DIDAKTIKA BIOLOGI: Jurnal Penelitian Pendidikan Biologi
Not a member yet
100 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN KOMIK DIGITAL BERBASIS KARAKTER HERO INDONESIA PADA MATERI SISTEM PEREDARAN DARAH
Berdasarkan observasi dan wawancara guru untuk kelas VIII SMPN 17 Kota Jambi ditemukan bahwa materi tersulit adalah sistem peredaran darah dan kegiatan pembelajaran di kelas kurang kondusif, sehingga dibutuhkan media pembelajaran yang dapat menarik minat siswa. Penelitan bertujuan mengembangkan media pembelajaran komik digital berbasis karakter hero Indonesia pada materi sistem peredaran darah manusia. Dalam pengembangan media ini dibutuhkan penilaian ahli media dan materi, persepsi guru dan siswa serta pengaruh penggunaan media terhadap hasil belajar siswa. Penelitian pengembangan ini menggunakan model pengembangan ADDIE (analysis, design, development, implementation, evaluation). Instrumen penelitian terdiri atas: 1) daftar wawancara, kuesioner dan lembar observasi untuk analisis kebutuhan, 2) lembar validasi materi dan media untuk kelayakan media, 3) angket persepsi guru dan siswa untuk ujicoba produk, dan 4) soal pretest-posttest untuk mengetahui pengaruh media terhadap hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komik digital berbasis karakter hero Indonesia yang dikembangkan dapat digunakan sebagai media pembelajaran pada materi sistem peredaran darah manusia untuk siswa kelas VIII SMPN 17 Kota Jambi. Penilaian validasi materi adalah sebesar 89,06% (sangat baik), penilaian validasi media adalah 81,25% (sangat baik), persepsi guru sebesar 72,92% (baik), persepsi siswa dalam kelompok kecil sebesar 84,72% (sangat baik), dan persepsi siswa dalam kelompok besar sebesar 90,09% (sangat baik). Sedangkan hasil uji t independensi menunjukkan bahwa nilai signifikansi (2-tailed) 0,00 < ? 0,01, terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Selisih rata-rata hasil pretest-postest yang diperoleh kelas kontrol adalah 34,38 dan kelas eksperimen adalah 53,03. Based on the observation and teacher interview for class VIII SMPN 17 Jambi City, it was found that the most difficult material was the circulatory system and the learning activities in the classroom were not conducive, so that learning media was needed that could attract students' interest. The research aimed to develop digital comic learning media based on Indonesian heroic characters on the material of the human circulatory system. In developing this media, it required the assessment of media and material experts, teacher and student perceptions and the effect of media use on student learning outcomes. This development research used the ADDIE development model (analysis, design, development, implementation, evaluation). The research instruments consisted of: 1) list of interview, questionnaires and observation sheets for needs analysis, 2) material and media validation sheets for media feasibility, 3) teacher and student perceptions questionnaires for product trials, and 4) pretest-posttest questions to determine the effect.of media on learning outcomes. The results showed that the digital comics based on Indonesian heroic characters that were developed could be used as the learning media on the material of the human circulatory system for class VIII students of SMPN 17 Jambi City. The material validation assessment was 89.06% (very good), the media validation assessment was 81.25% (very good), the teacher's perception was 72.92% (good), students' perception in small group was 84.72% (very good), and students' perceptions in large group was 90.09% (very good). While the results of the independence t test showed that the significance value (2-tailed) 0.00 < ? 0.01, there was significant difference between the control and the experimental class. The average difference between the pretest-posttest results obtained by the control class was 34.38 and the experimental class was 53.03
PENGEMBANGAN MODUL JARINGAN TUMBUHAN BERBASIS PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh materi jaringan tumbuhan sulit dipahami karena memiliki cakupan materi yang sangat luas dan ketersediaan fasilitas yang belum memadai untuk melakukan pengamatan jaringan tumbuhan yang bersifat mikroskopis di SMA Sains Wahid Hasyim. Penelitian ini bertujuan mengembangkan Modul Jaringan Tumbuhan Berbasis Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk Siswa Kelas XI SMA. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan (R&D) model prosedural tipe 4D (Define, Design, Develop dan Disseminate). Produk divalidasi dan dinilai oleh 2 ahli materi, 1 ahli media dan 6 peer reviewer. Uji terbatas pada penelitian ini diberikan kepada 2 guru biologi dan 15 siswa kelas XI SMA Sains Wahid Hasyim. Instrumen penelitian pengembangan ini adalah instrumen wawancara dan angket check list. Analisis data dilakukan dengan scoring menggunakan skala Likert, kemudian menghitung skor rata-rata setiap aspek dan dilanjutkan menghitung persentase keidealan dengan rumus distribusi frekuensi relatif. Hasil penilaian ahli materi, ahli media dan peer reviewer menunjukkan bahwa modul termasuk dalam kategori sangat baik dengan persentase ideal penilaian berturut-turut 85,71%, 87,50%, dan 92,96%. Sedangkan guru biologi menilai modul dalam kategori baik dengan persentase 70% dan respon siswa menunjukkan sangat setuju dengan persentase 86,91%. Dengan demikian modul ini layak digunakan sebagai bahan ajar dalam proses pembelajaran biologi. This study was motivated by the material of plant tissue was difficult to understand because it had very broad scope of material and the availability of inadequate facilities for observing microscopic plant tissue in Wahid Hasyim Science High School (SMA Sains Wahid Hasyim). This study aimeds to develop Plant Tissues Module Based on Contextual Teaching and Learning (CTL) Approach for students of grade XI SMA. The study type was research and development (R&D) of 4D (Define, Design, Develop dan Disseminate) type procedural model. The product was validated and assessed by 2 material experts, 1 media expert, and 6 peer reviewers. The limited test in this study was given to 2 biology teachers and 15 grade XI students. The instrument used in this study were interviewing instrument and checklist questionnaire. Data analysis was performed by scoring using a Likert scale, then calculating the average score of each aspect and proceeding to calculate the percentage of ideals using the relative frequency distribution formula. The assessment results of material experts, media expert and peer reviewers showed that the module was in very good category with ideal percentage 85.71%, 87.50%, and 92.96% respectively. While the biology teachers assesed the module in good category with 70% and students’ response indicated strongly agree with 86.91%. Thus, this module can be used as teaching material in the biology learning process
PENGGUNAAN MEDIA ANIMASI PADA MATA KULIAH BIOLOGI DASAR UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN MOTIVASI MAHASISWA MATERI GENETIKA
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan motivasi mahasiswa pendidikan biologi materi Genetika pada mata kuliah Biologi Dasar melalui penggunaan media animasi. Penelitian deskriptif kuantitatif ini menggunakan desain penelitian one group pretest-postest design. Penelitian dilakukan pada September sampai November 2018. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Flores, sedangkan sampel penelitian mahasiswa semester satu Tahun Akademik 2018/2019 yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes dan angket. Analisis data untuk hasil belajar dan motivasi menggunakan rumus statistik sederhana dalam persentase. Besarnya peningkatan atau gain score hasil belajar dianalisis dengan rumus Hake, sedangkan motivasi dikategorikan sesuai rubrik kriteria penilaian motivasi. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan media animasi mampu meningkatkan hasil belajar dan motivasi mahasiswa. Hasil belajar dan motivasi mahasiswa setelah mengikuti pembelajaran berbantuan media animasi termasuk kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan media animasi dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi mahasiswa pada materi Genetika. The aim of this study was to improve biological education students’ learning outcome and motivation on Genetic subject in Common Biology Course using the animation media. This quantitative descriptive study used one group pretest-posttest design as research design. This study was conducted from September to November 2018 with the population were all students in the first semester of the 2018/2019 academic year of Biology Education, Flores University, were determined using purposive sampling technique. The data collection used test technique and questionnaire. Analyze data for learning outcomes and motivation used a simple statistical formula as a percentage. The magnitude of the increase or gain score of learning outcome was analyzed by Hake formula, while the motivation was categorized according to rubric of motivation assessment criteria. The results showed that the using of animation media was able to increase students’ learning outcome and motivation. Students’ learning outcome and motivation after participating in learning assisted by animation media were in high category. This result proved that animation media can increase students’ learning outcome and motivation on Genetic subject.animasi, hasil belajar, motivasi, genetik
HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN HASIL BELAJAR KOGNITIF SISTEM KOORDINASI MANUSIA
Kualitas tidur dan aktivitas fisik yang baik dapat meningkatkan daya konsentrasi dan memori belajar pada seseorang, sehingga berkontribusi pada hasil belajar kognitif yang diperoleh siswa. Tujuan penelitian ini adalah mengukur hubungan kualitas tidur dan aktivitas fisik dengan hasil belajar kognitif materi Sistem Koordinasi Manusia. Penelitian ini dilakukan di SMAN 21 Jakarta pada bulan Maret 2018. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil menggunakan simple random sampling sebanyak 125 siswa kelas XI IPA. Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrumen tes hasil belajar Sistem Koordinasi Manusia, instrumen Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan instrumen Physical Activity Qustionnaire Adolescents (PAQ-A). Hasil analisis uji prasyarat menunjukkan data terdistribusi normal dan homogen. Hasil perhitungan koefisien korelasi antara kualitas tidur dan hasil belajar kognitif menunjukkan hubungan positif yang signifikan, sedangkan korelasi antara aktivitas fisik dan hasil belajar kognitif menunjukkan hubungan negatif yang signifikan. Dalam penelitian ini, kontribusi kualitas tidur dan aktivitas fisik sebesar 18,6% dalam menentukan hasil belajar kognitif siswa. A good sleep quality and physical activity can increase the concentration and memory of learning in someone, thus contribute to cognitive learning outcomes obtained by students. The purpose of this study was to measure the relationship between sleep quality–physical activity and cognitive learning outcome on Human Coordination System subject. This study was conducted at SMAN 21 Jakarta in March 2018. The study method used the descriptive quantitative method with cross sectional approach. The samples were taken by simple random sampling as many as 125 students of 11th grade students of Science Class. The used instruments were the cognitive learning outcomes test, Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) and Physical Activity Qustionnaire Adolescents (PAQ-A). The results of correlation coefficient calculation between sleep quality and cognitive learning outcomes showed a significant positive relationship. While the correlation between physical activity and cognitive learning outcomes showed a significant negative relationship. In this study, the contribution of sleep quality and physical activity was 18.6% in determining students' cognitive learning outcomes
PENINGKATAN KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA MELALUI METODE PRAKTIKUM DENGAN MEDIA POWERPOINT INTERAKTIF
Mata pelajaran Biologi merupakan mata pelajaran yang sulit dipahami oleh siswa. Hasil prasiklus di kelas X MIPA 4 SMAN 4 Palembang menunjukkan ketuntasan belajar klasikal yang sangat rendah, yaitu 53%. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan perbaikan kemampuan kognitif siswa kelas X MIPA 4 SMAN 4 Palembang melalui penerapan metode praktikum dengan media powerpoint interaktif. Metode penelitian ini menggunakan action research dengan 3 siklus. Instrumen penelitian menggunakan soal tes jenis pilihan berganda. Teknik analisis data menggunakan persentase ketuntasan seluruh siswa dengan kriteria minimal 80%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan kemampuan kognitif siswa kelas X MIPA 4 SMAN 4 Palembang pada materi Eubacteria. Hasil ini ditunjukkan dari peningkatan persentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal dari siklus I hingga siklus III. Ketuntasan belajar klasikal siklus I sebesar 59%, siklus II sebesar 78,1%, dan siklus III sebesar 87,5%. Simpulan yang diperoleh adalah metode praktikum dengan media powerpoint interaktif memiliki potensi untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa kelas X MIPA 4 SMAN 4 Palembang pada materi Eubacteria. Biology is a subject that is difficult for students to understand. Pre-cycle results in class X MIPA 4 of State Senior High School 4 (SMAN 4) Palembang showed that classical learning completeness was very low, which was 53%. This research aimed to improve the cognitive ability of students at class X MIPA 4 in SMAN 4 Palembang through the application of practicum method with interactive powerpoint media. This research method used action research with three cycles. The research instrument used multiple-choice test questions. The data analysis technique use the percentage of completeness of all students with 80% as minimum criteria. The results showed that there was an increase in the cognitive ability of students at class X MIPA 4 in SMAN 4 Palembang on Eubacteria material. This result was shown by the percentage increase of students classical learning completeness from cycle I to cycle III. The classical learning completeness of cycle I was 59%, cycle II was 78.1%, and cycle III was 87.5%. The conclusion obtained was practicum method with interactive powerpoint media which has the potential to improve the cognitive ability of students at class X MIPA 4 in SMAN 4 Palembang on Eubacteria material
PROFIL GAYA BELAJAR MAHASISWA PADA MATA KULIAH ILMU LINGKUNGAN BERBASIS BLENDED LEARNING
Mahasiswa memiliki gaya belajar yang berbeda antara satu dengan yang lain meskipun kemungkinan ada yang memiliki gaya belajar sama. Mahasiswa termasuk sebagai peserta didik pada jenjang pendidikan tinggi. Mata kuliah Ilmu Lingkungan membutuhkan banyak pembelajaran secara kontekstual, pengayaan, diskusi dan studi kasus di lingkungan sehingga diselenggarakan secara blended learning. Blended learning akan efektif jika pengajar mengetahui gaya belajar mahasiswa. Oleh karena itu, perlu diketahui gaya belajar mahasiswa untuk keefektifan kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Responden adalah mahasiswa yang menempuh mata kuliah Ilmu Lingkungan. Data yang diperoleh adalah data kuantitatif. Instrumen yang digunakan adalah angket tertutup. Data dianalisis menggunakan persentase. Hasil studi menunjukkan mahasiswa peserta mata kuliah Ilmu Lingkungan memiliki gaya belajar auditif-visual sebanyak 61,1%, kemudian diikuti oleh gaya belajar visual, visual-kinestetik, auditif-kinestetik, auditif, dan kinestetik. Pembelajaran secara blended (blended learning) dapat menjadi salah satu alternatif guna memfasilitasi gaya belajar mahasiswa yang beragam. Sebanyak 71,1% dari mahasiswa menggunakan internet sebagai sumber belajarnya dan sebanyak 91,2% mahasiswa mengakses internet melalui smartphone. Kebiasaan mahasiswa menggunakan internet melalui smartphone mendukung dalam kegiatan pembelajaran secara blended yang dilakukan.Students have different learning styles from one another even though there may be those who have the same learning style. Environmental Science Subject require a lot of contextual learning, enrichment, discussion and case studies in the environment so that blended learning is held. Blended learning will be effective if the teacher knows the students learning style. Therefore, it is necessary to know the learning styles of students for the effectiveness of learning activities undertaken. The study method was a survey. Respondents were students who take Environmental Science Subject. The data obtained was quantitative data. The instrument used was a closed questionnaire. Data were analyzed using percentages. The study results showed that students participating in the Environmental Sciences Subject had the auditive-visual learning style with a percentage of 61.1%, then followed by the visual, visual-kinesthetic, auditive-kinesthetic, auditive, and kinesthetic learning styles. Blended learning can be one alternative to facilitate the diverse student learning styles. As many as 71.1% of students used the internet as a source of learning and as many as 91.2% of students accessed the internet through smartphones. The students' habit of using the internet through smartphones supported the blended learning activities
HUBUNGAN ANTARA ECOLITERACY DAN WILLINGNESS TO PAY MAHASISWA BIOLOGI UNTUK MEMBAWA SCHOOL LUNCH
Ecoliteracy merupakan faktor penting yang terkait dengan willingness to pay (WTP) untuk membawa school lunch. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara ecoliteracy dan willingness to pay mahasiswa biologi membawa school lunch. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2016 di Universitas Negeri Jakarta. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik survei melalui studi korelasional. Pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 89 mahasiswa biologi yang telah mengambil mata kuliah Ekologi dan Ilmu Lingkungan. Setelah diuji prasyarat, data penelitian tidak berdistribusi normal dan homogen, sehingga penelitian ini menggunakan uji non parametrik dengan menghitung koefisien korelasi Spearman’s Rank. Koefisien korelasi yang diperoleh adalah 0,552, yang berarti terdapat hubungan yang cukup kuat antara ecoliteracy dengan WTP mahasiswa biologi untuk membawa school lunch. Ecoliteracy yang dimiliki oleh mahasiswa ini memberikan bekal untuk berani mengambil sikap terhadap lingkungan, dalam hal ini membawa school lunch. Keberanian dalam mengambil sikap peduli lingkungan inilah yang dimaksud dalam penelitian ini disebut willingness to pay (WTP). Ecoliteracy is an important factor related to willingness to pay (WTP) to bring school lunch. The purpose of this study was to determine the correlation between ecoliteracy and willingness to pay (WTP) of biology students to bring school lunch. This study was conducted on July-August 2016 at Jakarta State University. The method used is descriptive method with survey through correlational study. Simple random sampling was used in this study. The number of samples in this study were 89 biology students who had taken Ecology and Environmental Science courses. After testing the prerequisites, the data was not normally distributed and homogeneous, so this study used a non-parametric test by calculating the Spearman's Rank correlation coefficient. The correlation coefficient obtained was 0.552, which means there was strong enough correlation between ecoliteracy and WTP of biology students to bring school lunch. Ecoliteracy which was owned by these students provided provisions to take a stand on the environment, in this case was bringing school lunch. Courage in taking the attitude of caring for the environment is what was meant in this study as willingness to pay (WTP)
PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP PEMBELAJARAN YANG MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF YANG DIINTEGRASIKAN DENGAN PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK
Tugas dan produk yang tergolong baik adalah tugas dan produk yang berbeda dari biasanya atau bersifat inovatif. Produk yang inovatif dihasilkan dari pemikiran kreatif mahasiswa melalui pembelajaran dengan menggunakan Project Based Learning (PjBL), yaitu pembelajaran berbasis proyek, sehingga tujuan penelitian adalah untuk mengukur persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran yang mengembangkan keterampilan berpikir kreatif yang diintegrasikan dengan pembelajaran berbasis proyek (PjBL) sebagai penelitian pendahuluan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode studi kasus longitudinal survey. Penelitian dilakukan terhadap mahasiswa pada matakuliah Pengembangan Praktikum Biologi di Sekolah Menengah (PPSM) di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Untirta pada Tahun 2019. Teknik pengumpulan data terdiri dari kuesioner dan wawancara persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran. Analisis data kuesioner dilakukan secara deskriptif dalam kategori yang ditetapkan dan hasil wawancara dianalisis dengan mereduksi pertanyaan dan jawaban yang sesuai dengan fokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran dengan persentase sebesar 80% dengan kriteria baik dan mampu membuat mahasiswa berpikir imajinasi dan menghasilkan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Dengan demikian implementasi pembelajaran yang mengembangkan keterampilan berpikir kreatif yang dintegrasikan dengan pembelajaran berbasis proyek (PjBL) dapat diterima dengan baik oleh mahasiswa. Tasks and products that are classified as good are tasks and products that are different from usual or are innovative. Innovative products are produced from students 'creative thinking through Project Based Learning, so the purpose of study was to measure students' perception of learning that developed creative thinking skills that was integrated with project-based learning (PjBL) as preliminary research. The method used in this study was qualitative research with a longitudinal survey case study method. The study was conducted on students in Pengembangan Praktikum Biologi di Sekolah Menengah (PPSM) Course in Biology Education Study Program, Sultan Ageng Tirtayasa University in 2019. Data collection techniques consisted of questionnaire and interview of students' perception of learning. Questionnaire data analysis was carried out descriptively in the specified categories and the results of the interview were analyzed by reducing questions and answers that fit the focus of the study. The results showed that students' perception of learning with a percentage of 80% with good criteria and were able to make students think imagination and produce something different from usual. Thus the implementation of learning that developed creative thinking skills that was integrated with project-based learning (PjBL) can be well received by students
PROFIL KETERAMPILAN PROSES SAINS (KPS) MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI DITINJAU DARI KEMAMPUAN AKADEMIK (STUDI KASUS DI SALAH SATU UNIVERSITAS DI SURAKARTA)
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui profil keterampilan proses sains (KPS) mahasiswa pendidikan biologi di salah satu universitas di Surakarta, (2) mengetahui perbedaan keterampilan proses sains (KPS) antara mahasiswa berkemampuan akademik tinggi dan rendah. Penelitian yang dilakukan termasuk studi kasus dengan mahasiswa semester 2 di salah satu universitas di Surakarta yang berjumlah 52 mahasiswa. KPS diukur menggunakan tes tertulis dalam bentuk pilihan ganda sejumlah 20 soal yang dikembangkan oleh Sutanto (2015). Indikator KPS yang diukur meliputi KPS dasar dan KPS terintegrasi. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan persentase untuk mengetahui profil KPS mahasiswa dan uji t independen untuk mengetahui perbedaan KPS mahasiswa akademik tinggi dan rendah. Hasil penelitian menunjukkan: 1) profil KPS mahasiswa secara umum dapat dinyatakan sedang dengan angka 67%. Indikator menggunakan alat dan mengkomunikasikan memperoleh kategori sangat baik (90,74%), sedangkan indikator menafsirkan memperoleh kategori sangat kurang (29,62%), 2) tidak ada perbedaan yang siginifikan antara rata-rata hasil belajar mahasiswa dengan KPS pada kelompok mahasiswa dengan kemampuan akademik tinggi dan rendah (nilai sig. 2-tailed 0,567 > ? 0,05). This study aimed: 1) to determine the profile of science process skills in biology education students at a university in Surakarta, 2) to determine the differences of science process skills between students with upper and lower academic ability. This study was a case study with 52 second semester students at a university in Surakarta. Science process skills was measured using a written test in the form of multiple choice questions of 20 questions developed by Sutanto (2015). The measured indicators of science process skills included basic and integrated science process skills. Data analysis of the this study used the quantitative descriptive analysis in percentage to determine the profile of students’ scientific process and the independent t-test to determine the difference of science process skills between students with upper and lower academic ability. The results showed: 1) in general, the profile of students’ science process skills was in moderate with 67%. Using tools and communicating as indicators of science process skills obtained very good categories (90.74%), while interpreting indicator obtained very poor categoriy (29.62%), 2) no significant difference of average of learning outcomes using science process skills between students with upper and lower academic ability (sig. 0.567 > ? 0.05)
PROFIL KETERAMPILAN LITERASI SAINS SISWA DI SALAH SATU SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI DI SURAKARTA
Salah satu keterampilan penting yang termasuk dalam pengetahuan yang harus dimiliki peserta didik pada abad 21 adalah keterampilan literasi sains. Penelitian yang meneliti profil kompetensi Abad 21 siswa akan dapat menjadi dasar untuk pembuatan kebijakan dalam pendidikan serta dasar lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur keterampilan literasi sains siswa di salah satu SMA Negeri di Surakarta. Metode penelitian adalah survei. Populasi dalam penelitian adalah seluruh siswa di salah satu SMA Negeri di Surakarta dengan jumlah 890 siswa. Teknik sampling menggunakan stratified random sampling sebesar 10% sehingga sampel penelitian adalah 90 siswa. Literasi sains diukur dengan menggunakan soal pilihan ganda PISA dengan pengembangan Moore & Foy (1997) tentang kemampuan dan sikap terhadap literasi sains. Analisis dilakukan dengan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian yang diperoleh adalah didapatkan kemampuan literasi sains di sebuah SMA Negeri di Surakarta adalah 55% dan tergolong dalam kategori rendah. Perlunya mengintegrasikan keterampilan literasi sains dalam pembelajaran agar siswa mampu menyelesaikan masalah dengan konsep-konsep sains dan memanfaatkan teknologi yang ada. One of the important skills included in the knowledge that must be possessed by students in the 21st century is scientific literacy skill. Research examining the 21st Century competency profile of students will be the basis for policy making in education as well as further foundation. This study aimed to measure students' scientific literacy skill in one of State High Schools in Surakarta. The study method was survey. Population in the study was all students in one of State High Schools in Surakarta with 890 students.The sampling technique used stratified random sampling of 10% so that the study sample was 90 students. Science literacy was measured by using PISA multiple choice questions with the development of Moore & Foy (1997) about abilities and attitudes towards scientific literacy. The analysis was carried out with quantitative descriptive. The obtained result of the study was that scientific literacy skill in one of State High Schools in Surakarta was 55% and classified as low. The need to integrate scientific literacy skill in learning so students are able to solve problems with science concepts and utilize existing technology