39193 research outputs found
Sort by
STRATEGI KOMUNIKASI APARATUR DESA GUBUGAN CIBEUREUM LEBAK BANTEN DALAM MEMBANGUN KESADARAN MASYARAKAT BEROLAHRAGA DAN HIDUP SEHAT
Penelitian ini menganalisis strategi komunikasi aparatur Desa Gubugan Cibeureum dalam membangun kesadaran olahraga dan hidup sehat masyarakat. Studi ini dilatarbelakangi oleh rendahnya partisipasi olahraga akibat miskonsepsi warga bahwa aktivitas bertani sudah cukup menggantikan olahraga rekreasional. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan kerangka analisis Model Lasswell dan Health Belief Model (HBM), data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aparatur desa bersama kader kesehatan menerapkan strategi komunikasi hibrida—menggabungkan media digital dengan pendekatan interpersonal tatap muka. Strategi ini berhasil meningkatkan kesadaran warga pada ranah kognitif (pemahaman) dan afektif (sikap), di mana warga mulai memahami perbedaan antara kerja fisik dan olahraga terukur. Namun, pada ranah konatif (tindakan), perubahan perilaku terhambat oleh kendala infrastruktur (perceived barriers), seperti kondisi gedung Posyandu yang tidak terawat dan ketiadaan sarana olahraga di desa. Kesimpulannya, strategi komunikasi aparatur desa telah efektif membangun kesadaran kesehatan, tetapi keberlanjutannya sangat bergantung pada perbaikan sarana dan prasarana fisik desa. Pemerintah desa disarankan untuk menyelaraskan pesan kesehatan dengan penyediaan fasilitas pendukung yang memadai.
Kata Kunci: Strategi Komunikasi, Aparatur Desa, Kesadaran Berolahraga dan Hidup Sehat
*****
This study analyzes the communication strategies employed by the village apparatus of Gubugan Cibeureum in building community awareness regarding sports and healthy living. The research is motivated by low sports participation resulting from a common misconception among residents that farming activities are a sufficient substitute for recreational exercise. Utilizing a descriptive qualitative method with the analytical frameworks of the Lasswell Model and the Health Belief Model (HBM), data were collected through interviews, observations, and documentation. The results indicate that the village apparatus, in collaboration with health cadres, implemented a hybrid communication strategy—combining digital media with face-to-face interpersonal approaches. This strategy successfully increased community awareness within the cognitive (understanding) and affective (attitude) domains, as residents began to differentiate between physical labor and structured exercise. However, in the conative (action) domain, behavioral change remains hindered by infrastructure constraints (perceived barriers), such as the neglected state of the Posyandu (Integrated Healthcare Center) building and the absence of sports facilities within the village. In conclusion, while the communication strategy of the village apparatus has been effective in fostering health awareness, its long-term sustainability is highly dependent on the improvement of the village's physical infrastructure and facilities. It is recommended that the village government align health messaging with the provision of adequate supporting facilities.
Keywords: Communication Strategy, Village Apparatus, Sports Awareness and Healthy Life
PERBANDINGAN LATIHAN DRILLING DAN STROKES BERPASANGAN TERHADAP KETEPATAN PUKULAN DROPSHOOT ATLET PB SENA JAKARTA SELATAN
Tujuan dari penelitian ini adalah, 1) mengetahui peningkatan dropshot setelah diberikan latihan drilling, 2) mengetahui peningkatan dropshot setelah diberikan latihan Strokes Berpasangan, 3) mengetahui perbedaan peningkatan akurasi setelah diberikan latihan drilling dan Strokes Berpasangan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif komparatif, yaitu membandingkan kedua latihan yang berbeda dan sampel 20 atlet dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data ini menggunakan instrumen tes pukulan dropshot forehand sebanyak 10 kali. Setelah diberikan latihan 16 kali pertemuan selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan uji-t paired dan uji-t independent. Hasil penelitian, 1) kelompok latihan drilling diperoleh 1 thitung 6,5 > ttabel 2,262 berdasarkan (df)= 9 taraf signifikan 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima, dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan setelah diberikan latihan drilling, 2) kelompok latihan strokes berpasangan diperoleh thitung 7 > ttabel 2,262 berdasarkan (df)= 9 taraf signifikan 0,05 H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan terdapat peningkatan ketepatan pukulan dropshot setelah diberikan latihan strokes berpasangan. 3) Tes akhir latihan drilling dan strokes berpasangan diperoleh thitung 0,8421 < ttabel 2,101 berdasarkan (df)= 18 taraf signifikan 0,05 maka Ho diterima dan H1 ditolak dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang (signifikan) dari latihan drilling dan strokes berpasangan. Namun, berdasarkan rata-rata tes akhir drilling 17,9 dengan strokes berpasangan 19,5 terdapat perbedaan bahwa rata-rata strokes berpasangan lebih baik terhadap peningkatan ketepatan pukulan dropshot atlet PB Sena Jakarta Selatan.
*****
The aim of this study was to: 1) determine the improvement in dropshot after drilling
exercises, 2) determine the improvement in dropshot after paired strokes exercises, and 3)
identify the difference in accuracy improvement between drilling exercises and paired
strokes exercises. The research employed a quantitative comparative method, comparing
the two different exercises on a sample of 20 athletes selected via purposive sampling, with
data collected using a forehand dropshot strike test performed 10 times; following 16
training sessions, the data were analyzed with paired t-tests and independent t-tests. Results
indicated that: 1) the drilling group achieved tcount = 6.5 > ttable = 2.262 (df=9, α=0.05),
rejecting H0 and accepting H1, signifying significant improvement; 2) the paired strokes
group achieved tcount = 7 > ttable = 2.262 (df=9, α=0.05), rejecting H0 and accepting
H1, confirming significant improvement in dropshot accuracy; and 3) the final test
comparison showed tcount = 0.8421 < ttable = 2.101 (df=18, α=0.05), accepting H0 and
rejecting H1, indicating no significant difference between the exercises, although the paired
strokes group had a higher final average score (19.5) compared to drilling (17.9),
suggesting greater effectiveness for enhancing forehand dropshot accuracy among PB
Sena athletes in South Jakarta
PENGEMBANGAN ALAT BANTU STARTTULI (START SPRINT FOR DEAF ATHLETES) CABANG OLAHRAGA ATLETIK
Keterbatasan pendengaran pada atlet tunarungu menyebabkan keterlambatan saat melakukan start lari jarak pendek. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan alat bantu start visual guna menggantikan aba-aba suara (bersedia, siap, ya) dan penggunaan bendera manual. Dibuat karena belum ada model pengembangan gabungan getaran dan lampu yang melibatkan tunarungu. Sehingga pada akhirnya dihasilkan Starttuli sebagai alat bantu start jongkok. Populasi: siswa SLB dan atlet pemula maupun tunarungu NPC. Subjek penelitian terdiri dari enam siswa SLB, 16 atlet pemula pelajar tunarungu dan tidak tunarungu dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Dengan teknik observasi, bahasa isyarat, tes dan dokumentasi. Analisis secara deskriptif, analisis statistik deskriptif dan kuantitatif untuk analisis data awal. Berpedoman pada langkah pengembangan Sugiyono (2020) yang disederhanakan. Melalui tahapan revisi ditemukan faktor pendukung, faktor penghambat, kekuatan dan kelemahan. Starttuli final telah melalui uji validasi berdasar Tujuh Prinsip Desain Universal. Uji coba Kecil: mengalami peningkatan 33,4%. Uji coba besar dengan produk final: hasilnya mengalami peningkatan 25%. Empat sampel pemula pelajar tunarungu melaporkan bahwa akurasi awal berubah setelah pelatihan. Hasil penelitian menunjukan bahwa alat Starttuli dinyatakan sangat layak oleh tiga validator dengan persentase 100% , serta efektif meningkatkan ketepatan start. Setelah melalui proses revisi berdasar analisis kebutuhan dan uji coba, produk Starttuli final layak digunakan. Uji coba skala besar menunjukkan atlet mampu start tepat (hasil posttest lebih besar daripada pretest) dengan desain before after. Penelitian ini konsisten dengan penelitian terdahulu bahwa disabilitas memerlukan alat bantu olahraga dan praktik teknis dalam start lari.
Kata kunci: Alat Bantu Starttuli, Atlet Tunarungu, Atletik, Starter Getaran, R&D.
*****
Hearing impairment in deaf athletes causes delays when starting short-distance
races. This study aims to develop a visual starting aid to replace verbal commands
(on your marks, get set, go) and the use of manual flags. It was created because there
was no existing model combining vibration and lights that involved deaf people. This
ultimately resulted in Starttuli, a squat starting aid. Population: SLB students and
beginner athletes, both deaf and non-deaf NPC athletes. The research subjects
consisted of six SLB students, 16 beginner deaf and non-deaf student athletes
selected using purposive sampling. The techniques used were observation, sign
language, tests, and documentation. Descriptive analysis, descriptive statistical
analysis, and quantitative analysis were used for the initial data analysis. This was
based on Sugiyono's (2020) simplified development steps. Through the revision
stage, supporting factors, inhibiting factors, strengths, and weaknesses were
identified. The final Starttuli underwent validation testing based on the Seven
Principles of Universal Design. Small trial: experienced a 33.4% improvement.
Large trial with the final product: the results showed a 25% improvement. Four
beginner samples of deaf students reported that their initial accuracy changed after
training. The results of the study showed that the Starttuli tool was declared very
feasible by three validators with a percentage of 100%, and was effective in
improving starting accuracy. After undergoing a revision process based on needs
analysis and testing, the final Starttuli product is suitable for use. Large-scale testing
shows that athletes are able to start accurately (posttest results are greater than
pretest results) with a before-after design. This study is consistent with previous
research that disabilities require sports aids and technical practices in running
starts.
Keywords: Starttuli Starting Device, Deaf Athletes, Track and Field, Vibration
Starter, R&
PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK AIR DAUN SINGKONG PADA PEMBUATAN KUE DADAR GULUNG TERHADAP KUALITAS FISIK DAN MUTU SENSORIS
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi ekstrak air daun singkong pada pembuatan kue dadar gulung terhadap kualitas fisik dan mutu sensoris. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pengolahan Roti dan Patiseri Program Studi Tata Boga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen. Sampel pada penelitian ini adalah kue dadar gulung dengan konsentrasi ekstrak air daun singkong 54%, 60% dan 66%. Berdasarkan hasil uji hipotesis statistik uji kualitas fisik dengan menggunakan uji Anova menunjukkan bahwa pada aspek ketebalan kulit kue dadar gulung terdapat pengaruh konsentrasi ekstrak air daun singkong 54% dan 60%. Pada uji mutu sensoris sampel penelitian yang digunakan adalah kue dadar gulung dengan konsentrasi ekstrak air daun singkong 54%, 60% dan 66%., kemudian diuji kepada 45 panelis agak terlatih yang menilai keseluruhan aspek. Berdasarkan hasil uji hipotesis startistik dengan menggunakan uji Kruskal Wallis menunjukkan bahwa pada aspek warna dan aroma terdapat pengaruh konsentrasi ekstrak air daun singkong pada pembuatan kue dadar gulung. Hal ini membuktikan bahwa semakin pekat konsentrasi ekstrak air daun singkong maka warna dan aroma yang dihasilkan semakin kuat. Sedangkan pada aspek rasa daun singkong, rasa gurih, dan tekstur tidak terdapat pengaruh konsentrasi ekstrak air daun singkong pada pembuatan kue dadar gulung. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa konsentrasi ekstrak air daun singkong memberikan pengaruh terhadap kualitas fisik (ketebalan) dan mutu sensoris (warna dan aroma) pada pembuatan kue dadar gulung, konsentrasi yang dipilih pada penelitian ini yaitu konsentrasi 54% dengan ketebalan kulit dadar 1,4 mm dan kategori aspek mutu sensoris meliputi kategori warna hijau tua, beraroma daun singkong, memiliki rasa daun singkong, memiliki rasa gurih dan tekstur yang lembut.
*****
This study aims to analyze the effect of cassava leaf extract concentration on the making of dadar gulung on physical quality and sensory quality. This research was conducted at the Pastry and Bakery Processing Laboratory of the Culinary Arts Education Study Program, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Jakarta. The research method used is an experimental method. The sample in this study was dadar gulung with cassava leaf extract concentrations of 54%, 60% and 66%. Based on the results of the statistical hypothesis test of the physical quality test using the ANOVA test, it shows that in the aspect of the thickness of the dadar gulung skin there was an effect of cassava leaf extract concentrations of 54% and 66%. In the sensory quality test, the research sample used was dadar gulung with cassava leaf extract concentrations of 54%, 60% and 66%, then tested to 45 semi-trained panelists who assessed all aspects. Based on the results of statistical hypothesis testing using the Kruskal Wallis test, it shows that in the color and aroma aspects there is an influence of the concentration of cassava leaf extract in making dadar gulung. This proves that the more concentrated the concentration of cassava leaf extract, the stronger the color and aroma produced. Meanwhile, in the aspects of cassava leaf taste, savory taste, and texture, there is no influence of the concentration of cassava leaf extract in making dadar gulung. Based on the research results, it can be concluded that the concentration of cassava leaf extract has an effect on the physical quality (thickness) and sensory quality (color and aroma) in making dadar gulung. The concentration chosen in this study is 54%, with a dadar skin thickness of 1.4 mm and the sensory quality aspect categories include dark green color, cassava leaf aroma, cassava leaf flavor, savory taste and soft texture
PENGEMBANGAN VIDEO PEMBELAJARAN PEMBUATAN BOLU GULUNG MOTIF BATIK BAGI SISWA SLB NEGERI 01 JAKARTA
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menilai kelayakan media video pembelajaran pembuatan bolu gulung motif batik bagi siswa tunarungu di SLB Negeri 01 Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan model ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, dan Evaluation). Penilaian kelayakan media dilakukan melalui validasi ahli materi, ahli media, dan ahli bahasa, serta melalui uji coba kepada peserta didik yang meliputi uji coba one to one, small group, dan field test. Hasil validasi menunjukkan bahwa media video pembelajaran yang dikembangkan berada pada kategori layak hingga sangat layak. Ahli materi memberikan skor rata-rata sebesar 88% (Baik), ahli media sebesar 90% (Sangat baik), dan ahli bahasa sebesar 76% (Baik). Uji coba one to one yang melibatkan tiga peserta didik memperoleh nilai rata-rata sebesar 89% (Baik), dengan aspek kemudahan penggunaan memperoleh nilai tertinggi. Selanjutnya, uji coba small group memperoleh nilai rata-rata sebesar 85,6% (Baik), yang menunjukkan bahwa video pembelajaran membantu peserta didik dalam memahami langkah-langkah pembuatan bolu gulung motif batik. Pada tahap field test yang melibatkan sepuluh peserta didik, diperoleh nilai rata-rata sebesar 81,6% (Baik), yang mencerminkan peningkatan motivasi belajar, pemahaman visual, serta kemandirian belajar peserta didik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa video pembelajaran pembuatan bolu gulung motif batik yang dikembangkan telah memenuhi kriteria kelayakan dan dapat digunakan secara efektif sebagai media pendukung pembelajaran Tata Boga bagi siswa tunarungu di SLB. ***** This study aims to develop and to assess the feasibility a video learning medium on making batik-patterned rolled cakes for deaf students at SLB Negeri 01 Jakarta. This research is a development study using the ADDIE model (Analyze, Design, Development, Implementation, and Evaluation). The feasibility of the media was assessed through validation by subject matter experts, media experts, and language experts, as well as through trials with students, including one-to-one trials, small group trials, and field tests. The validation results showed that the educational video media developed was in the feasible to highly feasible category. The subject matter expert gave an average score of 88% (Good), the media expert gave 90% (Very Good), and the language expert gave 76% (Good). The one-to-one trial involving three students obtained an average score of 89% (Good), with the aspect of ease of use receiving the highest score. Furthermore, the small group trial obtained an average score of 85.6% (Good), which shows that the learning video helps students understand the steps for making batik-patterned rolled cake. In the field test stage involving ten students, an average score of 81.6% (Good) was obtained, reflecting an increase in learning motivation, visual understanding, and learning independence among students. Based on these research results, it can be concluded that the developed learning video on making batik-patterned roll cakes has met the feasibility criteria and can be used effectively as a supporting medium for culinary arts learning for deaf students at SLB
PERENCANAAN PRE FIRE PLANNING DI PEMUKIMAN PADAT PENDUDUK RT 01 RW 09 KELURAHAN PULO GEBANG
Kelurahan Pulo Gebang merupakan wilayah dengan tingkat kejadian kebakaran tertinggi pada periode 2020–2022 di Kecamatan Cakung, khususnya pada kawasan permukiman padat penduduk seperti di RT.01/RW.05. Kondisi kepadatan bangunan, keterbatasan akses pemadaman, serta rendahnya pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat menyebabkan proses penanggulangan kebakaran sering terhambat, baik akibat kepanikan warga maupun keterlambatan pelaporan kejadian. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan perencanaan Pre Fire Planning sebagai upaya mitigasi untuk meningkatkan efektivitas penanganan kebakaran di wilayah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang terbatas hingga tahap implementasi. Proses analisis dilakukan melalui penetapan lokasi penelitian, identifikasi bahaya, dan penilaian risiko kebakaran. Tahap perancangan (design) dilakukan dengan penentuan skenario kebakaran dan penyusunan rencana tanggap darurat kebakaran. Pengembangan Pre Fire Planning dalam penelitian ini mencakup pembentukan tim tanggap darurat, penentuan lokasi titik kumpul, alur proses evakuasi, serta prosedur penanggulangan kebakaran awal. Hasil implementasi menunjukkan bahwa Pre Fire Planning berpotensi untuk direplikasikan pada wilayah permukiman padat penduduk lainnya dengan karakteristik risiko kebakaran yang serupa. Adapun saran yang diberikan agar pemerintah dan pihak pemadam kebakaran turut serta memberikan dukungan dalam bentuk pelatihan rutin, penyediaan fasilitas evakuasi, ketersediaan alat pemadam kebakaran, dan pemaksimalan fungsi karang taruna sebagai relawan pemadam kebakaran. *****
Pulo Gebang Village is the area with the highest incidence of fires in the 2020–2022 period in Cakung Subdistrict, particularly in densely populated residential areas such as RT.01/RW.05. The density of buildings, limited access for firefighting, and low public awareness and preparedness often hinder the firefighting process, either due to panic among residents or delays in reporting incidents. This study aims to develop a Pre Fire Planning strategy as a mitigation effort to improve the effectiveness of firefighting in the area. This study uses the Research and Development (R&D) method with the ADDIE model, limited to the implementation stage. The analysis process was carried out through the determination of the research location, hazard identification, and fire risk assessment. The design stage was carried out by determining fire scenarios and preparing a fire emergency response plan. The development of Pre Fire Planning in this study included the formation of an emergency response team, the determination of assembly points, evacuation procedures, and initial firefighting procedures. The implementation results show that Pre Fire Planning has the potential to be replicated in other densely populated residential areas with similar fire risk characteristics. The recommendations given are for the government and fire department to participate in providing support in the form of routine training, provision of evacuation facilities, availability of firefighting equipment, and maximization of the function of youth organizations as firefighting volunteers
HUBUNGAN ANTARA KOORDINASI MATA TANGAN, DAN POWER OTOT LENGAN TERHADAP KETEPATAN HASIL SHOOTING DALAM OLAHRAGA PETANQUE
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara koordinasi mata tangan dan power otot lengan terhadap ketepatan hasil shooting dalam olahraga pétanque.Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pendekatan korelasional. Sampel penelitian berjumlah 13, dari SMAN 7 Jakarta yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi tes koordinasi mata tangan dengan lempar tangkap bola tenis, tes power otot lengan menggunakan lempar bola obat, serta tes akurasi shooting petanque. Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas, homogenitas, linieritas, korelasi Pearson, dan regresi linier berganda dengan taraf signifikansi 0,05.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara koordinasi mata tangan dengan ketepatan hasil shooting (r = 0,697; p < 0,05) serta hubungan yang signifikan antara power otot lengan dengan ketepatan hasil shooting (r = 0,798; p < 0,05). Secara simultan, koordinasi mata tangan dan kekuatan otot lengan memiliki hubungan yang signifikan terhadap akurasi hasil shooting olahraga petanque (F = 11,820; p < 0,05). ***** This study aims to determine the relationship between hand-eye coordination and arm muscle power on shooting accuracy in pétanque. This study uses a survey method with a correlational approach. The sample consisted of 13 students from SMAN 7 Jakarta, selected using purposive sampling. The research instruments included a hand-eye coordination test using tennis ball throwing and catching, an arm muscle power test using medicine ball throwing, and a pétanque shooting accuracy test. Data analysis was performed using normality, homogeneity, linearity, Pearson's correlation, and multiple linear regression tests with a significance level of 0.05. The results showed that there was a significant relationship between hand-eye coordination and shooting accuracy (r = 0.697; p < 0.05) and a significant relationship between arm muscle power and shooting accuracy (r = 0.798; p < 0.05). Simultaneously, hand-eye coordination and arm muscle strength had a significant relationship with the accuracy of petanque shooting results (F = 11.820; p < 0.05)
MODEL PEMBELAJARAN SHOOTING BOLA BASKET BERBASIS PERMAINAN UNTUK ANAK SEKOLAH DASAR USIA 9-12 TAHUN
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan pembelajaran shooting bola basket di sekolah dasar yang sering kali monoton dan kaku karena terlalu berfokus pada metode drill, sehingga menyebabkan siswa merasa bosan dan kesulitan menguasai teknik dasar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan model pembelajaran shooting bola basket berbasis permainan yang efektif, menyenangkan, dan sesuai dengan karakteristik siswa usia 9–12 tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Subjek uji coba adalah siswa SD Jakarta Taipei School. Hasil penelitian menghasilkan 10 model permainan shooting yang mengintegrasikan konsep BEEF (Balance, Eyes, Elbow, Follow Through). Berdasarkan uji kelayakan, ahli materi dan pembelajaran menyatakan model ini layak/valid. Hasil uji coba kelompok kecil (15 siswa) memperoleh persentase 92,4% dengan kategori layak. Uji coba kelompok besar (28 siswa) menunjukkan peningkatan dengan persentase 94,3% dalam kategori layak. Disimpulkan bahwa model ini efektif meningkatkan antusiasme dan kemampuan shooting siswa. Peneliti menyarankan agar guru PJOK menggunakan model ini sebagai alternatif pembelajaran dan peneliti selanjutnya dapat mengujinya pada cakupan variabel yang lebih luas.
Kata Kunci: Shooting Bola Basket, Game-Based Learning, Model Pembelajaran, ADDIE, Siswa Sekolah Dasar.
*****
This research is motivated by the problem of basketball shooting learning in elementary schools, which is often monotonous and rigid due to an excessive focus on drill methods, causing students to feel bored and struggle to master basic techniques. This study aims to develop a game-based basketball shooting learning model that is effective, fun, and suitable for the characteristics of students aged 9–12 years. The research method used is Research and Development (R&D) utilizing the ADDIE model (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). The trial subjects were students of SD Jakarta Taipei School. The results produced 10 shooting game models integrating the BEEF concept (Balance, Eyes, Elbow, Follow Through). Based on feasibility tests, material and learning experts declared the model valid. The small group trial (15 students) obtained a percentage of 92.4% in the feasible category. The large group trial (28 students) showed an increase with a percentage of 94.3% in the feasible category. It is concluded that this model effectively increases students' enthusiasm and shooting skills. The researcher suggests that PE teachers use this model as a learning alternative and that future researchers test it on a broader range of variables.
Keywords: Basketball Shooting, Game-Based Learning, Learning Model, ADDIE, Elementary School Students
PENGARUH PENGETAHUAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) TERHADAP PERILAKU PENGGUNAAN ALAT LISTRIK KECANTIKAN PADA MAHASISWA PENDIDIKAN TATA RIAS UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengetahuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terhadap perilaku penggunaan alat listrik kecantikan pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Tata Rias Universitas Negeri Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode survei dan tes. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 64 mahasiswa yang telah menempuh mata kuliah terkait K3 dan memiliki pengalaman menggunakan alat listrik kecantikan. Data primer diperoleh melalui kuesioner dan tes yang berisi pernyataan serta pertanyaan untuk mengukur tingkat pengetahuan K3 dan perilaku penggunaan alat listrik kecantikan. Analisis data dilakukan dengan analisis regresi linear sederhana menggunakan program SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan K3 berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku penggunaan alat listrik kecantikan. Hal ini dibuktikan dengan nilai t-hitung sebesar 3,246 > t-tabel 1,999 atau nilai signifikansi 0,002 < 0,05. Nilai koefisien regresi sebesar 1,090 menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu satuan pada pengetahuan K3 akan meningkatkan perilaku penggunaan alat listrik kecantikan sebesar 1,090 poin. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan K3 yang dimiliki mahasiswa, semakin baik pula perilaku mereka dalam menggunakan alat listrik kecantikan secara aman, tepat, dan sesuai prosedur.
*****
This study aims to determine the effect of Occupational Health and Safety (OHS) knowledge on the behavior of using electrical beauty tools among students of the Beauty Education Study Program at Universitas Negeri Jakarta. This research employs a quantitative approach using survey and test methods. The sampling technique applied was purposive sampling, involving 64 students who had completed courses related to OHS and had experience using electrical beauty tools. Primary data were obtained through questionnaires and tests containing statements and questions designed to measure the level of OHS knowledge and the behavior of using electrical beauty tools. The data were analyzed using simple linear regression analysis with the SPSS version 25 software. The results indicate that OHS knowledge has a positive and significant effect on the behavior of using electrical beauty tools. This is evidenced by the t-value of 3.246, which is greater than the ttable value of 1.999, and a significance level of 0.002 (< 0.05), indicating a statistically significant relationship between OHS knowledge and behavior in using electrical beauty tools. The regression coefficient value of 1.090 shows that each one-unit increase in OHS knowledge contributes to a 1.090-point improvement in safe and proper tool usage behavior. Thus, it can be concluded that the higher the level of OHS knowledge possessed by students, the better their behavior in using electrical beauty tools safely, accurately, and in accordance with proper
procedures
MASUK DAN BERKEMBANGNYA BUDAYA POPULER JEPANG DI INDONESIA (1975-2012)
Penelitian ini mengkaji proses masuk, perkembangan, dan transformasi budaya populer Jepang di Indonesia sejak 1975 hingga tahun 2012, dengan fokus pada anime, manga, tokusatsu, Ultraman, J-Pop, dorama, dan praktik cosplay. Penelitian ini berangkat dari penayangan awal anime Jepang seperti Wanpaku Omukashi Kum-Kum di TVRI pada akhir 1970-an yang menandai masuknya budaya visual Jepang ke ruang domestik masyarakat Indonesia melalui media televisi. Seiring perkembangan media massa, khususnya televisi dan media cetak, budaya populer Jepang mengalami perluasan dan pendalaman melalui penayangan anime, tokusatsu, dorama, serta penerbitan manga berbahasa Indonesia. Memasuki era Reformasi dan meningkatnya akses internet sejak akhir 1990-an, konsumsi budaya populer Jepang tidak lagi bersifat pasif, tetapi berkembang menjadi praktik partisipatif melalui komunitas penggemar, forum daring, dan kegiatan budaya seperti cosplay. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif sejarah sosial dan kajian budaya untuk menelusuri dinamika hubungan antara media, komunitas, dan pembentukan identitas generasi muda, khususnya di wilayah Jabodetabek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya populer Jepang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang ekspresi identitas, pembelajaran nonformal, dan pembentukan komunitas kreatif. Dengan demikian, budaya populer Jepang dapat dipahami sebagai bagian dari sejarah kultural kontemporer Indonesia yang mencerminkan proses globalisasi, negosiasi identitas, serta transformasi budaya generasi muda dalam konteks perubahan sosial dan teknologi.
Kata kunci: budaya populer Jepang, anime dan manga, media massa, komunitas penggemar, Jabodetabek
*****
This study examines the introduction, development, and transformation of Japanese popular culture in Indonesia from 1975 to 2012, focusing on anime, manga, tokusatsu, Ultraman, J-Pop, Japanese television dramas, and cosplay practices. The research traces the initial entry of Japanese visual culture through the broadcast of early anime such as Wanpaku Omukashi Kum-Kum on TVRI in the late 1970s, which marked the beginning of Japanese popular culture in Indonesian domestic media spaces. Alongside the expansion of mass media particularly television and print media Japanese popular culture deepened its presence through anime broadcasts, tokusatsu series, Japanese dramas, and licensed manga publications in Indonesian. Following the Reform era and the wider access to the internet since the late 1990s, the consumption of Japanese popular culture shifted from passive viewing to active participation through fan communities, online forums, and cultural practices such as cosplay. Employing a qualitative approach grounded in social history and cultural studies, this research analyzes the relationship between media, community formation, and youth identity, with a particular focus on the Jabodetabek region. The findings reveal that Japanese popular culture functions not only as entertainment but also as a space for identity expression, informal learning, and creative community building. Consequently, Japanese popular culture constitutes an integral part of contemporary Indonesian cultural history, reflecting processes of globalization, identity negotiation, and socio-technological transformation among the younger generation.
Keywords: Japanese popular culture, anime and manga, mass media, fan communities, Jabodetabe