39193 research outputs found
Sort by
PENGARUH PARTISIPASI CAMPAIGN BERKAIN BATIK DI MEDIA SOSIAL TERHADAP PEMAHAMAN BATIK PADA MAHASISWA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh partisipasi campaign berkain di media sosial terhadap pemahaman batik pada mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner untuk mengukur partisipasi campaign dan tes pilihan ganda untuk mengukur pemahaman batik berdasarkan ranah kognitif Taksonomi Bloom pada butir C1 (Pengetahuan), C2 (Pemahaman), C3(Penerapan), dan C4 (Analisis). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Jakarta angkatan 2022–2025. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling dengan mengambil sampel dari kerangka sampel yang ada, dibagi dalam beberapa tingkatan strata yang berbeda menurut karakteristik tertentu, dan kemudian dilakukan pengambilan secara acak dari masing-masing strata tersebut, sehingga diperoleh sampel penelitian sebanyak 163 responden yang mewakili setiap angkatan. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear sederhana untuk menguji pengaruh partisipasi campaign terhadap pemahaman batik. Hasil analisis menunjukkan bahwa partisipasi campaign memiliki hubungan searah dengan pemahaman batik, yang ditunjukkan oleh hasil uji t menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,064 (Sig. > 0,05), sehingga secara statistik partisipasi campaign berkain tidak berpengaruh signifikan terhadap pemahaman batik. Nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,021 menunjukkan bahwa partisipasi campaign hanya mampu menjelaskan 2,1% variasi pemahaman batik, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel penelitian. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa meskipun tingkat partisipasi mahasiswa dalam campaign berkain di media sosial tergolong sedang hingga tinggi, partisipasi tersebut belum memberikan pengaruh signifikan terhadap pemahaman batik secara kognitif. Oleh karena itu, diperlukan penguatan aspek pemahaman batik dalam lingkup mata kuliah yang tersaji di Pendidikan Tata Busana. ***** This study examines the effect of students’ participation in batik campaigns on social
media on their understanding of batik. A quantitative research design employing a
survey method was applied. Data were collected through questionnaires to measure
the level of participation in batik campaigns and multiple-choice tests to assess
students’ understanding of batik based on Bloom’s cognitive taxonomy, covering C1
(knowledge), C2 (understanding), C3 (application), and C4 (analysis). The research
population comprised students of the Fashion Design Education Study Program at
Jakarta State University from the 2022–2025 cohorts. Stratified random sampling was
used by dividing the population into strata according to cohort year and randomly
selecting respondents from each stratum, resulting in a total sample of 163 students.
Data analysis was conducted using simple linear regression to determine the influence
of campaign participation on students’ understanding of batik. The results indicate
that participation in batik campaigns shows a direct relationship with students’
understanding; however, the t-test yielded a significance value of 0.064 (Sig. > 0.05),
indicating that the effect is not statistically significant. The coefficient of determination
(R Square) of 0.021 demonstrates that campaign participation explains only 2.1% of
the variance in students’ understanding of batik, while the remaining variance is
attributable to other factors outside the variables examined in this study. In
conclusion, although students’ participation in batik campaigns on social media is
generally at a moderate to high level, it does not significantly enhance their cognitive
understanding of batik. Therefore, strengthening batik-related knowledge through
formal instruction within Fashion courses
PENGEMBANGAN MEDIA BOARD GAME SKEMA PENGENALAN PENDIDIKAN SEKSUAL UNTUK ANAK USIA 4-6 TAHUN
Sejak tahun 2020 terjadinya peningkatan kasus kekerasan seksual pada anak usia 4–6 tahun. Pentingnya pemberian edukasi pendidikan seksual sedari anak kecil agar anak mengetahui area tubuh pribadinya dan tindakan pencegahan ketika dihadapi dengan kekerasan seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran berupa papan permainan yang dilengkapi dengan kartu edukasi, potongan gambar tubuh dan pakaian anak laki-laki dan perempuan serta buku pedoman pengguna. Media yang bernama SKEMA (Sex Kids Education Matters Awareness) yang dapat membantu orangtua dalam memberikan pendidikan seksual kepada anak di rumah. Metode penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model pengembangan 4D. Responden dalam penelitian terdiri dari satu ahli materi, satu ahli media, dua orang tua dengan anak yang memiliki usia 4-6 tahun pada uji perorangan dan uji kelompok kecil sejumlah 17 orang tua yang memiliki anak usia 4-6 tahun pada uji kelompok. Tingkat kelayakan materi yang didapatkan setelah dilakukan validasi memperoleh persentase 92% dan untuk media memperoleh 100% sehingga masuk pada kategori sangat layak. Pada tingkat kelayakan uji perorangan mendapat rata-rata 84% dan uji kelompok kecil 89,51% masuk kategori sangat layak. Berdasarkan hasil uji validasi dan uji lapangan menarik kesimpulan bahwa media SKEMA yang dikembangkan sangat layak untuk membantu orangtua dalam memberikan pendidikan seksual kepada anak usia 4-6 tahun.
Kata Kunci: media pembelajaran, pendidikan seksual, pengembangan, SKEMA
*****
Since 2020, there has been an increase in cases of sexual violence against children aged 4–6 years. It is important to provide sex education to young children so that they know their private body parts and how to prevent sexual violence. This study aims to develop learning media in the form of a game board equipped with educational cards, pictures of boys' and girls' bodies and clothing, and a user manual. The media, called SKEMA (Sex Kids Education Matters Awareness), can help parents provide sex education to their children at home. The research method used is Research and Development (R&D) with a 4D development model. The respondents in this study consisted of one subject matter expert, one media expert, two parents with children aged 4-6 years in the individual test, and a small group test of 15 parents with children aged 4-6 years in the group test. The level of material feasibility obtained after validation was 92%, and for the media, it was 100%, which is considered very feasible. The feasibility level for the individual test was 84% on average and 89.51% for the small group test, which was also very feasible. Based on the results of the validation and field tests, it can be concluded that the SKEMA (Sex Kids Education Matters Awareness) media developed is very feasible to help parents provide sex education to their children.
Keywords: development, learning media, sex education, SKEM
JOY OF MISSING OUT (JOMO) SEBAGAI GAYA HIDUP BARU GEN Z MAHASISWA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUKUM UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengapa Joy of Missing Out
(JoMO) dipilih sebagai gaya hidup baru di kalangan mahasiswa Gen Z Fakultas Ilmu
Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta serta mengidentifikasi faktor-faktor yang
mendorong penerapan gaya hidup tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan
deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara. Sampel dalam
penelitian ini terdiri dari 11 mahasiswa yang berasal dari 11 program studi di lingkungan
Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta, yang telah memenuhi kriteria sebagai mahasiswa Gen Z dan menunjukkan kecenderungan menjalani gaya hidup
JoMO. Joy of Missing Out (JoMO) dipilih sebagai respon terhadap kelelahan mental akibat tuntutan sosial. Hasil wawancara menunjukkan bahwa mahasiswa merasa lelah secara
emosional dan psikologis ketika harus terus mengikuti aktivitas sosial, tren, serta ekspektasi lingkungan yang menuntut mereka untuk selalu hadir dan aktif. Tekanan untuk
tidak tertinggal justru memunculkan stres, kelelahan, dan perasaan kehilangan ruang
pribadi. Oleh karena itu, Joy of Missing Out (JoMO) dipandang sebagai cara untuk menjaga kesehatan mental dengan lebih selektif dalam keterlibatan sosial. pengalaman masa
lalu menjadi fondasi terbentuknya gaya hidup Joy of Missing Out (JoMO).***** This study aims to describe why Joy of Missing Out (JoMO) is chosen as a new
lifestyle among Generation Z students of the Faculty of Social Sciences and Law at Universitas Negeri Jakarta and to identify the factors that encourage the adoption of this lifestyle. The study employs a qualitative descriptive approach, with data collected through
interviews. The sample consists of 11 students from 11 study programs within the Faculty
of Social Sciences and Law at Universitas Negeri Jakarta, who meet the criteria as Generation Z students and demonstrate a tendency to adopt the Joy of Missing Out (JoMO)
lifestyle.Joy of Missing Out (JoMO) is chosen as a response to mental fatigue resulting
from social demands. The interview findings indicate that students experience emotional
and psychological exhaustion when they are required to continuously follow social activities, trends, and environmental expectations that demand constant presence and engagement. The pressure to avoid missing out instead leads to stress, fatigue, and a loss of
personal space. Therefore, Joy of Missing Out (JoMO) is perceived as a strategy to maintain mental well-being by being more selective in social involvement. Past experiences
serve as the foundation for the formation of the Joy of Missing Out (JoMO) lifestyle
PENGARUH KEPERCAYAAN TERHADAP PEMERINTAH TERHADAP KECEMASAN AKAN MASA DEPAN DENGAN PERAN RESILIENSI SEBAGAI MODERATOR DALAM PERUBAHAN SITUASI POLITIK DI INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepercayaan terhadap pemerintah terhadap kecemasan akan masa depan dengan peran resiliensi sebagai moderator dalam perubahan situasi politik di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain survei dan melibatkan 291 warga negara Indonesia berusia 18–40 tahun yang mengikuti isu politik di Indonesia beberapa saat terakhir. Teknik sampling yang digunakan adalah non-probability sampling dengan metode convenience sampling. Instrumen yang digunakan mencakup Dark Future Scale (DFS), Citizen Trust in Government Organizations (CTGO-S), dan Connor-Davidson Resilience Scale 10 (CD-RISC 10). Analisis data dilakukan dengan menggunakan Moderated Regression Analysis (MRA). Hasil analisis menunjukkan bahwa resiliensi tidak memoderasi secara signifikan pengaruh kepercayaan terhadap pemerintah terhadap kecemasan akan masa depan, dan kepercayaan terhadap pemerintah berpengaruh negatif secara signifikan sebesar 13,8% terhadap kecemasan akan masa depan. Temuan ini menegaskan pentingnya kepercayaan publik dalam menjaga kesejahteraan psikologis masyarakat di tengah situasi krisis politik.
*****
This study aims to examine the effect of trust in government on future anxiety, with resilience as a moderating variable, in the context of political changes in Indonesia. This research employed a quantitative method using a survey design and involved 291 Indonesian citizens aged 18–40 years who had been following recent political issues in Indonesia. The sampling technique used was non-probability sampling with a convenience sampling method. The instruments utilized in this study included the Dark Future Scale (DFS), the Citizen Trust in Government Organizations Scale (CTGO-S), and the Connor–Davidson Resilience Scale 10 (CD-RISC 10). Data analysis was conducted using Moderated Regression Analysis (MRA). The results indicated that resilience did not significantly moderate the effect of trust in government on future anxiety, while trust in government had a significant negative effect of 13.8% on future anxiety. These findings highlight the importance of public trust in maintaining psychological well-being amid situations of political crisis
PENILAIAN E-MODUL BLUS KERAH SETALI
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hasil penilaian pada media pembelajaran e-modul blus kerah setali. Penelitian ini menggunakan metode pre-experimental dengan desain penelitian one-shot case study. Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis data kuantitatif deskriptif. Prosedur pengumpulan data melalui tahap penyebaran angket terbuka-tertutup kepada panelis ahli. Penelitian ini menggunakan teori penilaian berdasarkan aspek karakteristik modul yang baik meliputi self instructional, self contained, stand alone, adaptive, dan user friendly, serta aspek elemen mutu modul meliputi format, organisasi, daya tarik, bentuk dan ukuran huruf, ruang/spasi kosong, dan konsistensi. Hasil penelitian berdasarkan aspek karakteristik modul yang baik memperoleh persentase sebesar 86,6% dengan skor aspek tertinggi yaitu aspek self contained, stand alone, dan user friendly dengan persentase sebesar 87,5%. Hasil penelitian berdasarkan aspek elemen mutu modul memperoleh persentase sebesar 96,4% dengan skor aspek tertinggi yaitu aspek organisasi dan ruang/spasi kosong dengan persentase sebesar 100%. Secara keseluruhan, tingkat kelayakan e-modul blus kerah setali adalah sebesar 91,5% sehingga e-modul berada pada kategori sangat baik. Kata Kunci : Kerah Setali, E-Modul, Media Pembelajaran, Blus ******* This study aims to obtain assessment results on the e-module learning media for shawl collar blouse. This study uses a pre-experimental method with a one-shot case study research design. The data was analyzed using descriptive quantitative data analysis technique. The data collection procedure involves distributing open-ended and closed-ended questionnaires to panelists consisting of subject matter experts. This study utilised an assessment theory based on the characteristics of a good module, consisting of self-instructional, self-contained, stand-alone, adaptive, and user-friendly, as well as the quality elements of a module, consisting of formatting, organisation, appeals, type and size of font, white space usage, and consistency. The study results based on the characteristics of a good module obtained a percentage of 86.6% with the highest-scored aspect being self-contained, stand-alone, and user-friendly with a percentage of 87.5%. The study results based on the quality elements of the module obtained a percentage of 96.4% with the highest-scored aspect being organisation and white space usage with a percentage of 100%. Overall, the feasibility level of the e-module for collared blouses is 91.5%, placing the emodule in the excellent category. Keywords: Shawl Collar, E-Module, Learning Media, Blous
Hubungan Kampanye #BadmintonTanpaStigma Dengan Sikap Kesadaran Stigma Kepada Orang Dengan HIV/AIDS Di Indonesia Melalui Aplikasi Campaign #ForABetterWorld
Kampanye #BadmintonTanpaStigma yang dikemas dalam bentuk aksi challenge mengunggah foto memakai pita merah di Aplikasi Campaign #ForABetterWorld merupakan kampanye yang diselenggarakan oleh Yayasan Gaya Celebes dan Campaign. Kampanye ini bertujuan untuk memberikan dukungan akses layanan kesehatan ke-50 komunitas Orang Dengan HIV/AIDS, mengurangi pandangan dan perlakuan negatif di lingkungan kesehatan kepada ODHA, serta meningkatkan solidaritas kepada Orang Dengan HIV/AIDS. Penelitian yang berjudul, “Hubungan Kampanye #BadmintonTanpaStigma Dengan Sikap Kesadaran Stigma Kepada Orang Dengan HIV/AIDS di Indonesia Melalui Aplikasi Campaign #ForABetterWorld” memiliki tujuan untuk mengetahui hubungan kampanye #BadmintonTanpaStigma dengan sikap kesadaran stigma kepada ODHA di Indonesia melalui Aplikasi Campaign #ForABetterWorld. Pemilihan objek penelitian, yakni kampanye #BadmintonTanpaStigma didasari pada kemudahan akses data penelitian yang dibutuhkan.
Penelitian ini menggunakan konsep media baru dengan teori integrasi informasi oleh Martin Fishbein yang memiliki dua asumsi, yakni valensi dan bobot informasi. Variabel yang diteliti pada penelitian ini ialah kampanye dan sikap. Pada variabel kampanye memuat enam dimensi, yakni goals, objectives, strategies, tactics, climbing toward the goal:The strategic planning ladder, dan inititating the planning process sedangkan variabel sikap memiliki tiga dimensi, yakni cognitively based attitudes, affectively based attitudes, dan behaviorally based attitudes.
Paradigma penelitian ini positivisme dengan pendekatan kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan survei dengan kuisioner yang disebarkan kepada supporter kampanye #BadmintonTanpaStigma melalui PIC kampanye. Populasi pada penelitian ini sebesar 207 orang dan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan total sampel sebesar 137 orang. Analisis data univariate yang digunakan ialah distribusi frekuensi dan nilai mean sementara analisis bivariate menggunakan uji korelasi nonparametrik Spearman-Rank.
Hasil pada penelitian ini menunjukkan aksi challenge kampanye #BadmintonTanpaStigma memiliki kesinambungan antara hasil, tujuan, strategi, dengan taktik yang dilakukan dalam berkampanye. Aksi challenge kampanye ini juga berhasil memberikan wawasan terkait akses layanan dan dukungan kesehatan yang setara untuk Orang Dengan HIV/AIDS. Pada penelitian ini, data pada kedua variabel penelitian ini tidak berdistribusi normal berdasarkan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, sehingga uji korelasi dilanjutkan menggunakan uji korelasi nonparametrik Spearman-Rank.
Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kampanye #BadmintonTanpaStigma memiliki hubungan dengan sikap kesadaran stigma kepada ODHA di Indonesia. Semakin tinggi tingkat partisipasi dalam kampanye, maka semakin tinggi kesadaran yang diperoleh terkait akses dan dukungan layanan kesehatan yang setara bagi ODHA. Saran untuk kampanye #BadmintonTanpaStigma adalah menambahkan panduan teknis terkait cara mengikuti aksi challenge kampanye di Aplikasi Campaign. Panduan tersebut juga disarankan mencantumkan periode berlangsungnya kampanye. Untuk memperluas jangkauan, disarankan agar kampanye disebarkan melalui media sosial dengan melibatkan tokoh masyarakat dan menekankan pada tujuan kampanye yang ingin dicapai.
*****
The #BadmintonTanpaStigma campaign is organized by Yayasan Gaya Celebes and Campaign. It was structured as a challenge where participants uploaded photos wearing a red ribbon via the #ForABetterWorld Application. This campaign aims to provide support for access to health services for 50 communities of People Living With HIV/AIDS, reduce negative views and treatment towards PLWHA in healthcare settings, and increase solidarity with PLWHA. This research aims to determine the relationship between the #BadmintonTanpaStigma campaign and attitudes towards stigma awareness concerning PLWHA in Indonesia, utilizing the #ForABetterWorld Application. The selection of the research object, namely the #BadmintonTanpaStigma campaign, was based on the ease of access to the necessary research data.
This research utilizes the new media concept with Martin Fishbein’s Information Integration Theory, which has two assumptions: valence and weight of information. The variables examined in this study are campaign and attitude. The campaign variable comprises six dimensions: goals, objectives, strategies, tactics, climbing toward the goal: The strategic planning ladder, and initiating the planning process, while the attitude variable has three dimensions: cognitively based attitudes, affectively based attitudes, and behaviorally based attitudes.
The paradigm used in this research is positivism with a quantitative approach. The research employed a survey methodology, utilizing questionnaires distributed to the #BadmintonTanpaStigma campaign supporters through campaign's Person-in-Charge (PIC). The population of this study was 207 people, and the sampling technique used was purposive sampling with a total sample of 137 people. The univariate data analysis used was frequency distribution and mean value, while the bivariate analysis utilized the nonparametric Spearman-Rank correlation test.
The findings show strong consistency among the goals, strategies, execution, and results of the #BadmintonTanpaStigma campaign challenge. The campaign challenge action also successfully provided insights regarding equal access to and support for healthcare services for People Living with HIV/AIDS. In this study, as the data for both research variables did not follow a normal distribution according to the Kolmogorov-Smirnov test, the correlation analysis was subsequently performed using the non-parametric Spearman's Rank correlation test.
This research concludes the #BadmintonTanpaStigma campaign has a relationship with stigma awareness attitudes towards People Living With HIV/AIDS in Indonesia. A higher level of campaign participation correlates with a greater awareness gained regarding equal access to and support for healthcare services for People Living with HIV/AIDS. The recommendations for the #BadmintonTanpaStigma campaign are to add technical guidelines on how to participate in the campaign's challenge within the Campaign Application. The guidelines should also specify the campaign's period. To maximize reach, dissemination through social media is recommended, alongside involving public figures and emphasizing the campaign's core goals
KOMUNIKASI KELOMPOK SEBAYA PADA MAHASISWA UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA DALAM MEMBENTUK NORMALISASI KONSUMSI ALKOHOL (STUDI KASUS)
Komunikasi merupakan unsur penting dalam membentuk kehidupan sosial, terutama dalam komunikasi kelompok sebaya yang menjadi ruang utama pertukaran nilai, makna, dan perilaku. Komunikasi kelompok sebaya berperan besar dalam membentuk pandangan mahasiswa terhadap berbagai perilaku sosial, termasuk konsumsi alkohol. Melalui interaksi yang intens dan berulang, perilaku konsumsi alkohol yang awalnya dianggap menyimpang dapat mengalami proses normalisasi dan diterima sebagai bagian dari kebersamaan dan solidaritas kelompok. Hal ini menjadi relevan untuk dikaji, khususnya di lingkungan Universitas Kristen Indonesia (UKI), di mana konsumsi alkohol telah hadir dalam ruang sosial mahasiswa.
Penelitian ini menggunakan kerangka teori komunikasi kelompok kecil dan Symbolic Convergence Theory. Teori ini digunakan untuk memahami dinamika interaksi antaranggota kelompok sebaya yang meliputi komunikasi, kepemimpinan, tujuan, norma, peran, kohesivitas, serta konteks situasi. Sementara itu, Symbolic Convergence Theory digunakan untuk menganalisis bagaimana makna bersama, simbol, dan cerita kolektif terbentuk melalui interaksi kelompok, sehingga menciptakan pemahaman bersama yang menormalisasi perilaku konsumsi alkohol di kalangan mahasiswa.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian adalah mahasiswa Universitas Kristen Indonesia angkatan 2020 yang tergabung dalam kelompok sebaya dan memiliki pengalaman dalam aktivitas konsumsi alkohol. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diuji melalui teknik triangulasi sumber.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi kelompok sebaya berperan signifikan dalam membentuk normalisasi konsumsi alkohol. Proses normalisasi terjadi melalui komunikasi informal yang bersifat santai, penggunaan candaan, cerita pengalaman bersama, serta tekanan sosial yang halus. Konsumsi alkohol dimaknai sebagai simbol kebersamaan, keakraban, dan solidaritas kelompok, bukan semata-mata sebagai perilaku berisiko. Norma tidak tertulis yang berkembang dalam kelompok serta tingkat kohesivitas yang tinggi memperkuat penerimaan perilaku tersebut sebagai sesuatu yang wajar dalam kehidupan sosial mahasiswa.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi kelompok sebaya menjadi mekanisme sosial penting dalam pembentukan makna dan normalisasi perilaku konsumsi alkohol di kalangan mahasiswa Universitas Kristen Indonesia. Melalui proses komunikasi yang berulang dan simbolik, kelompok sebaya membangun pemahaman kolektif yang memengaruhi sikap dan perilaku individu. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis berdasarkan kajian komunikasi kelompok serta menjadi dasar bagi pihak kampus dan pemangku kepentingan dalam merancang strategi edukatif dan preventif terkait perilaku berisiko di lingkungan perguruan tinggi.
*****
Communication constitutes a fundamental element in the construction of social life. Within peer groups, communication functions as a primary arena for the exchange of values, meanings, and behavioral orientations. Peer group communication contributes substantially to shaping students’ perceptions of various forms of social behavior, including alcohol consumption. Through intensive and recurrent interactions, alcohol consumption initially regarded as deviant, may undergo a process of normalization and become accepted as a manifestation of group cohesion and solidarity. This phenomenon warrants examination, particularly within the context of Universitas Kristen Indonesia (UKI), where alcohol consumption has emerged as part of students’ social spaces.
This study employs the theoretical frameworks of small group communication and Symbolic Convergence Theory. The former is utilized to elucidate the interactional dynamics among peer group members, encompassing communicative processes, leadership, goals, norms, roles, cohesiveness, and situational conditions. The latter is employed to analyze the formation of shared meanings, symbols, and collective narratives through group interaction, producing collective understandings that normalize alcohol consumption within the student environment.
Methodologically, this research adopts a qualitative approach with a case study design. The research subjects consist of students from the 2020 cohort of Universitas Kristen Indonesia who are embedded within peer groups and possess direct experience with alcohol-related social activities. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis followed the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing, while data credibility was ensured through source triangulation.
The findings indicate that peer group communication plays a significant role in constructing the normalization of alcohol consumption. This normalization process unfolds through informal and relaxed communicative practices, the use of humor, shared storytelling, and subtle forms of social pressure. Within this interpretive framework, alcohol consumption is understood not merely as a risky behavior, but as a symbolic marker of togetherness, intimacy, and group solidarity. The presence of unwritten norms and high levels of group cohesiveness further reinforces the acceptance of such behavior as an ordinary aspect of student social life.
The study concludes that peer group communication functions as a crucial social mechanism in the formation of meaning and the normalization of alcohol consumption among students at Universitas Kristen Indonesia. Through repetitive and symbolic communicative processes, peer groups construct collective understandings that influence individual attitudes and behavioral dispositions. The findings are expected to provide theoretical contributions to the field of small group communication and serve as a foundation for higher education institutions and relevant stakeholders in formulating educational and preventive strategies concerning risky behaviors within university environments
REPRESENTASI IKUMEN PADA TOKOH LOID FORGER DALAM ANIME SPY X FAMILY KARYA TATSUYA ENDO (KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi fenomena ikumen serta tantangan pengasuhan ayah melalui tokoh Loid Forger dalam anime Spy x Family karya Tatsuya Endo. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra dengan teori representasi konstruksionis Stuart Hall (2013). Data penelitian berupa adegan-adegan yang menampilkan partisipasi ayah dalam pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga serta tantangan yang dihadapi, yang dianalisis berdasarkan dialog, tindakan tokoh, dan unsur visual pendukung. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode simak dan catat, dengan analisis deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Loid Forger merepresentasikan fenomena ikumen melalui keterlibatan aktif dalam pengasuhan anak, seperti meluangkan waktu bersama anak, memberikan perhatian emosional, terlibat dalam aktivitas belajar dan bermain, serta mengambil cuti kerja demi kepentingan anak. Selain itu, Loid juga ditampilkan berpartisipasi dalam pekerjaan rumah tangga, seperti memasak dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Namun, representasi ikumen tersebut tidak terlepas dari tantangan struktural, seperti kurangnya dukungan dari lingkungan kerja dan tekanan sosial di ruang publik. Dengan demikian, anime Spy x Family merepresentasikan ikumen sebagai ayah yang terlibat aktif dalam keluarga, sekaligus menggambarkan hambatan sosial yang membatasi praktik pengasuhan ayah dalam masyarakat Jepang kontemporer.****This study aims to analyze the representation of the ikumen phenomenon and the challenges of fatherhood through the character Loid Forger in the anime Spy x Family by Tatsuya Endo. This research uses a literary sociology approach and applies Stuart Hall’s (2013) constructivist representation theory. The research data consist of scenes that show a father’s involvement in child care and household work, as well as the challenges he faces. The data are analyzed based on dialogue, character actions, and supporting visual elements. Data were collected using observation and note-taking methods and analyzed through descriptive-analytical analysis. The results show that Loid Forger represents the ikumen phenomenon through his active involvement in child care, such as spending time with his child, giving emotional support, taking part in learning and play activities, and taking time off work for his child. In addition, Loid is also shown participating in household tasks, such as cooking and shopping for daily needs. However, this ikumen representation is not free from structural challenges, including a lack of support from the workplace and social pressure in public spaces. Therefore, Spy x Family represents ikumen as an actively involved father while also showing the social barriers that limit fathers’ involvement in child care in contemporary Japanese society
TRANSFORMASI CARA KERJA PADA CIVIL SOCIETY ORGANIZATION (CSO): STUDI KASUS YAYASAN KALYANAMITRA
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui transformasi cara kerja yang dilakukan oleh Kalyanamitra sebagai Civil Society Organization dan faktor yang mempengaruhi perubahan cara kerja tersebut berdasarkan perspektif institusional Paul DiMaggio dan Walter Powell. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Penelitian dilakukan di kantor Yayasan Kalyanamitra yang berlokasi di Jakarta Timur. Subjek penelitian terdiri dari 7 orang, meliputi 6 pengurus Kalyanamitra sebagai informan utama dan 1 pengurus INFID sebagai triangulasi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan November 2025. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi di lokasi penelitian, dan dokumentasi. Data temuan lalu dianalisis dengan menggunakan konsep Civil Society Organization, konsep transformasi cara kerja CSO, dan konsep institusional Paul DiMaggio dan Walter Powell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kalyanamitra mengalami transformasi dalam cara kerjanya sebagai sebuah CSO. Pada masa Orde Baru, pendekatan yang diterapkan bersifat diametral dan konfrontatif terhadap negara. Namun, pada era Reformasi, pendekatan tersebut menjadi lebih terbuka dan tidak lagi terbatas pada ruang internal masyarakat sipil, termasuk membangun hubungan dengan pemerintah. Transformasi cara kerja ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti tuntutan nilai-nilai feminisme, kapasitas sumber daya manusia organisasi, refleksi dari jaringan masyarakat sipil, keterbatasan pendanaan, serta dinamika sosial-politik Indonesia. Transformasi tersebut kemudian diwujudkan melalui strategi critical engagement, yaitu pendekatan yang bertujuan memastikan isu-isu prioritas organisasi mendapat perhatian pemangku kepentingan dan terintegrasi dalam kebijakan. Perubahan ini sejalan dengan konsep institusional dari Paul DiMaggio dan Walter Powell yang menyatakan bahwa organisasi-organisasi dalam lingkungan yang sama cenderung melakukan perubahan karena berbagai tekanan sehingga menyebabkan mereka menjadi semakin serupa. Kata Kunci: Transformasi Cara Kerja, Organisasi Masyarakat Sipil, Institusional.
*****
This study aims to examine the transformation of working methods carried out by Kalyanamitra as a Civil Society Organization and the factors influencing these changes based on the institutional perspective of Paul DiMaggio and Walter Powell. This research uses a qualitative approach with a case study method. The study was conducted at the office of Kalyanamitra Foundation located in East Jakarta. The subjects of this study consisted of 7 people, including 6 Kalyanamitra administrators as primary informants and 1 INFID administrator as triangulation. This research was conducted from July to November 2025. Data collection was carried out through in-depth interviews, on-site observations, and documentation. The findings were then analyzed using the concepts of Civil Society Organization, the transformation of CSO working methods, and Paul DiMaggio and Walter Powell’s concept of institutionalization. The results of this study show that Kalyanamitra has undergone a transformation in its working methods as a CSO. During the New Order era, the approach applied was diametrically opposed and confrontational towards the state. However, in the Reformation era, this approach became more open and was no longer limited to the internal sphere of civil society, including by establishing cooperation with the government. This change was influenced by various factors, such as the demands of feminist values, the organization’s human resource capacity, reflections from civil society networks, funding constraints, and the socio-political situation in Indonesia. This transformation was then realized through a critical engagement strategy, which is an approach that aims to ensure that the organization’s priority issues receive the attention of stakeholders and are integrated into policy. This change is in line with the institutional concept of Paul DiMaggio and Walter Powell, which states that organizations in the same environment tend to undergo changes due to various pressures, causing them to become more similar
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN E-MODUL BERBASIS FLIPBOOK PADA MATERI KALDU
Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji kelayakan media pembelajaran berbasis flipbook pada materi kaldu untuk peserta didik kelas XI Kuliner. Penelitian dilaksanakan di SMKN 70 Jakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development) dengan model DDD-E (Decide, Design, Develop, Evaluate). Tahap decide meliputi analisis permasalahan peserta didik, kebutuhan media, analisis konsep, dan perumusan tujuan pembelajaran. Tahap design menghasilkan rancangan flowchart, storyboard, GBIM, dan JM sebagai acuan pembuatan produk. Tahap develop dilakukan dengan penyusunan materi, pengambilan foto, perancangan tampilan, konversi dokumen ke PDF, pembuatan flipbook melalui Heyzine yang dilengkapi QR Code dan evaluasi akhir berbasis Wayground, serta validasi oleh ahli materi, ahli media, dan ahli bahasa. Tahap evaluate mencakup uji coba peserta didik yang meliputi uji one to one, small group, dan field test. Teknik pengumpulan data menggunakan angket, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dengan persentase kelayakan. Hasil validasi ahli materi memperoleh nilai 100%, ahli media 87.1%, dan ahli bahasa 85.6% menunjukkan kategori sangat layak. Uji one-to-one memperoleh nilai 98%, uji small group 95,3%, uji field test 94,5%, dan uji respon peserta didik 96,9% seluruhnya dalam kategori sangat layak. Dengan demikian, media flipbook yang dikembangkan dinyatakan layak digunakan sebagai sumber belajar pendamping yang menarik, mudah diakses, dan mendukung pemahaman peserta didik.
Kata Kunci: pengembangan media pembelajaran, flipbook, e-modul, DDD-E, kaldu.
*****
This study aims to develop and examine the feasibility of flipbook-based learning media on broth material for Grade XI Culinary students. The research was conducted at SMKN 70 Jakarta. The research method used was Research and Development (R&D) with the DDD-E (Decide, Design, Develop, Evaluate) model. The decide stage included analysis of students’ problems, media needs, concept analysis, and formulation of learning objectives. The design stage produced flowchart designs, storyboards, GBIM, and JM as references for product development. The develop stage was carried out through material preparation, photo documentation, interface design, document conversion into PDF format, development of the flipbook using Heyzine equipped with QR codes and final evaluation using Wayground, as well as validation by subject matter experts, media experts, and language experts. The evaluate stage included student trials consisting of one-to-one testing, small group testing, and field testing. Data were collected using questionnaires, while data analysis was conducted using descriptive quantitative analysis with feasibility percentages. The results of expert validation showed that the material expert obtained a score of 100%, the media expert 87.1%, and the language expert 85.6%, indicating a very feasible category. The one-to-one test obtained a score of 98%, the small group test 95.3%, the field test 94.5%, and the student response test 96.9%, all of which were categorized as very feasible. Therefore, the developed flipbook media is declared feasible to be used as an attractive, easily accessible supplementary learning resource that supports students’ understanding
Keywords: learning media development, flipbook, e-module, DDD-E, stock