39193 research outputs found
Sort by
PENGARUH PIJAT REFLEKSI KAKI DAN PIJAT TRADISIONAL TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA
Produktivitas kerja dipengaruhi oleh kondisi kesehatan fisik maupun mental. Terapi pijat merupakan salah satu intervensi non-farmakologis yang diyakini dapat meningkatkan kedua aspek tersebut. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk menganalisis pengaruh kesehatan fisik maupun kesehatan mental setelah pijat refleksi dan pijat tradisional terhadap kinerja produktivitas kerja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan yang bersifat eksplanatif. Untuk penentuan sampel pada penelitian ini digunakan rumus Slovin, sehingga diperoleh sebanyak 59 responden. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner dengan skala Likert yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya serta sudah divalidasi oleh ahli K3. Analisis data pada penelitian ini menggunakan berbagai teknik yang digunakan meliputi uji R (korelasi berganda), uji F (simultan), uji t (parsial), serta regresi linier. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwasannya secara simultan kedua jenis pijat berpengaruh terhadap kesehatan fisik maupun kesehatan mental yang meningkatkan produktivitas kerja, baik pada kelompok pijat refleksi (Fhitung = 8,21 > Ftabel = 3,42) maupun pijat tradisional (Fhitung = 74,24 > Ftabel = 3,25). Secara parsial, pada pijat refleksi kesehatan fisik berpengaruh signifikan (t = 4,049; p = 0,0004975), sedangkan kesehatan mental tidak berpengaruh signifikan (t = –1,154; p = 0,260). Namun, pada pijat tradisional kesehatan mental berpengaruh signifikan (t = 4,268; p ≈ 0,00013) dan kesehatan fisik juga berpengaruh signifikan (t = 2,199; p = 0,034).Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa terapi pijat baik refleksi maupun tradisional berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas kerja melalui peningkatan kesehatan fisik serta mental, namun mekanisme dominannya berbeda pada masing-masing jenis pijat.
*****
Work productivity is influenced by both physical and mental healthconditions. Massage therapy is a non-pharmacological intervention believedtoimprove these two aspects. This study aims to analyze the effects of physical
health and mental health after foot reflexology massage and traditional massageon work productivity performance. This research employs a quantitative methodwith an explanatory approach. The sample size was determined using the Slovinformula, resulting in 59 respondents. The research instrument used was a Likert- scale questionnaire that had been tested for validity and reliability and validatedby occupational health and safety (OHS/K3) experts. Data analysis techniquesincluded the R test (multiple correlation), F test (simultaneous), t test (partial), andlinear regression analysis. The results indicate that simultaneously, both types of
massage have an effect on physical and mental health, which in turn increaseswork productivity, both in the reflexology massage group (F_calculated =8.21>F_table = 3.42) and the traditional massage group (F_calculated = 74.24 >F_table= 3.25). Partially, in foot reflexology massage, physical health has a significant
effect (t = 4.049; p = 0.0004975), while mental health does not have a significant
effect (t = –1.154; p = 0.260). However, in traditional massage, mental healthhasa significant effect (t = 4.268; p ≈ 0.00013), and physical health also has asignificant effect (t = 2.199; p = 0.034). The conclusion of this study is that bothreflexology and traditional massage therapies contribute to increased workproductivity through improvements in physical and mental health; however, thedominant mechanisms differ between the two types of massage
SISTEM ABSENSI FINGERPRINT SEBAGAI ALAT PENDETEKSI KADAR OKSIGEN, DENYUT JANTUNG(OXIMETER) DAN PENGUKURAN SUHU TUBUH BERBASIS INTERNET OF THING
Penelitian Perkembangan teknologi Internet of Things (IoT) memungkinkan integrasi antara sistem absensi dan pemantauan kondisi kesehatan secara real time. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan alat sistem absensi berbasis sidik jari menggunakan sensor fingerprint AS608 yang terintegrasi dengan pendeteksi kadar oksigen dalam darah dan denyut jantung menggunakan sensor MAX30102 serta pengukur suhu tubuh berbasis sensor MLX90614. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi pencatatan kehadiran sekaligus memantau kondisi kesehatan pengguna secara otomatis.
Perangkat dikendalikan oleh mikrokontroler yang berfungsi sebagai pusat pemrosesan data, kemudian hasil pembacaan sensor dikirimkan ke server berbasis IoT melalui jaringan internet. Data kehadiran dan parameter kesehatan disimpan dalam basis data dan dapat diakses melalui aplikasi web secara daring. Proses absensi dilakukan setelah sidik jari terverifikasi, sehingga sistem dapat meminimalkan kecurangan dan meningkatkan akurasi data.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem mampu melakukan identifikasi sidik jari dengan baik serta menampilkan data kadar oksigen, denyut jantung, dan suhu tubuh secara stabil. Data yang diperoleh dapat tersimpan dan ditampilkan secara real time melalui platform IoT. Dengan demikian, sistem absensi ini tidak hanya berfungsi sebagai pencatat kehadiran, tetapi juga sebagai alat pendukung pemantauan kesehatan, sehingga dapat diterapkan pada lingkungan pendidikan maupun instansi kerja.
Kata kunci: Sistem Absensi, Fingerprint, Oksimeter, Suhu Tubuh, ESP32, Internet of Thing
PENGARUH ATRIBUT PRODUK, BRAND, HARGA, AKSES DISTRIBUSI DAN SOSIAL TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN SEDIAAN KOSMETIK PELEMBAB WAJAH (Studi Pada Mahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta)
Pelembab merupakan kosmetik pelindung yang berfungsi melindungi kulit
dari faktor eksternal, menjaga kelembaban, mengurangi peradangan, menenangkan
iritasi, memperbaiki tekstur kulit, serta membantu penyembuhan luka ringan.
Industri kosmetik di Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 48% pada periode
2021–2024, didukung oleh survei ZAP Clinic tahun 2024 yang menunjukkan
bahwa 60% perempuan memilih produk perawatan kulit dengan manfaat utama
melembabkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh secara
simultan dan parsial atribut produk, brand, harga, akses distribusi dan sosial
terhadap keputusan pembelian sediaan kosmetik pelembab wajah pada mahasiswa
Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta dengan menggunakan pendekatan
kuantitatif deskriptif berjumlah 100 responden, yang dipilih melalui teknik
purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert dan
dianalisis dengan statistik deskriptif, regresi linier berganda, uji F dan uji T. Hasil
analisis menunjukkan bahwa secara simultan p-value seluruh atribut sig. 0.1 > 0.05
artinya tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, namun secara
parsial p-value atribut produk 0.03 < 0.05 yang artinya berpengaruh signifikan,
sedangkan p-value atribut merek 0.092 > 0.05, p-value atribut harga 0.053 > 0.05,
p-value atribut akses distribusi 0.734 > 0.05, serta p-value atribut sosial 0.48 > 0.05
yang berarti tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Temuan
ini menegaskan bahwa mahasiswa lebih menitikberatkan pada atribut produk ketika
menentukan pilihan, serta mengindikasikan perlunya eksplorasi variabel tambahan
untuk memahami perilaku konsumen secara lebih menyeluruh.
Kata Kunci: Atribut, Keputusan Pembelian, Pelembab Wajah.
Moisturizer is a protective cosmetic that functions to protect the skin from external
factors, maintain moisture, reduce inflammation, soothe irritation, improve skin
texture, and help heal minor wounds. The cosmetics industry in Indonesia
experienced a growth of 48% in the 2021–2024 period, supported by ZAP Clinic at
2024 survey showed that 60% of women chose skin care products with the main
benefit of moisturizing. This study aims to analyze the simultaneous and partial
influence of product attributes, brand, price, distribution access and social on
purchasing decisions for facial moisturizing cosmetic preparations among students
of the Faculty of Engineering, State University of Jakarta using a descriptive
quantitative approach with a total of 100 respondents, selected through a purposive
sampling technique. Data were collected using a Likert scale questionnaire and
analyzed with descriptive statistics, multiple linear regression, F test and T test.
The results of the analysis showed that simultaneously the p-value of all attributes
sig. 0.1>0.05 means it has no significant effect on purchasing decisions, but
partially the p-value of product attributes is 0.03<0.05 which means it has a
significant effect, while the p-value of brand attributes is 0.092>0.05, p-value of
price attributes is 0.053>0.05, p-value of distribution access attributes is
0.734>0.05, and p-value of social attributes is 0.48>0.05 which means it has no
significant effect on purchasing decisions. This finding confirms that students place
more emphasis on product attributes when making choices, and indicates the need
for exploration of additional variables to understand consumer behavior more
comprehensively.
Keywords: Attributes, Purchasing Decisions, Facial Moisturizers
PENGARUH PENGGUNAAN IKAN MANYUNG (ARIUS THALASSINUS) DAN TEMPE KEDELAI (GLYCINE MAX) PADA PEMBUATAN NUGGET TERHADAP SIFAT FISIK DAN MUTU SENSORIK
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh variasi perbandingan ikan manyung dan tempe kedelai terhadap sifat fisik (daya serap minyak dan densitas) serta mutu sensorik (warna, aroma, rasa, dan tekstur) pada nugget serta mencari formulasi mana yang terbaik. Metode penelitian ini menggunakan eksperimen dengan formulasi berbeda antara ikan manyung dan tempe kedelai, yaitu 40:60, 50:50 dan 60:40. Pengamatan dilakukan terhadap karakteristik fisik dan uji organoleptik oleh 45 panelis agak terlatih dari mahasiswa Tata Boga Universitas Negeri Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan kedua bahan tersebut rata-rata berpengaruh nyata terhadap karakteristik fisik dan sensorik nugget. Hasil uji Tuckeys yang menunjukan hasil akhir memilki rata-rata aspek yaitu tidak berbeda nyata terhadap parameter yang diamati. Formula dengan rasio 50:50 menunjukan profil mutu paling konsisten dan memenuhi standar organoleptik karena menghasilkan tekstur lembut, rasa gurih alami, aroma tidak amis, dan warna kuning keemasan. Hal berikut mengindikasikan bahwa perlakuan dengan komposisi tersebut layak untuk diimplemtasikan dalam skala produksi. Daya serap minyak menurun seiring meningkatnya proporsi tempe dan ikan manyug. Densitas meningkat seiring bertambahnya proporsi tempe kedelai, sehingga kombinasi keduanya dinilai dapat menghasilkan produk bergizi tinggi, sehat, dan berpotensi sebagai inovasi pangan lokal.
*****
This research aims to find out the influence of the variation in the comparison of manyung fish and soy tempeh on physical properties (oil absorption and density) as well as sensory quality (color, aroma, taste, and texture) on nuggets and find out which formulation is the best. This research method uses experiments with different formulations, namely the treatment of 40:60 manyung fish and soy tempeh, 50:50 manyung fish and soy tempeh and 60:40 manyung fish and soy tempeh. Observations were carried out on physical characteristics and organoleptic tests by 45 somewhat trained panelists from Tata Boga students of Jakarta State University. The research results show that the comparison of the two ingredients on average has a real effect on the physical and sensory characteristics of the nugget. The results of the Tuckeys test showed that the final result had an average aspect that was not significantly different from the observed parameters. The formula with a ratio of 50:50 showed the most consistent quality profile and met organoleptic standards because it produced a soft texture, natural savory taste, non-fushy aroma, and golden yellow color. The following indicates that the treatment with the composition is suitable to be implemented on a production scale. Oil absorption decreases as the proportion of tempeh and manyug fish increases. The density increases as the proportion of soy tempeh increases, so that the combination of the two is considered to be able to produce a highly nutritious, healthy product, and has the potential to be a local food innovation
MODEL LATIHAN SHOOTING PADA PERMAINAN CABANG OLAHRAGA FUTSAL PUTRI UNJ
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model latihan shooting dalam
permainan futsal yang efektif dan sesuai dengan karakteristik mahasiswi
Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Permasalahan penelitian didasarkan pada
rendahnya akurasi, kekuatan, dan konsistensi shooting yang dipengaruhi oleh
model latihan yang kurang variatif serta belum disesuaikan dengan kebutuhan fisik
dan psikologis pemain. Metode penelitian yang digunakan adalah Research and
Development (R&D) dengan pendekatan model ADDIE yang meliputi tahap
analisis, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Penelitian ini
pada awalnya membuat desain produk sebanyak 19 model latihan kemudian hasil
akhir dengan uji justifikasi ahli menjadi 13 model latihan. Berdasarkan uji validasi
yang digunakan adalaah uji justifikasi para ahli dengan ahli dibidang olahraga
futsal. Subjek penelitian adalah mahasiswi yang tergabung dalam tim futsal putri
UNJ. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, angket
validasi ahli, dan tes keterampilan shooting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
model latihan shooting yang dikembangkan dinyatakan layak oleh para ahli dan
efektif dalam meningkatkan kemampuan shooting, khususnya pada aspek akurasi,
kekuatan tendangan, dan pengambilan keputusan dalam situasi permainan. Model
latihan ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pelatih futsal putri dalam
meningkatkan kualitas latihan dan performa atlet secara berkelanjutan.
Kata kunci: Futsal Putri, Model Latihan, Shooting, ADDIE*****This study aims to develop an effective shooting training model in futsal that is
appropriate to the characteristics of female students at Universitas Negeri Jakarta
(UNJ). The research problem is based on the low accuracy, power, and consistency
of shooting, which are influenced by less varied training models and training
methods that have not been adjusted to the physical and psychological needs of the
players.The research method used is Research and Development (R&D) with the
ADDIE model approach, which includes the stages of analysis, design,
development, implementation, and evaluation. Initially, the study produced 19
training model designs; after expert justification testing, the final result was 13
training models. The validation test used was expert judgment conducted by futsal
sports specialists.The research subjects were female students who are members of
the UNJ women’s futsal team. Data collection techniques included observation,
interviews, expert validation questionnaires, and shooting skill tests.The results
showed that the developed shooting training models were deemed feasible by
experts and effective in improving shooting ability, particularly in accuracy,
kicking power, and decision-making in game situations. This training model is
expected to serve as a reference for women’s futsal coaches in improving training
quality and athlete performance on an ongoing basis.
Keywords: Women’s Futsal, Training Model, Shooting, ADDI
Pemberdayaan Waria Dalam Mengatasi Stigma dan Diskriminasi (Studi Kasus: Yayasan Srikandi Sejati, Matraman, Jakarta Timur)
Penelitian ini terdapat tiga tujuan utama, pertama, untuk mendeskripsikan stigma dan diskriminasi yang dialami waria di dalam masyarakat. Kedua, untuk mendeskripsikan program pemberdayaan yang dilakukan Yayasan Srikandi Sejati dalam mengatasi stigma dan diskriminasi waria. Ketiga, untuk mendeskripsikan dampak pemberdayaan yang dilakukan Yayasan Srikandi Sejati terhadap waria.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi literatur. Subjek penelitian ini terdiri dari 5 orang pengurus yayasan dan 3 orang anggota. Kemudian dilengkapi dengan 3 informan triangulasi, yaitu 3 warga sekitar yang terdiri dari Ketua RT, Ketua RW, dan warga.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa waria masih menghadapi berbagai bentuk stigma sosial seperti pelabelan, prasangka, dan stereotip dari masyarakat, serta diskriminasi dalam interaksi di ruang publik. Bentuk diskriminasi yang dialami mencakup pelecehan verbal, kekerasan fisik, pengucilan sosial, serta berbagai hambatan dalam mengakses layanan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, maupun administrasi publik. Dalam konteks ini, Yayasan Srikandi Sejati sebagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang aktif memberdayakan waria melalui program-program pemberdayaan di bidang pendidikan, advokasi, serta sosial dan ekonomi. Dampak dari pemberdayaan yang dilakukan melalui program-program tersebut terlihat dari penerimaan posisi sosial waria di masyarakat dengan keberhasilan dalam peningkatan kesadaran publik, sehingga mampu mengurangi stigma negatif dan mencegah terjadinya diskriminasi terhadap waria.
*****
This study has three main objectives, first, to describe the stigma and discrimination experienced by transgender people in society. Second, to describe the empowerment carried out by Yayasan Srikandi Sejati in overcoming the stigma and discrimination of transgender people. Third, to describe the impact of empowerment carried out by Yayasan Srikandi Sejati on transgender people.
This study uses a qualitative approach with a case study method. The data for this study were obtained through observation, in-depth interviews, documentation, and literature studies. The subjects of this study consisted of 5 foundation administrators and 3 members. Then equipped with 3 triangulation informants, namely 3 local residents consisting of the RT Head, RW Head, and residents.
The research results show that transgender people still face various forms of social stigma such as labeling, prejudice, and stereotypes from society, as well as discrimination in interactions in public spaces. Forms of discrimination experienced include verbal harassment, physical violence, social exclusion, and various obstacles in accessing health services, education, employment, and public administration. In this context, the Srikandi Sejati Foundation, as a non-governmental organization (NGO), actively empowers transgender people through empowerment programs in the fields of education, advocacy, and social and economic development. The impact of the empowerment carried out through these programs is evident in the acceptance of the social position of transgender people in society, with success in increasing public awareness, thereby reducing negative stigma and preventing discrimination against transgender people
MODEL LATIHAN PASSING BOLA TANGAN UNTUK SISWA SEKOLAH DASAR
Skripsikan model latihan operan bola tangan untuk siswa sekolah dasar. Metode penelitian ini menggunakan Penelitian dan Pengembangan (R&D) dengan memanfaatkan teori ADDIE. Dalam penelitian ini, dibuat 15 model pembelajaran yang telah melewati uji validasi oleh dua ahli di bidangnya masing-masing, dikategorikan dari mudah hingga sulit. Hasil penelitian ini bertujuan untuk menjadi referensi pengajaran guna memberikan lebih banyak model dan metode yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil dan kemampuan latihan teknik bola tangan, dan sebagai referensi bagi mahasiswa yang nantinya akan menulis tesis dengan materi serupa.
*****
My thesis explains about the handball passing learning model for elementary school students, This research method uses Research and Development (R&D) research using ADDIE theory. In this study, 15 learning models were created that have passed validation tests from two experts in the field categorized from easy to difficult, the results of this study aim to be used as a teaching reference material in providing more models and methods used in the learning process in order to improve learning outcomes and abilities in basic handball passing techniques, as well as a reference for students who will later make a thesis with similar material
HUBUNGAN PENGETAHUAN LINGKUNGAN SEKOLAH DAN SIKAP PEDULI LINGKUNGAN SISWA DI SMAN 52 JAKARTA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah terdapat hubungan antara keduanya pada siswa SMAN 52 Jakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Populasi penelitian berjumlah 540 siswa, dan sampel sebanyak 85 siswa diperoleh melalui teknik stratified random sampling. Instrumen penelitian berupa angket pengetahuan dan angket sikap peduli lingkungan yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data meliputi statistik deskriptif dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan lingkungan sekolah siswa berada pada kategori baik, dengan 83,5% responden memiliki tingkat pengetahuan tinggi. Sementara itu, sikap peduli lingkungan berada pada kategori sedang, dengan 62,4% siswa menunjukkan sikap yang belum optimal. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan negatif dan signifikan antara pengetahuan lingkungan sekolah dan sikap peduli lingkungan (r = –0,365; p = 0,001). Hal ini mengindikasikan bahwa pengetahuan yang tinggi tidak selalu sejalan dengan sikap peduli lingkungan yang tinggi. Koefisien determinasi sebesar 13,32% menunjukkan bahwa pengetahuan hanya memberikan kontribusi kecil terhadap pembentukan sikap peduli lingkungan siswa. Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan tidak secara langsung menentukan dan membentuk sikap peduli lingkungan.
*****
This study aims to determine the relationship between students’ school environmental knowledge and environmental care attitudes at SMAN 52 Jakarta. This research employed a quantitative approach using a survey method. The population consisted of 540 students, and a sample of 85 students was selected through stratified random sampling. The research instruments consisted of environmental knowledge and environmental attitude questionnaires, both of which had been tested for validity and reliability. Data analysis included descriptive statistics and Rank Spearman correlation. The results indicate that students’ environmental knowledge is categorized as high, with 83.5% of respondents demonstrating good understanding. Meanwhile, their environmental care attitudes fall into the moderate category, with 62,4% of students showing less optimal behaviour. The Spearman correlation test reveals a significant negative relationship between environmental knowledge and environmental care attitudes (r = –0,365; p = 0,001). This suggests that higher knowledge does not necessarily correspond with stronger environmental attitudes. The determination coefficient of 13.32% indicates that knowledge contributes only slightly to the formation of students’ environmental care attitudes. It can be concluded that students’ environmental attitudes are influenced more by other factors, such as habituation, school culture, and environmental role models. The results suggest that environmental attitudes are not directly shaped by knowledge alone
HUBUNGAN PEMAHAMAN PELESTARIAN SUMBER DAYA ALAM TERHADAP SIKAP KEPEDULIAN LINGKUNGAN SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI KELURAHAN JAKASAMPURNA BEKASI BARAT
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemahaman pelestarian sumber daya alam dengan sikap kepedulian lingkungan siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri di Kelurahan Jakasampurna Bekasi Barat. Sumber daya alam meliputi semua sumber daya yang terdapat di bumi, baik benda hidup maupun benda mati, yang berguna bagi manusia dan pengelolaannya harus memenuhi kriteria-keriteria seperti: teknologi, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Peduli lingkungan didefinisikan sebagai sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan dalam lingkungan alam disekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki dan mengelola lingkungan sekitar secara luas sehingga lingkungan dapat dinikmati secara terus menerus. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik Proporsional Simpel Random Sampling, yaitu pemilihan sampel secara acak sederhana dari setiap sekolah yang menjadi populasi penelitian, dengan jumlah sampel ditentukan secara proporsional terhadap banyaknya siswa dimasing-masing sekolah, sehingga diperoleh 240 siswa kelas IV SDN di Kelurahan Jakasampurna sebagai sampel penelitian. Data dikumpulkan menggunakan tes tertulis berupa pilihan ganda dan kuesioner tertutup dianalisis menggunakan korelasi pearson product moment dan uji signifikasi (uji t). Uji korelasi menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikasi antara pemahaman pelestarian sumber daya alam dengan sikap kepedulian lingkungan siswa sebesar 0,197 dengan nilai signifikasi 0.002 (< 0,05) dan berada pada kategori sangat rendah. Kontribusi paling signifikan diberikan oleh variabel pemahaman pelestarian sumber daya alam sebesar 3,8%, sedangkan 96,2% nya dipengaruhi oleh variabel independen lainnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman pelestarian sumber daya alam dapat dijadikan salah satu cara untuk meningkatkan sikap kepedulian lingkungan siswa.
*****
This study aims to determine the relationship between understanding the conservation of natural resources and the environmental concern attitudes of fourth-grade students at Public Elementary Schools in Kelurahan Jakasampurna, West Bekasi. Natural resources include all resources found on earth, both living and non-living, which are useful to humans, and their management must meet criteria such as technology, economy, social, and environmental aspects. Environmental awareness is defined as an attitude and action that always strives to prevent damage to the natural environment around it and develops efforts to repair and manage the surrounding environment extensively so that it can be continuously enjoyed. The sampling technique in this study is the Simple Proportional Random Sampling technique, which involves selecting samples randomly from each school that is part of the research population, with the number of samples determined proportionally to the number of students in each school, resulting in 240 fourth-grade students from SDN in Jakasampurna Subdistrict as the research sample. Data were collected using written tests in the form of multiple-choice questions and closed questionnaires, and were analyzed using the Pearson product-moment correlation and significance test (t-test). The correlation test showed a positive and significant relationship between the understanding of natural resource conservation and students' environmental care attitudes, with a correlation value of 0.197 and a significance value of 0.002 (< 0.05), which falls into the very low category. The most significant contribution was given by the variable of understanding natural resource conservation at 3,8%, while 96,2% was influenced by other independent variables. This study indicates that understanding natural resource conservation can be considered one way to improve students' environmental care attitudes
ANALISIS RESILIENSI MASYARAKAT DALAM MENGHADAPI BENCANA KEBAKARAN DI KELURAHAN KOTA BAMBU UTARA, KECAMATAN PALMERAH, JAKARTA BARAT
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis resiliensi masyarakat dalam
menghadapi bencana kebakaran di Kelurahan Kota Bambu Utara, Kecamatan
Palmerah, Jakarta Barat.Penelitian di fokuskan pada RW yang terjadi kebakaran,
yakni RW 2,3,5,6, dan 8. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode
deskriptif menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini yaitu
Kepala Keluarga pada RW terjadi kebakaran di Kelurahan Kota Bambu Utara yang
berjumlah 5.176. Teknik pengambilan menggunakan Propotional random sampling
dan diperoleh 189 responden. Penilaian tingkat resiliensi dalam penelitian ini
mencakup empat variabel, yaitu sumber daya manusia, sosial, fisik, dan keuangan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat resiliensi masyarakat secara keseluruhan
tergolong tinggi, dengan nilai rata-rata indeks 0.64. Masyarakat RW 2 (0.67)
memiliki resiliensi yang tertinggi, resiliensi masyarakat RW 8 (0.66), RW 03 (0.64)
sementara RW 5 dan RW 6 menunjukkan resiliensi terendah (0.61). Variabel yang
paling mendukung adalah sumber daya manusia (0.74) dan sosial (0.74) dengan
kategori resiliensi tinggi. Variabel fisik (0.58) dan keuangan (0.49) termasuk dalam
kategori resiliensi sedang.
Kata Kunci : Kebakaran, Masyarakat, Resiliensi*********
This study aims to analyze community resilience in facing fire disasters in Kota
Bambu Utara Village, Palmerah District, West Jakarta. The study focused on RW (neighborhood units) where fires occurred, namely RW 2, 3, 5, 6, and 8. The method
used in the study is a descriptive method using a quantitative approach. The
population in this study were the Heads of Families in RW where fires occurred in
Kota Bambu Utara Village, totaling 5,176. The sampling technique used
Proportional random sampling and obtained 189 respondents. Assessment of the
level of resilience in this study includes four variables, namely human, social, physical, and economic resources. The results of the analysis show that the overall
level of community resilience is classified as high, with an average index value of
0.64. The community in RW 2 (0.67) had the highest resilience, followed by RW 8
(0.66), RW 03 (0.64), and RW 5 and RW 6 (0.61). The most supportive variables
were human resources (0.74) and social resources (0.74), categorized as high
resilience. Physical resources (0.58) and financial resources (0.49) were
categorized as medium resilience.
Keywords: Fire, Community, Resilienc