39193 research outputs found
Sort by
ANALISIS BUDAYA KESELAMATAN MAHASISWA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA BERBASIS PENDEKATAN ECAST (EUROPEAN COMMERCIAL AVIATION SAFETY TEAM)
Kegiatan praktikum di Fakultas Teknik memiliki potensi risiko tinggi akibat penggunaan mesin, peralatan berbahaya, panas, listrik, dan bahan kimia, sehingga memerlukan penerapan budaya keselamatan yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat budaya keselamatan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta (FT UNJ) menggunakan pendekatan European Commercial Aviation Safety Team (ECAST) serta memetakan tingkat kematangan budaya keselamatannya (safety maturity level). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan populasi 5.382 mahasiswa dari 19 program studi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berisi 67 pernyataan yang mencakup enam dimensi budaya keselamatan ECAST, yaitu commitment, behaviour, awareness, adaptability, information, dan justness. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh program studi berada pada tingkat kematangan budaya keselamatan proactive dengan kecenderungan menuju generative. Temuan ini mengindikasikan bahwa sistem keselamatan telah diterapkan, namun belum sepenuhnya terinternalisasi sebagai budaya yang konsisten dalam perilaku mahasiswa. Dimensi awareness memperoleh skor tertinggi, yang menunjukkan tingkat kesadaran risiko yang baik, sedangkan dimensi information dan justness memperoleh skor terendah, mencerminkan keterbatasan pelatihan keselamatan serta belum optimalnya sistem pelaporan insiden. Penelitian ini menegaskan perlunya penguatan budaya keselamatan melalui peningkatan pelatihan keselamatan yang terstruktur, penguatan perilaku keselamatan mahasiswa, serta perbaikan sistem informasi dan fasilitas laboratorium untuk mendukung kegiatan praktikum yang aman dan berkelanjutan.
*****
Practical activities in engineering faculties involve high potential risks due to the use of machinery, hazardous equipment, heat, electricity, and chemical substances, thereby requiring the implementation of a strong safety culture. This study aims to analyze the level of safety culture among students of the Faculty of Engineering, Universitas Negeri Jakarta (FT UNJ), using the European Commercial Aviation Safety Team (ECAST) approach and to map its safety maturity level. This research employed a descriptive quantitative method with a population of 5,382 students from 19 study programs. Data were collected using a questionnaire consisting of 67 statements covering six ECAST safety culture dimensions: commitment, behaviour, awareness, adaptability, information, and justness. The results indicate that almost all study programs are positioned at the proactive level of safety culture maturity, with a tendency toward the generative level. This finding suggests that safety systems have been implemented; however, safety has not yet been fully internalized as a consistent culture in students’ daily practices. The awareness dimension obtained the highest score, indicating a relatively good level of risk awareness, while the information and justness dimensions recorded the lowest scores, reflecting limitations in safety training and the suboptimal implementation of incident reporting systems. The implications of this study highlight the need to strengthen safety culture through structured safety training, reinforcement of safe behaviors among students, and improvement of safety information systems and laboratory facilities to support safe and sustainable practical learning activities
HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN OTOT LENGAN DAN FLEKSIBILITAS PERGELANGAN TANGAN DENGAN KETEPATAN PUKULAN SMASH PADA ATLET BULUTANGKIS TUNGGAL PUTRA PB SENA JAKARTA SELATAN
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mencari hubungan kekuatan otot lengan terhadap ketepatan pukulan smash. (2) mencari hubungan fleksibilitas pergelangan tangan terhadap ketepatan pukulan smash. (3) mencari hubungan kekuatan otot lengan dan fleksibilitas pergelangan tangan secara bersama-sama terhadap ketepatan pukulan smash. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Teknik pengumpulan data menggunakan tes pengukuran olahraga, Populasi dan sampel penelitian ini adalah atlet PB Sena yang berjumlah 25 orang menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen tes kekuatan otot lengan yaitu menggunakan pull and push dynamometer, fleksibilitas pergelangan tangan menggunakan Giniometer, dan ketepatan smash menggunakan tes Saleh Anasir. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik regresi linear sederhana yang diperoleh dari hasil kekuatan otot lengan (X1), hasil fleksibillitas pergelangan tangan (X2) dan hasil ketepatan pukulan smash (Y). Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Adanya hubungan yang signifikan pada kekuatan otot lengan terhadap ketepatan smash atlet tunggal putra PB Sena, dengan nilai signifikansi sebesar 0,016 <0,05 dengan sumbangan sebanyak 45,2% (2) Adanya hubungan yang signifikan pada fleksibilitas pergelangan tangan terhadap ketepatan smash atlet tunggal putra PB Sena, dengan nilai signifikansi sebesar 0,023 < 0,05, dengan sumbangan sebanyak 29,5%
(3) Hasil Uji F menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,07< 0,05 , yang berarti adanya hubungan yang signifikan pada kekuatan otot lengan dan otot tungkai secara bersama-sama terhadap ketepatan smash atlet tunggal putra PB Sena.
*****
The aim of this study is (1) to examine the relationship between arm muscle strength and
smash accuracy, (2) to investigate the relationship between wrist flexibility and smash
accuracy, and (3) to analyze the combined relationship between arm muscle strength and
wrist flexibility with smash accuracy. This study used a quantitative method with a
coreeelasional approach Data collection uses sports measurement tests, with the
population and sample consisting of 25 athletes from PB Sena selected via purposive
sampling. Instruments include a pull and push dynamometer for arm muscle strength, a
goniometer for wrist flexibility, and the Saleh Anasir test for smash accuracy. Data analysis
applies simple linear regression techniques based on arm muscle strength results (X1),
wrist flexibility results (X2), and smash accuracy results (Y). The findings indicate that (1)
there is a significant relationship between arm muscle strength and smash accuracy among
PB Sena men’s singles athletes, with a significance value of 0.016 < 0.05 and a contribution
of 45.2%; (2) there is a significant relationship between wrist flexibility and smash
accuracy among PB Sena men’s singles athletes, with a significance value of 0.023 < 0.05
and a contribution of 29.5%; and (3) the F-test results show a significance value of 0.07 <
0.05, indicating a significant combined relationship between arm muscle strength and leg
muscle strength with smash accuracy among PB Sena men’s singles athlete
IMPLEMENTASI MEDIA SOSIAL HOBBY MUNCAK DALAM MEMBANGUN CITRA POSITIF DI KALANGAN TARGET KONSUMEN
Perkembangan media sosial mendorong komunitas hobi dan olahraga rekreasi
untuk memanfaatkannya sebagai sarana komunikasi, promosi, dan pembentukan
citra di ruang digital. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi
media sosial yang dilakukan oleh komunitas Hobby Muncak dalam membangun
citra positif di kalangan target konsumen olahraga rekreasi. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan rancangan studi kasus.
Teknik pengumpulan data meliputi observasi terhadap aktivitas media sosial,
wawancara mendalam dengan pengelola komunitas dan target konsumen, serta
dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model analisis interaktif melalui
tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diuji
keabsahannya melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media
sosial, khususnya Instagram dan TikTok, dimanfaatkan sebagai sarana utama
penyampaian informasi kegiatan, interaksi dengan audiens, serta representasi nilai
kebersamaan, keselamatan, dan gaya hidup aktif. Konten yang disajikan bersifat
visual, edukatif, dan inspiratif, sehingga membentuk persepsi positif dan
meningkatkan kepercayaan audiens. Implementasi media sosial yang konsisten dan
terarah berkontribusi dalam membangun citra positif Hobby Muncak sebagai
komunitas olahraga rekreasi yang terorganisir dan terpercaya.
Kata kunci: citra positif; Hobby Muncak; komunitas hobi; media sosial; olahraga
rekreasi
*****
The development of social media has encouraged hobby communities and
recreational sports groups to utilize digital platforms as tools for communication,
promotion, and image building. This study aims to describe the implementation of
social media by the Hobby Muncak community in building a positive image among
target consumers of recreational sports. This research employs a descriptive
qualitative approach with a case study design. Data were collected through
observation of social media activities, in-depth interviews with community
managers and target consumers, and documentation. Data analysis was conducted
using an interactive analysis model consisting of data reduction, data presentation,
and conclusion drawing, and data validity was ensured through triangulation
techniques. The results indicate that social media, particularly Instagram and
TikTok, are utilized as the primary platforms for delivering activity-related
information, engaging with audiences, and representing values such as
togetherness, safety, and an active lifestyle. The content presented is visual,
educational, and inspirational, which helps shape positive perceptions and enhance
audience trust. Overall, consistent and well-directed social media implementation
contributes significantly to building a positive image of Hobby Muncak as an
organized and trustworthy recreational sports community.
Keywords: hobby community; Hobby Muncak; positive image; recreational sports;
social media
PENGEMBANGAN MODEL PERMAINAN SOS UNTUK ANAK USIA DINI 7-8 TAHUN
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model permainan SOS bagi anak usia dini 7–8 tahun guna meningkatkan kecerdasan interpersonal. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya stimulasi keterampilan sosial anak akibat pola bermain yang kurang melibatkan interaksi sosial. Kecerdasan interpersonal, seperti kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, empati, dan tanggung jawab, perlu dikembangkan sejak dini melalui kegiatan bermain yang terstruktur dan menyenangkan. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE yang meliputi tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Produk yang dihasilkan berupa 12 model permainan SOS yang disesuaikan dengan karakteristik anak usia 7–8 tahun. Subjek penelitian berjumlah 10 anak. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, validasi ahli, dan uji coba lapangan menggunakan instrumen lembar observasi kecerdasan interpersonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model permainan SOS yang dikembangkan layak dan efektif digunakan sebagai media pembelajaran berbasis permainan. Penerapan model permainan SOS mampu meningkatkan kecerdasan interpersonal anak, yang terlihat dari peningkatan kemampuan interaksi, kerja sama, komunikasi, empati, dan sportivitas selama kegiatan bermain. Oleh karena itu, model permainan SOS dapat digunakan sebagai alternatif media pembelajaran yang edukatif dan sesuai dengan perkembangan anak usia dini.***** his study aims to develop an SOS game model for early childhood aged 7–8 years to improve interpersonal intelligence. This research is motivated by the limited stimulation of children’s social skills due to play activities that lack social interaction. Interpersonal intelligence, including cooperation, communication, empathy, and responsibility, needs to be developed from an early age through structured and enjoyable play activities. This study employed the Research and Development (R&D) method using the ADDIE development model, which consists of analysis, design, development, implementation, and evaluation stages. The product developed consists of 12 SOS game models adapted to the characteristics of children aged 7–8 years. The research subjects were 10 children. Data were collected through observation, expert validation, and field trials using an interpersonal intelligence observation sheet. The results indicate that the developed SOS game model is feasible and effective as a game-based learning medium. The implementation of the SOS game model improves children’s interpersonal intelligence, as reflected in increased interaction skills, cooperation, communication, empathy, and sportsmanship during play activities. Therefore, the SOS game model can be used as an alternative educational learning medium that is appropriate for early childhood development
KLASIFIKASI STATUS GIZI BALITA MENGGUNAKAN ALGORITMA RANDOM FOREST DENGAN DEPLOYMENT BERBASIS WEB (STUDI KASUS: PUSKESMAS KAMPUNG SAWAH, KECAMATAN CIPUTAT, KOTA TANGERANG SELATAN)
Permasalahan utama dalam pengelolaan data gizi balita di Puskesmas Kampung Sawah adalah ketergantungan pada aplikasi SIGIZI KESGA yang sering mengalami kendala teknis (down), terutama saat puncak pelaporan bulanan. Kondisi ini menyebabkan keterlambatan penginputan data dan tenaga gizi harus melakukan perhitungan manual yang memakan waktu serta rawan kesalahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem berbasis web dengan integrasi algoritma Random Forest untuk klasifikasi status gizi balita, mengevaluasi performa model, serta meningkatkan efektivitas pengelolaan data gizi sebagai solusi alternatif dari kendala teknis SIGIZI KESGA. Metode penelitian menggunakan pendekatan Knowledge Discovery in Database (KDD), yang meliputi tahap pengumpulan data, preprocessing, pemodelan menggunakan algoritma Random Forest, evaluasi model, serta implementasi ke dalam aplikasi berbasis Flask. Pengujian aplikasi dilakukan menggunakan metode Black Box Testing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model dengan skenario 4 yang menggunakan teknik SMOTE dan optimasi hyperparameter GridSearchCV memberikan performa terbaik dengan nilai recall hingga 95% pada BB/U, 91% pada TB/U, dan 90% pada BB/TB, serta nilai F1-score yang lebih seimbang. Uji coba aplikasi memperoleh nilai efektivitas sebesar 96,43%, yang termasuk kategori sangat baik. Dengan demikian, aplikasi klasifikasi status gizi balita berbasis web ini dinyatakan layak digunakan karena mampu memberikan hasil klasifikasi yang cepat, akurat, dan efisien, sekaligus mendukung kebutuhan pelayanan kesehatan di Puskesmas Kampung Sawah. ***** The main problem in managing child nutrition data at Puskesmas Kampung Sawah is the dependency on the SIGIZI KESGA application, which often experiences technical issues (downtime), especially during peak monthly reporting. This condition leads to delays in data entry and forces nutritionists to perform manual calculations that are time-consuming and prone to errors. This study aims to develop a web-based system integrated with the Random Forest algorithm for classifying child nutritional status, evaluate the model’s performance, and improve the effectiveness of nutrition data management as an alternative solution to the technical issues of SIGIZI KESGA. The research employed the Knowledge Discovery in Database (KDD) approach, which includes data collection, preprocessing, modeling using the Random Forest algorithm, model evaluation, and implementation into a Flask-based web application. The application was tested using the Black Box Testing method. The results show that scenario 4, which applies the SMOTE technique and hyperparameter optimization with GridSearchCV, provides the best performance with recall scores of up to 95% for BB/U, 91% for TB/U, and 90% for BB/TB, as well as more balanced F1-scores. Application testing achieved an effectiveness score of 96.43%, which falls into the “very good” category. Therefore, this web-based child nutritional status classification application is considered feasible to use, as it can deliver fast, accurate, and efficient classification results, while supporting healthcare services at Puskesmas Kampung Sawah
PENGARUH PROPRIOCEPTIVE NEUROMUSCULAR FACILITATION (PNF) TERHADAP PENINGKATAN KELENTUKAN DAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI ATLET TAEKWONDO KLUB PROTEC
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh proprioceptive neuromuscular facilitation (PNF) terhadap peningkatan kelentukan dan kekuatan otot tungkai atlet Taekwondo Klub Protec dengan menggunakan pendekatan kuantitatif komperatif. Teknik pengumpulan data menggunakan tes melakukan pengukuran otot tungkai, dengan diambil sampel kelentukan dan kekuatan sebelum dan sesudah diukur, menggunakan sit and reach dan leg dynamometer dari 20 peserta, Rata-rata skor 13,55 menggambarkan kondisi awal kelentukan yang belum terlalu tinggi dan rata-rata nilai kekuatan berada pada kategori sedang menuju tinggi 73,50. Melalui olah data nilai 0,052 > 0,05 dengan t hitung -2,236 maka tidak ada perbedaan yang signifikan antara pre-test dan post-test pada kelompok kelentukan kontrol, nilai 0,000031 0,05 dengan t hitung -0,449 maka tidak ada perbedaan yang signifikan antara pre-test dan post-test pada kelompok kekuatan kontrol, terdapat nilai 0,000466 < 0,05 dengan t hitung -5,344, maka terdapat perbedaan yang signifikan antara pre-test dan post-test pada kelompok kekuatan eksperimen, nilai 0.000090 artinya < 0.05 dengan nilai t hitung -5.015, maka terdapat perbedaan yang signifikan antara kelentukan kelompok kontrol dan eksperimen, rata-rata nilai kelentukan kelompok eksperimen 17.60 lebih tinggi dibanding kelompok kontrol 12.30, nilai 0,000289 artinya < 0,05 dengan nilai t hitung -4.480, rata-rata nilai kekuatan kelompok eksperimen 89.90 lebih tinggi dibanding kelompok kontrol 61.60. diberikannya PNF memberikan pengaruh terhadap kelentukan dan kekuatan otot tungkai atlet taekwondo klub protec.
Kata Kunci: Pnf, Kelentukan, Kekuatan
*****
This study aims to determine the effect of proprioceptive neuromuscular facilitation (PNF) on improving leg muscle flexibility and strength in Taekwondo athletes at the Protec Club using a comparative quantitative approach. The data collection technique used a test to measure leg muscles, by taking samples of flexibility and strength before and after being measured, using a sit and reach and leg dynamometer from 20 participants. The average score of 13.55 describes the initial condition of flexibility which is not too high and the average strength value is in the moderate to high category of 73.50. Through data processing, the value of 0.052 > 0.05 with a t count of -2.236 means there is no significant difference between the pre-test and post-test in the control flexibility group, the value of 0.000031 0.05 with a t count of -0.449, so there is no significant difference between the pre-test and post-test in the control strength group, there is a value of 0.000466 < 0.05 with a t count of -5.344, so there is a significant difference between the pre-test and post-test in the experimental strength group, the value of 0.000090 means < 0.05 with a t count of -5.015, so there is a significant difference between the flexibility of the control and experimental groups, the average value of the flexibility of the experimental group 17.60 higher than the control group 12.30, the value of 0.000289 means <0.05 with a calculated t value of -4.480, the average strength value of the experimental group is 89.90 higher than the control group 61.60. The provision of PNF has an effect on the flexibility and strength of the leg muscles of the taekwondo athletes of the Protec club.
Keywords: PNF, Flexibility, Strengt
ANALISIS KEBUTUHAN STRATEGI PEMBELAJARAN INKLUSIF UNTUK MAHASISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS (TUNARUNGU) DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TATA BUSANA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan pembelajaran inklusif bagi mahasiswa tunarungu pada mata kuliah teori di Program Studi Pendidikan Tata Busana Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta. Fokus utama penelitian adalah mengenali karakteristik mahasiswa dalam perancangan pembelajaran; mengidentifikasi kebutuhan lingkungan belajar yang aksesibel; menjelaskan peran dosen sebagai fasilitator dalam menyediakan sumber belajar yang beragam; dan memahami rancangan pembelajaran untuk mendukung kemajuan belajar seluruh mahasiswa termasuk mahasiswa tunarungu. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara menggunakan triangulasi sumber: teori, pengajar, serta ahli pendidikan luar biasa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menyusun strategi pembelajaran yang inklusif, kita perlu mempertimbangkan pembelajaran seperti apa yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Kemudian, dibutuhkan pemberian materi ajar (handout) sebelum pembelajaran dilakukan, penyesuaian bahan ajar dengan menggunakan kalimat yang mudah dipahami atau perlu dilengkapi dengan glosarium visual maupun tekstual, penyesuaian dalam penyampaian materi (mahasiswa tunarungu disediakan tempat di barisan depan, pengajar dapat terlihat dengan jelas oleh mahasiswa, penyesuaian tempo bicara, kejelasan gerak bibir, dsb), penguatan materi pembelajaran visual, evaluasi ulang (feedback), penyediaan beragam jenis teknik pembelajaran yang dapat mengaktifkan seluruh mahasiswa, penyediaan Juru Bahasa Isyarat (JBI), dan perlunya pembuatan dan pemberitahuan mengenai rubrik penilaian agar mahasiswa dapat mengetahui dengan jelas cara agar mereka dapat memperoleh nilai maksimal.*****
This study aims to analyze the inclusive learning needs of deaf students in theoretical courses within the Fashion Design Education Study Program, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Jakarta. The primary focus of the research is to recognize student characteristics in instructional design; identify the need for an accessible learning environment; explain the role of lecturers as facilitators in providing diverse learning resources; and understand instructional designs that support the learning progress of all students, including deaf students. The research method employed is descriptive qualitative, with data collection techniques including observation, documentation, and interviews utilizing source triangulation from theories, educators, and special education experts.
The results indicate that in developing inclusive learning strategies, it is essential to consider the specific learning needs of the students. Furthermore, it is necessary to provide teaching materials (handouts) before the learning session begins, adapt teaching materials using easily understandable sentences or supplement them with visual and textual glossaries, and adjust material delivery (e.g., providing front-row seating for deaf students, ensuring the instructor is clearly visible, adjusting speech tempo, and maintaining clear lip movements). Other key findings include the reinforcement of visual learning materials, re-evaluation (feedback), provision of various instructional techniques to engage all students, availability of Sign Language Interpreters (SLI/JBI), and the necessity of creating and communicating assessment rubrics so that students clearly understand how to achieve maximum grades
PERANAN SANGGAR BATIK SERACI DALAM PELESTARIAN BATIK BETAWI I KAMPUNG KEBON KELAPA TARUMAJAYA KABUPATEN BEKASI TAHUN 2010-2017
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Peranan Sanggar Batik Seraci Dalam Upaya Pelestarian Batik Betawi di Kampung Kebon Kelapa Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi. Penulis memilih rentang waktu dari tahun 2010-2017. Di mana tahun 2010 merupakan awal berdiri Sanggar batik Seraci sebagai pelopor berdirinya Rumah Keluarga Betawi hingga 2017 yang menjadi pembatasan masalah dikarenakan adanya pergantian kepemilikan dari Almarhumah Ibu Ernawati ke Munawaroh dikarenakan Almarhumah Ibu Ernawati sudah meninggal dunia sehingga Batik Seraci memiliki fokus motif Batik tidak hanya Kebetawian saja tetapi di Bekasi.
Penelitian ini dilakukan menggunakan metode historis. Tahap pertama, peneliti menghimpun buku, dokumen, dan surat kabar yang memiliki keterkaitan dengan topik pembahasan. Setelah referensi terkumpul, maka peneliti masuk ke tahap kedua untuk melakukan kritik internal dan eksternal. Ketiga, peneliti menafsirkan fakta dari sumber yang telah berhasil dikritik dan terbukti validitasnya. Tahap keempat, secara terstruktur melakukan penulisan hasil penelitian sejarah peranan Sanggar Batik Seraci dalam upaya pelestarian Batik Betawi di Kampung Kebon Kelapa Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi dalam bentuk deskriptif naratif.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Sanggar Seraci Batik Betawi didirikan pada tahun 2010 oleh Almarhumah Ibu Ernawati, yang berkomitmen untuk menghidupkan kembali batik Betawi melalui pelatihan pembuatan motif, pewarnaan, dan pemasaran. Teknik ini menunjukan memiliki peran dalam hal pelestarian melalui hal tersebut budaya membatik tetap terpelihara sehingga sanggar batik seraci memiliki peranan dalam melestarikan Batik Khas Betawi.
*****
This study aims to describe the Role of Sanggar Batik Seraci in the Efforts to Preserve Betawi Batik in Kampung Kebon Kelapa, Tarumajaya District, Bekasi Regency. The author chose the time span from 2010 to 2017, where 2010 marks the beginning of Sanggar Batik Seraci as the pioneer in establishing the Betawi Family House, up to 2017, which is used as the boundary of the study due to the change of ownership from Almarhumah Mrs. Ernawati to Mrs. Munawaroh, since Mrs. Ernawati had passed away. Consequently, Batik Seraci broadened its motif focus, not limited to Betawi patterns but also including motifs from Bekasi.
This research was conducted using a historical method. The first stage, the researcher collects books, documents, and newspapers that are related to the topic of discussion. After the references are gathered, the researcher proceeds to the second stage to conduct internal and external criticism. Third, the researcher interprets the facts from sources that have been successfully critiqued and whose validity has been proven. The fourth stage involves systematically writing the results of historical research on the role of Sanggar Batik Seraci in the effort to preserve Betawi Batik in Kampung Kebon Kelapa, Tarumajaya District, Bekasi Regency, in the form of a descriptive narrative.
The results of this study show that Sanggar Seraci Batik Betawi was established in 2010 by Almarhumah Mrs. Ernawati, who is committed to reviving Betawi batik through training in motif creation, coloring, and marketing. This technique is shown to play a role in preservation, ensuring that the batik-making culture remains maintained, so Sanggar Seraci Batik has a role in preserving the distinctive Betawi Batik
STRATEGI OPTIMALISASI PENYUSUTAN ARSIP INAKTIF DI DIREKTORAT AIR MINUM DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi optimalisasi penyusutan arsip inaktif di Direktorat Air Minum, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum. Latar belakang penelitian ini adalah fenomena penumpukan arsip inaktif akibat keterbatasan ruang penyimpanan (Records Center), kurangnya tenaga arsiparis fungsional, serta hambatan psikologis pegawai dalam memusnahkan arsip. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan empat informan yang dipilih berdasarkan kriteria partisipasi aktif dalam pengelolaan arsip, observasi, serta studi dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang dilanjutkan dengan analisis matriks SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun prosedur penyusutan telah memiliki payung hukum (Permen PUPR No. 26 Tahun 2021), pelaksanaannya belum konsisten. Strategi Optimalisasi yang dihasilkan meliputi: (1) Percepatan transformasi digital melalui E-Approval untuk memangkas birokrasi pemusnahan dan penggunaan Document Management System (DMS); (2) Penunjukan Person in Charge (PIC) kearsipan di setiap unit kerja untuk memperjelas tanggung jawab; (3) Penerapan strategi pelatihan proaktif "Jemput Bola" untuk meningkatkan kompetensi SDM; dan (4) Penegakan disiplin Jadwal Retensi Arsip (JRA) yang ketat didukung sistem Reward and Punishment guna mengubah budaya kerja organisasi.
Kata Kunci: Penyusutan Arsip, Arsip Inaktif, Analisis SWOT, Manajemen Kearsipan, Digitalisasi Arsip
*****
This study aims to formulate a strategy for optimizing the reduction of inactive archives at the Directorate of Drinking Water, Directorate General of Human Settlements, Ministry of Public Works. The background of this research is the phenomenon of inactive archive accumulation due to limited storage space (Records Center), a lack of functional archivists, and employees' psychological barriers to destroying archives. This study uses a qualitative approach with a case
study method. Data were collected through in-depth interviews with four informants selected based on active participation criteria in records management, observation, and documentation study. Data analysis used the Miles and Huberman model followed by SWOT matrix analysis (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats). The results show that although the reduction procedure has a legal basis (Permen PUPR No. 26 of 2021), its implementation has not been consistent. The resulting optimization strategies include: (1) Accelerating digital transformation through E-Approval to cut destruction bureaucracy and using a Document Management System (DMS); (2) Appointing a Person in Charge (PIC) for archives
in each work unit to clarify responsibilities; (3) Implementing a proactive "Pick Up
the Ball" training strategy to improve human resource competence; and (4) Strict enforcement of the Archives Retention Schedule (JRA) supported by a Reward and
Punishment system to transform organizational work culture.
Keywords: Archives Depreciation, Inactive Archives, SWOT Analysis, Records Management, Archives Digitalizatio
Diterminan Corporate Performance Melalui Competitive Advantage: Analisis Institutional Pressure, Digital Transformation, Entrepreneurial Orientation, dan Dynamic Capability
This study examines the effects of Institutional Pressure, Digital Transformation, Entrepreneurial Orientation, and Dynamic Capability on Competitive Advantage and Corporate Performance of hotels affiliated with the Indonesian Hotel and Restaurant Association (PHRI) in Java by integrating the Resource-Based View (RBV) and Institutional Theory. A quantitative approach was employed using Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS) with SmartPLS based on data from 324 General Managers selected through purposive sampling. The research model was refined into Model 2 by eliminating the direct paths from Digital Transformation to Corporate Performance and from Entrepreneurial Orientation to Corporate Performance in order to obtain a more robust and predictive structural model.
The results indicate that Institutional Pressure has a positive and significant effect on Digital Transformation, Entrepreneurial Orientation, Competitive Advantage, and Corporate Performance. Entrepreneurial Orientation and Dynamic Capability significantly enhance Competitive Advantage, which in turn has a significant positive impact on Corporate Performance. Mediation analysis confirms that Competitive Advantage significantly mediates the relationships between Institutional Pressure, Entrepreneurial Orientation, and Dynamic Capability and Corporate Performance, whereas Digital Transformation shows no significant direct or indirect effect through Competitive Advantage. These findings suggest that digital initiatives alone do not automatically translate into superior performance unless they are transformed into valuable and inimitable competitive advantages. This study highlights Competitive Advantage as the central strategic mechanism linking external institutional forces and internal capabilities to firm performance in the hospitality industry.
Penelitian ini menganalisis pengaruh Tekanan Institusional, Transformasi
Digital, Orientasi Kewirausahaan, dan Kapabilitas Dinamis terhadap Keunggulan
Bersaing dan Kinerja Perusahaan pada hotel anggota Perhimpunan Hotel dan
Restoran Indonesia (PHRI) di Pulau Jawa dengan mengintegrasikan ResourceBased View (RBV) dan Institutional Theory. Penelitian menggunakan pendekatan
kuantitatif dengan metode Structural Equation Modeling - Partial Least Squares
(SEM-PLS) melalui perangkat lunak SmartPLS terhadap 324 General Manager
yang dipilih secara purposive sampling. Model penelitian dimodifikasi menjadi
Model 2 dengan mengeliminasi jalur langsung Transformasi Digital terhadap
Kinerja Perusahaan dan Orientasi Kewirausahaan terhadap Kinerja Perusahaan
untuk memperoleh model struktural yang lebih stabil dan memiliki daya prediksi
lebih baik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tekanan Institusional berpengaruh
positif dan signifikan terhadap Transformasi Digital, Orientasi Kewirausahaan,
Keunggulan Bersaing, dan Kinerja Perusahaan. Orientasi Kewirausahaan dan
Kapabilitas Dinamis juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keunggulan
Bersaing, sedangkan Keunggulan Bersaing berpengaruh positif dan signifikan
terhadap Kinerja Perusahaan. Uji mediasi membuktikan bahwa Keunggulan
Bersaing memediasi secara signifikan pengaruh Tekanan Institusional, Orientasi
Kewirausahaan, dan Kapabilitas Dinamis terhadap Kinerja Perusahaan, namun
tidak memediasi pengaruh Transformasi Digital. Temuan ini menunjukkan bahwa
digitalisasi belum secara otomatis menjadi sumber keunggulan strategis tanpa
dikonversi menjadi diferensiasi yang bernilai ekonomi. Penelitian ini menegaskan
peran sentral Keunggulan Bersaing sebagai mekanisme strategis utama yang
menjembatani faktor institusional dan sumber daya internal dalam meningkatkan
kinerja hotel