Repository Universitas Negeri Jakarta

Repository Universitas Negeri Jakarta
Not a member yet
    39193 research outputs found

    PERILAKU MENYIMPANG PEMAIN GIM DARING (STUDI KASUS: 5 PEMAIN GENSHIN IMPACT)

    Full text link
    Perkembangan gim daring dalam budaya digital menjadikan aktivitas bermain tidak lagi sekadar hiburan, melainkan juga ruang sosial yang membentuk pola interaksi dan perilaku pemain. Genshin Impact sebagai salah satu gim daring populer menghadirkan berbagai mekanisme seperti sistem gacha, misi harian, dan event terbatas waktu yang mendorong keterlibatan pemain secara berkelanjutan. Intensitas bermain yang tinggi, ditambah dengan sistem permainan yang bersifat mengikat serta interaksi yang intens dalam komunitas gim daring, berpotensi mendorong munculnya perilaku menyimpang. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perilaku menyimpang pemain Genshin Impact dan peran komunitas gim daring dalam pembentukannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Penelitian melibatkan lima pemain aktif Genshin Impact yang tergabung dalam komunitas Genshin Impact Indonesia Official. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, studi pustaka, dan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi tahap reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Teori asosiasi diferensial digunakan sebagai kerangka analisis untuk memahami proses pembelajaran sosial dalam terbentuknya perilaku menyimpang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan intens dalam gim Genshin Impact memunculkan berbagai bentuk perilaku menyimpang, seperti menunda kewajiban akademik dan pekerjaan, meningkatnya pengeluaran finansial, serta munculnya tekanan sosial dalam komunitas gim daring. Selain itu, komunitas gim daring berperan sebagai ruang pembelajaran sosial yang secara tidak langsung menormalisasi perilaku tersebut melalui interaksi yang intens, praktik pembandingan sosial, serta pembenaran kolektif di antara sesama pemain. Dalam perspektif teori asosiasi diferensial, perilaku menyimpang tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan dipelajari dan diperkuat melalui proses komunikasi dan hubungan sosial yang berlangsung secara berulang dalam komunitas pemain. ***** The development of online games within digital culture has transformed gaming activities from merely a form of entertainment into a social space that shapes players’ patterns of interaction and behavior. As one of the most popular online games, Genshin Impact features various mechanisms such as a gacha system, daily missions, and time-limited events that encourage continuous player engagement. High gaming intensity, combined with binding game systems and intensive interactions within online gaming communities, has the potential to encourage the emergence of deviant behavior. Therefore, this study aims to examine deviant behavior among Genshin Impact players and the role of online gaming communities in its formation. This study employs a qualitative approach using a case study method. The research involves five active Genshin Impact players who are members of the Genshin Impact Indonesia Official community. Informants were selected using purposive sampling. Data were collected through observation, in-depth interviews, literature review, and documentation. The collected data were then analyzed using Miles and Huberman’s interactive analysis model, which consists of data reduction, data display, and conclusion drawing. Differential association theory was used as the analytical framework to understand the process of social learning in the formation of deviant behavior. The findings indicate that intensive involvement in Genshin Impact gives rise to various forms of deviant behavior, such as postponing academic and work responsibilities, increased financial expenditure, and the emergence of social pressure within online gaming communities. Furthermore, online gaming communities function as spaces of social learning that indirectly normalize such behaviors through intensive interactions, practices of social comparison, and collective justifications among players. From the perspective of differential association theory, deviant behavior does not emerge suddenly; rather, it is learned and reinforced through repeated processes of communication and social relationships within player communities

    HUBUNGAN KEPERCAYAAN DIRI DENGAN SIKAP TANGGUNG JAWAB PESERTA DIDIK KELAS IV SEKOLAH DASAR DI KELURAHAN CIPINANG CEMPEDAK

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepercayaan diri dengan sikap tanggung jawab peserta didik kelas IV sekolah dasar di Kelurahan Cipinang Cempedak. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian korelasional antara variabel X (kepercayaan diri) dengan variabel Y (sikap tanggung jawab). Sampel penelitian ini adalah peserta didik kelas IV sekolah dasar sebanyak 168 responden. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner dengan 18 pernyataan untuk variabel X dan 20 pernyataan untuk variabel Y. Hasil analisis regresi sederhana menunjukkan persamaan Ŷ = 19,477 + 0,818X. Hasil uji korelasi menunjukkan nilai Pearson Correlation (rxy) sebesar 0,765 dengan signifikansi 0,000 < 0,05, yang berarti terdapat hubungan positif antara kepercayaan diri dengan sikap tanggung jawab peserta didik kelas IV sekolah dasar di Kelurahan Cipinang Cempedak, kekuatan hubungan ini termasuk dalam kategori kuat. Hasil uj-t memperoleh nilai thitung sebesar 15,305, dengan nilai ttabel sebesar 1,974. Kontribusi kepercayaan diri terhadap sikap tanggung jawab dalam uji determinasi sebesar 58,5% sedangkan sisanya sebesar 41,5% dipengaruhi oleh faktor lain. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara kepercayaan diri dan sikap tanggung jawab peserta didik kelas IV sekolah dasar di Kelurahan Cipinang Cempedak. Kata kunci: Kepercayaan Diri; Sikap Tanggung Jawab; Sekolah Dasar. ***** This study aims to determine the relationship between self-confidence and the responsibility attitudes of fourth-grade elementary school students in Kelurahan Cipinang Cempedak. The research method used is quantitative with a correlational research design between variable X (self-confidence) and variable Y (sense of responsibility). The sample for this study consisted of 168 fourth-grade elementary school students. The instrument used was a questionnaire with 18 statements for variable X and 20 statements for variable Y. The results of the simple regression analysis indicate the equation Ŷ = 19.477 + 0.818X. The correlation test results showed a Pearson Correlation value of (rxy) of 0.765 with a significance of 0.000 < 0.05, which means that there is a positive relationship between self-confidence and the responsibility attitudes of fourth-grade elementary school students in Kelurahan Cipinang Cempedak. The t-test results showed a t-count value of 15.305, while the t-table value of 1.974. The coefficient of determination revealed that self-confidence contributed 58.5% to responsibility attitudes, while the remaining 41.5% was influenced by other factors. Based on the results of the study, it can be concluded that there is a positive and significant relationship between self-confidence and the responsibility attitudes of fourth-grade elementary school students in Kelurahan Cipinang Cempedak. Keywords: Self-confidence; Responsible Attitude; Elementary School

    PRE-SERVICE TEACHERS' DIGITAL LITERACY COMPETENCES PERCEPTIONS: EVIDENCE FROM THE UNESCO DIGITAL LITERACY GLOBAL FRAMEWORK

    Full text link
    Rapid digitalization in education highlights the importance of examining pre-service teachers’ perceptions of digital literacy, as these perceptions shape their readiness to integrate technology effectively in future classrooms. This study explores pre-service English teachers’ perceptions of their digital literacy competences using the five domains of the UNESCO Digital Literacy Global Framework (DLGF): information and data literacy, communication and collaboration, digital content creation, safety, and problem solving. Given the limited Indonesian research applying the DLGF in teacher education, this study employs a mixed-methods design to capture both quantifiable competency levels and in-depth contextual insights. Data were collected through a structured online questionnaire administered to 53 pre-service English teachers who had completed microteaching and school-based teaching practicums. Quantitative data from 30 Likert-scale items were analysed descriptively, while qualitative data from open-ended responses were examined through thematic analysis. The findings indicate that participants perceived themselves as moderately to highly competent across all domains, with the strongest competencies in information and data literacy (M = 3.36) and communication and collaboration (M = 3.27). In EFL contexts, these strengths reflect frequent engagement with digital learning resources, online communication, and collaborative platforms for lesson planning and instructional interaction. However, lower perceived competence was found in digital content creation ethics, cybersecurity awareness, and self-directed digital professional development, suggesting gaps in skills essential for responsible and sustainable technology use in English language teaching. These results emphasize the need for teacher education programs to integrate structured and practice-oriented digital literacy training to prepare ethical, reflective, and digitally competent EFL educators. ******* Pesatnya digitalisasi dalam pendidikan menegaskan pentingnya mengkaji persepsi guru prajabatan terhadap literasi digital, karena persepsi tersebut memengaruhi kesiapan mereka dalam mengintegrasikan teknologi secara efektif di kelas masa depan. Penelitian ini mengeksplorasi persepsi guru prajabatan Bahasa Inggris terhadap kompetensi literasi digital mereka berdasarkan lima domain UNESCO Digital Literacy Global Framework (DLGF), yaitu literasi informasi dan data, komunikasi dan kolaborasi, pembuatan konten digital, keamanan, dan pemecahan masalah. Mengingat masih terbatasnya penelitian di Indonesia yang menerapkan DLGF dalam pendidikan guru, studi ini menggunakan desain metode campuran untuk memperoleh gambaran kuantitatif sekaligus pemahaman kontekstual yang lebih mendalam. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring terstruktur yang diberikan kepada 53 guru prajabatan Bahasa Inggris yang telah menyelesaikan mata kuliah microteaching dan praktik mengajar di sekolah. Data kuantitatif dari 30 butir skala Likert dianalisis secara deskriptif, sedangkan data kualitatif dari pertanyaan terbuka dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta menilai diri mereka memiliki kompetensi sedang hingga tinggi pada seluruh domain, dengan skor tertinggi pada literasi informasi dan data (M = 3,36) serta komunikasi dan kolaborasi (M = 3,27). Dalam konteks pembelajaran EFL, temuan ini mencerminkan tingginya keterlibatan peserta dalam penggunaan sumber belajar digital, komunikasi daring, dan platform kolaboratif untuk perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Namun, persepsi kompetensi yang lebih rendah ditemukan pada etika pembuatan konten digital, kesadaran keamanan siber, dan pengembangan profesional digital secara mandiri. Temuan ini menegaskan perlunya program pendidikan guru mengintegrasikan pengembangan literasi digital yang terstruktur dan berbasis praktik untuk menyiapkan pendidik EFL yang etis, reflektif, dan kompeten secara digital

    PERUBAHAN PRAKTIK TRADISI SESAJEN SEBAGAI KEPERCAYAAN MASYARAKAT (Studi Kasus: Desa Kajen, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah)

    Full text link
    Penelitian ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana perubahan praktik tradisi sesajen berlangsung di Desa Kajen. Kedua, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perubahan praktik tradisi sesajen, baik yang berasal dari internal masyarakat maupun dari faktor eksternal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data pada penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan studi literatur. Subjek penelitian ini terdiri dari 8 informan kunci dan 2 informan triangulasi. Informan kunci mencakup 1 Kepala Desa Kajen, 2 Tokoh Agama, 2 Tokoh Masyarakat, dan 3 Anak Muda di Desa Kajen. Sementara itu, informan triangulasi terdiri dari 2 orang warga Desa Kajen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik tradisi sesajen di Desa Kajen mengalami perubahan bentuk, makna, dan cara pelaksanaan. Awalnya, tradisi ini merupakan warisan leluhur yang berfokus pada kepercayaan mistis, namun kini telah bertransformasi menjadi bentuk penghormatan dan ekspresi syukur kepada Tuhan. Pergeseran ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk meninggalnya tokoh adat dan perubahan pola pikir masyarakat seiring dengan perkembangan zaman. Selain itu, masuknya pengaruh ajaran Islam dalam bentuk pemahaman nilai tauhid yang mendorong penyesuaian simbol dan makna ritual. Dalam konteks ini, tokoh agama tidak melarang praktik sesajen, melainkan membiarkannya tetap dijalankan selama dimaknai sebagai simbol budaya dan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Penyesuaian tersebut tampak pada penggantian mantra-mantra tradisional dengan doa-doa Islam, serta perubahan pemaknaan sesajen dari persembahan kepada makhluk gaib menjadi bagian dari tradisi sosial budaya masyarakat. Modernisasi turut mempengaruhi sikap generasi muda, yang menjadi lebih kritis dan rasional terhadap pelaksanaan tradisi. Perubahan ini menegaskan bahwa tradisi bukanlah entitas yang statis, melainkan sesuatu yang terus beradaptasi dan bertransformasi sesuai dengan konteks sosial dan keagamaan. Hal ini sejalan dengan pandangan Edwards Shils mengenai dinamika tradisi dan kemampuannya untuk bertahan melalui reinterpretasi makna. ***** This study has two main objectives. First, this study aims to examine how changes in the tradition of offering rituals have taken place in Kajen Village. Second, this study aims to identify the factors that influence changes in the tradition of offering rituals, both those originating from within the community and from external factors. This study uses a qualitative approach with a case study method. The data in this study were obtained through observation, interviews, documentation, and literature study. The subjects of this study consisted of eight key informants and two triangulation informants. The key informants included one Kajen Village Head, two religious leaders, two community leaders, and three young people in Kajen Village. Meanwhile, the triangulation informants consisted of two Kajen Village residents. The results of the study show that the practice of traditional offerings in Kajen Village has undergone changes in form, meaning, and implementation. Initially, this tradition was an ancestral heritage that focused on mystical beliefs, but now it has transformed into a form of respect and expression of gratitude to God. This shift was triggered by several factors, including the death of traditional leaders and changes in the community's mindset in line with the times. In addition, the influence of Islamic teachings in the form of an understanding of the value of monotheism has encouraged adjustments to the symbols and meanings of the ritual. In this context, religious leaders do not prohibit the practice of offerings, but allow it to continue as long as it is interpreted as a cultural symbol and an expression of gratitude to God. This adjustment is evident in the replacement of traditional mantras with Islamic prayers, as well as the change in the meaning of offerings from offerings to supernatural beings to part of the socio-cultural traditions of the community. Modernization has also influenced the attitudes of the younger generation, who have become more critical and rational towards the implementation of traditions. This change confirms that tradition is not a static entity, but something that continues to adapt and transform in accordance with the social and religious context. This is in line with Edwards Shils' view of the dynamics of tradition and its ability to survive through reinterpretation of meaning

    ANALISIS PERILAKU PRO-LINGKUNGAN MASYARAKAT DALAM MENGHADAPI BAHAYA BANJIR DI KELURAHAN CILILITAN, KECAMATAN KRAMAT JATI, JAKARTA TIMUR

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana perilaku pro-lingkungan masyarakat pada wilayah dengan bahaya banjir di Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Masalah yang melatarbelakangi penelitian ini yakni belum diketahuinya gambaran perilaku pro-lingkungan masyarakat dalam menghadapi bahaya banjir di Kelurahan Cililitan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan teknik analisis deskriptif. Aspek perilaku pro-lingkungan yang dianalisis adalah aspek yang berkaitan dengan banjir, yakni aspek menghindari limbah, aspek daur ulang, dan aspek perilaku konservasi. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner di tiga RW yang memiliki tingkat bahaya banjir sedang hingga tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku masyarakat pada aspek menghindari limbah (avoiding waste) di wilayah bahaya sedang dan tinggi memiliki kategori tinggi. Kemudian pada aspek daur ulang (recycle) juga dengan kategori tinggi di kedua wilayah. Serta pada aspek perilaku konservasi (conservation) dengan kategori tinggi pula di kedua wilayah tingkat bahaya. Secara keseluruhan, perilaku pro-lingkungan masyarakat di kedua wilayah termasuk ke dalam kategori tinggi, yang menandakan bahwa perilaku pro-lingkungan masyarakat dalam menghadapi bahaya banjir di Kelurahan Cililitan sudah baik. ***** This study aims to analyze community pro-environmental behavior in areas exposed to flood hazards in Cililitan Subdistrict, Kramat Jati District, East Jakarta. The problem underlying this research is the lack of information regarding the characteristics of community pro-environmental behavior in facing flood hazards in Cililitan Subdistrict. The method used in this study is quantitative, employing descriptive analysis techniques. The aspects of pro-environmental behavior analyzed in this study are those related to flooding, namely avoiding waste, recycling, and conservation behavior. Data were collected through the distribution of questionnaires in three neighborhood units (RW) that have moderate to high levels of flood hazard. The results show that community behavior in the avoiding waste aspect in both moderate- and high-hazard areas falls into the high category. Furthermore, the recycling aspect is also categorized as high in both areas. Likewise, conservation behavior is also classified as high in both levels of flood hazard. Overall, community pro-environmental behavior in both areas is included in the high category, indicating that community pro-environmental behavior in facing flood hazards in Cililitan Subdistrict is already good

    ESTETIKA SEPATU WANITA DENGAN EKSPLORASI PAYET

    Full text link
    Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penilaian estetika produk sepatu wanita dengan eksplorasi payet dari botol plastik dengan menggunakan teknik thermoforming sehingga terciptanya sepatu wanita dengan hiasan payet dari botol plastik berdasarkan penilaian estetika dengan mengambil aspek wujud/rupa, bobot/isi, dan penampilan/penyajian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen pre-eksperimental design one shoot case study dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrumen angket terbuka dan tertutup yang diberikan kepada lima penelis ahli untuk menilai, dengan variable tunggal yaitu penilaian estetika produk sepatu wanita dengan eksplorasi payet dari botol plastik. Penilaian diukur menggunakan instrumen penilaian dengan perhitingan rating scale. Hasil penelitian menunjukan bahwa seluruh aspek berada pada kategori sangat baik. Aspek penampilan atau penyajian memperoleh nilai tertinggi dengan persentase 90,80% dengan kategori sangat baik. Hal tersebut mengartikan bahwa penilaian estetika produk telah memenuhi aspek penampilan atau penyajian dengan sangat baik. Sedangkan aspek terendah diperoleh aspek wujud atau rupa dengan persentase 88,94%. Mengacu pada lima produk yang dinilai, Desain 1 produk terbaik meraih skor persentase 92% karena telah memenuhi kriteria penilaian pada semua aspek estetika dengan sangat baik. Sebaliknnya, produk terendah mendapatkan skor persentase 86,58% dengan kategori sangat baik dan sudah menerapkan seluruh aspek estetika ke dalam produk. ***** This study was conducted to determine the aesthetic assessment of women's shoes with sequin embellishments made from plastic bottles using thermoforming techniques, thereby creating women's shoes with sequin embellishments from plastic bottles based on aesthetic assessment, taking into account aspects of form/appearance, weight/content, and presentation/display. The research method used was a pre-experimental design one-shot case study with a quantitative approach. The data collection technique in this study used open and closed questionnaires given to five expert reviewers to assess a single variable, namely the aesthetic assessment of women's shoes with sequins made from plastic bottles. The assessment was measured using an assessment instrument with a rating scale calculation. The results showed that all aspects were in the excellent category. The appearance or presentation aspect received the highest score with a percentage of 90.80% in the excellent category. This means that the aesthetic assessment of the product has fulfilled the appearance or presentation aspect very well. Meanwhile, the lowest aspect was form or shape with a percentage of 88.94%. Referring to the five products assessed, Design 1 was the best product, achieving a score of 92% because it met the assessment criteria in all aesthetic aspects very well. In contrast, the lowest-scoring product received a score of 86.58%, which is considered excellent, and has incorporated all aspects of aesthetics into the product

    ANALISIS KONSUMSI ENERGI LISTRIK DAN PELUANG PENGHEMATAN ENERGI PADA BANGUNAN KESEHATAN GEDUNG X RUMAH SAKIT Y DAERAH PULOMAS

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat efisiensi penggunaan energi listrik serta mengidentifikasi potensi penghematan energi pada Gedung X Rumah Sakit Y Daerah Pulomas. Proses audit energi dilakukan melalui perhitungan Intensitas Konsumsi Energi (IKE) yang mencakup tiga komponen utama, yaitu sistem pencahayaan, sistem tata udara (air conditioning), serta peralatan elektronik pendukung seperti televisi dan kulkas. Metode penelitian menggunakan pendekatan audit energi awal dengan tahapan meliputi pengumpulan data konsumsi energi, pengukuran langsung di lapangan, perhitungan total beban listrik, serta analisis peluang hemat energi (PHE) mengacu pada standar SNI 03-6196-2000. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh nilai IKE awal sebesar 276,4 kWh/m²/tahun dengan total konsumsi energi mencapai 1.967.156,5 kWh/tahun. Setelah penerapan langkah-langkah konservasi energi berupa perhitungan teoritis penggantian lampu konvensional dengan lampu LED hemat energi, optimalisasi sistem tata udara melalui pengurangan beban pendinginan dan penyesuaian set point AC pada ruangan yang memiliki temperatur aktual di bawah standar kenyamanan termal, serta penggunaan peralatan elektronik berdaya rendah, nilai IKE menurun menjadi 215 kWh/m²/tahun. Penurunan tersebut menunjukkan adanya potensi penghematan energi yang signifikan tanpa mengurangi kenyamanan maupun fungsi operasional rumah sakit. Kata Kunci: Audit Energi, Intensitas Konsumsi Energi (IKE), Peluang Hemat Energi (PHE), Efisiensi Energi, Rumah Sakit. This study aims to evaluate the level of efficiency of electrical energy use and identify potential energy savings in Building X of Y Hospital in Pulomas District. The energy audit process is carried out through the calculation of Energy Consumption Intensity (IKE) which includes three main components, namely the lighting system, air conditioning system, and supporting electronic equipment such as televisions and refrigerators. The research method uses an initial energy audit approach with stages including collecting energy consumption data, direct measurements in the field, calculating the total electrical load, and analyzing energy saving opportunities (PHE) referring to the SNI 03-6196-2000 standard. Based on the analysis results, the initial IKE value was obtained at 276.4 kWh/m²/year with a total energy consumption of 1,967,156.5 kWh/year. After implementing energy conservation measures in the form of theoretical calculations for replacing conventional lamps with energy-saving LED lamps, optimizing the air conditioning system by reducing the cooling load and adjusting the AC set point in rooms with actual temperatures below the thermal comfort standard, and using low-power electronic equipment, the IKE value decreased to 215 kWh/m²/year. This reduction indicates the potential for significant energy savings without compromising the comfort or operational function of the hospital. Keywords: Energy Audit, Energy Consumption Intensity (IKE), Energy Saving Opportunities (PHE), Energy Efficiency, Hospitals

    PENERAPAN BATIK AMBARAWA PADA BUSANA READY TO WEAR

    No full text
    Nur Hanifah Rohmah, Dra. Vivi Radiona SP, M.Pd., Penerapan Batik Ambarawa Pada Busana Ready To Wear. Program Studi Desain Mode, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta, 2026. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data penilaian estetika terhadap lima produk penerapan batik Ambarawa pada busana ready to wear. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu kuantitatif deskriptif dengan pendekatan pre-experimental design, one shot case study. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen angket yang terdiri dari 18 pernyataan dengan skala pengukuran rating scale yang diberikan kepada 5 panelis ahli di bidangnya. Penilaian yang dilakukan menggunakan teori estetika menurut Monroe Beardsley (1981) dengan indikator kesatuan (unity), kerumitan (complexity) dan kesungguhan (intensity) menggunakan subindikator unsur dan prinsip desain. Penilaian diukur menggunakan data interval (rating scale), penelitian ini menggunakan teknik analisis data statistik deskriptif.  Hasil penelitian pada indikator kesatuan (unity) mendapatkan nilai persentase 82,48% yang mengindikasikan bahwa penerapan garis, warna, tekstur, dan harmoni telah terpadu dengan sangat baik dalam penerapannya pada busana ready to wear menggunakan batik Ambarawa. Pada indikator kerumitan (complexity) meraih nilai dengan persentase 76,40%. Hal ini mengindikasikan bahwa bentuk, ukuran dan irama dalam penerapan busana ready to wear menggunakan batik Ambarawa sudah baik. Sedangkan indikator kesungguhan (intensity) mendapatkan nilai dengan presentase 82,08% yang menegaskan kekuatan karakter dan ekspresi pesan dalam koleksi ini. Secara keseluruhan, penilaian estetika terhadap busana ready to wear batik Ambarawa memperoleh skor total 1.823 dengan persentase rata-rata 81,02%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa seluruh produk termasuk dalam kategori baik dan berhasil mengintegrasikan nilai wastra tradisional ke dalam busana kontemporer yang relevan bagi pasar modern. Kata kunci : Estetika, Batik Ambarawa, Ready to Wear  ******* Nur Hanifah Rohmah, Dra. Vivi Radiona SP, M.Pd., The Application of Ambarawa Batik on Ready To Wear Clothing. Fashion Design Study Program, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Jakarta, 2026.  This study aims to obtain aesthetic assessment data on five products featuring the application of Ambarawa Batik in ready to wear clothing. The research method employed is quantitative with a pre-experimental design approach, specifically a one-shot case study. Data collection was conducted using a questionnaire instrument consiting of 18 statements with a rating scale, administered to five expert panelists in the field. The assessment was based on Monroe Beardsley’s (1981) aesthetic theory, focusing on three indicators : unity, complexity, intensity,utilizing sub-indicators derived from design elements and principles. The assessment was measured using interval data (rating scale) and analyzed through descriptive statistical analysis techniques.       The research results indicate that the unity indicator achieved a percentage of 82,48%, signifying that the application of lines, colors, textures, and harmony has been integrated very well into the ready-to-wear clothing using Ambarawa Batik. The complexity indicator reached a percentage of 76,4%, indicating that the shape, size, and rhythm in the application of Ambarawa Batik on ready-to-wear clothing are well-executed. Meanwhile, the intensity indicator obtained a percentage of 82.08%, confirming the strength of character and message expression within this collection. Overall, the aesthetic assessment of the Ambarawa Batik ready-to-wear collection earned a total score of 1.823 with an average percentage of 81,02%. These results demonstrate that all products are categorized as “Good” and have successfully integrated traditional wastra values into contemporary fashion relevant to the modern market.   Keywords : Aesthetics, Ambarawa Batik, Ready to Wea

    PENGARUH HUSTLE CULTURE TERHADAP PRESTASI AKADEMIK MAHASISWA PEKERJA PART-TIME FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUKUM UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Hustle culture Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa Pekerja Part-Time Fakultas Ilmu Sosial dan HukumUniversitas Negeri Jakarta. Urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya memahami dampak hustle culture secara objektif, baik positif maupun negatif, terhadap keberhasilan akademik mahasiswa. Metode penelitian yang digunakanadalah kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Teknik pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling dengan teknik total sampling, sehinggaseluruh populasi mahasiswa pekerja part-time yang berjumlah 61 orang dijadikan sampel penelitian. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert dan dianalisis menggunakan uji asumsi klasik serta uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data berdistribusi normal dan hubungan antara variabel bersifat linear. Berdasarkan hasil penelitian menghasilkan nilai Sig. sebesar 0,000 menunjukkan pengaruh yang signifikan antara hustle culture dan prestasi akademik. Pada uji koefisien determinasi R square sebesar 0,591 menunjukkan bahwa hustle culture memberikan kontribusi sebesar 59,1% terhadap prestasi akademik, sementarasisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa hustle culture, apabila dikelola secara positif melalui motivasi, pengelolaan kognitif, kestabilan emosional, dan perilaku kerja yang terarah, dapat memberikan dampak positif terhadap prestasi akademik mahasiswa pekerja part-time. ***** This study aims to examine the effect of hustle culture on the academic achievement of part-time working students at the Faculty of Social Sciences and Law, Universitas Negeri Jakarta. The urgency of this research lies in the importance of understanding the impact of hustle culture objectively, both positive and negative, on students’ academic success. The research method employed is quantitative with a correlational approach.The sampling technique used is non-probability sampling with a total sampling technique, in which the entire population of 61 part-time working students was included as the research sample. Data were collected through a Likert-scale questionnaire and analyzed using classical assumption tests and hypothesis testing. The results indicate that the data are normally distributed and that the relationship between variables is linear. Based on the findings, the Sig. value of 0.000 indicates a significant effect of hustle culture on academic achievement. The coefficient of determination test shows an R-square value of 0.591, indicating that hustle culture contributes 59.1% to academic achievement, while the remaining percentage is influenced by other factors outside this study. Based on these results, it can be concluded that hustle culture, when managed positively through motivation, cognitive regulation, emotional stability, and well-directed work behavior, can have a positive impact on the academic achievement of part-time working students

    PENGARUH KESADARAN LINGKUNGAN TERHADAP PERILAKU PENANGGULANGAN SAMPAH PLASTIK DI LINGKUNGAN SMP NEGERI 2 JAKARTA

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kesadaran lingkungan terhadap perilaku penanggulangan sampah plastik di lingkungan SMP Negeri 2 Jakarta pada peserta didik kelas VIII. Penelitian dilakukan menggunakan metode kuantitatif dengan desain survei. Sampel penelitian diambil dengan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 167 peserta didik kelas VIII SMP Negeri 2 Jakarta. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dan positif antara variabel kesadaran lingkungan terhadap perilaku penanggulangan sampah plastik, semakin tinggi kesadaran lingkungan maka akan semakin tinggi juga perilaku penanggulangan sampah. Besar pengaruh kesadaran lingkungan terhadap perilaku penanggulangan sampah plastik adalah sebesar 39,4%, sedangkan sisanya sebesar 60,6% dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian ini. ***** This research aims to determine the influence of environmental awareness on plastic waste management behavior in the environment of SMP Negeri 2 Jakarta among eighth-grade students. The research was conducted using a quantitative method with a survey design. The research sample was taken using a purposive sampling technique with a total of 167 eighth-grade students from SMP Negeri 2 Jakarta. The results of this study indicate that there is a significant and positive influence between the environmental awareness variable and plastic waste avoidance behavior; the higher the environmental awareness, the higher the plastic waste management behavior. The influence of environmental awareness on plastic waste management behavior is 39.4%, while the remaining 60.6% is influenced by other variables outside this study

    34,004

    full texts

    39,193

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Repository Universitas Negeri Jakarta is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇