39193 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN ANTARA MOTOR EDUCABILITY DAN KEPERCAYAAN DIRI DENGAN PEMANJATAN TEKNIK BOULDERING PADA KLUB OLAHRAGA PANJAT TEBING SSC JAKARTA UTARA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1). Hubungan
motor educability dengan teknik pemanjatan bouldering, 2)
Hubungan kepercayaan diri dengan teknik pemanjatan bouldering,
3) Hubungan motor educability dan kepercayaan diri secara
bersama-sama dengan teknik bouldering. Penelitian ini
dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan November 2025.
Pengambilan data dilakukan pada bulan November untuk atlet
panjat tebing SSC Jakarta Utara.
Populasi dalam penelitian ini adalah atlet panjat tebing SSC
Jakarta Utara yang berjumlah 32 atlet. Adapun teknik pengambilan
sampel menggunakan teknik sampling jenuh. Dengan demikian,
sampel yang digunakan adalah 32 atlet panjat tebing SSC Jakarta
Utara. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah: 1) Untuk mengetahui motor educability atlet panjat tebing
SSC Jakarta Utara, 2) Untuk mengetahui tingkat kepercayaan diri
atlet panjat tebing SSC Jakarta Utara, dan 3) Untuk mengukur
teknik bouldering atlet panjat tebing SSC Jakarta Utara.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Ada hubungan
antara motor educability dengan teknik bouldering pada Klub
Olahraga Panjat Tebing SSC Jakarta Utara. Hal ini terlihat dari
hasil uji korelasi Pearson rhitung = 0,525 > rtabel = 0,366; 2) Ada
hubungan antara kepercayaan diri dengan teknik bouldering pada
Klub Olahraga Panjat Tebing SSC Jakarta Utara. Hal ini terlihat
dari hasil uji korelasi Pearson rhitung = 0,731 > rtabel = 0,366; dan 3)
Ada hubungan antara motor educability dan kepercayaan diri
dengan teknik bouldering pada Klub Olahraga Panjat Tebing SSC
Jakarta Utara. Hal ini terlihat dari hasil Fhitung = 41,488 > Ftabel =
4,28. Kontribusi Motor Educability (X1) dan Kepercayaan Diri
(X2) secara bersama-sama dengan Teknik Bouldering diperoleh
nilai koefisien determinasi sebesar 0,743 yang berarti variabel X1
dan X2 ke Y memberikan pengaruh sebesar 74,3%.
Kata Kunci: motor educability, kepercayaan diri, panjat tebing,
bouldering.
*****
This study aims to determine: 1). The relationship between motor
educability and bouldering climbing techniques, 2) The relationship
between self- confidence and bouldering climbing techniques, 3) The
relationship between motor educability and self-confidence on bouldering
techniques. This study was conducted from October to November 2025.
Data collection was carried out in November for rock climbing athletes
from SSC North Jakarta.
The population in this study consisted of 32 rock climbing athletes
from SSC North Jakarta. The sampling technique used was saturated
sampling. Thus, the sample used consisted of 32 rock climbing athletes
from SSC North Jakarta. The research instruments used in this study were:
1) To determine the motor educability of SSC North Jakarta rock climbers,
2) To determine the confidence level of SSC North Jakarta rock climbers,
and 3) To measure the bouldering techniques of SSC North Jakarta rock
climbers.
The results of this study indicate that: 1) There is a relationship
between motor educability and bouldering techniques at the SSC North
Jakarta Rock Climbing Sports Club. This can be seen from the results of
the Pearson correlation test, where rcount = 0.525 > rtable = 0.366; 2) There
is a relationship between self-confidence and bouldering techniques at the
SSC North Jakarta Rock Climbing Sports Club. This can be seen from the
results of the Pearson correlation test rcount = 0.731 > rtable = 0.366; and
3) There is a relationship between motor educability and self-confidence
with bouldering techniques at the SSC North Jakarta Rock Climbing
Sports Club. This can be seen from the results of Fcount = 41.488 > Ftanle =
4.28. The contribution of Motor Educability (X1) and Self-Confidence (X2)
together to Bouldering Technique obtained a coefficient of determination
value of 0.743, which means that variables X1 and X2 to Y have an
influence of 74.3%.
Keywords: motor educability, self-confidence, rock climbing, bouldering
PERAN IBU RUMAH TANGGA PENGRAJIN ROTAN DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN RUMAH TANGGA DI DESA SINDANGJAWA KABUPATEN CIREBON
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran ibu rumah tangga sebagai pengrajin rotan dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga di RW 001 Desa Sindangjawa, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, serta mengidentifikasi faktor-faktor pendorongnya. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, penelitian melibatkan tujuh ibu rumah tangga pengrajin rotan dan dua suami mereka sebagai informan, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu rumah tangga berperan aktif dalam menghasilkan pendapatan tambahan rata-rata Rp100.000–Rp300.000 per minggu melalui kegiatan anyaman rotan, yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti bahan makanan, listrik, gas, dan jajan anak. Peran ibu rumah tangga ini diimbangi dengan manajemen waktu fleksibel, dengan prioritas pada pekerjaan rumah tangga. Faktor pendorong utama meliputi kebutuhan ekonomi, pendapatan suami yang tidak tetap, pengaruh, serta motivasi internal untuk mandiri. Tantangan seperti keterlambatan bahan baku dari pengesub diatasi melalui adaptasi dan kolaborasi komunitas. Proses pembelajaran keterampilan anyaman terjadi secara nonformal melalui pengamatan dan praktik mandiri, mencerminkan konsep lifelong learning dalam pendidikan masyarakat. Penelitian ini menekankan pentingnya pemberdayaan perempuan melalui pendidikan informal untuk mendukung kemandirian ekonomi keluarga, dengan implikasi bagi program pelatihan berbasis komunitas oleh pemerintah daerah.
*****
This study aims to describe the role of housewives as rattan craftsmen in increasing household income in RW 001 Sindangjawa Village, Dukupuntang District, Cirebon Regency, and to identify the driving factors. Using a qualitative approach with a case study design, the research involved seven housewives who are rattan craftsmen and their two husbands as informants, with data collection techniques through in-depth interviews, observation, and documentation. The results showed that housewives played an active role in generating additional income averaging Rp100,000–Rp300,000 per week through rattan weaving, which was used to meet basic needs such as food, electricity, gas, and children's snacks. The role of housewives is balanced with flexible time management, with priority given to household chores. The main driving factors include economic needs, irregular husband's income, influence, and internal motivation for independence. Challenges such as delays in raw material delivery from suppliers were overcome through community adaptation and collaboration. The process of learning weaving skills took place informally through observation and independent practice, reflecting the concept of lifelong learning in community education. This study emphasizes the importance of empowering women through informal education to support family economic independence, with implications for community-based training programs by local governments
PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG KETAN MERAH (Oryza sativa var. glutinosa) TERHADAP KADAR AIR DAN MUTU SENSORI SABLÉ COOKIES
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh substitusi tepung ketan merah terhadap kadar air dan mutu sensori sablé cookies. Penelitian dilakukan pada bulan Mei–November 2025 di Laboratorium Pastry dan Bakery, Program Studi Pendidikan Tata Boga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta. Metode yang digunakan adalah eksperimen kuantitatif dengan formulasi sablé cookies yang disubstitusi tepung ketan merah sebesar 40%, 50%, dan 60%. Uji mutu sensori melibatkan 45 panelis agak terlatih yang menilai aspek warna, aroma butter, aroma ketan merah, rasa manis, rasa butter, rasa ketan merah, tekstur renyah, dan tekstur masir, sedangkan uji kadar dilakukan melalui pengukuran kadar air menggunakan metode gravimetri dengan tiga kali pengulangan. Hasil uji hipotesis kadar air menggunakan One-Way ANOVA menunjukkan bahwa terdapat pengaruh substitusi tepung ketan merah terhadap peningkatan kadar air sablé cookies (α = 0,05). Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa perlakuan substitusi 40%, 50%, dan 60% berada dalam kelompok yang sama dan tidak berbeda nyata satu sama lain, namun berbeda signifikan dibandingkan produk kontrol. Sementara itu, hasil uji hipotesis mutu sensori menggunakan uji Kruskal–Wallis menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan dari substitusi tepung ketan merah terhadap seluruh atribut sensori yang dinilai. Berdasarkan hasil analisis statistik tersebut, substitusi tepung ketan merah hingga 60% menghasilkan sablé cookies dengan mutu sensori yang setara dan kadar air yang masih berada dalam batas yang dapat diterima. Oleh karena itu, tingkat substitusi 60% ditetapkan sebagai formulasi terbaik karena mampu memaksimalkan pemanfaatan bahan pangan lokal tanpa menurunkan mutu fisik dan sensori produk.
Kata Kunci: Kadar Air, Mutu Sensori, Sablé Cookies, Tepung Ketan Merah
*****
This study aimed to analyze the effect of red glutinous rice flour substitution on the moisture content and sensory quality of sablé cookies. The research was conducted from May to November 2025 at the Pastry and Bakery Laboratory, Culinary Education Study Program, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Jakarta. A quantitative experimental method was employed using sablé cookie formulations with red glutinous rice flour substitution levels of 40%, 50%, and 60%. Sensory evaluation involved 45 semi-trained panelists who assessed color, butter aroma, red glutinous rice aroma, sweetness, butter flavor, red glutinous rice flavor, crispness, and sandy texture. Moisture content was determined using the gravimetric method with three replications. The results of the moisture content analysis using One-Way ANOVA indicated that red glutinous rice flour substitution had a significant effect on increasing the moisture content of sablé cookies (α = 0.05). Duncan’s Multiple Range Test showed that substitution levels of 40%, 50%, and 60% belonged to the same statistical group and were not significantly different from each other but differed significantly from the control sample. Meanwhile, the results of the Kruskal–Wallis test revealed that red glutinous rice flour substitution did not have a significant effect on any of the evaluated sensory attributes. Based on these statistical findings, red glutinous rice flour substitution of up to 60% produced sablé cookies with comparable sensory quality and acceptable moisture content. Therefore, a substitution level of 60% was determined as the optimal formulation, as it maximized the utilization of local food resources without compromising the physical and sensory quality of the product.
Keywords: Moisture Content, Red Glutinous Rice Flour, Sablé Cookies, Sensory Qualit
TAMAN KOTA SEBAGAI RUANG SOSIAL INKLUSIF (STUDI KASUS 5 PENGUNJUNG PENYANDANG DISABILITAS DI TAMAN TEBET ECO PARK)
Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama. Tujuan pertama adalah mendekripsikan latar belakang revitalisasi Tebet Eco Park dalam penyediaan fasilitas bagi pengunjung penyandang disabilitas. Tujuan kedua yaitu mendeskripsikan bentuk pemanfaatan Tebet Eco Park sebagai ruang reproduksi sosial dan hambatan yang dialami oleh pengunjung penyandang disabilitas. Tujuan terakhir adalah untuk menganalisis Tebet Eco Park sebagai ruang sosial yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, serta studi literatur. Informan utama terdiri dari 5 penyandang disabilitas. Selanjutnya, dilengkapi oleh 7 triangulasi, yang terdiri dari 1 orang pendamping, 3 pengunjung non disabilitas, 1 pedagang di sekitar kawasan taman, 1 orang pengelola Tebet Eco Park, dan Kepala Seksi Perencanaan DInas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi taman Tebet Eco Park dilatarbelakangi oleh dorongan Pemerintah Kota DKI Jakarta untuk memperbaiki kualitas ruang hijau dan menghadirkan taman kota yang berperan sebagai ruang hijau aktif, namun dalam proses perencanaan masih belum mempertimbangkan penyandang disabilitas secara penuh. Pengunjung disabilitas memanfaatkan Tebet Eco Park sebagai ruang reproduksi sosial dengan melakukan aktivitas rekreasi bersama keluarga atau pendamping, namun pemanfaatan tersebut masih dibatasi oleh berbagai hambatan. Berdasarkan analisis terhadap pengalaman pengguna, Tebet Eco Park berada pada tahap ruang sosial yang sedang dalam proses menuju inklusivitas. Adanya penyandang disabilitas yang harus beradaptasi dan melakukan negosiasi dengan kondisi taman menunjukkan bahwa inklusivitas di Tebet Eco Park masih berada dalam proses menuju ruang yang setara bagi semua kelompok masyarakat.
*****
This study has three main objectives. The first objective is to describe the background of the revitalization of Tebet Eco Park in providing facilities for visitors with disabilities. The second objective is to describe the use of Tebet Eco Park as a space for social reproduction and the obstacles experienced by visitors with disabilities. The final objective is to analyze Tebet Eco Park as an inclusive social space for people with disabilities. This study uses a qualitative approach with a case study method. Data collection techniques include in-depth interviews, observation, documentation, and literature study. The main informants consisted of five persons with disabilities. This was supplemented by seven triangulations, consisting of one companion, three non-disabled visitors, one vendor in the park area, one Tebet Eco Park manager, and the Head of the Planning Section of the Jakarta City Parks and Forestry Agency. The results of the study show that the revitalization of Tebet Eco Park was motivated by the DKI Jakarta City Government's drive to improve the quality of green spaces and create city parks that serve as active green spaces. However, the planning process did not fully consider persons with disabilities. Visitors with disabilities use Tebet Eco Park as a space for social reproduction by engaging in recreational activities with their families or companions, but their use of the park is still limited by various barriers. Based on an analysis of user experiences, Tebet Eco Park is at the stage of a social space that is in the process of becoming inclusive. The existence of persons with disabilities who must adapt and negotiate with the conditions of the park shows that inclusivity at Tebet Eco Park is still in the process of becoming an equal space for all community groups
PENGEMBANGAN ALAT FITNESS MULTIFUNGSI BAGI REMAJA PEMULA
Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah untuk mengembangkan alat fitness multifungsi yang sesuai untuk pemula sebagai sarana olahraga rekreasi yang aman, menarik, dan efektif. Alat ini diharapkan dapat meningkatkan minat dan partisipasi remaja dalam aktivitas kebugaran jasmani dengan pendekatan yang menyenangkan, hemat ruang, dan mudah digunakan diberbagai lingkungan seperti dirumah, sekolah, maupun tempat kebugaran dan ruang terbuka publik. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan pendekatan kualitatif serta menggunakan metode penelitian Research and Development dengan model ADDIE. Subyek dalam penelitian dan pengembangan ini adalah remaja. Langkah-langkah pengembangan digunakan untuk penelitian pada tahap: (1) analisis kebutuhan; (2) desain alat; (3) pengembangan alat; (4) pelaksanaan dilapangan; (5) evaluasi produk. Hasil uji validitas dilakukan dengan tiga orang ahli. Hasil validasi dengan dosen ahli fitness satu memiliki interpretasi sangat baik dengan skor rata-rata 92%, hasil validasi dengan ahli praktisi alat fitness dua memiliki interpretasi baik dengan skor rata-rata 80%, hasil validasi dengan ahli personal traineer fitness sangat baik dengan skor rata-rata 86%. Hal ini menerangkan bahwa pengembangan alat fitness multifungsi bagi pemula dinyatakan layak untuk diuji cobakan dan dimodifikasi serta memudahkan remaja pemula dalam menggunakan alat fitness yang aman dan efektif, berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1. Dengan pengembangan alat fitness multifungsi bagi pemula dapat menggunakan alat fitness multifungsi dengan aman, menarik dan efektif. 2. Mempermudah penggunan alat fitness multifungsi bagi pemula.
Kata Kunci: Pengembangan Alat, ADDIE, Fitness Remaja Pemula
*****
The purpose of this research and development is to develop a multifunctional fitness equipment that is suitable for teenagers as a safe, engaging, and effective recreational exercise medium. This equipment is expected to increase adolescents’ interest and participation in physical fitness activities through a fun approach, space-efficient design, and ease of use in various environments such as homes, schools, fitness centers, and public open spaces. This research and development employed a qualitative approach using the Research and Development (R&D) method with the ADDIE model. The subjects of this study were beginner adolescents aged. The development process was conducted through the following stages: (1) needs analysis, (2) equipment design, (3) equipment development, (4) field implementation, and (5) product evaluation. The validity test was conducted by three experts. The validation results from the first fitness expert lecturer showed a very good interpretation with an average score of 92%. The validation from the second fitness equipment practitioner expert obtained a good interpretation with an average score of 80%, while the validation from the fitness personal trainer expert showed a very good interpretation with an average score of 86%. These results indicate that the development of multifunctional fitness equipment for beginner is feasible to be tested and modified, and it facilitates adolescents in using fitness equipment that is safe and effective. Based on the research findings, it can be concluded that: 1. The development of multifunctional fitness equipment enables adolescents to use fitness equipment in a safe, engaging, and effective manner. 2. The multifunctional fitness equipment simplifies its use for beginner adolescents.
Keywords : Tool Development, ADDIE, Beginner Teen Fitnes
PENGEMBANGAN MODEL ABC DRILL KHUSUS PENCAK SILAT PADA ATLET KOPPENSI UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan model ABC drill khusus
pencak silat pada atlet koppensi universitas negeri jakarta. Metode penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian dan pengembangan
(R&D) model ADDIE. Tahapan yang dilakukan pada penelitian adalah 5 tahapan
yaitu, 1) Analisis 2) Desain 3) Pengembangan 4) Pelaksanaan 5) Evaluasi. Subyek
dalam penelitian ini untuk dilakukan uji coba model latihan ABC drill khusus
pencak silat pada atlet koppensi universitas negeri jakarta. Peneliti melakukan
pengembangan dengan melakukan perubahan pada model abc running dengan
ditambahkan nya teknik spesifik pencak silat agar dapat memperbaiki keterampilan
dan koordinasi atlet koppensi Universitas Negeri Jakarta. Berdasarkan hasil
penelitian yang telah diperoleh dari uji kelayakan dan uji validasi dari Dosen Atletik
Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Jakarta, Dosen
Pencak Silat Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Jakarta
dan Pelatih Strength and Conditioning Pencak Silat PPLM DKI Jakarta,
menghasilkan 28 model ABC drill khusus Pencak Silat serta hasil evaluasi uji coba
memperoleh hasil 84% dari atlet koppensi Universitas Negeri jakarta dan 82% dari
pelatih koppensi Universitas Negeri Jakarta. Berdasarkan dari penelitian dan
pembahasan yang dilakukan, yaitu menghasilkan 1 buku Model Latihan ABC drill
Khusus Pencak Silat dan 1 video cara pelaksanaan Model Latian ABC drill Khusus
Pencak Silat
*****
This study aims to develop a specialized ABC drill training model for pencak silat
athletes of Koppensi, Universitas Negeri Jakarta. The research method used in this
study was Research and Development (R&D) with the ADDIE model. The research
was conducted through five stages: (1) Analysis, (2) Design, (3) Development, (4)
Implementation, and (5) Evaluation. The subjects of this study were pencak silat
athletes of Koppensi, Universitas Negeri Jakarta, who participated in the trial of
the specialized ABC drill training model. The researcher developed the training
model by modifying the ABC running model and incorporating pencak silat–
specific techniques in order to improve the skills and coordination of Koppensi
athletes at Universitas Negeri Jakarta. Based on the results obtained from
feasibility and validation tests conducted by an Athletics Lecturer of the Faculty of
Sport and Health Sciences, Universitas Negeri Jakarta, a Pencak Silat Lecturer of
the Faculty of Sport and Health Sciences, Universitas Negeri Jakarta, and a
Strength and Conditioning Coach for Pencak Silat at PPLM DKI Jakarta, a total
of 28 specialized ABC drill models for pencak silat were produced. The evaluation
results from the trial implementation showed an approval score of 84% from
Koppensi athletes of Universitas Negeri Jakarta and 82% from Koppensi coaches
of Universitas Negeri Jakarta. Based on the research and discussion, the final
products of this study consist of one book on the Specialized ABC drill Training
Model for Pencak Silat and one instructional video demonstrating the
implementation of the Specialized ABC drill Training Model for Pencak Silat
NEDERLANDSCH-INDISCHE SCHAAKBOND (NISB) HINGGA TERBENTUKNYA PERSATOEAN TJATOER SELOEROEH INDONESIA (PERTJASI): KONTRIBUSINYA TERHADAP OLAHRAGA CATUR DI INDONESIA (1915-1956)
Penelitian ini mengkaji sejarah dan dinamika organisasi catur di Indonesia dalam kurun waktu 1915 hingga 1955. Menggunakan metode sejarah, penelitian ini menelusuri transisi kelembagaan dari Nederlansch-Indische Schaakbond (NISB) pada masa kolonial menuju Persatoean Tjatoer Seloeroeh Indonesia (PERTJASI) pada masa kemerdekaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis yang memiliki lima tahapan, yaitu pemilihan topik, heuristik (pengumpulan sumber), kritik (verifikasi terhadap sumber), interpretasi (penafsiran terhadap sumber yang telah dikritik), dan tahapan terakhir historiografi (penulisan).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa NISB awalnya berfungsi sebagai arena sosial eksklusif Eropa, namun partisipasi intelektual pribumi secara perlahan meruntuhkan mitos superioritas kolonial melalui prestasi di atas papan catur. Masa Pendudukan Jepang (1942-1945) menyebabkan kelumpuhan institusional akibat ketidaksesuaian nilai catur dengan militerisme Jepang. Pasca-kemerdekaan, catur bangkit sebagai alat pembentukan identitas nasional. Pembentukan PERTJASI oleh Dr. Soewito, diwarnai oleh proses integrasi yang kompleks antara poros politik Republik di Yogyakarta dan poros infrastruktur catur di Jakarta dan Surabaya. Konsolidasi ini mencapai puncaknya pada Kejuaraan Nasional 1953 yang dimenangkan oleh Arovah Bachtiar, seorang pemuda dari luar Jawa, yang menandai keberhasilan dekolonisasi olahraga catur dari dominasi elit kolonial menjadi olahraga yang inklusif, meritokratis, dan berjiwa nasional.
Kata Kunci: Catur, Dekolonisasi, NISB, Nasionalisme, Pertjasi, Sejarah Olahraga.
(*****)
Fauzi Isa Anshari. Nederlandsch-Indische Schaakbond (NISB) Until the Formation of the Persatoean Tjatoer Seloeroeh Indonesia (PERTJASI): Its Contribution to Chess in Indonesia (1915-1956). Undergraduate Thesis. Jakarta: History Education Study Program, Faculty of Social Sciences and Law, State University of Jakarta, 2026.
This study examines the history and dynamics of chess organizations in Indonesia from 1915 to 1955. Using the historical method, this research traces the institutional transition from the Nederlansch-Indische Schaakbond (NISB) during the colonial era to the Persatoean Tjatoer Seloeroeh Indonesia (PERTJASI) during the independence era. The method employed in this research is the historical method, which consists of five stages: topic selection, heuristics (source collection), criticism (source verification), interpretation (analysis of verified sources), and the final stage, historiography (writing).
The results indicate that NISB initially functioned as an exclusive European social arena; however, the participation of indigenous intellectuals gradually dismantled the myth of colonial superiority through achievements on the chessboard. The Japanese Occupation period (1942-1945) caused institutional paralysis due to the incompatibility of chess values with Japanese militarism. Post independence, chess re-emerged as a tool for national identity formation. The establishment of PERTJASI by Dr. Soewito, was characterized by a complex integration process between the Republic’s political axis in Yogyakarta and the chess infrastructure hubs in Jakarta and Surabaya. This consolidation culminated in the 1953 National Championship won by Arovah Bachtiar, a youth from outside Java, marking the successful decolonization of chess from colonial elite domination into an inclusive, meritocratic, and national-spirited sport.
Keywords: Chess, Decolonization, NISB, Nationalism, PERTJASI, Sport History
PENGEMBANGAN ECOSNAP: DIGITAL FLIPBOOK BERBASIS MICROLEARNING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK
Fenomena perubahan lingkungan menjadi isu yang krusial dan mengkhawatirkan akibat tingginya tingkat pencemaran, pemasalahan limbah dan alih fungsi lahan. Kondisi ini menuntut peserta didik memiliki keterampilan berpikir kritis untuk memahami dan merespons permasalahan lingkungan secara tepat dan kritis. Penelitian ini bertujuan mengembangkan Ecosnap: digital flipbook berbasis microlearning untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik. Penelitian menggunakan metode penelitian dan pengembangan model Hannafin and Peck dengan subjek guru Biologi dan peserta didik kelas X di SMAN 70 Jakarta. Hasil uji validasi menunjukkan bahwa Ecosnap "sangat valid" dari aspek materi, media, dan bahasa. Selain itu, respon peserta didik dan guru menunjukkan Ecosnap ini "sangat layak" untuk digunakan. Serta instrumen berpikir kritis dinyatakan valid dan reliabel. Implementasi media dilakukan melalui desain one group pretest-posttest. Analisis data menunjukkan bahwa nilai pretest dan posttest tidak berdistribusi normal dan bersifat homogen. Uji Wilcoxon menghasilkan signifikansi 0,001 (< 0,05), menandakan adanya perbedaan rata-rata yang signifikan. Nilai n-gain sebesar 0,4 menunjukkan efektivitas peningkatan keterampilan berpikir kritis pada kategori sedang. Dengan demikian, Ecosnap ini dinyatakan valid, layak, dan efektif digunakan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik.
*****
The phenomenon of environmental change has become a crucial and worrying issue due to high levels of pollution, waste problems, and land conversion. This condition requires students to possess critical thinking skills to understand and respond to environmental issues appropriately and critically. This study aims to develop Ecosnap: a microlearning-based digital flipbook to improve students' critical thinking skills. The study used the Hannafin and Peck model of research and development with Biology teachers and 10th-grade students at SMAN 70 Jakarta as subjects. The validation test results showed that Ecosnap was "very valid" in terms of material, media, and language. In addition, student and teacher responses indicated that Ecosnap was "very feasible" to use. The critical thinking instrument was also declared valid and reliable. The media implementation was carried out through a one-group pretest-posttest design. Data analysis showed that the pretest and posttest scores were not normally distributed and were homogeneous. The Wilcoxon test yielded a significance of 0.001 (<0.05), indicating a significant difference in the average. The n-gain value of 0.4 indicates the effectiveness of improving critical thinking skills in the moderate category. Thus, Ecosnap is declared valid, feasible, and effective for improving students' critical thinking skills
PENERAPAN PERMAINAN MODIFIKASI ENGKLEK UNTUK MENINGKATKAN GERAK DASAR MELOMPAT ANAK USIA DINI (4-6) TAHUN DI PAUD DUTA RISMA, JAKARTA BARAT
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan permainan modifikasi engklek untuk meningkatkan gerak dasar melompat anak usia dini. Subjek penelitian ini adalah 15 anak 9 laki-laki dan 6 perempuan usia 4–6 tahun di Paud Duta Risma, Jakarta Barat. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan (action research) model Kemmis dan McTaggart, yang dilaksanakan dalam dua siklus, terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen berdasarkan indikator gerak dasar melompat yang terdiri dari kemampuan pemecahan masalah, analisa permainan, keseimbangan tubuh, dan melompat berulang (ritme). Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor kemampuan gerak dasar melompat pada anak setelah diterapkan permainan modifikasi engklek. Rata-rata perkembangan pada hasil akhir siklus II , 2.22% anak mulai berkembang(MB), 61.11% anak berkembang sesuai harapan (BSH) dan 36.66% anak berkembang sangat baik (BSB). Dengan demikian, permainan modifikasi engklek terbukti efektif sebagai media pembelajaran yang menyenangkan dan edukatif untuk menstimulasi gerak dasar melompat pada anak usia dini. Permainan ini dapat dijadikan alternatif metode pembelajaran yang aktif dan sesuai dengan tahap perkembangan anak.
*****
This study aims to determine the effectiveness of implementing a modified engklek games in improving basic jumping skills in early childhood. The research subjects were 15 children—9 boys and 6 girls—aged 4–6 years at PAUD Duta Risma, West Jakarta. The method used was action research based on the Kemmis and McTaggart model, conducted in two cycles consisting of planning, implementation, observation, and reflection stages. Data were collected using instruments based on indicators of basic jumping skills, including problem-solving ability, game analysis, body balance, and repetitive jumping (rhythm). The results showed an improvement in children’s basic jumping skill scores after the implementation of the modified engklek game. The average development at the end of Cycle II indicated that 2.22% of children were beginning to develop (MB), 61.11% developed as expected (BSH), and 36.66% developed very well (BSB). Therefore, the modified engklek game is proven to be effective as a fun and educational learning medium for stimulating basic jumping skills in early childhood. This game can be used as an alternative active learning method that is appropriate for children’s developmental stage
PENGARUH ABDOMINAL STRETCHING EXERCISES TERHADAP INTENSITAS NYERI DISMENORE PADA ATLET REMAJA PUTRI PENCAK SILAT SATYA BHINNEKA (Penelitian pada Mahasiswi Semester VII Tahun Akademik 2025/2026 Jurusan Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan
Dismenore merupakan nyeri menstruasi yang sering dialami remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas latihan serta performa olahraga, khususnya pada atlet remaja putri pencak silat, karena menyebabkan keterbatasan dalam melakukan gerakan teknik, penurunan daya tahan fisik dan konsentrasi, sehingga berdampak pada ketidakkonsistenan kehadiran serta penurunan kualitas latihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Abdominal Stretching Exercise terhadap intensitas nyeri dismenore pada atlet remaja putri Perguruan Pencak Silat Satya Bhinneka. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-eksperimen one-group pretest–posttest design. Sampel penelitian berjumlah 15 atlet remaja putri yang mengalami dismenore primer dan menggunakan teknik total sampling. Intensitas nyeri diukur menggunakan Numerical Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah pemberian intervensi Abdominal Stretching Exercise. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji statistik paired sample t-test untuk mengetahui perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai rata-rata intensitas nyeri dismenore pada pretest sebesar 6,00 dan menurun menjadi 4,07 pada posttest, dengan penurunan nyeri sebesar 1,933. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest (p = 0,000 < 0,05). Penelitian dapat disimpulkan bahwa Abdominal Stretching Exercise berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan intensitas nyeri dismenore pada atlet remaja putri pencak silat dan dapat digunakan sebagai alternatif terapi nonfarmakologis yang aman dan efektif. ***** Dysmenorrhea is a menstrual pain that is often experienced by adolescent girls and can interfere with exercise activities and sports performance, especially in pencak silat adolescent female athletes, by limitations in technical movements, decrease physical endurance, and concentration, thereby an impact on inconsistency in attendance and a decrease in the quality of training. This study aims to determine the effect of Abdominal Stretching Exercise on the intensity of dysmenorrhea pain in adolescent female athletes of the Satya Bhinneka Pencak Silat College. This study uses a quantitative method with a pre-experimental one-group pretest–posttest design. The study sample consisted of 15 adolescent female athletes who experienced primary dysmenorrhea and selected using total sampling techniques. Pain intensity was measured using the Numerical Rating Scale (NRS) before and after the administration of Abdominal Stretching Exercise intervention. The data obtained was analyzed using a statistical paired sample t-test to determine the difference in pain intensity before and after treatment. The results showed that the average pain intensity of dysmenorrhea decreased from 6.,00 at pretest to 4,07 at posttest, with a reduction of 1,933. The results of the statistical test showed that there was a significant difference between the pretest and posttest scores (p = 0.000 < 0.05). The study can conclude that Abdominal Stretching Exercise has a significant effect on reducing the intensity of dysmenorrhea pain in pencak silat adolescent athletes and can be used as a safe and effective alternative to nonpharmacological therapy