan strategi PBMP) dan XI IPA 4 (48 orang siswa) sebagai kelas kontrol (diajarkan dengan strategi konvensional dengan ceramah). Analisis data menggunakan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar dengan strategi PBMP lebih tinggi dengan nilai rata-rata 78,90 dibandingkan dengan strategi konvensional dengan nilai rata-rata 73,50. Sedangkan hasil uji-t menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa dengan menggunakan strategi PBMP dan  strategi konvensional (ceramah), yaitu berdasarkan thitung > ttabel (2,93 > 1,98). The ability of students to ask or answer questions from the teacher in general was less based on reasoning. Therefore we needed a method that helped the development of student reasoning known as Empowerment Thinking Through Questions (ETTQ/PBMP, Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan), so that students not only became listeners and recipients of teacher desires without being actively in the biological learning process. This study aimed to determine student learning outcomes with Empowerment Thinking Through Questions Strategy in State Senior High School (Sekolah Menengah Atas Negeri, SMAN) 5 Medan. The research type was quasi experiment. The study population was students of class XI IPA (7 classes with 372 students) with samples taken randomly, namely XI IPA 6 (53 students) as an experimental class (taught with PBMP strategy) and XI IPA 4 (48 people students) as a control class (taught with conventional strategies with lectures). Data analysis using t-test. The result showed that learning outcome with PBMP strategy (experimental class) was higher with an average score of 78.90 than conventional strategy (control class) with an average value of 73.50. While the result of the t-test showed there was significant difference between student learning outcome using PBMP strategy and conventional strategy, which was based on tcount > ttable (2.93> 1.98)

    PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DOUBLE LOOP PROBLEM SOLVING (DLPS) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PERUBAHAN LINGKUNGAN

    Get PDF
    Penggunaan model pembelajaran yang tidak tidak bervariasi menyebabkan peserta didik menjadi bosan sehingga dapat berpengaruh pada hasil belajar. Hal ini terjadi di SMA Negeri (SMAN) 3 Palembang, sehingga dibutuhkan inovasi dalam pembelajaran, yaitu menerapkan model pembelajaran double loop problem solving (DLPS). Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh model pembelajaran DLPS terhadap hasil belajar siswa pada materi Perubahan Lingkungan. Penelitian menggunakan quasi experiment dengan non-equivalent control grup design. Instrumen penelitian meliputi lembar observasi, daftar wawancara, dan dokumen untuk data awal sebagai informasi tentang proses pembelajaran, sedangkan instrumen data akhir untuk menjawab tujuan penelitian menggunakan soal pilihan ganda dengan tipe C2 hingga C6. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan N-gain untuk mengetahui peningkatan hasil belajar berdasarkan tipe soal. Sedangkan uji hipotesis untuk menjawab tujuan penelitian meliputi uji t berpasangan, korelasi berpasangan dan uji t tak berpasangan pada ? 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran DLPS berpengaruh dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas X IPA pada materi Perubahan Lingkungan di SMAN 3 Palembang. Peningkatan hasil belajar dengan model pembelajaran DLPS sebesar 1,74%, sedangkan sebesar 0,42% dengan pembelajaran model konvensional. Peningkatan hasil belajar dengan N-gain berdasarkan tipe soal menunjukkan pembelajaran dengan model DPLS memiliki skor N-gain lebih tinggi daripada pembelajaran dengan model konvensional. The use of a learning model that did not vary caused students to become bored so that it could affect learning outcomes. This happened in SMA Negeri 3 (SMAN) 3 Palembang, so it needed innovation in learning, namely applying the double loop problem solving (DLPS) learning model. The study purpose was to determine the effect of DLPS learning model to students’ learning outcomes on Environmental Change material. The study used a quasi experiment with non-equivalent control group design. The study instruments included observation sheet, interview list, and documents for the initial data as information about the learning process, while the final data instrument for answering the study purpose used multiple choice questions with types C2 to C6. The data obtained were analyzed using N-gain to find out the increase of learning outcomes based on the type of question, while the hypothesis test to answer the study purpose included paired t-test, paired correlation and independent t-test at ? 0.05. The results showed that DLPS learning model had the effect on increasing the learning outcomes of Grade X students on Environmental Change material in SMAN 3 Palembang. Increasing the learning outcomes with DLPS learning model was 1.74%, while it was 0.42% with conventional learning model. Increasing the learning outcomes with N-gain based on the question type showed the learning with DPLS model had higher N-gain score than the learning with conventional model

    PENGEMBANGAN BUKU PANDUAN TUTORIAL SEBAYA DALAM PROGRAM REMEDIAL MATERI SISTEM KLASIFIKASI HEWAN DI KELAS X

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan dan mengetahui kelayakan buku panduan tutor sebaya dalam program remedial materi sistem klasifikasi hewan di kelas X. Metode penelitian adalah penelitian dan pengembangan yang menggunakan model Borg & Gall yang dibatasi sampai tahap ketujuh karena adanya keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya yang dimiliki peneliti. Tahapan yang dilakukan adalah 1) tahap penelitian dan pengumpulan informasi, 2) tahap perencanaan, 3) tahap pengembangan rancangan awal produk, 4) tahap uji coba lapangan permulaan, 5) tahap revisi produk tahap pertama, 6) tahap uji lapangan terbatas, dan 7) tahap revisi produk tahap kedua. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dalam bentuk rating scale untuk menguji kelayakan produk oleh dosen ahli materi, teman sejawat peneliti, dan peserta didik. Masukan dari reviewer digunakan sebagai bahan perbaikan. Buku panduan dikatakan layak apabila mendapatkan modus penilaian minimal baik berdasarkan hasil uji coba lapangan terbatas. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian yaitu berupa buku panduan tutor sebaya dalam program remedial materi sistem klasifikasi hewan di kelas X dan kelayakan buku panduan memiliki nilai baik. The research aimed to develop and get the feasibility of peer tutorial guidebook for remedial programme on topic of animal classification in class X. The research method was research and development using Borg & Gall model which was limited to seventh stage due to the limited time, energy, and cost owned by researcher. The stages of model were 1) research and information collection, 2) planning, 3) development of initial product design, 4) initial field test, 5) first product revision, 6) limited field test, and 7) second product revision. The data collection technique used questionnaires in the form of rating scale to test the feasibility of product. It was tested by lecturers of material experts, peer of researchers, and learners. The suggestion from reviewer was used as revision material. The guidebook was judged feasible if it got good rating based on result of limited field test. The research data were analyzed using quantitative descriptive analysis technique. The result research was the peer tutorial guidebook for remedial programme on topic of animal classification in class X that had feasibility with good value.

    PENGEMBANGAN PERANGKAT ASESMEN PEMBELAJARAN PROYEK PADA MATERI PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN

    Get PDF
    Asesmen (penilaian) proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, dan penyajian data. Penilaian proyek lebih komprehensif mencakup kognitif, afektif dan psikomotorik. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik (validitas, reliabilitas/keandalan dan kepraktisan) pengembangan perangkat asesmen pembelajaran proyek pada materi pencemaran dan kerusakan lingkungan. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (research and development) yang menggunakan model pengembangan perangkat 4-D (Define, Design, Develop, dan Disseminate), sehingga mendapatkan karakteristik produk asesmen proyek yang valid, reliabel dan bersifat praktis dengan memenuhi dua kriteria, yaitu kelayakan dan keterlaksanaan. Subjek ujicoba dalam penelitian adalah peserta didik kelas VII8SMP Negeri 1 Parepare sebanyak 32 orang. Hasil penelitian menunjukkan perangkat asesmen pembelajaran proyek memiliki karakteristik yang valid, reliabel dan praktis. Seluruh perangkat asesmen pembelajaran proyek dinyatakan valid dengan nilai validitas yaitu V = 1 (V = 100%). Rubrik asesmen pembelajaran proyek (tugas kelompok) dinyatakan reliabel sebesar 0,85. Perangkat asesmen pembelajaran proyek (berupa buku pedoman) yang dikembangkan bersifat praktis karena telah memenuhi dua kriteria kepraktisan, yaitu kelayakan (3,76 oleh validator dan 3,84 guru (praktisi di sekolah), sangat layak) dan keterlaksanaan (respon guru: sangat positif). Project assessment is an assessment of a task that must be completed within a certain period of time. The task is in the form of an investigation from planning, data collection, organization, processing, and presentation of data. Project assessment is more comprehensive that includes cognitive, affective and psychomotor. This study aimed to determine the characteristics (validity, reliability and practicality) of the development of project learning assessment tools in material of pollution and environmental degredation. This research was a research and development that used 4-D development model (Define, Design, Develop, and Disseminate), so that obtaining the characteristics of project assessment products: valid, reliable and practical (with two criteria, namely feasibility and implementation). The subjects of the trial in the study were 32 students of class VII8 of SMP Negeri 1 Parepare. The study result showed that the project learning assessment tools had valid, reliable and practical characteristics. All project learning assessment tools were valid with validity values, namely V = 1 (V = 100%). The project learning assessment rubric (group assignment) was stated to be reliable at 0.85. The developed project learning assessment tool (in the form of a guidebook) was practical because it fulfilled two criteria of practicality, namely feasibility (3.76 by validator and 3.84 teacher (practitioner in school), very feasible) and implementation (teacher response: very positive)

    PENGEMBANGAN MODUL PRAKTIKUM BOTANI TUMBUHAN RENDAH MELALUI IDENTIFIKASI MAKROALGA KAWASAN PESISIR BARAT LAMPUNG

    Get PDF
    Berdasarkan pengamatan dosen pengampu mata kuliah Botani Tumbuhan Rendah Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Metro Tahun Ajaran 2016/2017, peserta didik mengalami kebingungan saat menentukan tumbuhan makroalga yang digunakan sebagai sampel identifikasi pada saat praktikum lapangan, sehingga hasil belajar peserta didik rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan dan menghasilkan modul praktikum mata kuliah Botani Tumbuhan Rendah yang valid, praktis, dan efektif. Model R&D yang digunakan merujuk pada Sugiyono yang dibatasi sampai 7 tahapan, yaitu: analisis potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain, uji coba produk/uji efektivitas, dan revisi produk. Tahapan potensi masalah menggunakan lembar wawancara, tahapan validasi melalui instrumen penilaian menggunakan angket skala penilaian, dan uji efektivitas modul praktikum menggunakan Quasi Eksperimen. Hasil penelitian menyatakan bahwa produk yang dikembangkan valid dengan nilai rata-rata dari ahli desain dan materi 84% dengan kriteria sangat kuat, rata-rata uji kepraktisan 92% dengan kriteria sangat kuat, dan teruji efektif bahwa hasil belajar pada kelas eksperimen lebih besar dari kelas kontrol. Based on the observation of lecturer’s Low Plants Botany at Biology Education Study Program in University of Muhammadiyah Metro,the students were confused when determining macroalgae plant that used as sample in doing the field practicum, so that the students’ outcome was low. The purpose of this study was to develop and produce a valid, practical and effective practicum module for Low Plants Botany Subject. The R&D model used refers to Sugiyono which was limited to 7 stages: potential and problems analysis, data collection, product design, design validation, design revision, product test/effectiveness test, and product revision. The stage of potential and problem analysis used the interview sheet, the stages of validation used the assessment scale questionnaire, the effectiveness test of the practicum module carried out through Quasi Experiment. The results of the study showed that the developed product was valid with the average value of design and material experts was 84% (very strong), the average of practicality test was 92% (very strong), and the practicum module was tested effectively which showed that the learning outcome in the experimental class was higher than in the control class

    PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DOUBLE LOOP PROBLEM SOLVING (DLPS) TERHADAP HASIL BELAJAR RANAH KOGNITIF PESERTA DIDIK PADA MATERI KEANEKARAGAMAN HAYATI

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran double loop problem solving (DLPS) terhadap hasil belajar peserta didik kelas X IPA SMA Negeri 9 Palembang pada materi keanekaragaman hayati. Penelitian ini merupakan penelitian ekperimen yang menggunakan desain pre-experimental design dengan rancangan penelitian One Group Pretest-Posttest Design. Populasi dalam penelitian ini seluruh kelas X IPA SMA Negeri 9 Palembang. Teknik sampling penelitian ini menggunakan cluster random sampling, sehingga terpilih kelas X IPA 1 sebagai kelas ekperimen yang berjumlah 36 peserta didik. Instrumen pengumpulan data menggunakan tes, lembar observasi dan angket. Hasil uji t berpasangan menunjukkan nilai signifikasi pada kelas X IPA sebesar 0,000 < ? 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran DLPS berpengaruh terhadap hasil belajar ranah kognitif peserta didik kelas X IPA  SMA Negeri 9 Palembang pada materi keanekaragaman hayati. This study aimed to determine the effect of learning model of problem solving double loop (DLPS) on students’ cognitive learning outcome for biodiversity material. This research was an experimental study that used pre-experimental design with research design of One Group Pretest-Posttest Design. The population in this study were all class X IPA at SMAN 9 Palembang. The sampling of this study used cluster random sampling, so class X IPA 1 was selected as an experimental class consisted of 36 students. The instruments for collecting data used tests, observation sheet and questionnaire. The result of paired t-test showed a significance value in class X IPA of 0,000 < ? 0,05, so it can be concluded that learning model DLPS had the effect on students’ cognitive learning outcome of class X at SMAN 9 Palembang on biodiversity material

    85

    full texts

    100

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    DIDAKTIKA BIOLOGI: Jurnal Penelitian Pendidikan Biologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇