DIDAKTIKA BIOLOGI: Jurnal Penelitian Pendidikan Biologi
Not a member yet
    100 research outputs found

    ANALISIS BIOSAFETY DAN BIOSECURITY LABORATORIUM BIOLOGI SMA DI KABUPATEN SLEMAN

    Get PDF
    Laboratorium biologi Sekolah Menengah Atas (SMA) harus dapat menjamin kesehatan dan keselamatan kerja (K3) selama peserta didik berada di laboratorium sehingga kompetensi pembelajaran dapat tercapai. K dapat terlaksana dengan adanya biosafety dan biosecurity. Fokus kajian dalam artikel ini untuk mengetahui kondisi laboratorium biologi SMA berdasarkan biosafety dan biosecurity. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Sampel sekolah dipilih secara random sampling dari SMA negeri dan terakreditasi A di wilayah Kabupaten Sleman. Pengambilan data menggunakan tiga cara, yaitu instrumen angket, observasi dan wawancara dilakukan kepada kepala laboratorium biologi dan laboran. Hasil menunjukkan sekolah belum memenuhi standar sarana dan prasarana sesuai kriteria biosafety level 1 dan biosecurity, belum adanya penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) oleh peserta didik untuk mendukung terlaksananya K3, dan kinerja belum sesuai implementasi biosafety dan biosecurity. Hal ini menunjukkan bahwa diperlukan peningkatan kualitas laboratorium biologi SMA untuk memenuhi kriteria biosafety (level 1) dan biosecurity. High school biology laboratories (SMA) must be able to guarantee Occupational Health and Safety (K3) while students are in the laboratory so that learning competencies can be achieved. K3 can be implemented with biosafety and biosecurity. The focus of the study in this article was to determine the condition of the high school biology laboratory based on biosafety and biosecurity. This research used  quantitative and qualitative descriptive approach. The sample schools were randomly selected from state high schools and were accredited A in Sleman Regency area. Data collection used three methods: questionnaire instruments, observations, and interviews with the head of the biology laboratory and laboratory assistant. The results showed that the school has not met the facilities and infrastructure standards according to the biosafety level 1 and biosecurity criteria, students have not used Personal Protective Equipment (PPE) to support the implementation of K3, and performance has not met the implementation of biosafety and biosecurity. This show that it is necessary to improve the quality of high school biology laboratories to meet biosafety criteria (level 1) and biosecurity

    KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF PESERTA DIDIK MELALUI MODEL PROJECT BASED LEARNING (PjBL) SECARA DARING

    Get PDF
    Kemampuan berpikir tingkat tinggi yang sangat dibutuhkan dalam semua kemajuan dunia pendidikan pada abad ke-21, yang termasuk didalamnya adalah berpikir kreatif. Hasil studi awal diperoleh informasi keterampilan berpikir kreatif peserta didik kurang berkembang melalui pembelajaran daring karena adanya pandemi covid-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) secara daring terhadap keterampilan berpikir kreatif peserta didik kelas XI MIPA.3 UPT SMA Negeri 1 Parepare. Jenis penelitian yang digunakan adalah pra-experiment dengan desain one group pretest-posttest design. Penelitian ini dilaksanakan semester ganjil tahun akademik 2021/2022. Subjek penelitian kelas XI MIPA.3yang berjumlah 36 peserta didik. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar tes keterampilan berpikir kreatif. Analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan inferensial. Dari hasil penelitian didapatkan keterampilan berpikir kreatif peserta didik kelas XI MIPA.3 UPT SMA Negeri 1 Parepare sebelum diterapkan model pembelajaran PjBL secara daring rata-rata berada pada kategori kurang kreatif dengan persentase 40,42% dan sesudah pembelajaran rata-rata berada pada kategori sangat kreatif dengan persentase 90,28%. Penerapan model pembelajaran PjBL secara daring berpengaruh signifikan (sig. 0,000 < ? 0,05) terhadap keterampilan berpikir kreatif peserta didik kelas XI MIPA.3 UPT SMAN 1 Parepare. Higher-order thinking skills are needed in all advancements in the world of education in the 21st century, which includes creative thinking. The results of the initial study obtained information that students' creative thinking skills were less developed through online learning due to the covid-19 pandemic. This study aimed to determine the application of the online Project Based Learning (PjBL) model on students’ creative thinking skills in class XI MIPA.3 UPT SMA Negeri 1 Parepare. The type of research used was pre-experimental with a one group pretest-posttest design. This research was carried out in the odd semester of the 2021/2022 academic year. The research subjects were class XI MIPA.3 which consisted of 36 students. The research instrument used was a creative thinking skill test sheet. Analysis of the data used was descriptive and inferential statistical analysis. From the results of the study, it was found that students’ creative thinking skills in class XI MIPA.3 UPT SMA Negeri 1 Parepare before the applied online PjBL model was less creative category with a percentage of 40.42% and after learning it was very creative category with a percentage of 90.28%. The application of the online PjBL model has a significant effect (sig. 0.000 < ? 0.05) on students’ creative thinking skills in class XI MIPA.3 UPT SMAN 1 Parepare

    PENGELOLAAN LIMBAH LABORATORIUM BIOLOGI SMA DI KABUPATEN BANTUL, D.I. YOGYAKARTA

    Get PDF
    Limbah laboratorium biologi berasal dari percobaan atau praktikum dalam bentuk padat dan cair. Limbah padat pada laboratorium biologi biasanya berupa kertas atau endapan yang masih dengan mudah teratasi. Sedangkan limbah cair, biasanya tidak menggunakan bahan/reagen yang berbahaya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengelolaan limbah di laboratorium biologi SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah secara deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Penelitian dilakukan pada tahun pelajaran 2021/2022 di SMA Negeri Kabupaten Bantul, D. I. Yogyakarta, yaitu SMA Negeri 1 Pleret, SMA Negeri 1 Jetis, dan SMA Negeri 1 Kasihan. Hasil wawancara dengan laboran sekolah dideskripsikan secara kualitatif dan dokumentasi dilakukan untuk mendukung data yang telah diperoleh, sedangkan hasil observasi dilakukan secara kuantitatif dalam persentase. Hasil penelitian menunjukkan pengelolaan limbah laboratorium biologi di ketiga sekolah dapat dikategorikan dengan sangat baik dengan total persentase penilaian tidak kurang dari 90%. Penilaian dalam pengelolaan limbah laboratorium biologi hanya pada pengelolaan limbah padat dan pengelolaan limbah cair saja dikarenakan ketiga sekolah tidak menggunakan bahan-bahan yang berbahaya (B3) dalam melaksanakan praktikum. Meskipun demikian, limbah yang dihasilkan dari praktikum tetap memerlukan pengelolaan khusus. Biological laboratory waste comes from experiments or practicum in solid and liquid form. Solid waste in a biology laboratory is usually paper or sludge, which is still easily resolved. Meanwhile, liquid waste usually does not use hazardous materials/reagents. This study aimed to determine waste management in  high school biology laboratory.The method used in this research was descriptive with data collection techniques in the form of interview, observation and documentation. The research was conducted in the 2021/2022 school year at SMA Negeri Bantul Regency, Special Region of Yogyakarta, namely SMA Negeri 1 Pleret, SMA Negeri 1 Jetis, dan SMA Negeri 1 Kasihan. The results of interviews with school laboratory assistants were described qualitatively and documentation was carried out to support the data that had been obtained, while the results of observations were carried out quantitatively in percentages.The results showed that the management of biological laboratory waste in the three schools could be categorized very well with a total percentage of not less than 90%. Assessment in the management of biological laboratory waste was only on solid and liquid waste management because the three schools did not use hazardous materials in carrying out practicums. Even so, the waste generated from the practicum still requires special management

    KELAYAKAN BIODIVERSITY MAGAZINE: MAJALAH PADA SUBMATERI PEMANFAATAN KEANEKARAGAMAN HAYATI BERBASIS TUMBUHAN KOSMETIK

    Get PDF
    Majalah dapat digunakan sebagai media pembelajaran karena memiliki kesan santai, karakteristik bahasa lebih ringan, informatif, dikemas dengan sederhana yang berisi berita terkini. Oleh karena itu, majalah cocok digunakan untuk memberikan informasi yang isinya bersifat ilmiah seperti hasil penelitian inventarisasi tumbuhan kosmetik yang berasal dari potensi lokal tumbuhan Indonesia yang beraneka ragam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelayakan majalah pada submateri pemanfaatan keanekaragaman hayati berbasis tumbuhan kosmetik. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif yang dilakukan melalui tahapan: pembuatan media, validasi media, dan analisis data validasi. Instrumen yang digunakan adalah lembar validasi media yang berisi aspek bahasa, isi, dan kegrafikan dengan jumlah 10 item penilaian. Validator majalah adalah 2 orang dosen Pendidikan Biologi Universitas Tanjungpura dan 3 orang guru biologi SMA. Hasil validasi dianalisis menggunakan rumus Lawshe (1975), yaitu analisis CVR dan CVI. Majalah dapat dikatakan layak jika pada perhitungan akhir skor CVR dan CVI memenuhi nilai batas minimum yang disesuaikan dengan jumlah validator. Hasil penelitian menunjukkan perolehan hasil analisis validasi majalah sebesar 1,00 dikategorikan valid, maka majalah dinyatakan layak digunakan sebagai media pembelajaran pada submateri pemanfaatan keanekaragaman hayati kelas X SMA. Namun, media ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, yaitu uji coba dalam proses pembelajaran biologi. Magazine can be used as learning media because it has the relaxed impression, lighter language characteristics, informative, and being packaged simply containing the latest news. Therefore, the magazine is suitable to be used to provide scientific information, such as the results of research on the inventory of cosmetic plants derived from the diverse local potential of Indonesian plants. The purpose of this study was to determine the feasibility of the magazine on the sub-material of the use of biodiversity based on cosmetic plants. The method in this study was a quantitative descriptive method which was carried out through the following stages: media creation, media validation, and validation data analysis. The instrument used was a media validation sheet that contained aspects of language, content, and graphics with a total of 10 assessment items. The validators of the magazine were 2 lecturers of Biology Education at Tanjungpura University and 3 high school biology teachers. The validation results were analyzed using Lawshe's (1975) formula, namely the analysis of CVR and CVI. Magazine can be said to be feasible if in the final calculation the CVR and CVI scores met the minimum threshold value adjusted for the number of validators. The study results showed that the results of the magazine validation analysis of 1.00 were categorized as valid, so the magazine was declared feasibility to be used as a learning media on the sub-material of the use of biodiversity for class X High School. However, this media needs further research, namely trials in the biology learning process

    KECERDASAN EMOSIONAL DAN HASIL BELAJAR MATERI SISTEM GERAK MANUSIA: STUDI KORELASI PADA PESERTA DIDIK MENENGAH ATAS

    Get PDF
    Ketidakmampuan untuk menyelesaikan konflik, mengekspresikan diri kepada orang lain, dan merasakan empati terhadap teman sebaya di kelas dapat berdampak negatif pada tingkat keterlibatan siswa di kelas, dan hasil belajar secara keseluruhan. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar peserta didik pada materi sistem gerak manusia. Teknik pengumpulan data menggunakan non tes berupa kuesioner untuk kecerdasan emosional dan tes untuk hasil belajar. Responden penelitian adalah 34 peserta didik kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Majenang, Jawa Tengah. Teknis analisis data menggunakan uji regresi korelasi bivariat dengan terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis berupa uji normalitas dan uji linearitas. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan kuat antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar peserta didik. Kecerdasan emosional memberikan kontribusi sebesar 46,2% terhadap hasil belajar peserta didik pada materi sistem gerak manusia. Nilai koefisien regresi sebesar 0,334 dan nilai konstanta sebesar -7,637 menunjukkan bahwa apabila variabel bebas kecerdasan emosional dianggap tidak ada, maka nilai hasil belajar akan menurun atau buruk. Artinya, hasil belajar berhubungan dengan kecerdasan emosional sebagai variabel bebas, yaitu apabila kondisi kecerdasan emosional peserta didik buruk maka memungkinkan hasil belajar yang diperoleh peserta didik akan buruk juga. The inability to resolve conflicts, express oneself to others, and feel empathy for peers in the classroom can negatively impact the student's level of engagement in the classroom, and overall learning outcomes. This research was a correlational study that aimed to determine the relationship between emotional intelligence and students’ learning outcomes on human motion system material. The data collection techniques used the questionnaire for emotional intelligence and the test for learning outcome. The research respondents were 34 students of class XI MIPA at SMA Negeri 1 Majenang, Central Java. The data analysis technique used a bivariate correlation regression test with prerequisite analysis tests in the form of a normality test and a linearity test.The result showed that there was a strong relationship between emotional intelligence and students’learning outcomes.  The emotinal intelligence contributed 46.2% to students’ learning outcomes on human motion system material. The regression coefficient value was 0.334 and the constant value was -7.637 indicating that if the independent variable of emotional intelligence was considered absent, then the value of learning outcomes will decrease or be bad. That was, learning outcomes were related to emotional intelligence as an independent variable, so that if the condition of students' emotional intelligence was bad, it was possible that the learning outcomes obtained by students will also be bad

    BUKU SAKU MATERI JAMUR KELAS X BERDASARKAN IDENTIFIKASI JAMUR PATOGEN PADA CABAI MERAH DI DATARAN RENDAH PROVINSI BENGKULU

    Get PDF
    Penelitian dilaksanakan untuk pengembangan buku saku materi jamur untuk kelas X yang layak dan praktis yang dapat digunakan dalam pembelajaran. Materi buku saku merupakan hasil identifikasi jamur patogen pada cabai merah berpenyakit di dataran rendah Kelurahan Padang Serai Kota Bengkulu dan Desa Pekik Nyaring Kabupaten Bengkulu Tengah. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model pengembangan Borg & Gall (1989), namun hanya sampai tahap keempat, yaitu 1) penelitian dan pengumpulan informasi, dilakukan dengan identifikasi jamur patogen dan wawancara guru terkait penggunaan dan kebutuhan bahan ajar materi jamur, 2) perencanaan dan 3) pengembangan buku saku yang dilakukan dengan penyusunan berdasarkan hasil identifikasi jamur patogen pada cabai merah, serta 4) pengujian lapangan awal, dilakukan melalui uji validasi untuk melihat kelayakan dan uji respon siswa untuk mengetahui kepraktisan buku saku. Hasil uji validasi dan uji respon siswa dianalisis dengan persentase. Berdasarkan identifikasi jamur patogen pada cabai merah diperoleh 4 jenis, yaitu Fusarium sp., Curvularia sp., Colletotrichum sp., dan Cercospora sp. Hasil identifikasi dimuat sebagai materi buku saku dengan penilaian layak berdasarkan validasi ahli media sebesar 92,8%, ahli materi 98,9% dan guru biologi 92,5%. Selain layak, buku saku juga praktis melalui penilaian respon siswa terhadap keterbacaan buku saku dengan persentase sebesar 85,13%. The research was carried out for the development of a feasible and practical fungi material pocket book for class X that can be used in learning. The pocket book material was the result of identification of pathogenic fungi on diseased red chilies in the lowlands of Padang Serai Village, Bengkulu City and Pekik Nyaring Village, Central Bengkulu Regency. This research was carried out using the Borg & Gall (1989) development model, but only reached the fourth stage, namely 1) research and information collection, carried out by identification of pathogenic fungi and teacher interviews related to the use and need for fungi teaching material, 2) planning and 3 ) development, carried out by compiling based on the results of identification of pathogenic fungi on red chilies, and 4) initial field test, carried out through validation test to see the feasibility and student response test to determine the practicality of pocket book. The results of the validation test and student response test were analyzed by percentage. Based on the identification of pathogenic fungi in red chilies, 4 types were obtained, namely Fusarium sp., Curvularia sp., Colletotrichum sp., and Cercospora sp. The identification results were published as pocket book material with feasible results based on the validation of media experts by 92.8%, material experts 98.9% and biology teachers 92.5%. Besides being feasible, pocket book was also practical through the assessment of students response to the readability of pocket book with a percentage of 85.13%

    KELAYAKAN WEB PEMBELAJARAN BIOLOGI BERBASIS SOCIO-SCIENTIFIC ISSUES TOPIK SISTEM PERNAPASAN UNTUK PENGEMBANGAN LITERASI KESEHATAN SISWA

    Get PDF
    Penulusuran literatur atau penelitian perihal praktik pembelajaran yang berorientasi pada literasi kesehatan khususnya melalui mata pelajaran sains-biologi di Indonesia menunjukkan bahwa pengembangan dan aplikasi desain instruksional belum banyak dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan web pembelajaran biologi berbasis Socio-scientific issues (SSI) untuk diimplementasikan dalam pembelajaran biologi di SMA. Metode yang digunakan adalah research & development. Subjek penelitian terdiri dari 2 ahli materi, 2 ahli media, 2 guru biologi, dan 20 siswa SMA. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen penilaian dan angket. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif kualitatif sebagai bahan revisi media dan data kuatitatif menggunakan persentase untuk penilaian kelayakan. Hasil dari penelitian pengembangan ini adalah web pembelajaran biologi berbasis SSI topik sistem pernapasan untuk mengembangkan literasi kesehatan siswa SMA kelas XI. Web pembelajaran yang dikembangkan telah memenuhi kriteria kelayakan berdasarkan aspek konsep esensial materi biologi, informasi kajian biologi, bahasa kajian biologi, organisasi pembelajaran, dan operasional sajian web berdasarkan hasil penilaian dari ahli materi, ahli media, dan guru biologi. Berdasarkan hasil penilaian tersebut dapat disimpulkan web pembelajaran yang dkembangkan layak digunakan dalam pembelajaran biologi. Searching the literature or research on learning practices oriented towards health literacy, especially through science-biology subjects in Indonesia, showed that the development and application of instructional design has not been widely produced. This study aimed to determine the feasibility of a biology learning web based on Socio-scientific issues (SSI) to be implemented in biology learning in high school.The method used was research & development. The study subjects consisted of 2 material experts, 2 media experts, 2 biology teachers, and 20 high school students. Data collection was carried out using assessment instruments and questionnaires. Qualitative data were analyzed descriptively qualitatively as media revision material and quantitative data using percentages for feasibility assessment.The result of this development research is a biology learning web based on SSI on the topic of the respiratory system to develop health literacy for high school students. The developed learning web has the feasibility criteria based on aspects of the essential concepts of biological material, information and language of biological studies, learning organization, and web presentation operation. It was Based on the results of assessments from material experts, media experts, biology teachers and limited trial test. Based on the results of the assessment, it can be concluded that the learning web developed is suitable for use in biology learning

    REDUKSI MISKONSEPSI DAN PENINGKATAN KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK MELALUI MODEL CREATIVE PROBLEM SOLVING PADA MATERI KEANEKARAGAMAN HAYATI

    Get PDF
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya tingkat miskonsepsi dan rendahnya kecerdasan emosional peserta didik kelas di SMA Negeri 1 Natar, Lampung Selatan pada materi keanekaragaman hayati. Miskonsepsi berbahaya jika tidak diatasi karena dapat mempengaruhi hasil belajar. Kecerdasan emosional yaitu kemampuan untuk mengelola emosi yang untuk membangun hubungan yang baik di lingkungan sekitar. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Creative Problem Solving terhadap reduksi miskonsepsi dan peningkatan kecerdasan emosional kelas X pada materi Keanekaragaman hayati. Metode penelitian yang digunakan adalah pre-experiment dengan the one-group pretest-posttest design dengan 3 kelas peneltian. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes miskonsepsi Three Tier-Multiple Choice dan angket kecerdasan emosional dengan skala Likert. Analisis data menggunakan one sample T-test dengan ? 0,05. Hasil penelitian menunjukkan model Creative Problem Solving mampu mereduksi miskonsepsi pada materi keanekaragaman hayati dari 57% menjadi 35% dengan hasil uji one sample T-test 0,00 ? 0,05, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Sedangkan, untuk peningkatan kecerdasan emosional dengan menggunakan N-gain yang diperoleh dari pembelajaran menggunakan model Creative Problem Solving diperoleh hasil 0,00 ? 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian, model Creative Problem Solving menjadi salah satu solusi dalam mereduksi miskonsepsi dan meningkatkan kecerdasan emosional peserta didik pada materi keanekaragaman hayati. This research was motivated by the high level of misconception and the low emotional intelligence of students at SMA Negeri 1 Natar, South Lampung on the Biodiversity subject. Misconception is dangerous if it’s not addressed because it can affect learning outcomes. Emotional intelligence is the ability to manage emotions to build good relationships in the surrounding environment. This research was conducted to determine the effect of the Creative Problem Solving model on reducing misconception and increasing emotional intelligence of class X on the Biodiversity subject. The research method used was pre-experiment with the one-group pretest-posttest design with 3 research classes. The research instrument used was Three Tier-Multiple Choice misconception test and emotional intelligence questionnaire with Likert scale. Data analysis used one sample T-test with ? 0.05.The results showed that the Creative Problem Solving model was able to reduce misconception about Biodiversity from 57% to 35% with the result of the one sample T-test 0.00 ? 0.05, so that H0 was rejected and H1 was accepted. Meanwhile, to increase emotional intelligence using N-gain obtained from learning using the Creative Problem Solving model, the result was 0.00 ? 0.05, then H0 was rejected and H1 was accepted. Thus, the Creative Problem Solving model is one of the solution in reducing misconception and increasing students' emotional intelligence on Biodiversity subject

    HAMBATAN GURU BIOLOGI: ANALISIS PEMANFAATAN MEDIA INFORMASI DAN TEKNOLOGI PADA IMPLEMENTASI STANDAR PROSES

    Get PDF
    Standar proses ditujukan pada kegiatan perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pendidikan serta meningkatkan keterampilan sumber daya manusia dalam paradigma pembelajaran Abad 21.  Salah satu kompetensi Abad 21 adalah keterampilan dalam menguasai media informasi dan teknologi. Tujuan penelitian adalah mengetahui hambatan guru biologi dalam implementasi standar proses Kurikulum 2013 terkait dengan pemanfaatan media informasi dan teknologi. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sampel penelitian adalah guru biologi yang mengajar di SMA negeri dan swasta terakreditasi A, B dan C  di Kecamatan Seberang Ulu II Palembang. Kuesioner sebagai instrumen penelitian didukung dengan dokumentasi (silabus dan RPP). Analisis data menggunakan model Miles & Huberman (2009) dengan tahap: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan hambatan guru biologi terkait pemanfaatan media informasi dan teknologi terdapat pada aspek perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran. Hambatan pada aspek perencanaan adalah dalam pengembangan silabus pembelajaran dan RPP, integrasi lebih dari satu macam peralatan teknologi informasi dan komputer (TIK) untuk keperluan belajar, pengembangan produk digital sebagai sumber belajar, dan perpaduan berbagai macam perangkat TIK untuk keperluan sumber belajar. Hambatan pada aspek pelaksanaan meliputi pembiasaan peserta didik dalam memanfaatkan TIK untuk mengakses materi pelajaran dan penggunaan TIK untuk komunikasi guru dan peserta didik. Process standards are aimed at planning and implementing learning processes to improve the quality of education and improve human resource skills in the 21st Century learning paradigm. One of the 21st Century competencies is skill in mastering information media and technology. The purpose of the study was to find out the obstacles of biology teachers in implementation of process standards of Curriculum  2013 related to the utilization of information media and technology. The study method was descriptive qualitative. The samples were biology teachers who teach at public and private high schools accredited A, B and C in Seberang Ulu II District, Palembang. Questionnaire as research instrument was supported by documentation (syllabus and lesson plans). The data analysis used Miles & Huberman (2009) model with the following stages: data reduction, data presentation and conclusion. The study results showed that the obstacles of biology teachers related to the utilization of information and technology media were in the planning and implementation aspects of learning. The obstacles in planning aspect were the development of the learning syllabus and lesson plans, the integration of more than one type of information technology and computer (ICT) equipment for learning purposes, the development of digital products as learning resources, and the combination of various kinds of ICT tools for the learning resources. The obstacles in implementation aspect included the habituation of students in using ICT to access subject matter and the use of ICT for teacher and student communication.

    PERSEPSI SISWA TERHADAP PENGGUNAAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI DI SMA NEGERI 1 GODEAN, SLEMAN

    Get PDF
    Persepsi siswa dalam menggunakan e-learning dalam kegiatan pembelajaran perlu untuk dikaji karena siswa merupakan pihak yang menggunakan e-learning dalam proses belajar. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui persepsi siswa terhadap penggunaan e-learning dalam pembelajaran biologi pada masa pandemic Covid-19 di SMA Negeri 1 Godean, Sleman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Data penelitian didapatkan dengan cara membagikan angket dalam bentuk Google form yang terdiri dari 11 pernyataan (indikator) yang mencakup tiga aspek, yaitu aspek kemudahan akses, aspek kebermanfaatan dalam pembelajaran dan aspek kemudahan penggunaan e-learning. Angket dibagikan ke seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 Godean, Sleman. Data hasil respon siswa dianalisis dengan menghitung persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan siswa SMA Negeri 1 Godean, Sleman memiliki persepsi yang positif terhadap penggunaan e-learning dalam kegiatan pembelajaran daring biologi, dengan capaian tertinggi siswa menganggap e-learning mudah untuk digunakan. Namun untuk kegiatan diskusi sebagai salah satu indikator dari aspek kebermanfaatan, siswa merasa bahwa e-learning kurang tepat sebagai sarana diskusi sehingga e-learning masih perlu dikembangkan lagi. Students' perception of using e-learning in learning activities need to be studied because students are who uses e-learning in the learning process. The purpose of this study was to determine students' perception of using e-learning in biology learning during the pandemic Covid-19 at SMA Negeri 1 Godean, Sleman. The method used in this study was descriptive. The research data was obtained by distributing a questionnaire in the form of a Google form consisting of 11 statements (indicators) covering three aspects, namely aspects of ease of access, aspects of usefulness in learning and aspects of ease of use of e-learning. The questionnaire was distributed to all students of class X SMA Negeri 1 Godean, Sleman. Students’ response data were analyzed by calculating the percentage. The results of this study indicated that students of SMA Negeri 1 Godean, Sleman had the positive perception of using e-learning in biology online learning activities, with the highest aspect was that students considered e-learning easy to use.However, for the discussion activities as one of indicators of the usefulness aspect, students felt that e-learning was not appropriate as a means of discussion so that e-learning still needs to be developed

    85

    full texts

    100

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    DIDAKTIKA BIOLOGI: Jurnal Penelitian Pendidikan Biologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇